Bab 1

Awal Kontrak

“Ini adalah rumah saya dan di sini hanya ada aturan saya, orang asing sudah semestinya tidak ikut campur. Anda kira apa? Saya akan menerima perjanjian bodoh itu? Cuih! Saya tidak seburuk itu sampai menjual diri pada pria tidak tahu diri seperti anda!” Amarah yang berapi-api tidak membuat sang lawan bicara merasa terpojok.

Pria yang berpenampilan rapi maju beberapa langkah, mengunci pergerakan gadis yang ada di hadapannya.

“Apa yang anda lakukan!”

Tubuh mereka semakin mendekat hingga gadis itu tidak ada pilihan lain selain mundur sampai punggungnya menabrak tembok.  Matanya melotot dan tangan yang memeluk tubuh adalah cara gadis itu mempertahankan kehormatannya. Perasaannya tidak enak saat melihat mata tajam milik pria berjas itu menatapnya.

“Mundur!” lirihnya.

Reaksi yang ditampilkan gadis mungil di depannya membuat ujung bibir pria tersebut tertarik sebelah.

Tubuh yang saling berdekatan hingga deru napas masing-masing dapat terdengar membuat sang gadis kian merasa dirinya dalam bahaya.  “Anda jangan kurang ajar, saya bukan perempuan yang bisa anda dekati dengan sesukanya,” ucapnya dengan bibir gemetar.

Tidak ada reaksi dari lawan bicara. Hanya mata yang menatap Nea tanpa tahu arti dari tatapan aneh itu. “Ini rumah saya, kapan saja saya bisa berteriak.” Suara bergetar yang dikeluarkan Nea tentu tidak mengancam pria itu.

“Silakan, jika kamu ingin dicap wanita nggak baik.” Tentu saja, pria itu mempunyai banyak cara untuk menyerang balik lawan bicaranya.

Akhirnya setelah diam cukup lama, gadis itu mendengar suaranya. Suara tegas dan berat yang entah mengapa sangat memanjakan telinga. Untuk sesaat gadis itu kagum hanya dengan mendengar suaranya saja, tetapi ia langsung menggeleng dan fokus akan apa yang ada di hadapannya.

“Nea Halina, saya tidak meminta banyak. Hanya tanda tangan surat itu dan selesai.”

Gadis yang dipanggil Nea tersebut langsung mendorong tubuh kekar yang mendekat ke tubuhnya. Setelah mengumpulkan segenap keberaniannya, Nea dengan mata bergejolak maju beberapa langkah.

“Atas dasar apa anda mempermainkan sebuah pernikahan?” tanya Nea pada pria itu.

“Saya tidak lagi bermain,” jawabnya enteng.

“Apakah anda tidak pernah sekali saja terbesit untuk punya pernikahan yang didasarkan oleh cinta? Atau punya pernikahan impian? Kenapa pria terhormat seperti Anda mengemis pada gadis miskin seperti saya?”

Terlihat wajah pria berjas itu memerah padam dan tangannya terkepal kuat. Sepertinya ucapan Nea mampu membuat harga dirinya terluka.

“Saya datang bukan untuk mengemis, tetapi memberikan penawaran. Jika kamu menolak, saya tidak akan memaksa,” ucapnya tegas.

Sesaat napas Nea tertahan mendengar suara tegas nan lantang tersebut. Nyalinya menciut. Walaupun begitu ia tidak bisa menunjukkan wajah takutnya pada pria itu.

Di sela perdebatan panjang mereka, terdengar suara gaduh dari luar. Mereka yang saat ini berada di halaman belakang rumah langsung bertanya-tanya. Apa yang terjadi di luar sana?

Suara teriakan perempuan dan barang yang jatuh ke lantai membuat Nea panik. Tanpa berpikir panjang, ia berlari sekencang mungkin meninggalkan pria yang berbicara padanya.

“Saya janji besok akan dibayar,” ucap seorang wanita paruh baya pada pria bertubuh kekar yang terus melempar semua barang yang ada di ruang tamu ke luar.

“Besok, besok, besok. Setiap kali ke sini selalu saja besok. Keluar dari rumah ini sebelum saya suruh anak buah saya bergerak,” ucapnya tegas membuat wanita paruh baya itu terduduk lemas.

“Setidaknya biarkan kami tinggal di sini sampai menemukan tempat tinggal baru,” bujuk seorang pria yang duduk di kursi roda.

“Menunggu? Mau sampai kapan?! Saya udah nggak bisa lagi kasih kalian kesempatan.” Pria itu memberi aba-aba pada anak buahnya untuk mengeluarkan semua barang yang ada di dalam rumah ini serta mengusir wanita dan pria yang terus memohon itu.

Nea tidak tahan lagi, ia maju beberapa langkah mendekat ke arah pria berbadan kekar tersebut. “Tolong beri kami waktu, kami bukan orang yang tidak bertanggung jawab sampai-sampai tidak membayar hutang. Saya masih belum mendapatkan pekerjaan—“

“Menunggu kamu dapat kerjaan? Kalaupun dapat seyakin apa dapat gaji gede?”

“Lusa saya ada wawancara kerja di salah satu perusahan besar, saya yakin bisa lolos dan bekerja di sana.”

“Cih! Gaya keterima di perusahaan besar. Kamu bakal kalah sama yang masuk pake orang dalam.”

Mereka kembali mendorong tubuh kedua orang tua Nea hingga gadis itu tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada pria berjas hitam yang berdiri santai di pojok ruangan.

Nea tidak peduli lagi akan harga dirinya yang hancur.

“Pak saya mohon, tolong orang tua saya,” pinta Nea. Ia tidak sanggup melihat mereka diseret oleh pria berbadan kekar. Selain tidak ingin melihat orang tuanya diusir, Nea ingin mempertahankan rumah yang menjadi kenang-kenangan terakhir almarhumah neneknya.

“Saya akan lakukan apa pun, saya rela kerja jadi pembantu sekali pun di rumah anda. Saya mohon, bantu saya,” pinta Rea sambil menangkupkan kedua telapak tangannya sambil menatap harap.

“Kamu memilih menjadi pembantu ketimbang jadi istri saya?” tanyanya mengejek.

Sungguh Nea ingin sekali memukul wajah pria di hadapannya, jika bukan karena orang tuanya ia tidak akan menurunkan harga dirinya seperti ini.

“Pak, saya mohon.”

“Tanda tangan kontrak dan menikah dengan saya atau melihat orang tua kamu diusir dan menjadi gelandangan.”

Kepalan tangan Nea kian erat, wajahnya memerah padam. Apakah ini akhir hidupnya? Siapa sangka, Nea yang memiliki sejuta keinginan mengenai pernikahan harus berakhir seperti ini.

“Pertimbangkan semuanya baik-baik, saya tidak akan memberikan penawaran lagi setelah ini.”

Gadis itu menoleh ke belakang menatap pada orang tuanya yang menangis sambil memohon. “Baik, saya akan lakukan apa pun itu.”

Jawaban Nea sudah cukup bagi pria itu. Ia pun langsung menghampiri debkolektor yang terus memaksa orang tua Nea keluar rumah.

“Berapa jumlah semua hutang mereka?” tanyanya pada pria berbadan kekar yang sibuk pada ponselnya.

“Siapa kamu? Mau jadi pahlawan?”

“Saya Aciel Cale, CEO dari Adelard Construction. Anda bisa datang ke kantor saya dan membahas semua hutang yang dimiliki keluarga ini.”

Hadirnya Aciel di antara mereka menjadikannya sebagai pusat perhatian. Terutama orang tua Nea yang merasa heran orang asing yang baru pertama kali datang ke rumah ini mau membayarkan semua hutang yang dimiliki mereka.

“Siapa dia? Kenapa muncul dan mau melunaskan hutang kita?” tanya ibu Nea pada suaminya yang duduk di kursi roda.

Ayah Nea melihat ke arah anaknya yang berdiri dengan kepala menunduk. “Sepertinya terjadi sesuatu, setelah mereka keluar tanyakan Nea apa yang terjadi.”

“Iya.”

“Wah, keren. Anak kalian sangat mahir dalam memanfaatkan tubuhnya,” ucap pria berbadan kekar itu sambil bertepuk tangan.

Ucapan sembrono menuduh Nea yang tidak-tidak mampu membuat orang tuanya melotot tidak terima.

“Jaga ucapan anda, anak saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak benar!” tegas ibu Nea.

“Bukankah masalahnya sudah selesai, apakah kalian akan menginap di sini? Ah iya, sebelum pulang saya harap kalian membersihkan kerusuhan ini sebelum saya melaporkannya pada pihak yang berwajib,” tegas Aciel.

Ucapan Aciel tentunya tidak dibantah sedikit pun. Mereka membenarkan letak benda-benda yang berantakan.

Nea menarik napas dalam dan mengembuskannya berat. “Hidup aku udah hancur,” gumam Nea.

Apakah dengan menerima tawaran ini sama saja Nea menjual tubuhnya? Nea takut, sangat takut. Apa tanggapan orang-orang akan dirinya saat mengetahui faktanya.

Bab 2

Awal Petaka

Kekacauan hidup Nea dimulai saat Niko, sahabat Nea satu-satunya datang ke rumahnya. Nea sudah menyadari kehadiran Niko ke rumahnya bukan pertanda baik. Lihatlah saat ini Niko sedang berbincang dengan kedua orang tuanya, seakan mengambil hati orang tua Nea.

“Cih! Gayanya sok jadi anak lemah lembut,” cibir Nea melihat Niko yang terlihat kalem dibanding biasanya.

“Biasanya kayak topeng monyet aja pun berlagak jadi anak kalem.”

Nea sudah muak melihat Niko yang sedang berpura-pura. Ia memilih duduk di teras menikmati angin sore yang sejuk. Menjadi kebiasaan Nea jika tidak kerjaan di sore hari, ia akan duduk sambil menikmati angin yang membelai wajahnya.

“Nea,” panggil Niko saat gadis itu melewatinya.

“Ya?” Oleh karena Niko memanggilnya, Nea menoleh dengan sebelah alisnya terangka.

“Aku mau ngomong sama kamu,” ucap Niko memberi kode pada Nea untuk keluar terlebih dahulu.

Nea memutar bola mata malas dan berjalan ke teras rumah terlebih dahulu. Ya, memang awalnya ia ingin duduk di teras.

“Om Tante, Niko izin keluar dulu ya?” ucap Niko lembut, sembari berdiri membungkukkan tubuhnya.

“Ada apa?” sembur Nea saat Niko keluar dari rumah.

Lelaki itu duduk di sebelah Nea dan menghirup udara segar. Rumah Nea terbilang sejuk karena di kelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Ia begitu fokus menikmati udara sejuk ini dan mengabaikan tatapan Nea padanya.

“Tumben seorang Niko datang ke rumah kecil Aku.” Lagi dan lagi Nea menyudutkan Niko yang bahkan belum mengeluarkan satu patah kata pun.

“Dasar Gemini, kebiasaan nuduh orang mulu. Aku kangen sama Putri Gemini,” ucap Niko sembari tersenyum manis.

Nea rasanya ingin muntah melihat ekspresi itu terlebih lagi pada panggilan Niko padanya. “Aku tahu kedatanganmu ke rumah ini pasti ada sesuatu. Mana mungkin seorang pangeran dari rumah besar datang ke rumah kecil ini.”

Niko lelah melihat Nea yang terus merendahkan dirinya sendiri. Padahal gak ada salahnya rumah Nea ini. Mengapa gadis itu terus merendah seperti itu.

“Pangeran ini sudah lelah hidup di kerajaan dan mau memulai hidup di gubuk kecil milik putri Gemini.”

Nea melirik sinis. “Plis, berhenti panggil Aku Gemini. Benci banget dipanggil gitu.”

Niko tertawa renyah melihat ekspresi kesal Nea. Memang dirinya suka memanggil Nea dengan sebutan Gemini hanya untuk melihat ekspresi itu.

“Kamu kan emang Gemini.”

“Bodo amat.”

Setelah Niko selesai tertawa, keduanya sama-sama terdiam menatap lurus ke depan. Nea sengaja memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Tidak lama kemudian, Indri, ibu Nea datang dengan secangkir teh dan semangkuk biskuit.

“Niko, diminum dulu tehnya. Pasti seret ya ngomong nggak minum. Maafin, Nea yang nggak peka, ya,” ucap Indri memukul pundak putri sulungnya.

Nea menatap tidak terima sambil memutar bola mata malasnya. Biasanya Niko akan datang ke dapur dan mengambil minum atau makanan sendiri.

“Saya paham Tante, Nea emang begitu. Makasih banyak Tante, jadi ngerepotin.”

“Nggak kok, di minum.” Indri kembali ke dalam meninggalkan mereka berdua.

Niko menatap wajah Nea dari samping. Ia bimbang untuk bicara. Ragu bila Nea akan menolak ajakannya. Nea adalah gadis yang sulit di tebak, tidak akan mudah membujuknya.

“Kalau mau ngomong, ngomong aja jangan natap Aku mulu,” ujar Nea dengan mata yang tetap lurus ke depan.

Niko menunjukkan deretan giginya. “Nanti malam bokap nyuruh datang ke acara pertemuan teman-teman bokap, nah masalahnya—“

Nea mengangkat telapak tangannya tepat di depan wajah Niko sehingga pria itu berhenti bicara. “Perasaan Aku nggak enak, Kamu lagi nggak ngerencanain sesuatu, kan?”

Nea memicingkan matanya.

“Ngg—nggak kok, sembarangan main nuduh aja.”

Nea menghela napas lega walaupun ada kecurigaan yang belum menghilang. Gadis itu berusaha berpikir positif.

“Temenin aku ke sana ya, Ne? Aku nggak ada temen di sana.”

Plak!

Nea spontan memukul pundak Niko. Ternyata tidak salah menaruh curiga pada laki-laki ini.

“Wah, nggak sopan sama Abang,” ucap Niko sambil mengelus pundaknya yang terasa perih.

Usia mereka berdua memang terpaut tiga tahun. Keduanya bertemu saat keduanya di bangku SD. Pertemanan mereka memang cukup lama.

“Bodo, pergi ya pergi aja jangan ngajak Aku,” ucap Nea tidak terima.

Niko meraih tangan Nea dan mengeluarkan Puppy eyes miliknya. Hanya Nea yang bisa menyelamatkan hidupnya kali ini.

“Ayolah Ne, kalau Aku nggak datang ke pertemuan itu, tamat hidupku. Semua kartu di blokir sama bokap.”

Nea memilih menutup telinga. Mendengarkan keluhan Niko yang tiada habisnya hanya akan menyusahkan hidup Nea. Ini bukan. Kali pertama Niko mengajaknya. Jawaban Nea selalu tidak. Niko tahu apa jawaban Nea, tetapi tetap saja semangatnya membujuk Nea tidak Sirna.

“Nona Gemini, tolonglah anak malang ini,” pinta Niko sambil memeluk lengan Nea.

Spontan Nea mendorong tubuh Niko. Kontak fisik dengan lelaki masih hal yang tabu untuk Nea, tetapi Niko masih saja tidak menyadari itu.

“Aku nggak peduli, kalau kamu malang Aku apa? Sekarat? Aku dah puyeng nyari kerja, jangan nambah beban hidupku lagi.”

Niko langsung berdiri sambil tersenyum cerah menghadap pada Nea. Gadis itu memicing curiga. Akal bulus apa lagi yang disiapkan Niko kali ini.

“Kali ini apa?”

Niko berlari menuju mobilnya. Setelah mengambil sesuatu dari dalam sana Niko kembali menghampiri Nea yang sedang melipat tangan di dada dengan alis terangkat.

“Abang Niko mau meringankan beban Nea.” Niko menyerahkan sebuah amplop coklat yang ia dapatkan dengan susah payah.

“Apa ini?” tanya Nea curiga.

“Buka aja.”

Masih dengan perasaan curiga Nea membuka amplop yang diberikan oleh Niko. Terdapat selembar kertas yang menyatakan bahwa Nea Halina mendapatkan tawaran pekerjaan. Mata Nea langsung berbinar. Ini adalah impiannya. Perusahaan yang sangat ia idam-idamkan menawarkan pekerjaan padanya.

“Bagaimana bisa?” tanya Nea menatap Niko.

“Apa yang nggak bisa, Kamu mau pergi sama Aku nanti malam kan?”

Nea memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam amplop coklat, ia kembali menatap ke arah Niko. “Kali ini aku akan temanin,” ucap Nea dengan gembira.

Niko melotot tak percaya. Spontan dirinya melompat girang sambil memeluk Nea. Seperti biasa, Nea akan mendorong tubuh Niko sampai lelaki itu terjatuh. Mendengar suara benda terjatuh yang cukup kuat, Indri kembali ke luar.

“Ada apa?” tanya Indri pada Niko dan Nea.

“Maaf Tante, tadi Niko kesandung terus jatuh,” ucap Niko setelah berdiri.

“Hati-hati, ada yang sakit?” tanya Indri.

Niko menggeleng. “Tidak ada, Tante tenang aja. Oh iya Tante, entar malam pinjam anak Tante ya?”

Indri terkejut. Ia menatap pada Nea bertanya ada apa pada anaknya itu tetapi tidak dijawab oleh Nea.

“Sesekali ajak Nea jalan-jalan boleh kan Tante?” tanya Niko sekali lagi.

“Kalau sama kamu Tante nggak perlu khawatir lagi, bawa aja.”

Kebahagian Niko tidak dapat terkontrol, ia menarik tangan Nea menuju mobilnya.

“Woi, aku siap-siap dulu elah. Masa pergi ke acara gede kayak gitu pake daster.”

“Oh iya, Aku juga nggak mau diejek. Entar Aku beliin baju yang bagus, Kamu ganti baju, aku tunggu di mobil, gercep!”

Nea seketika menyesal mengiyakan permintaan lelaki itu.

“Bu, Nea siap-siap dulu. Oh iya, ibu mau nitip makanan?” tanya Nea.

“Nggak, kamu telepon adek kamu tanya jam berapa pulang ya? Ibu nelepon, nggak diangkat.”

“Oke entar Nea telepon, Bu.”

Bab 3

Niko mulai gelisah saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi acara akan di mulai dan papanya sudah mulai mengirim pesan padanya.

“Mbak, apa masih lama lagi?” tanya Niko pada salah satu pegawai salon. Pegawai tersebut tersenyum melihat Niko yang gelisah.

“Mas tenang aja, sebentar lagi selesai. Oh iya, pacarnya cantik banget. Masnya cocok sama mbaknya.” Entah harus tertawa apa bahagia, Niko rasa pegawainya terlalu berlebihan.

“Teman saja mbak, bukan pacar,” koreksi Niko.

“Ha? Masih teman? Entar nyesal loh mas kalau ketikung,” kekeh pegawai tersebut.

“Gimana mau ketikung orangnya aja jarang dekat sama cowok.”

“Saya doakan yang terbaik aja deh, saya pamit dulu ya mas.”

Seperginya pegawai tersebut Niko kembali menunggu Nea sambil bermain ponsel. Lelaki itu mulai larut dengan ponselnya hingga tidak menyadari Nea yang sudah berhadapan dengannya. Saat sebuah suara memanggil namanya barulah Niko mengangkat kepala menatap orang yang memangilnya.

“Niko, gimana?” tanya Nea sambil mengembangkan dress putih miliknya.

“Mbak, kayaknya salah orang deh. Ini bukan teman saya,” teriak Niko pada pegawai yang mengobrol padanya tadi. Pegawai tersebut hanya tertawa melihat reaksi lucu Niko.

Nea berdecak kesal. “Aku tanya, gimana penampilanku, Niko!”

“Baru kali ini kamu cantik.”

Percuma bertanya pada Niko, Nea akan semakin kesal karenanya. “Ayo, kamu udah telat kan?”

Niko baru menyadari acara sudah mulai. Ia langsung mengulurkan tangan memberi kode pada Nea agar merangkul lengannya.

“Dih, sok romantis,” cibir Nea tetapi gadis itu dengan malu-malu merangkul tangan Niko. Mereka berjalan menuju parkiran sambil tertawa geli.

“Kamu harus terbiasa kayak gini, biar kesannya nyata kita berdua pacaran, Ne.”

Nea menghela napas. “Kalau bukan karena wawancara kerja, aku sih ogah.”

Tujuan mereka selanjutnya adalah hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya acara tersebut. Nea menggenggam erat tangan Niko hingga sang pemilik tangan menoleh ke arahnya.

“Kamu takut?” ledek Niko.

“Iyalah, Kamu kira Aku bisa santai di tengah orang-orang terpandang. Gimana kalau Aku salah sikap, gimana kalau mereka tahu latar belakang aku.”

Niko tersenyum. Ia memegang kedua pundak Nea, menggeser gadis itu hingga langsung berhadapan dengannya. “Lihat Aku, Nea hanya perlu bersikap seperti biasa. Jadi diri sendiri. Aku yakin orang lain malah akan terpesona sama Kamu.”

Entah mengapa kata-kata Niko cukup membuat Nea sedikit tenang. Mereka berdua memasuki aula.

Atmosfer di aula sangatlah berbeda. Kalau kata Nea ini adalah aura mahal, yang mana hanya ada orang-orang penting saja.

“Wow, ramai juga,” gumam Nea.

“Hooh, kalau Aku sendiri bisa-bisa jadi kambing cengo. Setidaknya ada Putri Gemini yang bisa di ajak ngobrol.”

Nea mengedarkan pandangannya hingga matanya terpaku pada seseorang. Entah mengapa Nea tidak bisa memalingkan wajah. Seorang pria yang memakai jas berwarna hitam yang dipadukan kemeja putih tengah mengobrol dengan pria lainnya yang usianya lebih tua.

“Ne, ayo!” Suara Niko menyadarkannya.

“Nemuin bokap dulu, dia udah nungguin.”

Nea mengangguk, sesekali gadis itu mencuri pandang pada pria tersebut.

“Setiap kali di acara ini, selalu ditanya mengenai hal yang aku nggak paham. Kamu tahu kan, Aku cuma tertarik di bidang fotografi dan sekarang dipaksa ngurus perusahaan bokap.”

“Kamu bersyukur, bisa dapat kerja. Aku harus berjuang dulu supaya bisa dapat kerja. Sekali dapat kerja malah ditipu.”

Niko mengelus kepala Nea. “Yang sabar ya!”

“Niko!”

“Papa.” Niko bergegas menarik tangan Nea.

“Eh ada Nea, gimana kabar kamu?” tanya papa Niko pada Nea.

“Baik, om. Om gimana? Kemaren kata Niko om sempat sakit, maafin Nea ya om nggak sempat jenguk.”

Papa Niko tersenyum sembari mengelus kepala Nea lembut. “Tidak apa, Niko bilang kamu lagi sibuk. Oh ya, om pinjam Niko sebentar ya.”

Nea mengangguk. “Iya om.”

Niko menatap Nea. “Kamu tunggu sini, aku sebentar doang. Kalau bosen keliling aja.”

Gadis itu mengangguk kecil sambil tersenyum. Seperginya Niko, Nea mulai berkeliling. Aula ini dipenuhi dengan orang-orang penting yang sedang bercengkrama.

“Kapan aku bisa jadi salah satu dari mereka,” gumam Nea melihat aura para pengusaha dan pejabat di sini. Gadis itu terus berjalan hingga tidak menyadari bahwa dirinya semakin jauh dari tempat ia dan Niko berdiri tadi.

Pandangan mata yang berkelana entah ke mana membuat Nea tidak fokus pada jalanan di depan.

Bruk!

Nea menabrak dada bidang milik seseorang sehingga dirinya hampir saja jatuh tetapi orang yang ditabrak Nea dengan sigap menangkapnya.

“Terima kasih,” ucap Nea saat menyadari tubuhnya tidak jadi terjatuh. Mata mereka berdua saling bertatapan. Nea menyadari orang yang di tatapnya saat ini adalah orang yang Nea lihat saat pertama kali datang.

“Wah, sepertinya saya datang di saat yang salah.”

Nea langsung tersadar dan berdiri tegak sambil membenarkan dressnya.

“Pak Broto, senang bertemu dengan anda di sini.” Pria yang menangkap Nea saat terjatuh tadi tampak senang dengan kehadiran pria paruh baya tersebut.

“Suatu kehormatan bisa menyapa pemilik dari Adelard Construction. Saya mau mengucapkan selamat karena sudah memenangkan proyek yang di Kalimantan. Anda memang hebat, pak Aciel Cale.”

Ya, pria itu bernama Aciel Cale. Seorang CEO muda yang mampu menggemparkan dunia konstruksi. Siapa sangka, pria muda itu mampu memenangkan beberapa proyek besar pada pembangunan ibu kota baru.

“Ini semua berkat semangat dari Pak Broto.”

Pak Broto tersenyum sambil menepuk pundak Aciel. Ia baru menyadari kehadiran gadis yang sejak tadi tampak gelisah.

“Pak El, apakah dia pacar bapak?” tanya Pak Broto melihat ke arah Nea yang menunduk gelisah.

Mendengar kata pacar tentu mereka berdua langsung menatap tak terima. Saat mata Nea terangkat dan melihat pak Broto, ia langsung terkejut tidak menyangka.

“Nea, ya ampun kamu Nea, kan?” ujar pak Broto bahagia.

Nea mengangguk sambil tersenyum. “Om, udah lama banget Nea nggak ketemu, om.”

Senyum hangat menyambut Nea yang memeluk Pak Broto. Nea sangat bahagia hingga spontan memeluk pria tersebut.

“Sekarang kamu sudah besar, kemaren masih kecil banget,” kekeh Pak Broto.

“Gimana kabarnya, om?” Nea melepas pelukannya.

“Baik, udah berapa lama hubungan kalian?” tanya Pak Broto melihat ke arah Nea dan Aciel.

Mereka berdua saling berpandang sesaat lalu menatap pak Broto.

“Maaf pak, sepertinya ada ke—“

“Untuk apa minta maaf, saya dukung hubungan kalian. Malahan saya berharap hubungan kalian menjadi lebih serius lagi.”

Aciel memalingkan wajahnya. Keadaan semakin rumit. Siapa wanita ini yang mengacaukan keadaan, jika seperti ini akan menjadi buruk saat Aciel katakan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan dengan wanita di sebelahnya ini.

“Pak El, apakah anda tahu Nea adalah anak yang pintar, dulu saat sekolah setiap tahun selalu mendapatkan juara.”

Nea bingung harus berkata apa. Ia menunggu Aciel berbicara, tetapi sepertinya pria itu memilih bungkam.

“Oke begini saja, saya menyerahkan proyek pembangunan Mall dan Apartemen pada Adelard Construction, jika kalian berdua menikah,” ucap Pak Broto dengan yakin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED