Karine hanya mampu menikmati gairah yang diberikan oleh dua CEO tampan dalam ruangan rapat kedap suara. Tubuh mungilnya ditelanjangi, ditindihnya ke arah tembok sehingga pergerakannya terkunci. Empat tangan ganas berurat berusaha mengerogoti seluruh belah tubuh Karine.
"Apa kamu menginginkan kerja sama ini tetap berjalan, hmm?" Pak Bilang mendonggakkan dagunya, terlihat mata masih terpejam menikmati sentuhan.
Pak Arum ikut berucap, "Dengan begini kamu tidak perlu susah payah mempertahankan karir menjadi seorang duta perusahaan. Kami bisa memberimu hingga miliaran. Siapa yang akan menolaknya."
Suara desahan mulai digemai dalam ruangan. Pakaian kantor Karine yang tadinya cukup rapi kini satu-persatu mulai lepas. Tubuhnya kini tanpa benang.
"Tidak perlu takut, kamu sudah melakukan ini selama dua tahun, bukan?" Terus saja pertanyaan dialihkan pada Karine, tepat pada jenjang telinganya.
Suara Pak Bilang dan Pak Arum begitu membuat Karine ikut bernafsu tinggi.
"Apapun demi perusahaan," jawab Karine yang sesekali mendesah.
Tingg
Namun, suara dentingan ponsel membuat mata ketiganya menyorot pada atas rak buku, menghentikan aksi yang telah diperbuat.
"Siapa?" Pak Arum bertanya mendahului setelah mengetahui dentingan ponsel itu berasal dari ponsel Pak Bilang, meninggalkan Karine tanpa pakaian di atas meja kerja.
Dilihatnya panggilan itu berasal dari Nadin, istri Pak Bilang. Jelang beberapa menit, mereka melakukan sebuah perbincangan hingga berakhir.
"Aku cabut duluan," ungkap Pak Bilang yang langsung saja meraih pakaiannya dan segera bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Karine dan Pak Arum di sana.
"Sepertinya aku harus menikmati tubuh mungilmu sendirian, Karine."
Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Pak Arum tanpa aba-aba memusatkan perhatiannya pada tubuh Karine yang sedari tadi siap. Mereka kembali melakukan aksinya tanpa menyadari kini jarum jam telah menunjuk pukul 17.30.
Setelah berkemas, Karine berucap, "Pak, duluan ya." Ia meraih segala perlengkapannya, membersihkan seisi ruangan seolah tak terjadi apa-apa di sana.
"Iya, istri Bapak juga sudah menelepon," akhirnya.
Kini Karine meninggalkan ruangan, melihat jam mulai larut, Karine bergegas keluar dari perusahaan tersebut setelah mendapati suasana luar mulai menjelang magrib. Lagian di tempat itu juga sudah tidak ada siapa-siapa.
Kakinya dengan cepat berjalan menyusuri trotoar menuju kompleks yang tempatnya tak jauh dari sana, ia hanya mengandalkan kaki agar bisa sampai walau selangkangannya lumayan perih berjalan.
"Karine!" Suara teriakan dari arah berlawanan membuat langkah wanita itu terhenti.
Yuna, salah satu karyawan perusahaan milik CEO menghampiri. Ia juga tinggal di daerah komplek Karine. Tampak di tangannya terdapat kantong kresek dengan isian martabak di dalamnya.
"Si Yuna lagi! Pasti dia bakalan tebak gua dari mana!" batin Karine seraya memutar bola matanya malas. Tampak tak ada semangat untuk kembali berdebat dengannya terlebih lagi keadaan tubuh Karine yang mulai lemas akibat ulah Pak Arum beberapa menit lalu.
Dengan tatapan mencurigakan, Yuna bertanya, "Baru pulang dari kantor? Emang ada bisnis penting banget yang harus lo bicarakan sampai selarut ini?"
"Udahlah, gak usah kepo urusan atasan!" Karine menjawab disertai alisnya yang mulai mengerut. Tampak tingkahnya membuat Yuna mampu menebak.
Perahan Yuna mendekatkan wajahnya pada raut wajah Karine, mencoba membaca sudut wajah. "Lo ... Habis digilir lagi kan sama CEO tampan itu?" tebaknya tanpa ragu.
"N-nggak! Gak usah mikir aneh, gua ada tugas tambahan tadi!" hindarnya. Tak ingin di tanya macam-macam lagi, Karine berusaha menjauh dari posisi Yuna setelah feeling nya mulai tak bisa ditebak.
"Bohong, gua juga dapat Pak Arum tadi baru pulang. Berarti pasti habis-"
Huussttt!!!
"Sekali lagi lo ngomong ini, gua bakalan lapor ke atasan lo! Awas aja!" Bibir Yuna di dekap seketika oleh Karine, takut jika tetangganya ikut mendengarkan perbincangan ricuh itu.
Kini dengan cepat ia menjauh, tubuhnya tak bisa di topang lebih lama lagi. "Halahh, pasti Yuna iri soalnya perusahaan gua bakal tetap kerja sama sama perusahaan atasannya!"
Karine mulai meraih kunci kompleknya dari bawah pot bunga, di pegangnya gagang pintu bersiap untuk masuk.
Clakk
Ruangan itu terbuka, Karine menghempas seisi tasnya di atas kasur yang sedari tadi pagi berantakan saat ia meninggalkan tempat itu, setelahnya beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan cairan putih kental Pak Arum yang sempat tersisa di area intimnya.
Jam kini menunjuk pukul 21.34, Karine sibuk dengan ponsel di atas kasur empuk miliknya, bersenda gurau bersama lawan gender di dalam ponsel tersebut.
David, kekasih Karine yang sampai saat ini belum juga mengetahui kelakuan dari pacarnya padahal mereka telah merajut asmara sekitar tiga tahun sepuluh bulan. Memang, David terkadang mempunyai firasat buruk tentang Karine tapi kembali di kuatkan oleh gugatan Karine yang seakan tak pernah melakukan hubungan intim dan berlagak layaknya seorang gadis perawan.
[Udah dulu ya Ayang, ngantuk.]
[Ok, see you baby]
Mereka mengakhiri perbincangan yang berlangsung sekitar satu jam empat puluh menit. Karine hanya beralasan, nyatanya ia mendapati panggilan dari Pak Bilang, bagaimanapun CEO itu yang utama.
"Pak Bilang ngapain telepon tengah malam? Apa dia butuh gua lagi, soalnya kan tadi dia gak sempat, mana tadi udah di ujung."
Tangannya perlahan menekan tombol, memastikan bahwa memang yang menelepon adalah Pak Bilang. Tanpa berdecak lebih dahulu, Pak Bilang memulai.
[Karine, di mana?] Dari suaranya saja Karine mampu menebak bahwa pria beristri itu menginginkan sesuatu. Suara agak candu.
Karine ikut membalas dengan suara yang mampu menggoda Pak Bilang pula. [Iya Pak? Ini di komplek sendirian.]
[Tunggu Bapak di situ,] akhir Pak Bilang sontak mematikan panggilan tersebut. Karine mampu menebak maksud dari pria muda.
Tak membuang banyak waktu, ketukan pintu komplek terdengar jelas. Karine mampu menebak bahwa itu adalah Pak Bilang.
Clakk
Dibukanya pintu tersebut, memperlihatkan Pak Bilang dengan kegagahannya berdiri di sana. Tanpa berucap, pria itu langsung saja meraih dan mendorong tubuh Karine hingga mentok pada tembok. Tatapannya agak berbeda.
"Pak? Bapak mabuk?" tanya Karine perlahan. Suara napas Pak Bilang mampu ia dengar begitu jelas. Tak ada celah di antara keduanya.
"Kamu mau bisnis tetap berjalan? Maka, terima ini!" Belah dada yang tertutup dengan baju tidur bergambar Doraemon tanpa bra yang ia gunakan sangat mudah membuat Pak Bilang menjelajah. Terus saja CEO itu menikmati tubuh Karine, sedangkan gadis itu hanya pasrah.
Kecupan tercipta agak lembut, Karine berusaha menarik tubuhnya menuju kamar agar lebih leluasa. Sesampainya, Pak Bilang langsung saja menghempas tubuh Karine di atas kasur dengan ganas, perlahan baju dan celana yang ia gunakan mulai terbuka, menyisakan CD biru navy milik Pak Bilang.
"S-stop Pak." Karine menghentikan aksi Pak Bilang sekejap.
Tanpa bertanya, pria kekar itu hanya menunggu Karine melanjutkan ucapannya. "Nanti kalau ada yang tau Bapak di sini kan bahaya. Apalagi ini pertama kalinya Bapak ke sini malam-malam, takutnya ada yang lapor ke istri Bapak."
"Siapa yang berani melawan saya? Apa saya harus peduli? Saya tidak peduli! Yang jelas nafsu saya malam ini terpenuhi oleh tubuh mungilmu, Karine!"
Kini CEO yang tak cukup satu wanita itu kembali melanjutkan aksinya tanpa memikirkan yang akan terjadi, begitu juga dengan Karine yang hanya pasrah dan mengikuti perintah apa yang akan di keluarkan Pak Bilang. Ia yakin, dengan CEO tampan itu ia akan aman. Sekarang tugasnya hanya melayani pria hidung belang yang saat ini masih sibuk menikmati area tubuh yang kini tanpa sehelai benang yang membalut.
Lumayan lama mereka bergelut di atas kasur yang tak berseprei, kini Pak Bilang segera bergegas meninggalkan komplek milik Karine sebelum pagi menjemput. Ia tak ingin jika keberadaannya disadari oleh tetangga Karine yang sedari lama memang sudah curiga.
"Gak bermalam Pak?" tanya Karine mencoba menawari, namun ia tahu jawaban tentu akan mengatakan tidak!
Setelah selesai membersihkan tubuh, Pak Bilang perlahan keluar dari sana, sedikit mengendap-endap. Namun satu keganjalan berhasil ia temukan setelah iris matanya tak sengaja melirik pada tembok yang terhubung dengan komplek Karine. Tampak ada hal yang mencurigakan.
Tak ingin banyak penasaran, langsung saja ia melangkahkan kakinya menuju arah yang ia intai. Kecurigaannya itu memang benar, seseorang mengintip dari arah sana.
Siapa lagi kalau bukan Yuna yang tadinya tak sengaja mendapati Pak Bilang memasuki perumahan milik Karine.
Tubuhnya masih berusaha merendah, bersembunyi di balik pot bunga milik tetangga, berharap agar Pak Bilang tak menyadari keberadaanya.
"Ini gimana coba, mau lari pasti malah ketahuan. Mana gak ada siapa-siapa, posisi Pak Bilang juga udah makin dekat!" batinnya. Terlihat keringat tak segan-segan turun dari pelipis.
Posisi Pak Bilang perlahan semakin dekat, detak jantung Yuna semakin tak beraturan. Ia mampu menebak, jika dirinya ketahuan Pak Bilang akan melakukan tindak di luar pikirannya.
Tingg
Satu panggilan terlantunkan pada ponsel Yuna, membuat Pak Bilang semakin yakin jika terdapat seseorang yang bersembunyi di balik sana. Notifikasi itu masuk di waktu yang tidak tepat. Seketika saja keberadaan Yuna disadari. Pria itu mendapati gadis yang sedari tadi mengintip tengah berusaha mengatur ulang ponselnya.
"Wah, wahh ternyata." Langsung saja Pak Bilang menarik paksa Yuna keluar dari tempat persembunyiannya sedangkan gadis itu hanya bisa terdiam, menunggu perlakuan apa selanjutnya yang akan diberikan atasannya.
"M-maaf Pak, saya tadi tidak sengaja lewat kebetulan pintu perumahan Karine juga terbuka." Yuna berusaha menghindar tapi sayang, sudah terlambat.
Sebelum tetangga yang lain menyadari kericuhan itu, Pak Bilang menyekap Yuna dengan cepat, menariknya menjauh dari tempat itu, membawanya menuju gerbang komplek yang telah ada mobilnya terparkir di sana.
"Pak, kita mau ke mana?" tanya Yuna agak tergesa-gesa setelah tubuhnya harus memasuki mobil milik Pak Bilang. Di kuncinya dari luar.
"Apa kamu menginginkannya juga?" Senyuman setengah bibir tercipta, dengan tatapan agak santai namun tajam.
"Maksudnya, Pak?"
Atasan itu menaikkan dagu Yuna agar mampu menatapnya dengan jelas. "Kamu menginginkan perlakuan sama dengan Karine?" tanyanya kembali.
"Nggak! Bagaimanapun perlakuan seperti itu hanya cocok untuk pelacur! Bebaskan saya dari sini!!"
Yuna masih berusaha membuka pintu mobil Pak Bilang tapi naas, usaha yang dilakukannya hanya membuat dirinya kekurangan energi. Berteriak pun tak akan ada yang mendengar melihat jarum jam menunjuk pukul 02.12.
"Punya keberanian berapa kamu sampai seberani itu mengintip di komplek Karine?!" Pak Bilang kembali meraih dagu Yuna, mendonggakkannya agar setara dengan tatapannya.
"Nggak sengaja Pak, tadi lewat aja terus liat pintu rumah Karine terbuka, makanya aku ngintip sedikit. Maaf." Yuna berusaha menjelaskan. Napasnya masih saja tak terkontrol menjawab pertanyaan yang sedari tadi ditanyakan oleh atasannya.
"Kamu kira ucapan maaf saja mampu? Itu perlakuan yang kurang beretika, Yuna. Apa Bapak pernah mengajarkan kamu beretika buruk? Tidak!"
"Ya terus aku harus gimana Pak?"
"Penuhi keinginanku jika kamu ingin lolos dari sini."
"Keinginan apa? Tolong jangan pecat saya." Yuna hanya menginginkan posisinya tidak terancam dari perusahaan milik Pak Bilang.
"Lakukan hal yang sama seperti perlakuan Karine padaku dan Pak Arum!"
Sontak saja mata Yuna membulat tanpa berkedip. Ungkapan itu membuatnya ketakutan, tak mungkin ia akan menjual diri seperti temannya.
"Bapak gila?! Bapak udah punya istri, udah punya anak masih aja nyari yang good looking di luar, mana yang diincar bukan orang jauh!" Yuna melepaskan dekapan tangan Pak Bilang.
Selagi ia mampu melawan mengapa tidak? Ia punya ilmu yang bisa ia gunakan untuk mencari perlindungan.
"Kamu tau? Saya tidak puas dengan keberadaan istriku. Malam pertama waktu itu sangat mengecewakan, mendapat gadis yang sudah tidak perawan!"
"Hah? Terus hubungannya dengan Karine apa sampai Karine rela keperawanannya direbut oleh atasan bisnis sendiri?"
"Ya saya mencari yang perawan lah, siapa yang tidak kecewa mendapati istri yang sudah tidak perawan. Lagipula tubuh mungil Karine lebih menggoda."
Tampak perbincangan itu malah berlanjut, Yuna malah fokus dengan curhatan Pak Bilang. Sebenarnya apa yang dilakukan Pak Bilang wajar-wajar saja namun salah menempatkan.
"Ya sudah Pak, saya mau pulang ini! Bebasin saya!"
Pak Bilang terkekeh mengejek, "Kamu pikir segampang itu? Penuhi keinginan saya dulu!"
Perlahan tangan Pak Bilang mulai menyentuh paha Yuna, mengelusnya cukup lembut, namun tidak secepat itu.
"Eits! Bapak lupa? Siapa purna bakti pencat silat yang telah mendapat sabuk hitam pekat dalam watu yang singkat? Siapa lagi kalau bukan Yuna!" Tak berlama-lama lagi, kini Yuna mengeluarkan tindakan yang mampu menggunci pergerakan atasannya.
"Maaf Pak, saya tidak segila yang Bapak harapkan, yang dengan mudahnya memberikan keperawanan yang sudah dua puluh tahun saya jaga!"
Pertengkaran dalam mobil Terios itu tercipta lumayan lama, kini Yuna berhasil keluar dari sana, meninggalkan Pak Bilang dengan badan yang terikat dengan sabuk pengaman.
"Semoga harimu menyenangkan, Pak!" ucap Yuna membungkukkan sedikit badannya mengimbangi kaca dalam mobil Pak Bilang sambil melambai.
***
05.00 subuh ini Karine terbangun agak cepat, biasanya sekitar sepuluh menit sebelum jam kerja tiba. Mungkin itu semua efek sakit akibat tadi malam.
Crekk
Crekk
Karine merenggangkan tubuhnya hingga mengeluarkan suara tulangnya. Ia sedikit kesusahan berjalan.
"Apa gua nggak usah ke kantor dulu ya? Ini badan remuk banget!" Matanya masih agak sepet, kakinya berjalan menuju pintu teras, namun tak lama setelah itu Yuna datang menghampiri.
"Karine, lo gak ke kantor? Katanya ada rapat antar perusahaan lagi." Terlihat Yuna dengan pakaian rapi menenteng tas bersiap menuju kantor.
"Gua nggak enak badan." Sebelum Yuna bertanya macam-macam, Karine dengan cepat kembali memasuki perumahannya, memilih untuk beristirahat. Lagipula hari ini bertepatan dengan rapat penting antar perusahaan yang membuat Karine sangat malas berinteraksi.
Sedangkan Yuna, ia langsung saja menuju kantor, bertemu dengan karyawan lainnya yang tentu saja tak sedikit yang mempertanyakan keberadaan Karine. Harusnya ia ikut bersama Yuna sebab tujuan yang sama.
"Karine mana? Biasa kalau ada rapat di perusahaan dia yang paling gercep datang," tanya Rubi yang mengimbangi langkahnya dengan Yuna.
"Katanya nggak enak badan," singkatnya tanpa memalingkan wajah.
"Aneh banget. Pasti ada sesuatu." Tentu saja pikiran Rubi dengan Yuna tak jauh berbeda.
"Biasalah, ngapain lagi kalau gak jadi pemuas nafsu?"
Bagi Rubi, tak heran lagi jika mendengar kabar itu. Ia hanya mampu menggelengkan kepala dengan pelan, merahasiakan perlakuan Karine dari perusahaan, menjaga nama baik perusahaan.
Rapat sebentar lagi di mulai tetapi atasan belum juga terlihat. Sebelum itu Yuna memilih meninggalkan ruangan formal menenangkan pikiran sejenak.
Di lain sisi, Rubi juga mengikut. Ia penasaran akan apa yang sebenarnya di pikirkan Yuna kali ini cukup tertekan.
"Rapat bentar lagi tuh, ngapain malah ke tempat lain."
"Rubi, gua masih terbayang kejadian tadi malam." Ungkapan Yuna mengundang perhatian sebagian karyawan lain, membuatnya mendekat. Ia tahu, Yuna tentu mengetahui hal mengganjal entah itu mengenai Pak Bilang ataupun Karine yang sama-sama telat ke kantor saat ini.
"Maksudnya?" tanya Rubi penasaran.
Yuna tipe orang yang tak bisa menyembunyikan sesuatu sendirian, dengan lancar ia bercerita membuat semua bola mata tertuju padanya.
"Jadi kamu juga relain keperawanan kamu ke Pak Bilang? Plis lah Yuna, terlanjur Karine yang digilir dua CEO, kamu nggak usah!" balas Rubi prihatin.
Yuna menarik napas dengan dalam, berusaha bercerita dengan santai tanpa melibatkan emosi. Jujur saja ia ikut dendam dengan dua atasannya itu terlebih lagi Karine dengan Yuna pernah menjadi teman dekat sebelum bekerja di perusahaan masing-masing.
"Ya kali gua relain! Otak gua masih normal, walau sempat gunung sama paha gua di sentuh dikit."
"Sama aja kalau gitu Lo udah ternodai! Maunya sama CEO!"
"Jelas, miliarder. Siapa yang nggak mau sama CEO? Hidup terjamin, nggak perlu susah payah nyari kerjaan udah bisa makan sambil baring!" Tia yang juga karyawan di tempat itu tentu ikut geram. Sebenarnya ia tak geram karena emosi tetapi ia geram mengapa bukan ia saja yang di rebut perawannya oleh atasan.
"Dasar otak udang! Mau CEO perusahaan apapun gua juga nggak mau. Nggak cukup sama satu wanita dan selalu haus akan sentuhan wanita! Geli banget!"
Perbincangan itu berlanjut tanpa ada yang menyadari. Jam juga sudah lewat dari waktu rapat sepertinya rapat kali ini akan di tunda.
Entah ke mana Pak Bilang dan Pak Arum pergi. Sampai saat ini tak ada juga tanda-tanda kedatangan. Dengan begitu para karyawan bebas untuk melakukan apa saja di sana. Mungkin bergosip bisa untuk mengatasi sedikit rasa capek.
"Eh ngomong-ngomong, bisanya ya ada duta perusahaan yang rela digilir padahal tujuannya cuman buat kerja sama perusahaan. Kok malah jebol jadi wanita simpanan?"
"Udahlah, itu emang udah takdir Karine buat jadi wanita simpanan. Mau bagaimanapun udah terlanjur. Karine juga pasti menikmati tubuh para atasan gila!" Hanim sangat bodoh amat dengan perbincangan semacam itu. Ia tak bisa jika seseorang terus-terusan membicarakan aib orang lain. Rasanya telinga ingin pecah.
Dengan memutar bola mata malas, Yuna bangkit dari tenggeran kursinya. "Lo ngomong kayak gini emang nggak kasihan sama duta perusahaan yang udah dua tahun digituin? Yang awalnya mau kembangkan dan lanjutkan bisnis ayahnya eh malah jadi wanita simpanan CEO."
Hanim ikut bangkit, berjalan menghampiri posisi Yuna yang pandangannya tak meleset di hadapan komputer. Lagak wajahnya seakan menantang. "Kasihan di mananya? Karine memang pantas dapatin itu. Buktinya lekuk tubuhnya aja mendukung buat digilir, tapi emang rasanya senikmat itu. Aku udah pernah coba bareng mantan dulu. Kamu cobain aja, pasti bakalan kecanduan."
"Nggak dulu. Itu cocok untuk pelacur!"
Memang bagi Yuna agak susah menyadarkan teman-temannya. Sebagian besar saja sudah pernah melakukannya maka itu mereka sengaja tak mendukung aksi Yuna untuk melaporkan perbuatan atasan. Jika melaporkan juga posisi mereka yang akan terancam.
"Susah, teman kita kebanyakan otaknya udah dicuci pikiran negatif. Pergaulannya emang sebebas itu, mereka udah pernah rasain jadi wajar aja kalau mereka dukung Karine."
"Tapi bagaimana dengan kita yang masih perawan? Apa harus ngikut sama mereka? Di tempat ini hanya 20% yang masih ori, lebihnya bekas semua! Saran gus belajar bela diri itu ampuh banget!" Siapa lagi yang bisa mengarahkan teman-temannya jika bukan Yuna? Hanya ia yang bisa mengimbangi keadaan.
"Aelah nggak usah sok nasihatin Lo. Di sini kebanyakan nggak perawan karena emang udah dari SMA jual diri. Bayangin harus bayar SPP, kost, belum lagi uang makan dan kebutuhan lainnya."
Sedangkan Rubi, ia memilih keluar dari lingkungan perdebatan itu mengingat terdapat pekerjaan lain yang harus ia selesaikan, namun sebelum itu pikirannya berputar untuk menuju komplek Karine untuk menemuinya di sana. Jaraknya juga tak terlalu jauh hingga Rubi memutuskan untuk berjalan.
Tampak ia tak segan-segan melewati rombongan ibu-ibu komplek yang tentu saja pandangannya mengikuti kemana pria itu melangkah.
Tok ...
Tokk ...
Tokkk ....
Tangannya dengan ringan melantunkan ketukan agak keras pada dasar tembok komplek Karine yang terbuat dari triplek.
"Karine," panggil pria berpakaian rapi dengan lekuk tubuh agak tegak.
"Karine? Kamu ada di dalam?" Sekali lagi Rubi mengulagi setelah tak ada balasan panggilan dari arah dalam.
"Tunggu!" teriak Karine dari dalam.
Clakk
Dibukanya pintu tersebut, memperlihatkan wajah lesu Karine dengan daster tipis transparan kesukaan yang ia gunakan. Bahkan Rubi saja langsung tertuju pada dua bola menggelantung yang mengecap keluar.
"Rubi?" Ia mengucek pelupuk matanya sesekali mengerutkan alis setelah cahaya terang dari arah luar menerpa wajahnya. Tampak ia baru saja bangun.
Tak perlu basa basi, Rubi mendaratkan tubuhnya pada kursi plastik tetap di teras komplek Karine, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bahas. Kini Karine ikut menduduki kursi lainnya.
"Karine, gua bukannya mau ikut campur urusan pribadi lo, tapi gua, Yuna sama Tia ikut prihatin sama kondisi lo yang semakin diperbudak nafsu." Ia berbicara sedikit memelankan suaranya, berharap tak ada tetangga yang ikut penasaran.
"Yuna cerita ke kamu kejadian semalam?"
"Mau sampai kapan lo kayak gini? Mau ada karyawan yang lain yang jadi korban juga? Pak Bilang sama Pak Arum terlalu terobsesi dengan wanita perawan. Kasian keluarga lo yang udah berharap lo bisa lanjut bisnis ayah lo sampai jadi duta eh malah jadi simpanan CEO. Kasihan keluarga atasan yang harus di selingkuhi. Lo ngerti maksud gua kan?"
Karine bangkit dari duduknya, sedikit berjalan ke arah depan sembari melipat tangannya di dada.
"Keluarga mana yang kamu maksud, Rubi? Gua sekarang hidup sebatang kara. Andai bukan karena jadi simpanan para CEO nggak mungkin perusahaan ayah gua bisa bertahan selama ini. Andai bukan karena tuntutan CEO nggak bakal ada bisnis ayah gua di perusahaan itu. Gua cuman mau pertahanan bisnis ayah gua."
Nyesek. Itu yang dirasakan Rubi saat itu juga. Keinginannya untuk mengolok-olok Karine terhenti akibat ucapannya gadis itu barusan. Hingga sampai saat ini Rubi belum juga membalas ucapan Karine, tubuhnya masih terduduk meratapi Karine dari belakang.
"Sedangkan keluarga Pak Bilang atau Pak Arum? Jujur gua juga rada bersalah tapi mau gimana lagi. Ini semua bukan salah gua. Yang minta juga para atasan. Jadi gua nggak bisa lawan. Lagian kalau bukan kayak gini mau dapat uang makan di mana gua sedangkan orang tua gua udah nggak ada."