Bab 1

"Please, honey. Ini sedang di perjalanan. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan kita, Oke?"

Levin membujuk istrinya untuk tidak menggodanya dengan memainkan jemari halus itu di dadanya yang berbulu. Berulang kali ia bergidik, bahkan meringis nikmat merasakan kenakalan jemari istrinya itu.

"I want more, baybe."

Laura bahkan sudah semakin gila dengan menciumi leher suaminya hingga timbul beberapa tanda kepemilikan di leher berbulu tipis itu.

"Sayang, aku sedang nyetir."

"Tapi aku mau sekarang ... di sini."

"Kamu gila, Laura. Ini di jalan tol. Kita tak mungkin berhenti di sini."

"Aku tak minta berhenti. Cukup kamu nyetir dan menikmati permainanku." Bibir seksi itu berbisik lembut hingga menghembuskan nafas nafas berbau mint ke telinga suaminya.

"Haha, kami memang selalu gila dalam fantasy-mu. Oke, silahkan. Lakukan saja apa yang kamu mau."

Seringai indah itu seolah memberi kode para Laura untuk segera mempermainkan bentuk tubuh yang selalu menjadi candunya. Ia bergegas, mengangkat dress yang dikenakannya, lalu dengan penuh senyuman menantang merangkak hingga posisi sudah berhadapan dan duduk pada saat penutup kenikmatan itu terbuka.

Sesaat Levin berceracau, memang selalu nikmat yang ia rasakan jika istrinya sudah menggila. Suara-suara pencipta keringat itu sudah mulai beradu di dalam perjalanan yang penuh tantangan. Sesekali Levin mencium bibir menantang itu dengan ganas, tapi ia tetap berusaha fokus pada laju kemudi yang harus tetap ia jaga.

"Balas, sayang. Balas aku." Laura mencengkeram kuat rambut suaminya.

"Tidak, sayang Aku akan membalasmu ketika kita sampai di rumah. Kamu akan bisa menikmatiku seutuhnya."

"I want, please!"

"No, baybe."

"I want you!"

Keganasan itu semakin gila, hingga terjadi sedikit pertengkaran dan ....

BRUK!

Mobil mereka mengalami kecelakaan tunggal hingga pendengaran Levin sedikit terganggu suara klakson menjerit nyaring memenuhi rongga telinganya.

TIDAK!

Darah itu sudah mengucur deras dari arah belakang kepala Laura yang sudah tak sadarkan diri dan hanya tertunduk bertumpu pada pundaknya.

"Laura, sadar sayang."

Levin tahu, ini akan menjadi pula hal memalukan ketika orang-orang itu datang mengerumuninya. Hingga ia segera berusaha memindahkan tubuh istrinya dan menutup kembali hal yang tidak pantas untuk dilihat.

Benar saja. Orang-orang itu sudah menghampirinya dan berusaha mengeluarkan Levin beserta Laura dari dalam mobil.

"Laura, Laura!"

Lagi.

Kembali mimpi buruk itu selalu menghiasi malamnya. Levin menoleh ke arah jarum jam masih menunjukan pukul tiga pagi.

Kejadian itu sudah lama berlalu. Bahkan jika dihitung, mungkin sekitar tiga tahun ia menahan diri untuk tidak terbuka pada wanita lain, selain menunggu sadarnya bidadari yang masih tergolek lemas di kamar khusus serta peralatan kesehatan yang membantu jantung itu masih berdetak.

Ia menghela nafasnya dengan berat. Seandainya saja waktu itu ia tak memaksakan diri untuk pulang, seandainya keinginan Laura ia penuhi sejak acara di hotel, seandainya dirinya tidak egois. Padahal ia tahu sendiri jika Laura memang memiliki kekinginan kuat atas dirinya sejak mereka menikah.

Seminggu setelah resmi jadi suami istri, memang hanya beberapa kalo Levin memenuhi hasrat istrinya karena kesibukan dia sebagai dokter muda di salah satu rumah sakit. Tentu menjadi dokter muda bukanlah hal yang dapat seenaknya sendiri, ia harus stay kapan pun ketika Dokter Koas-nya meminta.

Keringat dingin mengucur deras di dahinya, ia tahu, dirinya mengalami trauma yang mendalam.

Laura, istrinya itu masih setia terbaring di atas ranjang yang khusus ia persiapkan. Cantik, memang sudah menjadi kelebihan Laura sejak dulu. Meski tiga tahun tak sadarkan diri, tak membuat istrinya itu kehilangan kecantikannya.

"Bangunlah, sayang. Aku menunggumu," bisiknya setiap kali habis bermimpi.

***

Wajah itu masih dengan raut yang sama. Matanya terlelap, tak lagi ceria seperti dulu. Wajah yang selama ini Levin rindukan, kini hanya terbaring dengan ketidak berdayaan. Pagi yang selalu ia lewati dengan hanya tersenyum sendiri, memasang deretan kancing dan membayangkan jika itu kini dilakukan istrinya. Ia memejamkan mata, merasakan setiap sentuhan halus menyentuh lapisan kulit terluar. Memberi sensasi yang selalu ia rindukan setiap waktunya.

Laura, nama itu selalu tergumam dengan penuh hasrat, tapi kembali kesadaran membanting segala harapan yang seolah mulai berubah hampa.

"Aku akan menunggu kamu kembali, sayang," bisiknya selalu di telinga wanita yang warna kulitnya sudah mulai memucat.

Pagi yang diawali kecupan mesra Levin di pucuk kepala wanita yang masih dapat memiliki jantung berdetak berkat bantuan beberapa alat. Levin tersenyum, membayangkan istrinya juga tengah melihatnya dengan manis.

"Hari ini mungkin jadwalku agak padat, kalau aku lama tidak datang menemuimu, kamu jangan marah ya. Aku agak sibuk, sayang." Sepotong roti sandwich masuk ke dalam mulutnya. "Kamu kapan bisa masak buat aku? Aku kangen sama makanan buatan kamu."

Rasa semua makanan yang di mulutnya itu seperti tidak mau berkompromi. Selalu sulit untuk dinikmati ketika ia merasa jika harapannya sudah mulai sia-sia. Namun, titik kecil keyakinan yang masih tersisa, seolah mendominasi semuanya dan hal itu pula yang membuat Levin tetap bertahan.

"Kembalilah, sayang. Kembalilah seperti dulu." Air mata Levin mulai mengalir, kembali rasa bersalah itu muncul dengan segala penyesalan.

Sebuah ketukan pintu membuatnya seketika menyeka air mata. Seorang rekan sudah tersenyum, menunggu tugas untuk melakukan tugas bersama-sama.

***

Sebulan yang lalu ....

Seorang gadis diseret masuk ke sebuah gudang di area kampus. Seharusnya jam ini dia sudah pulang, tapi tugas yang menumpuk mengharuskannya untuk pulang terlambat.

Dengan tangan tercengkeram laki-laki yang menggunakan penutup wajah, gadis itu terus meronta dan berteriak meminta tolong. Namun, tak ada seorang pun yang datang untuk menolongnya. Ia putus asa, saat sesuatu di bawah dengan gagah mulai menodai, hingga ia terkulai lemas kehabisan tenaga.

"Maafkan aku." Hanya itu yang tergumam dari mulut si laki-laki, tanpa didengar oleh si gadis.

Beberapa menit setelah laki-laki itu meninggalkannya. Si gadis terbangun dalam keadaan berantakan, ia memunguti pakaian dalam yang berserakan di mana-mana. Wajahnya lusuh, air mata terus mengalir tanpa henti. Kakinya terseok merasa lemas dan sakit di area sensitif yang tidak bisa ia tahan. Seketika terjatuh dan kembali menangis. Noda merah di lantai kotor itu seolah sebagai pertanda jika ia sudah tidak suci lagi.

***

Tiga puluh hari selepas kejadian di gudang kampus. Gadis itu lebih sering mengurung diri di kamarnya. Hanya membiarkan tatapan kosong tetap mengarah pada apa saja benda yang ada di depannya. Tubuhnya semakin kurus, ia tidak nafsu makan. Hingga ide buruk muncul di kepala.

Dia melangkah dengan terburu-buru menuju sebuah jembatan penghubung jalan yang hanya berjarak beberapa meter saja. Melihat aliran sungai yang deras, kemudian ia ....

*** 

Bab 2

"Kamu tak bisa seperti ini terus, Levin. Kamu tak bisa selamanya menunggu Laura sadar dari koma, Mama tak tega!" Berta pagi-pagi sudah datang dan mencecar putranya.

Levin tetap tenang memasangkan dasinya sambil tersenyum menanggapi setiap cecaran itu yang sudah bagaikan sarapan pagi baginya.

"Levin, Mama serius. Mama juga mau punya cucu, sama seperti orang normal lainnya. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Menunggu mayat hidup tanpa ada ujungnya."

Levin mengeraskan rahang. Bagaimanapun cerewetnya wanita itu, baru kali ini ia melontarkan sebuah kalimat yang begitu pedas dan ,mengusik ketenangan pribadinya.

"Aku pamit dulu, Moms." Ia mengecup lembut dahi ibunya. "Hari ini ada operasi di rumah sakit." Tanpa menoleh lagi, ia segera meraih jasnya yang sejak tadi tersampir di sisi sofa dan pergi dengan menahan segala rasa sakit atas kalimat pedas itu.

Laura, bagaimana pun ia adalah satu-satunya wanita yang tak dapat tergantikan dalam hati Levin.. Bahkan kecelakaan itu kini masih tergambar dengan jelas di kepalanya.

Ia benar-benar telah merasa gagal, sebagai seorang suami sekaligus dokter, tentu harusnya dapat menjaga dan menyembuhkan Laura seperti sedia kala.

Seperti biasa, Levin akan mengunjungi kamar perawatan istrinya sebelum ia menunaikan tugas sebagai seorang dokter. Mata itu masih setia tertutup dengan rapat, tanpa ingin melihatnya sedikitpun.

Mungkin Laura marah padanya hingga ia menghukum Levin sampai sedemikian menyiksanya.

"Bangun, sayang. Aku merindukanmu." Jemarinya menaut dan mengecup lembut sambil tak terelak air mata itu mengalir.

Tak ada jawaban, selain hanya pasien monitor yang selalu setia menjadi teman kesunyiannya di ruangan itu. Tiga tahun sudah ia menunggu, bahkan kulit istrinya sudah tak lagi sekencang dan sesegar dulu.

"Dok." Seorang suster datang dengan mendorong troli berisi nampan yang membawa obat yang mungkin akan disuntikkan.

"Ah, iya." Levin menyeka air matanya.

"Sudah waktunya ganti infus."

"Biar saya saja, Sus."

Levin meraih troli itu dan mempersilahkan suster untuk berlalu.

Rutinitasnya setiap pagi. Meski ia mendapat tugas malam pun, tetap harus dirinya yang menggantikan botol infus untuk istrinya itu.

Ya, sebenarnya beberapa dokter di rumah sakit itu telah menyarankan jika beberapa alat yang tertancap di tubuh Laura itu dicabut saja, karena sudah tidak memungkinkan bagi istrinya untuk hidup. Namun, Levin bersikukuh untuk tetap mempertahankannya dan percaya jika suatu saat istrinya itu akan membuka mata, serta melahirkan beberapa orang malaikat kecil untuknya.

Sungguh bayangan yang teramat indah yang entah kapan akan terwujud.

Samar terdengar di luar terjadi keributan yang baru saja melintas di depan bangsal kamar yang ditempati Laura. Sesaat levin menyelesaikan pekerjaannya dan merasa penasaran untuk melihat siapa yang menciptakan keributan di depan kamar istrinya.

Sepasang suami istri tengah saling merangkul sambil mengiringi beberapa suster mendorong brankar dengan tergeletak seorang gadis di atasnya. Nampaknya ia baru saja dipindahkan ke ruang rawat. Entah apa pula yang menyebabkan si istri membuat keributan dengan tangisan yang sedemikian rupa.

"Dokter Levin. Maaf sekali. Pagi ini saya ada operasi jadi tidak bisa menangani pasien lebih lanjut. Mohon anda untuk menanganinya sementara, tolong."

Sesaat levin berfikir, menoleh ke arah pasien yang baru saja masuk ke kamar di sebelah ruangan Laura dirawat. Mungkin tidak apa-apa. Lagipula hanya bersebelahan.

"Baiklah."

Tanpa pikir panjang lagi, Levin segera menuju ruangan di mana tempat pasien dengan orang tua yang histeris itu berada. Seorang gadis dengan kepala terlilit perban yang nampaknya ia baru saja mengalami kecelakaan.

"Selamat pagi," ujar levin menyapa kedua orang tua yang masih saling berangkulan itu. "Saya Levin yang sementara ini menggantikan Dokter Adam untuk menangani putri anda." Levin memeriksa laju infus yang baru saja dipasangkan dua orang suster itu.

"Putrinya kenapa, Bu?" Bertanya tanpa menoleh dan masih fokus pada putaran atur infusan.

"Jatuh dari jembatan, Dok," jawab wanita itu sambil tak henti terisak.

Sesaat Levin mengerutkan dahinya. "Jembatan? Kenapa bisa?"

"Emh, dia ... melakukan percobaan bunuh diri," jawab suaminya kemudian.

Levin melirik sesaat pada kedua orang yang kini mulai duduk pada sofa tersedia di ruangan itu. Ia melihat sekilas jika istrinya mencubit si suami, mungkin ia merasa hal ini sebuah rahasia yang tak perlu diumbar.

"Oh, tidak apa. Sebentar lagi putri anda akan segera sadar." Mencoba untuk menenangkan tanpa menunjukan ekspresi mengejek sedikitpun. "Saya permisi dulu, nanti satu jam kemudian akan kembali memeriksa."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Levin segera ke luar dari ruangan itu menuju ke kantin mengingat jika perutnya belum termasuk apapun semenjak kemarahannya pada Berta di rumah tadi.

Biasanya, Levin hanya akan mendengarkan ocehan ibunya yang tiada henti itu sambil tersenyum dan mereguk sereal sebagai sarapan pagi. Namun, mendengar ucapan menyakitkan itu bagaikan tersambar sesuatu yang kian meluluh lantakkan perasaannya.

Mayat hidup!

Bagaimana mungkin Berta mampu melontarkan kata-kata itu terhadap istri yang sangat dicintainya? Sakit sekali rasanya.

Levin mereguk pahit kopi tanpa gula itu. Kedua matanya memejam, erat sekali. Entahlah, rasa pahit pada kopi tanpa gula itu bahkan lebih nikmat dari kalimat yang Berta lontarkan tadi pagi.

"Levin. Boleh aku duduk di sini?"

Anandita. Usianya hanya setingkat di atas Levin. Dia cantik, tapi entah kenapa hingga usia yang hampir menginjak kepala tiga tak juga tertarik untuk menjalin sebuah komitmen dalam hidupnya.

"Tidak ada larangan kan?" jawab Levin sambil tersenyum.

Semangkuk bubur ayam yang dipenuhi lekatnya kecap manis. itu memang kesukaan gadis itu. Eneg sebenarnya jika harus turut merasai. Tapi Levin hanya tersenyum sambil menggeleng kepala saja.

"Kamu itu udah manis, ngapain sih musti makan bubur dengan penuh kecap manis segala?"

"Ya, manis mungkin iya, tapi sayangnya tak dapat merenggut hati si kopi pahit." Anandita tertawa hambar.

Levin sesaat terdiam, entah sudah ke berapa kali lontaran candaan itu terasa begitu pahit. Mereka dulu satu kampus, beberapa kali memang Anandita menyatakan perasaannya semenjak Levin belum bertemu dengan Laura. Namun, entah apa pula yang membuat ia tak mampu menerima perhatian gadis itu hingga membuat Anandita tak bersedia menikah seumur hidupnya, terlebih ketika Levin resmi mempersunting Laura.

Pada awalnya, hubungan mereka sempat merenggang. Hingga Anandita kembali memberanikan diri untuk mendekat, setahun setelah Laura dinyatakan koma.

"Gimana kabar istrimu?" Anandita melahap bubur yang penuh dengan kecap itu.

Sesaat levin menghembuskan nafas lelah. "Masih seperti kemarin." Pandangan matanya melayang ke arah penghuni kantin yang belum terlalu ramai pagi ini.

"Aku yakin Laura kuat. Kamu juga harus kuat." Anandita tersenyum pahit dan kembali melahap sarapan paginya.

"Mungkin, tapi entah sampai kapan juga. Hukuman yang dia berikan terlalu berat."

"Laura kuat, buktinya sampai sekarang dia masih bertahan untuk kamu."

"Kamu? Bertahan untuk siapa?"

Pertanyaan itu cukup membuat Anandita menunduk dan menggigit bibir bawahnya. "Apaan sih?' Tiba-tiba gadis itu menonjok pelan pundak Levin. "Kepo deh." Anandita pura-pura merajuk.

"Haha, ya sorry Nona Kecap."

Matanya Anandita membulat mendengar julukan yang sungguh terasa aneh itu. Nona Kecap?

"Ih, apaan sih, Levin?'"

"Haha, tapi itu cocok buat kamu."

"Okedeh Tuan Kopi Pahit. Impas kan? Haha."

***

Satu jam menghabiskan waktu di kantin bersama Anandita. Levin kembali ke ruangan dimana gadis tadi dirawat untuk memeriksa keadaannya saat ini. Wajahnya masih merona membayangkan bagaimana menggemaskannya si Nona Kecap tadi ia godai.

Seorang suster berlari ke arahnya, nampaknya memang tengah terjadi sesuatu di ruangan pasien itu. Pasalnya ini adalah salah satu suster yang menangani pasien tadi pagi.

"Dok, pasien di kamar VIP 02 histeris."

***

Bab 3

"Dok, pasien di kamar VIP 02 histeris."

Gerak cepat. Tak tunggu waktu lama Levin mempercepat langkahnya hingga pemandangan mengerikan itu sudah terpampang di depan mata. Perban di kepala gadis itu sudah terlepas, dengan rambut yang tak karuan. Bahkan ia tampak mendorong penyangga infusan hingg selang terlepas dan mengeluarkan banyak darah dari lengannya.

"Kenapa gue masih hidup?! Kenapa gue gak mati aja?!"

Kedua orang tuanya sudah kewalahan hingga tak sanggup lagi menahan gadis yang sedari tadi memukul-mukul perutnya itu.

"Asley, lepasin, sayang. Jangan seperti ini." Ibunya mencoba memeluk dengan erat.

"Lepasin. Ma. Aku mau mati ... Aku mau mati ...!"

"Asley, kamu jangan putus asa seperti ini, kamu masih punya Mama dan Papa." Ayahnya turut bicara.

Tak tega melihat darah yang terus mengucur deras dari lengan gadis itu. Ia segera memasang kembali selang ke tangan Asley, hendak menyuntikkan obat penenang, tapi dicegah oleh suster di sampingnya.

"Pasien punya riwayat alergi obat bius, Dok. Ia akan kejang jika sehari menghabiskan dosis normal seperti pasien lainnya. Sedangkan setengah dari dosisnya sudah digunakan ketika kami menjahit luka pasien."

Sial! Jika seperti ini terus akan semakin parah adanya. Levin melemparkan dua benda yang semula tergenggam di tangannya. Menarik tubuh Asley dan kemudian memeluknya dengan hangat.

"Sssttt ... kamu tenang ya ... ada saya, ada saya di sini. Kamu tenang."

Bagaikan lahan kering tersiram air hujan. Perlahan gadis itu mereda, hingga akhirnya ia tenang seiring dengan detakan jantung yang ia nikmati dalam dekapan dada bidang Levin. Hanya sesekali isak tangis yang terdengar, Asley tak lagi berontak.

Semua orang yang berada di ruangan itu tercengang seketika, tak terlepas Anandita yang menatap pahit di ambang pintu. Ini seperti kejadian masa lalu, di mana ketika Levin menyelamatkan Laura yang juga histeris dan nyaris bunuh diri dari atas gedung kampus. Hanya saja bedanya Laura depresi karena tekanan orang tua.

"Aku mau mati aja, Dok ...." Gadis itu berucap dengan lirih.

"Tapi kenapa?" Levin membingkai lembut wajah gadis itu.

Asley tak lagi berbicara selain hanya bngkam dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.

"Katakan sama saya, apa yang terjadi?" Tetap lembut, Levin membujuk.

"Aku, hamil." Kedua tangannya tertaut melilit ujung selimut yang semula menutupi tubuhnya.

Roboh, wanita yang sejak tadi menatap sendu purinya itu kini tak sanggup lagi berdiri. Bahkan suaminya sudah tampak wajahnya kian merah padam. Entah malu atau marah, keduanya bercampur menjadi satu.

Kekecewaan tergambar jelas di wajah wanita yang bahkan nyaris pingsan jika tidak dipeluk suaminya.

"Mama sudah sering bilang sama kamu untuk tidak berhubungan dengan laki-laki itu! Kenapa kamu gak pernah mau nurut?! Mama kira kamu seperti ini karena hanya diputuskan pacar kamu itu, bukan sebab meninggalkan aib!"

"Ma, jangan terlalu keras," pekik suaminya. "Ini rumah sakit, malu."

"Tapi Mama kecewa, Pa. Mama kecewa!" Sorot mata wanita itu menatap dengan nyalang hingga membuat Asley menggigil ketakutan dalam dekapan Levin. "Dokter, lepaskan saja, biarkan dia mati!"

Levin menutup mata dengan rapat.

Please, gadis ini hanya korban. Kenapa dia harus diperlakukan seperti ini? Dia tertekan, bahkan mungkin mengalami depresi berat!___benak Levin.

"Kalo seperti ini? Siapa yang mau tanggung jawab? Hah?!" Wanita itu berusaha merebut Asley yang masih dalam dekapan Levin. "Siapa yang akan tanggung jawab?!" Bahkan tangannya tak segan memukul wajah gadis itu.

Levin benar-benar tak tega dengan kondisi psikis gadis itu. Hingga beberapa kalimat ibunya kembali menggema di seluruh rongga pendengaran.

Kamu tak bisa seperti ini terus, Levin. Kamu tak bisa selamanya menunggu Laura sadar dari koma, Mama tak tega! Levin, Mama serius. Mama juga mau punya cucu, sama seperti orang normal lainnya.

"Biar saya yang tanggung jawab!"

Sunyi, seperti tak ada lagi suara yang bergema di ruangan itu selain hanya deru nafas yang terdengar. Bahkan Anandita tampak menganga sambil tak henti air mata itu mengalir tanpa isak tangis.

Lagi, Levin pada akhirnya harus mengulang kepahitan Anandita yang sempat ia ciptakan dulu. Dia kembali terluka.

***

Gila!

Itu merupakan hal gila pertama yang Levin lakukan dalam hidupnya. Menikahi gadis korban hamil di luar nikah? Kenapa ia bisa segila itu?

Ia masih mengurung diri di kamar Laura sejak pernyataan gilanya tadi di ruangan sebelah. Levin hanya memeluk diri di atas sofa, sambil tak henti kedua mata itu menatap ke arah istrinya yang masih setia terbaring di atas ranjang rumah sakit bersama belasan alat pembantu kehidupan.

Please, bangun, sayang. Cegah aku untuk menikahinya. Marahi aku, pukuli aku. Please, bangunlah, Laura.

seseorang mengetuk pintu ruangan itu, kemudian muncul seorang suster menghampirinya.

"Maaf, Dok. Pasien tidak mau diganti perban jika bukan Dokter Levin yang melakukan," ujar suster itu sambil satu tangan memeluk rekam medis pasien. Ia masih terdiam, menunggu jawaban dari mulut Levin yang seolah sukar untuk berucap.

"Katakan, sebentar lagi saya ke sana." Akhirnya, Levin menyetujui.

Harapan itu masih ada. Sekali lagi Levin menoleh ke arah istrinya, berharap adanya gerakan kecil meski hanya sebuah gerakan jemari saja. Masih tetap sama. Laura masih setia dalam mimpi panjangnya tanpa ingin membagi mimpi bersama suami yang selama ini berharap ia kembali.

Langkah kian gontai itu ia akhirnya menutup pintu dengan tatapan tak lepas dari wujud Laura yang masih terbaring dengan tenang. Hilang sudah, pandangannya kini terhalang oleh kokohnya pintu kayu berbahan jati menutupi seluruh ruangan.

Maafkan aku, Laura.

Sementara itu, wanita yang pada awal kedatangannya tadi menangis, kini raut wajahnya sudah berubah menjadi lebih bengis dan menakutkan. Sedangkan Asley tampak pula memalingkan wajah, ia memang terbilang gadis yang keras kepala.

Tak ada lagi sapaan ramah terhadap pasien seperti pada umumnya. Levin langsung menghampiri dan meraih beberapa alat medis yang tersedia di atas nampan seorang suster mengiringinya. Tanpa banyak bicara, ia tetap cekatan membuka perban yang melilit kepala gadis itu sambil sesekali membubuhkan alkohol pada luka yang menganga demi menghindari lengketnya perban itu.

Sesekali Asley meringis, Levin akan menghentikannya untuk sesaat. Ia menoleh, kemudian tersenyum singkat seraya kembali pada perban di kepala Asley.

"Mama sudah katakan sejak awal, seharusnya kamu itu gak pacaran sama dia!"

Rupanya permasalahan mereka masih juga belum selesai. Levin kembali menutup mata, kurang setuju dengan cara wanita itu memvonis anaknya. Ini seharusnya tidak perlu dibahas di tempat umum, Levin sangat tahu bagaimana malu dan hancurnya perasaan gadis yang saat ini tengah dalam keadaan terpojok. Terlihat dari bibirnya yang bergetar serta dua sorot mata yang tetap bertahan meski sudah berembun.

"Bukan Rico yang melakukannya, Ma," gadis itu menjawab.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED