“Bunuh saja aku. Tapi lepaskan putri ku, aku mohon pada kalian tuan-tuan!” mohon Ainsley White untuk terakhir kali nya. Dalam pikiran Ainsley White, kalau dia tidak bisa menyelamatkan dirinya paling tidak, dia bisa menyelamatkan putri nya.
“Moms! Kau ini bicara apa!!! Jangan pernah memohon pada penjahat seperti mereka! Mereka semua tidak lebih dari sampah!!!” Adaline menatap tajam pada kelima pria tersebut. Bahkan saking tajam nya, mengalahkan katana yang di gunakan samurai ternama di masa nya.
“Adaline kau ini bicara apa nak! kau masih muda! Hidup mu masih panjang! Kau harus tetap hidup nak! Kau jangan memancing amarah mereka!!!” ujar Ainsley White.
“Berani juga kau gadis siaalan!!” Bentak Pria itu pada Adaline.
“Benar! Berani juga dia! Bagaimana kalau sebelum kita bunuh, kita berSenang- Senang dulu dengan nya ! Biar ketika jadi arwah pun dia tidak bisa melupakan malam berdarah ini!!!” timpal yang lainnya- tertawa.
“Kau benar! Kalau aku lihat-lihat, tubuh nya boleh juga!” Si pria pun menyeringai di balik topeng yang ia kenakan.
“Cepat bawa dia ke sofa! Dan jangan kalian apa-apakan! Sebab aku lah yang akan menikmati nya terlebih dahulu!!” Pria itu kembali menyeringai.
“Aku mohon! Jangan sakiti putri ku! Aku mohon pada kalian!” Mohon Ainsley White pada pria yang sedang menikmati tangisan nya itu.
“Kalian boleh membunuh ku! Tapi aku mohon jangan sakiti putri ku! Biarkan dia pergi!!” Sekali lagi Ainsley White memohon pada si pria itu. Tapi Pria itu sama sekali tidak memperdulikan nya.
“Cepat bawa jalang itu! Karena aku ingin membunuh wanita tua ini!! Cepaaat!!” teriak nya pada pria yang lain nya.
Dua orang pria berjalan menuju ke arah Adaline. Mereka tertawa seolah hal itu sengaja mereka lakukan untuk mematahkan mental Adaline.
Begitu kedua pria itu mendekat, Adaline langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pistol tersebut kepada salah satu pria yang datang menghampiri nya terlebih dahulu.”Jatuhkan senjata kalian! Atau teman kalian akan ku tembak!” Ujar Adaline.
“Apa kau yakin kau bisa menggunakan senjata itu gadis kecil?” ejek pria yang lainnya, mengira Adaline tidak memilki kemampuan dalam menggunakan senjata.
Dari samping kepala si pria, Adaline membidik bahu kanan pria yang mengejek nya.
“DOR.....!” tanpa di sangka sebuah timah panas pun bersarang di tengah kepala dan langsung membuat pria itu roboh.
“Hah? Kena? Tapi mengapa mengenai tengah kepala nya? Bukan nya aku tadi membidik bahu nya?” Adaline jadi bingung sendiri. Bagaimana bisa tembakan nya mengenai tengah kepala pria itu, padahal jelas-jelas dia membidik bahu pria itu.
“Sialaaan!! Berani nya kau- DOR!” Sayang nya pria itu tidak bisa menyelesaikan kata- kata nya karena ia pun ikutan roboh sebab sebuah timah panas telah menembus kepala nya.
“Bagaimana ini mungkin?” Adaline semakin terheran. Sebab kali ini dia bahkan tidak menyentuh pelatuk pistiol nya.
“Pasti ada orang lain disini!!” Batin Adaline lalu melihat ke sekeliling.
Ketika Adaline kehilangan fokus nya, pria yang disandra oleh Adaline mengambil pistol yang Adaline pegang dan menembak Ainsley White yang merupakan target utama mereka sebanyak dua kali di dada, sebelum akhir nya dia pun roboh oleh sebuah peluru yang menembus kepala nya.
Teman-teman si pria itu langsung bubar mencari posisi yang aman karena tiba-tiba saja ada yang menyerang mereka. Namun tentu saja apa yang mereka lakukan percuma karena timah panas yang dating nya entah dari mana itu tiba-tiba saja sudah say hello pada kepala mereka.
Satu persatu tubuh para penjahat itu roboh tanpa tahu siapa yang telah menembakkan timah panas itu ke kepala para penjahat itu.
Adaline yang melihat hal itu langsung menghampiri sang ibu yang terlihat mulai kehilangan kesadaranya.
“Ayoo mom bertahan bu!!! Tuhan telah mengirim malaikat nya untuk datang membantu kita!!!” Seru Adaline, menutup setiap luka di tubuh ibu nya.
“Bu.. Aku mohon mom! Bertahan lah mom!!” Adaline yang panik tidak sadar malah menangis. Menangis karena tidak tahu apa yang harus di lakukan saat ini melihat ibu nya yang terus mengeluarkan darah.
“Aku harus memindahkan mu, mom!” Seru Adaline.
Adaline berniat untuk mengangkat tubuh sang ibu. Tapi tenaga nya tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu.
“Adaline, stop it sayang! Stop it! Jangan buang-buang tenaga mu!” ucap Ainsley White terbata-bata menahan rasa sakit akibat tembakan yang dia dapatkan.
“Tolong mommy ku!! Aku mohon, tolong mommy ku!!!” Adaline berteriak ke segala arah, berharap orang yang menembak semua penjahat itu, muncul dan menolong ibu nya.
“Minggir lah!!” Perintah pria bertopeng pada Adaline.
“Nyonya White? Kau bisa mendengar ku?” Tanya pria itu pada Ainsley White yang masih memiliki sedikit kesadaran.
“Hmm... aku tidak apa-apa. Tolong bawa putri ku jauh-jauh dari sini.” Jawab Ainsley White, menahan rasa sakit nya.
“Mom please!! Jangan bicara lagi!” Pinta Adaline dengan suara lirih pada sang ibu.
“Cepat bawa mommy ku ke rumah sakit!!” pinta nya panik pada pria itu..
“Kau siapa?” tanya Ainsley White pada pria itu.
Pria itu pun membuka topeng nya. “Ini aku nyonya White, Pengawal Mr. Sean.” Jawab nya. Ternyata malaikat yang datang menolong mereka di saat genting adalah pengawal bayangan dari sahabat ibu nya Adaline, yang tadi ibu nya hubungi untuk meminta pertolongan.
“Syukurlah kau telah datang Ethan. Tolong kau selamatkan putri ku!” Pinta nya sambil menahan rasa sakit.
“Jangan bicara lagi nyonya White!” Larang nya dan langsung menggendong tubuh Ainsley White.
“Tolong tekan tombol ini tiga kali.” Ethan meminta Adaline menekan tombol di jam tangan nya sebanyak tiga kali. Adaline pun menuruti apa yang Ethan katakan. Dan tidak lama kemudian..
“Tiiittt..tiiiitt..” Terdengar suara klakson mobil di depan rumah itu.
“Kau masuklah lebih dulu ke dalam mobil ku baru setelah itu aku akan memasukkan ibu mu.” Perintah Ethan pada Adaline.
Adaline pun mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil Ethan lalu duduk seperti yang diperintahkan oleh pria berparas Asia itu.
Setelah melihat Adaline duduk seperti apa yang diperintahkan nya, baru lah Ethan memasukan tubuh Ainsley White yang telah kehilangan kesadaran itu ke dalam mobil. Dan mereka pun bergegas ke rumah sakit. Sebuah rumah sakit milik sang Genious doctor.
***
Di tempat lain, Harry, pacar nya Adaline masih sibuk bersantai dengan selingkuhanya setelah melakukan olah raga tengah malam bersama.
“Harry!! Cepat lihat ini!” Seru Fla dan langsung memperlihatkan berita yang sedang heboh di sosial media. “Bukan kah ini adalah rumah nya Adaline?” Ujar Fla, yang akhirnya mampu membuat Harry yang tadi nya tidak ingin bergerak dari tidur nya, langsung mengambil posisi duduk begitu mendengar nama Adaline.
Dengan cepat Harry mengambil handphone yang Fla pegang.
“Shit!!” maki nya dan langsung mengambil kemeja dan Jennys nya, lalu buru-buru mengenakan kemeja dan Jennys nya. “Pantas tadi dia menelpon ku! Ternyata dia membutuhkan pertolongan ku!!” Gerutu Harry langsung bergegas pergi setelah selesai berpakaian.
Harry sangat menyesal telah mengabaikan telpon dari Adaline. Andaikan Harry tahu Adaline menelpon nya karena nyawa Adaline sedang terancam, Harry pasti akan segera mengangkat telpon itu.
Walaupun Harry selingkuh dengan sahabat Adaline, tapi di dalam hati Harry hanya ada nama Adaline seorang.
“Kau mau kemana Harry?” Tanya Fla yang sebenarnya sudah bisa menebak kemana Harry akan pergi.
“Tentu saja kerumah Adaline. Aku harus melihat keadaannya. Aku harus tahu kondisinya.” Harry cepat-cepat mengambil kunci mobil dan handphone milik nya. Lalu bersiap pergi dari apartemennya Fla.
“Tapi dia Adaline tidak ada di rumah nya. Mungkin dia di rumah sakit? Atau kantor polisi...?.” Sebut Fla dengan perasaan tidak tentu arah.
Disatu sisi, dia merasa kasihan pada Adaline yang baru saja mendapatkan musibah sebesar ini. Tapi disisi lain, ia merasa tidak Senang melihat Harry yang terlihat sangat peduli dengan keadaan Adaline.
Sebuah perasaan cemburu menyeruak dari dalam diri Fla. Tapi demi persahabatannya dengan Adaline, Fla tetap mengatakan pada Harry di mana kemungkinan Adaline berada sekarang. Walaupun sebenarnya Fla sangat lah membenci Adaline, karena sikap sok bossy dan angkuh sahabat nya itu.
***
Ethan menarik nafas dalam-dalam dan membuang wajah ke arah lain. Melihat Adaline yang sedang memohon pada Tuhan di depan pintu ruangan operasi nyonya White hanya membuat Ethan teringat akan apa yang terjadi di masa lalu. Sebuah ingatan yang seharus nya tidak pernah muncul lagi di dalam pikiran Ethan.
“Adaline??!!!” teriak Harry yang memecah keheningan di tempat itu.
Ya, Harry akhir nya sampai ke rumah sakit setelah mencari seperti orang gila ke setiap rumah sakit dan kantor polisi di kota itu.
“Adaline???” Panggil Harry lagi pada Adaline yang terlihat sedang fokus berdoa di depan pintu ruangan operasi ibu Adaline. Dan..
PLAAAAAAK..
Sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Harry dan disertai oleh sebuah kalimat umpatan tanpa suara yang keluar dari mulut Adaline.
“Pergi kau dari sini Brengsek!” Umpat nya dengan suara tertahan dan penuh emosi.
“Adaline please! Aku tahu aku salah! Tapi please Adaline! Please! Aku sungguh tidak tahu kalau kau dan ibu mu dalam bahaya! Aku sedang lembur di perusahaan ku!! Kalau aku tahu, aku pasti akan membawa orang-orang ku untuk menyelamatkan mu dan ibu! Aku mohon Adaline, maafkan aku! Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu.” Mohon Harry lagi dan lagi..
Tangan Adaline bergetar hebat! Rasa nya dia ingin melayangkan tamparan nya satu lagi saat mendengar kata- kata munafik yang keluar dari mulut Harry.
“Sejelas itu bekas cupangan di leher mu dan kau masih mengatakan kalau kau lembur Harry??? Karena semua hal ini lah maka nya kau tidak dapat mengangkat telpon ku! Entah dengan pelacur mana kau sedang having Sex saat para pembunuh itu masuk ke rumah ku dan menyerang aku dan mommy ku! Aku jijik pada mu Harry! Aku jijik!!” Amarah Adaline yang tadi nya tidak tahu akan dia tujukan pada siapa akhir terlepas sempurna pada Harry, yang hanya bisa tertegun mendengar makian yang Adaline arah kan pada nya.
Namun saat ini Harry mencoba untuk mengerti dengan semua amarah yang Adaline alamat kan pada nya saat ini.
Harry paham kalau saat ini Adaline sedang tertekan. Rumah nya dimasuki penjahat bahkan sampai mengakibatkan ibu Adaline kritis. Di tambah pula Harry yang sudah ketahuan berbohong. Jadi wajar kalau Adaline meluapkan semua rasa kesal nya pada Harry.
“Aku tidak ingin melihat kau lagi Harry! Cepat pergi dari sini! Cepat pergi dari sini! Aku benci kau Harry!! Aku benci pada kau!!!!” Bentak Adaline.
"Cepat usir dia!!!!” Perintah Adaline pada Ethan yang sedang duduk- sibuk menelpon seseorang.
“Cepaat usir dia!” Teriak nya lagi sebab Ethan tidak merespon sama sekali tadi.
“Hei! Cepat usir dia!!” Adaline sampai harus berdiri tepat di depan Ethan agar Ethan menyadari apa yang Adaline perintahkan.
“Aku?” Tunjuk Ethan ke batang hidungnya.
“Tentu saja kau! Bukan kah kau diutus untuk membantu kami! Mengapa kau malah asik dengan handphone mu!” Bentak Adaline membuat Ethan terbengong.
Seumur hidup Ethan, Adaline adalah wanita kedua yang berani membentak nya setelah ibu nya, serta orang kedua di dunia ini setelah ayah nya yang berani membentak nya.
“Woww..oke!” Jawab Ethan, berusaha menahan rasa jengkelnya. Bagaimana dia tidak jengkel, dia baru saja menyelamatkan gadis ini tapi jangan kan berterima kasih pada nya, gadis ini secara ajaib malah memerintah nya seenak dengkul nya.
“Pergilah dan jangan muncul lagi! Bukan kah dia sudah mengusir mu barusan!” Perintah Ethan tanpa ekspresi pada Harry.
“Kau siapa? Apa hak mu mengusir ku? Aku ini pacar nya Adaline!” Balas Harry sengak membuat Ethan muak.
“Tidak perlu bertanya siapa diri ku! Kalau kau ingin nyawa mu selamat dan masih bernafas hingga besok pagi, segera pergi lah!” Ancamnya sambil menyibak jas hitam nya sehingga sebuah pistol terlihat di sana.
“Apa kau seorang polisi?” Tanya Harry ingin memastikan Adaline baik-baik saja jika dia pergi.
“Aku lebih dari itu!” Ucap Ethan kesal. “Dia dan pacar nya sama-sama membuat ku kesal!!” Gumam Ethan dalam hati.
“Baiklah kalau begitu! Aku titipkan pacar ku pada mu!” Ujar Harry dan dengan sok akrab nya menepuk bahu Ethan.
Ethan langsung mendengus kesal tapi disaat bersamaan rasa nya Ethan juga ingin tertawa.” Apa? menitipkan pacar nya? Apa dia kira aku buka Paud untuk penitipan pacar?” ujar Ethan dalam hati sambil membersihkan bekas tangan Harry di jas nya.
“Jangan sok akrab dengan ku.” Ketus Ethan, lalu kembali duduk di tempat nya tadi. Saat dia melewati Adaline, Ethan hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
“Aku akan menemui mu lagi besok baby! Untuk malam ini, aku ikuti keinginan mu! Aku akan pergi. Tenangkan hati mu! Dan bersabar lah! Aku yakin- ”cerocos Harry mendadak berhenti, karena Adaline langsung mengangkat tangannya tepat di depan wajah Harry lalu berkata,
“Tidak bisa kah kau berhenti bicara Harry? Kau membuat kepala ku rasa nya mau pecah!!” Sembur Adaline yang memang kepala nya sangat pusing saat ini.
“Baiklah.” Ucap Harry dan berlalu pergi meninggalkan Adaline dan pria yang tidak dia kenal itu.
“Sebaiknya kita juga pulang.” Sebut Ethan setelah memasukan handphone ke dalam saku dalam jas nya.
“Pulang? Rumah ku sedang di periksa polisi dan banyak mayat berserakan di sana, dan kau menyuruh ku pulang? Yang benar saja.” Tukas Adaline penuh kekesalan.
Sebenarnya Adaline tidak berniat nge-gas pada Ethan, toh pria ini sudah menolong nya dan juga ibu nya. Tapi ajakan Ethan untuk pulang ke rumah sungguh membuat Adaline kesal.
Pertama, ibu Adalie sedang terbaring koma, ya masak dia enak tidur di kamar. Kedua, Adaline tidak akan pernah ingin kembali ke rumah berdarah itu lagi! Tidak akan!
“Kita akan pulang ke rumah ku! Dan soal ibu mu jangan khawatir, anak buah ku akan berjaga disini! Dan mereka jauh lebih berguna dari pada diri mu, yang membidik bahu selebar itu saja tidak kena.” Ujar Ethan, yang kali ini tidak hanya mengandung ajakan untuk pulang, tapi juga cemoohan yang dia arahkan pada Adaline.
Adaline tidak bisa membalas kata-kata Ethan. Dia hanya bisa menatap tidak suka pada Ethan sambil pasang muka mode standar nya yaitu muka songong khas anak orang kaya.
Setelah perdebatan panjang akhir nya Adaline ikut pulang ke rumah Ethan yang bernuansa klasik
“Masuklah ini rumah ku!” ucap Ethan pada Adaline.
Adaline melihat ke sekeliling nya dengan tatapan bossy nya. Dalam hati nya sebenarnya Adaline tidak terlalu peduli seperti apa bentuk rumah si Ethan. Tapi karena hati nya dongkol di suruh pulang ke rumah Ethan maka nya tatapan nya jadi tidak suka begitu.
“Kau bisa menggunakan kamar yang itu.” Ujar Ethan.
“Lalu kamar mu yang mana?” tanya Adaline mendadak.
“Kamar ku di lantai atas.” Ujar Ethan.
Adaline pun melihat ke sekelilingnya. Sejauh mata Adaline memandang, Adaline sama sekali tidak melihat ada orang lain di dalam rumah itu selain diri dan Ethan. Mendadak Adaline teringat dengan kejadian yang menimpa nya beberapa jam yang lalu.
“Bukan nya aku ingin tidur di satu tempat dengan mu, hanya saja kalau kamar kita sejauh itu aku merasa tidak safe! Aku tidak mau ambil resiko!” Ujar Adaline.
Ethan mendengus kesal, “Jadi maksud mu kau ingin tidur satu kamar dengan ku?!”
“Ide yang bagus! Aku tidak keberatan! Aku tidur di atas ranjang sementara kau bisa di kursi atau tidak lantai. Terserah pada mu! Di langit-langit kalau memungkin kan juga boleh!” balas Adaline seenak jidat nya.
Ethan pun hanya melirik Adaline dengan tatapan jengkel nya tanpa mengatakan apapun.
“Oke! Biar adil, kita tidur disini saja. Aku akan tidur di sofa ini! dan kau tidur di sofa itu.”Tunjuk Adaline ngeboss dan mengatur sesuka hati.
Ethan pun akhir nya hanya bisa menuruti apa yang Adaline inginkan. Dalam hati Ethan berharap bos nya mengangkat telpon dari nya dan membawa gadis menyebalkan ini jauh- jauh dari nya. Karena baru sebentar saja gadis ini bersama nya, darah nya sudah naik turun berkali- kali.
Hanya saja seperti nya darah Ethan masih akan naik turun semalaman ini sebab ternyata sikap menyebalkan Adaline tidak hanya sampai disitu.
“Kau punya bantal Ethan? Apa bisa kau ambilkan aku bantal. Bantal kecil ini, hhmm.. aku tidak terlalu terbiasa.” Ujar Adaline.
Ethan menarik nafas dalam dan membuang nya dengan perasaan jengah. “Tunggu disini. Akan aku ambilkan.” Ucap Ethan, yang melakukan ini semua demi nama baik bos nya. Bagaimana pun gadis yang menyebalkan ini adalah anak sahabat bos nya. Jadi mau tidak mau dia harus melayani nya dengan baik.
Ethan pun berjalan ke lantai atau untuk mengambil apa yang Adaline minta.
Tak lama kemudian Ethan pun kembali turun dengan membawa dua bantal. Satu untuk diri nya dan satu untuk si gadis menyebalkan.
“Ini.” Ujar Ethan dengan perasaan antar ikhlas dan tidak. Setelah itu meletakan bantal untuk diri nya di atas sofa yang akan menjadi tempat tidur nya malam ini.
“Hemmm...” Jawab Adaline, dan sekali lagi tidak mengucapkan terima kasih pada Ethan.
Adaline meletakkan bantal itu di dekat lengan sofa. Setelah itu dia membaringkan badan nya. Adaline memutar tubuh nya ke kiri kemudian memutar lagi tubuh ya ke kanan. Tapi entah mengapa terlihat dia sangat tidak nyaman.
“CKkk...” Desis nya kesal dan langsung duduk, kemudian melihat ke arah Ethan yang terlihat sedang sibuk dengan handphone nya.
“Heei... heei!” Panggil Adaline yang sungguh jauh dari kata sopan.
Ethan yang sudah paham dengan cara Adaline memanggil diri nya, dengan terpaksa mematikan handphone nya dan menoleh pada Adaline.
“Hmm.. ada apa?” Tanya Ethan yang merasa benar-benar terganggu me time nya oleh Adaline’
“Aku tidak bisa tidur tanpa selimut.” Ujar nya.
Tanpa memberikan jawaban, Ethan bangkit dan pergi ke kamar nya dan mengambil dua helai selimut. Satu untuk nya dan satu untuk Adaline.
“Ini,” Ethan menyerah sebuah selimut tebal pada Adaline.
“Oo.. Tadi aku lupa bilang, aku juga butuh bantal guling.” Ucap Adaline, membuat Ethan sakit kepala.
“Tempat tidur? AC?? Meja hias? Kamar mandi? Apa tidak sekalian kau minta aku bawa kan ke bawah?” Ketus Ethan.
“Untuk saat ini tidak!” jawab Adaline cuek.
Ethan mendengus kesal sembari menatap jemu pada gadis di depannya. Setelah itu Ethan melihat ke arah handphone nya kembali sambil mendumel pelan. " Bos ku ini kemana??!!”
Keesokan pagi nya...
Ethan menekan kembali nomor bos nya untuk kesekian kali nya tapi tetap saja bos nya tidak mengangkat telponnya. “ Hufff!! Telpon ku pun tidak di angkat oleh nya!!!" seru Ethan dengan pandangan jengah yang tanpa sadar malah dia arahin ke gadis menyebalkan di depan nya di depannya.
"Kenapa kau selalu melihat ku dengan tatapan buruk seperti itu!" Ketus Adaline White yang baru saja bagun.
Demi stabilitas otak nya, Ethan pun memutuskan untuk menjauh dari tempat itu meski sesekali Ethan tetap saja melirik ke Adaline. Dengan semua perasaan kesal pada Adaline ia pun kembali berusaha menelpon bos nya lagi. "Kenapa aku harus berurusan dengan gadis labil ini sih?" gumam Ethan dalam hati.
"Kenapa kau terus melihat ke arah ku?" ketus Adaline lagi, yang jadi risih sendiri karena Ethan terus-terusan melihatnya.
Ethan yang memang tidak terlalu bisa berkomunikasi dengan kata-kata, akhirnya memutuskan untuk mengacuhkan Adaline. Dia hanya memalingkan muka nya ke arah lain. Ethan tidak mau nanti akhirnya dia jadi salah ngomong, dan darah tinggi nya kambuh.
"Mr. Sean ini kemana sih??" Seru Ethan dengan suara pelan. Berkali-kali ia menelpon bos nya, tapi tak kunjung di angkat oleh sang bos.
Ethan pun menghela nafas kasar. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada bocah menyebalkan di dekat nya ini. Mau dia abaikan, tapi bocah ini adalah putri dari teman Bos nya yang baru saja mendapatkan serangan brutal tadi malam. Mau di ladeni, tekanan darah nya naik! Sungguh sebuah pilihan yang sulit.
Satu- satu nya hal yang bisa Ethan lakukan adalah menelpon bos nya. Meski sampai saat ini hasil nya tetap sama, telpon itu tidak kunjung juga di angkat oleh sang bos.
Tapi Ethan menyadari kalau dia tidak boleh menyerah saat ini. Bagaimana pun cara nya, ia harus bisa berbicara dengan bos nya untuk melaporkan penyerangan di rumah nyonya Whote semalam.
"Comeee On Mr. Sean !! Angkat!!" Gumam Ethan dengan suara kecil. Dan setelah menunggu cukup lama, akhirnya panggilan itu tersambung.
"Hallo Ethan...." Sapa Mr. Sean begitu telpon itu ia terima.
"Huff.. akhirnya aku bisa bicara dengan mu Mr. Sean," Ujar Ethan, yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Heem.. ada apa?" Tanya Mr. Sean.
"Mr. Sean, nyonya White kemarin malam terjadi penyerangan di rumah nya." lapor Ethan, dengan nada serius.
"Apa? Lalu bagaimana keadaannya?" Ulang Mr. Sean tidak percaya kalau akan ada orang yang sanggup mencelakai wanita sebaik Nyonya White.
"Nyonya White diserang di kediamannya tadi malam Mr. Sean. Semua bodyguard nya tewas. Aku tidak tahu mengenai hal itu Mr. Sean. Yang aku tahu, dia mencoba menghubungi mu saat ia berada dalam keadaan kritis, tapi kau tidak mengangkat telponnya. Itulah mengapa dia akhirnya menelpon ku." Ethan menjelaskan semua nya pada bos nya.
Mr. Sean kembali menarik nafas dan menghelanya dengan berat dan mengusap kasar wajah nya.
"Jadi kau menelpon ku berkali-kali karena nyonya White?" Seru nya penuh penyesalan.
"Benar Mr. Sean." Jawab Ethan.
Ethan dapat mendengar Mr. Sean menghela nafas berat. Sepertinya, bos nya itu sangat sedih mendengar kabar kalau sahabat nya di serang.
"Sewaktu aku tiba di sana, nyonya White sudah dalam keadaan kritis. Dan aku sudah membawa nya ke rumah sakit untuk segera di tangani. Namun saat ini aku sudah tidak di rumah sakit lagi Mr. Sean. Aku sudah di rumah. Aku rasa akan lebih aman jika putri nya nyonya White aku bawa pulang ke rumah. Sementara di rumah sakit aku minta beberapa orang untuk menjaga nyonya Whitee. Dom juga berada di sana.." tambah Ethan
"Ethan terima kasih karena kau sangat sigap dalam mengatasi masalah ini.." ucap Mr. Sean dengan suara berat nya.
"Bukan masalah besar, Mr. Sean." jawab Ethan.
"Lalu pelaku nya, apakah kau sudah menemukan pelaku penyerangan terhadap Nyonya White?" Tanya Mr. Sean khawatir.
Ethan pun menjelaskan lebih rinci lagi segala informasi yang telah ia dan anak buah nya gali semalam. Ternyata semalam Ethan sibuk dengan handphone nya karena ia sibuk memerintahkan anak buah nya mencari informasi mengenai penyerangan di rumah nyonya White.
Setelah berbicara panjang kali lebar, Ethan pun teringat sesuatu.
"Dan selain itu, Mr. Sean. Nyonya White juga menitipkan anak nya pada mu. Sebab saat ini tidak ada orang lain yang bisa dia percaya selain diri mu untuk menjaga nya ." Karang Ethan demi dapat menyingkirkan Adaline dari hadapan nya.
" Ethan, kau tahu sendiri kan, aku ini tidak terlalu menyukai anak-anak, kecuali anak-anak ku kelak." Tolak Mr. Sean halus. Sebenarnya Mr. Sean tahu, nyonya White tidak memiliki anak usia dini. Satu-satunya anak nyonya White hanya Adaline seorang. Dan umur Adaline sudah pasti tidak lima tahun.
Alasan lain Mr. Sean tidak ingin menjaga Adaline karena sepengetahuan Mr. Sean Adaline adalah sosok yang menyebalkan. Dia adalah seorang gadis bossy yang dengan sikap arriogan nya yang membumi dan melangit. Mr. Sean sungguh tidak ingin berurusan dengan gadis manja ini.
Jadi demi menyelamatkan diri nya sendiri, Mr. Sean merasa lebih baik Ethan saja yang mengurusi gadis ini.
"Tapi Mr. Sean, aku juga tidak bisa mengurusi bocah super menyebalkan seperti dia. Baru satu malam saja dia tinggal di rumah ku, dia sudah membuat ku sakit kepala luar biasa Mr. Sean !!" Tolak Ethan penuh penekanan disetiap kata-kata nya.
"Aku yakin kau bisa Ethan." Ucap D dengan mudah nya.
"Tidak ! Aku tidak bisa. Lagi pula Nyonya White menitipkan nya pada mu. Jadi kau yang harus menjaga nya Mr. Sean ." Tolak Ethan sekali lagi.
"Siapa atasan mu saat ini Emmanuel Ethan ?" Tanya Sean dengan nada suara yang terdengar bossy.
Mr. Sean memang Senang memanggil Ethan dengan Emmanuel Ethan karena Emmanuel adalah nama kucing nya Mr. Sean yang kelakuan nya sama cuek nya dengan Ethan. Sebenarnya Mr.
"Atasan ku sudah jelas adalah diri mu Mr. Sean, but I can't ... Adaline White ini sungguh gadis yang menyebalkan !!" Sungut ETHAN
"Woooww... Ternyata dia adalah seorang gadis? Bukan nya tadi kau mengatakan kalau dia adalah seorang bocah?” Bak tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengompori Ethan, Mr. Sean pun mulai memanas-manasi Ethan.
"Ck! Ah, masa mantan seorang pembunuh bayaran kalah menghadapi seorang gadis remaja?" Mr. Sean terus mengompori Ethan.
"Kalau kau meminta aku untuk membunuh nya maka itu akan sangat mudah bagi ku untuk mengabulkan nya. Tapi kalau kau minta aku untuk menjaga nya, sungguh Mr. Sean, aku tidak bisa. Aku sedang tidak ada niat membuka PAUD!" Tolak Ethan untuk kesekian kali nya.
"Aku hanya meminta mu menjaga nya untuk sementara ini Ethan. Ya, paling tidak sampai kita tahu siapa dalang di balik penyerangan terhadap nyonya White." seru Sean.
"Tapi Mr. Sean -?"
"Cih!! Kau ini kenapa Emmanuel Ethan? Apa jangan-jangan kau takut pada seorang gadis?" sindir Mr. Sean .
"What?! Are you kidding me Mr. Sean ?!" Seru Ethan merasa harga dirinya sebagai mantan pembunuh bayaran ternistakan oleh ucapan Sean .
"Maksud ku, jangan-jangan kau takut jatuh cinta pada gadis ini. Haha" Mr. Sean tertawa puas telah berhasil menyentil pengawal pribadinya yang sedingin batu es itu.
"Itu tidak lucu Mr. Sean. Semenjak kau menikah sikap mu semakin aneh." Balas Ethan menyindir.
" Ethan, kau sudah berani membalas kata-kata ku seperti nya."Ujar Sean dengan suara berat nya
"Siap tidak Mr. Sean ."Jawab Ethan cepat.
"Nah, untuk sementara seperti itu saja. Kau bantu Adaline dan ibu nya. Lalu selidiki kasus ini dan lapor kan pada ku setiap perkembangannya. Dan ya ....satu lagi, lindungi Adaline White ....Mana tahu dia adalah jodoh mu." ucap Mr. Sean sambil tertawa dan langsung mematikan telepon itu.
Ethan berdecak kesal saat Bos nya mematikan telpon itu begitu saja. Kekesalan Ethan semakin bertambah saat melihat wajah Adaline yang yang bossy.
Dalam hati, Ethan sudah berprasangka buruk terhadap Adaline. Pasti gadis ini tidak lebih dari seorang gadis manja yang akan merepotkannya.
"huuuff! Come on, Ethan Ini hanya untuk satu hari saja! Besok semua akan kembali membaik." Ujar nya menyemangati diri nya sendiri.
"Kamu mau kemana? Tolong kau antarkan aku ke rumah sakit!." Perintah Adaline pada Ethan.
“Rumah sakit ibu mu sudah aku pindahkan.” Jawab Ethan dengan wajah datar nya.
“Kalau begitu, antarkan aku ke rumah sakit tempat dimana mommy ku di rawat saat ini.” Ujar Adaline lagi.
“Tidak bisa.” Jawab Ethan yang bahkan lebih singkat dari jawaban Ethan sebelumnya.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau mengantarkan ku ke tempat mommy ku di rawat?? Kau tahu kan kalau mommy ku sedang berjuang hidup dan mati saat ini sendirian di sana? Kenapa kau malam melarang ku!” Sembur nya sangat marah pada Ethan.
“Karena ibu mu sedang berjuang hidup dan mati di sana lah maka aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak ingin orang-orang yang mencari mu dan ibu mu mengetahui kalau ibu mu di rawat di rumah sakit itu. Sebab saat ini, keberadaan ibu mu di rumah sakit itu sedang aku rahasiakan.” Ujar Ethan.
Adaline terdiam mendengarkan penjelasan Ethan. Dia memang tidak tahu kalau ibu nya telah di pindahkan ke rumah sakit lain. Dan keberadaan ibu nya di rumah sakit itu saat ini tidak ada yang mengetahui. Dan semua hal itu ternyata pria berwajah es ini lakukan untuk melindungi ibu nya Adaline.
“Baiklah kalau begitu.” Ucap Adaline pelan dan tidak lagi memaksa Ethan untuk mengantarkan nya ke rumah sakit.
Adaline melihat sepintas ke Ethan lalu setelah membulatkan tekad nya Adaline pun berkata kembali,” Kalau begitu, antarkan saja aku bertemu dengan Mr. Sean. Aku ingin bicara hal yang penting dengan nya.”
"Tidak bisa ! Mr. Sean tidak bisa menemui mu sekarang. Dia masih ada urusan penting." Ujar Ethan dengan tetap mempertahankan ekspresi wajah nya yang datar. "Mungkin besok dia baru bisa bertemu dengan mu. Jadi untuk hari ini kau bisa istirahat di rumah ku.” Lanjut Ethan.
“Dan ya, setelah kita sarapan aku akan mengantarkan mu ke hotel. Aku sudah meminta anak buah ku untuk mencarikan sebuah hotel dengan tingkat keamanan yang tinggi untuk mu. Selain itu, kau juga akan dijaga oleh anak buah ku. Sehingga kau tidak perlu bersusah payah tidur di sofa seperti tadi malam.” Tukas Ethan.
Ethan melirik ke arah Adaline dan dalam hati Ethan berdoa,"semoga dia lebih memilih untuk tinggal di hotel dari pada ke rumah ku!" Ethan terus memanjatkan doa nya. Sebab kalau sampai Adaline lebih memilih rumah nya dari rumah sakit maka sudah pasti Ethan akan selalu di repotkan oleh Adaline setiap hari nya sampai masalah Adaline ini teratasi.
"Apa hotel akan se-aman rumah mu?" Tanya Adaline, lalu turun dari sofa tempat dia tidur tadi dan menempatkan dirinya tepat di depan Ethan.
Karena Adaline tiba-tiba berhenti di depannya, Ethan menjadi kaget dan spontan melangkah ke belakang.
"Entahlah .. Yang pasti semua nya seperti yang telah aku katakan tadi." Jawab Ethan gugup, mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
"Kalau kau saja tidak bisa memastikan nya, maka sebaiknya aku istirahat di rumah mu saja sampai semua masalah ini selesai." Sebut Adaline seenaknya, lalu berlalu dari Ethan yang masih diam di tempatnya.
"Oh Iya! Aku lapar." Seru Adaline yang tidak ada segan nya sama sekali dengan Ethan, padahal jelas-jelas semalam Adaline melihat bagaimana Ethan menghabisi semua orang yang membunuh semua orang jahat itu tanpa terlihat oleh mata telanjang manusia.
“Semoga hari ini dia tidak merepotkan ku.” Gumam Ethan pelan, mengikuti Adaline dari belakang.
***
Ethan dan Adaline pun beranjak menuju dapur Ethan.
Sama seperti tadi malam, suasana rumah Ethan sangat lah sunyi. Dia memang jarang meminta anak buah nya untuk masuk ke wilayah pribadi nya.
Anak buah Ethan hanya masuk untuk kepentingan penting saja misal nya seperti semalam. Semalam Ethan meminta anak buahnya untuk mempersiapkan berbagai jenis makanan dan minuman untuk Adaline. Hal ini Ethan lakukan agar diri nya tidak kerepotan dengan Adaline pasti nya.
Sesampainya di dapur nya Ethan
“Kalau kau ingin makan, semua nya sudah ada di atas meja makan. Kalau kau mau istirahat, kau bisa gunakan di kamar itu atau kau bisa kembali ke sofa yang tadi.” Terang Ethan pada Adaline sebab sebenarnya dia kabur sebentar dari biang sakit kepala nya itu.
“Tapi aku tidak biasa makan sendirian.” Ucap Adaline, kembali membuat ulah.
“Kalau begitu, kau bisa makan sambil menelpon teman mu!” celetuk Ethan yang ingin mengakhiri percakapannya dengan Adaline secepatnya.
“Aku tidak punya teman.” Jawab Adaline sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Ck.. sudah ku duga!” seru Ethan, keceplosan bicara.
“Aku tidak punya teman, karena memang tidak ada yang satu level dengan ku.” Ketus Adaline, memandang Ethan dengan tatapan sombong nya.
“Jadi, mau tidak mau kau harus menemani ku makan malam.” Ujar Adaline.
"Ethan tenang lah! Ini hanya lah sebuah cobaan Ethan!! C-O-B-A-A-N!!" ujar Ethan pada dirinya sendiri, penuh penekanan.
Karena tidak ingin membuang -buang waktu berharga nya untuk berdebat dengan Adaline, akhirnya Ethan setuju untuk duduk di sana menunggui Adaline makan di ruang makan.
Adaline pun makan dengan hikmat, sementara Ethan sibuk dengan handphone nya. Tidak memperhatikan Adaline sama sekali.
Adaline sesekali melihat pada Ethan, yang terlihat terlalu sibuk menscrol dan mengklik sesuatu di layar handphone itu.
“Pria ini sebenarnya sedang apa? Kalau dikatakan dia sedang bekerja? Mana mungkin dia bekerja. Secara sedari tadi aku lihat hanya scroll layar lalu sesekali menuliskan sesuatu.” Pikir Adaline dalam.
“Apa dia sedang baca berita? Tapi kenapa tadi aku sempat melihat dia senyam senyum sendiri?” Gumam Adaline dalam hati yang semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Ethan lakukan.
“Aku akan cek sendiri dia sedang ngapain? Secara dia kan seharusnya totalitas menjaga ku! Kenapa malah sepertinya dia malah sibuk dengan hal yang lain? Atau jangan-jangan dia sedang chatting dengan pacar nya?” Adaline menyipitkan mata nya, melayangkan pandangan tajamnya pada Ethan.
“Ehmmm Ethan, tolong buatkan aku jus.” Pinta nya yang sebenarnya hanyalah akal-akalanya semata agar Ethan pergi dan meninggalkan handphone itu di atas meja.
“Itu di sebelah mu. Kau tinggal pilih ingin jus rasa apa.” tunjuk Ethan dengan mulutnya tanpa menoleh pada Adaline.
Adaline pun melihat ke sebelahnya. Dan benar saja, di sana ada sebuah kulkas besar yang isinya ada beraneka ragam jus dalam cerek kecil yang terbuat dari kaca.
“Dia ini gila atau memang hidup sehat? Ngapain menyiapkan jus sebanyak ini?” Adaline jadi membatin sendiri setelah melihat beraneka ragam jus di dalam kulkas dengan kaca transparan itu.
“Heem.. aku lupa sesuatu. Aku ingin sambal tomat Ethan. Bisakah kau mengambilkannya untuk ku?” pinta Adaline lagi.
"Aku tidak menyerah untuk membuat mu meninggalkan handphone itu." Gumam Adaline dalam hati.
“Buka saja laci di dekat kaki mu! Segala jenis sambal ada di sana.” Jawab Ethan lagi, membuat Adaline mengumpat sendiri dalam hati sebab apa yang ia minta kembali bisa Ethan berikan tanpa harus menggeser pantat Ethan sedikit pun.
“Kalau kerupuk?” tanya Adaline yang sudah mulai Bete.
“Ada di belakang saus.” Jawab Ethan, cepat.
Adaline mendengus kesal lalu kembali bertanya benda yang lain pada Ethan.
“Aku ingin bon cabe.” pinta Adaline, berikut nya
“Di laci, di sebelah kiri mu.” jawab Ethan.
“Aku ingin garam.” Sebut Adaline lagi.
“Di belakang bon cabe.” Jawab Ethan tidak kalah cepatnya.
“Pepaya?” tanya Adaline lagi.
“Di dalam kulkas, di dalam tuperwear hijau.” Jawab Ethan.
“Semangka!” tanya Adaline berikutnya.
“Di bawah tuperwear pepaya!” Jawab Ethan.
“Sirsak?”
“Di bagian bawah sekali, di dalam kulkas.” Terang Ethan.
“Anak Gorila?” pinta Adaline yang sudah saking kesalnya karena semua yang ia minta ada.
“Ada di taman samping rumah ku.” Jawab Ethan cuek lalu menoleh ke arah Adaline dengan tatapan datar.
“Apa perlu anak gorila nya aku ajak makan bersama dengan mu?” cetus Ethan masih dengan tatapan datarnya.
“Tidak perlu! Aku sedang makan dengan bapak nya!” Seru Adaline, yang tidak jadi makan dan langsung masuk ke kamar yang di tunjuk oleh Ethan tadi.
“Huft!! Dasar pengganggu!” sungut Ethan, yang kembali meneruskan membaca novel dari penulis kesayangannya, KAK UPE.
“Astaga!! Kenapa ini malah tidak ada lanjutannya??” gerutu Ethan kesal, sebab sedang asik-asiknya membaca malah bersambung. Padahal Ethan sangat suka dengan novel yang berjudul My Death Angel karangan kak Upe itu.
Dengan cepat Ethan pun menuliskan sesuatu di kolom komentar di aplikasi Novel toon itu. “ CRAZY UP DONG KAK UPE!!!!!!!”
Setelah menuliskan pesan itu, Ethan pun kembali ke kamar nya. “Mending lanjut baca di kamar!” Serunya, dan beranjak pergi.