“Morning, Mom! Wah, masak apa ini?” Agnes segera melangkahkan kaki menuju meja makan, mendekati ibunya yang tengah menyiapkan sarapan. Dia sudah siap berangkat ke tempat kerjanya hanya dengan dress panjang garis dipadu dengan sneakers putih hadiah dari kakak laki-lakinya saat ulang tahun kemarin.
“Mama masak sop merah kesukaan kamu. Makan dulu, yuk!” ajak ibunya, Clarice namanya. Clarice kemudian menarik kursi untuk putrinya tetapi Agnes harus segera berangkat karena sudah hampir terlambat.
“Maaf, Mom. Tapi, adek kayaknya nggak bisa ikut sarapan kali ini. Sudah telat banget, jadi adek harus berangkat sekarang,” keluh Agnes, sembari melirik Michelle –manajernya- yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya.
“Sarapan nggak habisin waktu lama, Dek,” sahut Clarice. Agnes menghela napas berat, pasti akan sulit membujuk ibunya karena sarapan memang ritual wajib di keluarga itu.
Jika bukan sarapan, tidak ada waktu lain untuk bisa berkumpul karena anggota keluarga mereka terlalu sibuk dengan urusan masing – masing.
“Lain kali, ya, Mom. Sorry. Adek berangkat dulu, bye!” Agnes mencium pipi kiri dan kanan ibunya lalu melangkah keluar dari rumah sebelum suara berat seseorang menghentikannya.
“Mau ke mana, Dek?”
Agnes menoleh, menyipitkan mata untuk memastikan penglihatan. “Papa sudah pulang dari Shanghai?” Agnes bertanya dengan nada heran, menghampiri ayahnya dan mencium punggung tangannya. Sekalipun keluarga ini kaya raya, sopan santun dan tata krama masih sangat dijunjung tinggi, apalagi ayahnya juga asli orang jawa.
“Kamu ada jadwal pagi ini?”
Agnes mengangguk dengan senyuman tipis, alisnya sedikit naik saat melihat perubahan ekspresi wajah ayahnya berubah serius.
“Papa mau bicara sama kamu sebentar, bisa, ‘kan?” Ingin hati berkata tidak, tetapi tidak mungkin. Sama saja dengan membangunkan singa tidur kalau tidak menuruti kemauan ayahnya.
Tanpa menjawab, Agnes lalu menarik kursi untuk duduk. Gunawan, ayah Agnes lalu berdehem, membuat gadis itu semakin gugup dan penasaran tentang apa yang ingin ayahnya bicarakan. “Papa dengar kamu mengambil cuti kuliah satu tahun, kenapa?”
Agnes tertegun mendengar pertanyaan ayahnya. Padahal dia baru saja mengajukan formulir cuti itu kemarin sore sebelum syuting iklan. Belum juga disetujui, tetapi Gunawan sudah mengetahuinya.
“Dek, kok diam? Jawab pertanyaan papa.” Suara Gunawan berubah menjadi sedikit menyeramkan di telinga Agnes.
Sebenarnya, Agnes sendiri takut untuk bicara jujur, takut ayahnya tidak akan mengijinkan, terlebih lagi dia sudah memasuki semester akhir kuliah. Hanya tinggal skripsi saja.
“Iya, Pa.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Agnes. Menundukkan kepala dan memainkan tangan di bawah sana.
“Alasannya?”
Diam. Tidak ada jawaban dari gadis itu.
“Agnes.”
Kepala Agnes otomatis terangkat sebelum Gunawan semakin marah, karena jika ayahnya sudah memanggil dengan nama dan bukan dengan panggilan “Dek” itu artinya pria paru baya itu mulai tersulut emosi.
“Hmm … itu, Pa.” Kan, Agnes mendadak berubah menjadi orang gagu, bicara saja tidak becus.
“Jangan bilang, kamu mengambil cuti demi karir keartisan kamu yang tidak penting itu?”
Tanpa sengaja Agnes terpancing emosi saat kata “tidak penting” itu keluar dari mulut ayahnya. Tidak penting katanya? Ck. Tahu apa Papa tentang profesi gue selama ini? Batin Agnes tidak terima.
“Pa, kita sarapan dulu aja, yuk!” Clarice hadir di tengah pembicaraan mereka, dia sengaja melakukan itu untuk mencairkan suasana yang mulai menegang.
“Papa sedang bicara dengan Agnes, Ma,” tegas Gunawan, seakan tidak ingin disela atau dibantah.
“Tapi, Pa –”
“Mom, it’s okay.” Dengan sengaja Agnes memegang sebelah tangan ibunya, dia sangat berterima kasih atas niat baik Clarice yang ingin membantu, tetapi Agnes perlu menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Pa, adek minta maaf kalau adek mengajukan cuti tanpa minta ijin dulu sama Papa. Tapi, adek ngelakuin ini karena adek merasa ini hal yang tepat untuk dilakukan.”
“Tepat belum tentu benar, ‘kan?” sarkas Gunawan.
Agnes mengepalkan kedua tangan di bawah meja, menghembuskan napas pelan untuk mengendalikan emosi.
“Adek janji setelah pekerjaan adek semua selesai, adek akan menyelesaikan tanggungjawab pendidikan adek tahun depan.”
“Yakin? Bagaimana kalau tahun depan pekerjaan kamu semakin banyak? Mau ambil cuti lagi? Kenapa gak sekalian aja kamu keluar dari kampus?”
“Papa tidak pernah meminta apapun dari kamu, Agnes. Papa hanya meminta selesaikan dulu tanggungjawab pendidikan kamu. Setelah itu, terserah kamu mau syuting sinetron stripping atau apapun itu,” lanjutnya. Nada bicara Gunawan mulai melunak, mungkin karena melihat ekspresi wajah putrinya yang mulai menunjukkan kekesalan.
“Agnes hanya meminta waktu satu tahun, Pa.”
“That’s bullshit! Sekali kamu mengajukan cuti, akan sulit untuk kembali, Agnes. Papa jelas tahu melebihi siapapun tentang itu.”
Tentu saja, karena Gunawan adalah pemilik yayasan universitas yang menjadi tempat Agnes menempuh pendidikan sekarang.
“Just give me one chance, okay? Please, Pa.”
“Oke kalau itu mau kamu.” Agnes hampir bernapas lega sebelum bola matanya membulat sempurna dengan perkataan Gunawan selanjutnya. “Terserah jika kamu masih tetap bersikeras dengan keputusan kamu, tapi jangan salahkan Papa jika karir kamu berakhir sampai di sini.”
It’s over! Jika Gunawan sudah memutuskan untuk bertindak, maka tidak ada satu pun orang yang sanggup melawan.
***
“Ngapain di sini?”
Agnes menolehkan kepala, mengerutkan dahi saat melihat sosok yang dia rindukan selama tiga bulan terakhir.
“Abang?”
“Taraa! Kejutan!” seru Ammar, kakak laki-laki Agnes. Pria itu merentangkan kedua tangan dengan senyum menyebalkan miliknya.
Tanpa bersuara, Agnes menubruk dada kekar milik abangnya. Memeluk dengan erat, menumpahkan rasa rindu padanya.
Ammar menikah tiga bulan yang lalu, kemudian pergi bulan madu dan tidak kunjung pulang. Katanya sekalian mengadakan pameran busana Neta, istrinya, di Paris.
“Abang kenapa baru pulang?” rengek Agnes, mengeratkan pelukan semakin dalam.
“Kamu sendiri, abang pulang bukannya dikasih pesta sambutan malah harus lihat muka kamu yang kusut gitu. Kenapa? Ada masalah?” Agnes melonggarkan pelukan, mendongak untuk melihat jelas muka abangnya yang di dagu mulai ditumbuhi oleh janggut.
“Ini kenapa ada janggutnya? Bukannya Abang gak suka numbuhin janggut?” tanya Agnes, sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas persoalannya dengan sang ayah barusan.
Ammar menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, kemudian membalas, “Oh, ini. Ya gimana, kakak ipar kamu yang minta. Katanya bawaan baby.”
Menyadari maksud perkataan Ammar, kedua sudut bibir Agnes otomatis tertarik ke atas. “Kak Neta hamil?”
Ammar hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Agnes tersenyum lebar. “Wah, selamat Abang!” Agnes ikut bahagia, sungguh.
“Eh, tapi kamu belum jawab pertanyaan abang!” Memang dasar Ammar punya otak cerdas, jadi sulit sekali dibohongi.
“Kalau ada orang tanya tuh dijawab!”
“Iya, astaga! Ini juga mau jawab!” kesal gadis itu, memberontak karena Ammar terus mendesaknya.
“Kenapa? Papa gak setuju kamu ngambil cuti kuliah?” Spontan Agnes memundurkan kepala, dahinya mengkerut dalam.
Dengan cengiran lebar, Ammar lalu berkata, “Abang tahu dari mama tadi.”
Agnes mendecak kesal di tempat. “Kalau tahu, kenapa pakai tanya?!”
“Abang mau kamu yang cerita,” Ammar memberi jeda pada kalimatnya, “kalau kamu mau, abang bisa bantu,” lanjutnya.
Mendengar perkataan Ammar, spontan Agnes menolehkan kepala. “Abang mau bantu adek bujuk Papa?”
“Memang Papa bisa dibujuk?” Pertanyaan itu seperti kalimat retoris yang sudah jelas jawabannya. Tentu tidak.
“Tapi, abang kenal orang yang bisa bantu kamu bujuk Papa.”
Agnes melirik Ammar dengan pandangan meremehkan, membuat pria itu memasang wajah serius yang jarang terlihat. “Beneran ini. Dia dosen muda di kampus. Semua mahasiswa bimbingannya selalu dapat nilai A. Papa juga dekat sama dia. Jadi, abang yakin kalau kamu bisa jadi mahasiswa bimbingannya, papa pasti setuju buat ijinin kamu berkarir lagi.”
Tawaran yang cukup menarik, tapi …
Tawaran yang cukup menarik, tapi …
“Jadi mahasiswa bimbingannya pasti susah, ya?” Nyali Agnes seketika menciut. Dia memang tidak bodoh, tetapi tidak terlalu pintar juga.
“Ya, susah. Tapi tenang! Abang kenal dia kok. Dia teman abang kuliah dulu. Cuma ya gitu.”
“Gitu apa?” tanya Agnes lagi.
Abang ini kalau ngomong gak bisa langsung apa, ya? Kaya’ mobil aja pakai dicicil. Keluh Agens dalam hati.
“Ya orangnya dingin, gak banyak bicara, teliti dan perfectionis. Tapi, abang jamin dia orangnya baik.”
“Cowok apa cewek?”
“Kenapa tanya kayak gitu?”
Agnes tersenyum lebar, lalu mengibaskan rambut ke belakang. “Ya kalau cowok mah gampang. Memang ada gitu cowok yang bisa nolak pesona seorang Agnesia Putri Hutama?” ucapnya menyombongkan diri dengan mengedipkan sebelah mata.
“Dih pede! Dia beda sama cowok kebanyakan, mau ada cewek secantik Kendall Jenner di depannya juga, kalau gak suka sama attitude-nya sudah pasti ditolak.”
Agnes menatap abangnya heran. Lah, serius? Cewek secantik Kendall Jenner ditolak? Nah, apalagi gue yang nggak ada sekukunya seorang Kendall Jenner. Agnes mendadak ragu, apa mungkin teman abangnya itu, “Dia normal, kan?”
Tangan Ammar lalu menjitak pelan kepala adiknya, sementara Agnes hanya meringis dengan menunjukkan deretan gigi putihnya. “Ya normal lah. Setahu abang dulu pas SMA dia pernah punya pacar kok.”
“Pernah? Berarti sekarang nggak punya?” tanyanya lagi, mendadak merasa penasaran.
“Kenapa? Kamu mau jadiin dia pacar kamu?” tanya Abang, kali ini Agnes yang memukul lengan abangnya pelan.
“Sembarangan kalau ngomong! Kan adek sudah punya Kak Varo,” katanya sambil tersenyum saat mengingat ketampanan paripurna kekasihnya.
“Ya, abang kalau disuruh milih, jelas lebih milih Kevin. Jauh lebih baik dia dari segi apapun. Abang berani jamin!”
Agnes mendecakkan lidah, masih saja abangnya tidak menyukai Varo. “Pacar aku tuh yang abang ledekin!” Agnes sengaja menyindir Ammar. Merasa kesal karena Ammar terus saja menjelekkan kekasihnya di setiap kesempatan.
Jadi penasaran, seganteng apa sih teman abang yang namanya Kepin itu? Paling juga masih ganteng pacar gue ke mana – mana. Batin Agnes berkomentar.
“Kapan kamu mau ketemu sama Kevin? Biar abang atur waktunya.”
Spontan Agnes melirik jam yang terpasang di pergelangan tangan, dan otaknya baru mengingat bahwa – gue ada jadwal pemotretan! Dia baru saja melupakannya.
“Astaga!” Agnes bangkit dari tempat duduk tiba – tiba, membuat Ammar yang duduk di sebelahnya ikut terkesiap hingga mengusap dada beberapa kali.
“Ngapain sih kamu? Ngagetin aja!” sentak Ammar dengan ekspresi kesal miliknya.
“Adek ada pemotretan jam sembilan. Abang bisa antar adek gak? Bisa diamuk Rizky kalau sampai telat!”
Agnes bergerak panik, lalu bernapas lega saat Ammar menganggukkan kepala. Tidak pernah sekalipun Agnes terlambat saat ada jadwal, karena dia merupakan anggota tim ON TIME. No ngaret – ngaret! Apalagi pemotretan kali ini fotografernya Rizky, bisa dimarahin habis – habisan kalau sampai telat semenit saja.
***
“Ky, sorry gue telat. Tunggu sepuluh menit ya, gue mau ganti baju dulu!” Agnes segera menghampiri Rizky yang tengah sibuk dengan kamera di tangannya. Baru akan melangkah, Rizky kemudian berdiri dan menghalangi jalannya.
“Gak perlu ganti baju. Kita pulang aja.” Tanpa aba – aba, Rizky menarik tangan Agnes tanpa ijin, membuat gadis itu memberontak di tempat.
“Kenapa, sih?! Kan pemotretan jam sembilan. Ini sudah jam –”
“Halo, Agnes.”
Vanda? Dalam hati Agnes menyebutkan nama perempuan yang berdiri di hadapannya kini.
“Ngapain lo di sini?” tanya Agnes, to the point. Agnes terlalu malas untuk berbasa – basi dengan spesies macam Vanda, membuang waktu!
“Harusnya gue yang nanya itu. Ngapain lo masih di sini?” balasnya, menatap Agnes dan Rizky secara bergantian. Dahi gadis itu mengkerut bingung. Agnes merasa bahwa ada yang tidak beres di sana.
“Lo belum ngasih tahu dia?” tanya Vanda, bukan ditujukan untuk Agnes, melainkan untuk Rizky.
“Rizky.”
“Sorry, Nes.”
“Ha?” Agnes semakin bingung saat Rizky hanya meminta maaf tanpa memberikan penjelasan apapun.
“Soal pemotretan hari ini –”
“Lo diusir, dan gue yang gantiin.” Bukan Rizky yang mengungkap itu, tetapi Vanda, dengan nada menyebalkan yang selalu berhasil membuat Agnes naik darah. Agnes terkejut bukan main, tetapi mulutnya bahkan kelu hanya untuk membuka suara. Terlalu speechless.
“Kenapa masih di sini? Lo udah nggak ada urusan di sini, Agnes!” Vanda mulai menyerang Agnes dengan perkataan tajamnya, tetapi gadis itu hanya menatap Rizky yang masih terdiam di tempatnya.
“Minggir lo!” Sebelah tangan Vanda hampir menyentuh bahu Agnes dan mendorongnya ke belakang sebelum Rizky menghentikan aksi Vanda lebih dulu. “Jangan pernah kasar sama Agnes, atau lo akan tahu akibatnya,” tegas Rizky mengancam.
Setelah itu, Rizky menggenggam tangan Agnes, membawa gadis itu untuk ikut bersamanya.
“Benar yang dibilang sama Vanda? Gue diusir?”
Rizky menggeleng kuat, saat ini mereka sedang berbicara di dekat mobil Rizky. Tadi pagi, karena diantar oleh Ammar, mobil Agnes tertinggal di rumah.
“Bukan, sejak kapan lo percaya sama omongan Vanda?” sahut Rizky, dengan nada sarkas saat menyebut nama Vanda.
“Terus?”
“Om Hutama yang batalin pemotretan, dia bayar tiga kali lipat dari royalty yang lo terima.”
“What?!”
Apa – apaan ini?! Jadi, ancaman ayahnya tadi pagi bukan hanya sekadar ancaman? Itu pertanyaan yang ada di benak Agnes saat ini.
“Lo ada masalah apa sama bokap lo?” tanya Rizky, sementara Agnes hanya diam, terlalu terkejut. Bukan terkejut karena ayahnya benar – benar melakukan seperti apa yang diucapkan, tetapi Agnes hanya tidak menyangka bahwa ayahnya akan bertindak secepat itu.
“Ada, lo nggak perlu tahu. Gue pergi dulu, ada urusan!”
Sepertinya Agnes harus segera bertemu dosen kaku – teman Ammar itu.
***
Agnes tersenyum lebar saat berhasil kabur dari para wartawan yang sudah berjajar di depan pintu gerbang kampus.
Jika kalian ingin tahu apa masalahnya, setelah kegagalan pemotretan tadi pagi, muncul berita yang mengatakan bahwa Agnes ditendang secara tidak hormat dari pemotretan. Dia sendiri tidak tahu dari mana wartawan tahu tentang masalah itu, tetapi yang penting sekarang Agnes sudah bebas.
Agnes tidak menyangka bahwa ide Michelle untuk mengelabuhi para wartawan itu ternyata berhasil. Kalau dipikirkan kembali, tubuh Michelle dengannya memang memiliki kemiripan, jadi wajar kalau mereka terkecoh saat Michelle berpura – pura menjadi Agnes.
Michelle dan Rizky memang selalu menjadi orang pertama yang membantunya saat Agnes dirundung oleh masalah seperti sekarang. Mereka menjaga Agnes layaknya seperti saudaranya sendiri, Ammar dan Ali.
Saat ini Agnes sedang bersembunyi di balik dinding lorong kampus. Masih mencoba menelisik keadaan di luar, memastikan bahwa dia sudah benar – benar aman dari kejaran para wartawan.
Tepukan di pundak membuat Agnes mengalihkan pandangan. Bola matanya kemudian membulat sempurna saat menatap pria tampan yang berdiri di hadapannya. Sejak kapan kampus ini memelihara cowok seganteng ini? Batin Agnes berkomentar.
“Sedang apa di sini?” tanya pria itu, dengan nada dingin yang justru terdengar keren menurut Agnes.
Agnes masih diam, tidak menjawab karena masih mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
“Kamu bukan mahasiswi di sini, ‘kan?” tanyanya lagi, membuat Agnes tergugu di tempat.
“Gue mahasiswa di sini, angkatan tahun 2016. Lo angkatan berapa?” tanyanya, mengulurkan tangan yang hanya dibalas dengan tatapan dingin pria itu.
“Saya hapal semua mahasiswa yang ada di sini, jadi kamu tidak bisa membohongi saya. Siapa kamu?”
Agnes kembali dibuat takjub karena ada orang yang tidak mengenalinya. Padahal dia merupakan artis papan atas di negaranya yang sedang naik daun.
“Jangan bilang kamu maling?” tuduhnya, membuat Agnes mendecak kesal.
“Enak aja! Cantik gini dibilang maling!” serunya tidak terima.
Untung ganteng, kalau enggak, udah gue timpuk mulutnya! Umpat Agnes dalam hati, dia tidak berani untuk berbicara langsung di depan.
“Kalau bukan maling, untuk apa kamu sembunyi? Lagi pula mahasiswi di sini tidak mungkin ke kampus memakai daster seperti kamu ini.”
Wah, Agnes mendadak speechless!
“Hello! Ini dress ya, bukan daster. Lo tinggal di goa, ya? Nggak tahu fashion banget!” cibirnya.
“Ikut saya!” katanya, sembari menarik sebelah tangan Agnes, membuat gadis itu spontan memberontak.
“Eh, ke mana?” tanya Agnes, masih mencoba menahan tangan pria itu yang besarnya hampir dua kali lipat tangan Agnes.
“Ke satpam depan. Untuk melaporkan kalau ada orang yang mencurigakan di sini.”
Ha? Satpam depan? Tempatnya wartawan dong! Udah susah kabur, masa’ harus balik lagi? Tanya Agnes dalam hati.
“Ayo!” serunya, kembali menarik tangan Agnes untuk berjalan mengikutinya. Agnes kemudian menangkis tangan pria itu yang memegang erat lengannya. Namun karena gerakan Agnes terlalu terburu dan kasar, tangan pria itu ikut tertarik hingga membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Brukk.
Agnes merasakan sakit di punggung karena terbentur lantai kampus yang keras. Dalam jarak sedekat itu, Agnes bisa melihat wajah tampan pria itu begitu dekat, sampai dia bisa merasakan deru napas pria tersebut.
Deg deg. Deg deg.
Beberapa detik mereka masih berada di posisi yang sama. Agnes jatuh terlentang di bawah dengan pria itu menindih di atasnya. Tidak sepenuhnya badan pria itu menindih karena Agnes bisa melihat tangan pria itu berusaha menopang berat badannya agar tidak memberatkan Agnes.
Setelah itu, pria tersebut lebih dulu berdiri dari posisi kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu, membuat Agnes secara langsung menerimanya. Namun, mendadak suasana menjadi canggung.
“Soal tadi –”
Plak.
Bodoh kan. Tangan gue kenapa gerak sendiri?! Agnes mengumpat dirinya sendiri.
“Kok saya ditampar?” tanyanya, sementara Agnes hanya diam, merutuki kebodohan.
Agnes juga tidak tahu alasan kenapa tiba – tiba tangannya sudah menempel begitu saja di pipi putih pria tampan itu.
Duh, gue masih berani aja bilang tampan setelah menganiaya wajahnya. Agnes bicara dalam hati sembari menepuk jidatnya sendiri.
“Sorry.” Setelah mengatakan itu, Agnes segera melangkahkan kaki cepat untuk melarikan diri. Berlari secepat kilat untuk menghindari pria itu.
Serius, gue malu. Kenapa hari ini gue sial banget?! Agnes memberontak kesal dalam hati.
Tok Tok Tok
“Masuk!” seru Kevin saat seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya. Kevin tahu siapa yang datang, karena dia memang sudah memiliki janji dengan adik sahabatnya siang ini.
Namun, saat kepala gadis itu menyembul masuk dari pintu ruangan kerjanya, kedua bola matanya membulat seketika. Sosok perempuan itu adalah gadis yang ditemuinya di lorong kampus tadi, yang dengan seenaknya melemparkan tamparan padanya kemudian kabur.
“Kamu –“
Kevin sengaja menggantungkan ucapan, terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Apa mungkin gadis usil ini adalah adiknya Ammar? Dia? Kevin merasa pusing sendiri hanya dengan memikirkannya.
“Kok lo bisa ada di sini?” tanya Agnes, masih belum memahami keadaan yang terjadi.
“Seharusnya saya yang menanyakan itu. Untuk apa kamu datang ke ruangan saya?” sarkas Kevin, masih merasa kesal dengan tamparan di lorong tadi. Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi gadis yang tengah mengerutkan dahi di hadapannya itu justru bertindak tidak sopan.
“Gue ada janji sama Pak Kepin,” ujarnya, sekali lagi berhasil memancing emosi Kevin karena gadis itu tidak menyebut namanya dengan benar.
Detik kemudian, saat Agnes menyadari tatapan tajam yang dilemparkan oleh Kevin, dia meralat perkataannya sendiri. “Maksud gue tuh Pak Kevin. Iya, ini ruangannya ‘kan?”
Kali ini Kevin menaikkan sebelah alisnya, menelisik penampilan gadis itu dari atas sampai ke bawah. Bahkan dia juga memperhatikan gestur wajah gadis itu yang jika diperhatikan memang benar mirip dengan Ammar. “Jadi benar, kamu adiknya Ammar?” tanyanya, ingin memastikan jawaban.
Awalnya Agnes pun terkejut, tetapi dengan cepat dia menetralkan ekspresi dan bertanya kemudian dengan wajah polosnya. “Kok tahu?”
Kevin hanya mengendikkan bahu acuh seraya tatapannya mengarah pada dirinya sendiri dan tulisan di meja ruangannya yang bertuliskan nama “Kevin Julio Chandra”
Detik itu juga, Agnes spontan membulatkan matanya, mengangkat jari telunjuknya di depan Kevin dan berujar, “Lo yang namanya Kevin?!”
Kevin menyunggingkan sebelah sudut bibirnya saat menyadari bahwa gadis itu sekali lagi bersikap tidak sopan terhadapnya. Sepertinya Kevin perlu memikirkan ulang keputusannya yang ingin menerima gadis itu sebagai mahasiswa bimbingannya.
Diam-diam dalam hati, Agnes sekali lagi merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dia merusak kesan pertamanya pada Kevin, satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini? Mampus! Agnes ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi karena merasa malu.
“Eheem!” Agnes lebih dulu berdehem, mengumpulkan keberanian untuk mulai memperbaiki kesan pertamanya yang buruk, “maaf soal perbuatan saya tadi, ya, Pak. Tangan saya ini memang suka lepas kendali, melakukan sesuatu tanpa saya suruh,” ujarnya, sembari menepuk tangannya sendiri berkali-kali, seakan sedang menyalahkan tangannya.
Kevin yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala heran, selain tidak sopan, rupanya gadis itu juga aneh.
“Baiklah, akan saya maafkan asal kamu menjawab jujur pertanyaan saya,” balasnya. Tidak ada salahnya memberi kesempatan gadis itu untuk menjelaskan.
“Apa, Pak?”
“Kenapa kamu menampar saya tadi?” tanya Kevin, melangkah maju untuk lebih dekat dengan Agnes. Gadis itu sampai menelan ludahnya sendiri, merasa gugup karena jarak mereka yang terlampau dekat.
“I – itu Pak,” Agnes mendadak merasa gugup, takut salah bicara dan berakhir pria itu akan menolak untuk membantunya, “harus banget saya jawab jujur?” tanyanya lagi, kali ini kalimatnya terdengar lebih lancar.
“Ya, kalau kamu masih mau saya maafkan.”
“Eh – eh jangan, Pak! Saya jawab, saya jawab!” sahutnya lebih dulu. Menghirup udara yang terasa menipis dan menghembuskannya beberapa kali. “Saya gugup karena bapak terlalu tampan!” Agnes mengatakannya dengan sekali tarikan napas, membuat Kevin yang masih belum bisa mencerna perkataan Agnes pun hanya diam tanpa memberikan respon apapun.
Kesempatan itu lalu dimanfaatkan oleh Agnes untuk kembali kabur, menyelamatkan dirinya sendiri dari peristiwa paling memalukan.
“Ma – maaf Pak, sepertinya saya pamit dulu sekarang. Besok saya datang lagi, ya, Pak!” Bersamaan dengan kalimat itu terlontar, secepat kilat Agnes melarikan diri keluar dari ruangan Kevin. Sementara pria itu justru menarik kedua sudut bibirnya tanpa sadar.
Memikirkan bagaimana tingkah laku Agnes saat sedang merasa malu membuat Kevin merasa terhibur. Entahlah, dia hanya merasa bahwa gadis itu sangat lucu, polos dan juga menyebalkan secara bersamaan. Kevin baru kali pertama bertemu dengan spesies perempuan seperti itu.
Sebuah pesan masuk dalam ponselnya membuat perhatian Kevin teralih. Sebelah tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan membuka chat room milik sahabatnya.
Ammaris Putra Hutama
| Sudah bertemu dengan Agnes, Kev?
| Kalau belum, ini foto adik gue.
Ammar kemudian mengirimkan satu gambar seorang perempuan, gadis yang ditemuinya barusan. Terlihat cantik dengan tawa dan pipi bulatnya, sekali lagi membuat Kevin mengeluarkan senyum terbaiknya. Baru kali ini dia tersenyum lebih dari tiga kali dalam kurun waktu sesingkat ini.
Satu pesan kembali masuk, masih tetap sama, dari Ammar.
Ammaris Putra Hutama
| Cantik, ‘kan?
Tanpa sengaja Kevin mengetikkan sebuah balasan di luar kendalinya, diiringi senyum yang sedari tadi masih membias sempurna di wajah.
| Iya, cantik dan lucu.
Sent.
Singkat, pesan yang tidak terlalu panjang tetapi berhasil membuat Ammar yang tengah di seberang sana sampai hampir melemparkan ponselnya karena terkejut.
Kevin menepuk jidat dengan keras saat melihat balasan pesannya sendiri. Dia tidak sadar saat melakukannya. Dia baru akan menghapus pesan itu tetapi balasan pesan lainnya lebih dulu masuk dari Ammar.
Ammaris Putra Hutama
| Hei, ada apa dengan pria dingin ini?
| Lo suka sama adik gue?
Kevin memejamkan matanya sejenak, meredam emosi yang siap meledak kapan saja. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kevin sungguh ingin menenggelamkan dirinya sendiri di samudera paling dalam agar tidak ditemukan oleh siapapun.
***
Agnes merebahkan diri di kasur setelah seharian berkelana di kampus. Rasanya badan remuk redam, padahal juga tidak melakukan apapun tadi. Tidak biasanya tubuhnya selemah itu, syuting sinetron stripping saja kuat.
Tok Tok Tok
Suara ketukan di pintu membuat perhatian Agnes teralih. Meski dia malas bergerak, Agnes tetap bangkit dari posisinya dengan sisa tenaga yang dia punya untuk membuka pintu karena terdengar suara seruan Ammar dari luar.
“Kenapa pakai ketuk pintu segala sih, Bang! Biasanya juga langsung masuk,” gerutunya, memandang Ammar dengan malas.
Ammar mengabaikan omelan adiknya lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang Agnes.
“Kamu sudah ketemu sama Kevin, ‘kan?” tanyanya, sementara Agnes hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Terus gimana?” Agnes sengaja mengabaikan pertanyaan Ammar, karena rasa kantuk tengah menyerangnya. Membuat Ammar lalu menarik tangan Agnes untuk bangkit.
“Duh, resek banget sih Abang! Adek lagi capek, nih!” serunya, merengek dengan tatapan memelas. Kebiasan Ammar suka seenaknya sendiri, keistimewaan anak tertua!
“Ya makanya jawab dulu! Gimana tadi ketemu Kevin?” desak Ammar, membuat Agnes enggan untuk mengakui bahwa dia baru saja melakukan dua hal memalukan pada sahabat dari abangnya itu.
Pertama, dia sudah seenaknya menampar orang lalu mengakuinya tampan di depan yang bersangkutan. Ammar pasti akan mati-matian meledeknya jika tahu mengenai kejadian memalukan itu.
“Dek.”
“Abang mending keluar, adek mau tidur!” Daripada Agnes kelepasan bercerita karena Ammar terus mendesaknya lebih baik diusir saja dari kamar.
“Kamu ngapain Kevin sampai dia jadi suka sama kamu?”
Ha? Nggak salah dengar? Mana ada orang habis ditampar jadi suka? Batin Agnes mengelak. Pasti Ammar sedang ingin menggodanya. Pikir Agnes.
“Dia muji kamu tuh!”
“Bohong pasti,” sahut Agnes.
Ammar mendengkus, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menunjukkan chatroom miliknya dan Kevin.
“Nih, kalau nggak percaya baca aja sendiri!”
Terlanjur penasaran, Agnes menerima ponsel dari tangan abangnya, kemudian membaca isi pesan itu. Kedua matanya membulat sempurna setelah membaca isi pesan Kevin yang bertuliskan “cantik dan lucu” itu.
Ini gue nggak salah lihat ‘kan, ya? Atau jangan-jangan gue rabun? Agnes bahkan tidak mempercayai penglihatannya sendiri, aneh jika seorang dosen kaku seperti Kevin akan memujinya seperti itu.
Dibajak dajjal kali, ya, ponselnya? Agnes benar-benar dibuat speechless hingga tidak bisa berkata-kata.
“Tadi aja jutek, sekarang senyum – senyum. Kenapa? Berubah pikiran untuk tertarik sama Kevin?”
“Apa sih, Bang!” Agnes memukul Ammar menggunakan bantal kasurnya, kemudian melarikan diri ke kamar mandi, sebelum Ammar akan semakin meledeknya setelah tahu bahwa pipinya sudah berubah merah seperti kepiting rebus sekarang.
Gue kenapa sih?! Tanya Agnes pada dirinya sendiri.