Hujan begitu derasnya mengguyur seluruh kota Jakarta, beberapa manusia kalang kabut mencari tempat berteduh agar tak terkena hujan. Terlihat seorang gadis cantik, rambut panjang terurai dengan mata sipit dan senyum yang menawan, tengah berdiri di teras rumah sakit Harapan Jaya menatap langit yang mendung karena hujan. Ia memejamkan matanya seakan menikmati setiap rintik hujan yang membawanya pada masa lalu yang penuh kebahagiaan. Setiap detik bahkan setiap menit ia sangat merindukan sosok yang sangat ia cintai, cinta pertama yang ia kenal sejak lahir, namun takdir berkata lain. Sosok itu malah pergi meninggalkan dirinya saat masih berusia 17 tahun. Saat di mana dirinya membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah, dimanja ayah dan dipeluk ayah. Harapan itu harus kandas ditangan seorang pelakor, wanita yang tega merebut suami ibunya, wanita yang tega merebut kebahagiaan seorang anak, wanita yang telah merampas semua harapannya.
Sebulir air hangat menetes kepipinya yang mulus, ia membuka matanya yang memerah karna menangis merindukan sosok ayahnya. Bibirnya gemetar, matanya berkaca-kaca, ia menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya, berharap hujan menutupi semua kesedihan yang tengah ia rasakan.
“Dokter, ada pasien yang harus ditangani sekarang.” seseorang baru saja mengagetkannya dengan tergesa-gesa
Segera dihapusnya air mata dan ia pun menoleh ke sumber suara “Bukankah Dokter Arman yang bertugas hari ini?” tanya gadis itu
“Dokter Arman di Singapura, Dok. Beliau sedang seminar dengan dokter senior.”
“Kenapa tidak memanggil Dokter Metha saja?”
“Dokter Metha sedang berada di luar kota, Dokter.”
Gadis itu kembali menatap jalanan yang basah akibat hujan deras tadi. Meski hujan mulai reda, ia bahkan enggan untuk melangkah dari sana. Niatnya untuk mencari sang ayah kembali ia urungkan, mengingat wajah wanita iblis yang tega merampas kebahagiaannya. Dendam ibunya yang belum sempat ia balaskan, kebenciannya pada wanita itu melebihi kebenciannya pada sang ayah. Meski rindu, terpaksa disembunyikan. Gadis itu tak mau terlihat lemah dimata orang yang mengenalnya, ia ingin terlihat kuat meski hatinya hancur.
“Dokter, pasien baru saja mengalami kecelakaan dan butuh penanganan sekarang,” lanjut suster Eva dengan raut muka khawatir.
“Baiklah, Sus. Lima menit lagi aku ke dalam.” Gadis itu berkata tanpa menoleh ke belakang.
Pandangannya tertuju ke seberang jalan yang terdapat taman kota yang asri dan sejuk. Banyak anak-anak yang bermain di sana setelah hujan reda. Gadis itu mengusap lembut pipinya yang kembali dibanjiri air mata dan meninggalkan tempat ia berdiri semula.
Leddy Andriani, dokter muda yang cantik dan menawan ini tengah berjalan di lorong rumah sakit tempat ia bekerja. Leddy menuju ruangannya untuk mengambil beberapa alat untuk memeriksa pasien dan melangkah menuju IGD tempat pasien yang baru mengalami kecelakaan. Dokter Leddy segera melakukan pemeriksaan akustik dengan menggunakan Stetoskop, matanya terbelalak mendapati detak jantung pasiennya begitu lemah.
“Suster, segera persiapkan ruang operasi. Kita harus melakukan tindakan cepat untuk pasien ini!” perintahnya pada suster Eva
“Tapi, Dok. Apa kita tidak meminta persetujuan dulu dari keluarganya?” suster Eva menatap dokter Leddy dengan penuh tanda tanya.
“Apakah pasien diantar keluarganya?”
“Tidak dokter, pasien hanya diantar supir taxi.” ia menatap supir itu dengan sudut matanya.
“Kalau begitu, kita tidak perlu menunggu keluarganya. Pasien harus segera ditolong.” Leddy menatap suster Eva dengan penuh keyakinan.
“Baik, Dok.”
Suster Eva berlalu meninggalkan ruangan itu begitu pun dengan dokter Leddy yang bergegas ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian operasi, lengkap dengan sarung tangan dan masker menutup hidung.
Setelah persiapan operasi selesai, suster Eva dan beberapa suster lainnya mendorong bed pasien ke ruang bedah. Di sana pasien dipasangi nebulizer untuk membantu pasien bernapas selama proses operasi dan beberapa alat lainnya seperti electrosurgical unit yang berfungsi untuk mengurangi keluarnya darah yang akan mengganggu proses operasi nantinya.
Sebab pasien mengalami luka yang cukup parah akibat kecelakaan yang merenggut seluruh anggota keluarganya. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan dihantam truk yang melintas dari arah yang berbeda. Beling kaca mobil itu tertancap tepat mengenai bagian wajah bawah mata kirinya, yang mengharuskan dokter Leddy untuk mengambil tindakan nekat ini.
“Semua siap?” Dokter Leddy baru saja memasuki ruangan itu setelah mensterilkan pakaian dan tangannya.
Meski gugup, Leddy berusaha untuk menolong pasiennya yang malang itu. Bahkan, ia siap menerima konsekuensi dari Pimpinan karena mengambil resiko terlalu besar.
“Persiapan sudah siap, dokter.” Suster Eva menghampiri dokter Leddy yang terlihat ragu untuk melakukan tindakan itu.
Setelah memantapkan hatinya, dokter Leddy melirik suster Maya dan memberi isyarat kepadanya. Suster Maya mengangguk dengan pasti dan berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu tanda operasi. Suster Eva meletakkan kain Linen ke wajah pasien yang akan di operasi.
“Scapel.” dokter Leddy meminta pisau operasi kepada suster Eva dan memulai pembedahan itu.
Dengan penuh hati-hati, dokter Leddy merobek sedikit demi sedikit bagian bawah matanya. Jika ceroboh, maka operasi akan gagal karena beling itu tepat di bawah matanya yang dekat dengan bola mata. Darah mengalir saat dokter Leddy membedah bagian itu yang kemudian dibersihkan oleh suster Eva.
“Forceps.” suster Eva memberikan alat operasi yang diminta dokter Leddy untuk membuat luka bedah sedikit menganga, agar memudahkannya untuk mengangkat benda yang bersarang di wajahnya itu.
“Pinset,”
Leddy meraih pinset yang diberikan suster Eva, dengan berhati-hati ia mengangkat beling itu agar tak terjadi pendarahan. Namun, semua di luar ekspetasinya, saat beling itu terangkat darah di wajah itu muncrat ke muka Leddy. Ia terkejut dengan noda darah yang menempel di wajahnya. Dengan sigap suster Eva membersihkan noda darah itu dan keringat dokter Leddy.
“Dokter, baik-baik saja?” tanyanya pelan yang diikuti anggukan dokter Leddy.
“Kita lanjutkan,” ucapnya sembari meletakkan beling itu di baki steril.
“Dokter, pimpinan akan segera datang.”
Leddy terkejut mendengar bisikan suster Maya tentang kedatangan pimpinan. Ia menelan ludahnya dan menatap podium yang bersebelahan dengan ruang operasi, hanya kaca sebagai pembatasnya. Leddy menatap pimpinan yang melotot tajam kearahnya.
“Semua akan baik-baik saja, sayang. Kamu pasti bisa, karena kamu wanita yang kuat.” Suara ibunya menggema ditelinganya, Leddy kembali fokus pada pasien yang ada di depannya.
Dibulatkan tekad, dimantapkan hatinya lagi untuk menyelamatkan pasiennya, “Bantu aku dengan doamu, Ibu,” lirihnya dalam hati. Ia menekan luka itu dan menjepitnya dengan suture forceps agar memudahkan proses penjahitan.
“Dokter, detak jantungnya lemah,” ucap suster Maya yang bertugas untuk memantau pasien monitor.
Pimpinan yang mendengar itu meminta dokter Farhan untuk menghentikan tindakan dokter Leddy. “Cepat hentikan gadis itu,” ucapnya geram.
“Kita beri dia waktu untuk menyelesaikan tugasnya.” Dokter Farhan masih setia memandang Leddy yang berusaha untuk menyelesaikan tugasnya.
“Aku bisa ibu, aku pasti bisa. Aku berjanji padamu untuk menolongnya apapun yang terjadi, restui aku ibu, doakan agar putrimu ini berhasil menyelesaikan tugas berat ini,” Batin Leddy.
Meskipun ia seorang dokter, tapi hatinya mudah rapuh ketika melihat orang sekarat di depannya. Ia kembali fokus, ia mengaktifkan defibrillator agar bisa mengembalikan irama jantung pasiennya ke fase normal. Usahanya tidak sia-sia, detak jantungnya kembali normal.
“Syukurlah.” Leddy bernapas lega dan menyeka keringat dan air mata yang sempat menetes.
“Kita lanjutkan, dokter?” tanya suster Eva.
“Kita bisa suster, kita pasti bisa. Mari kita selesaikan,” Balas Leddy yang diikuti senyuman dari suster Eva.
Ia mulai menjahit luka itu dan dilanjutkan oleh suster Eva. “Kamu lanjutkan, aku tau kamu bisa,” lanjutnya sembari meninggalkan ruang operasi.
Selepas keluar dari ruang operasi, Leddy melepas masker yang menutup hidungnya dan bergegas ke ruang ganti. Namun, ia dicegat oleh pimpinan yang tengah meredam amarah.
“Kenapa kamu melakukan itu, dokter Leddy?” tanyanya dengan mata melotot.
“Aku melakukan apa?” balas Leddy dengan tenang. Karena merasa tidak melakukan kesalahan, ia membuang muka ke kanan.
“Saya tunggu surat pengunduran mu 2 jam lagi.” Pimpinan yang kesal dengan sikap Leddy yang tak mengacuhkan, malah memecat dokter Leddy tanpa alasan.
Dokter Farhan yang berada di sana kaget mendengar pimpinan yang dengan cepat mengambil keputusan memecat dokter terbaik di rumah sakit itu. “Tapi, kenapa dipecat, Pak?” tanyanya tak percaya.
“Aku tidak melakukan kesalahan apapun, lantas mengapa aku harus memberikan surat pengunduran diri itu.” Leddy menatap pimpinan tajam.
“Kamu mengambil keputusan yang bisa membahayakan nyawa pasien. Kenapa tidak menghubungi dokter senior dulu, apa kamu pikir kamu sudah hebat dengan melakukan tindakan berbahaya tadi?” bentaknya.
Leddy tersenyum sinis dan melangkah pelan mendekati pimpinan yang tengah berkacak pinggang. “Apa kamu pikir aku dokter ceroboh? Atau kamu sengaja mencari kesalahan agar dapat menyingkirkanku dari sini?” Bisiknya pelan.
“Dengar pimpinan yang terhormat, aku tidak akan menyerahkan surat itu,” ucapnya berlalu.
“Kau akan menyesal Leddy,” teriak pimpinan yang mengalihkan seluruh pandangan karyawan dan pasien yang berlalu lalang.
Leddy menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap pimpinan yang telah mengangkat bendera perang dengan dirinya. “Benarkah? Seharusnya Bapak berpikir dulu sebelum bertindak, jangan membuat amarahku memuncak. Bapak tahu sendiri, kan? Jika aku sudah marah, semua rahasia Bapak pasti akan diketahui oleh seluruh dunia,” ucapnya sembari mendekat.
“Seharusnya kamu bersyukur aku masih peduli denganmu. Berbeda dengan ayahmu yang menghilang entah kemana.”
Pernyataan pimpinan berhasil membuat Leddy terluka, bahkan luka lama itu kembali menganga. Ia kembali menatap pimpinan yang tersenyum kearahnya, tangannya mengepal ingin memukul wajah pimpinan yang terlihat menjijikkan itu. Namun, dokter Farhan menahan tangannya yang gemetar.
“Lain kali jangan mengambil tindakan yang bisa membahayakan nyawa pasien,” bisiknya.
“Lantas, apa kabarnya dengan ibuku? Bapak bahkan membiarkannya sekarat di UGD tanpa ada penanganan, Bapak pikir aku tidak tahu? Aku tahu semuanya, Bapak sengaja membunuh ibuku agar bisa merebut harta kekayaan kakek yang seharusnya jadi milikku,” Teriak dokter Leddy yang meluapkan semua amarah yang selama ini dipendamnya.
Bibirnya bergetar, tangisnya menjadi jadi mengingat sang ibu yang harus meregang nyawa ditangan pamannya sendiri. Paman yang selama ini jadi inspirasinya, paman yang begitu disayanginya, paman yang selalu ada saat dirinya membutuhkan sosok ayah. Namun, kenyataan pahit itu harus diterimanya, bahwa pamannya lah yang telah membunuh ibunya, pamannya yang memisahkan ia dengan ibunya.
“Aku melakukan tindakan yang benar, Paman. Aku tidak mau yang terjadi pada ibuku, juga terjadi pada orang lain,” lanjutnya terisak-isak.
Kali ini suara Leddy seperti tercekat, ia menutup wajahnya dan kemudian menghapus air mata itu. “Dokter senior tidak ada di sini, apa aku harus melihat dia meregang nyawa seperti halnya ibuku? Maaf Paman, jika itu yang Paman inginkan aku tidak bisa.” Leddy berbalik meninggalkan pimpinan bersama dokter Farhan yang menatap punggungnya menghilang dilorong rumah sakit.
***
Leddy berjalan gontai memasuki ruang kerjanya, tangisnya bahkan belum reda. Air mata itu terus saja mengalir ketika melihat frane foto ibunya di atas meja kerjanya. Leddy sosok anak yang sangat menyayangi ibunya, bahkan ia tahu ibunya tengah bersedih saat ditinggal ayahnya.
Ia meraih frane itu dan memeluknya erat, “Ibu,” isaknya.
Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tengah menatapnya dari luar. Leddy saat ini sangat merindukan ibunya, ia merindukan kasih sayang sang ibu, merindukan kekonyolan ibunya, semua ia rindukan. Selama ini ia menahan tangisnya meski ia merindukan kenangan itu, “Bawa aku pergi , Ibu,” lirihnya seketika mengusap foto ibunya yang tersenyum.
Ponselnya bergetar menandakan pesan WA masuk, ia meraih benda itu sembari mengusap pipinya yang dibanjiri air mata.
“Sayang aku di luar, kamu sudah selesai bertugas, kan?”
Ia meletakkan kembali ponselnya dan menatap frane foto ibunya, “aku janji akan membalaskan dendammu Ibu, tunggu saja. Akan kupastikan bajingan itu mendapat balasan yang setimpal,” batinnya.
Leddy kemudian keluar dari ruangannya dan menuju parkiran. Di sana ia melihat kekasihnya menunggu dirinya, gadis itu tersenyum ketika Mahe pacar Leddy melambaikan tangan kearahnya.
“Sayang, maaf, aku tadi ada operasi,” ucapnya ketika menghampiri Mahe.
“Iya, sayang. Aku mengerti, kok. Sampai malam pun aku pasti menunggu,” balas Mahe dengan sebuah senyum yang berhasil membuat hati Leddy meleleh.
“Kita jadi, kan, mencari ayahmu?”
Perkataan Mahe membuat senyum di wajah Leddy kembali memudar, “lain kali saja, sayang. Aku lelah,” ucapnya sembari masuk ke dalam mobil Mahe.
***
Senja pun datang, matahari tak lagi menampakkan diri setelah berganti malam yang penuh dengan bintang. CRV putih tampak melaju membelah jalan kota Jakarta yang ramai dengan kendaraan lainnya berlalu-lalang. Mahe masih setia memandangi wajah gadisnya dan sesekali melirik ke depan agar mobilnya tidak oleng.
“Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Mahe yang memecah keheningan. Sedari tadi, mereka hanya diam tanpa ada yang berani membuka percakapan terlebih dahulu.
Leddy mengangguk pelan, “aku yakin.” Ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.
Mahe paham sekali dengan keadaan Leddy saat ini, ia hanya perlu menyokong gadis itu agar Leddy bisa melupakan semua kesedihannya. Sejak beranjak dari rumah sakit tadi, Leddy menangis di dalam mobil Mahe yang membuat pria itu bingung. Bahkan, bertanya pun Mahe tak mampu. Mahe ingin memberikan ruang pada Leddy untuk menumpahkan semua rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.
“Kita makan dulu, ya?” Mahe kembali bersuara
“Aku tidak lapar.”
“Aku takut kamu sakit, Leddy. Sedari tadi kamu belum makan, aku nggak mau terjadi apa-apa padamu.” Mahe terlihat khawatir.
“Aku lelah, Mahe. Aku mau pulang, tolong jangan paksa aku.” Leddy menoleh dengan mata berkaca-kaca, kelopak matanya terlihat sembap, entah ia sedih dengan ucapan pamannya atau ia merindukan ibunya.
“Baiklah.”
Mahe melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Leddy. Rumah yang terletak di komplek perumahan elit dengan corak batik warna merah keemasan. Leddy bergegas turun dari mobil Mahe ketika mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya.
“Kamu istirahat, ya. Jangan memikirkan apapun lagi, kamu harus jaga kesehatan. Aku sayang kamu.” Mahe mengecup lembut kening Leddy.
“Hati-hati, ya.” Balas Leddy yang berusaha memberikan senyum terbaiknya.
***
Leddy masuk ke dalam rumah saat mobil Mahe menghilang dari pandangannya. Dengan raut wajah yang sedih, Leddy menuju kamarnya dan merebahkan diri di kasur empuk miliknya untuk melepas lelah. Pikirannya kacau dan menerawang menatap langit-langit kamar yang dihiasi bintang kecil berkelip-kelip hasil dekorasi ibunya. Sebulir air mata sempat menetes meratapi kehidupannya yang sekarang. Namun, detik itu juga langsung dihapusnya.
Leddy kemudian bangkit dari kasurnya dan menuju ke jendela kamar. Gadis itu menatap halaman rumah yang sering jadi tempat bermain baginya dan juga sang ayah. Namun, kini hanya tinggal kenangan yang tersisa dalam hidupnya, gadis itu tak lagi merasakan indahnya kasih sayang dari seorang ayah sejak perempuan itu hadir. Kehidupannya berubah total karena wanita itu, wanita yang telah merampas kebahagiaannya. Masa lalu ayahnya adalah seorang pengusaha barang antik yang bisa dibilang sukses, beliau memiliki rekan kerja yang banyak. Bahkan, cabang perusahaannya ada di mana-mana termasuk luar negri, sekarang ayahnya menghilang entah ke mana.
Leddy menutup gorden, lalu duduk di kursi, dia mengambil album kenangan di dalam laci meja riasnya. Sudah lama dia tidak melihat album itu, dibukanya album yang tampak usang dan berdebu itu, kemudian dia tersenyum tatkala melihat foto kebersamaannya dengan ayah dan ibunya.
“Ibu, andaikan ibu ada di sini, pasti ibu nggak akan membiarkan air mata ini menetes, Bu. Semuanya jahat, nggak ada satu pun yang mengerti aku. Bantu aku untuk menapaki Bumi yang kejam ini, Bu, aku mohon bantu aku.” Leddy menangis ketika melihat foto ibunya yang tengah membersihkan lukanya akibat jatuh dari sepeda.
***
Seulas senyum tergambar jelas di wajah Mahe, sekarang pria itu sedang menikmati udara segar malam dari balkon. Kedua tangannya menggenggam pembatas pagar yang terbuat dari stainless. Mahe memandang langit yang enggan menampilkan hiasannya, udara yang dingin membawa pikirannya ke mana-mana, pria itu mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Leddy. Pertemuan tak di sengaja saat dirinya depresi mengetahui calon istrinya mengalami kecelakaan. Sekilas terlintas wajah calon istrinya yang tengah menari-nari di dalam benaknya.
“Kamu di mana, sayang?” batinnya
“Bantu aku agar bisa melupakanmu. Sejujurnya aku masih mencintaimu.”
Tanpa disadarinya, ada seseorang yang sedang menunggu panggilan masuk darinya. Mahe menghela napas panjang, gerimis datang membasahi jalanan perlahan-lahan. Mahe memutuskan untuk berpindah tempat meninggalkan balkon menuju kamarnya.
Seperti biasa Leddy tiba di rumah sakit pukul 8 pagi untuk memeriksa kondisi pasien yang dioperasinya.
“Leddy.” Suara itu menggema di lorong rumah sakit yang terlihat sepi
Leddy kemudian menoleh ke belakang. “Metha,” teriaknya ketika mendapati sahabatnya berdiri tak jauh di belakangnya.
“Lo apa kabar, Led?” tanyanya setelah menghampiri leddy
“Lo kapan balik, kok nggak beritahu gue, sih,” dengusnya kesal
Gadis itu memeluk sahabat kecilnya sekaligus rekan kerja di rumah sakit itu. Sejak ditinggal pergi ayahnya, Leddy sering bermain dengan Metha untuk menghilang rasa sakit yang sempat ditorehkan ayahnya.
“Kemarin gue balik. Led, gue punya berita bagus buat lo,” ujar Metha melepaskan pelukan Leddy
“Berita apa?” tanya Leddy penasaran
“Tadi gue ketemu sama Pimpinan, dan Beliau bilang hari ini akan kedatangan mahasiswa magang. Lo dan gue diminta untuk membimbing mereka.”
Leddy mendengar itu meninggalkan Metha yang kebingungan melihat sikap Leddy yang dingin. Gadis itu pun mengikutinya hingga ke ruang kerja Leddy.
“Led, lo nggak apa-apa, kan?”
“Gue nggak apa-apa kok, Tha,” jawabnya singkat
“Lo habis nangis, Led?” tanya Metha yang baru menyadari mata Leddy yang sembap
“Nggak, siapa juga yang nangis,” balasnya cuek tanpa menoleh sedikit pun ke arah Metha
“Jangan bohong, Led. Gue tahu siapa lo, apa lo bertengkar dengan Mahe?”
Leddy melemparkan tatapan tajam ke arah Metha, yang membuat gadis itu tak berkutik sedikitpun.
***
Tepat pukul 10 pagi, Mahasiswa magang dari Fakultas kedokteran itu tiba di rumah sakit tempat Leddy bekerja. Jumlah mereka ada lima orang, tiga perempuan dan dua lelaki. Mereka tersenyum menatap rumah sakit terkenal itu saat turun dari mobil kampus.
“Nggak nyangka kita bisa magang di sini, guys,” ucap perempuan berambut lurus sebahu itu kegirangan
“Iya, rasanya seperti mimpi bisa menginjakkan kaki untuk bertemu dengan dokter senior!” seru teman lelakinya
Pagi itu, cuaca sangat cerah sekali, matahari dengan senang hati menyinari bumi yang sempat diguyur hujan semalam. Kelima mahasiswa itu berjalan menuju meja receptionist untuk menanyakan dokter senior yang akan membimbing mereka di sini.
“Pagi suster cantik, kenalin namaku Albert Fahrozi. Aku keturunan Jawa dan Madura, nama suster, siapa?” tanya pria itu dengan penuh percaya diri.
Keempat temannya melongo dan saling menatap keheranan satu sama lain. Kebiasaan Albert dari dulu hingga sekarang belum berubah juga, kepercayaan diri yang tinggi dan sok kenal dengan orang yang baru bertemu dengannya.
“Yang nanya namamu, siapa?” Suster Mira menatap Albert dengan sorotan tajam
“Nggak ada, sih. Hanya memberitahu suster kalau aku ini keturunan Jawa dan Madura. Siapa tahu kita jodoh,” sahutnya asal
“Cuma keturunan Jawa, namanya sok kebaratan.” Suster Mira memalingkan wajahnya ke jas putih yang dipakainya saat itu.
“Memang barat, sus. Jawa Barat.” Pria itu menyengir menampilkan sederetan gigi putihnya
“Maaf, Sus. Kedatangan kami ke sini untuk pratik lapangan. Kami dari Fakultas kedokteran, kami sudah ada janji dengan dokter senior.” Celetuk pria berkulit putih, memiliki badan yang tegap, berambut gelap sembari menggeser tubuh Albert ke samping kanannya.
“Bilang dong, jangan bertele-tele gitu,” sindir Suter Mira menatap Albert di sudut matanya
Suster Mira tampak menelepon seseorang dan kemudian gagang telepon itu kembali diletakkan ke tempat semula. “Langsung saja ke ruangan Dokter Metha. Dari sini kalian lurus, kemudian belok ke kiri, nanti ada ruang pemeriksaan anak dan dari situ lurus lagi, nah ruang Dokter Metha berpapasan dengan bangsal itu.”
“Baik, Sus. Terima kasih, ya,” ucap mereka serempak
Mereka pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit sesuai arahan dari suster Mira. Tempat itu tampak ramai karena pasien mulai berdatangan untuk berobat. Ada ke poli bedah, poli THT, poli anak, poli jantung dan poli lainnya yang tak lepas dari pasien. Vera, salah satu mahasiswa magang menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu pasien yang duduk di kursi roda, tengah menunggu antriannya.
Gadis itu tampak memperhatikan pasien dari atas hingga ke bawah. Banyak pertanyaan terlintas dibenaknya ketika melihat gadis kecil itu tanpa sehelai rambut. Vera teringat akan ibunya yang juga mengalami hal serupa.
“Apakah dia menderita penyakit yang sama dengan Bunda?” batinnya
Vera berniat untuk mendekati gadis kecil itu, namun, niatnya dihalangi oleh Ruli, teman sekampusnya.
“Jangan sekarang.” Ruli menggeleng menahan tangan Vera yang hendak menyentuh gadis itu.
Vera mengangguk paham dan mengikuti langkah Ruli hingga mereka tiba di depan ruang kerja Dokter Metha.
“Permisi, dokter.” Ruli mengetuk pintu itu dengan sopan.
“Masuk,” sahutnya dari dalam.
“Kami mahasiswa magang dari Fakultas kedokteran, dokter.” Ruli menunduk hormat ketika berada dalam ruang kerja Dokter Metha, yang diikuti oleh keempat temannya.
Metha tersenyum, “Selamat datang di rumah sakit kami. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik, dan kalian akan dibimbing oleh dokter terbaik di sini dan juga saya akan mengambil bagian dalam bimbingan itu.”
“Terimakasih, Dokter,” balas Ruli dengan senyuman
Tok!Tok!Tok!
Seketika pandangan mereka teralih ke pintu ruang kerja dokter Metha yang terbuka
“Tha, sorry. Gue langsung masuk saja, lo sih kelamaan bukanya.”
Kelima mahasiswa itu terpana melihat seorang gadis cantik yang baru saja memasuki ruang itu. Pandangan mereka tak sedikit pun lepas dari paras cantik dokter Leddy. Memang, selain berbakat, Dokter Leddy juga sangat cantik. Banyak dokter dan suster perempuan yang iri padanya, banyak juga dari mereka yang berusaha memusuhi dokter Leddy agar dia berhenti dari rumah sakit itu.
“Nggak apa-apa, Led. Mahasiswa magang juga baru datang ke sini.” Dokter Metha tersenyum dan kembali menatap mereka satu-persatu.
“Mereka hanya berlima?” tanya dokter Leddy
“Iya, Dokter. Kami hanya berlima, saya Vera dan ini teman saya Kaffa, Albert, Ruli dan Monika.” Vera memperkenalkan temannya satu-persatu yang diikuti salam hormat dari mereka berempat.
“Baiklah, mulai hari ini kalian ikut saya dan Metha untuk memeriksa beberapa pasien yang kami tangani. Jangan membuat kesalahan apapun, apalagi melakukan kecerobohan yang bisa membahayakan nyawa pasien. Paham!” dokter Leddy menatap mahasiswa magang lekat-lekat.
“Paham, dokter.”
***
Mahe mendaratkan diri di kursi tamu ruang kerjanya, setelah mengalami perjalanan yang penuh kemacetan. Akibatnya, pria itu telat datang ke kantor dan dimarahi oleh Direktur tempat dia bekerja. Hari ini, pria itu enggan untuk bekerja, dikarenakan bayangan calon istrinya yang terus menerus melintas dalam pikirannya. Seketika Mahe beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kerjanya. Pria itu kemudian membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah frane foto mini yang biasa dia letatkkan di atas meja sebagai penyemangat dalam melakukan pekerjaan.
“Kenapa ... kenapa kamu meninggalkanku di saat seperti ini?” Mahe menatap foto itu sembari mengusap lembut wajah wanita itu.
“Jika kamu masih hidup, tolong kembali padaku meski sesaat. Jika tidak, jangan buat aku menderita karena memikirkan dirimu.
Pria itu mencium dan memeluk frane foto itu, tanpa disadarinya butiran air hangat meluncur begitu saja dari matanya. Segera dihapusnya ketika mendengar suara ketukan.
“Masuk.” Sahutnya singkat dan menaruh frane tadi ke tempat semula.
“Permisi, Pak. Ini data-data yang Bapak minta semalam.” Sekretaris kantor menyodorkan beberapa lembar kertas yang dimintanya.
“Terimakasih, Yana.”
“Apa Bapak masih ingin mencarinya di saat ada dokter Leddy di sisi pak Mahe?”
“Dia cinta pertama saya, Yana. Bagaimana mungkin saya melupakannya sementara hati ini masih menjadi miliknya.” Mahe memandang Yana dengan mata berkaca-kaca sembari menunjuk hatinya yang masih mencintai perempuan itu, calon istri yang sangat dia cintai. Yana terdiam, gadis itu masih penasaran dengan wajah wanita yang membuat atasannya gagal move on.
Semua persiapan telah selesai, mulai dari pelaminan, catering, dekorasi kamar pengantin, dan sewa gedung. Besok, dua pasangan ini akan memulai hidup baru setelah 9 tahun menjalin kasih. Tampak raut wajah gembira yang terpancar dari wajah gadis ini, tentu saja dia tersenyum ketika melihat gedung telah didekorasi oleh pemilik. Tak bisa dipungkiri, Viona tampak bahagia sekali meski hari ini tidak ditemani oleh calon suami, namun Viona tetap semangat datang ke gedung tempat resepsi besok.
“Hallo, sayang.” Viona tersenyum ketika mendengar suara lelaki yang dicintainya di telepon.
“Kamu lagi di mana?” tanya seorang pria di ujung sana.
“Tebak aku lagi di mana?”
“Hmm, biar kutebak. Pasti kamu nggak sabaran untuk melihat gedung pernikahan kita, kan? Pasti kamu ada di sana.
“Iya, sayang. Rasanya aku ingin mempercepat waktu agar kita bisa bersama.” Viona melirik pelaminan yang dihias dengan begitu indahnya. Gadis itu sempat menitikkan air mata karena tak percaya bisa menikahi pemuda yang ia taksir waktu sekolah dulu.
“Kamu tunggu di sana, ya. Aku akan menjemputmu 15 menit lagi.”
“Jangan, sayang. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Viona
“Perasaanku nggak enak, pokoknya aku akan menjemputmu.” Pemuda itu bersikukuh ingin menjemput calon istrinya.
“Aku tadi pesan taxi online, sayang. Bentar lagi juga datang, kan nggak enak dibatalin gitu aja.”
“Ya sudah, kamu hati-hati, ya!”
“Iya, bye.”
Viona memutuskan telepon dan kembali menatap ke tempat yang akan mengukir cerita barunya. Cerita yang selama ini dinantikan gadis itu, cerita yang akan mengubah masa depannya, cerita yang akan membawanya pada impian yang sempat tertunda. Gadis itu melangkah perlahan dan membelai lembut pelaminan itu. Pikiran Viona seakan melayang ke hari esok, di mana resepsi pernikahan berlangsung bahagia. Dua pasangan tampak berpegangan erat seakan enggan untuk melepas, kedua keluarga juga tersenyum lebar menanti tamu undangan. Mama papa Viona mengecup lembut kening anak dan menantunya, begitupun juga dengan mertua Viona. Gadis itu tersentak ketika salah satu pekerja dekorasi menepuk pundaknya.
“Mba, apa ada yang perlu ditambahkan?” tanyanya membangunkan lamunan Viona.
Gadis itu menggeleng, “nggak, Mas. Sudah cukup, ini kelihatan bagus sekali. Aku suka.” Balasnya tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, Mba.” Para pekerja pamit undur diri.
“Terimakasih, ya.”
***
Sementara itu, seorang lelaki dengan gelisah menunggu telepon dari calon istrinya. Pria itu berjalan mondar-mandir di depan jendela ruang kerjanya, karena tak kunjung dapat telepon, pria itu meraih ponsel disaku celananya dan menelepon seseorang.
“Hallo, kamu di mana, sayang?” tanyanya
“Aku sudah di taxi, kamu kenapa cemas begitu?” jawab Viona
“Aku khawatir sama kamu. Kamu cepat pulang, ya. Nanti kita ketemu di tempat biasa.”
“Sayang, besok hari pernikahan kita. Aku nggak bisa bertemu denganmu, dan kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja kok.”
“Ayolah, 5 menit saja.” Pintanya memohon
“Nggak bisa, sayang. Dilarang sama adat kita, kamu yang sabar dong, besok kita bertemu di pelaminan.”
“Ya sudah.” Pria itu membuang napas kasar dan menutup teleponnya
Viona tersenyum melihat tingkah calon suami yang takut kehilangan dirinya. “baguslah kalau Adi mencemaskan diriku, itu tandanya dia sangat menyayangiku.” Batinnya
Namun, di tengah perjalanan taxi yang ditumpangi Viona dicegat oleh segerombolan geng motor. Viona gemetar, begitupun dengan supir taxi yang turun dan melarikan diri dari sana.
“Pak, jangan tinggalkan aku.” Viona memohon
“Maaf neng. Bapak nggak mau berurusan dengan mereka.” Supir taxi itu meninggalkan Viona yang masih berada dalam taxi.
“Keluar!” bentak salah satu anggota geng motor.
Dengan perasaan takut, akhirnya Viona memberanikan diri untuk keluar dari taxi itu. Dia menatap satu persatu anggota geng motor yang masih menggunakan helm.
“Kalian siapa?” ucapnya gemetar
Salah satu dari mereka berjalan kearah Viona yang membuat gadis itu mundur ketakutan, “jangan mendekat.” Mata Viona berkaca-kaca, peluh bercucuran menandakan ia ketakutan sekali.
“Apa kabar sayang?” pria itu membuka suara
Viona kaget mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya itu. “Jason!” ucapnya tak percaya.
Pria itu membuka helm dan penutup hidungnya, “iya, aku Jason.” Balasnya dengan mata melotot.
“Kamu masih hidup?” viona tak percaya, pria yang dianggapnya telah meninggal itu, kini tengah berdiri dihadapannya tanpa cacat sedikitpun.
“Kenapa? Kamu kaget melihat aku masih hidup!”
“Bagaimana bisa!”
Jason tertawa dengan keras diikuti oleh anggota lainnya, “bagaimana bisa katamu? Ha ha ha. Bagaimana bisa aku hidup sedangkan dulu kamu dan keluargamu telah membunuh seluruh keluargaku.” Teriaknya sembari menatap tajam kearah Viona.
“Kamu dan keluargamu telah membunuh keluargaku, aku hidup hanya untuk membalaskan dendam mereka.” Jason tersenyum tipis ketika melihat Viona ketakutan.
“Kamu salah, Jason. Bukan kami pelakunya, kami hanya ingin menolong waktu itu. Tapi semua sudah terlambat.” Viona menangis , wajahnya terlihat pucat.
“Aku nggak peduli, yang jelas kalianlah yang ada didekat jenazah keluargaku. Aku akan membalaskan dendam mereka, dimulai dari kamu.”
Pria itu menodongkan senjata tajam tepat diwajah Viona, gadis itu mundur dan berlari dengan sekuat tenaga.
“Kejar dia!” perintah Jason pada anak buahnya.
Viona terus berlari, sesekali melirik ke belakang agar anak buah Jason tak menangkapnya. Sebab, kalau sampai dirinya tertangkap, akan sulit untuk lepas dari genggaman pria itu. Karena saat ini Jason hanya ingin membalas dendam atas kematian keluarganya.
Langit mulai gelap, matahari enggan untuk menampakkan cahayanya karena berganti dengan malam yang penuh bintang. Seorang gadis terlihat duduk disebuah pos ronda yang lama tak ditempati. Gadis itu menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya pada lutut kaki. Lama sekali ia pada posisi itu, entah tertidur atau takut menatap malam yang sepi, hanya ditemani jangkrik dan suara katak yang menghiasi malam kelabunya.
Gadis itu tersentak ketika mendengar suara motor mendekat, awalnya ia tersenyum dan mengira bahwa yang datang itu adalah pria yang dicintainya. Namun, semua diluar dugaan, banyak sekali motor mendekat kearahnya, tanpa pikir panjang ia pun berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu saat wajah anak buah Jason terlihat jelas dipelupuk matanya.
“Itu Jason.”
***
Tepat pukul enam pagi keluarga Viona tiba di apartement pribadinya. Viona memilih untuk tinggal sendiri sebelum hari pernikahannya supaya ia bisa belajar jadi istri yang baik setelah menikah nanti. Selama ini kebutuhan Viona selalu dikerjakan oleh ibunya, sehingga gadis itu merasa harus banyak belajar. Meski berat hati dengan keputusan putrinya, bu Fatma tetap mengikhlaskannya untuk tinggal sendirian demi kebahagiaan pernikahan anaknya.
Semua terlihat rapi untuk pernikahan Viona dan Adi pagi itu. Bahkan mereka tak curiga kalau Viona tak pulang semalam, bu Fatma, ibunya Viona mengetuk pintu itu. Namun tak ada jawaban, bu Fatma tampak cemas saat melirik benda yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, mereka harus tiba di gedung tempat acara akan dilangsungkan. Gadis itu tak kunjung keluar, membuat seluruh anggota keluarga khawatir. Rey kakak lelakinya tampak sibuk mengotak atik hanphone miliknya, kemudian menempelkan benda itu ditelinga.
“Sial, nggak aktif lagi.” Ucapnya frustasi
Pria itu mengacak rambutnya dengan kasar dan berjalan keluar dari apartement itu meninggalkan ibu dan dan keluarganya yang lain. Bu Fatma menatap kepergian putra sulungnya hingga punggungnya tak terlihat lagi.
“Dobrak saja.” Ucapnya pada Hamish, anak bungsunya.
Hamish menatap ibunya dengan ragu dan kemudian melirik Laura, kakak iparnya. Laura mengangguk pertanda setuju dengan mertuanya itu.
“Tapi, Ma. Nanti kak Viona marah melihat pintu apartementnya kita dobrak.”
Ia masih belum setuju dengan keputusan ibunya untuk memaksa masuk ke sana. Namun, waktu sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Pria itu dengan terpaksa menuruti perintah ibunya. Tak lama setelah itu pintu terbuka, ruangan itu terlihat kosong. Bahkan tanda tanda keberadaan Viona di dalam sana juga tak bisa dideteksi.
“Kak Vio nggak ada di dalam, Ma.” Pria itu keluar setelah memeriksa seluruh ruangan.
Bu Fatma tampak gusar, wanita paruh baya itu tak percaya putrinya akan lari dari pernikahannya. Beliau pun memeriksa ruangan itu dengan teliti, setiap sudut kamar bahkan di kamar mandi gadis itu tak ada.
“Kemana dia.”
Beliau terduduk lemas dikasur empuk milik Viona, pandangannya kosong, air matanya pun menetes. Laura menghampiri mertuanya itu setelah dirinya terdiam beberapa saat.
“Kita akan cari Viona, Ma. Mama jangan khawatir lagi.” Wanita tengah hamil muda itu memeluk Fatma dengan sangat erat.
Kemudian Rey datang dengan tergesa, “ma.” Ucapnya ketika mendapati sang ibu menangis dipelukan istrinya.
“Cari adikmu, Rey. Mama mohon.” Pintanya
“Rey udah cek semua tempat Ma. Bahkan salon dan butik tempat Viona feeting baju pengantin, dia nggak ada di sana. Pihak butik juga bilang bahwa Viona belum mengambil bajunya.”
Tangisnya pun menjadi jadi, Rey menghampiri ibunya dan memeluk wanita itu. Laura berdiri sejajar dengan Hamish.
“Kemana adikmu Rey. Mama takut terjadi sesuatu dengannya.”
“Mama nggak usah khawatir, Rey akan cari Viona.”
“Aku ikut kak.” Ucap Hamish semangat
“Iya aku juga akan ikut cari Viona.” Lanjut Laura
“Nggak sayang, kamu di sini saja temani mama. Aku, Hamish dan juga yang lainnya yang akan mencari Viona.” Rey melarang istrinya untuk ikut mencari adik perempuannya itu.
“Aku khawatir Rey sama dia.”
“Iya aku tahu, tapi kamu lagi hamil sayang.”
Dengan berat hati Laura menuruti perintah suaminya itu. Meski cemas dengan Viona, ia tetap sabar menunggu berita baik tentang adik iparnya. Sudah satu jam lewat lima belas menit, tetapi Rey belum juga menelpon dirinya. Perempuan itu semakin gelisah, ditambah lagi ponselnya tak berhenti berdering. Sebuah panggilan masuk dari Adi, calon suami Viona.
“Gimana ini, apa yang harus kukatakan padanya?” batinnya
Seketika Laura melirik mertuanya yang tertidur dikasur Viona, karena kelelahan menangisi keberadaan anaknya. Wanita itu kemudian menekan tombol merah diponselnya, tentu saja ia tak ingin pria itu khawatir. Tapi Adi akan lebih khawatir lagi jika mengetahui fakta bahwa Viona hilang.
***
Cahaya matahari mengambil alih kota pagi ini. Embun embun yang tadinya menghiasi pepohonan seketika menghilang seakan ditelan oleh sinarnya. Langkah kakinya terus bergerak seakan lelah tak lagi dirasa. Gadis itu terus berlari, menghindari jalanan yang kemungkinan besar akan membawanya pada Jason, pria yang berambisi untuk menghabisi dirinya. Viona telah melewati beberapa pegunungan hingga ia tiba disebuah desa yang jauh dari jangkauan kota.
Wajahnya yang kotor dan pakaian yang tak dapat lagi diterka warnanya karena telah diganti dengan warna coklat yang berasal dari tanah. Tentu saja wanita itu mengalami sesuatu yang buruk hingga pakaian dan wajahnya kotor. Terlihat beberapa luka dibagian lengan kanannya dan juga kening gadis itu. Ia terlihat semringah saat melihat desa. Namun, saat dirinya melangkah menuju pemukiman itu, mulutnya dibekap dari belakang. Hingga ia nggak bisa berteriak untuk meminta pertolongan.
“Tolong...”
Suaranya terdengar samar karena tangan yang membekap mulutnya itu milik pria berbadan besar dan juga tinggi. Viona serasa kehabisan napas dibuatnya. Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dari genggamannya. Namun, Jason datang entah dari mana, membuat Viona melotot tajam kearahnya.
“Mau kamu apa, sih?” dengan gemetar gadis itu memberanikan diri membuka suara setelah anak buahnya melepaskan tangannya dari mulut Viona.
Jason mendekat penuh amarah, dan seketika.
Plakk
Sebuah tamparan tepat mengenai pipi kanan gadis cantik itu. Viona merintih kesakitan sembari memegang pipinya yang memerah akibat dari tamparan itu.
“Sekali saja jangan bikin aku susah, bisa nggak?” ucapnya berbisik ditelinga Viona.
Gadis itu meneteskan air matanya, ada rasa takut yang terlintas didalam jiwa Viona. Bagaimana caranya supaya Jason mengerti bahwa bukan dia pelaku dibalik kematian keluarganya. Namun, beberapa kali pun dijelaskan, pria itu tak akan mengerti juga. Karena hatinya sudah dibalut dengan dendam, membuat akal sehatnya tak bisa berfungsi lagi.
“Bawa dia!” perintahnya
Viona berusaha memberontak, memohon belas kasih dari pria itu agar melepaskan dirinya. Tapi usahanya sia-sia, Jason tetap bersikukuh ingin membunuhnya.
“Tolong lepaskan aku Jason. Bukan aku pelakunya, aku mohon mengertilah.” Teriaknya ketika anak buah Jason menariknya dengan paksa seperti hewan.
Pria itu tersenyum melihat Viona diperlakukan dengan kasar. Ia bahkan tak peduli dengan keadaan Viona yang terlihat memprihatinkan, yang jelas dendamnya belum usai.
“Jasooooooon...” Suara itu menggema dipenjuru hutan.
***
Beberapa suster tampak tergesa-gesa menuju kamar melati nomor 25. Pasien yang sempat dioperasi dokter Leddy beberapa waktu lalu, sadar dari koma setelah melewati masa kritisnya pasca operasi. Leddy memeriksa kembali denyut nadinya dan meletakkan stetoskop di dada pasien.
“Syukurlah, dia hanya tertidur. Mungkin efek bius masih tersisa didalam tubuhnya.” Ucapnya pada suster Eva, “terus pantau kondisinya dan laporkan padaku perkembangan pasien.” Lajutnya lagi
“Baik dokter.”
Ketika Leddy hendak meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya dengan sangat erat. Seolah dirinya takut ditinggalkan.
“Jangan pergi.”
Leddy menoleh, keningnya berkerut saat melihat tangannya dipegang oleh pasiennya sendiri. Gadis itu kemudian membuka matanya dan menatap Leddy penuh haru.
“Hey, ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanyanya saat melihat gadis itu menitikkan air matanya.
“Jangan pergi, aku mohon!”
Leddy menatap gadis itu lekat, tersirat kesedihan yang terpancar dari matanya. Gadis itu butuh teman, mungkin dia baru mengalami sesuatu yang buruk sehingga ia takut ditinggal sendiri.
“Kalian boleh keluar!” perintahnya pada suster Eva dan dokter magang.
“Baik dokter.”
Sepeninggal suster Eva dan mahasiswa magang, Leddy kembali menatap gadis itu. Ia masih bingung dengan pasiennya ini, entah apa yang dipikirkannya saat melihat ke langit-langit kamar rawatnya itu. Leddy pun ikut melihat ke atas, berharap mendapat jawaban atas apa yang ada dipikiran gadis itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya bingung.
Bukan jawaban yang didapatinya melainkan tangis dari gadis itu. Leddy semakin kalut dibuatnya, ia berusaha untuk menenangkan diri pasiennya itu.
“Jangan cerita jika itu membuatmu sakit.” Ucapnya lagi
Gadis itu bangkit dari tidurnya dan memeluk Leddy erat. Dokter itu terpaku ditempat atas serangan yang baru saja dialaminya. Dugaannya benar, pasiennya ini trauma.
“Tolong jangan pergi, aku mohon!” ia menangis dipelukan Leddy
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu gemetar begini?” Leddy menyadari bahwa pasiennya ini mengalami berbagai kejadian buruk yang membuatnya trauma berat.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu, biar kamu cepat pulih.”
“Nggak dokter, aku nggak mau ditinggal sendiri. Aku mohon!”
Dengan berat hati Leddy menemani gadis itu hingga tertidur. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ini sudah larut, dan seharusnya sudah sejak tadi sore dirinya pulang, hatinya menolak meski pikirannya mengajak untuk meninggalkan pasiennya itu. Naluri seorang Leddy tak akan tega meninggalkan pasien yang butuh seorang teman.
Malam ini Leddy terpaksa tidur di rumah sakit karena tak memungkinkan baginya untuk pulang ke rumah. Jarak rumah sakit sangat jauh dari tempat tinggalnya, dan jika Leddy memaksa pulang itu justru akan membahayakan dirinya. Gadis itu berjalan melewati bangsal perawatan anak untuk menuju ruangannya. Malam itu rumah sakit sudah mulai sepi, hanya beberapa suster yang bertugas malam yang tampak sibuk keluar masuk ruang perawatan.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu?” batinnya. Ia masih memikirkan tentang kejadian yang menimpa pasiennya.
Seketika Leddy menggeleng, gadis itu tak ingin terlalu dalam mengetahui urusan pribadi pasiennya. Ia hanya menghindar dari kemungkinan buruk bahaya yang mengancam nyawanya, “mungkin dia terlibat masalah dengan seseorang.” Leddy berusaha untuk memejamkan matanya, namun susah. Matanya seakan sulit untuk diajak berdamai. Ia beranjak dari ruangannya menuju rooftop rumah sakit untuk menghilangkan jenuh. Bertemankan dinginnya malam, berkawankan rasa penasaran pada kehidupan gadis itu sampai Leddy lupa pada sosok Mahe, pria yang mengisi kekosongan hatinya.
Di bawah cahaya rembulan, Leddy mengingat semua kejadian yang menimpa ibunya. Bagaimana ibunya menutup mata, bagaimana ibunya merasakan sakit setelah dikhianati sang ayah. Bagaimana rasa sakit yang telah ditorehkan oleh ayahnya. Gadis itu menyudahi kunjungannya ke sana saat wanita penggoda itu terlintas dipikirannya. Leddy kembali turun dan menuju ruangannya lagi, akan tetapi tetap saja ia tak bisa tidur. Seolah-olah ada sesuatu yang menggajal dipikirannya, ya pasiennya berhasil membuat seorang Leddy berpikir.
Gadis itu berjalan mondar mandir di dalam ruangannya. Meski pasiennya belum cerita apa-apa, tapi rasa penasaran Leddy telah muncul. Ada keinginan untuk membantu pasiennya menyelesaikan masalah itu, namun Leddy keburu mengantuk. Ia pun tertidur dimeja kerjanya.