Semilir angin sore menerbangkan rambut panjang seorang gadis yang sedang berjongkok di sebuah pusara bertuliskan nama Edward Emmerson, di sebuah pemakaman elit di pusat kota Pearl Santos. Sepi, tidak ada satu pun pelayat yang bertahan.
Ia adalah satu-satunya orang yang masih tidak rela meninggalkan jasad sang kakek bersatu dengan bumi.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Gadis bersurai panjang itu menoleh ke belakang dan mendapati sosok pria yang selama ia hidup selalu setia berada di samping kakeknya.
"Hari sudah sore, Nona. Sepertinya cuaca sedang tidak baik. Beberapa minggu terakhir badai sering datang tanpa diprediksi. Sebaiknya kita segera meninggalkan area pemakaman ini."
Alan Davis, pria berumur sekitar 40 tahun itu adalah asisten pribadi kakeknya. Satu-satunya orang yang Samantha percaya di antara orang-orang yang bekerja di perusahaan milik kakeknya. Bahkan terhadap ayahnya sendiri, Haddley Connors, Samantha hanya memiliki tingkat kepercayaan yang sedikit.
"Baik lah, Paman Alan. Mari kita segera pulang. Tolong antarkan aku ke rumah kakek karena mulai saat ini aku akan tinggal di rumah beliau."
Pria bernama Alan itu berjalan di belakang Samantha, sementara semilir angin di pemakaman menjatuhkan daun- daun akasia kering yang berjajar di sepanjang jalan menuju pemakaman.
Memasuki mobil mewah peninggalan sang kakek, Samanta sempat menoleh ke pemakaman sebelum akhirnya mobil itu meluncur ke jalan.
********
"Bagaimana bisa pria tua itu membuat surat wasiat seperti itu! Ini benar-benar tidak masuk akal. Ia masih memiliki seorang putri yang masih hidup. Ini pasti hanya akal-akalan kalian saja!"
Brakkkk!!!
Haddley Connors, menantu Edward Emmerson merasakan emosi luar biasa setelah pengacara Patrick mengatakan jika mendiang mertuanya menyerahkan seluruh aset yang dimiliki kepada cucu satu-satunya yang merupakan putrinya, Samantha Connors di saat istrinya yang merupakan putri pria tua itu masih hidup.
Samantha yang saat ini duduk berdampingan dengan Sunny Connors, sang ibu hanya bersedekap tangan di atas dada. Sejak dulu, gadis ini tahu jika hubungan ayahnya dengan sang kakek tidak berjalan harmonis, entah disebabkan masalah apa.
"Tuan Edward sudah membuat surat wasiat ini sejak 10 tahun yang lalu."
Patrick, pengacara itu kemudian membuka salinan surat wasiat yang asli yang sudah ditandatangani oleh mendiang Edward Emmerson. Haddley menatap salinan surat wasiat itu dengan kemurkaan di wajahnya.
"Kenapa Anda harus keberatan dengan surat wasiat yang ditujukan untuk putri Anda, Tuan? Bukan kah pada akhirnya kekayaan Anda juga akan jatuh kepada Nona Samantha?"
Pertanyaan menohok itu diucapkan oleh Alan Davis kepada pria berstatus menantu Tuan Besarnya.
"Apa hakmu menanyakan hal tersebut? Statusmu di sini hanyalah sebagai seorang asisten dari pria tua yang sudah meninggal. Jadi---"
"Cukup, Ayah, jangan diteruskan. Paman Alan Davis merupakan orang kepercayaan kakek, dan selama beliau hidup, kakek menganggap Paman Alan sebagai putranya sendiri. Jadi, tidak seharusnya Ayah mengatakan hal tersebut kepada Paman Alan!"
Setelah sejak tadi berusaha diam agar tidak memperkeruh suasana, akhirnya Samanta mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap reaksi sang ayah atas wasiat itu.
"Kamu bisa bicara seperti itu karena hatimu sedang bahagia, bukan? Menerima banyak warisan dari kakekmu sementara aku lah yang sejak kecil membesarkanmu!"
Haddley mengepalkan kedua tangannya, sementara itu sang istri berusaha mengelus punggungnya untuk memberikan sedikit ketenangan.
"Aku tidak pernah ingin dilahirkan sebagai putri kalian, tetapi Tuhan menginginkan hal itu terjadi. Apa karena aku lahir sebagai wanita, maka Ayah selalu saja menganggapku hina. Apakah hanya makhluk bernama laki-laki yang keberadaannya diakui Tuhan di muka bumi!"
Tidak mampu lagi membendung rasa sakit yang dirasakan selama beberapa tahun ini, akhirnya, saat ini lah Samantha mengungkapkan kesedihan hatinya.
"Samantha, sudah cukup. Jangan terus melawan ayahmu karena bagaimanapun kamu adalah seorang anak yang tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada orang tuamu."
Sunny menatap sang putri dengan tatapan penuh permohonan. Selama ini Samantha bukannya tidak tahu jika sifat ayahnya juga begitu kasar terhadap ibunya. Entah bagaimana hubungan mereka bisa bertahan sejauh ini jika pernikahan itu tidak didasari cinta. Kenapa di usia pernikahan ke-26 tahun mereka masih tetap bersama?
"Saya meminta maaf sebelumnya. Tujuan kita berkumpul di sini adalah membacakan surat wasiat Tuan Edward Emmerson."
Patrick kembali membuka pembicaraan setelah melihat suasana semakin tidak kondusif. Semua ini harus segera diselesaikan seperti wasiat yang tertera di hadapannya.
"Katakan saja, Tuan Patrick dan ini semua akan selesai." Alan menambahkan.
Pria bernama Patrick itu mulai membuka kertas yang berisi surat wasiat yang sebenarnya. Meskipun sudah diliputi oleh perasaan marah dan kecewa, akhirnya Haddley pun terdiam.
"Dalam surat wasiat ini disebutkan bahwa seluruh kekayaan yang dimiliki oleh Tuan Edward Emmerson diserahkan kepada cucu satu-satunya beliau yang bernama Samantha Connors. Untuk selanjutnya, Nona Samantha bebas menggunakan kekayaan tersebut, tetapi ada sebuah syarat yang harus Nona Samantha lakukan terkait pengambilan warisan."
Patrick menjeda kalimatnya. Tatapan pria itu bergantian mengarah pada tiga orang yang duduk di hadapannya, Samantha beserta kedua orang tuanya yang masing-masing menampakkan ekspresi tegang.
"Untuk mendapatkan warisan itu, Nona Samantha harus menikah selambat-lambatnya satu bulan sejak surat wasiat ini saya bacakan."
Hening, hening, hening. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sebelum akhirnya suara Samantha membuat semua orang terkejut.
"Ini pasti salah!" pekik gadis itu sambil mengambil surat wasiat yang masih berada di tangan Patrick. Gadis itu menggeleng dengan ekspresi frustasi. Di dalam surat itu jelas-jelas tertulis-- ia harus menikah dalam waktu paling lambat satu bulan atau seluruh harta kekayaan kakeknya akan dihibahkan kepada seluruh panti asuhan yang ada di Pearl Santos.
"Sepuluh tahun yang lalu Tuan Edward Emmerson menyuruh saya membuat surat wasiat ini dan beliau dalam kondisi sesadar-sadarnya. Jika Anda tidak percaya, maka saya memiliki bukti rekaman CCTV yang menayangkan peristiwa tersebut."
Patrick tersenyum tipis. Ia tahu betul alasan di balik Tuan Edward Emmerson mengatakan hal tersebut kepadanya. Tidak lain hanya untuk menyelamatkan cucu satu-satunya dari seseorang yang sebenarnya menginginkan keburukan terjadi atas cucunya.
"Oh, harus kah aku mengagumi apa yang diperkirakan kakek atas takdirku? Sepuluh tahun yang lalu aku bahkan masih berusia limabelas tahun dan kakek meyakini jika aku belum menikah di usia 25 tahun."
Samantha menggeleng berulang kali karena merasa tidak yakin dengan kenyataan yang akan ia hadapi nanti.
Dalam hati sebenarnya gadis itu mengakui jika wasiat itu adalah bukti nyata agar hasil usaha keras kakeknya selama ini tidak jatuh pada orang yang tidak bertanggung jawab. Sam tahu, selama ini kakeknya sudah bisa melihat keburukan yang terjadi pada sang menantu.
"Hal yang ditulis kakek Anda adalah nyata, Nona. Dan yang tertera dalam surat wasiat itu adalah kewajiban yang harus Anda lakukan."
Suara Alan Davis kembali terdengar. Sam menatap pria itu lekat-lekat. Pada sepasang netra berwarna hitam milik Alan, Sam bisa melihat harapan di sana. Gadis itu tahu betapa besar peran Paman Alan bagi kejayaan Emmerson's Industries. Dan di antara semua orang yang setiap hari dekat dengannya, Sam mempercayai pria ini.
"Benar-benar tidak bisa dinalar. Apa yang mendasari otak pria tua itu hingga membuat keputusan seperti ini."
Haddley masih berusaha menekan kemarahan di hatinya. Pria itu seakan masih tidak menyangka jika harapannya mendapatkan perusahaan raksasa itu akhirnya harus pupus begitu saja.
Dan tersenyum tipis. Ia melihat kekecewaan itu di sana. Pada wajah kesal dan raut amarah sang ayah.
"Aku tidak ingin mengecewakan kakek yang sudah membangun perusahaan itu walau saat itu aku tidak tahu perjuangan kakek. Tetapi sejak aku kecil, kakek memang selalu mengatakan jika aku harus mempertahankan perusahaan karena ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada Emmerson's Industries," ucapnya kemudian.
Sam sadar, membiarkan seluruh kekayaan kakeknya jatuh ke panti asuhan bukan merupakan tindakan bijak. Ia masih membutuhkan uang untuk hidup meskipun nantinya ia juga akan menyumbangkan sebagian kekayaan itu ke panti sosial.
"Jika demikian, saya menunggu keputusan Nona secepatnya. Anda harus mengumumkan calon suami Anda di hadapan kami hingga kami bisa merencanakan pernikahan secepatnya," ucap Alan Davis yang membuat tangan Haddley terkepal.
"Wasiat gila!" pekik Haddley sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dengan ekspresi kemarahan yang memuncak disusul oleh sang istri.
"Aku akan segera mengumumkan calon suamiku. Perusahaan itu berarti untuk kakek. Aku akan menyelamatkannya. Wasiat kakek yang ditujukan padaku adalah bukti jika beliau menyayangiku dan aku ingin membuat kakek tersenyum dari surga sana."
Ia berusaha tenang, meredam kebingungan yang sebenarnya melingkupi perasaannya.
Menikah ....
Satu bulan ....
Warisan ....
Panti asuhan ....
Empat kata itu berputar di kepala Samantha hingga telinganya pun berdenging karena pusing.
Tiba-tiba sebuah pemikiran konyol melintas dalam benaknya hingga senyum tipis tersungging di wajah cantiknya. Tidak ada yang berjalan indah tanpa sebuah rencana luar biasa. Atas nama cintanya pada sang kakek, ia yakin semesta akan mendukung rencananya.
Suara dentuman musik klub membuat dua gadis yang sedang terbuai dalam alunan musik itu menggerakkan tubuhnya dengan irama dinamis. Berselang lima hari dari kematian kakeknya, Samantha kembali menjadi gadis dengan hobi bersenang-senang dengan dunia malam.
Uang, kekayaan yang melimpah membuat kehidupan gadis itu jauh dari kesan kesederhanaan. Lagi pula, ayahnya tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukannya di luar. Seingatnya, Haddley memang tidak pernah berusaha menegur jika ia sengaja melakukan kesalahan demi mendapatkan perhatian. Sementara ibunya adalah tipe-tipe wanita konvensional yang selalu menurut apa kata suami, bahkan jika harus membenci putrinya sendiri.
"Apakah kamu sudah menemukan calon pria yang bisa kau jadikan suami?"
Chloe, sahabat yang ia miliki sejak masa remaja itu bertanya dengan ekspresi penasaran. Samantha memutar gelas di tangannya. Saat ini ia sudah duduk menghadap sebuah meja kecil dengan sebotol minuman mahal di atasnya.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan pria sederhana yang luar biasa? Sebenarnya aku bisa saja menyewa para pria di luar sana, tetapi tentu saja tidak untuk menikahinya. Sedangkan saat ini aku benar-benar membutuhkan pria seperti itu untuk menikah."
Samantha mengerang saat merasakan bahwa sebenarnya tugas yang akan ia lakukan ini sangat berat tidak semudah yang sebelumnya ia pikirkan. Tapi ia harus menjalankan amanat itu. Emmerson's Industries harus jatuh ke tangannya atau ayahnya yang tamak itu akan melakukan berbagai upaya licik agar tujuannya tercapai.
"Kamu bisa mencari di situs kencan populer di internet, Sam. Tawarkan dirimu sebagai Nona Muda kaya raya dan cantik jelita dan beritahu mereka jika kamu masih P-E-R-A-W-A-N. Pasti akan banyak pria yang berbondong-bondong melamarmu."
Chloe mengedipkan mata seolah ia tengah memberikan saran terbaik yang ada dalam pikirannya.
Samantha hanya berdecih kesal.
"Aku butuh pria yang bisa menutup mulut, mata dan juga benda pusakanya. Bisa memainkan peran yang sempurna dengan aku yang merancang skenarionya."
Memutar kembali gelas kristal di tangannya, Samantha kemudian menggeleng beberapa kali. Semoga kakeknya tidak mengutuknya dari atas sana.
"Apakah nantinya pernikahan itu benar-benar akan dilakukan? Maksudku bukan pernikahan pura-pura?"
Sebagai seorang sahabat, Chloe juga merasakan kebingungan yang saat ini dirasakan Samantha. Sikap Samantha mempertahankan harta warisan kakeknya bukan semata didasari oleh keinginan menguasai harga tersebut, tetapi gadis itu sudah memprediksi bahwa akan ada yang memperebutkan harta itu jika ia gagal memenuhi persyaratannya.
"Pengacara Kakek pasti sudah mengatur semua agar berjalan sebagaimana mestinya. Lagi pula, paman Alan Davis bukan pria yang mudah dibohongi. Ia terlalu cerdik jika hanya menangkap apa yang ada dalam pikiranku."
Menghalau rasa bingung yang menyergap kembali ke dalam pikirannya, Samantha menyesap cairan berwarna merah dari gelas kristal yang berada di tangannya. Menikmati perpaduan antara rasa manis cenderung pahit yang kemudian mengalir melalui tenggorokannya.
"Berarti kamu benar-benar akan mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan, Samantha. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar dosa yang kamu lakukan ketika mengkhianati firman Tuhan."
Chloe menggeleng dengan ekspresi mengejek dan juga bermaksud bercanda. Saat ini gadis itu sadar jika Samantha sedang menghadapi dilema.
"Waktuku tinggal tiga minggu lagi. Besok aku akan berusaha mencari pria yang memenuhi kualifikasi yang tentu saja telah kutentukan."
Gadis itu membayangkan seorang pemuda yang memiliki ketampanan tetapi berasal dari keluarga biasa, cenderung bodoh dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penipuan kepadanya.
"Pernikahan yang akan kamu lakukan adalah pernikahan sesungguhnya. Janji pernikahan yang terucap disaksikan oleh Tuhan beserta malaikat. Apakah kamu tidak takut jika pada akhirnya kamu benar-benar jatuh cinta pada pria itu?"
"Jangan membuat asumsi yang berlebihan. Bukan kah kamu tahu sendiri jika aku hanya akan mencintai seseorang yang bisa membuat jantungku berdebar saat pertama kali melihatnya? Bukan pria biasa yang cenderung bodoh dan tidak memiliki gaya maskulin seperti yang ku bayangkan."
Meskipun Samantha tidak menyukai kalimat yang terus saja diucapkan Chloe pada dirinya, tetapi gadis itu tahu jika maksud sahabatnya adalah mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku hanya akan menikahinya selama satu tahun, membayarnya dengan bayaran tinggi kemudian memberikan uang kompensasi yang besar agar ia bisa melanjutkan hidup dengan layak. Bukan kah itu merupakan sifat yang sangat berperikemanusiaan."
Samantha mengedikkan bahu. Segala sesuatu bisa diukur dengan uang. Itulah moto hidupnya. Sebuah pelajaran yang ia serap dari ayah dan ibunya yang begitu mengagungkan materi dan dunia di atas perasaan yang seharusnya mereka miliki atas dirinya.
Beruntung, ia juga menyerap ilmu berperikemanusiaan dari sang kakek.
"Sudah malam, Sam, aku harus pulang. Ayahku akan pulang ke rumah saat akhir pekan untuk mengunjungi Ibu."
"Ibumu benar-benar wanita yang hebat. Sudah berapa tahun ayahmu memiliki istri simpanan, tetapi ibumu masih bersedia saja melayani kemauannya. Seperti ibuku saja."
Sam menarik napas panjang. Kehidupan di keluarganya hampir tidak pernah harmonis, tetapi ia sudah terbiasa di situasi seperti itu. Sikap kasar ayahnya pada ibunya baik verbal maupun tindakan tangan dan sayangnya Sam harus menelan kecewa karena sang ibu sudah terlanjur cinta pada pria itu. Cinta yang bodoh dan menyesatkan menurutnya.
"Biar saja mereka melakukan kesenangan terhadap mereka sendiri. Kita sudah dewasa dan bisa mengupayakan kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Besok aku akan ke rumah kekasihku dan sepertinya aku akan menghabiskan akhir pekanku bersamanya."
Chloe berdiri dari duduknya kemudian menyambar tas yang ada di meja.
"Sam, aku tidak yakin jika setelah menikah kamu bisa mempertahankan keperawananmu itu." Chloe tersenyum mengejek kemudian buru-buru melangkahkan kaki sebelum sebuah gelas kaca melayang mengenai kepalanya.
Tidak lama setelah sahabatnya pergi, Samantha pun terlihat meninggalkan klub. Gadis yang dalam keadaan setengah mabuk itu berjalan menuju mobil mewahnya. Sejak kematian kakeknya ia memang memilih tinggal di rumah kakeknya karena tidak ingin mendengar perdebatan soal warisan itu.
Malam sudah mulai larut. Rasa kantuk yang bercampur dengan efek alkohol yang ia minum ternyata mempengaruhi pandangan matanya.
Sebenarnya ia memang jarang mabuk. Pergi ke klub dan menikmati dentuman musik cukup membuatnya bersemangat. Tapi entah kenapa malam ini ia ingin menikmati alkohol dengan kadar yang tinggi.
Brakkkk!!!!
Suara cukup keras itu menyadarkan Samantha dari rasa kantuk yang menyerang matanya. Bagian depan mobil mewahnya membentur sebuah tiang listrik kecil yang berdiri di tepi jalan. Dan tepat pada saat itu sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki berhenti tepat di belakang mobilnya. Gadis itu ke luar.
"Apakah Anda tidak apa-apa, Nona?"
Bagai alunan nada dari surga, suara seksi pria yang berada di hadapannya itu membuat jantung Samantha berdebar. Ini adalah kegilaan yang nyata. Hanya dengan mendengar satu kalimat singkat tidak lebih dari sepuluh suku kata membuat seluruh syaraf gadis berusia 25 tahun itu menegang.
"Tidak apa-apa. Saya hanya sedikit mengantuk dan---"
"Mabuk!" potong pria itu dengan menyunggingkan senyum di balik helm berkaca hitam yang dikenakan.
"Jangan sok tahu. Jika saya mabuk, mana mungkin saya bisa mengendarai mobil sendirian." Samantha berusaha mengelak. Sejujurnya ia merasakan sedikit rasa malu di dalam hatinya meskipun tidak bisa menatap wajah pria itu.
"Di depan itu ada sebuah bengkel mobil yang sangat terkenal di kota ini. Tentunya sebagai pemilik mobil mewah, Anda tidak ingin membiarkan mobil Anda ditangani oleh bengkel tidak profesional."
Samantha menautkan alisnya. Sejujurnya walaupun suasana malam ini sudah sepi ia tidak merasa takut dengan kehadiran tiba-tiba pria ini. Tidak ada aura jahat yang terlihat dari penampilannya yang sederhana dengan sebuah sepeda motor tidak mahal itu. Hanya saja dengan penampilan celana jeans yang terkesan sudah usang itu membuat Samantha bertanya-tanya. Apakah sebenarnya pekerjaan pria ini?
Tubuhnya terlihat sangat atletis, tinggi dan tegap. Otot-otot di tangannya yang keras terlihat dari balik kemeja yang dikenakan. Ini benar-benar mengganggu pikirannya. Apalagi aroma parfum beraroma Woody yang mungkin murah itu menghadirkan desiran tidak biasa, merayap dari jantungnya menuju otaknya.
Seketika pikiran liar pun hadir dalam benak gadis itu. Apakah Tuhan mengirimkan sosok pria ini untuk menjawab semua kesulitannya?
"Saya bekerja di bengkel itu. Jika Nona berkenan, silakan besok datang ke bengkel dan saya pastikan jika mobil Nona tertangani dengan baik. Selamat malam."
Suara seksi itu kembali terdengar. Suara yang lebih indah dari kidung asmara yang sering diputar di cafe-cafe saat perayaan valentine, menggetarkan hati dan membuat gadis itu mematung seakan terhipnotis..
Untuk sesaat Samantha hanya bisa menatap kepergian pria itu dengan mata tidak berkedip sebelum akhirnya mengucap kata keramat, "Yess! Terima kasih, Tuhan. JalanMu sungguh sangat mudah!" teriak gadis itu di keheningan malam.
Skenario itu harus dirancang secepatnya dan dialah kandidat itu, Calon Suami 365 harinya.
Bab 3. Rencana Sang Nona Muda
"Noah Spencer, pria berusia 32 tahun. Ayahnya meninggal sejak ia kecil dan saat ini tinggal bersama ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit karena tertabrak sebuah mobil saat akan menyeberang jalan. Kondisi wanita itu saat ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan karena ketidak adanya biaya untuk operasi."
Seorang pria muda yang Samantha tugaskan untuk menyelidiki pria yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalaman akhirnya menemukan sebuah fakta yang sangat menyenangkan hati gadis itu.
"George, tugasmu adalah pergi ke rumah sakit dan membuat sedikit gebrakan dengan menyuap beberapa orang di sana sementara aku akan ke bengkel."
Samantha tersenyum lebar dengan memainkan sebuah bolpoin di tangan kanannya. George, asistennya di kantor benar-benar layak untuk diberikan hadiah setelah pagi ini membawa berita yang sangat menyenangkan.
"Apakah Anda yakin jika pria itu bersedia menerima syarat dari Anda, Nona?"
George sebenarnya ragu mengingat dari keterangan orang-orang di sekitar bengkel sosok Noah Spencer tergolong pria yang menutup diri dari orang-orang sekitar. Ia hanya tinggal dengan ibunya di sebuah rumah kecil tidak jauh dari bengkel itu.
"Berhasil atau tidaknya aku meyakinkan pria itu tergantung dari kecerdasanmu membuat sesuatu di rumah sakit terkait kondisi wanita itu." Samantha memicing menatap sang asisten yang terlihat ragu. "Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Sisanya biar aku yang melakukan. Noah Spencer adalah pria yang akan menjadi suami yang kubeli dengan harga fantastis."
Seringai tipis terbit di bibirnya. Ia akan memberikan kompensasi terhadap pria itu yang tentunya bisa bermanfaat untuk kesembuhan ibunya. Tidak jahat, bukan? Mungkin inilah pembelajaran tentang sifat kemanusiaan yang selalu kakeknya tanamkan padanya. Walau dengan embel-embel simbiosis mutualisme.
"Saya hanya takut jika Tuan Alan Davis mengetahui rencana kita ini, Nona. Beliau pasti akan menggantung saya hidup hidup di pohon mahoni." George menunduk ketika melihat tatapan sang nona yang seakan mencabik tubuhnya.
"Jangan menjadi pengecut jika masih ingin bekerja denganku. Lakukan sekarang juga atau aku akan senang hati menggantikan tugasmu sebagai asistenku. Ada banyak orang yang mengantri di belakangmu, George. Pergilah ke rumah sakit."
Tidak ada nada tinggi diperdengarkan tetapi George tahu jika ucapan Nona Muda Samantha adalah titah wajib yang tidak bisa dibantah.
Samantha meniupkan udara ke wajahnya sendiri, merasakan sejuk sekilas menerpa wajahnya yang berkeringat karena efek berpikir dan merancang skenario semalaman.
Gadis itu tidak yakin jika Alan Davis tidak mengetahui rencananya, tetapi yang paling penting ia sudah memenuhi persyaratan untuk mengambil warisan itu apapun caranya.
***********
Kedatangan wanita dengan penampilan seksi yang mengundang hasrat seluruh pekerja bengkel membuat bengkel mobil itu mengeluarkan aura panas meskipun hari masih pagi dan bengkel baru saja dibuka.
Netra Samantha mampu mengenali sosok pria berpostur tegap yang saat ini membersihkan beberapa peralatan bengkel. Dengan balutan busana formal yang bagus, pria itu akan menjelma sebagai pria tertampan yang ada di kota Pearl Santos.
"Apakah mobil Anda juga akan diservis, Nona?" Seorang pria berperawakan tidak kalah atletis tiba-tiba menghampirinya.
Samantha mengernyitkan alis. Bengkel ini memiliki para pekerja yang sangat tampan dan mungkin itu adalah strategi usaha dari pemilik bengkel.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk mobilku, aku akan membayarnya berapa pun tarifnya."
Samantha mengabaikan tatapan pria itu. Fokus matanya adalah menatap sosok yang berjongkok dengan pakaian bengkel. Tetesan keringat di dahinya membuat gadis itu mendapatkan kembali pikiran liarnya. Damn it! Dia sangat tampan. Wajahnya bak pahatan dewa.
Pria dengan pakaian montir yang tadi sempat menyapa Samantha itu mengikuti arah pandangan wanita seksi ini.
"Noah memang menjadi idola bagi semua wanita," gumam pria itu hingga membuat Samantha menoleh.
"Apakah menurutmu aku terlihat mengaguminya?" Tanpa merasa malu Samantha menanyakan hal itu. Gadis itu terbiasa hidup dengan kebebasan hingga terkadang ia melupakan sopan santun dan etika yang berlaku. Selama tidak terlibat sebuah hubungan bebas, bagi Samantha apapun bisa dilakukan. Lagi pula hanya satu hal itu saja yang dipesan oleh mendiang kakeknya. Sex before marriage adalah pantangan yang harus ia jauhi.
"Sama seperti wanita lain yang menatapnya, maka saya juga melihat kekaguman itu pada diri Anda, Nona. Jatuh cinta pada pandangan pertama adalah istilah yang bisa menggambarkan ekspresi Anda saat ini."
"Omong kosong. Siapa namamu?" Sam bertanya dengan tatapan menyelidik. Sedikit merasakan panas di pipinya karena ucapan pria itu.
"Bretton Hamilton, saya adalah teman Noah."
Pria itu terlihat menampilkan senyum tipis di ujung bibirnya, mengisyaratkan sebuah hal yang tidak mudah untuk ditebak, bahkan oleh netra Samantha yang terbiasa melihat sesuatu dengan tepat dan akurat.
"Pria itu memang tampan, juga terlihat sangat maskulin. Ia memiliki tubuh yang atletis dengan otot di lengannya yang tentu saja keras. Tetapi bukan itu yang kuinginkan. Maksudku tidak secara fisik karena aku memang ingin membuat kerjasama yang lebih luas dengannya." Samantha mengerling ke arah pria bernama Bretton itu.
"Noah sudah diincar oleh Nona Ariana Lawson, putri pemilik bengkel ini. Ia menjadi yang diistimewakan di antara para pekerja di tempat ini."
Dengan setengah berbisik Bretton mengatakan kalimat itu yang kemudian ditanggapi Samantha dengan tersenyum santai.
"Apakah menurutmu menjadi putri dari pemilik bengkel ini bisa mengalahkan diriku yang merupakan pewaris dari Emerson Industries dan Connor Industries?"
Gadis itu tersenyum manis, sedikit mengibaskan rambut panjangnya dengan gerakan anggun dan menggoda hingga tanpa sadar, gerak-geriknya membuat pria tampan yang sedang sibuk dengan alat bengkel di tangannya itu mendesis lirih.
Samantha teringat ucapan Chloe yang mengatakan jika terkadang kesombongan itu menyelamatkan wibawa dan harga diri seseorang. Sekali-kali bersikap lah sombong untuk menunjukkan kepada orang yang berniat merendahkanmu, bahwa kamu berada di atas mereka. Bukan sebuah kalimat bijak, tetapi Samantha tahu jika saat ini ia membutuhkan kesombongan itu.
"Tentu saja kekayaan yang keluarga Anda miliki tidak ada tandingannya di Pearl Santos ini."
"Tidak, bukan begitu, tetapi itu memang benar. Ha ... ha ... bukan kekayaan keluargaku karena aku juga sudah terlahir kaya sejak lahir," ucapnya tanpa merasa bersalah karena sudah memperlihatkan kesombongan di hadapan pria ini. "Apakah mereka sudah berpacaran?" Rasa penasaran mendorong Samantha menanyakan hal itu.
"Belum, Nona. Noah tidak pernah menanggapi seorang wanita yang ingin mendekatinya."
"Sempurna!"
Mata gadis itu berbinar. Bretton sekilas menatapnya. Pria itu ingin tersenyum kemudian menggeleng pelan. Gadis yang unik, pikirnya.
Samantha menatap ke arah jam di pergelangan tangannya. Menghitung detik demi detik dimulai dengan angka dua puluh.
Tindakannya yang beberapa kali menatap jam di pergelangan tangannya membuat Bretton sebenarnya penasaran.
Muda, cantik, kaya raya. Tidak ada yang tidak mengenal Samantha Connors yang memang terkenal sebagai gadis yang kerap dicap sombong oleh para pria di Pearl Santos. Ada banyak pria yang hatinya dipatahkan dalam satu kali perkenalan.
Samantha menghitung dalam hati. Tinggal tiga detik tersisa dan ....
"Noah! Ada kabar buruk dari rumah sakit. Ibumu harus dioperasi sekarang!"
Seorang wanita berpakaian formal berlari untuk menemui Noah. Noah segera meletakkan peralatan bengkel yang berada di tangannya. Terlihat kekhawatiran di wajah tampannya.
"Aku harus segera ke rumah sakit. Brett!" teriak pria itu memanggil sahabatnya.
Pria bernama Bretton yang sejak tadi berada di samping Samantha mendekat ke arah Noah.
"Ibuku harus menjalani operasi, tolong kamu lanjutkan pekerjaanku!"
Ia hendak melangkah. Tetapi keberadaan gadis seksi yang sejak tadi menyita perhatiannya dalam diam itu membuat Noah memutar tubuhnya. Apalagi pria itu merasa gadis yang semalam ia temui di jalan itu memperhatikannya.
"Jangan membawa motor sendirian, biarkan Nic mengantarmu!"
Tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabatnya, Bretton kemudian segera melempar kunci motor pada salah seorang pekerja yang lain di bengkel itu.
"Noah, hubungi aku segera jika terjadi apa-apa dengan Bibi!" teriak Bretton ketika dengan terburu-buru Noah segera keluar dari bengkel.
"Aku akan menyuruh orang mengambil mobilku. Orang itu bernama George. Ada hal yang lebih penting untuk kulakukan dan nilainya lebih besar dari jutaan dolar per jam."
Samantha buru-buru berpamitan hingga membuat Bretton seketika menggelengkan kepalanya kembali.
'Nona Muda kaya raya yang mengejar anak gembala. Beruntung sekali kamu, Noah. Tidak ada kisah Cinderella yang ketinggalan sepatu kacanya. Yang ada adalah anak gembala yang mendapatkan hadiah domba dari sang nona.'