"Bu, Savana tidak mau dijual sama pria tua itu. Savana akan lakukan apapun untuk Ibu yang penting Ibu tidak menjual Savana. Savana takut, Bu."
Savana terus memohon pada Ibunya. Tapi, Inggrid tetap mengabaikan permohonan putri sulungnya itu sekalipun Savana sudah bersimpuh di hadapannya, memeluk kakinya, bahkan sampai mencium kakinya.
"Bu, Savana akan bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita. Savana yakin Lucau Savana bisa membayar seluruh hutang Ibu pada rentenir itu dan juga membayar biaya pengobatan Bapak di Rumah Sakit."
"Savana!" Inggrid membentak putrinya sambil menghentakkan kakinya yang dipeluk oleh Savana hingga membuat Savana langsung terdorong kasar dan tersungkur di atas lantai.
"Memangnya kamu pikir mudah mencari pekerjaan dengan gaji besar hanya dari lulusan SMA saja? Ibu yang seorang Sarjana saja kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan kita selama ini. Saking kekurangannya uang, Ibu sampai harus pinjam uang sana sini demi menutupi kebutuhan harian kita. Lalu, dengan mudahnya kamu bicara akan bekerja keras, sedangkan kamu belum punya pengalaman bekerja dan waktu tenggat untuk bayar semua hutang keluarga kita pada rentenir kurang dari satu bulan lagi!"
"Jadi, Ibu akan tetap menjual Savana? Ibu tega mau jual anak Ibu sendiri? Padahal, anak Ibu ini sudah berusaha menjadi anak yang berbakti selama ini."
"Ibu tidak punya pilihan lain. Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa keluar dari kehidupan kita yang sangat suram selama ini."
"Lebih baik Ibu bunuh saja Savana daripada Ibu menjual Savana dengan pria tua yang tidak Savana kenal."
"Lucau Ibu sampai membunuh kamu, itu sama saja Ibu menambah masalah di dalam hidup Ibu! Lagipula, Ibu tidak benar-benar menjual kamu, Ibu hanya akan menikahkan kamu dengan pemilik uang yang selama ini telah bersedia meminjami kita uang."
"Apa bedanya, Bu? Bahkan Ibu sendiri belum melihat siapa orangnya."
"Sudahlah, Savana. Kamu jangan terlalu bersedih seperti itu. Ibu yakin Lucau pria itu adalah pria yang baik. Hidup kita juga akan berubah menjadi lebih baik setelah kamu menikah dengannya nanti."
"Memangnya Ibu tahu Savana akan dijadikan istrinya yang ke berapa? Kedua? Ketiga? Keempat? Atau, lebih? Apa Ibu juga tahu pria itu akan memperlakukan Savana seperti apa nanti?"
"BERHENTI, SAVANA!!" Inggrid menghentak dengan kencang. "Ibu pusing mendengar ocehan kamu itu. Pokoknya, Ibu tidak akan mengubah keputusan Ibu untuk menikahkan kamu dengan pria itu!"
Inggrid pun berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu. Dia sendiri tidak kuasa menahan kepedihannya yang amat dalam karena harus menyerahkan putri kandungnya sendiri pada pria yang belum dia ketahui sosoknya seperti apa.
Hanya air mata dan penyesalan yang luar biasa yang kini terbelenggu di dalam dirinya. Namun, apapun alasannya, Inggrid tetap akan menikahkan putri sulungnya itu dengan si rentenir karena hal itu sudah menjadi perjanjiannya dengan rentenir itu untuk menjadikan Savana jaminan ketika dia tidak mampu membayar hutangnya kelak. Dan kini, waktu itu akhirnya tiba. Waktu yang paling ditakuti oleh Inggrid dan waktu yang paling tidak pernah ditunggu oleh Inggrid.
**
Malam harinya, dua orang pria berjas hitam lengkap dengan kacamata hitam dan bertubuh tinggi besar mendatangi rumah Savana. Tanpa ada basa-basi dua pria itu langsung meminta Savana ikut bersama mereka ke suatu tempat.
Savana pergi tanpa pendampingan dari Ibunya. Saat ini, dia sudah pasrah akan diperlakukan seperti apa oleh dua pria itu nantinya. Yang Savana lakukan sepanjan perjalanan menuju tempat yang tidak dia ketahui hanyalah menangis dan terus menangis.
Suara dari isakan tangisan Savana yang terdengar cukup kencang membuat kesal dua pria yang tengah duduk mengapitnya. Mereka pun meminta Savana untuk berhenti menangis, tapi Savana malah semakin mengencangkan suara tangisannya, hingga akhirnya salah satu dari pria itu mengambil jalan cepat untuk menghentikan tangisan Savana, yaitu dengan membius Savana menggunakan sapu tangan yang telah disemprotkan cairan untuk membuat Savana langsung tertidur seketika.
Beberapa jam kemudian setelah Savana tidak sadarkan diri, akhirnya Savana pun terbangun.
Dia membuka satu persatu kedua matanya dengan kepala yang terasa sangat berat. Saat kedua matanya sudah terbuka sempurna, benda yang pertama kali dia lihat adalah sebuah lampu gantung mewah yang berada di atas langit-langit tepat di depan matanya saat ini.
Savana yang merasa asing dengan lampu gantung tersebut lantaran belum pernah melihatnya sebelumnya langsung membangunkan cepat tubuhnya dan mengubahnya menjadi duduk.
Sontak saja Savana langsung terkejut begitu dia melihat ada seorang pria tengah duduk menumpuk kakinya di kursi sambil memegang tablet di tangannya. Tanpa menoleh ke arahnya, pria itu langsung mengatakan pada Savana.
"Akhirnya kamu bangun juga."
"Siapa kamu?" Savana bertanya dengan rasa takut yang luar biasa yang tengah melandanya saat ini.
Sebelum menjawab pertanyaan Savana, pria itu lebih dulu meletakkan tabletnya di atas meja kecil di samping kursi yang di dudukinya, lalu dia beranjak dari kursi dan berjalan tegap sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menghadapi Savana.
Dengan lukisan senyuman manis di wajahnya yang sangat tampan, pria dewasa itu menjawab pertanyaan Savana.
"Perkenalkan. Saya adalah Luca Zeno. Saya adalah Pemilik uang dari semua hutang yang kedua orang tua kamu miliki selama ini."
Savana bergeming seketika. Dia sama sekali tidak menyangka Lucau ternyata Tuan rentenir yang meminjami uang pada kedua orang tuanya selama ini bukanlah pria tua seperti yang dia pikirkan selama ini, melainkan seorang pangeran tampan yang seolah seperti keluar dari negeri dongeng. Saking terpesonannya Savana sampai-sampai dia meneguk beberapa kali savilanya tanpa mengedipkan matanya sekalipun.
Tapi, jentikan jari dari tangan Luca Zeno berhasil memecahkan lamunan singkat Savana.
Saat lamunan Savana lenyap, saat itu juga Savana langsung melompat dari atas ranjang lalu bersimpuh di hadapan Luca dan memohon hal yang sama seperti dia memohon pada Ibunya.
"Tuan rentenir."
Luca tersontak kaget saat dia mendengar panggilan untuk dirinya yang disematkan oleh gadis belia yang ada di hadapannya saat ini.
"Saya mohon sama Tuan rentenir. Tolong jangan nikahi saya. Saya masih muda, belum berpengalaman apa-apa, dan masih sangat lugu untuk segala hal. Saya jamin 100%, Tuan rentenir akan menyesal sekali Lucau Tuan rentenir sampai menikahi saya. Jadi, tolong lepaskan saya. Saya janji akan melunasi semua hutang orang tua saya, asalkan Tuan renternir bersedia memberikan saya waktu sampai satu tahun lamanya. Tidak. Dua tahun, dengan jumlah hutang sebanyak itu." Savana merapatkan kedua tangannya dan menundukkan dalam kepalanya di hadapan Luca yang tengah mematung.
"Hei, anak kecil. Kamu pikir, janji kamu itu bisa saya percayai? Janji kamu itu sama persis seperti janji Ibu kamu ke saya dari dua tahun yang lalu. Tapi, buktinya apa? Janji Ibu kamu tidak juga bisa ditepati. Ada berbagai alasan yang dia buat untuk terus mengulur waktu pelunasan semua hutang dia pada saya!"
"Apapun! Apapun saya akan lakukan untuk Tuan rentenir, asalkan bukan pernikahan yang Tuan rentenir minta pada saya." Savana semakin memohon pada Luca.
"Lucau memang kamu tidak ingin saya nikahi, maka kamu layani saya dengan tubuh kamu itu. Saya akan jadikan kamu pemuas nafsu saya ketika saya sedang ingin bercinta."
Deg!
***
"Jadilah pemuas nafsu saya jika memang kamu tidak mau saya nikahi." Luca mengatakan dengan senyuman nakal.
Senyuman serta perkataan yang langsung tidak bisa Savana terima dengan perasaan apapun.
Savana pun langsung membisu setelah Luca mengatakan hal itu padanya. Dia merasa sangat direndahkan sebagai seorang perempuan yang menjaga dirinya dengan sangat hati-hati selama ini.
"Jangan terlalu banyak bergurau anak kecil. Tugasmu hanyalah patuh pada perintah orang tua kamu yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini. Lucau kamu menolak perintah mereka, maka kamu akan dicap sebagai anak durhaka." Luca malah sengaja meledeknya saat dia melihat raut wajah murka yang tengah menyelimuti wajah ayu Savana.
"Tuan rentenir memangnya tahu apa soal anak durhaka? Memangnya Tuan rentenir sudah menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua, Tuan rentenir?" Savana dengan berani membalas perkataan Luca sambil membangunkan tubuhnya untuk kembali berdiri tegak.
Ucapan Savana pun cukup membuat Luca terkejut sekaligus merasa lucu.
"Sejujurnya, saya tidak tertarik bercinta dengan anak kecil. Seperti yang kamu katakan tadi, Lucau kamu belum berpengalaman dan pastinya kamu tidak pandai melayani saya di atas ranjang. Akan tetapi," Luca berjalan perlahan mendekati Savana, lalu dia mendekati wajah Savana yang lebih pendek darinya.
Savana semakin merasa ketakutan saat wajah antara dia dan Luca hanya berjarak 5 cm saja dari unjung hidung mereka.
"Saya ingin menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua saya, persis seperti apa yang saya katakan pada kamu tadi."
"Ma-maksud, Tuan rentenir?"
"Yang saya butuhkan hanyalah sel telur kamu."
APA???!!!
"Sederhananya, saya ingin kamu melahirkan anak untuk saya karena saya sangat membutuhkan keturunan."
Savana syok bukan main saat mendengar keinginan utama Luca. Baginya, pernikahan saja sudah seperti neraka untuknya, apalagi sampai dia harus mengandung dan melahirkan. Savana tidak sanggup membayangkannya, dia merasa terjebak sekarang.
Tatapan mata yang tajam dan dibalut dengan senyuman penuh rencana membuat Savana tidak kuat terlalu lama menghadapi Luca. Dia pun perlahan menurunkan pandangan matanya dan merunduk diam dalam kelemahannya.
Luca lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya untuk menghubungi seseorang. Dengan singkat Luca langsung memerintahkan seseorang untuk segera masuk ke dalam ruangan itu sekarang.
Kemudian, Luca kembali duduk di kursi tadi dengan posisi duduk yang sama, yakni menumpuk kakinya dan bersedekap. Namun kali ini, dia tidak menatap tabletnya melainkan Savanalah yang dia tatap dengan senyuman penuh seringai kekuasaan.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan itu. Atas perintah Luca, wanita tua itu segera meraih tubuh Savana untuk ikut pergi bersamanya.
"Tuan rentenir, saya mau dibawa ke mana?" Savana panik kembali.
"Kamu akan mengetahuinya nanti."
"Saya tidak mau pergi. Tolong biarkan saya pulang ke rumah sekarang!" Savana terus memohon pada Luca agar dibebaskan. Tapi, sekuat apapun dia berteriak dan memohon, permintaannya itu tetap diabaikan oleh Luca.
Savana pun terpaksa ikut wanita tua pergi.
Sepanjang dia berjalan di belakang wanita tua itu, Savana melihat ke sekitaran tempat dia berada saat ini. Tempat yang sangat asing yang dipenuhi dengan area terbuka dari taman-taman yang bersih dan rapih, area pacuan berkuda, dan juga lapangan golf yang cukup luas.
Savana pun berpikir Lucau dia sedang berada di kediaman rumah Tuan rentenir itu. Dia juga bergumam soal kekayaan yang Tuan rentenir itu miliki sangat diluar naralnya.
"Lucau aku punya kekayaan sebanyak ini, aku tidak perlu lagi bekerja keras. Selain itu, aku tidak akan seperti Tuan rentenir yang sampai susah payah menagih hutang pada orang miskin seperti keluargaku. Aku akan mengikhlaskannya. Tapi, dia malah mempersulit orang misikin seperti keluargaku. Dasar manusia serakah!" Decitnya di dalam hati.
"Silahkan masuk!" Wanita tua itu mempersilahkan Savana untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar, ruangan yang bisa disebut dengan kamar merangkap perpustakaan karena ada begitu banyak buku-buku yang tersusun rapih di rak-rak besar yang berada di salah satu spot dinding di kamar itu.
Savana pun berjalan perlahan masuk ke dalam. Dia melihat ke seluruh bagian dari ruangan itu, terlihat nyaman dan menenangkan dengan lampu bercahaya hangat dan juga pemandangan indah ketika Savana membuka tirai besar di kamar itu.
"Nona akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai Tuan Luca memberikan perintah kembali pada saya."
"Memangnya, Ibu siapanya Tuan rentenir?"
"Tuan rentenir?" Wanita itu terkejut mendengar panggilan tersebut yang ditujukan pada majikannya.
"Iya, Tuan rentenir."
"Maaf, Nona. Ada baiknya Nona menggantikan panggilan untuk Tuan Luca dengan panggilan lain, karena sebenarnya pekerjaan Tuan Luca bukanlah rentenir." Kata Wanita tua itu menjelaskan dengan hati-hati.
Kemudian, Wanita tua itu segera undur diri dari kamar itu dan meninggalkan Savana sendirian.
Savana pun dibuat bingung setelah mendengar penjelasan dari Wanita tua itu.
"Lalu, siapa dia yang sebenarnya? Kenapa aku bisa ada di sini bersamanya? Dan sebenarnya, siapa orang yang sudah meminjami Ibu uang sebanyak itu selama ini?"
Savana benar-benar dibuat penasaran dan bingung bukan kepalang dengan sosok Luca sekaligus sosok rentenir yang telah meminjami uang pada Ibunya.
**
Malam harinya, setelah selesai makan malam, Savana merasa sangat ngantuk sekali. Lantaran dia kurang tidur beberapa hari belakangan ini karena memikirkan dirinya yang telah dijual oleh Ibunya, akhirnya Savana baru merasakan ngantuk yang sangat hebat setelah dia bisa merasakan nikmatnya makanan lezat yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Savana pun segera kembali ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang makan. Dia berjalan cukup sempoyongan lantaran tubuhnya sudah tidak kuat menahan ngantuk.
Setelah dia tiba di kamar dan melihat ranjang di depan matanya, tubuhnya langsung dilempar ke atas ranjang super empuk itu dan langsung melelapkan tubuhnya.
Tapi, keesokan paginya saat Savana terbangun berkat sinar cahaya matahari yang menusuk kedua matanya dan menyorot tajam hampir ke seluruh ruangan di kamar itu, Savana langsung dikejutkan dengan kondisi tubuhnya yang sudah tanpa busana. Hanya selimut tebal berwarna putih yang menutupi hampir seluruh tubuhnya yang tanpa sehelai kain pun.
Savana segera membangunkan tubuhnya untuk menyadarkan dirinya Lucau yang terjadi padanya saat ini hanyalah mimpi.
Akan tetapi, mimpi itu disadari oleh Savana tidaklah nyata. Karena yang terjadi padanya bukanlah mimpi melainkan kenyataan Lucau dia habis bercinta dengan seorang laki-laki asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya
"Siapa kamu?" Savana bertanya dengan panik. Sambil menutupi bagian dadanya dengan selimut Savana memperhatikan secara detail wajah laki-laki muda itu.
Laki-laki muda itu pun mencoba membuka kedua matanya yang masih terasa sepet setelah dia mendudukan tubuhnya.
"Akulah yang seharusnya bertanya, siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?"
"Apa!?? Kamar kamu???" Savana langsung melihat dengan kaku ke sekeliling seluruh ruangan itu.
***
Savana membeku ketika dia sadar Lucau dia sudah salah masuk kamar.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat keluar dari kamarku sekarang juga!" Titah lelaki muda itu dengan hentakan kasar.
Savana dengan raut wajah sedihnya segera menuruni ranjang dan memungut semua pakaiannya yang berserakan di atas lantai, lalu dia memakainya di dalam kamar mandi setelah meminta izin pada lelaki muda itu.
Usai memakai pakaiannya, Savana berpamitan untuk meninggalkan kamar itu. Dengan sikap dinginnya yang masih berada di atas ranjang, lelaki muda itu mengiyakan ucapan Savana dengan dehaman lugas.
"Bodoh! Dasar bodoh!" Savana mengutuk dirinya sendiri setelah dia masuk ke dalam kamarnya kembali sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.
"Memangnya kebodohan apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Luca, yang muncul secara tiba-tiba di dalam kamar Savana.
Kedua mata Savana langsung membeliak sempurna begitu dia melihat sosok Tuan rentenir sudah berada di dalam kamarnya.
Savana pun perlahan melepaskan sandarannya dan berdiri gugup seraya menurunkan pandangan matanya ke bawah.
"Jawab pertanyaan saya! Apa kebodohan yang telah kamu lakukan? HA?!!!" Luca membentak sambil berjalan mendekati Savana.
"Saya belum mandi." Savana menjawab cepat dengan asal.
"Hah?!! Maksudnya belum mandi? Itu kebodohan yang telah kamu lakukan?"
"I-iya."
Luca langsung tertawa kecut. Dia pun segera menjauhkan tubuhnya dari Savana sambil bergumam, "Bisa gila saya Lucau terlalu banyak berkomunikasi dengan kamu! Lebih baik-" Luca kembali mendekati Savana dengan langkah cepat, lalu dia meraih dagu Savana dengan kasar dan menaikkannya ke atas. "Kita lakukan saja sekarang juga!"
"Me-melakukan apa, Tu-Tuan rentenir?"
"Berhenti memanggil saya Tuan rentenir!"
"La-lalu saya harus memanggil kamu dengan panggilan apa?"
"Terserah! Yang penting jangan panggil saya Tuan rentenir lagi!!" Luca gusar.
"Ba-bagaimana dengan panggilan- Om?" Savana tengah menahan sakit dari tekanan kuat tangan Luca yang memegangi dagunya.
Luca tidak menjawabnya. Dia hanya menghembuskan nafas kasar karena lelah menghadapi Savana.
Akhirnya, tanpa mau berkompromi lagi, Luca pun segera melakukan sesuatu pada Savana.
Luca melepaskan tangannya dari dagu Savana dan memindahkannya ke bahu Savana, lalu dia meluncurkan ciuman brutal di seluruh leher Savana tanpa ampun hingga membuat Savana bersimbah air mata sambil memohon pada Luca agar Luca melepaskan tubuhnya setelah Savana menyerah memberontak dari cengkraman kuat tangan dan tubuh Luca pada tubuhnya saat ini.
Tangisan Savana diabaikan oleh Luca yang tetap menjamah seluruh bagian leher Savana. Bahkan, tubuh Savana yang sudah tidak lagi berontak malah dia hempaskan di atas ranjang untuk melakukan lebih dari yang dia inginkan.
Tetapi, gerakan tubuh Luca berhenti seketika ketika dia tiba-tiba saja dia teringat sesuatu yang pernah terjadi padanya di masa lalu. Luca jadi lemah dan punah untuk meniduri gadis muda itu.
Luca pun segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Savana. Kemudian, dia duduk di tepi ranjang dan menundukkan kepalanya.
Savana bingung. Dia segera membangunkan tubuhnya dan melihat ke arah Luca dengan tanda tanya besar.
"Keluarlah dari kamar ini. Tinggalkan aku sendiri. CEPAT!!"
Teriakan Luca di akhir kalimatnya langsung mengagetkan Savana. Bergegas Savana langsung pergi meninggalkan kamar itu.
Baru beberapa langkah saja dia meninggalkan kamarnya, Savana sudah harus bertemu kembali dengan laki-laki muda yang telah menidurinya semalam.
Langkah kaki Savana pun berhenti untuk menatap laki-laki muda itu dari kejauhan. Rasa sakit di area inti tubuhnya masih sangat terasa, bercak darah yang dia lihat di selimut yang menutupi tubuhnya saat itu bisa dia lihat dengan jelas. Savana tidak menyangka sama sekali Lucau keperawanannya akan direnggut oleh laki-laki yang tidak dia kenali sama sekali, dan yang sekarang Savana paling takuti adalah-
"Apa aku akan hamil dari sperma laki-laki itu?" Savana mengalirkan air matanya di kedua pipinya.
Bersamaan dengan air mata Savana yang membasahi kedua pipinya, laki-laki muda itu menoleh ke arahnya dan perlahan dia menjauhkan ponsel dari telinganya saat sambungan telpon dengan seseorang masih berlangsung.
Keduanya pun saling menatap dari kejauhan dengan tatapan teduh. Ada rasa bersalah yang tersirat dari raut wajah laki-laki itu karena telah meniduri Savana tanpa sengaja. Sedangkan Savana, dia diam dan hanya membisu dengan segala kelelahan hidupnya yang semakin dia rasakan.
Saat langkah kaki laki-laki muda itu ingin berjalan menghampiri Savana, seorang pria berjas datang menghampirinya.
"Tuan muda Ziv, saya sudah menerima kabar dari..."
Laki-laki muda yang bernama Ziv itu segera melepaskan tatapan matanya dari Savana dan beralih pada pria berjas yang sedang melaporkan sesuatu padanya.
Tapi, tatapan mata Savana tetap tertuju pada Ziv yang sedang bicara berdua dengan pria itu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Luca berjalan melewati Savana begitu saja dan berjalan menghampiri Ziv.
Savana pun bertanya mengenai hubungan dua laki-laki yang berbeda usia itu. Dari kejauhan, tanpa bisa mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan. Savana mencoba menerka hubungan mereka yang Savana pikir Lucau mereka adalah Om dan Keponakan. Tapi ternyata,
"Cepat ke sini!" Luca mentitah Savana untuk segera datang menghampirinya.
Savana pun patuh dan segera menghampiri Luca.
"Ziv, tolong urus gadis muda ini terlebih dahulu. Aku merasa kewalahan mengurusnya karena terlalu bocah untuk aku hadapi."
"Baik, Kak."
"Kak???" Savana bergumam di dalam hati. Ternyata Luca adalah Kakaknya Ziv.
Setelah Luca pergi bersama dengan pria tua berjas itu, Ziv pun langsung merangkul bahu Savana tiba-tiba.
Kontak fisik yang dilakukan oleh Ziv secara tiba-tiba itu sangat mengagetkan Savana.
"Apa yang mau kamu lakukan? Cepat jauhkan tangan kamu dari bahuku!"
"Tidak mau!" Ziv meluaskan tawa ledekan.
"Hah!? Kenapa?"
"Berjanji dulu padaku. Lucau kamu tidak akan memberitahu pada Kakakku soal kejadian yang kita lakukan semalam."
Meski tidak peduli dengan janji yang harus Savana tepati itu, tapi permintaan Ziv membuat Savana penasaran.
"Memangnya kenapa Lucau Kakak kamu tidak boleh mengetahuinya?"
"Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang penting kamu tutup mulut Lucau kamu mau hidup kamu aman."
Perkataan Ziv seolah terdengar seperti ancaman yang mematikan untuk Savana.
***