Bab 1

Rasa sakit begitu menyesakkan dada masih Debora rasakan. Caci maki sang mantan suami masih terdengar nyaring di telinga.

Debora menatap pantulan dirinya dari kaca di hadapannya. Begitu cantik dan menawan. Berbeda jauh dengan lima tahun lalu.

Dirinya seolah melihat wanita lain yang berdiri di hadapannya.

"Debora, mengapa kau berbeda saat ini? Harusnya kau bisa berubah dari dulu dan membungkam mulut mereka," gumam Debora.

Terdengar ketukan pintu dari luar. Suara lembut memangil namanya.

"Baik, aku akan segera keluar. Sebentar lagi selesai," teriak Debora.

Dia segera merapikan rambut gelombangnya yang terurai dan meraih tas di atas meja.

Debora keluar dan menuruni tangga. Dia melangkah menuju ruang makan, tepat dimana semua anggota keluarga berkumpul.

Di sana sudah ada hidangan makan malam yang menantinya, lengkap dengan beberapa orang yang duduk di kursi.

Seluruh pasang mata menatap Debora dengan tatapan kagum. Mereka sangat beruntung memiliki seorang menantu berhati malaikat sepertinya.

Di sana duduk seorang pria tua yang menatapnya, Andreas Vernandes. Orang yang cukup sukses di dunia bisnis.

Sedangkan di sampingnya duduk seorang pria tampan yang sedari tadi memuji kecantikan Debora. Matanya tidak berkedip sedikitpun. Alexander Vernandes.

Debora melangkah mendekati meja makan. Spontan Alex berdiri dan menarik kursi di sebelahnya.

"Silahkan duduk Ratuku," ucap Alex tersenyum hangat.

Ucapan Alex membuat semua orang tersenyum kecil. sementara pipi Debora sudah bersemu merah.

"Kau tidak salah memilih Ratu, Sayang," ucap seorang wanita senja di meja sebrang Debora.

Wanita tersebut tersebut lembut, Lidya Vernandes. Nyonya sekaligus mertua Debora yang paling menyayanginya.

"Jangan pulang malam-malam ya Kak, besok aku tidak mau ada kata terlambat!" ucap seorang termuda di antara mereka.

"Jadi kau mau makan malam di sini atau ..." Alex belum selesai melanjutkan ucapannya.

"Pergilah, kami tidak mau merusak acara kalian," sahut Lidya tersenyum.

Alex melangkah mendekatinya dan mendaratkan kecupan manis di kening Mamanya. Dia antar mereka cuma dialah yang paling mengerti.

Alex segera meraih tangan Debora dan segera berpamitan. Mereka melangkah keluar rumah kemudian masuk kedalam mobil mewah yang sudah di siapkan di halaman.

"Lihat! kita sangat cocok jadi artis nominasi akting terbaik di musim ini." Alex tersenyum kecut.

Debora hanya melempar senyum. Dia tak tau harus mengatakan apa. Semua yang Alex katakan benar.

Kemarin mereka baru saja mengucapkan ikrar sehidup-semati di altar. Gaun putih mewah, dekor gedung megah, dan seorang Suami bak pangeran di nengri dongeng dengan segala kesempurnaannya.

Semua yang tidak mengetahui kebenarannya pasti akan iri melihat nasip Debora yang beruntung ini. Terlebih memiliki sepasang mertua yang amat menyayanginya.

Kurang apa hidup Debora? Sayangya ini semua hanya pernikahan kontrak. Bisa di bilang simbiosis mutualisme.

Alex membutuhkan Debora begitupun sebaliknya. Ada banyak masalah yang harus mereka selesaikan di balik pernikahan ini.

Debora dengan sejuta misinya untuk balas dendam. Sedangkan Alex membuang isu scandal yang menjeratnya saat ini.

Mobil Alex melaju melewati jalanan ramai. Mereka menuju sebuah hotel bintang lima. Tempat di mana ada pesta megah yang di hadiri banyak orang terkemuka.

Ini adalah saat yang tepat untuk Alex membersihkan namanya dari isu scandal dirinya dan asisten pria nya.

"Astaga, apakah kau benar-benar mencintai pria itu?" kekeh Debora.

"Bagaimana kalau kau diam. Lakukan tugasmu dan aku akan membantumu, beres," ucap Alex ketus.

Debora hanya tersenyum kecil. Dia tidak menyangka pria tampan yang duduk di sampingnya ini adalah homo.

Mobil Alex tiba di sebuah hotel. Tempat dimana dia di undang untuk merayakan pesta kecil rekan bisnisnya.

Mungkin bagi orang seperti Alex dan keluarganya ini adalah pesta kecil. Namun tidak bagi Debora. Mana ada pesta kecil yang menyewa hotel mewah? Di tambah para tamu undangan adalah orang penting. Mulai dari pembisnis besar, pejabat negara, dan para artis papan atas.

Astaga ... mengapa orang kaya suka menghamburkan uang. Sedangkan orang miskin banting tulang untuk sesuap nasi di luar sana.

Debora turun di bantu oleh pelayan yang membukakan pintu mobil. Alexander juga ikut turun dan memberi kunci mobil kepada pelayan yang satunya.

Debora tampak anggun dengan gaun biru dongker dengan hiasan beberapa manik-manik yang gemerlap. Bagian atas gaun sedikit terbuka memperlihatkan leher jenjang yang menawan.

Alexander segera menggandeng tangan Debora dan melangkah masuk. Mereka menjadi pusat perhatian saat ini. Mereka sudah seperti sepasang raja dan ratu yang akan duduk di singgasana.

Di antara banyaknya orang. Ada dua orang yang memperlihatkan mereka dengan seksama. Sepertinya dia pernah melihat Debora.

Alisnya bertaut dan saling tatap. Mungkinkah dia salah orang? Debora yang mereka lihat dulu adalah gadis dekil dengan berat badan yang berlebih.

Tidak mungki dia ada disini. Kalau toh dia selamat. Pasti dia sudah jadi gembel yang berkeliaran di lingkungan kumuh.

Debora mengangkat pandangan ke depan. Dirinya kini lebih percaya diri dari sebelumnya. Tatapannya tajamnya menyapu setiap sudut ruangan.

Hingga tanpa sengaja dia melihat sosok yang dia incar selama ini. Debora sedikit menarik jas Alexander dan berbisik.

"Itu mangsaku, ayo kita kesana!" ajak Debora.

Sudut mata Alexander mencuri pandang dengan orang yang di maksud Debora. Hanya suara decihan yang terdengar.

"Astaga, seleramu rendah sekali. Apa kau tidak bisa mencari suami yang lebih berkelas sedikit?" kekeh Alexander.

Debora hanya berdecih kesal. Kalau dia bisa memilih takdir, pasti dia tidak akan memilih pria dengan mental tempe dan mata yang jelalatan seperti itu.

"Tutup mulutmu itu! Setidaknya aku masih normal." Debora tidak mau kalah.

"Apa?" Alexander menatap lekat manik mata coklat yang saat ini menatapnya.

Karena perseteruan mereka. Mereka sampai tidak sadar ada dua orang yang melangkah mendekat. Orang tersebut masih menatap lekat seorang wanita yang berdiri di samping Alexander.

Padahal media mengatakan dia terciduk sedang menginap di kamar hotel dengan seorang pria dalam keadaan polos. Banyak orang yang mempertanyakan kebenaran ini.

Meskipun dia memiliki perusahaan gurita, tetap saja masalah ini berdampak besar pada popularitasnya.

Kemudian siapa wanita ini? Di lihat dari penampilannya, dia bukanlah orang sembarangan. Banyak barang dengan brand ternama yang membalut tubuhnya.

"Tuan Alexander," sapa seseorang yang mendekat.

Mata Debora terbelalak, dia tidak percaya mangsanya akan datang secepat ini. Dia segera mempererat pelukannya pada Alex.

"Halo, dengan siapa?" Alex membalas ramah dan mengulurkan tangannya.

Meskipun dia sangat jijik bersentuhan dengan orang lain. Tetap saja saat ini dia harus merubah opini publik tentang dirinya.

"Daniel Anderson, pemilik DNG grup," ucap Daniel menjabat tangan Alex.

"Ini istriku, Elena." Daniel memperkenalkan.

"Wow istrimu luar biasa, kenalkan ini istriku Debora," ucap Alexander melempar tatapan penuh cinta ke istrinya, lebih tepatnya istri sesaat nya.

'Apa! Debora?'

Bab 2

Daniel memperhatikan penampilan seseorang wanita yang bernama Debora ini. Setiap inci tubuhnya tak luput dari pandangan Daniel.

Bila di lihat dengan jelas, dia memang orang yang sama. Namun ini semua tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi?

"Apakah istriku begitu memukau?" tanya Alexander sambil melempar senyum sinis.

"Maaf, Tuan, Sa-ya hanya pernah melihat istri Anda." jawab Daniel sambil terus melihat Debora.

Mendengar ucapan Suaminya. Elena juga menatap seorang istri presidir muda ini. Dan ternyata benar adanya, dia adalah Debora. Seorang wanita yang telah lama dia buang dari kehidupan suaminya.

Lalu kenapa dia bisa sampai di sini? Terlebih dia dapat di pungut menjadi istri presidir kaya raya. Ini tidak mungkin, kenapa nasib sangat baik kepadanya.

Terakhir dia lihat hanyalah seorang wanita kumuh yang berusaha memperbaiki rumah tangganya yang telah hancur.

"Lama tidak bertemu, sepertinya alam sangat baik kepadamu," celetuk Elena menatap sinis Debora.

Debora tersenyum kecut. Sepertinya dia kurang pandai menjadi bunglon sehingga mereka cepat mengetahui siapa dirinya.

Baginya ini tidak masalah. Semakin cepat rencana di mulai, maka akan semakin baik.

"Halo, Tuan Daniel dan Nyonya Elena, lama tidak berjumpa. Semoga hari kalian tetap baik dan sejahtera." Debora mengatakan dengan penuh penekanan.

"Jadi kau mengenal mereka Sayang?" tanya Alexander penuh perhatian.

"Tentu Sayang, mereka adalah rekan bisnisku. Sayangnya bisnisku harus bangkrut dan kami tidak bertemu lagi." dusta Debora, yang sebenarnya Alex sudah mengetahui versi aslinya.

"Kalian sangat baik, sekertarisku akan datang berkunjung ke perusahaan kalian. Kita lihat, kerja sama apa yang dapat kita lakukan," ucap Alexander tersenyum cerah.

Mendengar ucapan Alex membuat Daniel terperangah. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Bekerja sama dengan perusahaan besar? Bahkan dia tidak pernah di lirik oleh pengusaha lain.

Ini adalah malam terhebat sepanjang sejarah, dengan ini dia bisa memperbesar perusahaan yang dia kelola. Ups, maksudnya perusahaan Debora yang dia rebut beberapa tahun lalu.

"Kami pamit dulu," ucap Alexander merangkul pinggul langsing Debora dan melangkah pergi.

Setelah mereka menjauh beberapa meter. Alexander menghentikan langkahnya. Dia wajahnya mendekat ke tengkuk Debora.

"Aku selesai, dan kini tugasmu. Lakukan semua dengan baik!" bisik Alex lirih.

Debora hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Dia tidak mungkin gagal dalam urusan seperti ini. Dirinya sudah berlatih keras semalam.

Alexander melangkah masuk ke dalam lift. Ada tempat yang harus dia kunjungi dan membawa serta Debora agar namanya benar-benar bersih.

Jantung Debora berdebar kencang. Padahal semalam dia sudah membuka banyak artikel untuk mengahadapi traumanya ini.

Apapun dia lakukan untuk menuntaskan dendamnya. Ini hanya berlangsung satu jam saja dan Debora yakin bisa melakukannya dengan baik.

Lift terbuka, Debora dan Alex keluar dan segera menuju kamar yang sudah di siapkan oleh rekan bisnisnya.

Meskipun ini konyol. Tetap saja dia harus melakukan ini demi perusahaan.

"Halo Bro! Jadi bagaimana tantangan kami?" sapa seorang dengan tubuh kekar dan sebotol anggur dia tangannya.

Alex hanya tersenyum kecut. Dia melewatinya begitu saja kemudian duduk di sofa dan memangku Debora.

"Apakah harus seintim ini?" bisik Debora, dia risih berada di posisi seperti ini.

"Jangan khawatir, menit berikutnya akan lebih panas dari ini," ucap Alex menatap Debora lekat.

Harusnya Alex pantas jadi artis, sama seperti dirinya. Aktingnya natural sekali, bahkan saat ini dia yang merasa malu.

"Bukankah kau yang bilang bisa memanjakan pusaka di bawah sana. Dan lakukan itu! Aku sudah membayar mahal, komplit dengan rencana balas dendam mu!" lanjut Alex dengan suara berbisik.

Ada tiga orang pria yang duduk di depan mereka. Mereka menatap sinis ke arah Debora dan Alexander. Haruskah melakukan ini di sini? Di hadapan pria yang menatap mereka tajam?

Seolah tau kegelisahan sang istri. Alexander meraih janggut lancip Debora dan mengecupnya perlahan.

"Jadi apakah aku menjadi penjantan seorang diri disini. Sepertinya cuma aku yang membawa seorang wanita." ucap Alexander.

"Panggil mereka kesini!" ucap salah satu pria.

Satu persatu wanita masuk ke kamar. Ada tiga orang wanita dengan tubuh amat menggoda. Lekukan tubuh mereka tertutup kain kurang bahan dan cukup ketat.

Debora tercengang melihat mereka. Sepertinya cuma dialah yang memakai gaun. Jantungnya berdegup kian kencang. Dia punya firasat keadaan tidaklah baik di menit berikutnya.

"Kita tukar pasangan." Salah satu pria yang lainnya bersuara. Pria tersebut memiliki rambut yang tertata rapi di rahangnya.

Seketika jantung Debora berhenti berdetak. Melayani pria yang saat ini memangkunya saja sudah menjadi mimpi buruk. Apa yang akan terjadi padanya bila harus melayani pria itu juga.

Tanpa sengaja Debora mencengkram jas Alexander. Tangannya kian bergetar dan tidak bisa di kondisikan.

Balas dendam memang hal yang terpenting dalam hidupnya. Tapi merusak masa depannya lebih jauh, bukanlah pilihan yang baik.

"Kenapa kau diam, berikan wanitamu!" lanjut pri berjenggot dengan mata menatap Debora.

Matanya sudah seperti singa kelaparan dan menatap seonggok daging yang akan dia makan bulat-bulat.

"Aku mohon, aku akan melayanimu sampai kau puas. Namun tidak dengan mereka." Debora memohon dengan wajah ketakutan.

"Apakah kau takut? Kau takut dengan mereka, tapi tidak denganku," kekeh Alexander.

"Aku takut padamu. Sekarang, ayo kita pergi dari sini," ucap Debora denga bibir bergetar.

"Sepertinya wanitaku menyetujui ide kalian," sahut Alexander menatap mata Debora yang mulai mengembun.

Mendengar ucapan Alexander membuat kaki Debora lemas. Bahkan dia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.

Pria di hadapannya saat ini memang gila. Dia seperti keluar kandang singa dan masuk kandang buaya ganas. Sengsara sekali, menyedihkan.

Tak ada yang dapat dia lakukan. Harapannya di sini adalah pria gila bernama Alexander. Sedangkan dia dengan mudahnya menyerahkan istrinya secara cuma-cuma pada ketiga pria yang menyeramkan ini.

Terdengar kekeh kemenangan yang menggema. Ketiga pria tersebut seolah puas dengan apa yang mereka dapatkan.

Debora melangkah sekuat tenaga. Langkahnya terasa berat untuk mencapai jarak yang hanya 50 meter di hadapannya.

"Ayo cantik, layani kami seperti kau melayani Suamimu itu, aku yakin kalau dia tidak sehebat kami," kekeh pria yang lain memandang rendah Alexander.

Beberapa langkah lagi Debora sampai di pangkuan pria berjenggot.

Dorr ...

Hempasan peluru melesat melewati tubuh Debora dan mendarat di tembok. Kalau peluru itu meleset sedikit saja, maka tubub Debora dan kepala pria berjenggot itu akan tercabik.

Debora terjatuh. Dia amat terkejut. Dirinya tidak tau kalau Alexander sudah menyiapkan segalanya.

Pandangannya kabur. Perlahan yang dia lihat hanya kegelapan dan kesunyian. Dia merasakan kenyamanan menyelimuti tubuhnya.

Saat dia membuka mata. Ia melihat hamparan rerumputan yang cukup luas dan ada seorang gadis kecil yang menatapnya. Gadis itu melempar senyuman manis.

'Angel'

Bab 3

Debora mulai membuka matanya. Dia melihat siluet seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya.

Debora mengucek matanya dan melihat ke seluruh ruangan. Sepertinya ini adalah hotel berkelas di lihat dari semua furniturnya yang mahal.

Perlahan Debora bangun dan bersandar di ranjang. Dan bersamaan siluet itu ajuga berbalik menghadapnya.

Pria itu melangkah mendekat dan duduk di depan Debora dengan wajah masam. Rahang tegasnya mengeras seolah menahan amarah yang membara.

Debora meneguk ludah. Dia tau apa yang akan terjadi. Bila memang rencananya harus berantakan saat ini juga, dia akan pasrah. Toh pasti akan ada jalan lain.

Dirinya tidak mau mati gila di tangan keempat pria gila tadi malam. Termasuk yang duduk di hadapannya saat ini, Alexander.

"Ternyata kau tidak bisa di andalkan," ucap Alexander menjambak rambut Debora.

Rasa sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan kejadian beberapa tahun silam. Tepatnya lima tahun sebelumnya.

Jambakan, tamparan, dan siksaan sudah menjadi makanannya setiap hari. Jadi hanya perlakuan seperti ini tidak akan membuat Debora takut.

"Kau hanya bilang melayanimu saja, bukan ketiga orang gila itu!" jawab Debora menatap Alexander.

Baru kali ini dia menemui wanita yang berani menatapnya saat marah. Biasanya wanita akan mengkerut takut saat melihat dirinya membawa pistol. Tapi apa yang terjadi saat ini? Wanita ini sangat berbeda.

Alexander mulai tertarik. Ternyata apa yang di katakan Demian benar. Wanita ini bukanlah wanita sembarangan.

Alexander melepaskan cengkeramannya. Dia tersenyum penuh arti menatap Debora. Perlahan dia membelai pipi meronanya.

"Jadi itu artinya kau tidak bisa melayani mereka, namun bisa melayaniku?" tanya Alexander membawa wajah Debora mendekat dengan jemarinya.

Debora baru sadar dia mengusik macam yang yang sedang tidur. Di udara pagi sedingin ini pastinya ada sesuatu yang sedang mencari kehangatan.

Bodohnya Debora. Harusnya dia bisa mencari alasan lain. Dan lihatlah apa yang dia perbuat? Pria gila di hadapannya sudah memperlihatkan wajah laparnya.

"Maksudku tidak seperti itu, aku hanya tidak enak badan. Jadi ..." Debora tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena jari telunjuk Alexander sudah mendarat tepat di bibirnya.

Jadi itu menyusuri gumpalan daging dengan kulit tipis berwarna merah jambu itu, sangat menggoda. Perlahan jemari itu merasakan kelembutan kulit yang lainnya dan berakhir di tulang selangka.

Debora merasakan degupan jantungnya yang kian cepat. Semua bayangan kelam mulai terputar di otaknya seolah dia sedang menonton bioskop.

Cambukan dan beberapa pria yang telah mengotori tubuhnya dengan tangan penuh dosanya itu. Debora tidak dapat melupakan saat itu.

Saat hidupnya di ambang kematian dan yang mirisnya ada nyawa yang hampir hilang akibat peristiwa menyesakkan dada itu.

"Bukankah kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Alexander yang mulai berpindah posisi mengungkung Debora.

Debora mengangguk pelan. Kenyataan memang benar. Akan tetapi tidak sesederhana itu. Ada banyak luka yang dia pendam

Jemari Alexander sudah menggeser tali yang menggantung di tulang selangka hingga selembar kain yang menutup bagian tubuh Debora melorot.

Mungkin Debora saat ini salah besar. Awalnya dia kira pria ini adalah LGBT dan tidak pernah tertarik pada wanita. Jadi tanpa pikir panjang dia menyetujui semuanya.

Yang ada di pikiran Debora hanya ... dia akan menjadi penonton film perang-perang dengan pedang yang saling serang. Namun apa yang dia alami saat ini? Pedang itu malam berbalik mencari sarungnya.

"Ayolah! Apakah aku harus menuntunmu untuk melakukan semua ini?" Alexander sudah melepas kemeja yang membalut roti sobeknya.

"A-Aku ..." Debora segera menutup mulutnya saat jemari Alexander sudah bermain di buah Peachnya.

Meskipun gerakannya sangat pelan. Akan tetapi semua sarafnya merasakan efek permainan itu. Gelombang listrik mulai menyengat tubuhnya.

"Ayolah Sayang! Bukankah kau bilang bisa bermain dengan baik? Akan aku tunjukkan bagaimana permainan seorang LGBT," kekeh Alexander yang mulai melihat perubahan raut wajah Debora.

Alexander menarik paksa gaun yang menutupi tubuh Debora hingga sobek. Semua permainan kasar ini terhenti saat terdengar dering ponsel.

Alexander segera turun dari ranjang dan melepaskan mangsanya. Dia meraih ponsel yang berada di nakas.

Tampak nomor yang dia kenal terpampang di layar ponsel.

"Semua sudah beres Tuan. Barang kita sudah kembali." ucap Pria di ujung sambungan melaporkan.

"Baiklah aku akan segera ke sana," jawab Alexander dengan seutas senyum yang menghiasi wajahnya.

Alexander menutup sambungan sepihak, dia melempar pandangan ke arah wanita yang saat ini menatapnya ketakutan.

Dia kira wanita itu cukup profesional, ternyata semua di luar dugaan. Bukankah dia sudah menikah dan pastinya tidak asing dengan hal ini?

Alexander melangkah mendekatinya, kemudian membelai rambut panjang bergelombang yang menjuntai menutupi pundaknya.

"Aku rasa kau selamat, istirahatlah!" ucap Alexander yang tersenyum penuh arti.

Dia segera meraih kemeja dan memakainya sambil melangkah keluar kamar. Kemudian menghilang di balik pintu.

Debora mencoba menenangkan hatinya yang kacau. Untuk saja Dewi Fortuna masih berpihak padanya. Dia lolos dari maut dan semoga saja dia tidak berada di posisi ini lagi.

Mata Debora menatap jam yang menempel di dinding. Jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Udara masih sangat dingin. Haruskah dia pergi sekarang?

Sepertinya itu bukan ide yang baik. Apa yang akan dia jawab saat kembali kerumah tanpa Alexander di sampingnya. Karena kenyataannya adalah ... dia istrinya.

Pada akhirnya Debora memilih untuk tetap tinggal di kamar sambil menunggu matahari terbit. Siapa tau pria gila itu akan datang kembali.

Tangan lamanya meraih tas dan mengambil ponsel. Jemari lentiknya menggeser layar. Tampak gambar anak kecil perempuan tersenyum manis kepadanya.

Dia adalah alasan terbesarnya untuk tetap hidup dan semangat. Dia juga membuatnya berani menjalankan rencana balas dendam ini.

Semua memori lama berputar kembali di otaknya. hingga membuat matanya mengembun dan meneteskan buliran bening.

Dia sudah bertahan sejauh ini. Hanya hal ranjang tidak akan menyurutkan api dendam yang bergelora ini. Debora harus kuat demi anak kecil yang sedang tersenyum cantik kepadanya.

"Momy janji akan memberikan kehidupan yang layak untukmu nak, tunggu Momy, Sayang." ucap Debora lirih sambil mengecup layar ponsel.

Debora tak mampu menahan rasa rindunya. Dia mencari salah satu kontak di ponselnya dan menggeser tombol hijau.

"Halo Nona, maaf Angel masih tidur." ucap suara wanita paruh baya di ujung sambungan.

"Iya, Bi, saya tau. Bagaimana hari-harinya kemarin?" tanya Debora lirih sambil menahan isaknya.

"Angel mulai bisa memegang pensil dan mengeluarkan suaranya Nona. Dia tampak riang kemarin. Nona Dania juga bilang kalau Nona Angel mengalami peningkatan yang menakjubkan," ucap Wanita itu dengan semangat.

"Aku tak sabar ingin segera pulang," jawab Debora. Jemarinya mulai menghapus genangan air yang membasahi pipinya dan menetes di layar ponsel.

"Apakah Nona sakit?" Wanita itu telah sadar Nonanya tidak baik-baik saja.

"Tidak, aku hanya flu. Terima kasih Bibi Lauren, kau sangat baik. Maaf selalu merepotkanmu," ucap Debora tulus.

"Minumlah rebusan jahe, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu Nona. Angel aman bersamaku. Ya sudah istirahatlah!" Bibi Lauren memutuskan sambungan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED