Bab 1

"Aduh, sakit!"

Marsha Nayaka merasakan sesuatu yang keras menusuk tubuhnya, dan untuk sesaat merasa pusing karena kesakitan.

Kemudian, ketika menyadari darah merembes dari lukanya, dia terkesiap kaget dan berseru, "Oh, tidak!"

Dia lupa tentang kumpulan Rumput Mimpi yang dia tinggalkan di kursi dan secara tidak sengaja duduk di atasnya. Durinya yang panjang dan tajam telah menancap jauh ke dalam dagingnya.

Rumput Mimpi yang tajam dikenal karena efek biusnya yang kuat, artinya dia mungkin akan mati rasa selama enam jam ke depan. Menyadari kemungkinan malang ini, Marsha memutuskan untuk menutup toko dan beristirahat.

Dia menggertakkan gigi erat saat mencabut duri dan hendak pergi memasang plang bertulis kata "tutup" di depan toko.

Namun, sebelum dia bisa berdiri, seorang pria bertubuh tinggi, pria modis yang mengenakan setelan rapi memasuki toko bunga melalui pintu kaca. Aura kehadirannya yang mengesankan memenuhi toko dengan cepat.

Wajahnya tampan dan tegas, terpancar rasa jijik, kebencian, dan niat menghancurkan dari bola matanya.

Marsha mengernyit sedikit, dia tidak mengenalinya dan tidak tahu apa pun tentang niat pria itu.

Akan tetapi, jelas pria itu tidak datang dengan niat baik!

Marsha memiliki banyak musuh. Meski dia sering menggunakan nama samaran dan penyamaran dalam misinya, selalu ada risiko kedoknya akan terbongkar. Ada juga kemungkinan bahwa seorang pengkhianat muncul di dalam organisasi tempat dia berada. Bukan sesuatu yang aneh jika musuh mencarinya untuk membalas dendam atau menculiknya.

Merasa kekuatannya menghilang, dia tidak mampu bertindak ceroboh. Semua yang bisa dia lakukan adalah mempertahankan ketenangannya di luar.

"Tuan, apa Anda di sini untuk membeli bunga?"

"Hmph!" Pria itu mendengus merendahkan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menggendongnya dan membawanya keluar dari toko.

Marsha secara naluriah mencoba meninjunya, tetapi pukulan tidak bertenaga yang dia layangkan lebih terasa seperti ketukan lembut di tubuh keras pria itu.

Apa yang menantinya di luar membuatnya tercengang.

Di Jalan Tua yang sempit dan kumuh, ada lebih dari selusin Rolls Royce hitam mewah berjejer menampilkan aura mengesankan.

Lebih dari seratus pengawal dengan ekspresi tegas yang mengenakan berbaju hitam mengelilingi toko bunga sederhananya, dan terlihat seperti benteng buatan.

Didorong oleh rasa takut, orang-orang yang lewat sudah bergegas ke toko-toko terdekat.

Ini terasa seolah-olah adegan dari film mafia menjadi nyata, di mana bos mafia muncul secara dramatis di depan umum.

Terlepas dari pengalaman luas Marsha, dia tidak dapat menentukan orang berkuasa mana di Lebe yang mengincar nyawanya.

Menyuguhkan adegan berlebihan ini di siang hari bolong sungguh luar biasa berani dan gila!

Pria asing itu mendorongnya dengan kasar ke dalam mobil dan kemudian naik ke samping Marsha dan duduk di sana.

Begitu pintunya ditutup, bagian dalam mobil diliputi oleh aura intens dan dingin milik pria itu, sampai rasanya sulit untuk bernapas.

Marsha berusaha tetap tenang dan diam-diam merogoh sakunya, mengambil ponselnya untuk mengirimkan sinyal bahaya.

Namun, saat jemarinya menyentuh ponselnya, pria di sampingnya sudah merampasnya terlebih dulu.

Dia melirik wajah tegang pria itu yang memasang ekspresi tidak senang. "Pak, bisakah Anda setidaknya memberi tahu saya nama Anda dan kenapa Anda menculik saya ... ah!"

Permohonannya dipotong tiba-tiba saat tangan pria itu mencekik tenggorokannya erat-erat.

Jelas bahwa perlawanan apa pun bisa membuat orang asing ini mengakhiri hidupnya.

"Aku tidak tertarik dengan sandiwaramu! Jika kamu berani mengucapkan sepatah kata lagi, dan aku akan mengakhiri hidupmu di sini sekarang juga!"

Demi menyelamatkan nyawanya, Marsha segera menutup mulut.

Tidak berdaya untuk melawan, dia hanya bisa duduk dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuatnya benar-benar syok.

Pria asing itu membawanya ke Kantor Catatan Sipil.

Sebelum dia sadar akan apa yang terjadi, namanya sudah tercantum di sebelah nama pria itu di buku nikah.

Saat kembali dilempar ke dalam mobil, Marsha kaget.

Dia memandang buku nikah di tangannya dengan sorot mata kosong, hingga akhirnya melihat nama pria itu, Kiran Dionius.

Di Lebe, hanya satu Kiran Dionius yang cocok dengan profil kekayaan dan pengaruh sebesar yang dipamerkan pria ini, yaitu kepala keluarga dari keluarga teratas sekarang yang juga terkenal sebagai pria terkaya di Lebe!

Situasi saat ini terasa menakutkan sekaligus mencengangkan.

Dia belum pernah bertemu dengan orang yang begitu berkuasa dan menakutkan.

Meski mungkin dia tanpa sadar telah menyinggung perasaan pria ini, upaya pembunuhan atau balas dendam padanya akan terasa masuk akal, tetapi pernikahan paksa ...?

"Um, Tuan Kiran?"

"Tutup mulutmu!"

Marsha berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi, tetapi Kiran sudah membungkamnya sebelum dia sempat bertanya.

Kemudian, pria itu meraih tangan kirinya dan menyelipkan cincin berlian yang terlihat sangat mahal ke jari manisnya.

"Buat nenekku bahagia seperti yang kamu lakukan sebelumnya. Jangan memancing amarahku lagi!" perintah Kiran.

Marsha kehilangan kata-kata.

Dia bahkan belum pernah bertemu nenek pria itu, jadi bagaimana dia bisa membuatnya bahagia?

"Tuan Kiran, jelas ada kesalahpahaman di sini ... Ngh ...."

Marsha mendapati tenggorokannya kembali dicekik erat.

Sikap Kiran tegang dan muram. Setiap kata yang dia ucapkan seperti bergema dari jurang yang gelap.

"Kamu berusaha keras untuk menipu nenekku agar memaksaku menyetujui pernikahan ini, tapi setelah aku setuju dan undangan pernikahan kita disebar, kamu menghilang pada hari kita akan meresmikan pernikahan kita? Aku tidak tertarik atas alasan kenapa kamu mengejarku dan kemudian melarikan diri, aku juga tidak keberatan dengan rasa malu dan masalah yang ditimbulkan dari keputusanmu. Tapi, nenekku dilarikan ke rumah sakit karena ini, dan kita harus menangani masalah ini! Mengingat kesehatannya dalam kondisi kritis, kamu akan kembali dan berperan sebagai istri cucu yang berbakti. Jika kamu mencoba melakukan rencana licik apa pun, aku akan memastikan seluruh Keluarga Nayaka membayar atas segalanya!"

Baru pada saat inilah Marsha mulai memahami apa yang terjadi.

Kiran telah menculik orang yang salah!

Penyebab dari kesalahan ini adalah karena dia sangat mirip dengan tunangan Kiran yang melarikan diri.

Dia berencana untuk kembali ke kampung halamannya, Dage, besok untuk menikah dengan tunangannya, Devan Taswin. Jadi, apa yang seharusnya dia lakukan sekarang?

Bab 2

Marsha sangat marah karena dia telah salah dianggap sebagai orang lain.

Rencananya yang telah disusun dengan cermat dirusak sepenuhnya oleh Kiran, dan bahkan jika dia ingin mendapatkan kembali kebebasannya di masa depan, statusnya akan menjadi janda.

Bajingan buta dan kasar ini!

Dia dikuasai keinginan untuk mencabik-cabik Kiran.

Namun, saat ini, dia tidak berdaya untuk membela diri. Aura pria yang sombong dan agresif itu membungkamnya dan memaksanya untuk tunduk sekali lagi.

Saat matahari terbenam dan memancarkan cahaya keemasan terakhirnya, mobil mereka berhenti di kawasan mewah di Manor Dionius.

Ketika Kiran baru saja menarik Marsha dari mobil, seorang kepala pelayan yang tertekan bergegas membawa berita penting.

"Tuan Kiran, Anda harus segera ke dalam. Nenek Anda tiba-tiba pingsan lagi dan mereka berusaha menyelamatkan nyawanya. Ini ketiga kalinya dia tidak sadarkan diri Dokter mengatakan jantungnya berhenti bekerja, dan kondisinya ... sangat kritis ...."

Ekspresi Kiran berubah marah.

Secara naluriah, Marsha beringsut mundur saat merasakan niat membunuh yang terpancar darinya.

Sebelum dia sempat bereaksi, pria itu sudah mencengkeram lehernya dan membantingnya ke pintu mobil.

Cengkeramannya sekencang orang gila saat tangannya mencekik lehernya hingga Marsha nyaris kehilangan kesadaran.

"Sebaiknya kamu berharap nenekku berhasil selamat! Jika tidak, aku akan memastikan kamu dikuburkan di sampingnya!"

Dengan satu cekikan terakhir yang mengancam, Kiran melepaskannya dan bergegas menuju ke dalam vila.

Marsha terengah-engah mencari udara saat memegangi tenggorokannya yang memar dan terbatuk-batuk kesakitan.

"Uhuk ... uhuk ...."

Sensasi berada begitu dekat dengan kematian membuatnya ketakutan sekaligus diliputi oleh amarah.

Pria ini benar-benar gila!

Dia masih belum sadar sudah menikahi wanita yang salah.

Mengingat mental Kiran yang tidak stabil dan tindakannya yang agresif, jika neneknya meninggal, Marsha yakin dia akan dikubur hidup-hidup di sampingnya!

Untuk memastikan kelangsungan hidupnya sampai kebenaran terungkap, dia tahu dia harus mencoba menyelamatkan nyawa nenek Kiran.

Ketika tekadnya bulat, dia mengumpulkan kekuatannya dan mengikuti Kiran ke dalam vila.

Di dalam kamar tidur, Alita Darmayasa, seorang wanita tua dengan rambut beruban, terbaring tidak bergerak di tempat tidur.

Sekelompok petugas medis setengah mati berusaha untuk menyelamatkannya, tetapi monitor yang melacak tanda-tanda vitalnya menunjukkan tekanan darah dan detak jantungnya sangat rendah. Dia memang berada di ambang kematian.

Kiran berhenti di ambang pintu, wajahnya tegang. Marsha mengikuti di belakangnya, menahan napas.

Tiba-tiba, bunyi bip berirama di monitor jantung berhenti, digantikan oleh suara bip datar yang terus-menerus.

Tim medis berhenti sejenak sebelum melanjutkan upaya intens mereka untuk menghidupkan kembali Alita.

Namun, jantung Alita tetap tidak bereaksi.

Dokter yang memimpin akhirnya mengumumkan dengan sedih, "Nyonya Alita telah meninggal dunia. Mohon terima belasungkawa dari kami."

Kiran berusaha menyangkal. Matanya yang sudah memerah, berubah liar karena duka.

"Aku tidak bisa menerima ini! Terus mencoba! Tidak peduli berapa pun biayanya, gunakan cara apa pun yang diperlukan!"

Dokter menghela napas dan berkata, "Tuan Kiran, jantung nenek Anda telah berhenti berdetak. Usaha lebih jauh akan sia-sia."

Kiran nyaris kehilangan akal sehatnya.

Dia kehilangan kedua orang tuanya di usia muda, dan neneknyalah yang membesarkannya. Neneknya adalah anggota keluarga terdekat yang dia miliki.

"Tidak, Nenek tidak bisa pergi begitu saja seperti ini! Beliau ingin melihat aku menikah dan bertemu dengan cicitnya. Beliau mengatakan hanya inilah yang bisa membawa kedamaian untuknya!"

Ruangan berubah menjadi sunyi senyap, semua orang terlalu ketakutan untuk berbicara. Akhirnya, Norman Dionius, kakak Kiran, memecah kesunyian dengan komentar yang mencemooh. "Kiran, cukup. Apa gunanya kamu mengatakan semua ini sekarang?"

Dia adalah kakak tertua Kiran, usianya dua puluh tiga tahun lebih tua darinya.

Kata-katanya sangat menohok.

"Nenek meninggal karena stres, disebabkan oleh tunanganmu yang melarikan diri. Kematiannya adalah kesalahanmu. Kamu bahkan tidak bisa menangani seorang wanita. Bagaimana kami bisa memercayaimu untuk menjalankan seluruh keluarga? Jika kamu merasa menyesal pada Nenek, serahkan kepemimpinan keluarga serta saham perusahaan, dan ajukan pengunduran diri sebagai pengelola bisnis keluarga!"

Bibir Kiran menegang saat dia berusaha menahan emosinya.

Norman selalu merasa pahit karena nenek mereka memercayakan Kiran dengan saham perusahaan dan kepemimpinan keluarga, bukan dia sebagai cucu tertuanya. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyalahkan Kiran.

Biasanya, Kiran tidak mengabaikan tuduhan Norman begitu saja dan selalu menyiapkan jawaban untuk membungkam kakaknya yang licik itu.

Namun, hari ini, Kiran tidak punya memiliki keinginan untuk berdebat. Dia terlalu diliputi kesedihan dan ingin neneknya bisa beristirahat dengan tenang.

Namun, Gibran Dionius, kakak ketiga Kiran yang duduk di kursi roda tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.

"Kak Norman, Nenek memilih Kiran untuk memimpin keluarga. Tidak pantas bagimu untuk mencoba mengambil alih kepemimpinan keluarga dan saham perusahaan sekarang!"

"Gibran, sejak kapan kamu memiliki andil dalam pengambilan keputusan di keluarga ini?" Istri Norman, Lova Darmawan, menyela dengan tajam sebelum Norman sempat memberi tanggapan, suaranya dipenuhi nada sinis. Meski riasannya yang dioles hati-hati menampilkan dirinya dengan anggun, sifat jahatnya terlihat jelas.

"Kiran tidak memiliki integritas yang diperlukan untuk mengisi posisi sebagai pemimpin. Wajar jika dia menyerahkan kepemimpinan keluarga dan saham perusahaan! Sedangkan kamu, yang bahkan tidak menyumbangkan apa pun dari kursi roda itu, kamu pikir kamu pantas mendapat saham juga?" Lova dikenal dengan mulutnya yang keji, dan ucapannya menusuk tepat di tempat yang menyakitkan.

Benar saja, Gibran meringis, mencengkeram lututnya saat dia terdiam karena tekanan yang dia dapatkan.

Marsha mengamati drama keluarga di hadapannya dalam diam di samping, tidak tertarik dengan pertengkaran mereka.

Sementara yang lain berdebat, dia mengamati dengan cermat kondisi Alita.

Ketika perdebatan semakin sengit, Marsha berkata dengan tenang, "Nyonya Alita masih bisa diselamatkan ...."

Bab 3

Saat Marsha berbicara, semua perhatian beralih padanya.

Kiran yang semula tenggelam dalam kesedihan, sepertinya baru mengingat kehadiran wanita itu sekarang, menoleh tajam ke arahnya, matanya dipenuhi amarah yang membara.

Marsha secara naluriah mengambil selangkah mundur, merasa seolah-olah dia berada di ujung tanduk dan akan segera terjatuh.

"Bukankah itu pengantin yang melarikan diri dari Keluarga Nayaka?"

"Beraninya dia menunjukkan wajahnya di sini?"

Semua orang di sana memandangnya dengan jijik.

Marsha merasa seperti sasaran empuk yang dikelilingi sekawanan serigala. Dia bertanya pada Kiran dengan hati-hati, "Bolehkah aku memeriksa kondisi Nyonya Alita? Mungkin aku bisa menyelamatkannya."

Apa?! Semua orang terkejut saat mendengar kata-katanya.

Lova mengeluarkan tawa sinis mengejek dan berkata, "Nona Tifa, apakah kamu sudah gila? Semua orang tahu kamu tidak pernah tamat SMA. Sejak kapan kamu menjadi ahli medis?"

Marsha tidak menghiraukan ucapan sinis ini.

Fokusnya hanya pada upaya menyelamatkan nyawa, dan dia memohon pada Kiran, "Karena para dokter sudah menyerah, apa salahnya membiarkan aku mencoba menyelamatkan nenekmu? Kondisinya tidak mungkin lebih buruk dari ini."

Tim medis sangat geram.

Bagaimana mereka bisa membiarkan seorang gadis kaya yang terkenal karena dinyatakan gagal oleh keluarganya sendiri, membuat pernyataan kematian mereka sebagai omong kosong belaka?

Anggota Keluarga Dionius juga dipenuhi oleh amarah.

Wanita ini telah mempermalukan mereka dengan melarikan diri dari pernikahan, kini berani mencoba bermain-main dengan kematian Alita.

Semua orang mengira Kiran akan meminta wanita gila ini diusir.

Tanpa diduga, amarah yang membara di mata Kiran memudar.

Dia terus menatap wajah Marsha tanpa berbicara untuk waktu yang lama. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Norman, yang tidak mampu menahan amarahnya, memukul meja dan berkata, "Bagaimana kita bisa membiarkan gadis bodoh ini ikut campur? Usir dia keluar sekarang!"

Para pengawal yang sudah mengira akan menerima perintah ini mulai mendekati Marsha untuk menyeretnya pergi.

"Siapa yang berani menyentuh wanitaku?!" Tiba-tiba, suara Kiran terdengar, membuat semua orang berhenti di tempat.

Semua orang tercengang dengan perubahan situasi ini.

Kehadiran Kiran yang berwibawa memenuhi ruangan, tidak menyisakan ruang untuk perlawanan.

Bahkan dua orang yang senang membuat masalah seperti Norman dan Lova, terpaksa bungkam.

Hanya dengan menyuarakan satu perintah, Kiran telah mengendalikan situasi.

Lalu, Kiran menggandeng tangan Marsha dan membawanya ke samping tempat tidur neneknya, sambil berkata, "Tolong."

Tidak ada yang berani mempertanyakan keputusan dari kepala keluarga.

Marsha mulai memeriksa tubuh Alita.

Mengingat dia belum sepenuhnya mendapatkan kembali tenaganya dan telah dicekik tiga kali dengan kasar oleh Kiran, tangannya terasa gemetar, membuat pemeriksaannya terlihat canggung.

Kecanggungan ini disalahartikan sebagai hal buruk oleh para penonton.

Mereka berasumsi Marsha tidak tahu apa-apa tentang pengobatan, dia hanya mencari perhatian dan terlihat jelas dari kegugupannya.

Selalu ada banyak wanita yang berusaha menarik perhatian Kiran dengan melakukan sesuatu yang dramatis.

Namun, tindakan Marsha untuk memanfaatkan Alita sebagai bagian dari rencananya merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelumnya, dia telah meyakinkan Alita untuk menyetujui pernikahannya dan Kiran, menunjukkan bahwa dia memiliki kelicikan. Akan tetapi, sekarang, setelah Alita tiada, apakah dia benar-benar berpikir dia bisa menghidupkan kembali orang mati?

Pikiran ini benar-benar gila!

Semua orang menaruh fokus mereka pada Marsha.

Mereka sangat ingin melihatnya mempermalukan dirinya sendiri, berharap Kiran akan mengusirnya dan Keluarga Nayaka akan jatuh bersamanya.

Sayangnya, Marsha tidak memedulikan mereka. Setelah selesai memeriksa Alita, dia berhenti berpikir sejenak sebelum mengeluarkan peralatan akupunkturnya.

Saat melihat peralatan yang dia keluarkan, para dokter mendengus mengejek, dan para penonton semakin mengkritiknya.

Mereka telah mengira dia akan melakukan sesuatu metode kedokteran canggih, tetapi dia memilih melakukan akupunktur, yang banyak orang anggap hanya sekadar cerita rakyat.

Jantung Alita berhenti berfungsi, bahkan operasi pun tidak dapat menyelamatkannya, dan Marsha mengira beberapa jarum dapat menghidupkan kembali Alita?

Kiran pasti sudah gila untuk mengizinkannya menangani Alita.

Alita sangat dihormati oleh banyak orang. Bagaimana Marsha bisa dibiarkan bermain-main dengan tubuhnya? Ini hanya merusak martabatnya!

Namun, Kiran tidak ikut campur, jadi tidak ada yang berani mengkritik tindakan Marsha secara blak-blakan.

Marsha mensterilkan jarum perak yang dia bawa dan mulai menempatkannya pada titik-titik strategis di tubuh Alita.

Tubuhnya yang semakin lemah hanya menyebabkan tangannya semakin gemetar, dan butiran keringat terbentuk di dahinya.

Para penonton, yang memperhatikan tangannya yang bergetar, merasa cemas sekaligus ketakutan menyaksikan saat menyaksikan setiap jarum ditusukkan.

Saat jarum pertama dimasukkan, tidak ada perubahan apa pun.

Jarum kedua menyusul, dan tetap saja tidak ada tanggapan dari Alita.

Pada jarum kesembilan, masih belum ada tanda-tanda keajaiban terjadi.

Pada saat ini, para penonton tidak bisa lagi menahan diri.

"Berhenti!" teriak Norman geram.

"Kamu benar-benar begitu berani menipu kami! Kamu pikir kami bodoh?!"

"Menggunakan tubuh Nenek untuk rencana licikmu! Kamu pasti sudah bosan hidup!"

Semua orang memelototi Marsha, geram dan siap mencabik-cabik wanita yang mereka yakini tidak menghormati Alita ini.

Bahkan Gibran yang biasanya lembut pun tampak sangat muram. "Kiran, apakah kamu benar-benar akan membiarkan wanita ini melanjutkan tindakan konyolnya?"

Namun, Kiran tidak mencoba menghentikan Marsha. Sebaliknya, dia justru berteriak, "Kalian semua, diam!"

Marsha menghela napas lega. Hanya ada satu jarum tersisa di tangannya.

Jika Kiran tunduk pada pengaruh para penonton dan menghentikannya, semua usahanya akan sia-sia.

Kehadiran Kiran yang berwibawa sekali lagi membungkam suara-suara tidak setuju, tetapi ruangan itu terasa lebih mencengkam dengan semua amarah terpendam dari semua orang.

Dengan perhatian penuh ruangan tertuju padanya, Marsha memasang jarum terakhir yang kesepuluh.

Saat dia melakukannya, Alita tiba-tiba menarik napas.

Dia masih hidup!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED