Bab 1

Setelah pernikahan, Syima menjadi istri yang penurut dalam segala hal tapi hanya satu hal saja yang Syima tidak bisa tinggalkan iaitu adalah pekerjaan.

Syima merupakan seorang sekretaris di sebuah perusahaan properti. Semuanya hasil dari bekerja keras Syima selama masih belum menikah hingga saat setelah menikah dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

Raihan sebagai suami Syima tidak ingin memaksanya untuk berhenti bekerja karena dia tahu itu adalah impian sang Istri.

"Mas, besok aku ada kerja di luar kota, kamu tolong urusin anak-anak ya," ucap Syima sembari mengambil roti panggang yang telah disediakan di dalam piringnya.

Biarpun sibuk bekerja Syima dan Raihan tetap menyempatkan diri untuk merawat anak-anak mereka. Apalagi dengan kehadiran adik kandung Syima iaitu Syera yang menumpang tinggal di rumah mereka karena jarak dengan tempat Syera kuliah sungguh dekat dengan rumah Syima.

"Berapa hari Sayang?" tanya Raihan sambil mengunyah roti panggang.

"Hanya 4 hari Mas, Syera nanti kamu bantuin Mas Raihan ya, sepulang sekolah jangan ke mana-mana sementara Kakak tidak ada di rumah," jawab Syima dan tidak lupa juga berpesan kepada Syera.

Syera yang dari tadi hanya menyimak obrolan sepasang suami istri itu akhirnya mengangguk.

Memang Syera sudah tahu akhirnya akan meminta dirinya untuk membantu Kakak ipar. Tapi dia tidak keberatan karena dia sadar dirinya cuma menumpang dan harus membantu kedua Kakaknya ini.

Syera melanjutkan sarapan paginya. Setelah jam sudah hampir menunjukkan 6:20 pagi, Syera bergegas pamit untuk menuju ke sekolahnya.

Jarak kampus Syera tidak jauh dan hanya memakan 10 menit menggunakan motor untuk sampai ke kampusnya. Syera masih berada di semester 4.

...

Di kampus Syera.

Syera berjalan santai menelusuri koridor yang membawanya menuju ke dalam kelasnya. Syera berada di kelas desainer dan dia juga merupakan dewi kampus.

Syera memilik rupa paras seperti gadis-gadis Eropah. Mungkin karena neneknya merupakan keturunan asli Eropah.

"Syer!" suara seperti anak kecil itu bergema di ruang koridor yang dilewat oleh Syera.

Syera menoleh ke arah suara tadi.

"Nora," sahut Syera perlahan. Nora merupakan salah satu teman Syera dari bangku SMP.

"Syer, aku kira kamu tidak masuk kelas hari ini," ucap Nora setelah berada berdekatan dengan Syera.

"Hmm, aku harus ikut ujian, Nor, kalau tidak nilaiku bakal dikurangin dan tidak akan lulus semester," jawab Syera.

"Hehhh, tumben seorang Syera rajin," sindir Nora dengan wajah mengejek.

Sampai di dalam kelas seorang siswa pria yang duduk di belakang Syera tampak menunggu kehadiran Syera.

"Syera, Sayang kamu lama sekali," ucap pria itu.

"Berhenti memanggilku Sayang, Aziz! Itu sungguh menjijikkan dan kau berhasil membuat aku ingin memuntahkan sarapanku," sahut Syera memasang wajah ingin muntah.

Aziz merupakan teman Syera dan Nora. Walaupun sebenarnya Aziz menaruh hati pada Syera tapi dia belum bersedia untuk menyatakan perasaannya apalagi Syera sering membuat wajah tidak suka jika dia memanggilnya dengan kata 'Sayang'.

"Teganya kau Syer, kurang apa lagi aku. Sudah ganteng, baik hati pula," ucap Aziz memuji dirinya sendiri.

"Tolong guys! Aku juga pengen muntah mendengarkannya," sahut Nora dengan menutup mulutnya.

Aziz menatap kedua gadis di depannya dengan jengah dan malas. Begitulah kebiasaan kedua gadis itu.

...

Jam istirehat ini Raihan keluar makan bersama teman-temannya. Raihan merupakan manager di sebuah perusahaan guci. Dia memiliki bakat dan seni yang membuatnya cepat untuk diangkat menjadi manager. Apalagi dengan sertifikat ijazah S2 yang merupakan mantan siswa jurusan seni.

Setelah sampai, dekat restoran yang mereka tuju, tiba-tiba Raihan melihat sosok wanita yang begitu dia kenal bersama seorang pria menuju ke arah hotel yang berseberangan dari restoran tempat di mana dia akan makan bersama teman-teman sekantornya.

'Itu Syima,' batin Raihan.

"Eh sorry guys aku baru teringat sesuatu ada hal penting yang harus aku urus. Kalian duluan ya," ucap Raihan lalu terburu-buru ingin pergi.

"Pak Rai, selalu saja setiap kali diajak makan sering cari alasan, ya sudah pergi urus dulu tapi kami tetap tunggu di restoran ya jangan lama-lama," sahut salah satu teman Raihan.

Raihan mengangguk dan dengan cepat dia melangkah menuju ke arah seberang jalan dan dalam diam dia membuntuti Syima istrinya bersama pria asing.

Hati dan perasaan Raihan sangat sakit apabila melihat Syima menggelayut mesra dilengan pria yang tidak dikenalinya. Tapi Raihan coba untuk tenang dan tidak gegabah.

Raihan mengeluarkan ponselnya dan menekan panggilan keluar ke nomor Syima. Cukup lama berbunyi deringan hingga pada akhirnya Syima menjawab panggilan teleponnya.

["Halo Sayang, lama sekali kamu mengangkat panggilanku,"] ucap Raihan sambil memperhatikan gerak gerik Syima.

["Halo Mas. Maaf aku lagi ada meeting sama Pak bos Mas, tidak bisa bicara lama. Mas jangan lupa makan ya,"] sahut Syima dari seberang sana.

["Oh, baiklah,"] ucap Raihan yang telah mengepalkan tangannya karena saat ini Syima jelas menipunya.

["Sampai jumpa di rumah ya Mas, aku sambung kerja dulu,"] ujar Syima lagi lalu mematikan panggilan teleponnya.

Raihan menyimpan kembali ponselnya di dalam saku jasnya. Matanya menatap tajam ke arah Syima dan yang paling menyakitkan hatinya adalah saat pria itu mencium bibir Syima dengan intens.

'Sial, Syima bermain belakang!' batin Raihan dengan penuh emosi.

Akan tetapi, Raihan tidak ingin memergoki istrinya secara terang-terangan, karena dia tidak mau membuat istri yang sangat dia cintai malu di depan umum.

'Apa mungkin karena aku membebaskan dia untuk bekerja, hingga dia tersesat seperti ini?' batin Raihan lagi.

Raihan tidak tega untuk melepaskan istrinya karena dia sangat mencintai Syima. Raihan akan coba memaafkan istrinya dan akan coba berbincang tentang pekerjaan. Raihan bertekad membawa Syima kembali ke jalan yang benar.

Raihan kembali ke kantornya dengan langkah gontai.

'Tidak semua ini bukan salah Syima tapi ini karena dia bekerja sebagai sekretaris. Ya sepertinya begitu,' gumam Raihan menyakinkan dirinya.

***

Makan malam telah disiapkan oleh pembantu rumahtangga mereka. Saat ini Raihan menatap piring kosong yang belum diisinya dengan makanan.

Raihan menghela napas panjang, terlihat sekali pada wajahnya dia mempunyai masalah.

'Syima belum pulang, apa dia masih sama pria itu huhh,' batin Raihan.

Syera yang baru saja selesai bermain game langsung saja memasuki ruang makan. Seperti biasa banyak makanan yang disediakan tapi bedanya kali ini belum ada yang menyentuh makanan tersebut.

Kedua anak lelaki Kakaknya bersama pengasuh mereka menatap bingung ke arah Raihan.

'Lah, Kak Raihan kenapa bengong sih, kasihan tu anak-anak, hmm ... tegur ahh,' batin Syera.

"Ehem, Kak Rai? Apa kakak akan memandangi makanan itu hingga makanannya bisa terbang ke piring Kakak?" Syera berdehem dan bertanya dengan sedikit sindiran.

"Err-eh maaf, kalian makan saja dahulu. Aku akan menunggu Syima pulang," jawab Raihan lalu segera beranjak dari kursi makannya.

"Kak Raihan kenapa?" gumam Syera.

Syera hanya menatap sedikit bingung tapi dia tidak mau mengambil tahu, karena bukan urusannya.

"Kita makan yuk," ajak Syera pada ponakan dan pengasuh ponakannya.

(Tbc ...)

Bab 2

Prangg!!

Malam-malam buta Syera terbangun dari tidurnya karena Syima dan Raihan terdengar sedang bertengkar. Awalnya malas untuk kepo tetapi setelah mendengar Syima sesegukan membuat Syera berlari keluar.

Syera mulai mencemaskan Syima kakaknya tetapi setelah berada di anak tangga terakhir, Syera tidak sengaja mendengar Syima membentak Raihan.

"TIDAK! Aku telah lama menginginkan pekerjaan ini Mas, tapi Mas menyuruhku untuk berhenti dan aku tidak akan pernah mau!" bentak Syima.

Raihan terkejut mendengar istrinya berani membentaknya. Baru kali ini Syima berkata seperti itu.

"Syima! Mas ini suamimu, mas tidak pernah mengajarkanmu berbicara seperti itu!" ujar Raihan.

Syima seperti orang kesurupan saat ini karena tangisannya semakin menjadi-jadi. Jika tetangga mendengar pasti akan mengira Raihan telah berlaku kasar pada Syima.

Entah kenapa Syima berperilaku seperti itu hingga Raihan semakin curiga bahwa bukan karena pekerjaan tetapi karena selingkuh Syima tidak ingin berhenti kerja.

Raihan mengepalkan kedua tanganya hingga tiba-tiba Raihan melayangkan bogem ke arah tembok dinding pembatas antara ruang makan dan ruang tamu.

Syera dan Syima sama-sama dibuat kaget karena selama ini semarah apa pun Raihan, dia tidak pernah bertindak seperti itu. Raihan memang tipe pria yang marah hanya lebih memilih diam dan tidur karena tidak mau memperpanjang masalah.

Tidak hanya sekali Raihan melayang bogem mentah di tembok dinding, tetapi berkali-kali sehingga tangannya mengeluarkan darah.

Syima hanya terpaku melihat tetapi tidak ada niat untuk menghentikan suaminya, hingga tiba-tiba Syera muncul dan menarik tangan Raihan lalu mencoba mendorong keras Raihan agar menjauh dari dinding tembok itu.

"KAK! Kakak sudah gila? Ini tangan Kakak sampai berdarah!" teriak Syera karena merasa ngeri melihat darah yang mengalir begitu banyak sehingga mengena dinding itu.

Syera menoleh menatap tajam ke arah Syima yang hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. Dia merasa aneh karena sang Kakak tidak coba menghentikan Raihan.

Raihan terlihat diam dan menundukkan wajah, rasa menyesal dan kecewa sudah menyelubungi hatinya. Tangan dan tubuh Raihan terlihat bergetar hingga dia terduduk di atas lantai, kakinya seolah tidak kuat untuk menopang bobotnya lagi.

"Kalian kenapa sih? Kak Syima, kenapa Kakak hanya di situ? Kakak tidak melihat suami Kakak ini terluka?" tanya Syera dengan pertanyan beruntun.

Syima masih tidak menjawab dia hanya diam tanpa raut cemas pada wajahnya. Jujur saja Syima sudah kehilangan perasaannya terhadap Raihan karena saat ini dia sedang memupuk benih cinta bersama sang atasannya.

"Kak?" panggil Syera lagi karena Syima tidak merespon sedikit pun ucapannya.

Akhirnya Syima menoleh ke arah Syera dengan wajah datar.

"Jangan masuk campur kamu anak kecil!" ucap Syima dingin dan berlalu meninggalkan Raihan dan Syera yang masih ada di ruang tamu itu.

Syera mendengus kesal, lalu segera menuju ke arah lemari tv untuk mengambil kotak p3k. Syera kini duduk berhadapan dengan sang Kakak ipar.

"Kak, kemarikan tanganmu," ucap Syera.

"Tidak perlu Syera," tolak Raihan dengan suara sendu.

Raihan masih berpikir waras saat ini, dia tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk bersentuhan dengan adik iparnya.

"Sini!" Syera langsung saja menarik tangan Raihan lalu meringgis ngilu.

"Sakit ya? Maaf, aku akan perlahan ya, Kak," lanjut Syera lagi.

Dengan telaten Syera mencuci luka pada jari-jari tangan Raihan yang terluka, lalu mengoleskan obat. Terlihat pada wajah Syera meringgis karena ngilu.

Raihan sempat kagum dengan kecekatan Syera, dia menatap wajah Syera curi-curi dan jujur dia sedikit terpesona.

Raihan sadar pikirannya mulai memuji Syera yang terlihat begitu cantik. Apalagi dengan rambut yang tergerai jatuh menutupi sebagian wajahnya membuat mata Raihan susah berkedip.

"Ok, sudah selesai," ucap Syera yang membuat Raihan langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah jari tangannya yang sudah tertutup oleh plaster luka.

"Terima kasih, Syera," ucap Raihan tulus.

Saat ini netra mata mereka bertemu, entah kenapa Syera seperti terhipnotis menatap mata Raihan. Syera baru sadar anak mata Raihan berwarna kecoklatan tidak seperti anak matanya berwarna hitam.

"Syer?" Raihan melambaikan tangannya di depan wajah Syera karena Syera terlihat melamun.

Setelah sadar Syera langsung berdehem dan tersenyum canggung. Lalu kembali mengemasi peralatan obat untuk dimasukkan ke dalam kotak p3k lagi.

Suasana menjadi canggung hingga Raihan coba memecahkan suasana dengan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu memberikan kepada Syera.

"Ini buat uang jajan kamu." Raihan memberikan Syera uang lembar merah sebanyak lima lembar.

"Tapi Kak, uang jajan Syera masih ada untuk bulan ini," ucap Syera.

Syera memang diberikan uang jajan setiap bulan oleh kedua orang tuanya, tidak jarang juga Syima dan Raihan sering memberikan uang jajan untuk Syera.

"Tidak apa-apa anggap saja ini uang jajan sebagai tanda terima kasih dari Kakak karena kamu membantu Kakak," ujar Raihan.

Raihan menarik paksa tangan Syera lalu diletakkan uang itu pada telapak tangan Syera. Raihan lalu tersenyum dan meninggalkan Syera yang masih berdiri kaku.

Setelah bayang-bayang Raihan tidak terlihat Syera langsung saja menyentuh dadanya.

"Kenapa aku deg-degan," ucap Syera perlahan.

Syera berjalan kembali ke kamarnya. Sampai di dalam kamar dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Syera kembali teringat senyuman Raihan tadi.

Segera dia menggelengkan kepalanya.

"Pasti aku sudah gila," ucap Syera.

Syera memutuskan untuk kembali melelapkan matanya dan melupakan pikiran anehnya.

***

Keesokan paginya Syera bangun seperti biasa karena hari ini masih hari Rabu untuk dia bersekolah. Dengan cepat Syera bersiap lalu turun untuk sarapan.

Syera melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Ah, aku sudah hampir terlambat gara-gara lambat tidur semalam," gerutu Syera sambil menuju ke meja makan lalu mengambil roti panggang 2 lembar.

Syera tidak melihat Syima di meja makan, tetapi dia tidak mau ambil pusing karena memang dia sudah terlambat. Syera pamit dengan Raihan yang masih santai memakan sarapannya.

Syera menghidupkan motor scoopy milik Raihan yang dipinjamkan padanya untuk memudahkan pergi ke kampus. Dengan kecepatan tinggi Syera langsung menuju ke sekolahnya.

"Mujur saja setelah aku masuk, bel baru bunyi kalau tidak, aku tidak bisa ikut ujian penilaian hari ini," ucap Syera.

Sewaktu hendak turun dari motor, Syera merasa seperti ada yang kurang, dia melihat sekitar motornya lalu memeriksa kantongnya tetapi tidak ada yang kurang.

Sehingga dia ingin menarik tasnya tetapi tidak menemukan keberadaan tas itu.

"Eh, tas aku?" tanya Syera pada dirinya sendiri.

Syera meraba-raba punggungnya,

"Sialan, tas aku ketinggalan," gerutu Syera merasa kesal. "Bagaimana ini, apa aku harus pulang lagi tapi kan sebentar sudah mulai kelas," lanjut Syera lagi.

Tidak ada cara lain selain terpaksa meminjam peralatan menulis pada temannya. Syera melangkah cepat menuju ke arah kelasnya agar dia bisa meminjam peralatan menulis pada Nora.

Baru saja hendak melangkah masuk ke dalam kelas, tiba-tiba ada yang memanggil Syera. Sontak Syera menoleh dan matanya membulat.

"Syera!"

(Tbc ...)

Bab 3

"Kak Raihan? Kakak buat apa di sini?" tanya Syera sedikit kaget.

Raihan menunjukkan tas Syera pada tangannya lalu dia tersenyum.

"Kakak melihat tas mu di depan pintu tadi, aku mengira kau sengaja meninggalkannya tetapi setelah Kakak memeriksa ada dompet dan ponselmu, makanya Kakak menyusul ke sini," terang Raihan agar Syera tidak merasa aneh dengan kehadirannya.

Syera menghela nafas lega,

"Terima kasih Kak, memang tadi Syera sedikit buru-buru. Maaf merepotkan Kakak," sahut Syera.

Setelah menerima tasnya dari Raihan, Syera kembali merasa dadanya kembali berdebar. Syera memperhatikan langkah Raihan yang meninggalkannya di depan kelas.

'Kenapa aku merasakan debaran yang aneh setiap kali Kak Raihan tersenyum padaku,' ucap Syera dalam hati.

"Lupakan saja!" ucap Syera perlahan lalu memasuki kelasnya.

Syima dan Raihan masih dalam keadaan bertengkar walaupun tidak ada lagi perkelahian, keduanya masih keras kepala untuk mengalah. Malam ini, Raihan mencoba untuk berbaikan dengan sang Istri tapi sang Istri masih berkeras mendiami dan mencueki Raihan.

Raihan masih sangat mencintai istrinya tetapi kesalahan yang istrinya lakukan membuat dia menjadi pemarah seperti ini. Walaupun telah coba mengalah tetapi emosi di dadanya masih ada kala mengingat Syima berselingkuh.

"Syima, mas masih suami kamu! Apa kami tidak rasa berdosa karena mendiami mas seperti ini?" tanya Raihan yang coba mengingati Syima.

"Ck, gara-gara Mas, aku seharusnya mendapatkan proyek besar hari ini tapi gagal!" decak Syima dengan raut wajah marah.

"Itu Cuma pekerjaan Syima, apa yang paling penting dalam hidupmu sekarang hah? Pekerjaan? Lalu keluarga yang butuh perhatianmu bagaimana?" tanya Raihan nada kesal.

"Semua ini impian aku Mas!" jawab Syera meninggikan suaranya.

Raihan semakin kesal karena Syima tidak sedikit pun ingin mengerti perasaannya dan urusan keluarga kecil mereka. Ingin sekali dia memberitahu tentang apa yang dia lihat tetapi dia masih ingin memberi Syima kesempatan karena dia yakin suatu hari nanti Syima pasti menceritakannya sendiri dan sadar akan kelakuannya.

Raihan akhirnya keluar dari kamar mereka, dia malas harus berdebat terus menerus. Raihan memilih keluar untuk mendinginkan kepalanya.

Sewaktu Raihan berjalan menuju dapur, dia bertemu dengan Syera yang juga sedang menuju ke arah dapur.

Raihan menatap punggung Syera yang berjalan di hadapannya.

'Andaikan Syima seperti Syera, yang terlihat perhatian kepada ku, pasti keluarga kecilku sangat bahagia,' ucap Raihan dalam hati.

Tanpa sadar Raihan membandingkan Syima dan Syera, apalagi mengingat kejadian kemarin Syera membantu mengobati lukanya.

"Eh Kak, Kakak mau minum juga?" sapa Syera hingga lamunan Raihan membuyar.

"I-iya Syer," jawab Raihan.

"Oh, Kakak mau minum apa? Kebetulan Syera mau buat coklat hangat, mau sekalian Syera buatkan minuman?" tawar Syera ramah.

"Terima kasih Syer, tapi Kakak hanya ingin meminum air dingin," jawab Raihan lalu membuka kulkas di dalam dapur itu.

"Loh, inikan sudah hampir jam 10 Kak. Kakak tidak takut masuk angin? Lagian tidak baik minum minuman dingin di malam hari," tutur Syera memperingatkan Raihan.

Raihan kembali menutup Kulkas lalu menatap Syera dengan tersenyum. Raihan baru sadar, Syera menggunakan piyama tidur yang berbahan tipis hingga bentuk tubuhnya terlihat di bawah lampu yang sedikit maram.

'Syera tidak menggunakan pakaian dalam!' batin Raihan yang jelas melihat warna kecoklatan pada dada Syera dan bagian bawah yang berbentuk huruf V.

Raihan meneguk air liurnya dengan bersusah payah karena pemandangan ini. Tiba-tiba saja dia merasa panas dingin, apalagi sudah hampir sebulan dia tidak pernah berhubungan badan dengan Syima.

"Kak?" Syera melambaikan tangannya di depan wajah Raihan karena Raihan terlihat melamun lagi dan lagi.

"I-iya," jawab Raihan setelah lamunannya membuyar.

"Kakak ada masalah? Dari tadi Kakak melamun terus. Apa masih marahan dengan Kak Syima?" ucap Syera menebak masalah yang Raihan hadapi.

Raihan hanya mengangguk, entah kenapa berat untuk menjawab karena sebenarnya dia melamun bukan memikirkan masalahnya dengan Syima tetapi dia tiba-tiba tertarik dengan penampilan Syera yang membuat napsu manusiawinya bangkit.

"Pantas Kakak minum air dingin pasti mau mendinginkan kepala, hmm maaf kalau Syera sedikit lancang Kak. Tapi ada baiknya Kakak mengalah saja karena Kak Syima begitu obses dengan pekerjaannya, semua ini demi kebaikan rumahtangga kalian," saran Syera yang coba menasihati sang Kakak ipar.

Raihan kembali berpikir, dia tidak mungkin membiarkan Syima terus terjerumus ke dalam dunia maksiat, tetapi tidak dipungkiri pikirannya semdiri sudah membayangkan tubuh Syera yang polos sedang berada di atas dirinya.

Cukup lama Raihan berdiam, karena bergelut dengan pikirannya sendiri. Hingga dia menemui solusi yang menurutnya lebih tepat.

'Syim, kau kira kau saja bisa selingkuh? Kau tunggu pembalasanku, akan aku jadikan Syera tempat wadah membalas dendamku!" ucap Raihan dalam hati.

Raihan tiba-tiba tersenyum tipis dan kembali ke kamar setelah berpamitan dengan Syera yang masih sibuk membuat coklat hangatnya.

Hal itu membuat Syima begitu bahagia dan sedaya upaya dia coba mengambil hati Raihan agar terus baik padanya ke depan agar Raihan tidak berubah pikiran.

Pagi ini, Syima ikut membantu menyiapkan sarapan pagi. Raut wajahnya terlihat begitu sumringgah, entah apa yang dipikirkan Syima hingga membuatnya begitu bahagia.

Setelah selesai sarapan.

"Mas, besok aku ada rapat di luar Kota. Mungkin sekitar 5 hari menginap, aku izin ya Mas. Nanti saat aku tidak ada di rumah, Syera yang akan membantumu melihat anak-anak," ucap Syima dengan tersenyum manis.

"Syera, kamu kalau sudah pulang sekolah jangan main ke mana-mana dulu. Apalagi, Bibik pulangnya jam 7 malam. Ingat ya, jangan ke mana-mana," pesan Syima dengan sedikit tegas.

Padahal selama ini memang Syera yang selalu membantu menjaga ponakannya biar tanpa pesan dari Syima maupun Raihan karena Syera sadar dirinya hanya menumpang di dalam rumah ini.

Raihan hanya mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi dan terlihat datar, dia hanya bisa menebak bahwa Syima bukan pergi bekerja tapi pergi untuk bersenang-senang.

"Syima pamit ya Mas, sudah telat." Syima menyalami tangan Raihan lalu menciumnya singkat dan berlalu pergi begitu saja tanpa mencium anak-anaknya seperti biasa.

Raihan melihat punggung istrinya yang kian menjauh, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

'Kau akan menyesal Syima!' batin Raihan.

Sedangkan Syera sedikit gembira karena Syima akan berada di luar Kota untuk beberapa hari ini. Syera berpikir dia akan bebas dari Syima dan akan bersenang-senang.

Dalam diam Syera memperhatikan Raihan yang tersenyum sambil memakan sarapan paginya, Syera juga ikut tersenyum, akhirnya dia fokus menghabiskan sarapannya dan pamit kepada Raihan.

*

Di kawasan kampus, Syera terlihat begitu ceria dan tidak seperti hari biasa yang cenderung terlihat malas. Hal ini membuat Nora sedikit khawatir.

'Apa jangan-jangan Syera kesurupan lagi,' batin Nora yang memperhatikan Syera dengan wajah begitu ceria dan ramah kepada semua orang.

Syera menoleh ke arah Nora yang masih menatapnya.

"Kenapa Nor? Apa ada sesuatu di wajah aku?" tanya Syera sambil mengusap wajahnya menggunakan sapu tangan miliknya.

"Tidak ada, hanya saja kau terlihat berbeda hari ini Syer," jawab Nora masih betah menatap Syera.

Syera tiba-tiba tersenyum, dia merengkuh pundak sang teman lalu membawanya kembali ke kelas mereka.

Bersambung..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED