"Bu Dewi! Cepat buka pintunya! Aku tau kamu ada di dalam!" teriak seorang wanita yang bertubuh tambun dengan rambut digulung ke atas. Ia adalah seorang rentenir yang akan menagih hutang kepada Dewi.
Saat itu Alletha baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia bekerja disebuah perusahaan cabang milik keluarga Sastrawinata, hanya sebagai staf administrasi biasa. Kepalanya berdenyut nyeri saat ia melihat seseorang yang sedang menggedor-gedor pintu rumahnya. Ia menutup kedua telinganya karena suara rentenir itu benar-benar memekakkan telinganya. Saat tubuhnya sedang lelah dan ingin segera beristirahat di dalam kamarnya yang tidak terlalu luas itu, kini ia harus dihadapkan dengan seseorang yang sedang membuat kerusuhan di depan rumahnya.
Alletha berjalan mendekat ke arah rentenir itu. "Maaf, Bu, ada apa, ya?" tanya Alletha menahan emosi.
Seorang ibu yang bertubuh tambun itu menoleh pada Alletha yang berada dibelakangnya.
"Kamu siapa?" tanyanya dengan nada cukup keras. Ia menatap Alletha dari atas hingga bawah. Alletha merasa kikuk diperhatikan seperti itu. "Oh, kamu Alletha, ya? Putri sulungnya Bu Dewi?" tanyanya kemudian.
Alletha menganggukan kepalanya, "iya. Saya Alletha, Bu. Maaf sebelumnya, Ibu ini siapa, ya, kok gedor-gedor pintu rumah orang dengan keras begitu?"
"Saya kesini mau nagih hutangnya Bu Dewi. Ibu kamu sudah menunggak cicilannya selama tiga bulan!" hardiknya seraya menunjuk tepat di depan wajahku.
"Iya, tapi gak harus gedor-gedor pintu rumah orang juga, Bu!" geram Alletha tak kalah galak dari sang penagih hutang.
"Loh, kenapa jadi kamu yang sewot?" gertaknya sembari berkacak pinggang dan mata yang melotot.
"Ibu gak sopan! Harusnya ibu bisa mengetuk pintu dengan pelan. Kalau pintunya rusak gimana?" teriak Alletha tak mau kalah.
Suara keributan yang ditimbulkan oleh Alletha, membuat Dewi mau tak mau akhirnya keluar rumah juga. Ia tak mau hutang-hutangnya ke rentenir itu diketahui para tetangganya.
"Eh, Bu Retno? Mari masuk Bu!" tutur Dewi dengan basa-basi.
"Gak usah basa-basi, Bu Dewi! Saya kesini mau nagih hutang! Bu Dewi sudah menunggak tiga bulan," cecar Bu Retno sembari menekankan kata 'tiga bulan'.
"Iya, Bu. Mari kita bicarakan di dalam saja. Gak enak dilihat tetangga," bujuk Dewi agar Bu
Retno tak lagi koar-koar di depan rumahnya.
"Udah, gak usah! Biarin aja. Bu Dewi harus membayar cicilannya sekarang juga!" bentak Bu Retno lagi.
Wajah Dewi merah padam menahan malu dan juga marah. Dia merasa kesal karena Bu Retno tidak bisa di ajak kompromi. Dewi langsung menarik paksa tangan Alletha ke dalam rumah. Alletha yang belum siap dengan pergerakan ibunya, ia sampai terhuyung ke depan. Sementara Bu Retno diam di luar menunggu Dewi untuk membayar hutangnya dengan mata mendelik ke arah mereka.
"Apaan sih, Ibu ini, pake tarik-tarik tangan Alletha. Sakit tau!" Alletha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Dewi. Ia memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan Dewi yang cukup keras.
Tio yang sedang berada di dalam kamar terpaksa keluar mendengar keributan yang di timbulkan oleh Alletha dan ibunya. Ia memutar kursi rodanya sendiri menuju ke ruang tengah dimana Alletha dan Dewi berada.
"Ada apa ini? Tangan kamu kenapa, Alletha?" tanya Tio dengan mata membulat melihat raut wajah Alletha yang sedang kesakitan.
"Halah, udah kamu diem aja, Pak!" bentak Dewi seraya mengayunkan tangannya ke udara. "Alletha sekarang ibu minta semua gaji kamu! Hari ini kamu udah gajian 'kan?"
Alletha menautkan kedua alisnya, ia langsung mendekap erat tas kerjanya. Ia tau setelah ini ibunya pasti akan mengambil paksa uangnya. Alletha tidak mau uang yang dengan susah payah ia dapatkan harus rela diberikan kepada ibunya untuk membayar hutangnya. Hutang yang hanya untuk memenuhi gaya hidup ibunya yang tidka jelas. Setiap kali Alletha mendapatkan uang gajinya, ia akan memberikan setengah dari gajinya untuk keperluan rumah kepada Dewi.
"Tapi, Bu, kalau uang ini aku serahin semua ke Ibu, nanti untuk sebulan kedepan kita mau makan apa?" sahut Alletha dengan tetap mempertahankan tasnya.
"Udah, itu sih, gampang! Nanti Ibu akan cari hutang lagi untuk makan kita," tutur Dewi dengan santainya.
"Dewi! Sampai kapan kamu mau terus menerus berhutang? Kasian Alletha, ia bekerja terus menerus hanya untuk membayar hutang-hutangmu yang semakin menumpuk!" Tio merasa geram dengan tingkah istrinya yang hanya bisa berhutang lagi dan lagi. Semua uang yang Dewi pinjam bukan untuk kepentingan keluarganya, tapi untuk memenuhi keinginan Dewi demi menjaga gengsinya. Tio merasa bersalah kepada Alletha karena ia tak bisa mencari nafkah sebagaimana mestinya karena kondisi kakinya yang lumpuh. Kini ia harus menyerahkan beban itu kepada putri sulungnya.
"Sampai kamu bisa bekerja lagi dan mencari uang untuk aku!" ungkap Dewi kepada suaminya sembari menunjuk wajah Tio. Dewi kini mulai berani kepada Tio. Ia merasa jika suaminya semakin hari semakin tidak berguna. Hanya bisa duduk di atas kursi roda saja tanpa bisa melakukan apapun.
"Dewi, kamu!" ucapan Tio terpotong saat Alletha mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar. Sementara Dewi memutar bola matanya malas. Ia merasa jika putri sulungnya itu selalu berpihak pada ayahnya.
"Ayah tunggu disini aja, ya. Alletha mau meyelesaikan masalah ini dulu."
Alletha mencoba menenangkan Tio, ia tidak mau kondisi ayahnya semakin buruk. Selain lumpuh, Tio pun memiliki penyakit darah tinggi yang sewaktu-waktu bisa mengakibatkan stroke jika tensinya terus meningkat. Alletha menemui ibunya yang masih menunggunya di ruang tengah.
"Alletha! Cepetan! Ibu gak enak sama Bu Retno. Nanti dia teriak-teriak lagi di luar. Bikin malu aja!"
Belum juga Alletha menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan Bu Retno dari luar rumah.
"Bu Dewi! Lama banget di dalamnya!"
Dewi langsung menarik tas milik Alletha dan mengeluarkan amplop coklat yang berisi semua gaji Alletha satu bulan ini. Alletha tak kalah gesit, ia pun langsung menyambar amplop coklat itu demi menyelamatkan uang gajinya. Bukan berarti Alletha pelit, hanya saja jika uang itu benar-benar digunakan Dewi untuk memenuhi kebutuhan rumah dan keluarganya, Alletha tidak masalah. Ia akan dengan ikhlas memberikannya. Sayangnya Dewi menggunakan uang Alletha untuk keinginannya saja seperti untuk shoping dan memenuhi gayanya.
Alletha langsung keluar untuk menemui Bu Retno yang sedari tadi menunggunya. Dewi langsung mengikuti langkah putri sulungnya.
"Nih, Bu. Saya hanya bisa nyicil segini dulu. Nanti sisanya bisa dicicil lagi!" Alletha menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah kepada Bu Retno.
"Kok cuma segini, sih?" Bu Retno menautkan kedua alisnya. Menurutnya uang segitu tidak cukup walaupun untuk membayar bunganya saja.
Alletha merasa geram, tapi ia mencoba untuk tidak emosi. "Adanya cuma segini, Bu. Kalau Ibu mau, sialahkan ambil. Kalau tidak, mungkin ibu saya akan lama lagi bayarnya."
"Ya sudah! Bulan depan Bu Ayu harus membayar cicilan yang menunggak, ingat itu!" gertak Bu Retno sembari mengambil uang yang Alletha serahkan tadi. Bu Retno beranjak pergi meninggalkan rumah Dewi.
Tak lama kemudian munculah seorang laki-laki yang berpakaian santai dengan kaos dan celana jins berwarna biru, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang tidak terlalu mancung dan berambut cepak.
"Selamat sore, Bu Dewi!" sapa laki-laki yang bernama Ronald itu kepada Dewi. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Alletha yang berdiri di samping Dewi. "Eh, ada si cantik Alletha." Ia menyunggingkan senyum yang manis ke arah Alletha. Alletha membalas senyumnya dengan terpaksa.
"Aduh, Nak Ronald, kok gak bilang-bilang sih, kalau mau main kesini?" tanya Dewi dengan senyum sumringahnya. Bagaimana tidak Dewi bersikap ramah pada Ronald, ia adalah tambang emas baginya. Bahkan Dewi rela menyerahkan putri satu-satunya kepada Ronald asalkan semua hutangnya lunas dan memberi mahar yang besar untuk Alletha.
"Kebetulan tadi saya habis nagih uang kontrakan. Awal bulan, waktunya mereka membayar kontrakan," sahutnya dengan bangga.
"Ayo masuk, Nak Ronald. Gak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri."
Ronald masuk ke dalam rumah setelah Alletha masuk terlebih dahulu. Alletha sebenarnya sangat malas meladeni laki-laki yang sama sekali tidak ia sukai itu. Tapi demi baktinya kepada orang tua, terlebih rasa sayangnya kepada ayahnya, ia rela menggadaikan masa depannya dengan menikahi Ronald. Ronald menjanjikan uang mahar yang sangat besar untuk Alletha jika ia mau menjadi istrinya dan membiayai pengobatan ayahnya sampai sembuh dan bisa berjalan lagi dengan normal.
"Saya kesini akan memberikan uang mahar secara kes." Ronald langsung mengangkat koper yang berisi sejumlah uang yang tidak sedikit ke atas meja. Dewi yang tak sabar ingin segera melihat sejumlah uang yang berada di dalam koper itu matanya langsung berbinar. Sementara Alletha hanya diam saja, ia justru kini memikirkan nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari Ronald, laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai.
Semasa hidupnya, Alletha tidak pernah terpikirkan akan menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai sama sekali. Bahkan ia pun tak pernah benar-benar serius dekat dengan seorang laki-laki. Ia tak menyangka jika ternyata jodohnya ialah laki-laki berkulit hitam dan terlihat sedikit lebih tua.
"Wah, boleh dibuka kopernya, Nak Ronald?" tanya Dewi dengan sangat antusias. Ia sudah tidak sabar ingin melihat uang dengan jumlah nominal yang sangat banyak.
"Oh, tentu saja boleh, Bu Dewi. Silahkan dibuka saja. Semua ini milik Bu Dewi."
Dewi langsung membuka koper yang berada di atas meja dengan tergesa. Matanya membulat saat melihat banyaknya tumpukan uang berwarna merah yang berada di dalam koper. Ia sampai menelan ludahnya beberapa kali. Seumur-umur Dewi belum pernah melihat uang dengan jumlah yang sangat banyak. Begitupun dengan Alletha. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat uang yang begitu banyak. Tapi tetap saja hati dan perasaannya tidak bisa dibohongi, ia masih belum bisa menyukai laki-laki kaya raya itu.
"Ya ampun, ini isinya uang semua ya?" Dewi meraba-raba uang yang tersusun rapih. "Heum baunya lain, ya, kalau uangnya banyak, baunya wangi," kelakar Dewi seraya menghirup aroma uang yang terlihat sangat licin itu.
Melihat tingkah Dewi, Ronald semakin jumawa. Ia sangat yakin jika dengan uang, ia bisa membeli apapun, termasuk menjadikan Alletha sebagai istrinya. Sementara Alletha merasa tak enak hati melihat tingkah laku ibunya yang terlihat norak itu.
"Bagaimana, Bu Dewi suka?" Ronald melipat kedua tangannya di dada, merasa dirinya sangat hebat.
Dewi tersenyum malu-malu melihat Ronald yang memperhatikan tingkahnya sedari tadi. "Alletha, lihat! Ini semua uang! Uang ini bisa untuk membeli apa saja yang kamu mau. Bahkan kamu bisa merenovasi rumah ini menjadi rumah yang sangat mewah."
Alletha tak bisa berkata apa-apa lagi, ia sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi mau bagaimana lagi, demi baktinya kepada orang tua, ia rela melakukan apa saja.
"Ya, terserah, Ibu mau apakan uang itu. Alletha capek, mau istirahat dulu." Tanpa menghiraukan tatapan kecewa dari Ronald dan tatapan tajam dari sang ibu, Alletha beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Alletha, kamu gak mau nemenin calon suamimu dulu?" teriak Dewi saat Alletha akan memasuki kamarnya.
Alletha tak menghiraukan teriakan sang ibu, ia lantas langsung merebahkan diri di atas kasurnya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Kepalanya berdenyut sangat nyeri. Ia memijit pangkal hidungnya berharap sakitnya bisa berkurang. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia benar-benar menjadi istri dari Ronald. Kabar beredar di luar jika Ronald sudah mempunyai istri dan sering bergonta-ganti pasangan. Saat Alletha menanyakan hal itu kepada sang ibu, Dewi langsung menyangkalnya. Ia beralasan jika Ronald hanya sedang mencari perempuan yang benar-benar ia sukai. Ia berjanji jika sudah menikah dengan Alletha, ia akan berhenti untuk bermain wanita. Lamunannya terhenti saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Alletha, kamu tidur, Nak?" tanya Tio yang kini sudah berada di dalam kamar Alletha.
Alletha kini terduduk di bibir ranjangnya. "Enggak, Yah. Alletha gak tidur, kok. Kenapa, Yah?"
"Alletha, apa kamu benar-benar yakin mau menerima lamaran dari Ronald?" tanya Tio dengan mimik wajah yang serius.
Alletha menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Alletha yakin, Yah." Alletha beranjak dari duduknya dan berjongkok tepat di depan sang ayah. Tio mengelus lembut rambut Alletha dengan penuh kasih sayang. "Pikirkan baik-baik, Alletha. Jangan sampai kamu meneyesal."
Alletha menatap wajah sang ayah yang mulai keriput. Ia akan merasa sangat berdosa jika tak bisa melakukan apapun demi sang ayah. Ia ingin menjadi anak yang berbakti dan akan mencoba untuk ikhlas jika memang jodohnya adalah Ronald.
"Alletha sudah memikirkan ini secara matang, Yah. Alletha tidak akan menyesal dengan keputusan yang Alletha ambil. Ayah tenang aja, gak usah mikirin hal-hal yang belum tentu terjadi. Ayah cukup doakan saja Alletha, semoga Alletha tidak salah mengambil jalan."
Tio menangkup wajah Alletha dengan kedua tangannya. "Ayah selalu mendoakan kamu. Semoga putri Ayah satu-satunya ini mendapatkan jodoh yang terbaik."
"Aamiin," sahut Alletha seraya mencium tangan Tio.
****
Hari ini Alletha bangun kesiangan. Semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak, karena memikirkan pernikahan yang tak ia inginkan dengan Ronald akan berlangsung sebentar lagi. Alletha pasti akan terlambat datang ke tempat kerjanya. Tak lupa ia mengalungkan name tag dengan tali panjang berwarna biru ke lehernya sebagai ciri khas dari perusahaan Sastrawinata. Dengan tergesa-gesa ia langsung menyambar kunci motornya dan malaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang cukup padat di hari kerja seperti ini.
Suara klakson kendaraan saling bersahutan memenuhi udara pagi ini. Dengan lihainya Alletha meliuk-liukan motornya melewati beberapa mobil. Hingga tanpa sengaja ia menyerempet mobil mewah. Alletha langsung menepikan motornya ke pinggir jalan. Jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin langsung membanjiri wajahnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku ceroboh sekali? Sial banget sih, aku hari ini. Mana yang keserempet mobil mewah lagi. Berapa kerugian yang harus aku ganti?"
Alletha bicara pada dirinya sendiri dengan terus memperhatikan mobil mewah yang ia serempet tadi. Mobil itu kini menepi tepat dibelakang motor Alletha.
Jantung Alletha terus berdetak tak karuan. Disisi lain, ia ketakutan karena ia sudah terlambat masuk kerja, sudah di pastikan ia akan dipanggil ke ruangan atasannya yang galak dan cerewet itu. Sejurus kemudian seorang supir yang berseragam hitam-hitam turun dari balik kemudinya. Ia melihat ada goresan yang cukup mencolok dibagian samping sebelah kanan mobil mewah itu.
Tubuh Alletha bergetar hebat, ia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya sang pemilik mobil mewah itu. Sudah dipastikan sang pemilik mobil pasti akan sangat marah dan meminta ganti rugi dengan jumlah yang cukup besar.
"Hei, kamu ini gimana sih. Kamu tau gak, ini tuh mobil mahal! Tau gak berapa uang yang harus dikeluarkan untuk memoles kembali mobil mewah ini?" cerocos supir yang berbadan tinggi itu.
"Iya, Pak, maaf. Aku gak sengaja. Aku buru-buru tadi. Ini aja udah pasti terlambat. Pasti nanti aku ditegur sama atasan saya." Alletha mencoba memasang wajah memelas berharap supir itu mau memaafkannya.
"Kenapa kamu jadi curhat? Dasar gadis aneh!" umpat supir itu.
Sementara di dalam mobil, seorang pria dengan pakaian formal yang sangat rapih, diam-diam memperhatikan gadis yang menyerempet mobilnya. Ia sampai melepaskannya kacamata hitamnya demi melihat dengan jelas wajah gadis itu dan tersenyum sendiri melihat tingkah gadis yang kini sedang berseteru dengan supir pribadinya.
"Kamu pasti cuma karyawan biasa yang teledor! Mana mungkin gaji kamu cukup untuk mengganti kerusakan mobil ini, hah!" cemooh supir itu sembari berkacak pinggang.
"Loh, kok Bapak yang sewot sih? Bapak ini kan bukan yang punya mobil mewah ini. Aku yakin, pemilik mobil mewah ini pasti orangnya baik, ganteng, gak suka marah-marah kayak Bapak. Satu lagi, beliau pasti orangnya pemaaf," tutur Alletha dengan panjang lebar dan menekankan kata 'pemaaf'. Seketika sang sopir pribadi itu langsung melongo, melihat tingkah dari gadis yang berada di hadapannya.
Alletha tak menyadari jika si pemilik mobil mewah itu tengah memperhatikannya. Laki-laki yang berpenampilan nyaris sempurna itu kini sedang tertawa di dalam mobil mendengar pujian yang di ucapkan gadis yang menyerempet mobilnya. Tak ada rasa kesal ataupun marah pada gadis yang memakai rok span itu, baginya mobil ini bisa dipoles kembali. Masalah uang, ia tidak akan mempermasalahkannya. Ia hanya merasa lucu melihat ekspresi wajah dan tingkah si gadis itu.
"Udah, ah. Saya buru-buru, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji, saya tidak akan mengulanginya lagi," celetuk Alletha yang kini tengah bersiap untuk menaiki motor matic-nya.
"Eehh ... tunggu! Main kabur aja! Kamu harus tanggung jawab dulu!" gertak Pak Supir seraya menarik tangan Alletha.
"Loh ... loh ... Bapak kok main tarik-tarik tangan saya, sih!" sahut Alletha dengan geram. Ia menarik kembali tangannya.
Athala yang sedari tadi diam memperhatikan Alletha dari dalam mobil kini beranjak turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Ehm ...."
Alletha dan sang sopir pribadi menoleh berbarengan ke arah suara itu. Mata Alletha membulat sempurna melihat seorang pria yang terlihat sangat tampan dan berpenampilan sempurna layaknya seorang bos muda. Ia merasa kikuk sekaligus malu. Tapi ada sedikit rasa tenang dihati Alletha saat teringat perkataanya yang tadi, saat ia memuji sang pemilik mobil mewah itu. Semoga saja apa yang di katakannya barusan benar-benar terjadi, bahwa pemilik mobil mewah itu adalah orang yang baik dan pemaaf.
"Tuan, maafkan saya." Sopir itu menunduk hormat pada Tuannya yang bernama Athala. "Mobilnya tergores karena gadis itu, Tuan," tuturnya tanpa berani menatap wajah sang tuan. Ia tetap menundukkan kepalanya.
Alletha merasa heran, apa memang harus bersikap seperti itu jika berhadapan dengan majikan. Athala hanya diam tak berkata sepatah katapun. Bahkan ia tak memperdulikan sopirnya yang sedari tadi menunduk. Athala justru berjalan menghampiri Alletha yang sedari tadi bengong melihat ketampanannya. Alletha berpikir jika ia tidak akan menemukan laki-laki tampan seperti yang sering ia lihat di drama korea favoritnya. Nyatanya saat ini, ia tengah berhadapan dengan laki-laki tampan seperti aktor favoritnya.
Jantung Alletha berdetak sangat cepat. Kini jarak antara Alletha dan Athala sangat dekat.
'Apa yang akan dia lakukan? Apakah ia akan menciumku? Atau justru ia akan menamparku karena mobilnya lecet olehku?' ucap Alletha dalam hatinya.
"Apa kamu tidak bisa mengancingkan kemeja dengan benar?"
"Eh, ma-maksud anda?"
Suara bariton milik Athala tepat didekat telinganya membuat Alletha panas dingin, apalagi saat Athala menanyakan sesuatu diluar dugaannya.
"Tuh!" Athala menatap ke arah bagian dada Alletha.
Sontak Alletha langsung menundukkan kepalanya melihat kancing kemejanya yang tidak benar. Bahkan ada satu bagian kancing yang tidak tertutup tepat dibagian belahan dadanya. Mukanya kini bak kepiting rebus.
Ingin rasanya Alletha menghilang dari muka bumi saat itu juga. Bisa-bisanya laki-laki tampan yang disebut tuan muda itu memperhatikannya sedetail itu. Dengan spontan Alletha langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.
"Dasar otak mesum!" umpat Alletha kepada Athala.
Athala merasa senang karena berhasil menggoda gadis cantik didepannya. Melihat wajah gadis yang sedang menahan malu itu, membuat Athala tak bisa menahan tawanya. Alletha yang tadinya merasa kesal, kini terpesona melihat Athala tertawa. Ketampanannya semakin bertambah saat Athala tertawa. Jarang-jarang Athala tertawa lepas seperti itu. Apalagi ditempat umum seperti ini. Bahkan supir pribadinya pun merasa heran melihat tuan muda bisa tertawa lepas dengan orang yang belum ia kenal sama sekali. Menurut sang supir, tuan muda Athala pribadi yang dingin dan kaku. Akan sangat sulit untuk mendapatkan perhatian darinya.
Athala baru menyadari jika ia kini tengah berada di pinggir jalan raya. Ia langsung menghentikan tawanya dan membetulkan posisi dasinya.
"Cepat berangkat ke kantor, sebelum saya yang sampai duluan!" Sekali lagi Athala membisikan satu kalimat tepat di telinga Alletha. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Alletha yang masih berdiri mematung memandangi tubuh Athala yang semakin menjauh.
"Tuan muda, mobilnya, gadis itu?" Sang supir mencoba mengingatkan jika mobil mewahnya lecet akibat gadis itu. Tapi Athala tak menghiraukan perkataan supirnya, ia mengayunkan tangannya ke udara memberi isyarat untuk segera masuk ke dalam mobil.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, supir itu tetap merasa heran dengan tingkah majikannya. "Tuan muda, tapi ...." Ucapannya terpotong saat Athala memerintahkan untuk segera menjalankan mobilnya. Mau tak mau supir itu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan Alletha yang masih berdiri mematung di pinggir jalan.