Nadia Anindita menurunkan sepedanya dengan tergesa. Napasnya masih terengah ketika ia melewati gerbang sekolah.
Sinar matahari pagi menyelinap di sela-sela dedaunan, menambah hangat suasana hari itu. Nadia tersenyum kecil, mencoba mengusir rasa panik karena terlambat.
Namun, baru saja ia melangkahkan kaki di halaman sekolah, suara familiar menyambutnya dan Nadia menoleh.
"Telat lagi ya? Kebiasaan deh lo selalu datang telat, untung belum bel masuk lho!" suara Lisa, sahabatnya, terdengar sambil menatap dengan senyum meledek.
Nadia hanya nyengir. "Eh, tidak usah ngompor-ngomporin deh, ini bukan salah gue deh sepenuhnya, alarm jam gue rusak soalnya, hehee.."
Lisa menggeleng sambil tertawa kecil. "Alasan klasik lo, Nad. Basi tahu! Nanti ketahuan guru BK lo pasti di hukum deh, Nad, mau Lo?"
Nadia menoleh nyengir. "Ya, tidak mau lah gue, buat apa juga gue mau di hukum. Jangan doain gitu dong, Lis."
Lisa tertawa kecil. "Takut juga Lo ternyata di hukum?"
"Ya lah takut, masa tidak sih? Apalagi ketemu guru Bk males banget deh gue diceramahin panjang lebar kayak kereta api!" Nadia sedekap dengan wajah kesal.
"Hahaha. Ya sudah, asal lo tidak ketahuan hari ini tapi yang gue takutin sih nanti lo di tegur seseorang."
"Siapa tuh? Gue kenal ya?"
**
Ekheemm
Nadia dan Lisa menoleh, dan Lisa tersenyum kecut sambil berbisik.
"Ini maksud gue Nad, orang ini yang gue takutin."
Nadia menoleh dan diam saja merespon tanpa takut.
"Apa, deheman segala Lo sama gue?"
Lisa bergedik takut. 'astaga malah nyolot nih orang'.
Tiba-tiba, suara datar dan tegas memecah percakapan mereka. "Lo yang telat datang bukan kesekolah? Cepat berdiri disini Lo!"
Nadia menatap dengan dahi berkerut. Seorang pria muda, berseragam rapi dengan emblem Ketua OSIS di dadanya, berdiri menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau Lo terus-terusan telat, jangan salahkan kalau saya lapor ke guru BK. Mau Lo?"
Nadia melotot. "Apa urusan lo? Emangnya hidup gue ganggu hidup lo?"
Pria itu tidak menjawab. Dengan sikap dingin, ia menunjuk kening Nadia, membuat gadis itu semakin naik darah.
"Tugas saya memastikan semua siswa disiplin. Termasuk lo Nadia Anindita. Gue catat lo telat hari ini dan lo juga berani bentak gue!"
"Malah ancam gue lo! Gue tidak takut sama lo ya! Berani banget lo ancam gue walau lo itu ketua osis gue tidak takut!"
Raka bergedik bahu dan berlalu begitu saja tanpa mau mendengar teriakan marah Nadia yang kesal.
"Balik lo! Sini!"
"Disiplin apanya? Gue cuma telat, tidak bunuh orang!" Nadia balas berteriak.
Nadia hampir melangkah maju, ingin membalas dengan lebih tegas, tapi Lisa buru-buru menahannya.
"Nad, sudah lo harus sabar nanti jadi masalah kepanjangan sama dia lho Nad, sudah ya!"
"Gue tidak mau berhenti Lis, gedeg gue songong sumpah malah pake nunjuk kening gue pakai telunjuk dia, gue tidak terima Lis!"
"Sudah-sudah, Nad! Jangan bikin masalah sama dia. Dia itu, kan, Ketua OSIS! Ayo balik kelas saja." bisik Lisa cemas.
Nadia menghentakkan kakinya dengan kesal. "Ketua OSIS sok kuasa! Cih menyebalkan!" gumamnya pelan, meski Lisa hanya bisa menarik napas panjang dan menyeretnya masuk ke kelas.
'Moga-moga deh, tidak ada masalah antara Raka dan Nadia, gue tidak mau Nadia terkena masalah sama dia, mana dia hukum keterlaluan'
**
Setelah duduk di tempat mereka, suasana kelas mulai tenang. Guru Matematika, Bu Anita masuk membawa setumpuk kertas di tangannya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Anita dengan suara lantang.
"Selamat pagi Bu!" Semua siswa-siswi serempak.
Tanpa basa-basi, guru matematika itu segera mengumumkan,
"Hari ini kita akan ada ujian dadakan. Keluarkan alat tulis kalian, dan jangan coba-coba berani menyontek. Atau Ibu akan mencoret nama kalian."
Sontak, seluruh kelas meratap kecil.
"Yah, Ibu kok ujian sih?"
"Yah, baru ketemu kita Bu!"
"Nanti saja ya, Bu?"
Bu Anita menggeleng pelan. "Tidak ada tapi-tapian buat kalian semua, kalian harus ujian hari ini!"
Lisa, yang duduk di sebelah Nadia, langsung cemberut.
"Ugh, kenapa harus ujian MTK sih? Tidak ada pelajaran yang lebih manusiawi, ya? Males banget sumpah tahu!"
Nadia hanya tertawa kecil sambil mengeluarkan buku catatan dan alat tulis.
"Santai saja, Lis. Aku suka MTK, kok. Seru tahu, coba kamu belajar pasti lo suka."
Lisa melirik Nadia dengan tatapan tidak percaya.
"Lo tuh manusia apa robot, sih? Kok suka pelajaran berhitung begitu, yang ada gue pusing tahu!"
Nadia tersenyum kecil dengan menanggapi respon Lisa.
Ketika suasana kelas mulai serius, pintu mendadak terbuka.
Tok Tok Tok
Semua kepala menoleh. Seorang siswa laki-laki masuk dengan langkah tergesa. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara kepada Bu Anita.
"Maaf, Bu. Saya terlambat. Tadi saya harus mengantar mama ke rumah sakit. Boleh masuk kan Bu?"
Guru matematika itu mengangguk, terlihat memahami situasi. "Baiklah. Duduk dan mulai ujianmu. Ibu izinkan karena alasanmu masuk akal."
Siswa itu berjalan menuju tempat duduknya. Lisa langsung menyenggol Nadia dengan senyum lebar yang antusias.
"Itu, si Rafka Abraham, baru datang idoa sekolahan gue. Baik banget sih antar mamanya kerumah sakir. Anak yang baik, ganteng lagi."
Nadia memutar bola matanya sambil menahan tawa. "Idola siapa? Rafka ya?"
Lisa hanya nyengir lebar. "Ya iyalah. Dia baik banget intinya, Nad. Orangnya beda sama cowok-cowok lain disini, gue suka banget tahu sama dia, hehe."
**
Ujian berlalu dengan cepat, dan saat bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berbondong-bondong ke kantin.
Nadia dan Lisa baru saja hendak bergabung ketika langkah mereka terhenti. Rafka tiba-tiba muncul di samping mereka.
Tap! Tap!
" Hai, boleh Ikut ke kantin, tidak nih?" tanyanya sambil tersenyum ramah.
Lisa nyaris melonjak kegirangan. "Tentu saja! Boleh Rafka." jawabnya antusias.
Nadia hanya mengangguk kecil. Ia tidak terlalu peduli, meski melihat ekspresi sahabatnya yang berlebihan membuatnya ingin tertawa.
Mereka berjalan bersama menuju kantin, memilih tempat duduk di sudut yang nyaman.
"Gue mau pesan makanan dulu. Ada yang mau nitip?" tawar Rafka.
"Gue mie ayam sama teh manis," jawab Nadia singkat.
"Siomay sama soda," tambah Lisa dengan senyum yang masih belum luntur menatap Rafka.
Rafka pun pergi mengantri, Lisa terus tersenyum dan membuat Nadia hanya tertawa kecil.
"Nanti lo keserupan lho ,Lis?"
"Eh, enak saja masa di bilang keserupan sih, gue normal tahu Nad."
"Haha.. habis lo itu senyum mulu deh, di kira keserupan jin lho."
"Ish, bukan lah Nad, gue itu lagi pandangin idola gue."
"Dasar ya lo Lis."
Saat makanan datang, suasana makan mereka cukup akrab.
"Nah, ini makanan datang."
"Makasih Raf."
"Sama-sama Nadia."
"Wah, makanan datang, Makasih ya Rafka ganteng."
Rafka tertawa pelan. "Ya, sama-sama Lisa, sudah makan dulu gih."
Lisa tersenyum dan makan dengan lahap. Nadia dan Rafka ikut makan.
Namun, tiba-tiba teriakan kecil terdengar dari meja lain.
"Yaaakk! Mereka datang!"
"Mata gue ternodai ketampanan mereka!"
"Anjir! Ganteng euy!"
**
Dua pria memasuki kantin, disambut dengan sorakan dari siswa-siswi lainnya.
"Itu, kan, Raka dan Leon, heboh benar pasti deh setiap mereka lewat." gumam Lisa sambil terkekeh.
Nadia hanya memutar bola matanya, tak terlalu terkesan. "Idola sekolah lagi? Pasti sok keren, apalagi itu sok osis itu bikin gue kesal saja. Mana ada juga ganteng!" bisiknya pelan.
Rafka, yang duduk di sampingnya, mengikuti arah pandangannya. Ia tersenyum kecil.
"Mereka memang sering bikin heboh, jadi pasti seperti itu sih, heboh semua." Jawab Rafka santai.
"Ya ya, tapi bikin gue kesal sumpah, mana itu orang cari masalah sama gue."
"Sudah Nad, nanti kedengaran dia lagi bisa masalah tahu!"
Lisa hanya tertawa kecil, sementara Nadia menghela napas. Hari itu baru saja dimulai, tapi sudah terasa seperti roller coaster emosi.
Nadia terus mengaduk Mie ayam dengan tidak mood.
Dari jauh Raka menatap Nadia dengan alis berkerut. "Lo tahu Nadia itu?"
Leon menoleh dan mengangguk. "Kenal lah gue, dia itu gadis imut di sekolah sini."
"Bukan itu maksud gue, Leon!" Raka menimpuk tisu ke muka Leon.
"Eh, hehe, terus apaan coba? Emang dia imut tahu!"
"Gue cuma mau tanya dia itu emang sering masuk BK Kan?"
"Ya sih, gue dengar sih gitu, sering telat juga tapi tidak membuat gue ilfiel sama dia, dia tetap gadis imut tipe gue juga sih. Hehe."
"Tipe lo? Tidak salah nih? Dia tipe lo?"
"Beneran lah, masa gue bohong sih Raka, Dia itu emang tipe gue. Cuma gue belum berani deketin dia. Walau imut dia juga galak sih. Hehe, gue cuma kadang mantau dia saja kalo jodoh mah gue deketin mulu, apa itu artinya. Ngegas bro!"
Raka mengangguk pelan dengan wajah datar.
"Lo suka sama Nadia?" Leon berucap dengan wajah serius.
"Gue!"
"Ya, lo lah! Siapa lagi , kan gue duduk dekat lo."
"Gue tidak suka sama dia, ngapa juga gue suka sama dia. Yang ada gue kesal sama dia. Nyolot banget sama gue, gue negur dia tadi pagi tapi berani banget ke gue!"
"Wah, wah, serius nih? Baru tahu gue Raka di nyolotin gadis imut kayak Nadia!"
"Cih, sudahlah tidak usah bahas, males gue!"
Bersambung
Tap
Tap
Raka melangkah masuk ke dalam rumah besar yang sepi. Pekerja rumah tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Dengan langkah yang tenang, ia mengangguk singkat kepada mereka sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Suasana di dalam rumah ini terasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang sejak kepergian ibu mereka.
Raka terus berjalan dengan mengingat memori kecil walau waktu itu sudah sangat berlalu.
Tiba-tiba, ada suara bariton yang di kenal Raka muncul.
"Raka!" Suara Papanya, Malik Abraham muncul dari arah ruang makan.
Raka menoleh, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apapun.
Sejak kecil, ia terbiasa dengan sikap Papanya yang sering memberi perintah.
Malik Abraham, seorang pria berkumis tebal yang dikenal berwibawa di dunia bisnis, sedang duduk di meja makan.
"Ayo, nanti makan malam bersama klien, mau ikut Papa?" Ujar Malik sambil menyandarkan tubuhnya di kursi makan, tampak berusaha mencairkan suasana.
Raka menghela napas panjang. "Tidak, Raka males kemanapun Pa, lain kali saja." jawabnya singkat, lalu berbalik melangkah menuju tangga.
Tap
Tap
Malik menatap punggung anaknya, seolah menunggu ada tanggapan lebih lanjut, namun Raka tidak menoleh lagi. "Raka..." Malik menyebut nama anaknya sekali lagi, namun Raka hanya terus berjalan tanpa peduli.
Helaan napas Malik terdengar begitu dalam. Ia memandangi foto mendiang istrinya yang masih terpasang di dinding ruang makan. Malam ini, meski harus menghadap klien-klien penting, hatinya tetap merasa kosong.
**
Raka tidak peduli, ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar. Tubuhnya ambruk ke atas kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesendirian.
Ia menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan satu tangan. Air mata yang tak bisa ia tahan akhirnya mengalir.
Tanpa suara, Raka merasakan kepedihan itu lagi, sebuah luka yang tak pernah sembuh.
Beberapa saat kemudian, ia membuka mata, mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.
Raka bangkit dan duduk di tepi ranjang. Matanya jatuh pada sebuah foto yang tergeletak di meja.
Sebuah foto wanita cantik yang tersenyum memeluk seorang anak kecil.
Tanpa sadar, bibirnya terangkat sedikit, meski hatinya terasa berat. Ia memeluk foto itu, menatap keluar jendela.
Pikiran Raka terhenti ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok
Tok
Ia menghapus sisa air mata dan membuka pintu. Papanya berdiri diambang pintu dengan nampak wajah lelah.
"Kamu tidak mau ikut makan malam? Temani Papa ya." tanya Malik.
Raka mengangguk pelan. "Aku tidak lapar."
Malik menghela napas. "Tapi ini penting, Raka. Ini untuk bisnis kita dan Papa harap kamu bisa memaklumi hal itu dan juga Papa ingin memperkenalkan seseorang sama kamu. "
Raka hanya diam. Ia tidak ingin melibatkan dirinya dalam dunia yang dipenuhi dengan pembicaraan bisnis.
Ia lebih memilih diam dan menghindar, daripada terlibat lebih jauh.
Dengan perasaan yang campur aduk, mereka berdua pun naik ke mobil.
**
Malik terus berusaha membuka percakapan, namun Raka tetap terdiam, hanya sesekali mengangguk atau menggeleng.
Sejak kejadian yang mengubah hidup mereka, hubungan mereka semakin terasa renggang.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah kafe mewah, tempat pertemuan dengan klien-klien ayahnya.
Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Di dalam Cafe, sepasang pria tua dan wanita anggun yang cukup sudah berumur sudah menunggu Raka dan Papanya.
Malik langsung berjabat tangan dengan pria tua yang terlihat serius, lalu menyapa wanita cantik di sampingnya.
"Kenalkan dia ini anakku, Raka Abraham." ujar Malik, memperkenalkan Raka dengan senyum tipis.
Raka menjabat tangan pria tua itu dengan sopan, meski ekspresinya tetap datar.
"Panggil saya Wijiaya Kusuma, Nak Raka!" Pria tu itu tersenyum.
Raka hanya mengangguk sopan.
Wanita cantik itu kemudian menyapa, matanya tidak lepas dari Raka.
"Senang bertemu denganmu, Raka," kata wanita itu dengan suara lembut, membuat Raka sedikit menoleh.
Raka hanya membalas dengan anggukan singkat, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Matanya kembali menatap layar ponsel di tangan, mencoba mengabaikan percakapan di sekitarnya.
Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga muncul di layar ponselnya.
Tling
Sebuah video pendek muncul di grup WhatsApp sekolah.
Nadia, gadis yang baru ia lihat beberapa hari lalu, sedang bermain basket dengan teman-temannya.
Video itu hanya berdurasi beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Raka berhenti sejenak dan menontonnya dengan penuh perhatian.
Tanpa sadar, bibirnya terangkat sedikit dalam senyum miring.
Raka segera menekan tombol pause, merasa canggung dengan reaksi yang baru saja ia alami setelah melihat video Nadia.
"Raka kenapa diam aja? Tidak apa-apa kan?" Suara wanita cantik itu kembali terdengar, membuat Raka mendongkak dan menatap.
Wanita itu tersenyum padanya, menunggu jawaban.
"Oh ya, Raka ini Sekolah di mana kalo boleh saya tahu?" tanyanya dengan nada ramah.
Raka menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Di SMA Abadi."
Wanita itu mengangguk, senyumnya semakin lebar.
"Oh, aku pikir kamu lebih muda. Ternyata kita hampir sebaya," katanya dengan nada santai, sambil merapikan rambutnya.
Raka hanya mengerutkan alis, bingung dengan sikap wanita ini.
Tanpa sadar, ia mendengarkan percakapan di antara ayahnya dan klien-kliennya.
Namun, perhatian Raka kembali teralihkan ketika ia melihat Papanya Malik menggenggam tangan wanita cantik itu dengan lembut.
Wanita itu tersenyum, dan Raka merasakan sesuatu yang aneh. Apa hubungan mereka? Pikir Raka.
"Raka, sebenarnya Papa undang kamu kesini mau bilang kalo wanita disamping Papa ini namanya Maria Alora , dia ada lah calon Ibu tirimu yang akan menjadi ibumu Raka." ujar Malik memperkenalkan wanita itu kepada Raka.
**
Raka terkejut, matanya membelalak sejenak. Ia menatap wanita itu dengan wajah datar, berusaha menutupi rasa kagetnya.
"Calon ibu tiri?" ucapnya perlahan, seolah tidak percaya.
Maria Alora tersenyum lebar, namun Raka tetap tak menunjukkan reaksi apapun.
Ia merasa kebingungan, hatinya di penuhi dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
Papanya yang biasanya sangat menghargai mendiang ibunya, kini memperkenalkan wanita ini sebagai calon ibu tirinya.
Raka hanya menatap mereka berdua dengan mata datar, seolah tak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan.
Sesuatu dalam dirinya terasa berat, seakan masa lalu dan kenyataan saat ini beradu di dalam dirinya.
Papa Malik memandang Raka dengan sedikit cemas, namun tetap tersenyum.
"Kamu akan terbiasa Raka, dengan hal ini." Katanya pelan. Namun, itu kata-kata yang seakan tidak cukup untuk menenangkan hati anaknya yang terluka karena kejadian ini.
Bersambung*
Raka masih duduk diam di meja pertemuan itu. Ekspresinya tetap datar meski hatinya berkecamuk hebat. Pikiran tentang Maria sebagai calon ibu tirinya terus berputar di kepalanya.
Pria tua di samping Maria, yang tidak lain adalah ayahnya Maria, Mario Aritama, memecah keheningan.
"Raka, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada ramah namun tegas.
Raka menoleh, menatap pria tua itu dengan pandangan kosong, lalu kembali diam tanpa menjawab.
Malik, yang duduk di sebelah Raka, menghela napas berat.
"Raka," Malik akhirnya angkat bicara.
"Papa ingin menikah lagi dengan Maria. Papa harap kamu bisa memahamai semua keputusan Papa ini."
Raka mendecih, menunjukan ketidaksukaannya dengan jelas. "Lakukan saja, Pa Toh, aku tidak bisa mencegahnya, bukan?" jawabnya ketus.
Maria menoleh ke arah Malik, matanya tampak khawatir. Malik hanya tersenyum tipis, berusaha menenangkan suasana.
Sementara itu, Mario memperhatikan Raka dengan tatapan penuh pengertian, seolah memahami perasaan anak muda itu.
"Sepertinya kami harus pulang dulu," ujar Mario dengan sopan, memecah ketegangan.
Malik segera bangkit dari kursinya. "Maafkan jika ada sikap Raka yang kurang sopan," ujarnya dengan nada menyesal.
Mario menggeleng pelan, lalu berdiri sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Malik. Anak muda memang memang butuh waktu untuk menerima keputusan ini."
Maria menyentuh lengan Malik dengan lembut sebelum melangkah pergi.
Ia memeluk Malik singkat, lalu menoleh ke arah Raka.
"Semoga kita bisa saling mengenal lebih baik, Raka, dan semoga bahagia selalu." ucapnya dengan senyum hangat.
Raka hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, lalu bergegas pergi ke arah parkiran.
Malik menatap punggung anaknya dengan pandangan sendu, merasa berat dengan situasi ini.
**
Di dalam mobil, Malik mencoba memulai percakapan saat mereka dalam perjalanan pulang. "Raka, Papa tahu ini sulit, tapi Papa ingin kamu mencoba menerima Maria."
Raka, yang duduk di kursi penumpang, hanya memalingkan wajah ke luar jendela.
"Papa tidak perlu repot-repot menjelaskan. Aku sudah bilang, terserah dan lakukan saja."
Jawaban itu membuat Malik terdiam sejenak.
Ia menghela napas panjang, menyadari betapa keras hati anaknya.
Suasana di dalam mobil pun menjadi hening sepanjang perjalanan pulang.
**
Sesampainya di rumah, Raka segera turun dari mobil dan melangkah masuk tanpa menunggu ayahnya.
Para pelayan menyapanya dengan ramah, namun hanya mendapat anggukan kecil sebagai balasan.
Begitu tiba di kamarnya, Raka membanting pintu dengan keras, membuat beberapa pelayan yang kebetulan lewat menoleh dengan kaget.
Brakkk
Den Raka, kenapa Tuan?" Salah satu pelayan bertanya.
"Raka hanya kecapean, jadi seperti itu." ujar Malik pelan, mencoba menenangkan para pekerja rumah.
Para pelayan pamit undur diri untuk segera istirahat karena hari sudah malam.
Malik masuk ke kamarnya sendiri dan langsung menuju meja tempat foto mendiang istrinya diletakkan.
Ia memandangi foto itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku, sayang. Aku hanya ingin melanjutkan hidup bukan aku bermasud melupakanmu tapi Maria ada wanita yang baik dan soal permintaan kamu akan aku kabulkan sayang, dengan persetujuan Maria." bisiknya.
**
Di tempat lain Nadia Anindita sedang tersenyum dengan aksi kecilnya yang biasa dia lakukan.
Gadis itu tepat berdiri dipagar sekolahan di pagar rumahnya, memandang sekeliling untuk memastikan situasi aman. Melihat jalanan sepi, ia tersenyum lebar.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara deheman. Nadia menoleh dengan terkejut, mendapati seorang pria berdiri di dekatnya.
"Berani sekali, ya lo! Lo mau loncat di pagar ini!" ujar pria itu dengan nada datar.
Raka berdiri di sana, bersedekap dengan wajah tanpa ekspresi.
Nadia mendecih kesal. "Apa peduli lo, heh!"
Tanpa menjawab, Raka berjalan mendekat.
Dan menarik Nadia ke Ruang BK. Nadia terus berontak dari tarikan Raka dan semua siswa dan siswi melihat hal itu.
"Pasti deh, Nadia membikin masalah lagi!"
"Ya benar, capek bener melihat Nadia seperti itu, kasian Ayang Raka!"
"Untung Raka sabar ya."
**
Dalam sekejap, keduanya sudah berada di ruang BK. Guru BK menggeleng pelan sambil menatap Nadia.
"Nadia, lagi-lagi kamu membuat masalah," ujar guru itu dengan nada tegas.
Nadia hanya mendengus, menolak untuk bicara dengan wajah kesalnya.
Raka, yang duduk di sebelahnya, menyenggol pelan lengan Nadia sambil memasang wajah datar. "Diam saja, ya? Biasanya kamu cerewet dan mulut lo tidak bisa berhenti."
Nadia hampir saja membalas dengan suara keras, namun langkah seseorang yang masuk ke ruangan menghentikannya. Itu adalah Deni Anindita, Ayah Nadia.
"Maaf, Bu," ujar Deni dengan sopan. "Saya sudah diberitahu tentang masalah ini."
Guru BK mengangguk dan mempersilakan Deni duduk.
"Pak Deni, Nadia memang perlu diawasi lebih ketat. Kami sering mendapati dia melanggar peraturan sekolah."
Deni tersenyum tipis. "Saya benar minta maaf atas kelakuan anak saya. Saya akan lebih memperhatikannya lagi dan mohon kedepanya untuk lebih sabar menghadapi Nadia."
Guru BK akhirnya memberikan hukuman bagi Nadia untuk membersihkan toilet sekolah selama seminggu.
Nadia, yang mendengar keputusan itu, menggerutu sambil memasang wajah kesal. "Hukuman bersihkan toilet! Membuat gue bikin kesal saja!"
Nadia menoleh dengan wajah kesal untuk Ayahnya.
"Kenapa sih, Pa? Selalu aku yang disalahin, Papa juga tidak membela aku." Nadia begitu
kesal keluar dari ruangan BK.
Deni menatap anaknya dengan tajam. "Karena kamu memang salah, Nadia. Kamu harus bertanggung jawab atas yang kamu lakukan."
Nadia hendak membalas dengan suara keras, namun suara lain memotong.
"Kamu tidak sopan kalau bicara seperti itu sama Ayahmu," ujar Raka, yang tiba-tiba muncul di dekat mereka dengan wajah datar
Nadia menatap Raka dengan kesal, namun tidak berani membalas.
Sementara itu, Deni hanya tersenyum tipis yang samar menatap Raka yang bersede dada di tangan menatap Nadia dengan wajah tanpa takut.
Bersambung*