Bab 1

"Kau mau membawaku kemana, Lukas?! Lepaskan aku!" teriak Valerie.

"DIAM! Ikuti saja apa kataku,  Ibumu sudah tidak ada, maka kau harus berguna untukku!" desis Lukas, Ayah tiri Valerie.Seminggu setelah kematian Ibu kandung Valerie, Lukas dengan tega akan menjadikan Valerie sebagai alat untuk melunasi hutangnya, dengan menjual Valerie. 

Kedua tangan Valerie diikat dan dibawa paksa oleh Lukas, ke sebuah club malam. Valerie sangat takut, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sana. Lukas masih menutupi niat sebenarnya pada Valerie, membiarkan Valerie tahu ketika bertemu dengan pria yang akan membelinya.

Lukas mencengkram wajah Valerie, saat akan memasuki club malam tersebut, tatapannya tajam. "Bersikap baiklah, agar kau bisa menghasilkan banyak uang untukku!" 

"Apa yang akan kau lakukan padaku? lepas, aku tidak mau!" Vale dengan menggeram kesal, takut, ketika Lukas terus menyeretnya masuk ke dalam club malam. Valerie terus memberontak, sehingga membuat Lukas semakin marah.

Plak! Lukas menampar Valerie.

"DIAM! Sudah aku katakan agar kau diam, Vale! Atau kau akan mendapatkan lebih dari tamparan ini. Dengar, meskipun aku Ayah tirimu, tapi kau harus tetap menuruti apa yang aku inginkan! Jika mau disalahkan, salahkan saja ibumu!" desis Lukas disertai senyum seringainya.

"Aku tidak mau... Ayah? kau sangat tidak pantas menjadi seorang ayah, meskipun itu hanya ayah tiri! kau lebih pantas disebut pria bajingan!" balas Vale tidak kalah sengit,  tatapan Valerie penuh dengan kebencian terhadap Lukas– Ayah tirinya. "Lepaskan aku! kau sama sekali tidak berhak atasku!"

Valerie benar-benar marah, ia menyesal memasuki rumah itu, Valerie tidak pernah menyangka Lukas akan berbuat jahat padanya. Pantas, ibunya tidak pernah mengizinkannya untuk bertemu di rumah mereka. Valerie yang tinggal terpisah dengan Ibunya, di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota.

Setelah pikirannya tenang dan bisa menerima kematian Ibunya, Vale merasa curiga dengan kematian Ibu kandungnya, kematian yang mendadak. Tapi Vale tahu, ia tidak bisa asal menuduh tanpa sebuah bukti. Hingga Vale memutuskan untuk mencari bukti, di rumah yang pernah ditinggali Ibu–Louisa dan Lukas. Namun bukan bukti yang didapat, Valerie justru disambut oleh Lukas dengan senyum liciknya.

Hingga kini Vale berada di sebuah club malam, diseretnya Vale memasuki ruang VIP, beberapa orang berpakain hitam menyambut mereka. Lukas terlihat senang, karena transaksi yang akan dilakukan, mungkin akan berjalan dengan lancar. 

Namun berbeda dengan Valerie, ia semakin waspada dan takut, bertanya-tanya apa yang sebenarnya Lukas rencanakan? 

Di ruang VIP, ada sosok seorang pria yang sedang duduk dengan santai, kakinya menyilang, sebatang rokok dihisap olehnya hingga asap mengepul di sekitarnya, serta beberapa botol minuman beralkohol dengan harga  mahal pun berjejer rapi di atas meja.

Valerie menyadari satu hal,  jika pria itu adalah sosok yang cukup disegani. Melihat begitu banyaknya pengawal serta Lukas yang begitu menghormatinya, begitupun dengan Lukas.

Pria  itu tersenyum saat Lukas membawa orang cantik. Janji yang Lukas tepati terhadapnya. Lukas seolah tahu, apa yang disukai oleh pria itu–James.

"Tuan, saya membawa seorang wanita, yang pasti anda suka,," ucap Lukas dengan sopan.

"Kau benar-benar menepati janjimu, Lukas." Suara pria itu terdengar dingin tatapannya datar, menatap Vale dengan seringai yang terbit di wajahnya, membuat Vale merasa takut. 

Siapa pria ini? tanya Vale, berbisik dalam hatinya.

"Dengan begitu, apa hutangku lunas, Tuan James?" tanya Lukas penuh kehati-hatian.

"Hutang?" desis Vale, Lukas hanya tersenyum padanya. 

James yang masih melihat Valerie dengan tatapan penuh gairah, seolah ingin segera menyentuh wanita yang diberikan oleh Lukas. 

"Kau menjadikanku jaminan hutan, Lukas? atas dasar apa aku lakukan itu padaku?!" Lukas tidak menjawab, ayah tirinya hanya bisa tersenyum senang, karena hutang dengan jumlah yang banyak itu, akan hilang. "Pria bajingan, brengsek!  aku tidak mau, aku menolak, lepaskan aku! Tuan aku tidak ada hubungan dengan dia jadi tolong lepaskan aku!" Vale meronta, ia tidak mau dijadikan alat untuk melunasi hutang Lukas.

"Jangan melawan, Vale! Bersikap baiklah!" geram Lukas pada Vale yang berusaha untuk pergi.

"Aku mengirim sejumlah uang ke rekening kamu, sebagai bonus, dan  wanita ini menjadi milikku sepenuhnya!" ucap James, membuat Valerie membulatkan kedua matanya.

"Terima kasih, Tuan James, Anda memang sangat pengertian, hanya saja, Vale akan memberontak, anda perlu mengawasinya dengan benar. Pastikan Vale diikat, agar tidak melarikan diri, dan jangan khawatir, anak tiriku ini, masih perawan, dan tentu saja, Vale menjadi milik anda sepenuhnya, " ucap Lukas sebelum meninggalkan ruangan VIP itu, tanpa peduli pada Valerie yang terus meronta meminta lepas dari masalah Lukas, dari transaksi yang merugikan dirinya. 

"Nona Valerie... Kau sungguh cantik, tapi kau masih perlu dipoles sedikit, agar terlihat lebih baik, sehingga kau bisa membuatku puas," ucap James pada Vale dengan senyum liciknya. "Persiapkan dia, aku ingin merasakan tubuhnya malam ini juga!" perintahnya pada tangan kanannya. 

Tubuh Valerie bergetar, ia benar-benar takut saat ini, ia tidak mau berakhir di tangan pria kejam di hadapannya. Vale yang terus memberontak, berteriak meminta pertolongan, meminta agar ia  lepas dari jerat pria bernama James, tapi itu hanya sia-sia. 

"Diamlah, Nona, jangan sampai kami memukul anda, agar kau diam. Kau tidak ingin memiliki tubuh penuh luka bukan? karena jika begitu Tuan James akan semakin menambah luka di tubuh Anda. Tuan James tidak suka melihat tubuh wanita miliknya lecet sebelum digunakan!"  Seorang wanita yang ditugaskan untuk mempersiapkan Valerie, datang dengan tatapan sinisnya. Wanita itu mengingatkan agar Valerie tidak membuat James semakin marah, karena akibatnya akan semakin fatal.

"Aku tidak peduli, aku bahkan memilih mati daripada harus menjadi pemuas nafsu pria bjingan itu!" geram Vale.

Mendengar perkataan Vale membuat wanita tersenyum dengan liciknya, karena baru kali ini ada wanita yang penuh dengan perlawanan. "Nona, Anda sungguh membuatku kesal, proses ini akan lama, dan aku tidak mau membuat tuan James menunggu lebih lama lagi, jadi aku terpaksa melakukan ini padamu! Segera bawa dia, ingat jangan sampai ada luka sedikitpun ditubuhnya, jika wanita ini berontak, suntikan saja obat bius padanya!" 

Jarum suntik benar-benar dimasukkan pada lengan Valerie. Kesadarannya pun perlahan mulai menghilang. 

"Lukas, kau brengsek!" batin Valerie, menggeram marah.

Bab 2

Kedua kelopak mata Valerie perlahan terbuka, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, kini ia menyadari sedang berada di sebuah kamar. 

Valerie mencoba untuk bangkit, tapi kedua tangannya terikat di kedua sisi sudut ranjang.

Valerie menggeram kesal, "sial... aku harus pergi dari tempat ini." 

Valerie mencoba menarik tali yang mengikatnya, tapi sulit, tali itu terikat sangat kuat, sehingga ia hanya bisa menggeram kesal. 

Wanita yang sebelumnya mempersiapkan Valerie, tersenyum tipis melihat Valerie berusaha untuk melepas ikatan pada kedua tangannya. Dengan langkah perlahan, wanita itu mendekat, membuat Valerie menatap tajam dirinya.

"Jangan habiskan tenagamu, Nona. Itu akan sia-sia, tidak pernah ada yang lolos dari Tuan James. Kau sungguh cantik, Tuan James, pasti akan sangat menyukaimu, tubuhmu sangat indah, Nona Valerie."

Valerie membeku, ia tahu betul apa yang akan terjadi padanya, ia tidak mau, hidupnya harus berakhir di pelukan pria yang jahat. James, mungkin memperlakukannya sebagai budak nafsunya.  Valerie menatap benci pada wanita itu, matanya memerah, air matanya tiba-tiba keluar, membuat wanita itu menjadi kesal. 

"Jangan menangis, kau akan merusak riasan wajahmu," ucapnya tanpa merasa bersalah. Wanita itu lalu mengeluarkan jarum suntik, dan itu membuat Valerie waspada, tapi bagaimanapun ia tidak bisa lari karena kedua tangannya terikat. "Kau akan menyukai permainan Tuan Jamas, Nona Valerie..."

"Brengsek, apa yang kau suntikan padaku?!" Valerie berteriak marah, tubuhnya memberontak tapi tidak membuat suntikan itu gagal, obat masuk perlahan ke dalam tubuh Valerie. Wanita itu tersenyum, tidak peduli dengan amarah Valerie. 

"Bersikaplah baik, agar tuan bersikap baik juga padamu." Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi meninggalkan Valerie seorang diri. 

"Tolong lepaskan aku, aku tidak mau diperlakukan seperti ini!" Valerie terus berteriak memohon agar ia bisa pergi dari tempat itu. Tapi tidak ada yang mendengarnya. 

Obat yang disuntikan pada Valerie,  perlahan kini mulai terasa olehnya...

Jantungnya berdegup, udara di kamar itu mulai terasa panas, tapi sensasi di kulitnya terasa berbeda. Ada getaran halus yang terasa samar di kulitnya, merayap dari ujung jemari hingga tengkuk lehernya. Napasnya mulai tersengal pelan,  bukan karena lelah tapi karena ada sesuatu yang mengusik tubuhnya.

Suara pintu terbuka dan suara langkah terdengar perlahan mendekat dirinya, James kini menatap Valerie dengan penuh gairah, ia membuka kancing kemejanya satu persatu, tanpa melepas pandangan matanya pada Valerie, seolah mengagumi tubuh Valerie yang terlihat indah baginya.

Valerie menatap sengit James "Lepaskan aku, brengsek! apa yang akan kau lakukan padaku, jangan menyentuhku! aku tidak sudi disentuh olehmu!" 

Valerie mencoba mempertahankan dirinya, ketika melihat menatapnya dengan penuh gairah.

Valerie benar-benar takut, marah, tapi tidak ada yang bisa dilakukan olehnya.

"Kau sungguh kasar, Nona. Tapi aku suka," ucap James, tersenyum dengan liciknya. 

"Pergi kau, bajingan! jangan menyentuhku!" Valerie terus mengumpat, ia sungguh tidak rela harus berakhir menjadi wanita yang hina.

Air mata Valerie menetes, membuat James menatap sedih Valerie. "Jangan menangis, aku sungguh benci melihatnya. Valerie, aku janji kau akan menyukai permainanku." 

"Tidak... jangan sentuh aku!" teriak Valerie, menolak apa yang akan James lakukan. Namun James tidak peduli, pria itu sudah tidak sabar untuk menyentuh wanita di depannya. 

Tangan James mulai menyentuh kaki Valerie, membuat Valerie bergetar, seolah menyukai sentuhan James yang lembut dari ujung kaki hingga ke pahanya.

 "Lihat, kau menyukainya, Vale." James tersenyum dengan liciknya.

"Obat ... obat apa yang kau berikan padaku?" tanya Vale, suaranya bergetar, karena merasakan sensasi aneh dalam dirinya. 

"Obat?' James menggelengkan kepalanya.  "Itu  adalah sesuatu yang akan membawamu ke surga..."  bisik James di samping telinga Valerie.

James bangkit dan membuka ikatan tangan Valerie, James ingin Valerie bisa bergerak dengan bebas, saat disentuh olehnya. Kedua tangan Valerie kini sudah terlepas, Valerie pun memberontak, mencoba menghindar, dan lari dari James, tapi semua hanya sia-sia. 

Tubuh Valerie  terasa lemas, lututnya bergetar, dan seolah menginginkan sebuah sentuhan yang menenangkannya. James dengan senyum liciknya, mulai menyentuh Valerie, dari atas hingga bawah, membawanya kembali ke atas ranjang hingga tubuh Valerie tanpa sadar  menyukai setiap sentuhan yang dilakukan oleh James.

"Kau suka?" tanya James, yang dengan nakalnya bermain-main dengan tubuh Valerie.

"Dasar kau... brengsek. Lepaskan aku..." desis Vale, nafasnya tersenggal, hatinya menolak dengan keras tapi tidak dengan tubuhnya.

"Tapi kau menyukainya, tubuhmu tidak menolak, Vale." Suara berat James membuat tubuh Vale semakin tidak bisa menolak, semakin menikmati semua sentuhan James, dengan terpaksa. 

Valerie tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa menatap James dengan penuh kebencian, tapi hal itu semakin disukai oleh James. 

"Pertama untukmu? akan aku lakukan dengan penuh kelembutan... hingga kau menjadi candu dengan semua sentuhanku.. Valerie..."

James memegang pinggang Valerie, menyentuhnya semakin dekat dan intim, Valerie mendesah, menggeram sakit tapi penuh kenikmatan, begitupun dengan James.

James tersenyum, pria itu terlihat sangat puas, seolah ia tidak merasa rugi telah mengeluarkan banyak uang untuk wanita yang kini dalam kungkungan.

Valerie  hanya bisa terus mengumpat dalam hatinya, menyumpahi Lukas dengan penuh kebencian karena telah menjualnya pada pria brengsek seperti James.

"Aku benci hidup ini..."

***

Valerie terbangung dengan tubuh tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya, hanya ditutupi selimut tebal berwarna putih. Badannya terasa sakit, terutama di bagian intimnya. Valerie ingat bagaimana James menyentuhnya, Valerie merasa dirinya kotor.

Seorang wanita yang sempat mendadaninya, datang membawa sarapan untuknya. Valerie menatapnya dengan sinis. 

"Bersihkan badanmu dan makanlah ini, kau sudah kehilangan tenagamu, bukan?" 

"Dimana pria itu?" tanya Valerie.

"Perusahaan. Jangan berpikir kau bisa lari dari tempat ini, Nona Valerie. Jangan buang tenagamu lagi," ucapnya membuat Valerie kesal.

"Kau seorang wanita, tapi kau sangatlah kejam!" desis Valerie.

"Aku hanya seorang pekerja yang menuruti semua perintah tuannya. Panggil aku Anna, jika kau membutuhkan  sesuatu, hubungi aku." Anna meletakkan sebuah ponsel untuk memanggilnya dan pakaian yang bisa dipakai oleh Valerie di atas ranjang, lalu pergi meninggalkan Vale seorang diri.

"Ponsel?" Vale berpikir jika ia bisa mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, agar bisa lepas dari James.

Namun, Anna yang sudah berada di depan pintu, berbalik dan menatap Valerie kembali. "Jangan bertindak bodoh, jangan berpikir kau bisa meminta pertolongan. Semua yang kau lakukan, Tuan James akan mengetahuinya."

Setelah mengatakan itu, Anna pun benar-benar pergi meninggalkan Valerie dan tidak lupa mengunci kamar itu dari luar. 

Valerie terdiam, apa yang dikatakan Anna ada benarnya, James tidak mungkin berbuat baik sehingga memberikannya ponsel padanya. Valerie meringkuk di atas ranjang, tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Hingga ia teringat akan Lukas, Ayah tirinya yang benar-benar sangat jahat.

"Pria brengsek itu, pasti sedang bersenang-senang!" geram Valerie.

Benar saja apa yang dipikirkan oleh Valerie, jika Lukas kini tengah bersenang-senang dengan uang yang dimiliki olehnya. Bermain dengan wanita, judi, bahkan juga mabuk. Lukas benar-benar tidak memikirkan bagaimana nasib Valerie, tidak peduli sama sekali.

Namun saat ia sedang bersama dengan seorang wanita, beberapa pria berjas hitam datang mengganggu aktivitasnya, wanita yang bersamanya pergi meninggalkannya, karena takut akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Siapa kalian? kalian menggangguku, wanita itu jadi pergi meninggalkanku. Sial padahal aku sudah membayar mahal!" geram Lukas pada beberapa pria di depannya. 

Namun bukan jawaban yang didapati oleh Lukas, justru pukulan yang membuat Lukas penuh dengan rasa sakit. Lukas tersungkur di atas lantai dengan darah yang mengalir di wajahnya. 

Lukas tidak mengerti mengapa mereka memukulnya, apa karena Valerie?

"Kalian... anak buah Tuan James?" tanya Lukas dengan nafas yang tersengal.

"Tuan James?" terdengar suara berat, dari seorang kakek tua, berjalan hingga berada tepat di depannya. 

"Siapa kau?" tanya Lukas, kini ia menyadari jika mereka bukan suruhan dari James. 

"Dimana Valerie?" lanjutnya bertanya.

Lukas hanya tertawa, membuat pria tua itu menatapnya dengan penuh kebencian, tapi ia masih menahan dirinya. 

"Valerie? hahaha ..." Lukas berdiri, menatap lelaki tua itu dengan sinis. "Dia sudah menjadi milik Tuan James, kau tahu, berkatnya aku mendapatkan uang yang banyak. Apa kakek tua ini juga ingin merasakan tubuh Valerie, sayang sekali, Tuan James sudah mendapatkannya lebih dulu. Kau tunggu saja ketika Tuan James bosan."

Mendengar itu, pria tua itu semakin marah, hingga memukul kepala Lukas dengan tongkat yang dipegang olehnya. Lukas kesakitan dan ingin membalas tapi dua orang pengawal pria tua langsung memukulnya kembali, hingga Lukas tidak bisa lagi bergerak. 

"Cari tahu siapa James? dan aku ingin kalian bawa Valeria padaku, secepatnya!" titah kakek tua itu.

"Siapa... siapa kakek tua itu?" bisik Lukas dalam hatinya.

Bab 3

Kedua kelopak mata Valerie perlahan terbuka, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, kini ia menyadari sedang berada di sebuah kamar. 

Valerie mencoba untuk bangkit, tapi kedua tangannya terikat di kedua sisi sudut ranjang.

Valerie menggeram kesal, "sial... aku harus pergi dari tempat ini." 

Valerie mencoba menarik tali yang mengikatnya, tapi sulit, tali itu terikat sangat kuat, sehingga ia hanya bisa menggeram kesal. 

Wanita yang sebelumnya mempersiapkan Valerie, tersenyum tipis melihat Valerie berusaha untuk melepas ikatan pada kedua tangannya. Dengan langkah perlahan, wanita itu mendekat, membuat Valerie menatap tajam dirinya.

"Jangan habiskan tenagamu, Nona. Itu akan sia-sia, tidak pernah ada yang lolos dari Tuan James. Kau sungguh cantik, Tuan James, pasti akan sangat menyukaimu, tubuhmu sangat indah, Nona Valerie."

Valerie membeku, ia tahu betul apa yang akan terjadi padanya, ia tidak mau, hidupnya harus berakhir di pelukan pria yang jahat. James, mungkin memperlakukannya sebagai budak nafsunya.  Valerie menatap benci pada wanita itu, matanya memerah, air matanya tiba-tiba keluar, membuat wanita itu menjadi kesal. 

"Jangan menangis, kau akan merusak riasan wajahmu," ucapnya tanpa merasa bersalah. Wanita itu lalu mengeluarkan jarum suntik, dan itu membuat Valerie waspada, tapi bagaimanapun ia tidak bisa lari karena kedua tangannya terikat. "Kau akan menyukai permainan Tuan Jamas, Nona Valerie..."

"Brengsek, apa yang kau suntikan padaku?!" Valerie berteriak marah, tubuhnya memberontak tapi tidak membuat suntikan itu gagal, obat masuk perlahan ke dalam tubuh Valerie. Wanita itu tersenyum, tidak peduli dengan amarah Valerie. 

"Bersikaplah baik, agar tuan bersikap baik juga padamu." Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi meninggalkan Valerie seorang diri. 

"Tolong lepaskan aku, aku tidak mau diperlakukan seperti ini!" Valerie terus berteriak memohon agar ia bisa pergi dari tempat itu. Tapi tidak ada yang mendengarnya. 

Obat yang disuntikan pada Valerie,  perlahan kini mulai terasa olehnya...

Jantungnya berdegup, udara di kamar itu mulai terasa panas, tapi sensasi di kulitnya terasa berbeda. Ada getaran halus yang terasa samar di kulitnya, merayap dari ujung jemari hingga tengkuk lehernya. Napasnya mulai tersengal pelan,  bukan karena lelah tapi karena ada sesuatu yang mengusik tubuhnya.

Suara pintu terbuka dan suara langkah terdengar perlahan mendekat dirinya, James kini menatap Valerie dengan penuh gairah, ia membuka kancing kemejanya satu persatu, tanpa melepas pandangan matanya pada Valerie, seolah mengagumi tubuh Valerie yang terlihat indah baginya.

Valerie menatap sengit James "Lepaskan aku, brengsek! apa yang akan kau lakukan padaku, jangan menyentuhku! aku tidak sudi disentuh olehmu!" 

Valerie mencoba mempertahankan dirinya, ketika melihat menatapnya dengan penuh gairah.

Valerie benar-benar takut, marah, tapi tidak ada yang bisa dilakukan olehnya.

"Kau sungguh kasar, Nona. Tapi aku suka," ucap James, tersenyum dengan liciknya. 

"Pergi kau, bajingan! jangan menyentuhku!" Valerie terus mengumpat, ia sungguh tidak rela harus berakhir menjadi wanita yang hina.

Air mata Valerie menetes, membuat James menatap sedih Valerie. "Jangan menangis, aku sungguh benci melihatnya. Valerie, aku janji kau akan menyukai permainanku." 

"Tidak... jangan sentuh aku!" teriak Valerie, menolak apa yang akan James lakukan. Namun James tidak peduli, pria itu sudah tidak sabar untuk menyentuh wanita di depannya. 

Tangan James mulai menyentuh kaki Valerie, membuat Valerie bergetar, seolah menyukai sentuhan James yang lembut dari ujung kaki hingga ke pahanya.

 "Lihat, kau menyukainya, Vale." James tersenyum dengan liciknya.

"Obat ... obat apa yang kau berikan padaku?" tanya Vale, suaranya bergetar, karena merasakan sensasi aneh dalam dirinya. 

"Obat?' James menggelengkan kepalanya.  "Itu  adalah sesuatu yang akan membawamu ke surga..."  bisik James di samping telinga Valerie.

James bangkit dan membuka ikatan tangan Valerie, James ingin Valerie bisa bergerak dengan bebas, saat disentuh olehnya. Kedua tangan Valerie kini sudah terlepas, Valerie pun memberontak, mencoba menghindar, dan lari dari James, tapi semua hanya sia-sia. 

Tubuh Valerie  terasa lemas, lututnya bergetar, dan seolah menginginkan sebuah sentuhan yang menenangkannya. James dengan senyum liciknya, mulai menyentuh Valerie, dari atas hingga bawah, membawanya kembali ke atas ranjang hingga tubuh Valerie tanpa sadar  menyukai setiap sentuhan yang dilakukan oleh James.

"Kau suka?" tanya James, yang dengan nakalnya bermain-main dengan tubuh Valerie.

"Dasar kau... brengsek. Lepaskan aku..." desis Vale, nafasnya tersenggal, hatinya menolak dengan keras tapi tidak dengan tubuhnya.

"Tapi kau menyukainya, tubuhmu tidak menolak, Vale." Suara berat James membuat tubuh Vale semakin tidak bisa menolak, semakin menikmati semua sentuhan James, dengan terpaksa. 

Valerie tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa menatap James dengan penuh kebencian, tapi hal itu semakin disukai oleh James. 

"Pertama untukmu? akan aku lakukan dengan penuh kelembutan... hingga kau menjadi candu dengan semua sentuhanku.. Valerie..."

James memegang pinggang Valerie, menyentuhnya semakin dekat dan intim, Valerie mendesah, menggeram sakit tapi penuh kenikmatan, begitupun dengan James.

James tersenyum, pria itu terlihat sangat puas, seolah ia tidak merasa rugi telah mengeluarkan banyak uang untuk wanita yang kini dalam kungkungan.

Valerie  hanya bisa terus mengumpat dalam hatinya, menyumpahi Lukas dengan penuh kebencian karena telah menjualnya pada pria brengsek seperti James.

"Aku benci hidup ini..."

***

Valerie terbangung dengan tubuh tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya, hanya ditutupi selimut tebal berwarna putih. Badannya terasa sakit, terutama di bagian intimnya. Valerie ingat bagaimana James menyentuhnya, Valerie merasa dirinya kotor.

Seorang wanita yang sempat mendadaninya, datang membawa sarapan untuknya. Valerie menatapnya dengan sinis. 

"Bersihkan badanmu dan makanlah ini, kau sudah kehilangan tenagamu, bukan?" 

"Dimana pria itu?" tanya Valerie.

"Perusahaan. Jangan berpikir kau bisa lari dari tempat ini, Nona Valerie. Jangan buang tenagamu lagi," ucapnya membuat Valerie kesal.

"Kau seorang wanita, tapi kau sangatlah kejam!" desis Valerie.

"Aku hanya seorang pekerja yang menuruti semua perintah tuannya. Panggil aku Anna, jika kau membutuhkan  sesuatu, hubungi aku." Anna meletakkan sebuah ponsel untuk memanggilnya dan pakaian yang bisa dipakai oleh Valerie di atas ranjang, lalu pergi meninggalkan Vale seorang diri.

"Ponsel?" Vale berpikir jika ia bisa mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, agar bisa lepas dari James.

Namun, Anna yang sudah berada di depan pintu, berbalik dan menatap Valerie kembali. "Jangan bertindak bodoh, jangan berpikir kau bisa meminta pertolongan. Semua yang kau lakukan, Tuan James akan mengetahuinya."

Setelah mengatakan itu, Anna pun benar-benar pergi meninggalkan Valerie dan tidak lupa mengunci kamar itu dari luar. 

Valerie terdiam, apa yang dikatakan Anna ada benarnya, James tidak mungkin berbuat baik sehingga memberikannya ponsel padanya. Valerie meringkuk di atas ranjang, tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Hingga ia teringat akan Lukas, Ayah tirinya yang benar-benar sangat jahat.

"Pria brengsek itu, pasti sedang bersenang-senang!" geram Valerie.

Benar saja apa yang dipikirkan oleh Valerie, jika Lukas kini tengah bersenang-senang dengan uang yang dimiliki olehnya. Bermain dengan wanita, judi, bahkan juga mabuk. Lukas benar-benar tidak memikirkan bagaimana nasib Valerie, tidak peduli sama sekali.

Namun saat ia sedang bersama dengan seorang wanita, beberapa pria berjas hitam datang mengganggu aktivitasnya, wanita yang bersamanya pergi meninggalkannya, karena takut akan ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Siapa kalian? kalian menggangguku, wanita itu jadi pergi meninggalkanku. Sial padahal aku sudah membayar mahal!" geram Lukas pada beberapa pria di depannya. 

Namun bukan jawaban yang didapati oleh Lukas, justru pukulan yang membuat Lukas penuh dengan rasa sakit. Lukas tersungkur di atas lantai dengan darah yang mengalir di wajahnya. 

Lukas tidak mengerti mengapa mereka memukulnya, apa karena Valerie?

"Kalian... anak buah Tuan James?" tanya Lukas dengan nafas yang tersengal.

"Tuan James?" terdengar suara berat, dari seorang kakek tua, berjalan hingga berada tepat di depannya. 

"Siapa kau?" tanya Lukas, kini ia menyadari jika mereka bukan suruhan dari James. 

"Dimana Valerie?" lanjutnya bertanya.

Lukas hanya tertawa, membuat pria tua itu menatapnya dengan penuh kebencian, tapi ia masih menahan dirinya. 

"Valerie? hahaha ..." Lukas berdiri, menatap lelaki tua itu dengan sinis. "Dia sudah menjadi milik Tuan James, kau tahu, berkatnya aku mendapatkan uang yang banyak. Apa kakek tua ini juga ingin merasakan tubuh Valerie, sayang sekali, Tuan James sudah mendapatkannya lebih dulu. Kau tunggu saja ketika Tuan James bosan."

Mendengar itu, pria tua itu semakin marah, hingga memukul kepala Lukas dengan tongkat yang dipegang olehnya. Lukas kesakitan dan ingin membalas tapi dua orang pengawal pria tua langsung memukulnya kembali, hingga Lukas tidak bisa lagi bergerak. 

"Cari tahu siapa James? dan aku ingin kalian bawa Valeria padaku, secepatnya!" titah kakek tua itu.

"Siapa... siapa kakek tua itu?" bisik Lukas dalam hatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED