Bab 1

Di sebuah rumah kontrakan, sepasang pengantin baru tengah asyik mengeksplorasi dunia kenikmatan bersama.

Tujuan mereka hanya satu, yaitu saling melampiaskan nafsu hewani mereka secepat mungkin, sebanyak mungkin, dan senikmat mungkin. Pasangan pengantin tersebut memulainya dengan intens, penuh perasaan, cinta, dan masing-masing tangan bergerak menelusuri setiap lekukan tubuh pasangannya. Lenguhan bergema di ruangan, seolah tak peduli akan ketenangan malam yang menyelimuti.

Namun, di malam pertama mereka bersama, pada ronde keduanya tersebut, Adam merasa tidak terlalu menikmatinya. Pikirannya bercampur aduk, mempertimbangkan nasib dan masa depannya.

Adam, seorang pria berumur 23 tahun, berparas tampan, dan memiliki tinggi badan 160 cm. Ada satu hal yang terus menghantui pikiran Adam, tepat ketika ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya, nasib menimpakannya dengan kenyataan pahit—ia di-PHK dari tempat kerjanya. 

Hatinya hancur ketika ia harus menandatangani surat resmi tersebut, mengetahui bahwa perusahaan itu mengalami kebangkrutan hingga harus melakukan PHK massal. Tak mampu menahan kepedihan dalam hatinya, Adam merasa seolah hidupnya tak lagi terkendali. Kemudian, terdengarlah suara Ayu, istri barunya,

"Aku nungging ya Mas!" kata Ayu, sambil mengganti posisinya. Mendengar itu, seketika lamunan berat Adam sirna dan ia mencoba kembali fokus pada kenikmatan malam pertama mereka.

Tetapi tak bisa dipungkiri, bahwa rasa khawatir akan masa depan mereka tetap menghantui benaknya.

Ayu, yang namanya melambangkan keindahan dan kesempurnaan, adalah seorang wanita berparas cantik dan anggun. Selalu berpenampilan tertutup, ia berhasil menarik perhatian Adam yang akhirnya memutuskan untuk melamarnya.

Ayu baru saja menyelesaikan pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di bidang tata boga. Kemampuannya itu menjadikannya seorang wanita yang hampir sempurna, siap memanjakan suaminya dengan masakan lezat yang diolah dengan cinta.

"Ayo ah… buruan….!" ucap Ayu.

"Ayo Mas…"

Melihat godaan istrinya, Adam pun luluh. Buru-buru ia segera memposisikan dirinya.

Jleb!

Kepemilikan Adam yang berdiameter 3cm, dengan panjang 8cm itu, dengan mudahnya melesak masuk.

Namun karena di sesi sebelumnya Adam sudah akan mendapatkan puncaknya, kali ini pun sepertinya Adam tak sanggup lagi bertahan lebih lama, dan benar saja tak beberapa lama kemudian, tubuhnya mulai bergetar.

"Aku nggak kuat lagi dek, " bisik Adam.

"Tahan masss, tahannnn ohhhh !"

"Suudaaah sayang, Aku udah nggak kuat, ohhhhrrgggg !" Teriak Adam sambil ambruk kedepan.

"Hufffff !" Ayu menghela nafas berat, karena di ronde keduanya ini, masih belum saja mampu membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan juga.

Bersamaan itu pula, Adam langsung menjatuhkan diri disamping tubuh istrinya, sejenak mencoba mengatur nafas.

Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 03.00 shubuh,

"Capek sekali ya, gimana Dek, apakah kamu sudah puas di ronde kedua ini ?"

Bisik Adam sambil mengecup pipi Ayu.

"Ntar sebelum Mas berangkat kerja, aku mau lanjut lagi yah mas ? Soalnya aku ketagihan banget !" ucap Ayu yang tetap bisa menutup kekecewaannya, namun tetap bisa menuangkan kembali keinginannya.

Adam yang mendengar itu, seketika bangkit dari kehendaknya yang sebenarnya ingin melenyapkan rasa letihnya. Adam duduk, lalu mencoba untuk menjelaskan semuanya.

"Dek, maaf yah ! Aku baru berani mengatakan ini, sebenarnya mas udah ngga punya kerjaan lagi, mas udah ngga ada penghasilan tetap lagi untuk saat ini. Jadi mungkin beberapa hari kedepannya, kalau mas tetap nganggur, berarti kita harus meninggalkan kontrakan ini !"

"Astaga, Mas!" ucap Ayu sambil mengelus dada beberapa kali.

Di saat itu kebingungan Ayu sedari kemarin akhirnya terjawab. Pantas saja kemarin Adam memutuskan untuk menikah di KUA saja, dengan alasan untuk mempersingkat waktunya. Tapi berhubung cintanya kepada Adam sudah ikut mendara daging, akhirnya Ayu memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.

"Ngga papa mas, setidaknya mas masih diberikan kesehatan. Aku doakan semoga mas bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. " ujar Ayu.

"Aminnnn makasih yah sayang, untuk pengertiannya. Mas janji, akan berusaha menjadi yang terbaik buat Adek, bagaimana pun keadaannya, mas ngga akan pernah membiarkan adek ngga bahagia, meskipun itu harus merenggut kebahagiaan mas sendiri !" ujar Adam.

*******

2 Minggu setelah pemecatan Adam dari tempat ia bekerja, ia memutuskan untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya yang berada di pusat kota. Ketika Adam tiba di depan kediaman orang tuanya, kakinya terasa berat dan tak mampu melangkah.

Pernah ada masa ketika ia bersumpah tak akan pernah kembali ke rumah ini, kecuali bila ayahnya bersedia untuk kembali bersatu dengan ibunya. Hatinya bergemuruh, emosi bercampur antara penyesalan, marah, dan kecewa, karena ternyata alasan ayahnya memilih pisah, tak lain karena ibunya memiliki hubungan gelap dengan pria lain. 

Namun, dengan berat hati, Adam menghela napas dan akhirnya melangkah maju. Ia tak menyangka akan terpuruk dan harus pulang pada saat yang tak diinginkannya. Setiap langkah mendekat ke rumah, sejuta kenangan lama datang menghujam, sungguh sejumput pahit yang harus ia telan saat ini.

"Apakah ini pilihan terbaik?" tanya hatinya kecil, lantas tersedu sambil berbicara pada langit.

"Apa yang harus kulakukan ?" Kini, Adam berdiri di depan pintu.

"Mas, kalau pun ini membuat mas berat, lebih baik kita mencari tempat tinggal yang lebih sederhana. Kita masih punya simpanan kok, sambil mencari pekerjaan kembali !" sahut Ayu sambil mengelus punggung Adam.

"Dek, kita di sini sementara aja, kalau misalnya mas udah dapat pekerjaan tetap, kita akan mencari kontrakan baru. " timpal Adam, lalu tangannya bergerak untuk menekan bel pintu.

Ting tong!

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan muncullah sosok pria tua, namun tubuhnya masih tinggi tegap. Ayu sampai harus mengangkat pandangannya ketika ia mau memandang pria itu, ada perasaan heran, dan seolah tidak percaya kalau itu adalah keluarga suaminya.

"Adam ?" Ucap pria itu bergetar, dia terlihat bersedih ketika melihat anak bungsunya itu kembali ke rumah.

Nama pria itu adalah Abdul, ia adalah orang tua Adam dan saat ini umurnya sudah menginjak kepala enam, namun masih terlihat tegap, sehat dan bugar.

"Huhhh, Ayahh !" ucap Adam, lalu melangkah untuk memeluk ayahnya.

Seketika itu juga membuat Ayu ikut terharu, ia pun sebenarnya berharap mendapatkan pelukan itu, berhubung saat ini sudah sah berstatus sebatang kara, karena saat ini iapun tak tahu kemana semua keluarganya.

"Nak, ada apa denganmu ? Kenapa kamu terlihat begitu rapuh saat ini ? Terus siapa wanita yang ada di sampingmu ?"

"Hikssss, maaf yah, maaf atas semua kesalahan Adam. Wanita di sampingku, itu adalah istriku, kami baru menikah, " jawab Adam sembari merenggangkan pelukannya.

"Astagaaa, Adam kamu sudah menikah nak ?"

"Iya yah, kami sudah saling mencintai dan merasa cocok. Lagi pula, aku ngga mau membiarkan Ayu kelamaan merasa sendiri, karena dia sudah cukup lama kesepian!" jawab Adam.

"Gileeee, beruntung banget nih bocah, bisa dapetin bidadari secantik ini !" batin Abdul yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya ketika menatap lekat ke arah Ayu. 

Di mata Abdul, Ayu begitu mirip dengan mantan istrinya ketika masih muda, dan hal itulah yang membuat Abdul seolah merasakan adanya benih cinta yang spontan timbul.

"Ayu, Ayah !" Ucap Ayu, lalu meraih tangan Abdul untuk mengajaknya salaman, dan tanpa ragu, Ayu mengecup punggung tangan Abdul

Bab 2

Setelah seminggu berlalu, Ayu merasa semakin nyaman hidup bersama di rumah mertuanya. Ia menikmati kebahagiaan menjadi bagian dari keluarga ini. Di saat yang sama, Adam berhasil mendapatkan pekerjaan, meskipun tak sesuai dengan skil yang ia miliki.

Namun, takdir sedang menantangnya, ayahnya diketahui menderita asam lambung yang sering kambuh. Kondisi ayahnya yang terus menurun memaksa Adam untuk mengambil keputusan berat. Ia harus memilih mendampingi sang ayah dalam menghadapi penyakitnya.

Rasa cinta dan tanggung jawab membuat Adam rela meninggalkan peluang yang ada demi kesejahteraan keluarganya. Seiring waktu, harum aroma ketulusan dan pengorbanan menebarkan kehangatan di rumah itu. Mereka saling bergantung dan merasakan kekuatan cinta keluarga, serta menyadari bahwa kebahagiaan sejati ada dalam pelukan satu sama lain, di rumah sederhana yang penuh kasih.

Dengan senyuman riang, Ayu mulai menikmati rutinitas paginya, yaitu memasakkan bubur untuk mertuanya dan membuatkan sarapan nasi goreng untuk dirinya dan suaminya.

"Mas, mau berangkat jam berapa ?" tanya Ayu.

"Ini udah mau berangkat yank, " ucap Adam.

"Mas, ini tinggal dikit lagi kok, sarapan dulu yah ?"

Adam yang tak mau mengecewakan Ayu, dengan nafas gusar bersabar menunggu masakan istrinya. Seteleh menyantap sarapan, Adam segera meninggalkan Ayu yang sebenarnya masih saja menyuap sarapannya.

"Mmasss, hatiii-mhati !" ucap Ayu yang kurang jelas, karena masih sementara mengunyah.

Setelah sarapan, Ayu menyempatkan untuk membawa sarapan bubur untuk Mertuanya, lalu Ayu memutuskan untuk segera mandi, berhubung ia merasakan tubunya begitu lengket.

Ayu sejenak menatap tubuhnya di depan cermin, ketika ia baru menyelesaikan mandinya.

Ayu kemudian memutuskan untuk memakai pakaiannya, iapun tak lupa memasang hijabnya untuk menutupi auratnya. Lanjut Ayu memutuskan untuk keluar dari kamarnya untuk sekedar melihat keramaian di luar.

"Pagi,  " sapa lembut Abdul, yang seolah menyambut keluarnya Ayu dari kamarnya, dan sebenarnya Abdul telah mengintip Ayu sedari tadi.

"Astaghfirullah, Ayam, eh Ayah!" Ucap Ayu hingga membuat jantungnya hampir copot, namun pikirannya seketika berpikir keras, dan iapun heran kenapa bagian bawah mertuanya itu menyembul, seolah ada barang yang yang begitu besar dan keras sehingga membuat kolor itu menyembul.

"Heheh, maaf nak Ayu, kalau mengagetkan kamu, saya cuman mau tanya, ini simpan di mana mangkoknya?  "  ucap Abdul yang sebenarnya sudah bisa menguasai keadaan, hingga dia bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan ketika bertatapan dengan Ayu.

"Ohh, sini aja Yah, ini mau lanjut cuci piring juga, kok !"

Untuk keseharian Abdul, dia lebih memilih untuk menikmati masa tuanya, dan Abdul tidak perlu lagi bekerja untuk menghasilkan uang, karena dia senantiasa mengharapkan uang pensiunannya.

Ayu sebenarnya masih malas- malasan untuk cuci piring pagi itu, tapi ia sudah terlanjur berucap seperti tadi kepada mertuanya, maka dari itu ia dengan terpaksa lanjut cuci piring.

Di saat Ayu di sibukkan di dapur, Abdul mulai melancarkan rencananya, dengan membuat segelas ramuan herbal, dengan berbagai bahan alami yang di buatnya, berhubung Abdul sudah berpengalaman tentang itu.

Ketika Ayu selesai cuci piring, iapun menyempatkan untuk duduk sejenak di ruang tamu, di saat itu pula Abdul muncul sambil membawakan minuman.

Tanpa ragu dan sungkan, Abdul menawarkan minuman itu, dengan mengatakan kalau itu adalah jamu kesehatan racikannya sendiri. Ayu yang memang sudah percaya dan tidak mau membuat mertuanya tersinggung, akhirnya ia menerimanya, bahkan langsung menghabiskannya seolah begitu menikmati rasa minuman itu.

"Seger ngga ?" tanya Abdul.

"Seger Yah, rasanya mantap juga Yah, bikin mata jrenggg !" ucap Ayu di sertai senyuman khasnya, membuat Abdul semakin terpesona, bahkan membuat nafsunya semakin memuncak.

"Nak Ayu, saya mau joging sebentar yah, udah lama banget ngga olahraga !"

"Iya Yah, jangan jauh-jauh jogingnya, nanti kalau capek malah ngga bisa pulang, hihihi !"

"Kan ada nak Ayu yang jemput, "

Seteleh Abdul pergi meninggalkan Ayu sendiri, tak lama Ayu mulai merasa kalau kepalanya seketika pusing.

"Huuuaammmm,  kok aku masih ngantuk sih, Padahal aku baru saja mandi," keluh Ayu sambil memegang kepalanya. 

Tak lama, Ayu merasa tak mampu menahan rasa kantuk yang menghampirinya. Tanpa sadar, tubuhnya ambruk di atas sofa panjang yang berada di ruang tamu, lalu terbaring dalam posisi miring. Di saat itu juga muncul Abdul dengan tersenyum miring saat melihat Ayu telah tertidur lelap, sesuai dengan rencana yang telah ia buat. Abdul lalu mendekat perlahan, memperhatikan tubuh Ayu dengan tatapan penuh maksud.

"Kok bisa sih kutu kupret itu dapat bini sesempurna ini, kamu cantik banget," bisik Abdul ketika dia sudah sangat dekat dengan Ayu.

"Astaga, empuk sekali!" ucap Abdul bergumam, ketika tangannya mulai merasakan kelembutan dada Ayu di balik pakaian yang menutup tubuh Ayu.

Di tengah aksinya itu, tiba-tiba Ayu mengeluarkan suara yang membuat Abdul berhenti sejenak, tapi tangannya tetap berada di dada Ayu, seolah tidak mau melepas benda kenyal dan empuk itu.

"Mas, kapan pulang ?" ucap Ayu setengah berteriak, namun ternyata Ayu hanya mengigau.

"Aku udah di sini sayang! " bisik Abdul begitu dekat di telinga Ayu yang masih terlapisi hijab.

"Ihhh, Massss, pelukkkk !" ucap Ayu seketika mengulurkan tangannya, dan seolah hendak untuk memeluk, namun kejadian itu tak lama, ketika Abdul tidak lagi merespon ngigaunya Ayu.

"Mumpung masih tidur, saatnya berfantasi dulu ah!" Ucap Abdul yang seolah baru merasakan sensasi yang lama terpendam.

Abdul memulainya dengan pelan, santai dan begitu intens, namun ia belum memutuskan untuk melakukan inti permainannya di saat itu. 

Dengan hati-hati, Abdul menjamah lekuk tubuh Ayu sambil memainkan keperkasaannya. Nafsunya semakin memuncak, tangan kirinya meremas lembut dada Ayu, sementara tangan kanannya terus mengocok keperkasaannya hingga mencapai puncak kepuasan. Abdul menggumamkan kata-kata nakal yang semakin membangkitkan nafsu birahinya, membuat dirinya semakin bergairah. Tak lama kemudian, ia merasakan ledakan kenikmatan yang luar biasa, melepaskan cairan kental miliknya tepat mengenai wajah cantik Ayu.

"Sayang, maaf yah, lain kali kita lanjut ke permainan inti. Sorry yeeeee !" ucapnya, lalu meraih ponsel miliknya.

Abdul menyempatkan untuk pose bersama dengan Ayu.

Abdul memang memiliki kelainan nafsu yang terbilang tinggi, yang menjadi rahasia gelap yang ia sembunyikan dari orang-orang di sekitarnya. Dulu saat di tempat kerja, Abdul dikenal sebagai tenaga medis yang profesional dan disiplin, namun di balik itu, ia memiliki nafsu yang tak bisa ia kendalikan.

Ketika bertugas di rumah sakit, Abdul beberapa kali main dengan pasien yang kebetulan dirawat inap. Ia sangat piawai dalam memilih pasien yang rentan dan mengambil kesempatan tersebut untuk memuaskan hasratnya. Tak ada yang mengetahui perilaku buruknya ini, sehingga ia mampu menjaga reputasinya sebagai tenaga medis yang baik.

Dulunya Abdul juga memiliki asisten rumah tangga. Namun, tak ada yang bisa bertahan lama bekerja untuknya. Asisten rumah tangga yang bekerja padanya harus melayani majikannya hampir setiap saat, bahkan di saat-saat yang seharusnya menjadi waktu istirahat mereka. Abdul menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, yang jelas melampaui batas kewajaran

Bab 3

Setelah Ayu terbangun, ia merasa sesuatu yang tidak beres di tubuhnya. Ia melihat bekas ceceran cairan yang mengagetkan dan segera beranjak, meski tubuhnya masih terasa lemas. Dengan napas tersengal-sengal, Ayu berlari menuju pintu keluar, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memandang sejauh mata, namun tidak ada satu pun orang yang tampak di sana.

"Astaga, siapa yang tega melakukan ini? Aku tahu ini cairan milik seorang pria!"

gumamnya terguncang, perasaan pasrah menyelimuti hatinya, namun di satu sisi ia masih penasaran dan marah pada siapa yang berani melakukannya.

Tak lama, Ayu kembali memeriksa keadaan dalam rumahnya, sempat ia curiga pada mertuanya, namun setelah memastikan semuanya aman, ia pun menarik tuduhan itu. Ayu merasa cemas saat menyingkap daster yang dikenakannya.

"Alhamdulillah," ucapnya bersyukur, karena yakin orang yang melakukannya belum terlalu jauh.

Ting tong, Ting tong!

Ayu langsung menyadari bahwa bel rumah telah berbunyi. Dengan yakin, dia membayangkan bahwa itu pasti mertuanya. Ayu melangkah menuju pintu yang tak tertutup rapat dan segera melihat bahwa bukan mertuanya yang datang, melainkan seorang pria. Dia menatap pria itu curiga, bertanya-tanya apakah dialah yang menyemprotkan cairan aneh di wajahnya.

"Hei, kamu cari siapa?" Ayu menegur dengan nada dingin. Pria tinggi tegap itu menatap Ayu heran, perhatiannya tertuju pada bercak putih di wajah dan jilbab Ayu.

"Kamu siapa? Kamu pembantu baru di sini ya?" "Heh! Saya yang harusnya nanya, kamu siapa? Sejak kapan kamu di sini? Pernah gak masuk ke rumah ini sebelumnya dan lihat aku tidur?" Ayu balik bertanya.

"What?" Pria itu terkejut dan tampak bingung dengan pertanyaan Ayu yang tak terduga.

Sorot mata mereka begitu tajam, seolah-olah sinar api saling memercik di antara pandangan mereka. Rasa tegang mulai terasa di udara, namun mereka berdua sama-sama mencoba menahan amarah yang hampir meluap. Kedua bibir mereka saling bergetar, hendak mengeluarkan kata-kata penuh rasa tidak enak, tetapi mereka menahan diri, menunggu detik yang tepat untuk memulai pertengkaran yang tak terelakkan.

Tangan mereka berdua mengepal erat, persiapan untuk melontarkan kata-kata pedas yang sudah terpendam. Dada mereka berdua naik turun, pernapasan mulai terengah-engah karena emosi yang begitu kuat, tetapi mereka tetap diam, saling menatap tajam, seperti predator yang mengintai mangsanya.

Ayu berdiri tegap, wajahnya memerah karena malu dan kekesalan. Bercak putih di wajahnya seolah menjadi simbol penghinaan yang tak termaafkan.

"Aku tahu ini semua ulahmu, kan !" teriak Ayu dengan suara yang lantang.

"Kamu jangan sok bisa berbahasa Inggris deh, aku tahu kamu lah dalang di balik bercak putih di wajahku ini."

Adit terkejut mendengar tuduhan tersebut dan segera membela diri,

"Kamu salah paham. Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu."

Ayu melanjutkan,

"Di tempatku sebelumnya, sudah banyak kejadian serupa yang melibatkan pria-pria tidak bertanggung jawab, yang rela melakukan apa saja demi kepuasan mereka. Kamu juga pasti salah satu dari mereka!"

Adit mencoba menjelaskan,

"Woeee, aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku tidak pernah melakukan hal yang kamu tuduhkan padaku."

Namun, Ayu tidak mau mendengarkan penjelasan Adit. Emosinya terus memuncak,

"Kau jangan asal menuduh seperti itu! Apa kau kira aku ini siapa? Aku anak pertama pemilik rumah ini, lho! Kenapa kau seenaknya menuduhku sebagai pria yang kau sebut tadi? Dengar baik-baik, meskipun aku belum menikah, tapi aku belum pernah melakukan itu, karena aku sedang menunggu waktu yang tepat, bersama wanita yang tepat." balas Adit dengan keras, membela diri dari tuduhan yang menurutnya sangat menghina itu.

"Jangan pernah berpikir bahwa aku bisa semurah itu, amit-amit deh aku melakukan hal seperti itu padamu, dasar omes!" ucap Adit.

Keduanya terus berargumen, tak peduli pada lingkungan sekitar, saling menuduh dan membela diri. Hati mereka masing-masing pasti sedang terbakar oleh emosi dan kebencian yang tak terelakkan. Namun, di balik pertengkaran itu, tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka, perasaan yang terpendam, dan hal yang memicu pertengkaran ini.

"Jadi, itu artinya kamu iparku. Eh, tunggu. Apa itu 'omes'?" tanya Ayu bingung dengan nada datar.

"Kamu istrinya siapa? Istri barunya ayahku? Atau siapa sih?" Adit balik bertanya.

"Oh, iya. 'Omes' itu otak mesum." lanjut Adit.

Ayu menghela napas,

"Kamu pernah menempuh pendidikan nggak sih? Namanya juga ipar, itu artinya aku menikah dengan salah satu saudaramu. Kalau nikah dengan ayahmu, berarti kamu anak tiri, dan aku jadi ibu tirimu."

Di satu sisi, Adit sedikit heran dengan Ayu. Selama ini, tak ada satu pun wanita yang berani menantang atau berdebat dengannya. Adit selama ini dipandang sempurna oleh kalangan wanita, dari segi fisik atletis dan wajah tampan.

"Kayaknya, nih cewek lebih pede dariku. Makanya, dia sama sekali nggak sadar kalau aku ini tampan dan menawan!" gumam batin Adit begitu percaya diri.

Di tengah perdebatan yang memanas, tiba-tiba muncul sosok pria yang tak lain adalah Abdul.

"Ayah!" seru Ayu dan Adit bersamaan, terkejut dengan kehadiran pria itu.

"Cieeee, barengan!" sahut Abdul sambil tersenyum nakal, seolah berlindung dari situasi yang sebenarnya.

"Yah, apakah benar dia anak Ayah juga?" tanya Ayu dengan wajah masih tegang. Abdul menghela napas panjang,

"Hmm... iya, Yu. Adit memang anak Ayah juga." Ia kemudian berusaha mengalihkan perhatian mereka dari konflik tersebut.

"Eh, kok di jilbab Ayu ada noda aneh gitu, ya? Kalian habis ngapain ?" Ayu sontak tersentak, merasa tersinggung dengan pertanyaan tersebut. 

Hatinya terasa terluka, seakan-akan dituduh berbuat hal yang tidak senonoh bersama Adit. Adit, yang melihat keadaan Ayu, segera membela.

"Husst, Ayah!" tegurnya sambil memberikan isyarat kepada Ayu untuk pergi.

Ayu mengangguk, berusaha menutupi rasa malunya.

"Saya pamit ke dalam, Yah. Mas, saya minta maaf atas sikap saya tadi, dan terima kasih!" ucapnya lembut, sembari berbalik dan melangkah menuju kamar.

Di sepanjang langkah demi langkahnya menuju kamar, Ayu terus terbayang sikap kedewasaan yang dimiliki Adit. Wajahnya berangsur memerah, dan senyuman simpul malu tak bisa ia sembunyikan di balik jilbabnya.

Setelah Ayu pergi, Abdul tak lupa untuk menyambut anak sulungnya dengan pelukan hangatnya, seolah menggandakan dirinya sebagai ibu dan seorang Ayah.

"Yah, tadi itu istrinya Adam, kan?" tanya Adit penasaran.

"Iya Dit, seharusnya Adam tahu diri. Dia kan lebih muda darimu. Masa kakaknya dilangkahi gitu?"

"Hehe, santai aja Yah, aku sih masih suka masa lajang ini," sahut Adit sambil tertawa.

"Yah, boleh kan Adit tinggal sementara di sini? Mungkin tiga bulan? Soalnya Adit dipindah tugaskan ke kota ini." Ucap Adit dengan nada minta izin.

"Adit, Adit, kamu ini selalu bikin Ayah ga enakan. Kamu meraih cita-citamu sendiri dengan jerih payah, tapi pas ke sini, malah minta izin buat tinggal. Hahaha, kalau kamu minta izin, itu artinya kamu bukan anak Ayah lagi lho. Ingat ya, Dit."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED