Stadion Olimpiade Jamsil (Seoul – Korea Selatan)…
Suasana di dalam gedung tampak begitu sibuk, setiap crew EO (Event Organizer) sibuk memeriksa persiapan untuk konser malam ini. Konser terakhir dalam rangkaian tur dunia yang diadakan di 26 kota di seluruh dunia. Tur dunia yang sungguh melelahkan. Tur yang memakan waktu sampai tiga bulan lebih!
Aura Gracesyella Park, solois berusia 25 tahun yang berdarah campuran Indonesia Korea, sedang asyik bersenandung di dalam ruangan yang khusus disediakan untuknya. Memastikan vocal yang dimilikinya dalam kondisi prima. Aura ingin menyajikan penampilan terbaiknya. Penampilan yang tidak akan dilupakan oleh penggemarnya sebagai penutupan dari konser dunia yang diadakannya sejak beberapa bulan lalu.
Dan setelah konser ini berakhir, Aura ingin liburan sejenak. Melepas penat dari segala macam persiapan konser yang menggila dan tidak ada habisnya. Belum lagi dengan latihan vocal dan tarian koreografi yang menguras tenaganya.
“Nona, persiapan untuk gladi resik sudah selesai. Saya akan mengantar anda ke area panggung,” ucap Max, salah seorang bodyguard kepercayaan Aura yang memang selalu mendampinginya kemanapun sejak empat tahun lalu.
“Okay!”
Aura melangkah tegas mengikuti jejak langkah Max hingga menuju ke area panggung, tempat dimana dirinya akan mengadakan konser malam ini. Aura menatap sekeliling, menyadari kesibukan yang terasa mencekik, bukan hanya dirinya yang memiliki tekanan, tapi seluruh crew yang berhubungan dengan acara konser juga memiliki bebannya masing-masing. Beban yang tidak bisa dianggap remeh.
Beban Aura hanya satu, yaitu memuaskan penggemar dengan penampilan vocal dan juga tariannya, berbeda dengan para crew yang sedang lalu lalang, mereka harus memastikan banyak hal yang pastinya jauh lebih berat dan tidak kalah penting!
Aura menggeleng, mencoba konsentrasi. Aura ingin menyuguhkan penampilan terbaik di konser penutupnya hari ini. Aura tidak ingin mengecewakan penggemar yang sudah rela mengeluarkan uang untuk menonton konsernya. Yang sudah rela antri untuk masuk ke dalam stadion ini. Yang sudah rela menunggu dengan sabar hingga hari ini.
“Ini mic anda, Nona.”
“Thanks, Max!”
Aura berdeham, memberi kode pada pemusik dan juga penari latar untuk memulai gladi resik yang akan menentukan sukses tidaknya acara konser malam ini!
Dua jam kemudian…
Aura duduk di salah satu kursi, membiarkan make up artist memoles wajahnya dengan make up tipis. Korean look yang flawless, natural dan fresh agar membuatnya terlihat lebih muda, make up yang disukai Aura.
Sejak dulu Aura tidak suka menggunakan make up tebal, entah kenapa. Dirinya lebih suka tampil dengan bare face (tanpa make up) sebenarnya, namun karena ini untuk keperluan konser jadi dirinya harus mengalah dan membiarkan make up artist bekerja sesuai dengan yang diperlukan. Aura hanya perlu duduk manis.
“Ini minuman anda, Nona.”
Aura tersenyum, menerima minuman hangat berupa perasan jeruk nipis bercampur madu yang disodorkan oleh Max.
“Kamu memang paling tau apa yang aku perlukan sesaat sebelum konser, Max.”
“Itu karena saya sudah bekerja pada anda sejak empat tahun lalu, Nona.”
“Ya benar, makanya sangat disayangkan karena setelah ini kamu harus pergi meninggalkanku, Max. Aku tidak tau apakah ada bodyguard yang lebih handal darimu atau tidak,” keluh Aura membuat Max meringis, merasa tidak enak hati.
“Maaf, Nona. Anda tau sendiri alasan yang mendasari saya untuk melepas pekerjaan ini.”
“Ya, aku tau. Karena istrimu tidak suka dengan pekerjaan yang beresiko ini, belum lagi dengan jam kerja yang sering tidak menentu, tapi tetap saja aku akan merasa kehilangan.”
“Maaf, Nona.”
Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Max. Aura mengibaskan tangan, tidak ingin mendengar ucapan maaf yang penuh dengan rasa bersalah lagi.
“Sudahlah jangan minta maaf lagi, aku juga tidak menyalahkanmu. Aku hanya merasa sedih karena akan kehilangan bodyguard sekaligus teman baik sepertimu.”
“Kita masih bisa bertemu sesekali di waktu luang anda, Nona. Dan saya juga akan membawa istri saya untuk diperkenalkan kepada anda. Anda tau sendiri kalau istri saya merupakan salah satu fans anda yang cukup fanatik,” kekeh Max.
“Ya, itu ide bagus. Aku juga sudah lama ingin bertemu dengan istrimu. Sejak dulu rencana itu selalu gagal karena kami berdua terlalu sibuk!” sesal Aura.
“Baiklah, nanti saya akan memberitahu istri saya untuk meluangkan waktu agar dapat berbincang dengan anda.”
Aura mengangguk semangat. Itu ide bagus untuk mengisi waktu liburannya, tapi sekarang tentu saja Aura harus fokus dengan konsernya malam ini!
***
Axel Xavier, pemuda tampan berusia 28 tahun yang sedang menunggu seseorang di salah satu restoran ternama. Tidak perlu waktu lama, orang yang ditunggunya muncul dengan seulas senyum lebar. Clay Clinton, teman yang sudah lama tidak ditemuinya.
“Hei, Bro, udah nunggu lama?”
“Nggak juga, baru 10 menit.”
“Sorry, gue nggak nyangka kalau Seoul juga macet meski nggak separah Jakarta!” kekeh Clay menyalahkan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi.
“It’s okay. Jadi soal yang gue minta kemarin gimana? Bisa bantuin gue?” tanya Axel enggan berbasa basi dan langsung bertanya ke pokok permasalahan yang membuatnya rela meluangkan waktu untuk membuat janji temu dengan Clay.
“Of course! Apa sih yang nggak bisa gue lakuin? Semua beres!” balas Clay bangga pada dirinya sendiri.
Axel tersenyum, tidak percuma meminta bantuan Clay untuk kali ini, pria itu memiliki banyak koneksi meski keberadaannya disini hanya sebatas liburan! Luar biasa memang temannya ini. Clay merogoh saku jasnya, mengeluarkan name tag atau ID card dan menyodorkannya ke hadapan Axel.
“Lusa lo udah bisa masuk kerja. Datang aja langsung ke lokasi.”
Axel meraih ID card itu dengan raut puas.
“Thanks, Bro! Apa yang gue janjikan kemarin akan langsung gue proses malam ini juga.”
“Okay, santai! Lagian gue juga masih mau liburan di sini sampe minggu depan!”
Setelah itu hanya ada perbincangan santai di antara mereka sambil asyik menikmati makan malam. Membahas isu politik maupun pemerintahan di negara kelahiran mereka, Jakarta. Ya, meski sekarang mereka sedang berada di Seoul, tapi tetap saja darah mereka adalah darah orang Indonesia!
Clay sedang liburan selama tiga minggu di negeri ginseng ini, sedangkan Axel memutuskan menetap di Seoul, entah sampai kapan. Mungkin sampai dirinya bosan? Lagipula Axel baru saja mendapat pekerjaan baru. Pekerjaan yang sangat amat berbeda dengan latar belakang pendidikannya, tapi tidak masalah, memang inilah yang Axel inginkan!
Selain karena bantuan Clay, Axel memang tidak memiliki kesulitan karena dirinya menguasai banyak bahasa. Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, Korea bisa dilafalkannya dengan fasih! Mungkin karena dirinya sering melanglang buana membuat kemampuan bahasanya kian terasah karena dipraktekkan secara langsung, bukan hanya sekedar teori!
“So, lo mau lanjut kemana lagi abis ini?” tanya Clay sesaat setelah mereka selesai makan malam dan sekarang sedang berada di lobby, menunggu petugas valet parking mengantarkan mobil mereka masing-masing.
“Entahlah, mungkin bersenang-senang sejenak sebelum stress dengan pekerjaan yang akan menanti lusa?” balas Axel ragu, tidak yakin dengan rencananya.
Jawaban Axel membuat Clay terbahak geli.
“Gue rasa kerjaan lo nggak akan bikin stress, tapi nggak tau juga. Lihat aja hari senin!”
Axel hanya mengangkat bahu dan melambaikan tangan saat ternyata mobil Clay lebih dulu yang muncul.
“Gue cabut duluan!”
“Okay. Thanks, Bro!”
“No worries!” balas Clay santai dan melesat pergi meninggalkan Axel yang masih setia menanti mobilnya.
Axel melirik jam mahal di pergelangan tangannya. Jam 10 malam, namun kota Seoul masih tampak ramai, penuh dengan aktivitas. Akhirnya Axel memutuskan untuk pergi ke salah satu bar, menikmati waktu luangnya sebelum disibukkan dengan pekerjaan baru. Tanpa menyadari kalau kehidupannya akan berubah setelah ini!
Gemuruh suasana konser terasa begitu luar biasa. Seolah dapat mengguncang dunia. Jeritan dan sorakan dari para penggemar bagaikan energy tambahan untuk Aura.
“Encore! Encore! Encore!” teriak penggemar tanpa bosan, berharap dapat dikabulkan.
Permintaan penggemar begitu menggila membuat Aura tidak memiliki pilihan lain dan memutuskan untuk menyanyikan satu lagu tambahan, tanpa tarian yang disambut begitu meriah. Meski lelah, namun Aura puas karena sudah menyuguhkan penampilan terbaiknya malam ini. Penampilan yang bisa membuat penggemarnya tertawa senang.
Tepat setelah lirik terakhir dinyanyikan, Aura mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada penggemar dan meninggalkan panggung. Sumpah, tubuhnya lelah, suaranya mulai habis karena telah menyanyikan lebih dari 10 lagu. Tanpa lipsync. So cool!
“Silahkan minum dulu, Nona,” ucap Max sigap yang langsung diterima oleh Aura, bahkan gadis itu meneguknya hingga tandas tak bersisa! Bagai orang yang sudah lama tinggal di padang gurun dan baru menemukan oase. Serius, Aura merasa tenggorokannya kering.
“Thanks, Max,” ucap Aura sambil mengembalikan botol kosong kepada Max yang selalu siap sedia di dekatnya. Menjaga dan mengawasinya dari hal yang tidak diinginkan.
“Fiuhh! Akhirnya konser dunia yang melelahkan berakhir juga! Setelah ini aku akan liburan panjang!” ucap Aura sambil menggosok kedua tangannya, tidak sabar dengan rencananya yang terdengar menyenangkan. Tidak sabar ingin bermalas-malasan sesekali!
Aura berganti kostum dan menghapus make up secepat mungkin, tidak ingin menundanya barang sedetikpun. Dirinya hendak kembali ke hotel. Mandi dan tidur adalah tujuan utamanya, tapi sayang rencananya harus buyar saat sang manager masuk ke dalam ruang ganti dan berucap nyaring bagaikan toa yang sedang berkumandang,
“Malam ini kita akan berpesta untuk merayakan konser dunia yang berakhir dengan sukses! Aku akan mentraktir kalian semua! Dan kamu, Aura, sebagai bintang dari acara malam ini tentu harus ikut, okay?” ucap sang manager dengan raut mengiba membuat Aura tidak tega menolak dan terpaksa mengiyakan meski tubuhnya terasa remuk redam!
“Oke, tapi aku tidak janji bisa ikut sampai acara berakhir, tidak apa kan? Rasanya aku ingin istirahat lebih awal,” balas Aura sambil mengulas senyum tipis, meminta pengertian.
“It’s okay, yang penting kamu hadir!” balas sang manager, sadar kalau Aura ingin istirahat.
“Oke. Bagaimana kalau kita merayakannya di bar yang ada di lobby hotel tempat aku menginap?” tawar Aura, berharap dengan begitu nanti dirinya bisa melarikan diri lebih cepat dan lebih mudah! Tidak perlu bermacet ria di jalan pula. Lebih efisien baginya kan?
“Sounds good!” jawab mereka kompak bagai paduan suara, masih terdengar semangat.
“Okay, let’s go!” ajak Aura membuat sorak sorai terdengar nyaring. Seluruh crew yang rata-rata berkewarganegaraan Korea tampak semangat, tidak terlihat lelah seperti Aura!
Dan sekarang disinilah mereka berada, di salah satu bar yang ada di dalam hotel bintang lima, menyewa ruangan private yang paling besar. Aura tidak ingin diserbu oleh penggemarnya lagi, tidak untuk saat ini. Apalagi acara malam ini adalah untuk merayakan berakhirnya konser dunia yang melelahkan! Aura perlu privacy untuk menenangkan diri.
Aura menatap setiap orang yang ada di sekelilingnya, orang yang ikut membantu suksesnya acara konser di 26 kota dalam rentang waktu tiga bulan ini, bukan waktu yang sebentar. Tanpa mereka, Aura pasti tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini. Serius.
“Setelah ini anda akan liburan kemana, Nona?” tanya Max memecah lamunan Aura.
“Entahlah, aku belum sempat memikirkannya,” balas Aura lelah, enggan berpikir.
“Apa setelah ini anda akan menetap di Seoul? Atau kembali ke Jakarta?” selidik Max.
“Sepertinya untuk beberapa waktu ini aku lebih memilih tinggal di Seoul, rasanya aku perlu suasana baru. Siapa tau dengan begitu aku bisa mendapat inspirasi dan menciptakan lebih banyak lagu kan? Apalagi sudah cukup lama aku meninggalkan negara ini dan sekarang aku kembali merindukannya,” kekeh Aura setelah terdiam sejenak.
Ya, sebagai blasteran Indonesia Korea, dimana ibunya berdarah Indonesia dan ayahnya berdarah Korea, tidak heran kalau Aura terkadang merindukan negara yang pernah ditinggalinya saat masih kecil. Negara yang mengisi masa kanak-kanaknya dengan tawa.
“Apa orangtua anda tidak mempermasalahkannya? Apa mereka tidak khawatir?”
“Sepertinya tidak, kamu tau sendiri kalau aku bebas melakukan apapun asal bisa bertanggung jawab terhadap hal tersebut kan?” balas Aura yakin dengan jawabannya.
“Ya, saya tau. Anda beruntung memiliki orangtua seperti itu, setidaknya hidup anda tidak dikekang dan bisa melakukan hal yang anda sukai,” balas Max dengan senyum kecil.
“Sudahlah jangan membahas mengenai hidupku lagi, sekarang lebih baik kamu ikut bersenang-senang, minum sedikit alkohol dan bergabung dengan mereka! Jangan hanya menjagaku terus menerus, lagipula ini untuk merayakan keberhasilanku!” ucap Aura.
“Saya tidak berani, Nona. Bagaimana kalau ada fans yang mengganggu anda?” tolak Max cepat, tidak ingin mengambil resiko. Tidak ingin meninggalkan tugas utamanya.
“Tidak mungkin! Apalagi ini hotel tempatku menginap. Aku yakin aman, Max,” balas Aura, karena untuk keamanan memang keberadaannya tidak diketahui oleh penggemar. Agencynya tidak ingin mengambil resiko dan merahasiakan tempat menginap Aura.
“Tidak, Nona. Apalagi semua bodyguard sudah anda pulangkan, saya tidak berani mengambil resiko,” tolak Max keras kepala. Sadar kalau artisnya begitu populer!
“Ayolah, Max! Aku juga ingin kamu bersenang-senang seperti yang lain. Apalagi ini hari terakhir kamu menjagaku! Besok adalah hari perpisahan kita, jadi jangan membuatku merasa bersalah karena menyuruhmu bekerja terus menerus. Sesekali kamu harus bersenang-senang, please?” pinta Aura membuat Max menyerah, tidak bisa menolak lagi.
“Baiklah, saya akan minum sedikit,” jawab Max pasrah dengan keinginan bossnya.
“Minumlah sepuasnya! Aku tidak masalah! Jangan khawatirkan apapun, Max! Tidak akan terjadi masalah apapun. Percaya padaku, okay?” ucap Aura membuat Max hendak protes.
“Tapi, Nona…” penolakan Max terpaksa pupus karena Aura enggan dibantah lagi!
Aura melotot dengan gemas, pura-pura marah membuat Max mengangkat tangan, menyerah dengan keinginan bossnya yang terkadang bisa begitu keras kepala. Terpaksa Max bergabung dengan yang lain, meninggalkan Aura seorang diri di sofa, asyik bermain ponsel sambil sesekali menyeruput minumannya. Bersantai dengan kesendiriannya.
Aura tidak menyadari kalau tindakannya ini membuat orang yang sejak dulu selalu membencinya memiliki kesempatan untuk mencelakakan dirinya! Terlebih lagi orang itu berada di dekatnya, selalu mengintai Aura dalam jarak dekat. Seperti sekarang!
Aura berjalan menuju restroom dengan tubuh sedikit oleng akibat alkohol meski tidak parah, hendak mencuci tangan setelah melahap french fries yang berminyak. Sebenarnya sebagai penyanyi Aura harus menghindari segala jenis makanan dalam bentuk gorengan untuk menjaga kualitas suara, tapi karena setelah ini waktunya liburan jadi Aura pikir tidak masalah melanggar kebiasaannya sesekali. Toh hanya makan sedikit!
Sedangkan di dalam sana semua orang masih asyik bercengkerama, bermain truth and dare sambil menenggak alkohol, termasuk Max yang awalnya hanya ingin minum sedikit namun ternyata selalu kalah dalam permainan hingga membuat pria itu hampir tumbang! Aura hanya bisa terkekeh saat melihat bodyguard yang biasanya tangguh ternyata tidak kuat minum banyak! Dan nyaris tidak sadarkan diri! Astaga!
Aura mengeringkan tangan dan baru hendak kembali ke ruangan saat tubuhnya disenggol seseorang, untung orang tersebut dengan sigap menyangga tubuhnya! Jika tidak, Aura pasti akan langsung mencium lantai! Aura tidak berani membayangkan betapa memalukannya jika hal itu sampai terjadi, benar kan?
“Maaf! Maafkan saya!”
“Tidak apa, saya juga minta maaf karena sedikit tidak fokus,” ucap Aura sambil membungkukkan tubuh, saat ini dirinya sedang berada di Korea, jadi itu adalah hal yang wajar. Lagipula Aura harus menyembunyikan wajahnya agar tidak ketahuan!
“Sekali lagi maaf,” ucap orang tersebut yang dibalas anggukan Aura.
Setelah itu Aura kembali ke ruangan dimana semua orang masih asyik bertingkah gila, bernyanyi dengan suara sumbang, dan melahap makanan yang disajikan terus menerus tanpa henti. Aura menggeleng pelan sambil tersenyum, menyeruput minuman miliknya yang masih tersisa sedikit.
‘Setelah ini aku akan kembali ke kamar untuk istirahat,’ putus Aura.
Setelah minumannya tandas, Aura langsung menghampiri Kang Ji Hwan, managernya, dan berucap sedikit kencang agar suaranya tetap bisa terdengar di tengah suara hiruk pikuk yang kian menggila. Seolah semua orang di dalam ruangan adalah orang-orang tuli!
“Aku kembali ke kamar dulu, okay? Tagihannya dibebankan ke kamarku saja,” ujar Aura yang dijawab anggukan sumringah Ji Hwan. Niatnya malam ini ingin berpesta dengan menggunakan uang perusahaan, tapi siapa sangka kalau Aura justru berbaik hati untuk membayarnya? Mentraktir mereka semua! Baguslah! Artisnya ini memang loyal dari dulu!
Aura menghampiri Max yang ternyata sudah pingsan! Tidak sadarkan diri! Tidur pulas!
‘Besok siang aku akan mengucapkan perpisahan dan terima kasihku pada Max karena sekarang pun percuma, pria itu sudah pingsan!’ batin Aura dengan senyum kecil.
Aura meninggalkan ruangan dengan tubuh sedikit sempoyongan. Aura sadar kalau dirinya sudah agak mabuk, maka dari itu dirinya memutuskan untuk meninggalkan ruangan, tidak ingin pingsan sepenuhnya di dalam sana. Bisa jadi bahan gossip nantinya!
Apalagi Max sedang tidak bisa menjaganya karena permintaan Aura sendiri yang menyuruh pria itu untuk ikut berpesta! Aura menggeleng, berharap dengan begitu kesadarannya kembali pulih, namun bukannya pulih tapi Aura merasa semakin oleng! Alkohol sudah mengambil alih kesadarannya meski hanya separuh.
Aura mengambil kartu kamar dari saku jaket dan melihat nomor kamarnya dengan susah payah, efek dari pandangan matanya yang kian buram. Saat ini Aura sangat ingin tidur. Serius, Aura ngantuk, lelah, ditambah lagi dengan efek alkohol, lengkap sudah!
Aura masuk ke dalam lift dan menekan nomor lantai. Tepat di depan pintu kamar Aura menempelkan akses card dan suara pintu terbuka membuat Aura mendesah lega, tanda kalau dirinya tidak salah kamar, namun yang Aura tidak sangka adalah ternyata di dalam kamarnya sudah ada seorang pria berdiri tegak di depan jendela, seolah sedang menunggu kehadirannya! Namun Aura tidak tau siapa pria itu. Pandangan matanya yang kian buram dan berbayang membuat Aura tidak bisa melihat dengan jelas!
***
Beberapa saat sebelumnya…
Axel menghubungi seseorang di seberang sana, entah siapa dan hanya berucap singkat,
“Aku ingin kau mengirim seorang wanita ke kamarku malam ini! Di hotel X dengan nomor kamar 2522,” pinta Axel, nada suaranya terdengar begitu memerintah.
“Okay, aku akan mengirimkannya sesegera mungkin.”
Telepon ditutup dan orang yang baru saja dihubungi Axel kembali menelepon seseorang.
“Kesempatan bagus. Aku memiliki pelanggan di hotel yang sama dengan wanita yang ingin kau singkirkan.”
“Oh ya? Berikan aku nomor kamarnya dan aku akan mengirim wanita sialan itu ke kandang buaya!” ucap seorang wanita, raut wajahnya penuh kebencian, menatap tajam ke arah Aura dengan sengit bagai musuh bebuyutan.
“2522 atas nama Axel Xavier.”
“Okay! Aku akan mengirim wanita itu ke 2522, biar saja dirinya diterkam buaya semalam suntuk! Aku ingin melihatnya hancur dalam sekejap mata!” ucapnya sadis.
“Jangan lupa bagianku karena sudah memberimu informasi sepenting ini, okay?”
“Bisa diatur! Sekarang aku akan meminta kunci duplikat 2522 ke receptionist.”
“Apa bisa? Bukankah harus ada konfirmasi langsung dari pemilik kamar? Aku tidak ingin kau membuat pelangganku curiga!”
“Tenang saja, aku memiliki banyak akal!”
“Terserah kau saja, tapi ingat jangan buat masalah, okay? Aku tidak ingin membuat pelanggan setiaku kabur karena ulahmu!” peringat sang mucikari tegas, mengingatkan hal yang paling penting baginya. Tidak ingin mengambil resiko.
Ya, bukankah akan rugi jika dirinya kehilangan pelanggan setia dan royal seperti Axel?
“Okay. Aku janji tidak akan merugikanmu.”
“Baiklah, aku akan pegang janjimu!”
Dan telepon pun ditutup membuat wanita itu bergegas melakukan rencananya sebelum targetnya kembali ke kamar. Dirinya harus mencari cara untuk memasukkan kunci kamar 2522 ke dalam saku Aura tanpa membuat wanita itu curiga. Bagaimanapun caranya!
Beberapa saat kemudian sepasang mata nyalang memandang penuh kebencian ke arah Aura yang hendak menuju restroom. Kesempatan bagus! Di tangannya sudah ada kunci duplikat dari kamar 2522, kunci yang baru saja didapatkannya dari receptionist.
Dengan akal bulusnya bukan hal yang sulit untuk mendapatkan kunci duplikat, dirinya hanya perlu berdusta sedikit dengan mengatakan kalau kuncinya tertinggal di dalam kamar hingga membuatnya tidak bisa masuk dan dalam sekejap mata, kunci duplikat sudah ada di tangannya! Cerdas kan?
Apalagi dirinya tau siapa nama pemilik kamar! Axel Xavier, nama yang bagaikan mantra. Tidak heran kalau pihak hotel mudah memberikannya tanpa banyak pertanyaan!
Dan kini dirinya hanya perlu mengintai sang target untuk menjalankan aksinya. Dari cara jalan wanita itu yang sedikit oleng, dirinya yakin kalau targetnya sudah mulai mabuk, meski masih memiliki kesadaran.
‘Bagus! Akan lebih mudah bagiku untuk memasukkan kunci kamar ini ke saku jaketnya!’ batin sang wanita licik dan melakukan rencananya!