Namaku Gilang Pratama Mahardika. Remaja pria keturunan Arab, namun lahir dan dibesarkan di Panti Asuhan Kota Bogor, saat ini sudah berusia 22 tahun. Jangan ditanya siapa ayah dan ibu kandungku, karena aku juga tidk tahu. Yang pasti, sejak dulu ayah dan ibuku banyak banget, ya namanya juga anak panti. Alhamdulillah.
Saat ini aku kuliah di salah satu perguruan tinggi ngeri ternama di Indonesia, memasuki semester ke enam. Dan aku baru saja pindah kost ke tempat baru yang lebih dekat dengan kampus karena tugas kuliahku makin menumpuk sehingga membutuhkan akses lebih cepat ke kampus. Harga sewanya sedikit mahal tapi memang tempat dan fasilitasnya bikin asik dan mantap.
Sejak kecil aku sudah terlatih hidup mandiri, bahkan sejak kelas tiga SMP, sama sekali sudah tidak meminta uang dari orang tua panti, malah lebih sering memberi uang jajan buat adik-adik pantuku. Sejak SMA sudah punya penghasikan tetap yang lebih besar karena menjadi guru les private, jualan onlne, sesekali jadi konten kreator atau kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Apakah aku sudah mengenal dunia esek-esek?
Sejujurnya, keperjakaanku sudah hilang direnggut oleh mantan ibu kepala sekolah SMP-ku saat aku kelas dua SMA. Kok bisa? Nanti kalau ada waktu aku ceritakan keseruan dan ketegangannya. Sekarang kita lanjut petualanganku yang sudah terlanjur mendapat predikat ‘Pemuas Bini Tetangga.’ Wow sereeeem!
Kita kembali ke laptop.
Kontrakan yang saat ini aku tempati terdiri dari 10 rumah yang berbaris sebelah menyebelah. Kebetulan aku menempati posisi paling tengah. Hanya aku sendiri yang masih berstatus bujangan, selebihnya sudah berkeluarga dan tentu hanya aku yang setiap malam tidur sendirian. Sungguh sangat mengenaskan nasibku ini.
Penghuni yang tepat di sebelahku, pasangan pengantin yang baru menikah kurang lebih satu bulan yang lalu dan baru pindah ke kontrakan ini. Suaminya bernama Mas Gufron, lelaki berperawakan tinggi dan wajah lumayan tampan, usianya kira-kira 30 tahun. Dia seorang accounting salah satu perusahaan terkemuka. Istrinya bernama Nania, usianya kurang lebih 25 tahunan. Dia tidak bekerja, selalu perpenampilan anggun seksi dan wajahnya memang sangat cantik.
Tetangga yang sebelah kiri, pasangan suami istri yang sudah dikarunia seorang putra berusia dua setengah tahun. Suaminya bernama Faisal, berusia sekitar 35 tahun, security di sebuah bank pemerintah. Istrinya bernama Nuning, berusia sekitar 30 tahun. Ibu rumah tangga biasa, berwajah cantik khas mojang priangan Bandung yang keibuan.
Walau para penghuni berasal dari latar belakang budaya dan etnis yang berbeda-beda, namun kami semua soleh kompak saling memanggil dengan sapaan Mas dan Mbak, tak peduli usia dan keturuan.
Mbak Nuning tidak kalah cantiknya oleh Mbak Nania. Dia mempunyai kulit halus kuning langsat, walaupun sudah pernah melahirkan tapi bentuk tubuhnya sungguh menggiurkan buat setiap lelaki yang melihatnya. Tingginya pun sekitar 168 cm. Menurutku, antara Mbak Nania dan Mbak Nuning kurang lebih mempunyai nilai yang sama.
Sama-sama menarik dan menggiurkan. Cantik itu telatif, wanita itu yang terpenting harus menarik dan menggairahkan, titik!
Malam itu sekitar pukul sembilan, hujan turun dengan derasnya. Aku belum tidur karena masih mempunyai pekerjaan untuk melengkapi beberapa curriculum vitaeku. Kemarin siang Mas Gufron suaminya Mbak Nania menawariku pekerjaan freelane. Semoga keberuntungan berpihak padaku, tetapi kalau ditolak gak masalah.
Sedang asyiknya-asyikanya mengerjakan tugas, telingaku sedikit terganggu dengan suara-suara yang sedikit meresahkan. Seperti suara ranjang yang sedang bergejolak dan berderit derit. Aku sangat penasaran karena suara tersebut datang dari dinding sebelah kananku, sontak saja pikiran kotorku yang sudah lama bersih ini, mulai kembali keruh.
Dengan gerakan sederhana, aku pun mulai bermain dengan perasaan dan pikiran kotorku, lalu menempelkan telinga ke dinding kontrakan yang tidaklah terlalu tebal, aku bisa mendengar suara napas dua orang yang sedang berpacu menggapai nikmat di kamar sebelah. Aku terus menempelkan telingaku sampai suara-suara itu benar-benar terhenti.
Jujur saja aku serasa masuk dalam suasana de javu. Ini persis yang kualami pada saat baru awal-awal mengenal seks dengan bini orang, walau bukan yang pertama. Berawal dari tak sengaja mendengar desahan-desahan panas dari pasangan suami istri yang sedang wikwiw di dekat panti asuhan yang akhirnya aku sering dapat jatah karena katanya jauh lebih memuaskan dibanding para suami mereka atau selingkuhannya. Secara rudal made in Timur Tengah, walau baru SMA sudah bisa bersaing, hehehe.
Setelah suara-suara tetangga sebelah hilang, pikiraanku justru masih berkecamuk dan melayang-layang semakin liar. Membayangkan Mbak Nania yang cantik dan seksi itu sedang ditunggangi oleh Mas Gufron, suaminya yang ganteng dan gagah perkasa. Sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya. Aku benar-benar menjadi sangat resah dan gelisah. Sebagai lelaki yang memiliki libido dan gairah sex yang tinggi, hal ini benar-benar sangat menyiksaku.
Dan entah dorongan dari mana, hingga aku mulai mencari celah di dalam kontrakanku untuk mengintip aktifitas pasangan tersebut. Walau sepertinya mereka sudah selesai bercinta, namun rasa penasaranku masih belum sirna, malah semakin menggebu-gebu. Aku terus mencari-cari celah di dinding, namun sialnya tidak ada satu pun celah yang bisa aku manfaatkan untuk mengintip.
Aku lalu kembali rebahan sambil berusaha menenangkan diri sambil terus berpikir. Saat itulah tak sengaja aku melihat ke bubungan atap kontrakanku, ternyata di sana ada celah sebesar ukuran orang. Spertinya celah itu ada di setiap rumah yang biasa dimanfatkan untuk memeriksa jaringan listrik yang putus atau mungkin membetulkan genting yang bocor.
Dasar otakku yang sedang panas. Maklum sudah lebih dari tiga bulan tidak mendapatkan bini orang, maka aku pun seketika mendapat ide untuk menaiki langit-langit rumah melalui celah tersebut. Cukup sulit dan beresiko, tapi nafsu syahwatku untuk mengintip keadaan kamar sebelah benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Aku berpikir ingin melakukan sesuatu sambil melihat mereka.
Dengan sangat nekat aku ambil hape dan menyusun kursi untuk menjadi tangga agar bisa naik ke langit-langit kontrakan. Dan aku benar-benar berhasil, begitulah cara iblis membimbing umat manusia menuju jalan kesesatan. Semua terasa serba mudah dan seakan semesta turut serta mendukung.
Keadaan atas langit-langit gelap gulita, hanya terdapat beberapa titik cahaya yang tembus dari beberapa rumah. Dengan bermodalkan cahaya layar hape, aku pun bergerak merangkak perlahan mendekati atap yang kuperkirakan sebagai atas kamar Nania dan Mas Gufron.
Aku menyusuri dengan sangat pelan-pelan tiang-tiang pembatas hingga akhirnya berada tepat di atas kamar Nania. Aku berusaha mencari-cari celah di atas kamar tersebut. Dan betapa beruntungnya diriku atas bantuan sang iblis, ternyata di atap kamar tersebut ada celah atau pintu darurat di atasnya, sama sepeeti di kamarku. Pelan-pelan aku geser penutup dari triplek tersebut.
Deg! Jantungku seketika terasa berhenti berdetak dan seakan ingin meledak begitu kedua mataku mendapati pemandangan yang sangat mendebarkan di bawah sana. Berkali-kali aku menelan ludah, pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya itu benar-benar membuatku mendadak kehausan dan kekeringan.
Mbak Nania sedang telentang dalam keadaan telanjang bulat, sementara Mas Gufron menutup tubuhnya dengan selimut, walau masih sama-sama telentang dan belum pada tidur. Mataku yang dalam sehari-harinya hanya bisa membayangkan kemontokan dia di balik pakaiannya yang agak ketat dan seksi, kini benar-benar mendapatkan suguhan yang sangat sempurna dan menakjubkan.
Payudara Mbak Nania yang besar tampak begitu kencang dan bulat. Batang kejantanku mendadak beraksi mendapat suguhan yang sedemikian indahnya. Organ kewanitaan Mbak Nania, tampak terawat dengan sangat baik. Entah berapa lama aku terkesima dalam oleh pasangan suami istri yang sedang ngobrol itu.
Mas Gufron kembali mempermainkan payudara istrinya. “Mas, burung Mas nakal, dia bangun lagi tuh... hihihi,” ucap Mbak Nania manja.
”Ya, pasti bangun lah, dia kan mau masuk lagi ke sarangnya. Di luar kan dingin, tolong dimandiin dulu dong sebelum dimasukkan ke sangkarnya, Sayang,” balas Mas Gufron.
”Ah, aku gak mau kalau disuruh jilatin. Aku kan geli, pokoknya aku gak mau, Mas!” sergah Mbak Nania.
”Oke-oke kalau gak mau. Sini aku masukkan saja ke sangkarnya, aku mau kamu nungging, Sayang!” Mas Gufron mengalah.
Tak lama kemudian Nania merubah posisinya dengan menungging. Wow, sungguh luar biasa pantat wanita ini. Begitu bulat dan menantang. Sama sekali tidak terlihat guratan-guratan selulit di pantat dan pahanya. Melihat barang sedemikian indahnya, aku pun jadi tak tahan lagi. Batang kejantananku berontak minta keluar dari celana.
Pelan-pelan aku keluarkan kejantananku dan mulai mengocoknya, sembari terus memperhatikan adegan panas yang ada di bawah sana. Klimaksku tidak terbendung berbarengan dengan klimaks yang mereka dapatkan.
Sebelum aku kembali ke kamarku, lama aku pandangi wajah Nania yang begitu cantik saat tertidur pulas dalam keadaan telanjang. Sepertinya dia benar-benar sangat puas setelah mendapatkan dua serangan dari suaminya.
Aku segera turun kembali dan ketika berada di dalam kamar, aku termenung berpikir bagaimana caranya agar bisa menikmati tubuh Mbak Nania yang sangat aduhai itu. Aku yakin, ini akan menjadi awal yang baik untuk petualangan ranjangku menaklukkan istri-istri tetanggaku di tempat yang baru dua bulan kutempati ini.
Mengapa demikian?
Aku adalah lelaki yang sering mereka sebut sebagai lelaki terganteng di kompleks ini. Tak sedikit istri-istri tetangga sekitar memberikan kode keras agar aku menggoda mereka. Atau lebih kasarnya, mereka menginginkan aku menggoda mereka.
Selama ini aku masih berpura-pura polos karena statusku sebagai warga baru, tentu saja wajib jaga image. Sex appeal dan auraku brondong penggoda bini sekaligus penaklum bini orang tampaknya sudah mendarah daging dalam diriku dan tetap terpancar meski aku sudah berusaha menutupinya.
Untuk sebuah langkah awal aku rasa malam ini sudah sangat sukses. Yang penting malam ini sudah mulai bisa tidur dengan sangat nyenyak.
Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun. Karena masih penasaran dengan kemolekan tubuh Nania, aku pun naik kembali ke langit-langit rumah untuk mencari letak kamar mandi mereka. Mungkin saja aku bisa mengintip Mbak Nania yang sedang mandi. Dan saat ini aku sudah berada tepat di atas kamar mandi mereka dan sudah mendapatkan celah untuk mengintipnya. Tapi sayangnya Mbak Nania sepertinya belum mandi.
Lama aku tunggu, ternyata dia tidak kelihatan juga. Aku mencoba beranjak ke atas kamar mereka, dan di sana kulihat Mbak Nania ternyata sudah mandi dan sedang berdiri berkaca di depan meja rias. Dia memakai handuk yang tidak terlalu besar, hanya menutupi payudara dan kemaluannya saja.
Dan saat dia membuka handuknya, payudaranya menggelantung indah dengan bongkahan pantat yang bulat terlihat begitu menantang. Aku pun kembali berkali-kali menelan ludah menyaksikan pemandangan yang sangat menggairahkan itu.
Tak lama kemudian, Mas Gufron masuk ke kamar dengan baju kerja yang sudah rapi, sepertinya dia sudah siap untuk berangkat kerja. Dari belakang, Mas Gufron berusaha memeluk dan meremas payudara Mbak Nania dan tak lama kemudian mereka pun berciuman dengan sangat mesra.
“Sudah dulu Mas, nanti malah gak kerja loh.”
“Sayang, nanti kamu mau pergi ke pasar?" tanya Mas Gufron pada Mbak Nania.
“Iya, ada yang mau aku beli Mas, bisa antar aku dulu gak?” pinta Mbak Nania.
“Waduh, sepertinya tidak bisa, Sayang. Mas mesti buru-buru berangkat, soalnya ada meeting sama jajaran direksi,” balas Mas Gufron.
“Oke deh. Sebenarnya aku juga malas sih pergi sendiri karena jarak pasar lumayan jauh, tapi ya sudah, tidak apa-apa. Nanti aku coba cari ojek aja. Sudah lah kamu pergi kerja sana, gak usah khawatir.” Mbak Nania melepaskan pelukan suaminya.
Mas Gufron pun segera bergegas pergi meninggalkan rumah. Aku terus mengintip sampai Mbak Nania menutupi payudaranya dengan beha hitam yang seksi lalu memakai tanktop putih. Dan mendengar apa yang mereka bicarakan, otak nakalku mulai bekerja dengan sangat baik.
Aku segera bersiap untuk turun dari langit-langit dan bergegas ke kamarku. Aku berniat untuk mulai mencoba melakukan pendekatan pada Mbak Nania dengan menawarkan jasa mengantar dia ke pasar. Namun ketika aku nyaris menurunkan tubuhku, samar-samar aku dengar suara gemericik air dari tetangga sebelah kiriku. Pikirku pun langsung teringat pada Mbak Nuning. Aku menduga dia sedang mandi di kamar mandinya.
Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Aku pun segera mendekat ke arah suara tersebut dan mencari celah untuk mengintipnya. Kembali iblis mendukung usahaku dengan sangat bagus. Sang iblis memberikan aku untuk mendapatkan celah yang aku ingingkan hingga bisa langsung mengintip ke dalam kamar mandi itu dengan tanpa ada hambatan apapun. Bahkan nyaris tidak butuh usaha yang terlalu sulit.
‘Wooow,’ seruku dalam hati. Ternyata benar! Di kamar mandi itu ada seorang wanita yang tengah melepaskan satu per satu pakaiannya. Aku kembali menelan ludah dan kejantananku pun kembali menegang. Pagi ini aku benar-benar merasa sangat beruntung telah mendapatkan pemandangan yang luar biasa dari tetangga kiri dan kananku. Tekadku semakin kuat untuk bisa menikmati mereka secara utuh, apapun alasannya dan dengan cara apapun mendapatkannya.
Pelan tapi pasti tubuh molek Mbak Nuning terbuka seluruhnya. Aku kagum dengan wanita ini, biar pun sudah memiliki anak, tapi kesintalan tubuhnya masih tetap terjaga. Aku menyapu semua lekuk tubuh Mbak Nuning dengan mata telanjangku. Payudaranya tampak besar dan masih kelihatan kencang. Rasanya ingin sekali kumeraih, meremas dan menghisap kedua gunung kembar yang benar-benar sangat menantang itu. Inilah kehebatan para wanita yang sudah bersuami apalagi sudah beranak, payudaranya selalu menjanjikan sesuatu yang amazing.
Kurang lebih sepuluh menitan memperhatikan Mbak Nuning mandi, aku pun segera menghentikannya karena tersadar untuk rencanaku pendekatan pada Mbak Nania terlebih dulu. Dia akan pergi ke pasar dan aku harus bisa mengantarnya. Maka aku pun segera turun dari langit-langit rumahku lalu bergegas ke kamara dan mandi dengan gaya cowboy, secepat kilat yang penting bersih, segar dan nantinya wangi.
Selesai mandi, aku pun mempersiapkan pakaian andalan yang semaksimal mungkin mampu menonjolkan sisi erotis sisi atletisku. Celana dan kaos yang sama-sama ketat sehingga dada bidang dan selangkanganku yang menonjol langsung bisa terlihat hanya dengan satu lirikan wanita. Aku pun segera mengeluarkan motor sport kesayanganku lalu kuparkir di halaman depan rumahku. Antara rumah kontrakan tidak ada pagar pembatas sehingga memudahkan kami untuk saling bertegur sapa.
Aku pun berpura-pura mengelap motorku dengan sangat telaten hingga tak tak lama kemudian Mbak Nania keluar dari rumahnya sambil tersenyum ke arahku.
“Pagi Mas Gilang, sedang apa?” sapanya ramah.
“Pagi juga Mbak Nania. Ini, lagi siap-siap mau berangkat ke kampus, ada yang masih ketinggalan di sana,” sahutku.
Untuk keakraban dan saling menghormati sesama warga, walau aku masih muda, tetapi semua orang menyapaku dengan ‘Mas Gilang.’ Hal yang sudah sangat lumrah di kompleks-komplek yang warganya terdiri dari berbagai suku.
‘Oh my God... cantiknya wanita ini,’ ucapku dalam hati.
“Mbak Nania pagi-pagi sudah cantik bener, mau kemana?” tanyaku basa-basa dan berpura-pura tidak tahu.
“Ini loh, Mas, aku mesti ke pasar, tapi sebenarnya malas karena jauh. Di sini cari ojek di mana ya. Mas Gilang tahu gak?” tanya Mbak Nania dengan wajah yang menampilkan mimik kesal atau mungkin sedih. Aku tersenyum dalam hati karena memang iblis kembali berbisik menyemangatiku.
“Maaf, Mbak Nania. Kalau gak keberatan, boleh saya temani atau setidaknya saya anter ke pasar? Biar gak diganggu preman di sana. Soalnya sekarang di pasar-pasar sedang sangat rawat dengan gangguan preman. Setelah itu saya nanti saya baru ke kampus,” tawarku dengan bahasa yang benar-benar sangat lebay dan bombastis.
“Memangnya kita searah? Mas Gilang tidak keberatan kalau ngebonceng saya? Nanti ada yang marah, gimana, heheheh,” sahut Mbak Nania yang mulai sangat cair dan seolah mengatakan deal, ini pasti bisa aku antar.
“Tenang aja, Mbak. Saya masih jomblo akut dan sama sekali belum ada cewek yang berminat jadi pacar saya. Kita searah kalau mau ke pasar, sekalian aja kebetulan saya juga ada sedikit keperluan ke pasar,” jawabku panjang lebar dan antusias. Aku tidak ingin kesempatan emas yang pertama ini, gagal.
“Oh gitu, memangnya Mas Gilang mau ke kampusnya jam berapa? Nanti aku ganggu waktunya lagi,” jawab Mbak Nania sepertinya masih merasa tidak enak hati.
“Waktu saya bebas kok, kan udah gak ikut mata kuliah, tinggal nunggu wisuda aja kok. Tenang aja, pokoknya buat Mbak Nania akan saya usahakan. Ya, hitung-hitung balas kebaikan Mas Gufron yang telah memberikan informasi lowongan kerja pada saya heheheh,” sahutku dengan nada yang semakin antusias.
“Oke deh kalau Mas Gilang gak keberatan, terima kasih aja sebelumnya!” Mbak Nania pun melangkah mendekatiku.
Jantungku langsung berdetak kencang tidak karuan. Semalaman dan hingga pagi ini, aku telah bisa memandangi tubuh telanjangnya. Sekarang dia akan berboncengan denganku dalam balutan pakaian yang jauh lebih seksi dari biasanya. Wow, ternyata bila kita berusaha dan berniat jahat, iblis akan senantiasa memabntu memberikan kemudahan untuk segalanya. Iblis, syaiton dan kawan-kawannya memang selalu totalitas dalam setiap memerikan dukungan pada hal-hal yang beraroma maksiat.
Motor telah aku starter dan Mbak Nania pun sudah duduk manis di belakangku. Karena model jok motor tinggi di belakang, maka otomatis posisi duduk Mbak Nania pun sedikit lebih tinggi dariku. Alhasil tubuh bagian atasnya jatuh telak ke punggungku dan tak dia sengaja payudaranya menyentuh punggungku dengan sempurna.
Tanganku sedikit bergetar, menahan napas akibat tekanan empuk dari buah dadanya di punggungku. Ternyata dadanya sangat kenyal dan menggetarkan. Sudah cukup lama aku tidak mendapatkan sajian dari susu emak-emak yang kenyal. Dan tak ayal lagi penisku mendadak bereaksi dan menegang di balik celana ketatku. Sepertinya Mbak Nania pun tersadar, tak lama kemduian dia menempatkan tangannya untuk membatasi dadanya agar tidak menyentuh punggungku.
“Maaf ya Mas Gilang, gak sengaja,” bisik Mbak Nania dengan sangat lembut dan manja.
“Oh gak apa-apa kok, Mbak. Justru seharusnya saya yang minta maaf, karena motornya terlalu tinggi jadinya yang duduk di belakang jadi seperti nungging. Tapi memang sih, kalau kelamaan nempelnya, malah saya yang bisa bahaya, Mbak,” candaku memulai speak-speak iblis.
“Kok jadi Mas Gilang yang bahaya, memang kenapa?” tanya Mbak Nania polos.
“Ya iyalah, saya bisa-bisa grogi dan gak konsentrasi bawa motornya. Saking empuknya punggung saya, hehehhehe,” jawabku sekenanya dan memang kepalang tanggung.
“Ih, Mas Gilang bisa aja. Memangnya gak pernah kesentuh sama begituan apa?” tanya Mbak Nania sambil sedikit terkikik dan sepertinya dia muali penasaran dengan omonganku.
“Hehe, saya belum pernah tuh. Baru kali ini berani membonceng cewek. Sampai-sampai sekujur tubuh mendadak panas dingin begini, hehe,” timpalku semakin gila dan banyak gombalnya.
“Dasar!” sergah Mbak Nania sambil mencubit pahaku. Dan sontak saja perbuatan manjanya itu kian membuat penisku semakin bereaksi dan tegang setegang-tegangnya.
“Ih, Mbak Nania jangan gitu dong. Nanti kalau saya gak tahan gimana, mau tanggung jawab?” ucapku sambil mengintip wajahnya di kaca spion motor. Wajah Mbak Nania tampak memerah, sungguh cantik wanita ini, rambutnya tergerai tertiup angin. Kami pun terdiam seribu bahasa, hingga tak terasa sudah sampai di parkiran pasar.
Selama kurang lebih lima belas menita aku menemani Mbak Nania belanja kebutuhannya di pasar. Aku melihat seluruh mata lelaki di sana menyantap kesintalan tubuh Mbak Nania yang hanya terbalut tank top putih dan beha hitam yang terlihat membayang di balik bajunya.
Setelah selesai belanja, kembali dia terlihat kebingungan.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku.
“Mas Gilang, aku bingung pulangnya. Ternyata jauh juga ya, kalau naik ojek, aku jadi takut dijahatin. Gimana dong, Mas?” Mbak Nania tampak sedikit panik.
“Ya sudah, saya anterin pulang lagi deh,” balasku santai dan kembali hatiku loncat-loncat kegirangan.
“Tapi kan Mas Gilang mau ke kampus?” sergah Mbak Nania.
“Gak apa-apa, besok-besok masih bisa. Sebenarnya saya cuma mau minta tolong teman untuk buatkan CV lamaran itu, saya masih bingung gimana caranya buat cv,” jawabku lagi sambil menawarkan sesuatu ayang akan semakin membuat aku dan dia dekat.
“Oh gitu. Kenapa gak bilang dari tadi, kan aku bisa bantu buatin CV untuk Mas Gilang, aku bisa kok, pokoknya bagus deh,” sahut Mbak Nania antusias dengan wajah yang mendadak semringah .
“Oke deh kalau begitu. Jadi malu saya. Yu sekarang kita pulang lagi Mbak,” ajakku dengan hati yang kembali guling-guling di lantai.
“Oh iya, Mas Gilang, jangan panggil saya Mbak dong, kita kan masih sebaya kayaknya gak jauh deh usia kita. Aku kan masih muda juga, anak aja belum punya. Kita saling panggil nama aja ya? Gimana kalau Mas Gilang panggil aku Nania aja, aku panggil kamu Gilang atau Lang?” pinta Mbak Nania.
“Oke deh, Nania,” sahutku menyetujuinya. Ini benar-benar sangat sesuai dengan apa yang aku harapkan.