Bab 2

Kuil itu terlihat sangat sepi, hanya terdengar suara lonceng kayu berbentuk ikan yang dipukuli oleh para wanita penjaga kuil itu. Aroma dupa yang menyengat tercium di seluruh penjuru kuil, begitu juga dengan lilin-lilin yang menyala memenuhi seluruh ruangan kuil

Kuil itu tidak seperti kuil tradisional lainnya, karena tidak ada biarawan maupun biarawati yang menetap di sana. Sebagian besar orang yang menetap dan menjaga kuil itu adalah para penduduk setempat yang sudah berusia lanjut.

Rachel sangat mengenal kuil itu, bahkan dia tidak asing dengan setiap patung Buddha yang berada di sana. Karena sejak kecil, dia sudah sering mengunjungi kuil itu bersama mamanya.

Setelah selesai meletakkan semua persembahan di atas meja altar, kemudian dia berlutut secara perlahan di atas bantal bundar yang lembut, lalu dia bersujud dan mulai berdoa.

Di mata orang luar, semua hal yang dia lakukan terlihat seperti pemujaan yang luar biasa.

Di ruangan lainnya, Hiram juga telah selesai meletakkan persembahannya di atas meja altar. Namun, pakaian yang dia kenakan saat itu terlihat sangat tidak sesuai untuk berkunjung ke tempat seperti itu.

Bukan masalah bagi dia untuk bersujud dan menyembah leluhurnya sendiri, tapi untuk bersujud dan menyembah patung-patung yang hanya terbuat dari tanah liat itu, dia tidak sudi melakukannya.

Kemudian dia duduk bersila, berencana untuk berdiam diri di sana hingga waktunya untuk pergi. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Hiram mengeluarkan ponselnya dan mulai memeriksa dokumen-dokumen yang tersimpan di ponselnya.

Dia sangat terobsesi dengan data-data yang ada di ponselnya itu.

Namun, belum sampai satu menit dia menikmati keheningan di ruangan tempat dia melakukan sembahyang itu, dia sudah mulai mendengar suara ocehan yang berasal dari ruangan yang lain.

Suara ocehan itu cukup berisik dan mengganggu konsentrasinya dalam membaca. Dia mengerutkan alis hitamnya, tatapan matanya yang semula tenang dan terlihat cerah perlahan berubah menjadi penuh dengan amarah. Wajahnya yang tampan tiba-tiba terlihat sangat marah.

"Bukankah kuil seharusnya menjadi tempat yang paling tenang?"

"Dari mana datangnya suara yang berisik itu?" gumamnya.

Di ruangan lain, Rachel menggeser bantalan duduknya sehingga lebih mendekat dengan penjaga kuil. Dia sangat cerewet sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengobrol dengan penjaga kuil.

Wanita yang menjaga kuil itu adalah penduduk setempat yang telah kenal baik dengan Rachel. Awalnya, wanita itu menolak untuk mengobrol dengan Rachel, karena dia takut akan mengganggu ketenangan kuil. Namun, Rachel tak henti-hentinya mengoceh dan memaksanya, jadi dia tidak punya pilihan lain.

"Bibi, tadi saat datang, aku melihat seorang wanita tua yang menyumbang begitu banyak uang. Dengan uang sebanyak itu," kata Rachel sambil mengangkat tangannya untuk membuat gerakan isyarat, "aku heran, jika dia begitu kaya, kenapa dia tidak melakukan kegiatan amal saja? Bukankah jauh lebih baik jika dia bisa membantu anak-anak fakir miskin untuk bisa bersekolah ....".

Rachel tahu kalau kuil itu secara finansial, mereka tidak kekurangan uang. Selain itu persembahan dari umat pun berjalan dengan lancar. Jadi dia merasa orang-orang yang menyumbangkan uang itu, tujuannya hanya untuk membeli keselamatan mereka, itu adalah suatu bentuk pemborosan.

Namun bagi sang bibi, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang baru, dia sudah sering melihatnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menanggapi apa yang dikatakan Rachel. Dia tahu kalau di dalam hati orang-orang itu, umumnya mereka merasa bersalah dan berdosa. Mereka ingin mendapatkan ketenangan batin, jadi mereka mengira dengan menyumbangkan sebagian uangnya dapat membuat hidupnya lebih tenang. Ini bukanlah sesuatu yang tabu, semua orang mengetahuinya.

"Ada lagi, Bibi. Aku juga melihat ...." lanjut Rachel.

Di sisi lain, Hiram sudah tidak bisa duduk dan berdiam diri lebih lama lagi. Hal yang ingin dia lakukan adalah mengambil kain dan menyumpal ke mulut Rachel yang menyebalkan itu.

Ruangan-ruangan di kuil hanya disekat dengan dinding gypsum dan dua potong tirai berwarna kuning. Oleh karena itu, suaranya bisa terdengar dengan mudah hingga ke ruangan yang lain.

Rachel keasyikan mengobrol dengan sang bibi. Dia sama sekali tidak menyadari bahaya yang akan datang mengusiknya.

Rachel tiba-tiba merasakan ada hembusan angin dingin yang meniup wajahnya. Selain itu, tercium aroma parfum yang lembut di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya, Rachel merasa nyaman dengan wangi parfum seorang pria.

"Bisakah kamu menutup mulutmu?" Tiba-tiba dia mendengar suara rendah dan jengkel dari atas kepalanya.

Semua kesan baik Rachel langsung menghilang. Dia mendongak dan tertegun melihat wajah penuh amarah, pria itu juga tampak sangat tampan. Dia bahkan lebih tampan dibanding para bintang populer.

Di sisi lain, Hiram juga terkejut saat dia melihat Rachel. Wajahnya tidak kelihatan seperti wanita yang suka bergosip. Namun sebaliknya, wajah Rachel terlihat sangat imut dan cantik dengan mata hitamnya yang cerah. Rachel menatap Hiram dengan heran, bulu matanya yang panjang bergetar tampak seperti kupu-kupu yang terkesima.

Setelah mundur beberapa langkah, Rachel melihat tempat di mana Hiram tadi keluar. Akhirnya dia menyadari dan bertanya, "Apakah kamu dari Keluarga Setiawan? Maaf! Aku tidak tahu kalau di ruangan itu ada seseorang," tambahnya.

Semua orang di Desa Suka Maju tahu status Keluarga Setiawan.

Bahkan kuil ini pun, dibangun dari dana yang disumbang mereka. Jadi, wajar saja kalau mereka memiliki ruangan khusus untuk beribadah.

Kemarahan Hiram sedikit mereda saat Rachel meminta maaf. Namun kemudian dia mendengar ....

"Apakah semua orang dari Keluarga Setiawan tidak tahu sopan santun? Meskipun tadi aku mungkin terlalu berisik, tapi kamu juga tidak perlu sampai mengancamku, 'kan?" Rachel mengangkat alisnya, dia mengatakannya dengan nada jengkel.

Betapa beraninya Hiram memintanya untuk diam?!

Keluarga Setiawan sama sekali bukan hal yang baru bagi Rachel.

Rachel sudah sering mendengar apa yang para tetua katakan sebagai "kesepakatan" antara Keluarga Rustadi dan Keluarga Setiawan sejak dirinya masih muda. Dia bahkan sudah mendengarnya lebih dari seribu kali.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar tidak mempunyai kesan yang baik terhadap Keluarga Setiawan.

Eskpresi wajah Hiram yang sudah terlihat dingin langsung berubah menjadi lebih dingin ketika dia mendengar apa yang dikatakan Rachel. "Mengancam?" dia mengatakannya dengan nada yang sangat dingin. Seluruh ruangan pun terasa dingin membeku seperti tertutup lapisan es, "Maksudmu aku telah mengacammu? Jika demikian, aku dengan senang hati akan membuat apa yang kamu sebut 'mengancam' itu menjadi kenyataan."

Hiram berjalan mendekati Rachel bahkan sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Dia mengulurkan lengannya dan meletakkannya di pinggang Rachel. "Aku benci wanita yang suka bergosip. Karena kamu suka bergosip, bagaimana kalau aku memberimu pengeras suara agar semua orang bisa mendengar kata-katamu?" tanyanya serius namun mengejek.

Semuanya terjadi dengan tiba-tiba sehingga Rachel tidak sempat bertindak sebelum Hiram memeluknya dengan kasar.

"Oh! Anak-anakku tersayang ... kalian sedang berada di dalam kuil. Rachel Rustadi, bisakah kamu berhenti bertengkar dengannya?" pinta sang wanita penjaga kuil. Tampaknya mereka berdua siap bertengkar kapan saja. Wanita penjaga kuil itu segera berdiri dan meminta mereka untuk berhenti, tapi dia mengatakannya dalam dialek setempat.

Setelah wanita tersebut selesai bicara, Hiram Setiawan semakin mengerutkan alisnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja wanita itu katakan karena dia tidak dibesarkan di Desa Suka Maju. Namun ada satu kata yang bisa dia dengar dengan jelas, yaitu "Rustadi".

'Dia dari Keluarga Rustadi?' Hiram bergumam sendiri.

Ini sungguh sebuah kebetulan. Keluarga Rustadi juga bukan hal baru bagi Hiram.

Di matanya, Keluarga Rustadi juga tidak memiliki kesan yang baik, sama seperti pandangan Rachel terhadap keluarganya.

'Tunggu, tunggu ... Keluarga Rustadi?' batinnya.

"Katakan padaku! Apa hubunganmu dengan Simon Rustadi?" tanyanya penasaran.

Hiram ingat, ketika dia masih sangat kecil, kakeknya hendak duduk di kursi goyangnya dan berkata, "Hiram, aku telah menemukan calon istri yang sangat cantik untukmu. Gadis ini sangat lembut, dia juga berbudi luhur. Kakek yakin kamu akan berterima kasih pada Kakek karena telah melakukan ini. Kamu sangat beruntung, cucuku."

"Mulai sekarang, sebaiknya kamu bersikap lebih baik padanya. Omong-omong, nama gadis itu ... biarkan aku berpikir ...." kata kakek.

"Namaku Rachel, dan Simon Rustadi adalah ayahku. Bagaimana kamu bisa mengenal ayahku?" tanya Rachel. Rachel menatap pria di depannya itu dengan penuh penasaran. Kedua orang tua meraka berasal dari Desa Suka Maju, dan hanya ada dua nama keluarga besar di desa itu, yaitu Rustadi dan Setiawan.

Ayahnya sudah lama meninggal. tapi kenapa dia bisa menyebutkan nama ayahnya?

Hiram menurunkan kembali alisnya, kemudian memasang senyuman dingin di wajahnya lagi. Sungguh tidak masuk akal, kakeknya bisa mengatakan kalau Rachel adalah wanita "lembut dan berbudi luhur".

'Aku rasa penglihatan kakek sudah kabur sejak saat itu, ' batin Hiram.

Rachel langsung mundur selangkah setelah Hiram melonggarkan lengan di pinggangnya. Kekesalan terlihat di wajahnya. Pasalnya pria itu mencengkeram pinggangnya dengan sangat kasar dan erat, karena itu dia merasa kesakitan.

"Sepertinya kamu tidak menyukaiku dan Keluarga Setiawan," jawab Hiram, tapi itu bukan jawaban atas pertanyaannya. Dari matanya yang terlihat lebih gelap, tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan saat itu.

"Tentu saja tidak suka, brutal, kejam, dan suka mengancam orang! Aku dengar kalau Keluarga Setiawan memulai bisnis sebagai perusahaan pengangkutan barang. Tidaklah mengherankan, kalau orang-orang dari tempat itu sangat kasar," ucapnya, rasa tidak suka bisa terdengar dari nada bicaranya. Rachel sendiri bekerja di bidang pemasaran, dan dia adalah pemimpin tim pemasaran terbaik di perusahaannya. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi kalau dia sangat pandai berbicara.

Keluarga Setiawan sudah banyak mengirimkan hadiah kepada Keluarga Rustadi selama bertahun-tahun, meskipun mereka tidak pernah muncul secara pribadi. Itu sangat jelas kalau mereka memandang rendah Keluarga Rustadi, tapi masih berpura-pura murah hati. Jauh di lubuk hatinya, Rachel sangat membenci hal itu.

Hiram pura-pura menepuk-nepukan debu dari tubuhnya, bertingkah seolah-olah dia tidak ingin ada sehelai rambut dari wanita yang dangkal itu yang menempel pada dirinya. Lalu dia berkata, "Wanita murahan. Karena kamu sudah memandang rendah keluargaku, Keluarga Setiawan, akan lebih baik jika kamu tidak menentang hati nuranimu dengan menikah dan bergabung dengan keluarga kami."

"Aku bersumpah! Aku tidak akan pernah menikah dan bergabung dengan keluargamu," ucap Rachel. "Omong-omong, kenapa kamu bisa berpikiran ke arah itu? Menikah dan bergabung dengan keluargamu? Apa kamu sedang bercanda? Bahkan jika kamu yang memohon sendiri padaku, aku tetap tidak akan sudi melakukannya!" tambahnya. Ia tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak karena ucapan konyol Hiram. 'Pria ini sangat aneh, ' batinnya. Bagaimana pria itu bisa berpikir kalau dirinya akan menikah dan bergabung dengan Keluarga Setiawan?

"Sangat Bagus. Sebaiknya kamu tidak pernah lupa dengan apa yang barusan kamu katakan itu," ucap Hiram.

Hiram menyunggingkan senyuman sebagai respon dari apa yang dikatakan Rachel, tampaknya dia tidak terintimidasi olehnya. Dia kemudian menatap wajah Rachel, kemudian dengan perlahan dan jelas dia berkata, "Jangan lupakan apa yang barusan kamu katakan! Aku akan terus mengawasimu!"

Bab 3

"Ma, kamu mau pergi ke mana?" Sesampainya di rumah, keranjang yang dibawa Rachel tadi langsung diletakkan di atas meja. Tangannya lalu mengambil salah satu cangkir yang ada di meja, menuangkan air ke dalamnya, kemudian meneguknya.

Lantaran baru saja selesai adu mulut dengan Hiram, tenggorokannya pun sampai kering, hausnya bukan main!

Fannie berdiri di depan cermin. Dia memerhatikan bayangannya di kaca lalu merapikan pakaiannya. Mendengar pertanyaan Rachel, Fannie menanggapinya dengan tersenyum dan berkata, "Rachel, kuil leluhur tua itu memang benar-benar tempat yang sakti. Kuil itu memang tempat terbaik untuk memperoleh berkah dari para dewa. Saat kita ke kuil itu tadi, sewaktu keluar dari sana, Mama bertemu dengan Keluarga Setiawan."

Mendengar mamanya menyebut nama Keluarga Setiawan, Rachel tersedak. Hampir saja air yang sedang diteguknya itu masuk ke dalam rongga yang salah. Dia lekas menyeka sudut mulutnya lalu bertanya, "Keluarga Setiawan? Apakah kamu bertemu dengan tante Joanna? Apa yang kalian bicarakan?"

Pertanyaan yang dilontarkan bertubi-tubi itu membuat Fannie tersenyum. 'Putriku tampaknya bersemangat sekali, ' pikirnya. Dia lalu menoleh ke arah Rachel dan berkata, "Apa lagi kalau bukan membicarakan pernikahanmu? Selama ini, kamu tidak pernah sekali pun berhasil dengan acara perjodohan yang kamu hadiri itu. Aku percaya bahwa nenek moyang Keluarga Rustadi dan Keluarga Setiawan meninggal dengan penyesalan yang abadi karena anggota keluarga mereka tidak terikat dalam pernikahan. Jadi tentu saja aku perlu bertemu dengan Keluarga Setiawan dan membicarakan hal ini."

"Bertemu dengan Keluarga Setiawan? Bukankah terakhir kali kamu berbicara dengan mereka sekitar dua puluh tahun yang lalu?" Tentu saja Rachel tidak mengetahui apa yang terjadi pada generasi sebelumnya dari kedua keluarga itu. Namun, dirinya tahu pasti bahwa seandainya Keluarga Setiawan memiliki seorang putra, maka laki-laki itu pasti akan dijodohkan dengannya, atau lebih tepatnya, menjadi suaminya.

"Betul, tapi saat pertemuan singkat tadi, Joanna mengajakku bertemu untuk mengobrol. Aku berkata padanya, walaupun tidak ada pria di keluarga Setiawan yang cocok denganmu. Memilih salah satu kerabatnya yang lumayan untuk menikah denganmu juga boleh!"

Setelah mengatakan itu, Fannie mengambil tas jinjingnya kemudian berjalan keluar rumah.

"Tetap di rumah dan tunggu kabar baik dariku," tambahnya tanpa menoleh sedikitpun.

Mendengar kata-kata ibunya, Rachel langsung bangkit dari posisinya di sofa. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dengan tergesa-gesa, dia berjalan ke arah mamanya.

"Ma! Tunggu sebentar …."

Sayangnya, sebelum Rachel sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah itu sudah ditutup dengan kencang.

Rachel berdiri di depan pintu dengan gelisah. Tidak tahu kenapa, perasaannya menjadi semakin tidak tenang.

Ada sebuah paviliun berbentuk persegi yang cukup bersejarah di Desa Suka Maju. Fannie sering bermain ke sana ketika dirinya masih muda. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah anak muda yang tinggal di desa itu semakin berkurang. Akhirnya, paviliun itu berubah menjadi tempat yang sepi. Jarang sekali ada orang yang mengunjungi tempat itu sekarang.

"Joanna, aku senang bisa bertemu denganmu di sini. Aku tidak menyangka kamu akan mengundangku datang kemari." Fannie terkejut saat mendengar Joanna mengajaknya untuk bertemu di paviliun ini. Dia berpikir bahwa sepertinya dirinya sama sekali tidak mengenal Joanna di masa lalu.

"Fannie, kemari dan duduklah di sampingku. Aku memang bukan penduduk setempat daerah ini, tapi aku telah menjadi bagian dari keluarga Setiawan selama tiga puluh tahun lamanya. Aku selalu datang ke sini untuk berjalan-jalan setiap kali aku pulang ke rumah."

Joanna Firmanda memerhatikan pemandangan di sekeliling itu sekilas. Dia menyadari bahwa tempat itu masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Bahkan jalan menuju desa itu, tanahnya masih tidak rata dan penuh dengan bebatuan. Penduduk setempat memang tidak pernah membangun jalan utama yang lebar. Alasannya, mereka tidak ingin ada pendatang yang masuk ke desa dengan mengendarai mobil-mobil mereka. Mereka ingin menjaga kelestarian lingkungan desa itu agar tidak tercemar.

Fannie merasa agak terkejut ketika bertemu dengan Joanna. Dia merasa kalau Joanna adalah seorang wanita terhormat dari keluarga elit. Namun, dia tidak arogan ataupun sombong.

Sebaliknya, wanita itu sangatlah santai dan juga ramah.

"Joanna, aku juga senang tinggal disini. Aku suka sekali bermain di tempat ini ketika masih muda. Walaupun aku telah pindah ke kota, aku masih sangat menyukai pemandangan desa ini." Mendengar perkataan Joanna, Fannie seketika mengerti bahwa Joanna adalah orang yang baik. Dirinya yakin dapat membicarakan pernikahan putrinya dengan wanita itu dengan mudah.

Joanna mendengarkan Fannie dengan sabar. Sesekali wanita itu mengangguk, menunjukkan bahwa dia masih memperhatikan ucapannya. Namun, dia seketika mengerutkan keningnya begitu mendengar Fannie membicarakan tentang pernikahan.

"Fannie, karena kamu telah membicarakannya, aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Sebenarnya … Aku memiliki seorang anak laki-laki. Usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Rachel, hanya saja, hanya saja …"

Fannie tiba-tiba berdiri memotong perkataan Joanna. Dia bertanya dengan suara yang gemetar, "Apa katamu? Kamu memiliki seorang anak laki-laki? Selama ini, aku selalu menduga bahwa tidak mungkin kamu tidak memiliki seorang putra untuk mengambil alih bisnis keluarga Setiawan!

Tapi... Tapi kenapa kamu tidak pernah memberitahuku kalau putramu juga telah cukup umur dan layak untuk menikahi Rachel?" Fannie menambahkan.

Fannie tidak menyangka Joanna baru memberitahunya mengenai hal ini sekarang. Itu artinya, Joanna telah menyembunyikan fakta ini darinya selama lebih dari dua puluh tahun.

Dia lantas berpikir, seandainya dia mengetahui hal itu sejak dulu, dia tidak akan pernah meminta putrinya untuk menghadiri begitu banyak acara perjodohan!

"Fannie, tidak mudah bagiku dan suamiku untuk membujuk Hiram. Putra kami itu seorang anak yang mandiri dan tegas. Dia selalu mengurusi segala sesuatu sendirian tanpa bantuan kami. Dia sudah seperti itu sejak kecil. Dia tidak suka kami ikut campur dalam urusan pribadinya. Kami sempat mencoba berbicara pernikahan dengannya beberapa kali, tapi dia selalu tidak menghiraukannya. Di matanya, jangankan membahas perjodohan yang direncanakan oleh nenek moyangnya, bahkan kami pun tidak dapat membuatnya setuju!" Joanna mengeluh sambil menghembuskan napas berat.

Fannie adalah orang yang lugas dan tidak suka basa-basi. Mendengar jawaban Joanna, tangannya spontan menepuk meja kemudian berkata, "Joanna, apakah kamu tahu kenapa Rachel tidak pernah menemukan calon suami yang cocok melalui acara perjodohan itu?"

"Sampai saat ini, Rachel telah bertemu sekitar tujuh atau delapan pria, tapi setiap kali Rachel ingin memulai hubungan dengan pria-pria itu, masing-masing dari mereka akan mengalami nasib buruk. Beberapa dari mereka mengalami kecelakaan lalu lintas dan tabrakan mobil di jalan raya. Sementara yang lain menemukan bahwa ban mobil mereka tiba-tiba kempes. Sekarang, tidak ada pria yang berani berkencan ataupun menikahi Rachel." Fannie berkata dengan penuh semangat.

Dia melanjutkan perkataannya, "Aku rasa aku telah menemukan alasan mengapa hal-hal buruk itu terjadi. Aku percaya bahwa nenek moyang dari kedua belah pihak meninggal dengan membawa sedikit penyesalan. Mereka tidak bisa bersatu dalam ikatan perkawinan ketika mereka masih hidup. Kini, mereka sengaja menghalangi putriku berkencan dengan pria lain supaya dia bisa bersama dengan putramu selamanya."

Mendengar itu, Joanna menghela napas lagi. Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tapi Hiram punya jalan pikirannya sendiri, Dia selalu mengambil keputusan sendiri. Kami sebagai orangtuanya, tidak berhak membuat keputusan untuknya terutama mengenai masalah ini."

"Tidak! Joanna, jangan katakan itu. Kamu adalah mamanya Hiram. Jadi sebagai orang tua, kamu dan suamimu tentu saja bisa membuat keputusan terhadap pernikahannya. Kalau kamu tidak setuju denganku sekarang, aku khawatir nantinya kamu akan menghadapi hukuman dari para dewa." Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, tangan Fannie spontan bergerak menutup mulutnya.

Dia menyadari barusan dia mengatakan sesuatu yang tidak baik, tapi terkadang hal-hal mistis seperti itu memang benar-benar terjadi. Untuk ini, dia perlu berusaha sebaik mungkin untuk memperjuangkan kesempatan menikahkan putrinya dengan putra Joanna itu.

"Kamu…" Joanna memalingkan wajahnya dan mengepalkan tangannya. Dia merasa sangat emosi mendengar kata-kata Fannie itu.

Melihat respon Joanna, Fannie segera duduk kembali dan berkata dengan lembut, "Joanna, jangan marah. Aku adalah orang yang ceplas-ceplos. Aku minta maaf kalau ucapanku membuatmu tersinggung. Kita berdua adalah orang tua. Simon dan aku hanya memiliki seorang putri. Suamiku itu juga telah lama meninggal. Rachel telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa sekarang dan harus segera menikah, tetapi sampai saat ini dia masih belum bisa menemukan pria yang tepat untuknya. Aku percaya bahwa para leluhur tahu apa yang telah dialami oleh kedua keluarga kita dan sedang berusaha untuk membantu kita meskipun mereka sudah meninggal."

Papa Rachel dan papa Hiram sama-sama tidak memiliki saudara perempuan. Sebenarnya di generasi sebelumnya dalam Keluarga Setiawan dan Keluarga Rustadi, masing-masing memiliki seorang putra dan seorang putri. Akan tetapi, keduanya tidak bisa menikah lantaran sang anak gadis berusia lima belas tahun lebih tua daripada si anak laki-laki. Jadi ketika anak laki-laki itu akhirnya tumbuh dewasa, gadis itu tentu saja telah menjadi tua.…

Karena itulah hingga saat ini, nenek moyang dari kedua keluarga tersebut masih belum bisa mewujudkan keinginan mereka.

Setelah mendengar penjelasan Fannie itu, Joanna menghela napas kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, "Fannie, sejujurnya aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Di zaman sekarang, bisnis keluarga Setiawan sebetulnya sudah tidak perlu dipertahankan melalui ikatan perkawinan. Jika Hiram bersedia menikahi Rachel, maka keinginan nenek moyang kita bisa terpenuhi. Kita semua pasti akan senang apabila hal itu terjadi."

Joanna menambahkan, "Pada tahun Rachel dilahirkan, suamiku terus-menerus memimpikan hal yang sama selama beberapa hari. Dalam mimpinya, nenek moyang kami mengatakan padanya bahwa mereka ingin putra kami dan putrimu menikah untuk memenuhi keinginan kekal mereka."

Fannie mendengarkan Joanna sambil terus mengangguk. "Nah, karena sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa nenek moyang kita memiliki keinginan yang sama, mengapa kamu tidak mencoba membicarakannya dengan Hiram?"

Joanna Fang mengangguk kemudian berkata dengan bangga, "Hiram adalah seorang pekerja keras. Dia selalu melakukan seluruh pekerjaannya dengan sangat baik. Dia belum pernah mengecewakan kami sejauh ini. Meskipun dia tidak ingin kami ikut campur dengan urusan pribadinya, dia tetaplah anak yang berbakti pada kami."

Joanna berkata, "Aku rasa pertemuan kita berdua hari ini adalah pertanda bahwa putraku dan putrimu mungkin memang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan yang sempurna antara satu sama lain. Aku harus mencoba lagi. Jika aku bersikukuh membujuk Hiram untuk menikahi Rachel, dia mungkin akan…"

Fannie tersenyum mendengar itu lalu berkata, "Syukurlah kalau kamu mau mencobanya lagi. Tolong diskusikan hal ini dengan Hiram secepatnya. Lalu segera kabari aku mengenai apa pun itu yang terjadi setelahnya."

Sepulangnya dari paviliun itu, Fannie tidak berhenti tersenyum. Dia menyalakan beberapa dupa dan meletakkannya di depan altar leluhurnya. Dirinya percaya bahwa Simon turut memberkati mereka dari tempatnya di surga.

Rachel sedang duduk di ruang tamu. Salah satu tangannya menggenggam remot kontrol. Gadis itu sedang melahap apel segar pemberian tante dari tetangga sebelah rumah. Matanya terus menatap Fannie.

'Mama terlihat bahagia sekali hari ini. Apakah dia diam-diam memenangkan lotere?' pikir Rachel.

"Ma, apakah kamu memenangkan lotere? Jika benar begitu, aku siap untuk berbagi kebahagiaan denganmu. Bisakah kamu memberikanku uang juga?" Sambil mengunyah apel, Rachel mengucapkan kata-kata ini pada Fannie yang tengah merapikan pakaian. Dirinya tanpa sadar ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang tampak begitu jelas pada wajah mamanya.

Fannie melipat sebuah gaun, sambil tetap tersenyum, dia lalu menatap putrinya. "Aku tidak tertarik dengan lotere," jawabnya.

"Hmm, kalau begitu, apakah kamu menemukan tambang emas?" tanya Rachel lagi sambil mengangkat alisnya. Dirinya benar-benar penasaran sekarang.

Fannie melanjutkan melipat pakaian dan meletakkannya di lemari. Setelah selesai, dia menatap putrinya dengan wajah yang berseri-seri penuh kebahagian kemudian menjawab, "Jangan menganggapku sebagai orang yang hanya peduli dengan uang. Aku akan memberitahumu nanti ketika semuanya sudah terlaksana dengan sempurna. Aku khawatir kamu akan kecewa nantinya jika ibu memberitahumu tentang hal ini sekarang dan semuanya ternyata tidak berjalan seperti yang direncanakan."

Mendengar hal itu, Rachel tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali menggigit apelnya yang hampir habis itu. Kata-kata Fannie membuatnya sangat bingung.

Keesokan paginya.

Rachel masih tertidur pulas ketika Fannie berlari ke dalam kamar putrinya itu dengan penuh semangat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED