**Pagi itu aku dapat telpon dari satu salah satu teman lamaku, sudah lama juga aku gak ketemu dia sekitar setahunan.
"Assalamu Alaikum, Dinda apa kabar?"
"Waalaikum Salam, dengan sapa nih?"
"Ah, masa kamu udah lupa sama teman kamu.... Aku Ruli?"
"Oh ya, kok kamu tau nomor aku...??"
"Iya, aku dapat dari mama kamu, beberapa hari yang lalu aku dari sana, kangen sama anak-anak sih hehehe.... Kebetulan aku ke rumah kamu juga. Dapat salam dari mama kamu yah...."
"Oh, iya makasih yah?"
Kami memutuskan untuk menutup telpon setelah kami bertemu kembali meski hanya lewat udara.
Namaku Dinda, salah satu nama panggilan dari salah satu mantan aku dulu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap memakai nama itu. Entah apa alasanku memberi nama itu. Waktu itu aku seorang Mahasiswi baru, baru aja semester pertama di salah satu kampus swasta di kota ini, meskipun kampus aku berstatus Perguruan Tinggi tapi merupakan Kampus Pertama dan Terkemuka di salah satu bagian Timur Indonesia. Alumni Mahasiswanya pun udah ribuan, meskipun biayannya mahal tapi tetap aja banyak di minati oleh para muda dan orang tua yang menginginkan anaknya menggeluti perkembangan dunia teknologi dan sebagai jaminan buat masa depan, soalnya sekarang dari masa ke masa teknologi akan terus berkembang, jadi kita harus selalu meng-upgrade perkembangannya.
Aku hanya seorang gadis yang mungkin udah cukup mandiri, selalu jauh dari orang tua sejak masuk SMP dan aku berada di kota besar saat masuk SMU. Ku akui klo aku hanyalah seorang gadis lugu yang datang dari desa terpencil dan berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Tujuanku ke kota untuk mencari jati diri sejauh mana aku mampu bertahan dan sejauh apa yang bisa aku raih nantinya... Meski, sampai saat itu juga belum yakin kalau setelah lulus nanti dia akan berhasil atau tidak. Prinsipku adalah hidup yang ku jalani hanya mengikuti alur kehidupan, seperti aliran air yang terus mengalir menelusuri lembah-lembah curam. Suasana di kotapun begitu gemerlap menjadi momok mengerikkan terkadang bisa menjadikan diriku masuk ke dalam hitamnya pergaulan bebas. Tak sama dengan kehidupan di desa yang tenang, damai, orang-orangnya ramah, suasananya sejuk, pemandangan yang indah, dan jauh dari polusi yang membuat pemanasan global.
"Kamu itu seorang wanita pergi ke kota, harus tahan banting (mempertahankan kehormatan). Di sana banyak godaan yang bisa saja menjerumuskanmu, laki-laki itu, hanya ingin mencoba mendapatkan apa yang dia inginkan dari diri seorang wanita, setelah semuanya ia raih kemudian dia akan pergi meninggalkannya jauh-jauh.... Kamu boleh kenalan sama laki-laki manapun, yang penting sekedar kenalan saja, kamu jangan berbuat kasar sama mereka, nanti dia bisa sakit hati kemudian dia berbuat macam-macam sama kamu....Ingat itu!!" Nasehat kakek, sampai beribu-ribu kali kata-kata itu di lontarkan buat cucu kesayangannya ini.
Bagiku kuliah di salah satu kampus yang biayanya lumayan mahal. Yang sama sekali tidak sebanding dengan penghidupan orang tuaku di desa hidupnya pas-pasan. Pengharapan dari seorang kakek yang selalu memberiku semangat, tampak kecewa karena cucunya ini hanya kuliah di swasta bukan negeri yang selalu ia idam-idamkan sejak dulu. Kakek dan nenek, selalu berpikir kalau swasta itu tidaklah menjamin bisa mendapatkan pekerjaan. Yang dia inginkan hanyalah menjadi seorang pegawai negeri sipil. Dan mereka juga berpikir kalau sekolah itu semata-mata kelak untuk mendapatkan pekerjaan. Emang sih, sekolah formal itu tujuannya hanyalah untuk mendapatkan tingkat pendidikan yang sama sekali tidak sebanding dengan peluang tenaga kerja dan lapangan kerja yang ada. Sementara setiap tahun ribuan lulusan sarjana hanya dari satu kampus aja, sedang lapangan pekerjaan yang menunggu berkisar 30 % lalu 70 % akan menjadi pengangguran.
Aku sangat takut mengecewakan kedua orang tua dan keluarga besar, jika kelak telah lulus dari pendidikan, kemudian tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Seperti yang kita tau bahwa begitu banyak pengangguran di mana-mana. Maka semua biaya yang telah dikeluarkan dengan susah payah hanya menjadi sia-sia aja.
Begitulah pemikiran orang-orang tua. Mereka berharap sekolah itu, setelah lulus, kelak anaknya bekerja di kantor lalu upahnya untuk menggantikan semua biaya pendidikan yang telah dikeluarkan untuk anaknya. Sebenarnya orang tua perlu tau bahwa gak semua rejeki orang itu sama, meski seseorang itu berasal dari keluarga bermartabat, berasal dari perguruan tinggi terkemuka dengan nilai yang baik dan didapat pula dengan susah payah. Tapi, setiap kali melamar suatu pekerjaan tidak semudah apa yang kita bayangkan. Tidak segampang menduduki suatu pekerjaan kalau hanya bermodalkan pendidikan formal saja tanpa adanya skill.
Yang paling aku takutkan adalah tak dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu, seperti janjiku pada orang tua dulu. Sulit kita meng-targetkan suatu pencapaian tujuan di saat sekarang ini, karena kejujuran itu sulit untuk di dapatkan.
Sama seperti perjalanan kisah cinta yang berliku-liku. Rasa sakit hati mungkin itu sudah biasa dirasakan, tapi kisahku selalu berakhir tanpa ada kepastian. Kenapa dan ada apa yang membuat semua cowok-cowok itu cepat tertarik sama diriku dan ketika hatiku udah mereka dapatin dengan mulusnya, cinta itu pula mudah untuk pergi dariku. Padahal kalau soal hati, aku cukup baik, sabar, pendiam, jujur, pengertian, pemurah begitu kata teman-temanku.
Jadi apa sih, yang membuat para cowok tak betah denganku, apa karena aku itu tipe cewek yang kurang pede, karena fisik yang kurang sempurna, kurang tajir, suka egois dan kurang peduli sama pasangannya? Begitulah yang sering ada di benakku yang kadang kala membuatku frustasi tentang cowok. Aku hanya gak seberuntung dengan cewek-cewek yang mudah mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi, diriku tak seperti orang-orang kota yang hidup dengan kemewahan, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, terutama mendapatkan cowok dengan mudah untuk dimanfaatin. Menjalin suatu hubungan itu harus dengan perasaan, bukan main-main dengan risiko. Mungkin sih, bagi orang-orang yang hanya dengan kepalsuan tak akan pernah memikirkan rasa sakit hati jika sudah terluka. Mereka kan cuman ingin mendapatkan kesenangan aja, setelah semuanya mereka dapatkan untuk apalagi dipertahankan, setelah itu mencari mangsa baru buat pelampiasan. Begitu pahit glamornya kehidupan di kota metropolitan. Kota yang penuh dengan kemacetan, anak jalanan, pengemis, hiburan malam, pergaulan bebas dan sebagainya.
Terkadang aku sering merasa ilfil dikala melihat dengan mata kepala dan mendengarnya sendiri, cewek-cewek yang ada di sekitar lingkunganku mendapatkan uang dengan cara termudah, bahkan teman-temanku berkencan dengan om-om penjajah seks, diantar pulang dengan mobil mewah. Keadaan yang membuat mereka terpaksa melakukannya, karena beban hidup yang terus dijalani, sedang orang tua di kampung selalu mengeluh tiap kali dimintai uang. Mereka pikir uang yang di pake itu cuman sekedar buat biaya kuliah semata dan orang tua yang sibuk dengan dunia kerja hingga tak punya waktu sedikitpun untuk memperdulikan anak-anaknya. Anak-anak mereka menjadi kurang perhatian dan kasih sayang, hingga mereka melampiaskan dunianya ke dalam pergaulan bebas yang bisa membuat mereka lebih bahagia tanpa kepedulian orang tuanya.
Sulit sih, untuk menyalahkan mereka sepenuhnya, karena semua itu bukan kemauan tapi keadaan hidup yang mempersulit mereka. Tapi, apakah dia mampu untuk bertahan dari keadaan sulit yang sering menghimpitnya, ketika pergaulan mulai mengalahkan egonya. Uang menghalalkan segala cara demi hidup, tapi beribu-ribu kali aku memikirkan tak akan pernah melakukan cara hina seperti itu. Dan sesekali aku ingin melakukan hal itu ketika aku dalam keadaan down dan udah berada di ujung tanduk, ketika himpitan ekonomi yang menjerat ketika keuangan mulai menipis. Biaya SPP, biaya makan, rumah sewa, belanja bulanan, sampai biaya buku-buku dan fotocopy, dan lainnya.
Betapa sulitnya menghemat uang yang hanya sedikit sedangkan kebutuhan terus meningkat. Mau gak mau, aku pun terus berhemat, seperti ocehan orang tua tiap kali memberikan uang atau saat nelpon. Segala aktivitas butuh tenaga ektra namun makan pun tak cukup dan tak mampu menahan rasa lapar. Aku pun berhemat makan pun sering aku lakuin, terkadang 3 hari aku gak pernah menyentuh sepiring nasi, bahkan melihatnya aku pun terkadang jadi mual. Itulah efeknya ketika rasa lapar udah berlebihan. Ketika rasa lapar menderah, hanya makanan ringan yang bisa menerobos masuk ke perut. Tiap kali hanya mie instan, atau sepotong roti atau segelas susu, aku udah bisa berangkat ke kampus atau di waktu malam menjelang tidur. Tak ada waktu pun buat masak, sedangkan bahan untuk masak sulit ada di depan mata. Sungguh perjuangan hidup yang penuh perhitungan. Kita tetap harus menjalani hidup, namun tak ada sesuatu yang membuat kita bertahan untuk terus hidup.
"Aku yakin semua keterbatasan manusia itu semua akan ada jalannya, dan takkan ada seseorang yang dibebani melebihi batas kemampuannya, ketika kita kesulitan dan menghadapi masalah maka itu adalah sebuah ujian sampai sejauh mana kita bisa mempertahankannya, gak dibilang munafik sih, ketika kita dihadapkan dengan dua pilihan, cinta dan uang. Dua-duanya, kita pasti membutuhkannya, bukan?" Begitulah yang ada di benakku setiap kali menghadapi masalah.
Tapi dengan persoalan cinta yang membuat hatiku teriris-iris, namun selalu tegar dihadapan semua orang, padahal aku begitu terluka. Sepertinya aku bisa menjadi orang yang sangat tegar ketika dihadapkan dengan permasalahan hidup lainnya. Itulah cinta dan perasaan jika sudah tak berpihak, maka bersiaplah, selamanya hati akan terluka. Menurutku, cinta itu cuman sekali, maka cinta selalu berlandaskan kepercayaan, terkadang aku sangat yakin kalau cinta yang tulus untukku akan menjadi satu-satunya cinta sejati yang selalu kuharapkan. Dan ketika aku udah percaya dengan satu cowok, tapi sepertinya tak ada yang benar-benar bisa meyakinkan diriku. So setiap kali, menjalin cinta dengan cowok selalu saja ada kendalanya. Entah itu alasan yang hanya direkayasa karena kebosanan yang membuat seseorang itu mencari masalah dengan tujuan menghindar dari dirinya. Jadi apakah itu sebuah takdir atau kebetulan semata. Masa sih, kejadian yang sama seperti itu harus terulang beberapa kali.
"Aku gak tau, apa sih salahku sama mereka, begitu mudahnya mereka mempermainkan perasaanku. Janji-janji, dan gombalnya selaut dan selangit. Aku sangat bosan dengan janji-janji itu. Kalau memang aku kurang sempurna, yah, jelas aku akuin itu, tapi bukankah selama ini, semua pengalaman yang membuat mereka sakit hati, terus kenapa mereka sendiri yang justru melakukannya atau memang aku hanyalah sebagai tempat pelampiasan sakit hati dia dari mantan-mantannya itu, dan tidak salah mereka juga berbalas untuk membuat hati para wanita bisa merasakan sakitnya jika di khianati. Tapi, kenapa aku yang selalu menjadi sasaran balas dendamnya itu....??" Ocehnya dalam hati.
Seminggu kemudian..........
"Hai, boleh kenalan gak?" 1 message di handphoneku.
"Maksudnya apa kamu?"
"Boleh gak kenalan sama kamu..??"
"Apa-apaan sih, ini kan nomor teman aku, kamu ini siapa sih??" sedikit penasaran.
"Terus nama teman kamu siapa?"
"Namanya Ruli, kok kamu yang pake nomornya sih?" jawabku kesal.
"Kamu siapa sih??
"Sorry yaaahh... Aku temannya...."
"iya, aku tau... tapi nama kamu siapa?" aku mulai geram, jawabnya betul-betul bikin hati panas.
"Hehehe.... gak perlu taulah dulu, yang jelas aku temannya Ruli, dan pasti kamu baik banget. Katanya dia, makanya aku pengen kenal jauh sama kamu, boleh kan?" Tetap ya, masih menjengkelkan gitu.
"Lalu...??" Kayaknya dia ngerti maksudku.
"Sekarang aku yang pake nomor ini, biasalah teman dekat." Jawabnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Oh ya, baik banget tuh teman kamu, nomor hp aja di dua'in gitu!! Trus sekarang kamu maunya apa?"
"Hehehe... Aku pengen kenal lebih jauh, tadinya aku cuman iseng aja sih, punya nomor dan nama yang unik dan familiar di hp ini, terus aku nyoba'in deh."
"Wah.... gak bener nih, emang nama aku sapa di hp itu? Terus klo kamu pengen banget kenal sama aku, sekarang kamu sebutin nama kamu sekarang!!"
"********* karena itu awalnya aku cuman iseng aja, tapi kamu ternyata teman dari teman aku juga, jadi gak jadi aku kerja'in deh kamu.... terus namaku Aswar..." Balasnya, yang membuatku tambah kesal dengan ucapannya. Emang aku mainan apa, bisa-bisanya aku diperlakukan seperti itu.
"Hahaha.... Emang aku mirip sama artis itu?" Emang sih artis itu lagi buming apalagi dengan hits lagunya yang so sweet banget deh. Teringat dengan Ruli jangan-jangan teman aku itu suka juga sama aku, terus ngapain bela-bela'in kasih nama sesuatu pada kontak ponselnya. Itulah firasat semenjak aku pernah bertemu dengannya saat kami masih di daerah dulu. Mengabdi di sana sebagai pendidik. Datang dari jauh-jauh kebetulan dia yang ditugaskan di sebuah desaku. Dia sosok seorang lelaki muda yang sejak kecil hidup dalam lingkup islami. Sosok yang alim, santun, rajin ibadah, dan tak diragukan lagi soal iman dan ketaqwaannya. Gumamku dalam hati. Siapa sih yang gak suka sama sosok seperti dia.
"Hehehe.... Katanya sih, kamu mirip sama dia. Makanya aku tertarik pengen kenal sama kamu..?" Balasnya.
"Woouuuuhh, masa sih??" Balasku, meski aku juga penasaran kayak gimana sih orangnya.
Demikian pesan singkat yang kami lakukan sore itu. Dengan singkat kami semakin akrab aja dengan bergulirnya waktu, semakin hari semakin dia suka menelponku, perkenalan demi perkenalan terjalin. Sudah saling mengenal satu sama lain, tapi hanya sebatas jaringan telepon semata. Hingga suatu hari dia membuatku kaget dan panik dengan segala ancaman-ancamannya jika aku tidak memenuhi permintaannya.
Saat itu tepatnya di bulan Ramadhan waktunya berpuasa bagi muslim itu adalah suatu kewajiban yang harus di jalankan bagi umat manusia di hadapan Allah SWT.
Dia sedang berada di salah satu mall yang ada di kota ini. Dia mengajak aku ketemuan hari itu juga. Gak nyangka banget dia meminta itu, kalo aku tidak menemuinya, dia akan memutuskan pertemanan kami saat itu juga. Akhirnya aku harus memenuhi permintaannya, yah entah sampai kapan aku akan berani kalo bukan sekarang. Baru kali ini hatiku tergerak untuk menemui orang yang pada awalnya hanya berkenalan lewat telepon aja, selama ini gak berani aku menemui sembarang orang, mungkin karena kami udah lama saling kenal, terus aku juga semakin penasaran sih ingin melihatnya langsung, berharap semoga pertemuan itu akan berkesan.
Kami pun janjian, aku memutuskan untuk memakai baju yang berwarna cerah, itu akan memudahkan dia melihat aku. Entah kenapa aku tidak sedikitpun ingin mengerjai dia. Misalnya, aku memakai baju lain agar aku bisa lebih duluan melihat dia. Ternyata, dia melihat banyak yang memakai baju yang sama warnanya denganku, hingga beberapa kali dia melewatiku.
Aku sebenarnya melihat dia duluan sih lewat di hadapanku, setelah berapa langkah kemudian dia kembali di hadapanku lagi. Ternyata memang dia, hah masa sih dia?? Gak nyangka banget klo dia seperti itu wujudnya, hehehe.... Bisa di bilang dengan muka pas-pas'an aja sih, jauh dari standard yang selama ini aku udah pikirin sebelumnnya. Rasa penasaran ini, gak membuahkan hasil. Kecewa yah, pastinya ada, jauh dari harapanku.
Huh, mau gimana lagi, dia terlanjur jadi teman akrabku selama ini.
Aku di sambut baik dengan dia, di ajak ke suatu tempat tapi gak tau mau kemana. Hingga aku memutuskan sendiri untuk ke toko buku yang ada di mall itu. Aku juga sebenarnya mencari buku sekaligus nge-cek buku-buku apa aja yang menjadi best-seller. Satu persatu ternyata kami punya hobi yang sama, dia suka dengan novel dan orang-orang yang bergelut dengan motivator-motivator handal seperti Andrie Wongso misalnya, di mana beliau adalah motivator nomor satu di Indonesia ini. Aku suka dengan beliau dari segi manapun dari sisi kehidupannya.
Setelah itu kami kemudian beristirahat duduk di koridor sambil menunggu waktu berbuka puasa. Ternyata dia juga hobi nyanyi. "Surpice" Dia bernyanyi di sampingku, tapi sayang lagu itu lagu galau, patah hati, aku udah tau maksudnya sebelumnya ia pernah cerita. Ekspresi aku saat itu gak membuat dia jadi terkesan banget, pikiranku cuman satu, aku malas dengarin tentang mantannya itu, tapi aku sejujurnya ingin tau dia dan mantanku juga udah pergi meninggalkanku. Jadi kami dipertemukan dengan waktu yang sama dengan nasib yang sama pula. Sama-sama patah hati, sama-sama sakit hati.
Mungkin dia lebih sakit kali ya, pacarnya baru aja married dengan cowok lain. Di saat mereka masih saling mencintai. Intinya gak ada kata putus di antara mereka. Dan aku juga mengalami hal yang sama dengannya, mungkin karena mantan aku jenuh dengan hubungan kami yang long distance, hanya masalah sepele aja sih yang membuat kami harus mengakhiri hubungan yang udah berjalan selama setahun lamanya. Setelah itu aku benar-benar kehilangan kontak dengannya. Tapi, sempat kami bertemu sekali setelah hubungan kami udah berakhir, tapi kayaknya dia gak ingin mengulang kisah pertemanan kami seperti dulu lagi, setidaknya kami bisa menjadi teman kembali.
Saat itu, kami memutuskan untuk meninggalkan mall townsqure mencari jajanan dipinggir jalan untuk berbuka puasa, karena tempat makan pun udah penuh semua. Saat selesai berbuka puasa hingga aku memutuskan untuk segera pulang, yang gak begitu jauh dari tempat aku tinggal, maklum sebagai mahasiswi aku harus menyewa sebuah kost-kost'an yang dekat dengan kampus agar bisa menghemat biaya dan tenaga. Lalu dia pun menyarankan untuk mengantar aku pulang malam itu.
Apa yang membuatku begitu dekat dengan dia, apa yang terjadi dengan diriku. Kenapa teman lama aku gak mau menemuiku bersama Aswar. Kenapa tadi dia gak menemuiku. Apa dia benar-benar menyukaiku, hingga merelakan temannya menemuiku kemudian pergi meninggalkannya dan tak ingin melihat keakraban kami. Jujur sejak dulu, aku juga suka sama dia, kadang aku sering memikirkannya, kadang aku selalu menunggunya, aku slalu mencari tahu dia, meski hanya kabar baik yang di lontarkan Aswar padaku setiap kali aku menanyainya.
Belum Sebulan setelah pertemuan itu, dia menembak ku lewat telepon, akhirnya dia mengatakannya juga, ternyata dia memang mencintaiku. Kirain cuman iseng aja. Dari Awal aku sudah tau klo dia menyukaiku semenjak sebelum pertemuan itu terjadi, namun aku gak terlalu berharap banyak padanya. Gak sebegitu antusiasnya ingin mengenalku lebih jauh klo dia gak menyukaiku.
Kali ini lagi-lagi aku dinyata'in cinta lewat telepon, dasar ya cowok gak punya keberanian untuk mengatakannya langsung di hadapanku. Kenapa hari itu aku langsung menerimanya. Aku juga jadi bingung, aku gak punya cara untuk menolaknya demi pertimbangan sikap baiknya dia terhadapku selama ini, kenapa aku gak mencobanya. Aku juga lagi butuh seseorang untuk melupakan seseorang yang telah meninggalkanku. Ini bisa dibilang hanya pelarian semata. Diapun juga sama. Jadi, gak ada yang salah, kan?
Hari demi hari, di saat lagi di landa asmara dan cinta yang menggebu-gebu, kemanapun aku pergi bersamanya. Terkadang, kuliahku jadi korban, kadang pun aku gak masuk di saat sibuk nge-date. Hari-demi hari berlalu, aku mulai sangat mencintai dia, apapun aku korbankan untuk dia baik materi maupun non materi. Di sini jangan berpikir macam-macam yah, belum sejauh itu kok. Aku selalu ingat kata-kata kakek. Tapi, aku harus korbanin uang dan waktu untuk pergi bersama dia, jalan berdua kemanapun kaki kami melangkah pergi.
Segala macam cobaan kami lalui bersama selama udah berbulan-bulan bersama, aku harus mendapatkan nilai buruk dari salah satu mata kuliah. Karena aku sering bolos. Aku harus kehilangan dompet dan uang ratusan ribu. Aku harus melalui masa pahit bersama keluargaku.
Ketika ayahku dan pamanku harus mendekap dipenjara selama dua tahun lebih akibat kasus pemukulan yang seharusnya gak bersalah. Aku tau ayah gak bersalah, dia hanya menyelamatkan pamanku. Paman adalah saudara kandungnya ayah. Karena dia menyelamatkan istrinya dari perselingkuhan dari sang sopir. Dia seorang yang dipukuli ayah yang tak lain adalah sopirnya pamanku. Ayah sudah gak tahan atas pengakuan pamanku yang memergoki istrinya berdua di kamar melakukan hubungan suami istri yang bukan muhrimnya. Na' Uzubillah. Perzinaan gak boleh dibiarin seperti itu bukan. tapi paman gak berani melawan laki-laki itu, dia hanya pingsan ketika melihat kejadian langsung di depan matanya.
Meski ayah main hakim sendiri, tapi klo dibiarin seperti itu akan semakin jatuh ke dosa paling besar, dosa yang paling besar apalagi orang sudah berumah tangga. Masih adakah kata ampun bagi orang seperti itu, ayah dan pamanku yang gak bersalah itu justru dijerumuskan ke penjara. Dimana sisi keadilan negeri ini, yang bersalah, yang berzina, justru itu yang dibenarkan. Hukum negeri ini hanya butuh bukti semata, kalo orang lagi berzina apa itu bisa dinyatakan bukti yang bisa diperlihatkan untuk umum??"
Di mana hati nurani para hakim-hakim itu, membela yang salah. Apa mesti dengan rekaman video baru bisa percaya. Terus klo gak punya alat rekam, atau gak sempat merekamnya. Apa itu gak cukup masuk akal. Wahai para pelaku hukum?? Walaupun aku udah membuka aib keluargaku, tapi gak ingin kejadian itu terulang bagi orang lain.
Selain itu, cobaan terus datang kepadaku, sore itu menjelang mahgrib aku pulang dari tempat biasa, dari danau menghabiskan waktu bersama. Aku mengalami kecelakaan, aku korban tabrak lari ketika aku menyeberangi jalan raya. Semenjak itu, Aswar punya firasat sebelumnya dia seperti gak mengijinkan ku menyemberangi jalan raya sendirian, padahal sebelum-sebelumnya, dia slalu mengantarku. Maklum sore itu sangat ramai di saat orang-orang pulang kerja.
Penabrak itu jatuh dan kemudian terlempar jauh bersama jauh. Kayaknya dia gak pa-pa sih, justru dia memarahiku, salahnya sih larinya sih kencang banget, hingga aku gak melihatnya dari belakang mobil, dan mobil itu sejak tadinya berhenti, tapi motor itu dari arah belakang, tiba-tiba menghantamku, menghantam kepalaku. Namun saat itu aku jatuh dan kepalaku jadi pusing banget tapi masih sempat aku berdiri. Saat itu, luka aku gak cukup parah.
Namun luka di kepalaku, mengeluarkan darah hingga teman-temanku sekilas membantuku mengobatinya, hanya lecet dibagian lenganku karena saat itu aku memakai jaket hingga gak sampai begitu parah, terus jam tangan yang aku pake, jadi pecah sih menghantam aspal. Sempat aku mau di bawa ke rumah sakit terdekat tapi aku gak mau, aku gak ingin keluargaku tau kalo aku habis kecelakaan, aku juga memiliki keluarga dekat di sini tapi aku gak berani memberi tahunya, pasti dia akan mengintrogasiku kok bisa terjadi, aku dari mana, aku bersama siapa. Karena mereka gak menginginkan aku pacaran. Mereka mengatakan aku harus konsentrasi kuliah. Tapi, aku gak menurutinya, jadi aku harus backstreet. Dan aku juga gak ingin membuat mama jadi khawatir memikirkanku, apalagi ayah. Aku gak ingin membuat mama menjadi stress mikirin aku dan ayah.
Saat itu, sesampai aku di rumah kost, aku langsung menghubungi Aswar yang masih di jalan pulang, dia sempat panik, tapi aku jadi berharap dia kembali tapi aku juga gak mengijinkanya. Kasihan juga sih dia, harus kembali lagi, apalagi udah masuk waktu shalat maghrib. Dan sekarang efek kepalaku yang terbentur di bagian setir motor, aku harus merasakan sakit kepala yang cukup parah. Hanya luka ringan tapi efeknya lebih besar, saat itu pula aku baru selesai menyelesaikan ujian semester. Dan aku masih sementara ujian untuk beberapa hari ke depannya saat kecelakaan itu terjadi.
Tepat pada hari Sabtu kejadiannya. Aku terbaring lemah selama sehari penuh di hari minggu itu. Dan hari senin pun kemudian aku harus memaksakan diri ke kampus ikut ujian kembali, rasa sakit itu sangat mengganggu konsentrasiku. Kepalaku masih tetap diperban sampai beberapa hari kemudian.
Sepenggel kisah ini, gak seberapa banyak cobaan yang harus aku tanggung saat itu. Aku juga memikirkan gimana bisa aku terus melanjutkan kuliah di saat ayah gak bekerja lagi. Aku sempat putus asa, dan sempat terpikirkan untuk berhenti aja. Aku gak mungkin melanjutkannya tanpa uang, aku juga butuh makan, butuh pembayaran rumah kost-an, Aku malu memiliki ayah di penjara, pemikiran pertama kalo orang-orang tau pasti mereka mengira orang yang dipenjara itu adalah orang jahat yang bersalah. Makanya aku gak pernah memberi tau teman-temanku. Tapi, Aswar tau tentang apa yang terjadi dengan keluargaku.
Tapi kami gak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya butuh kesabaran dan jalan terbaik agar aku bisa terus melanjutkan pendidikan sampai selesai, dan aku juga memikirkan Aswar ketika aku harus meninggalkan kota ini, berarti aku harus meninggalkan dia juga. ini gak boleh terjadi, pasti ada jalan keluarnya, pasti ada solusinya.