Bab 1

Terdengar suara tamparan yang cukup keras dari tangan halus seorang wanita muda, wajah putih moleknya tampak memerah karena menahan rasa kesal yang teramat sangat di dalam dirinya.

“Kenapa kamu menamparku?” tanya laki-laki yang baru saja dihadiahi sebuah tamparan tadi. Bahkan tangan kekarnya belum bisa terlepas dari pipinya yang masih terasa panas dan perih itu.

“You said why?” gadis bernama Fellicia itu tersenyum getir. Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah hanpdhone dengan case hitam yang tergeletak di atas tempat tidur.

“Tadi your girl menelpon, entah dia itu wanita keberapa yang mengatakan hal ini,” lanjutnya.

Netra mata Rafael sedikit terbuka lebih lebar, “Apa yang dia katakan?” tanyanya seolah sudah mengetahui siapa wanita yang dimaksud oleh kekasihnya itu.

“She said, Thank you for last night,” jawab Fellicia. Kemudian gadis itu menatap tajam bola mata milik Rafael. “Apa yang telah kamu lakukan bersama wanita itu semalam?” Fellicia balik bertanya.

Alih-alih menjawab, Rafael malah tertawa tanpa merasa bersalah sedikit pun, “Pertanyaan macam apa itu, Honey? Tentu kamu juga sudah mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan di malam hari,” terang Rafael dengan tatapan mata nakalnya.

“Bravo.” Fellicia bertepuk tangan tepat di depan wajah Rafael, meskipun sambil menahan rasa sesak di dadanya. “Hebat ya kamu, dalam waktu satu minggu, kamu bisa meniduri lebih dari tiga perempuan yang berbeda,” pujian yang Fellicia berikan justru lebih terkesan mencibir.

“I know, kamu pasti cemburu, iya kan? Tapi kamu tenang saja, Honey. Berapa banyak pun wanita yang bercinta denganku, mereka tak lebih hanya seperti mainan bagiku. Aku sudah sering mengatakan hal ini sebelumnya bahwa satu-satunya wanita yang aku cintai itu hanya kamu, Baby,” jelas Rafael sambil mengelus lembut pipi Fellicia, namun langgsung ditepis oleh gadis itu.

Rasanya Fellicia sudah sangat muak mendengar kata-kata rayuan yang selalu saja Rafael katakan berulang kali, namun pada kenyatannya Rafael selalu menyakiti hatinya.

“Jika apa yang kamu katakana itu memang benar, lantas kapan kamu akan menikahiku?” tanya Fellicia.

Awalnya gadis itu berpikir bahwa pernikahan bukanlah hal yang penting dalam hidupnya, selama dia bisa selalu bersama dengan orang yang dia cintai, itu lebih dari cukup. Namun ternyata semakin lama sikap Rafael semakin seenaknya kepada Fellicia.

“Apa aku tidak salah dengar? Kamu memintaku untuk menikahimu? Tapi kenapa tiba-tiba begini? Bukankah kita sudah pernah menmbicarakan tentang ini sebelumnya.” Rafael menngerutkan kenignya.

Gadis itu menghembuskan napas lelah, “Yeah, I know, tapi aku berubah pikiran sekarang, aku inin kamu menikahiku secepatnya,” tegas Fellicia.

“But why? Kamu adalah seorang fuckgirl sebelumnya, tentu kamu pun tau bahwa bercinta dengan banyak wanita itu adalah hal yang wajar, right?” Rafael balik bertanya.

Fellicia terbelalak, tak peenah disangka kalau Rafael akan mengatakan hal itu kepadanya. Fellicia akui, bahwa dulu dia pun sempat mempunyai pemikiran serupa. Wajah cantik jelita milik Fellicia membuatnya tak pernah mau bertahan pada satu laki-laki dan mempermainkan mereka adalah hobinya, bahkan dia pun sudah pernah berkencan dengan berbagai macam laki-laki. Namun semua itu berubah setelah bertemu Rafael, dia akhirnya bisa merasakan rasa cinta yang sesungguhnya.

Rafael tampan, kepribadiannya unik, humoris, dan dia memperlakukan Fellicia bagaikan ratu. Dia sempurna bagi Fellicia. Namun Rafael tidak suka dikekang, dia masih ingin terbang bebas ke mana pun, pergi dengan siapapun, dan melakukan apapun yang dia mau. Meski begitu Rafael sering mengakui bahwa dia benar-benar mencintai Fellicia, hanya gadis itulah satu-satunya wanita yang berhasil memenangkan hatinya.

“Aku memang hanyalah seorang fuckgirl, aku jalang, aku wanita yang hidup sebatang kara di dunia sebesar ini, it’s me. Tapi itu dulu sebelum kamu membawaku ke dalam kehidupanmu. Kamu yang telah membuat jalang sepertiku jatuh cinta hingga aku bisa merasakan the real love. Kita sudah hidup bersama selama 3 tahun sejak pertama kita bertemu sampai kita tinggal dalam satu atap sekarang, melewati banyak hal bersama, menghabiskan banyak waktu bersama, and I’m happy for it,” Fellicia menarik napas sejenak, rasa sesak dalam dadanya membuat ia kesulitan bernapas.

“Awalnya aku pikir pernikahan itu memang bukanlah hal terpenting selagi kamu masih mencintaiku,, tapi sekarang aku sadar bahwa tanpa ikatan kamu akan bertingkah seenaknya,” Fellicia melanjutkan perkataannya.

Mendengar penuturan kekasihnya, Rafael hanya bisa menggelengkan kepala, dia tak habis pikir bahwa Fellicia akan berkata demikian. Padahal sebelumnya mereka telah sepakat untuk tidak membicarakan soal pernikahan, setidaknya sampai keduanya siap. Lagipula tanpa menikah pun hubungan mereka sudah seperti suami istri, apalagi sejak mereka memutuskan untuk tinggal serumah.

Bagi pria berusia 23 tahun seperti Rafael, tentu saja menikah belum masuk ke wishlist-nya dalam waktu dekat ini bahkan dia belum memikirkannya. Dia pikir Fellicia pun akan memiliki pemikiran yang sama mengingat usia gadis itu satu tahun lebih muda darinya. Selain itu, Rafael belum merasa puas dengan pencapaiannya dan juga dia rasa pekerjaannya sekarang itu masih belum cukup membuat hidupnya mapan.

“Come on, Baby. Jangan hanya karena rasa cemburu sehinga membuatmu begini,” bujuk Rafael seraya memeluk Fellicia dari belakang, lalu membenamkan wajahnya di pundak Fellicia.

“Aku tanya sekali lagi, do you love me?”

“Yes, I love so much.”

“Jika begitu maka penuhi permintaanku.” tegas Fellicia.

Rafael seperti sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan apa yang dia inginkan, padahal biasanya sebelum dia mengutarakan keinginannya pun Fellicia sudah bisa mengerti.

“Tapi ….”

“Jika kamu tidak bisa memenuhinya maka aku akan pergi dari sini. Aku bersedia ikut ke Italia itu karena aku ingin selalu bersamamu tapi jika begini keadaannya lebih baik aku kembali ke Indonesia dan menjalani kehidupanku seperti dulu,” Fellicia melepaskan tangan Rafael yang melingkar di perutnya.

Mendengar itu Rafael mersasa begitu khawatir, dia tak mungkin membiarkan Fellicia pergi begitu saja meningalkannya, apalagi jika harus melihat dia kembali ke kehidupan kelamnya dulu.

“Jangan lakukan itu, please. Oke, aku tidak akan bermain dengan wanita lain mulai sekarang. Tapi I’m sorry, jika untuk menikah rasanya aku belum siap secara mental dan juga finansial, meskipun aku mencintaimu, tolong mengerti aku,” Rafael sedikit memohon. Namun Fallicia belum juga menggubrisnya.

Ketika suasana semakin memanas, tiba-tiba ponsel Rafael berbunyi karena ada notiifikasi pesan masuk.

“Cepat datang ke markas, Big Boss mempunyai tugas penting untuk kita”

Begitulah isi pesan yang baru saja Rafael terima, dia harus segera pergi ke tempat yang dimaksud, tak peduli apapun yang sedah dia lakukan jika Big Boss sudah memanggil maka dia harus segera datang jika tidak ingin mendapatkan hukuman.

Begitulah pekerjaannya, Rafael bekerja sebagai seorang pesuruh yang menjalankan bisnis gelap, yaitu menjual belikan senjata secara ilegal, tentu saja pekerjaanya ini membutuhkan keberanian lebih karena menentang hukum. Jika tidak berhati-hati, maka bukan tidak mungkin kalau Rafael bisa saja masuk penjara.

“I’m sorry, Honey. Aku harus segera pergi karena Big Boss memanggilku, sepertinya ada pekerjaan penting. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, love you so much,” Rafael mencium kening Fellicia dengan tergesa-gessa karena dia sudah harus pergi sekarang. Felicia sudah tau sejak lama bahwa yang disebut sebagai Big Boss oleh Rafael adalah atasan yang memegang semua kendali perbisnisan yang Rafael jalankan. Meskipun Felicia belum pernah melihat wajah Big Boss secara langsung.

“Tapi aku belum selesai bicara, Rafael,” cegah Fellicia.

“I’m sorry, tapi aku harus pergi sekarang, kamu tau kalau Big Boss sudah memanggil aku tidak bisa membantah, bye honey,” Rafael melambaikan tangan sebelum dia keluar.

Sementar Fellicia hanya bisa mengusap dada supaya bisa lebih bersabar lagi menghadapi tingkah Rafael. Terkadang dia merasa lelah dan ingin pulang ke Indonesia, menjalani kehidupan bebasnya seperti dulu. Fellicia memang hidup seorang diri karena orangtuanya meninggal ketika dia kecil dalam sebuah kecelakaan, tapi setidaknya dia selalu bahagia karena tidak pernah merasakan sakit hati karena tingkah seorang laki-laki.

Bab 2

“Cepat datang ke markas, Big Boss mempunyai tugas penting untuk kita”

Begitulah isi pesan yang baru saja Rafael terima, dia harus segera pergi ke tempat yang dimaksud, tak peduli apapun yang sedah dia lakukan jika Big Boss sudah memanggil maka dia harus segera datang jika tidak ingin mendapatkan hukuman.

Begitulah pekerjaannya, Rafael bekerja sebagai seorang pesuruh yang menjalankan bisnis gelap, yaitu menjual belikan senjata secara ilegal, tentu saja pekerjaanya ini membutuhkan keberanian lebih karena menentang hukum. Jika tidak berhati-hati, maka bukan tidak mungkin kalau Rafael bisa saja masuk penjara.

“I’m sorry, Honey. Aku harus segera pergi karena Big Boss memanggilku, sepertinya ada pekerjaan penting. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, love you so much,” Rafael mencium kening Fellicia dengan tergesa-gessa karena dia sudah harus pergi sekarang. Felicia sudah tau sejak lama bahwa yang disebut sebagai Big Boss oleh Rafael adalah atasan yang memegang semua kendali perbisnisan yang Rafael jalankan. Meskipun Felicia belum pernah melihat wajah Big Boss secara langsung.

“Tapi aku belum selesai bicara, Rafael,” cegah Fellicia.

“I’m sorry, tapi aku harus pergi sekarang, kamu tau kalau Big Boss sudah memanggil aku tidak bisa membantah, bye honey,” Rafael melambaikan tangan sebelum dia keluar.

Sementar Fellicia hanya bisa mengusap dada supaya bisa lebih bersabar lagi menghadapi tingkah Rafael. Terkadang dia merasa lelah dan ingin pulang ke Indonesia, menjalani kehidupan bebasnya seperti dulu. Fellicia memang hidup seorang diri karena orangtuanya meninggal ketika dia kecil dalam sebuah kecelakaan, tapi setidaknya dia selalu bahagia karena tidak pernah merasakan sakit hati karena tingkah seorang laki-laki.

Alano Costanzo yang lebih dikenal dengan sebutan Big Boss, itulah nama laki-laki yang kini tengah berdiri memperhatikan orang-orang berlalu lalang lewat dinding kaca di kamarnya sambil menikmati secangkir Baralo Red wine.

Suasana di Milan–Italia, tepatnya di sekitar rumah mewah milik Alano Costanzo sore itu terlihat sepi dan lenggang dari biasanya, namun Alano cukup menikmati suasana seperti itu, karena dia sangat menyukai kesepian. Sama seperti hidupnya yang tak pernah diwarnai oleh cinta.

Beberapa saat kemudian terdengar seseorang menekan bel di depan pintu kamarnya pertanda bahwa ada seseorang yang meminta izin untuk masuk ke kamarnya.

“Siapa di sana?” tanya Alano dengan sedikit berteriak karena kamarnya itu cukup luas, suaranya tidak akan terdengar sampai ke luar.

“This is Daddy,” jawab orang itu.

“Dad, come in please,” ujar Alano, kemudian dia mengambil sebuah remote control dan mengatakan, “Open the door!” maka pintu kamarnya terbuka secara otomatis.

Barulah dia bisa melihat sosok ayahnya yang sudah cukup berumur itu berdiri di depan pintu.

“Kenapa berdiri di sana, Dad? Please come in,” ucap Alano seraya berjalan ke arah sofa dan duduk di sana menunggu ayahnya.

“Waw, Aku tidak menyangka kalau ternyata anak yang dulunya masih aku gendong dan masih merengek-rengek minta dibelikan mainan kepadaku, tapi ternyata anak itu sekarang sudah tumbuh dewasa menjadi seorang pria yang tampan dan kuat,” Alessio tak berhenti memuji putranya sepanjang dia berjalan.

Alano mengerutkan keningnya, karena tak biasanya sang ayah memuji dia seperti itu. Meskipun dia tau kalau ayahnya adalah orang ekspresif dan penyayang, berbeda dengan dirinya yang dingin.

“Ada apa, Dad? Sepertinya ada sesuatu yang kamu inginkan dariku, itu sebabnya kamu memujiku seperti itu.” Alano langsung bertanya pada inti pembicaraan tanpa berbasa-basi lagi. Dia memang termasuk orang yang cuek dan dingin, apalagi kepada wanita. Bahkan, di depan anak buahnya dia sangat tegas.

Tawa Alessio pecah seketika, “Rupanya kamu juga sudah cukup pintar untuk mengetahui maksudku,” kata Alessio.

Alano hanya tersenyum tipis, rupanya benar dugaannya kalau ayahnya itu memang memiliki maksud lain.

“Jadi ada apa, Dad?” tanya Alano lagi sambil menuangkan segelas wine di gelas milik ayahnya.

“Oke, sepertinya kamu memang tidak suka berbasa-basi. Ada satu hal yang ingin aku katakan kepadamu, Alano,” jawab Alessio.

“What is it?”

“Kamu itu kan sekarang sudah sukses, kamu menjadi CEO perusahaan besar di Milan, selain itu kamu juga adalah pewaris tunggalku, rumah ini dan semua hartanya adalah milikmu, belum lagi kebun anggur, dan bisnis gelap yang kamu jalankan bersama anak buahmu. Selain itu wajahmu juga tampan. Menurutku itu semua sudah lebih dari cukup, lantas apa yang membuatmu tetap single?” tanya Alessio. Dia harus ekstra hati-hati jika ingin membicarakan tentang ini kepada Alano, karena dia tau bahwa Alano akan sangat sensitif jika disinggung tentang pasangan.

Terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah semu, dia memalingkan wajah ke arah lain, sepertinya Alano kesal karena untuk kesekian kalinya sang Ayah selalu membahas tentang itu.

“Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin memiliki pasangan selamanya. Aku bahagia menjalani kehidupanku sekarang, hidup sendiri tidak membuatku merasa kesepian,” bantah Alano dengan tegas.

“Tapi, Al. Pikirkan ini baik-baik, Bagaimana jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini? Nanti kamu akan merasa kesepian, Bagaimana pun kamu butuh cinta dan wanita dalam hidupmu,” sanggah Alessio.

“No, Dad. Aku tidak butuh cinta apalagi wanita. Untuk apa? Wanita hanya akan membuatku sakit hati, wanita hanya akan menjadi penghambat bahkan penghancur dalam hidupku. Begitu pun dengan cinta, aku tidak pernah percaya lagi pada kata bernama cinta. Bagiku tidak ada cinta di dunia ini!” Alano berkata dengan penuh penekanan dengan harapan ayahnya akan mengerti apa yang dia rasakan.

“Alano, aku tau. Kamu seperti ini karena kamu melihat pada apa yang aku alami dengan ibumu. Tapi percayalah padaku, tidak semua wanita seperti ibumu, Al. Masih banyak wanita baik yang bisa mencintaimu dengan tulus di dunia ini. Apa yang terjadi padaku itu pure kesalahanku, aku yang telah salah mencintai seseorang,” kata Alessio tak kalah keras. Dia hanya tidak mau anaknya itu merasakan kesepian seperti apa yang dia rasakan sekarang setelah ditinggal oleh istrinya. Alessio tak ingin menikah lagi karena luka di hatinya masih belum sembuh.

“Lalu Bagaimana jika aku juga salah mencintai seorang wanita? Lebih baik aku tidak usah mencintai siapa pun selain dirimu , Dad.” Alano masih bersikeras pada keputusannya.

“Tapi bagaimana kamu bisa tau wanita itu tepat atau tidak untukmu jika kamu tidak mau mencoba membuka hatimu. Percayalah, tidak semua wanita seperti ibumu.” Alessio mengulangi perkataannya.

Alessio hanya ingin meyakinkan anaknya bahwa tidak semua wanita itu seperti mantan istrinya. Alessio memang pernah salah dalam mencintai seorang wanita, awalnya dia pikir mantan istrinya itu adalah wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya sampai dia meninggal nanti. Namun ternyata dia salah, wanita yang dia puja-puja justru meninggalkannya ketika dia berada di titik terendah hidupnya.

Ketika Alano berusia 10 tahun, Alessio sempat jatuh sakit selama beberapa bulan, karena itu dia tidak bisa memberikan kepuasan sex terhadap istrinya. Ternyata wanita itu tidak tahan, dia mencari laki-laki lain yang bisa memuaskan hasrat seksualnya. Setelah sekian lama akhirnya wanita itu ketahuan selingkuh oleh Alano, ya anak kecil itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibunya melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain sekian ayahnya.

Setelah itu Alessio meminta sang istri untuk meninggalkan selingkuhannya karena dia pun sudah dalam proses penyembuhan, tapi ternyata istrinya lebih memilih laki-laki lain dan meninggalkan dia serta Alano yang masih kecil. Sejak saat itu Alano benci perempuan terutama ibunya, dia berjanji tidak akan pernah mencintai wanita manapun dan dia juga tidak ingin menikah selamanya.

“Kamu sudah tau apa alasan terbesarku tidak ingin menikah, tapi selain itu ada alasan lain, Dad,” Alano masih mempertahankan pendapatnya dengan mencari berbagai alasan.

“Apa lagi? Karena kamu seorang mafia jadi tidak pantas untuk menikah atau jatuh cinta karena itu akan merusak citra kamu sebagai seorang mafia, bukankah begitu?” tanya Alessio dengan sedikit mencibir, sebenarnya dia tidak pernah setuju dengan pekerjaan yang dilakukan anaknya karena itu terlalu beresiko. Dia sudah melarang Alano berkali-kali untuk tidak lagi melakukan bisnis dengan menjual senjata secara ilegal karena secara materi keluarga mereka sudah lebih dari cukup, bahkan bisa disebut sebagai billionaire. Tapi Alano tidak pernah mendengarkan ucapannya, dia tetap saja menjalankan bisnis gelap itu.

“Aku dan anak buahku bukanlah mafia seperti organisasi Sisilia, kami hanya melakukan perdagangan senjata secara ilegal dan tidak melakukan kejahatan apapun lagi. That’s it, tapi tetap saja meskipun begitu jika aku menikah dan jatuh cinta maka aku tidak akan terlihat menyeramkan lagi di depan anak buahku,” ujar Alano.

“Terserah kamu, tapi ingatlah perkataanku ini jika kamu masih ingin melihat aku hidup maka kamu harus menikah secepatnya, aku berikan kamu waktu 3 hari untuk mencari calon istri. Jika kamu tetap tidak mau menikah, maka kamu akan melihat mayatku,” Alessio memberikan ancaman yang cukup mengerikan karena hanya ini satu-satunya cara supaya Alano mau menuruti permintaannya.

Alano memang menjalankan bisnis ilegal, tapi dia bukanlah seperti mafia pada umumnya yang kejam dan tidak punya hati. Setidaknya Alano masih memiliki rasa sayang terutama kepada ayahnya yang telah berjuang seorang diri untuknya selama ini. Alessio tau bahwa satu-satunya orang yang disayangi oleh Alano di dunia ini, hanyalah dirinya. Jadi Alano pasti akan takut dengan ancamannya.

“Dad, jangan asal bicara. Aku tidak suka kamu mengatakan itu,” bentak Alano.

Alessio hanya angkat bahu seraya bangkit dari duduknya, “Ingat ucapanku tadi, aku tidak main-main. Kalau kamu tidak percaya, maka silahkan buktikan. Tapi jangan menyesal,” ucapnya sebelum dia pergi dari kamar Alano.

“Dad, Daddy! Daddy, itu permintaan yang gila dan tidak masuk akal,” teriak Alano. Namun ayahnya tetap tidak menggubrisnya.

“Aaahh, sialan! Kenapa Daddy sangat ingin aku menikah!” Alano mengamuk, dia berteriak sambil menendang barang yang ada di depannya dan melemparkan apapun benda yang dia lihat, termasuk secarik kertas yang sedang dia pelajari sebelumnya, hingga satu buah gelas pecah dan kamarnya berantakan dalam sekejap.

Alano mengacak-acak rambutnya sendiri, dia menjambaknya dengan kuat. Ini sungguh pilihan yang sulit untuknya, kepala Alano terasa ingin pecah. Meskipun begitu, tapi otaknya yang pintar masih bisa dipakai untuk berpikir.

Ketika dia melihat sebuah surat kontrak yang tergeletak di lantai karena sempat dia lemparkan tadi, tiba-tiba Alano menemukan sebuah ide cemerlang. Entah dari mana datangnya ide itu, tapi yang pasti Alano merasa itu adalah jalan keluar terbaik untuknya.

“Pernikahan kontrak, aku bisa berpura-pura menikah di depan Daddy, meskipun sebenarnya tidak. Aku akan memberikan banyak persyaratan dan jangka waktu tertentu di kontrak itu. Sehingga aku tidak perlu menikah sungguhan. Ya, itu ide yang bagus,” pikir Alano.

Tanpa membuang waktu lagi, dia segera menelpon anak buahnya karena dia akan meminta bantuan kepada mereka untuk mencarikannya wanita yang tepat untuk dijadikan sebagai istri kontraknya.

Bab 3

Kelima anak buah Alano sudah berjajar rapi di ruang kerjanya dengan memakai pakaian serba hitam, karena itulah peraturan yang diberikan oleh Alano. Jika berkumpul, mendapatkan panggilan darinya atau pun menjalankan tugas mereka harus menggunakan pakaian serba hitam.

Mereka adalah orang kepercayaan Alano, mereka berperawakan atletis dan berotot serta memiliki wajah yang tampan. Selain itu, mereka adalah orang yang sangat patuh kepada Big Boss. Itu sebabnya Alano pikir mereka adalah orang yang tepat untuk menjalankan tugasnya kali ini karena mereka pasti bisa menjaga rahasia. Salah satu diantara kelima anak buahnya itu adalah Rafael.

“Aku memanggil kalian semua ke sini karena aku mempunyai tugas yang sangat penting untuk kalian,” ucap Alano membuka pembicaraan. Laki-laki berdarah Italia itu sedang duduk di kursi kerjanya sembari memainkan gelas berisi wine.

“Kami siap menerima tugas,” jawab anak buahnya secara serempak.

“Oke, denganrkan baik-baik. Aku akan berikan kalian sebuah tugas, yaitu carilah seorang perempuan yang cantik, seksi, miskin dan tidak mempunyai keluarga, tapi jangan wanita pelacur.” Alano menjelaskan tugas yang harus dikerjakan oleh kelima anak buahnya itu. Mereka saling berpandangan karena ini pertama kalinya Alano memberikan tugas yang menyangkut tentang perempuan.

“Kalau aku boleh tau, perempuan itu untuk apa, Big Boss?” tanya Rafael.

“Perempuan itu akan aku jadikan istri, namun hanya pernikahan di atas kontrak,” jawab Alano dengan santainya.

Semua anak buahnya terbelalak, mereka saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya masih menjadi misteri besar untuk mereka kenapa seorang laki-laki seperti Alano malah memilih untuk menikah kontrak daripada menikah sungguhan, padahal dia adalah laki-laki yang diinginkan oleh semua wanita. Bahkan selama ini mereka tidak pernah melihat Alano dekat dengan perempuan mana pun.

“Tapi kenapa harus menikah kontrak, Boss? Bukankah kamu bisa mendapatkan perempuan seperti apapun yang kamu inginkan. Kenapa harus mencari perempuan yang miskin dan tidak mempunyai keluarga?” tanya Rafael lagi.

“Iya, Boss. Apa yang dikatakan oleh Rafael itu benar,” yang lain ikut membenarkan.

“Kalian tau kalau aku itu tidak percaya pada perempuan, aku juga tidak percaya pada cinta. Tapi ayahku bersikeras menyuruhku untuk menikah dan mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menikah. Itu sebabnya aku ingin mencari wanita yang mau dinikahi tapi berdasarkan kontrak dan perjanjian,” jelas Alano.

“Lalu apa imbalannya untuk kami jika kami berhasil menemukan perempuan yang cocok untukmu?” tanya Rafael lagi. Diantara semua anak buahnya hanya Rafael yang paling dekat dengan Alano, Rafael adalah tangan kanan Alano. Itu sebabnya dia berani banyak membuka suara karena yang anak buah Alano yang lain lebih banyak diam karena takut.

“Kalian tenang saja, aku akan memberikan imbalan yang sangat besar untuk siapapun yang berhasil merekomendasikan satu wanita yang tepat untukku, aku akan memberi kalian uang sebesar 50.000$,” terang Alano.

Semua yang ada di sana tercengang kecuali Alano, mereka tidak menyangka kalau bayarannya akan sebesar ini. Tentu siapapun akan langsung tergiur untuk melakukan misi ini. Seperti layaknya mendapatkan sebuah harta Karun, mereka sangat antusias sekaligus gembira karena ini adalah kesempatan yang langka, mereka tidak pernah diberikan tugas dengan hadiah yang fantastis seperti ini sebelumnya.

“Bagaimana? Apa kalian bisa?” tanya Alano.

“Yeah, kami bisa,” jawab mereka serentak.

“Great, kalau begitu kalian boleh pergi. Tapi sebelumnya aku hanya ingin mengingatkan bahwa pada tengah malam nanti kita akan melakukan transaksi dengan Mr. Bibble, dia yang sudah memesan senjata sebanyak 50 buah kepada kita, jadi persiapkan dengan baik segalanya. Aku tidak mau kalian membuat kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan kecin sekalipun bisa saja membuat kita tertangkap polisi.” Alano kembali memperingati anak buahnya untuk berhati-hati.

Bagaimana pun bisnis sampingan yang dia jalankan itu cukup berbahaya karena itu melanggar peraturan pemerintah di Italia. Tapi karena Alano suka menjalankan bisnis gelap seperti itu, bukan hanya karena keuntungan yang dia dapatkan sangat besar, Baginya pekerjaanya itu justru menantang dan juga seru. Alano jadi seperti mempunyai dua identitas yang berbeda. Jadilah dia tidak ingin berhenti menjalankan bisnis gelap itu meskipun kekayaannya sudah melimpah.

Alano selalu berada di balik layar, tangannya tetap bersih karena dia tidak mengerjakan bisnis gelap itu secara langsung, dia selalu menyuruh para anak buahnya. Bahkan kebanyakan dari kliennya juga tidak tau bahwa Alano adalah dalang dibalik semua itu. Alano hanya dikenal sebagai seorang CEO dari sebuah perusahaan ternama di Milan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa karena bisnis gelap itu dia mempunyai musuh yang menjadi pesaingnya dalam jual beli senjata ilegal.

“Baik, Big Boss. Kami akan menjalankan semua tugas dengan baik!”

“Oke, silahkan, kalian boleh pergi,” ujar Alano.

“Terimakasih, Big Boss.”

Rafael dan teman-temannya keluar dari ruangan Alano, dalam benak mereka penuh dengan wajah wanita-wanita yang sudah mereka kenal sebelumnya, memikirkan manakah wanita yang mungkin cocok untuk Alano. Tentu saja mereka akan bersaing karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.

Begitu pun dengan Rafael, dia memikirkan banyak wanita di kepalanya karena selama ini banyak sekali wanita yang telah singgah di hidupnya.

“Jesslyne cantik, seksi, tapi dia masih mempunyai keluarga. Lalu Vanya manis, cantik, tapi dia pelacur. wanita yang aku kenal hampir semuanya adalah pelacur, dan mereka juga kebanyakan masih memiliki keluarga, lalu siapa yang akan aku rekomendasikan kepada Big Boss?” sepanjang jalan Rafael terus memikirkan hal itu, namun belum ada yang tepat menurutnya.

Tak terasa Rafael telah sampai di apartemennya, pikirannya terlalu sibuk sehingga Rafael baru sadar kalau dia sudah sampai di apartemennya.

“Hi, Sayang. Aku pulang,” kata Rafael.

Tapi tak ada jawaban dari Felicia, sepertinya gadis itu masih marah kepada Rafael karena tadi dia ditinggalkan begitu saja ketika dia masih bicara.

“Hi, Baby. Aku sudah pulang, kenapa kamu diam saja?” tanya Rafael seraya menghampiri Felicia yang saat itu sedang duduk sambil menonton tv.

Rafael langsung memeluk pinggang Felicia dan bergelayut manja di pundaknya. Rafael tau kalau kekasihnya itu sedang bad mood kepadanya.

“Hay, sayang. Apa kamu mau mencampakkan aku seperti ini? Jangan marah lagi, Sayang. Aku minta maaf karena tadi aku telah meninggalkanmu begitu saja, tapi kamu kan tau kalau aku mendapat panggilan dari Bigg Boss.” Rafael mencoba menjelaskan kembali sekaligus membujuk Felicia agar tidak marah lagi kepadanya. Tak lupa Rafael juga memberikan kecupan manis di kening, pipi dan juga bibir mungil milik Felicia.

“Kalau sudah aku cium, berarti kamu tidak boleh marah lagi. Tapi jika aku lihat, kamu lebih cantik saat marah seperti ini,” goda Rafael sambil menatap wajah Felicia sangat dekat sampai membuat gadis itu merasa salah tingkah dan akhirnya tak bisa lagi menahan senyum.

“Waw, apalagi saat tersenyum seperti itu kamu semakin cantik saja,” ujar Rafael, karena gemas dia kembali mencium bibir Felicia.

“Kamu selalu bisa membuatku bahagia dan melupakan kemarahanku,” kata Felicia sambil tersipu malu.

Rafael semakin menyadari bahwa kekasihnya sangat cantik, rambut panjang sebahu yang sedikit bergelombang dengan mata lentik, hidung mancung, dengan pipi yang sedikit tirus, dan bibirnya yang mungil membuat Felicia terlihat sangat cantik dan anggun. Saat itulah terbesit satu hal gila dalam benak Rafael, dia berpikir untuk menyerahkan Felicia kepada Alano.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED