Bab 1

Suara riuh dari pengunjung yang berlalu lalang tidak mengalihkan pandanganku dari lelaki yang selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya.

"Denan! Tolong bawakan aku segelas americano lagi," seruku dengan suara yang sedikit kunaikkan.

Aku Theresa Daniella. Beginilah kegiatanku setiap hari selepas pulang bekerja, mengunjungi coffee shop dimana tempat lelaki yang menjadi dambaan hatiku bekerja.

"Silahkan," ucap Denan sembari menyodorkan segelas americano pesananku. "Kamu nggak lupa ‘kan, ini udah gelas ke-3 yang kamu pesan?" lanjutnya yang kujawab dengan gelengan, seraya menyeruput pelan americano yang sudah kupesan.

Terdengar embusan napas lelah dari Denan, tentu saja aku tak mempedulikannya.

"Pulang Sa, ini sudah malam. Nggak baik perempuan pulang malam-malam."

Tuh, kalian bisa menilai ‘kan? Denan adalah tipe lelaki yang cuek tapi perhatian, hingga aku merasa dia juga menyukaiku. Tetapi, ah sudahlah! Emm wait, aku tak suka saat dia memanggilku dengan sebutan 'Sa'.

"Nggak! Aku masih ingin di sini. Lagian aku juga nggak ganggu pekerjaan kamu. Dan apa tadi, kamu manggil aku Sa? Nama aku Echa! Kita udah dekat, semua orang terdekatku harus memanggilku Echa!” titahku dengan tegas tanpa mempedulikan pandangan pengunjung cafe yang lain.

"Itu menurut kamu. Menurutku, aku hanya pelayan dan kamu pembeli. Kamu nggak lupa kan, kalo aku udah punya kekasih? Lelaki yang sudah memiliki kekasih, tidak baik jika berteman dekat dengan perempuan lain.”

Ya, Denan bukanlah lelaki single. Dia memiliki seorang kekasih bernama Ayana. Perempuan itu tentu saja berbeda jauh dibandingkan dengan diriku. Kekasih Denan masih berusia 19 tahun dan masih duduk di bangku perkuliahan semester awal.

"Ini sudah malam, Theresa," ucap Denan penuh penekanan. "Ayana nanti akan mengunjungiku, nggak enak kalo dia lihat kamu di sini.”

Aku tersenyum miring. Lagi-lagi Denan selalu mementingkan perasaan kekasih ingusannya itu. Hei! Aku yakin Denan tidak buta untuk melihat kelebihanku. Bahkan seujung kuku pun, kekasihnya itu tidak pantas dibandingkan dengan aku!

"Memang kenapa? Biar saja dia tau kalau aku lebih pantas untuk ada di sini dan menunggumu selesai bekerja.”

Terlihat bahwa Denan mengusap wajahnya kasar setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulutku.

"Terserah kamu aja. Aku harus kembali bekerja," ucapnya lalu meninggalkanku sendiri.

Aku mendengus kasar lalu kembali mendudukkan diriku. Sejujurnya aku mulai mengantuk. Kulirik arloji yang bertengger di tangan kiriku.

22.05

Sudah hampir 3 jam aku berada di sini. Tak apa, demi menunggu sang pujaan hati. Terkadang aku heran dengan diriku, jika ada hal yang kubenci di dunia ini jawabannya adalah 'menunggu'. Tapi entah kenapa, menunggu Denan adalah hal tercandu yang pernah kulakukan. Jarum jam terus berjalan, mataku semakin memberat bahkan untuk mengangkat kepala saja tidak kuat. Kutaruh kepalaku di atas lipatan kedua tanganku, lalu mulai memejamkan mata. Belum ada 10 menit, mataku kembali terbuka lebar. Aku mendongakkan kepalaku ke depan sana.

"Sialan!" desisku. Rasa kantuk menguap begitu saja entah ke mana setelah melihat kejadian menyebalkan yang membuat hatiku terbakar.

Di hadapanku sekarang, Denan dan Ayana mulai melempar senyum. Tentu saja senyum yang mengisyaratkan cinta. Entah sejak kapan gadis ingusan itu datang, perasaan aku baru saja memejamkan mata dan sekarang gadis ingusan itu sudah berada di sana dan menggoda calon suamiku?

Iya calon suami.

Karena aku benar-benar yakin akan menikah dengan Denan. Walaupun pria itu terus menolakku. Tapi bukan Theresa namanya jika langsung menyerah begitu saja.

Kurapikan rambutku yang berantakan, tak lupa merapikan blouse navy-ku yang mulai lusuh. Lalu kulangkahkan kakiku menuju ke arah mereka yang masih asik bercengkrama dibatasi oleh kaca di dekat kasir.

Ekhem.

Seketika Denan dan Ayana menghentikan obrolannya. Senyum di bibir mereka hilang, terlebih Ayana yang langsung mendongakkan kepalanya. Tentu saja gadis ingusan itu tahu bahwa aku mengincar kekasihnya itu. Bahkan aku pernah meminta Ayana untuk meninggalkan Denan dengan uang kompensasi 50 juta. Tapi memang gadis ingusan itu munafik, berlagak tidak butuh uang dan lebih memilih mempertahankan hubungannya dengan Denan.

"Ingin menambah pesanan? Atau ingin berpamitan pulang?" tanya Denan dengan nada yang datar. Cih! Saat bersama Ayana akan menggunakan nada lemah lembut nan alus. Tapi ketika berbicara kepadaku seperti kanebo kering.

"Kenapa dia datang ke sini?" tanyaku tak suka seraya menunjuk Ayana dengan jari telunjuk lentikku.

"Wajar jika seorang perempuan merindukan kekasihnya.”

Hello! Aku bertanya kepada Denan, kenapa malah gadis ingusan itu yang menjawab?

Apa tadi katanya kekasih? Iuh! Denan bahkan lebih cocok jadi kakak lo! Ingin rasanya aku mengeluarkan kata-kata sarkas untuknya, tapi tenang aku ingin terlihat anggun di depan calon suamiku.

Aku terkadang heran, kenapa si Ayana ini selalu terlihat kalem dan lembut di hadapan Denan? Padahal gadis ingusan ini benar-benar menyebalkan. Bahkan tak hanya sekali dia memandangku dengan pandangan sinis penuh kebencian.

"Untuk apa menemui calon suamiku?" tanyaku dengan nada menantang penuh rasa percaya diri.

"Jangan ngawur!"

Ya, itu suara Denan. Lelaki itu sudah memandangku dengan tatapan tajam. Biar saja, toh aku juga tidak peduli.

"Kita akan menikah," ucapku santai tentu saja Ayana langsung memandangku tak suka. Langsung saja kukeluarkan smirk-ku.

"Nggak!" bantah Denan cepat. "Tolong jangan membuat masalah, Sa. Banyak pelanggan di sini."

"Kak Theresa lebih baik pulang daripada buat ribut di sini."

Tanganku mengepal saat Ayana berani mengusirku. Aku pun melempar tatapan sengit ke arah Denan, "Kalo kamu tau pelanggan banyak, kenapa harus bermesraan sama gadis ingusan ini?!" sarkasku. Pandanganku lalu teralih ke arah Ayana yang sekarang masih tetap memandangku dengan pandangannya yang sok lembut itu.

"Buat lo! Harusnya lo yang pergi dari sini. Ganggu calon suami gue kerja aja!”

Baru saja Ayana akan menjawab, Denan langsung menyahut ucapanku.

"Terserah! Lebih baik kamu pulang. Aku harus melanjutkan pekerjaanku lagi."

Setelahnya lelaki itu pergi ke belakang entah untuk apa.

"Apa lo lihat-lihat?!" sarkasku pada Ayana, gadis itu langsung buru-buru menunduk.

Inilah aku, tipikal wanita yang galak, judes, jutek, lengkap sudah. Tetapi akan berbeda saat sudah berhadapan dengan Denan. Tentu saja agar lelaki itu tertarik dan luluh kepadaku. Walaupun sudah hampir satu tahun lebih belum ada perubahan sih HAHAHA

"Gue ingetin, nggak usah belaga sok polos di depan Denan!"

Ayana langsung kembali mendongak, "Apa maksud Kak Theresa?" tanyanya dengan nada sok polos. Ingin rasanya aku mencabik-cabik mulutnya.

"Cih! Gue tau lo tu bukan gadis polos! Tujuan lo biar apa? Biar Denan luluh gitu sama lo?"

Nah kan, akhirnya si Ayana ini ngeluarin smirk-nya. "Sayangnya, Kak Denan memang memilih aku.”

Jleb.

"Kau…!" Aku menggeram sebal.

Sialan!

Bab 2

Tiba-tiba saja Denan kembali datang menghampiriku yang masih mencaci maki Ayana. Bahkan tatapan heran pengunjung lain tak kupedulikan.

“Theresa! Cukup!" tekan Denan dengan nada dingin yang membuatku terdiam detik itu. "Pulang sekarang! Aku menghormati kamu sebagai pelanggan di cafe ini. Tapi aku juga nggak akan diam aja kalau kamu buat keributan di sini,”lanjutnya masih menatapku tajam.

“Tap—”

“Jangan mancing emosiku, Theresa. Apa kamu sengaja biar aku dipecat?”

Masih dengan napas memburu, aku menelan salivaku kasar tak menyangka jika Denan akan memandang diriku seburuk itu. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatnya kehilangan pekerjaan.

“Maaf,” cicitku. Demi Tuhan, aku jarang sekali mengucapkan kata maaf sekalipun aku salah. Tetapi entah kenapa jika dengan Denan, kata maaf dari mulutku bisa semurah itu.

“Aku pamit.”

Setelah mengatakan itu, kusentuh sebelah pipi Denan dan mengecupnya pelan. Aku tau Denan pasti kesal, tapi itu bukan pertama kali baginya. Berbeda dengan Ayana yang kaget setengah mati. Walaupun aku kecewa Denan mengusirku, tapi dalam diriku tertawa melihat ekspresi Ayana sekarang.

***

Aku mencengkram erat setir mobilku, kesal dengan perlakuan Denan. Rasanya ingin segera berendam dengan aroma terapi favoritku untuk menenangkan pikiranku. Persetan dengan Denan dan Ayana yang akan kembali bermesraan, Untuk hari ini aku akan mengalah. Namun, baru saja keluar dari mobil, Papa dan Mama sudah menyambutku dengan tatapan mereka yang datar.

"Selesai meeting jam 11 malam?" sindir Papaku, Wira.

Kuembuskan napas kasar. Setiap hari Papa dan Mama selalu mengawasi diriku. Padahal aku bukan lagi remaja, umurku sudah 24 tahun.

"Sampai kapan kamu sibuk kerja dan terus saja keluyuran, Cha? Umur kamu udah masuk 24 tahun." Itu suara Mamaku, Wening namanya.

Aku memutar bola mataku malas, lalu melangkahkan kaki mendekati kedua orang tuaku. "Echa pulang malam begini bukan cuma cari cuan, tapi juga cari jodoh, Pap, Mam."

Papa mengernyitkan keningnya tidak paham. "Cari jodoh di mana malam-malam begini? Di club?"

Aku pun mengambil duduk di samping Papa. Seperti anak kecil yang bermanja pada sang ayah, itulah yang kulakukan. Menggeliat pada dada bidang Papa dan menghirup aroma tubuhnya yang khas. Kulirik lewat ekor mataku, Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya ini.

Beginilah aku, walaupun sifat dan sikapku jutek, judes, cuek, dan arogan, tapi ketika sudah bersama kedua orang tuaku, khususnya Papa, akan berubah 180° menjadi gadis manja.

"Coba ceritakan kepada Papa, apa maksud dari perkataanmu tadi, hm?" tanya Papa seraya mengusap pelan surai sedikit kecoklatan milikku.

Kutegakkan tubuhku, lalu memandang secara bergantian ke arah mereka yang sepertinya sedang menanti jawaban dari bibirku.

"Huftt. Echa itu cari jodoh bukan di club, tapi di cafe," ucapku seraya tersenyum malu membayangkan wajah tampan Denan. "Bahkan sebentar lagi kita akan menikah," lanjutku penuh percaya diri, walaupun di dalam hatiku ada banyak sekali keraguan.

Kalian tahu bagaimana reaksi Mama dan Papa? Mulut mereka terbuka seperti tidak percaya dengan ucapanku.

HAHAHAHA

Tawa Papa menghiasi seisi ruangan, disusul oleh tawa Mama. Sebal. Padahal aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Memang yang mereka tahu, aku tidak dekat dengan siapapun, bahkan untuk berdekatan dengan pria saja enggan.

"Saking capeknya kamu sampai halu gitu?" sindir Mama masih disertai tawanya.

"Aku nggak halu!" bantahku cepat.

"Sejak kapan kamu senang main ke cafe?" timpal Papa.

"Ya sejak Echa ketemu sama si ganteng," jawabku sambil tersipu malu.

Entah karena melihat rona merah di pipiku atau apa, tiba-tiba saja tawa Papa mereda dan langsung menatap serius ke arahku. "Kamu nggak ngarang, Cha?" tanyanya.

Aku mengangguk cepat, "Aku udah bilang Pap, aku udah ada calon suami. Jadi, Papa sama Mama nggak perlu repot-repot jodohin Echa sama orang nggak jelas itu.”

Ya, sebenarnya tujuan lain aku mengejar Denan adalah agar orang tuaku tidak kekeh untuk menjodohkanku dengan teman semasa SMA-ku dulu. Sebenarnya pria yang akan dijodohkan denganku itu tampan dan mapan, tetapi ingatanku tidak akan lupa jika semasa sekolah dulu, pria itu adalah playboy cap kadal. Bahkan jumlah mantannya tidak bisa dihitung dengan jari. Demi Tuhan, aku tidak bisa hidup bersama pria yang tidak pernah puas hanya dengan satu wanita.

Kevin Prabaswara. Bisa dibilang lelaki itu berasal dari keluarga yang terpandang bahkan keturunan darah biru. Ayahnya adalah seorang pebisnis sukses. Ya kalian pasti bisa menebak sendiri kan apa alasan Papaku ingin melakukan perjodohan ini? Yap, pernikahan bisnis. Baru membayangkan wajah Kevin yang selalu mengedipkan matanya saat bertemu denganku saja membuat bulu kudukku berdiri.

Papa mengubah posisi tubuhnya agar lebih jelas menatap wajahku, matanya seperti sedang mencari kebohongan di mataku.

"Kamu nggak niat bohongin Papa sama Mama kan?" tuduh Papa. Bukan tanpa alasan, karena dulu aku pernah membawa seorang pria yang umurnya bisa dibilang cukup dewasa ke rumah. Namun, karena keteledoranku akhirnya rencana itu berantakan.

Ya bagaimana lagi, aku terpaksa karena saat itu Denan belum juga menerima ajakanku untuk menikah, sedangkan Papa terus saja mendesakku. Jelas saja desakan itu membuatku uring-uringan, hingga munculah ide gila itu.

"Enggak!" bantahku. Walaupun sebenarnya aku pun tahu bahwa Denan pasti akan menolak lagi.

"Mama nggak yakin," sahut Mama. "Ini pasti akal-akalan kamu kan?"

"Ya, Papa setuju dengan Mamamu. Pasti ini akal-akalan kamu lagi Echa. Lagian apa susahnya menerima Kevin."

Apa tadi? Apa susahnya menerima Kevin? Jelas susah! Aku tidak yakin jika menikah dengan pria itu, rumah tangga kami akan harmonis.

"NOO!" teriakku. Hingga mereka sontak menutup kedua telinga.

"Aku tetap nggak akan mau dijodohin sama si playboy! Papa Mama emang mau kalo nanti pernikahan anak semata wayang kalian cuma bertahan seumur jagung?!”

"Hush! Ngomong apa sih kamu? Dijalanin aja juga belum, udah mikir cerai aja," ujar Papa seraya memijat pelan pelipisnya. "Dilihat dari background keluarganya, Kevin itu pasti anak baik-baik, Cha. Papa yakin kamu bakal bahagia sama dia.”

Bahagia?

Tukang selingkuh dan tukang mempermainkan perasaan wanita itu tabiat, susah diubah. Aku yakin jika Kevin belum berubah. Bukan persoalan itu saja yang membuatku enggan menikah dengan Kevin, tetapi dulu Kevin pernah hampir melecehkan teman sekelasku. Memang dasar kadal jantan!

Aku memberengut kesal dan melemparkan tatapan sinis kepada kedua orang tuaku. "Echa punya pilihan sendiri, satu hal yang harus Papa dan Mama tahu, kalo si Kevin itu nggak sebaik yang kalian pikir.”

Papa mengembuskan napas lelah menghadapi sifat keras kepalaku, "Sekarang kamu maunya gimana?”

"Echa udang bilang, kalo udah ada calon.”

"Ya sudah. Kalo memang kamu udah punya calon, hari Minggu besok bawa ke hadapan Papa dan Mama."

Deg.

Mampus!

Gimana ini?

"Hah?" Aku mematung sekarang.

"Bagaimana siap?" tanya Papa dengan nada menantang.

'Aduh, gimana kalo Denan nolak? Gue nggak mau dijodohin,' batinku bergidik ngeri.

"Gimana sayang? Kamu bisa 'kan memenuhi permintaan Papa kamu?" timpal Mama yang sedari tadi hanya diam. Astaga, kenapa Mama juga sekarang ada dipihak Papa?

"K-kok cepet banget sih Pap? Lagian baru jalin hubungan beberapa bulan, masa udah aku bawa ke rumah aja sih?"

"Lebih cepat lebih baik, Echa."

"Kasih waktu 1 bulan," negoku.

Papa dan Mama mengernyitkan kening bersamaan.

"Itu terlalu lama," ucap Papa. "Dua minggu. Itu waktu yang Papa kasih untuk membawa calon suami kamu ke rumah. Jika lebih dari itu kamu harus menikah sama Kevin," final Papaku.

Jika kalian bertanya dari mana sifat keras kepalaku berasal? Sudah pasti dari Papaku. Jika Papa sudah mengambil keputusan, rasanya sulit sekali untuk diubah. Kecuali Mama yang membujuknya. Tapi sekarang untuk meminta bantuan ke Mama juga sudah tidak mungkin, karena Mama juga ikut mendesakku.

Huftt.

Ah, sial! Keadaan selalu saja memojokkanku.

Bab 3

*Author POV

Echa menggigit kukunya seraya mondar-mandir di dalam kamar. Percakapan dengan kedua orang tuanya terus menghantui pikirannya. Echa jadi menyesali keputusannya untuk membawa Denan ke rumah.

Bagaimana caranya dia membawa Denan menemui orang tuanya dalam waktu 2 minggu?

"Ih! Gimana ya?" gumam Echa pelan.

Wanita itu pun mengambil ponselnya yang disimpan di atas nakas, setelahnya dia mulai membuka aplikasi chat berwarna hijau. Baru saja dia akan mengetikkan sesuatu, tiba-tiba jarinya terhenti, Echa menepuk pelan keningnya.

"Oh iya!" ingatnya sembari menepuk kening pelan. "Nomor ponsel gue kan diblokir sama Denan."

'Sial!' umpat Echa dalam hati

Akibat terlalu sering mengirimi pesan tidak bermutu, Denan memutuskan untuk memblokir nomor Echa.. Bukan sekali dua kali lelaki itu melakukan hal serupa, bahkan sudah berulang kali hingga Echa mendatangi pria itu dan merengek agar Denan membuka blokirannya.

"Oke, besok gue bakal minta Denan buka blokirannya," kata Echa kepada dirinya sendiri. "Sekarang fokus, gimana caranya biar bisa bawa calon suami ke hadapan Papa Mama."

Jika kalian kira Echa itu sulit jodoh, jawabannya salah. Banyak sekali yang sering mendekati Echa, tetapi wanita itu selalu menolak dengan melontarkan kalimat-kalimat pedas. Yang diinginkan hanyalah Denandra Nanggala, bukan yang lain.

Bisa saja sih, Echa menyewa pria lagi untuk menjadi pacar sewaannya, tapi jika Wira setuju dan menyuruh mereka menikah akan bahaya. Entah bagaimana caranya Echa harus membawa Denan dan membuat lelaki itu mau menikahinya.

"Capek, mikir terus. Mending tidur, besok kerja," putus Echa. Selain Denan, pikiran Echa hanyalah seputar pekerjaan.

Tipikal alpha woman.

***

Di sisi lain, Denan sedang memandang sendu ke arah wanita paruh baya yang sekarang sedang terbaring lemah di hadapannya dengan mata terpejam. Siapa lagi jika bukan ibunya.

Sudah hampir 3 hari, ibu Denan dirawat di rumah sakit karena penyakit gagal ginjalnya mulai kambuh dan selama 3 hari pula, selepas pulang bekerja Denan selalu pergi ke rumah sakit. Walaupun sudah sering melakukan cuci darah, tetapi akhir-akhir ini kondisi ibunya semakin memburuk. Itulah yang menyebabkan Denan harus kerja lebih keras agar bisa membayar biaya rumah sakit serta cuci darah ke depannya.

"Kerja apa lagi ya biar bisa bayar biaya pengobatan ibu?" tutur Denan lirih.

Gaji Denan sebagai barista tentu saja kurang. Untuk membayar kebutuhan yang lain pun Denan terpaksa membongkar tabungannya bahkan pernah sekali Ratih -Ibunya- meminta Denan untuk menjual cincin pernikahan miliknya dengan mendiang sang suami dulu.

Embusan napas terdengar dari mulut Denan. Dari sorot matanya saja sudah terlihat bahwa lelaki itu lelah, sangat lelah. Tiba-tiba saja pikiran Denan melayang pada Echa, wanita yang terobsesi dengannya itu pernah menawarkan diri untuk membantu pengobatan Ratih.

'Tidak.’

Itulah jawaban Denan saat itu. Dia tidak mungkin mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Denan juga paham betul, bahwa Echa sebenarnya tidak mencintainya, semua yang ditunjukan perempuan itu hanya obsesi belaka. Kekasihnya juga salah satu alasan Denan menolak Echa. Gadis lugu itu sudah benar-benar menguasai hati Denan. Sifat lembut Ayana yang membuat Denan jatuh cinta setiap harinya.

'Apa aku terima saja tawaran Echa?'

Sadar akan pikiran gilanya, Denan menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengusir pikiran gila itu.

Tanpa disadari, terlihat pergerakan kecil dari jemari rapuh milik Ratih. Tak lama setelah itu, mata wanita Ratih terbuka, pandangannya sayup-sayup melihat putranya yang sekarang sedang melamun.

"Nak.." panggil Ratih lirih, sangat lirih. Denan saja sekarang belum tersadar dari lamunannya.

Dahi Ratih pun berkerut, tangan lemahnya terulur untuk menyentuh tangan putranya yang sekarang sedang berada di pinggiran brankar.

"Denan..”

"Eh?" Denan sontak langsung tersadar dari lamunannya dengan ekspresi terkejut. Tapi terkejutannya tidak berlangsung lama setelah melihat mata Ratih yang terbuka dan senyum tipis di wajah pucat ibunya.

"Ibu kenapa bangun?" tanya Denan. "Ibu perlu sesuatu?"

"Boleh ambilkan ibu minum?"

Mendengar itu, Denan lantas segera mengambil segelas air yang berada di atas nakas. Lelaki itu dengan telaten dan penuh kasih sayang menyodorkan gelas itu kepada Ratih hingga wanita paruh baya itu meneguk air di dalam gelas hingga tersisa setengah.

"Sudah, makasih ya," ucap Ratih dengan senyumnya.

"Apa Denan ganggu ibu?"

Mendengar itu lantas Ratih terkekeh, "Ganggu gimana? Waktu ibu bangun saja kamu malah melamun. Tadi ibu cuma haus makannya bangun," terang Ratih dengan suaranya yang masih terdengar lemah.

Denan tersenyum. "Yaudah, kalau gitu ibu istirahat lagi ya," titahnya sembari membenahi letak bantal serta selimut ibunya.

Bukannya memejamkan matanya, Ratih malah mengerucutkan bibirnya. "Ibu itu capek loh dari sore tidur terus."

"Tapi ini sudah malam bu," kata Denan.

"Iya ibu tau, tapi ibu itu capek lo tidur terus. Dari siang ibu belum lihat kamu, sekarang baru lihat sebentar udah disuruh tidur lagi," kekeh Ratih.

Harus Denan akui walaupun ibunya ini lemah lembut, tetapi sifat keras kepala juga melekat pada diri Ratih.

"Yaudah, aku ngalah deh," pasrah Denan sembari mengembuskan napas. "Ibu mau nonton tv?" tawarnya.

Ratih menggeleng lemah, "Ibu cuma pingin ngobrol-ngobrol sama putra ibu."

"Ngobrol apa? Nanti ibu capek," canda Denan dengan kekehan ringannya.

"Uang tabungan kita sudah habis?" tanya Ratih tanpa mempedulikan ucapan Denan sebelumnya.

Nahkan...

Sudah Denan duga jika ibunya akan membahas hal ini. Itu sebabnya dia enggan untuk mengobrol dengan ibunya. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut lelaki itu. "Biar Denan yang mikir masalah biaya pengobatan. Ibu tenang aja ya," ucap Denan menenangkan ibunya.

"Ibu cuma nggak mau nyusahin kamu. Lagian kalau seumpama ibu dirawat jalan juga nggak masalah. Besok kita pulang ya?"

Denan semakin dibuat pusing. Sudah sejak awal dirawat, Ratih selalu saja memaksa untuk pulang dan sekarang lagi. Bukannya Denan tidak ingin menuruti, tetapi kondisi wanita paruh baya itu belum stabil. Terkadang saja saat Denan bekerja, Ratih sering mengeluh perutnya terasa sakit kepada suster. Itulah yang menyebabkan Denan merasa sangat khawatir. Hanya ibu dan adiknya yang dia miliki.

Oh ya, Denan itu punya adik perempuan namanya Kinara atau yang kerap dipanggil Ara. Ara masih duduk di bangku 2 SMP dan besok ada ujian tengah semester, itulah sebabnya malam ini Ara tidak menemani Ratih di rumah sakit. Ratih sendirilah yang meminta putrinya untuk tetap tinggal di rumah dan belajar dengan giat. Toh, di rumah sakit ada dokter dan suster yang akan menjaganya.

Sedangkan ayah Denan sudah meninggal sekitar 6 tahun lalu, sejak saat itu tugas mencari nafkah digantikan oleh Denan.

"Ibu belum sembuh betul, Denan nggak mau ambil resiko," jawab Denan dengan nada datar.

Jika sudah mendengar nada datar dari putranya, Ratih tidak bisa lagi membantah karena pasti Denan akan marah dan berakhir mendiamkannya. Ratih paham betul bagaimana sikap Denan, putranya itu sangat menyayangi dirinya, bahkan rela tidak melanjutkan kuliahnya demi membiayai pengobatan dirinya serta membiayai sekolah Ara.

"Sekarang ibu tidur," pinta Denan. "Denan keluar dulu, mau ke kantin beli kopi," lanjutnya.

Ratih memandang punggung putranya yang perlahan hilang di balik pintu. Dia tahu, pasti membeli kopi hanyalah alasan belaka. Denan hanya ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya.

'Suatu saat kamu harus bahagia, nak,' batin Ratih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED