Pria tampan keturunan Tionghoa dengan wajah khas, kulit putih dan tinggi setara dengan model internasional menjadi godaan tersendiri bagi wanita yang melihatnya. Kesempurnaan terlihat jelas dari Michael Hardianto yang sedang duduk elegan di balik meja kerja. Pria dingin dan sedikit bicara tetapi sangat suka memerintah tanpa ada yang boleh membantah.
Michael Hardianto, putra pertama dari Hardianto Prasetyo adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia dan menjadi urutan ke-150 terkaya di dunia meskipun usianya baru 35 tahun. Memiliki total kekayaan bersih mencapai 11,6 miliar dollar AS atau setara Rp 172,8 triliun
Michael sering disebut jimat keberuntungan oleh keluarga besarnya, karena begitu Michael lahir usaha keluarga Hardianto maju pesat dengan keuntungan yang luar biasa besar. Hanya ada satu masalah dalam hidup Michael, yaitu kisah cintanya. Di usia yang sudah matang dan mapan pun, Michael belum pernah jatuh cinta. Hidupnya disibukkan dengan bisnis dan uang.
“Selamat pagi, Tuan Michael.” Seorang wanita dengan pakaian sangat seksi berdiri di depan Michael yang tidak melihat sama sekali pada sekretarisnya.
“Tuan, semua kolega telah menunggu di ruang rapat,” ucap Fanny lembut dan pria itu segera beranjak dari kursi tanpa sepatah katapun, ia merapikan jas dan berjalan keluar ruangan menuju meeting room. Semua berdiri dan menundukkan kepala menyambut kedatangan bos besar.
Michael Hardianto memenangkan hak untuk membangun kembali Hotel Bintang Indonesia yang terletak di kompleks Jakarta Pusat. Ia mengubah properti menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel mewah dan kompleks apartemen bernama Sun Flower Indonesia. Pria itu akan membeli sebuah pulau kecil dan melakukan bisnis perhotelan yaitu pulau Bangka.
Melakukan perjalanan bisnis dan liburan di pulau kelahiran orang tuanya yaitu pulau Bangka. Sebuah pulau kecil terkenal dengan pantai yang sangat indah. Suasana yang aman dan damai, jauh dari hirup pikuk kota dan bahkan tidak akan terjebak macet. Michael sengaja mengumpulkan semua orang di ruang rapat untuk menyampaikan rencananya kedepan, selama ia pergi pimpinan sementara di pegang oleh Jordan Hardianto−adik Michael.
“Aku akan berlibur dan bekerja,” tegas Michael.
“Fanny dan Fendy akan ikut diriku,” lanjut pria itu. Yang mendapatkan senyuman lebar dari sekretarisnya.
“Jordan, ikut keruanganku!” Michael menutup rapat tanpa ada pertanyaan dan protes dari semua orang. Ia berjalan kembali ke ruangannya diikuti Jordan.
“Kenapa mendadak?” Jordan menutup dan mengunci pintu.
“Sebenarnya tidak mendadak hanya di percepat.” Michael duduk di sofa.
“Kenapa dipercepat? Kamu tidak pernah merubah apa yang telah direncanakan.” Jordan menatap Michael.
“Tanyakan pada papa dan mama.” Michael terlihat kesal.
“Baiklah, mereka mau kamu beristirahat dan memikirkan untuk segera menikah.” Jordan tersenyum.
Michael menatap tajam pada Jordan. Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mengdengus, menarik napas dengan berat dan membuangnya dengan kasar. Lelaki tampan yang selalu dipuja kaum hawa dan dikagumi banyak pengusaha muda itu memejamkan mata. Jari-jari kekarnya memijit batang hidung yang terpahat mancung dan sempurna. Sorotan mata yang tajam dilengkapi dengan alis lebat dan hitam hampir menyatu sangat kontras dengan kulit putih dan bersih sang pria keturunan Tionghoa itu.
“Apa kamu tidak tertarik untuk menikah?” Jordan menaikkan alisnya melihat kegelisahan Michael.
“Aku akan menikah, tetapi tidak sekarang,” jawab Michael mengendurkan ikatan dari dan membuka kancing jas miliknya. Dua saudara itu terdiam.
Angin berhembus menggoyangkan gorden. Mengejutkan Jordan karena ruangan itu sudah menggunakan pendingin.
“Kenapa kamu membuka jendela?” Jordan menutup jendela kaca yang terbuka.
“Kadang aku butuh udara asli.” Michael beranjak dari sofa dan berjalan menuju lemari pendingin.
“Polusi udara. Kamu sangat suka kebersihan.” Jordan memperhatikan Michael.
“Aku bisa mandi setelah sampai rumah,” ucap Michael kembali ke sofa.
“Apa rencana kamu selanjutnya di Bangka?” Jordan duduk di depan Michael.
“Aku tidak mau mengunjungi semua keluarga yang ada di Bangka.” Michael meneguk minumannya.
“Aku tahu, kamu tidak mau mendengarkan ocehan mereka.” Jordan ikut meneguk air yang ada di atas meja.
“Aku sangat khawatir.” Michael membuka jasnya.
“Apa yang dikhawatirkan seorang Michael?” Jordan menyenderkan tubuhnya di dinding sofa.
“Mama mau aku mengambil guci pernikahan di rumah Oma.” Michael semakin kesal.
“Lalu?” Jordan sangat penasaran.
“Aku pikir, papa dan mama berlebihan karena terlalu percaya mitos.” Pria tampan itu membuka dasi dan membuang ke sofa.
“Bagi papa dan mama, kamu adalah pembawa keberuntungan. Apakah itu juga mitos?” tanya Jordan.
“Apa kamu tahu? Jika guci itu pecah maka keberuntunganku akan menjadi kesialan kecuali aku menikah dengan wanita yang berada paling dekat dengan guci pecah.” Michael menekankan suaranya. Ia sangat ingin berteriak.
“Kamu kirimkan saja guci menggunakan jasa kurir dari Bangka ke Jakarta.” Jordan menatap Michael yang terlihat kesal.
“Itu Guci leluhur kita yang harus dijaga, apa kamu mengerti maksud perkataan itu?” Michael meneguk habis minumannya dan menghancurkan botol kosong itu.
“Baiklah, Guci itu tidak boleh dikirim dan harus terus berada di sisi kamu,” ucap Jordan.
“Bayangkan, jika guci itu pecah? Aarrg.” Michael mengacak rambutnya.
“Berdoa saja pada sang Dewa, ketika guci itu pecah ada bidadari cantik di sisi kamu.” Jordan tersenyum.
“Pergilah berdoa untuk diriku!” Michael menatap tajam pada Jordan.
“Hey, kamu yang harus berdoa pada sang Dewi Fortuna.” Jordan tersenyum lebar.
“Bagaimana jika kita pergi ke tukang ramal?” Jordan terlihat serius.
“Aku tidak percaya dengan semua itu.” Michael merapikan kemejanya dan bersiap untuk pergi.
“Kamu mau kemana?” Jordan ikut berdiri.
“Pulang ke rumah.” Michael berjalan keluar ruangan, ia membuka pintu dan melihat Fanny berdiri tepat di depan dirinya.
“Maaf, Tuan. Saya telah mempersiapkan keberangkatan ke Bangka besok siang.” Fanny tersenyum.
“Pilih hotel terbaik di pulau Bangka dengan pemandangan pantai dan dekat dari rumah keluargaku!” Michael memasuki lift khusus diikuti Jordan.
“Tidak usah di perjelas, Bangka memiliki hotel mewah di pinggir pantai yang indah.” Jordan menepuk pundak kakaknya.
“Apa kamu sering pulang ke Bangka?” tanya Michael dan menepis tangan adiknya.
“Tentu saja, hanya butuh lima puluh menit di pesawat.” Jordan tersenyum.
“Gadis Bangka sangat cantik dan manis, mereka juga sangat ramah,” bisik Jordan di telinga Michael.
“Mata kamu sangat jeli ketika melihat wanita.” Pria itu memicingkan matanya.
“Tentu saja, apalagi gadis melayu pribumi dengan kulit sawo matang, sangat mempesona.” Senyuman lebar terlihat di bibir Jordan membuat Michael memikirkan sesuatu yang tidak ia sukai.
“Hey, aku tidak melakukan seks bebas.” Jordan bisa memahami tatapan saudaranya.
“Entahlah.” Michael keluar dari lift karena telah terbuka, ia menuju mobil mewah berwarna hitam miliknya. Dan Jordan menuju mobil berwarna merah. Dua mobil mahal itu meninggalkan kawasan perkantoran menuju rumah mewah bernuansa Chines.
Mobil hitam mewah dan mahal memasuki halaman hijau sebuah rumah besar dengan tiang-tiang tinggi dengan ukiran naga dan burung Phoenix berwarna lembut. Dua pria tampan turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Wajah kusut Michael terlihat jelas. Pria itu bahkan merasa gerah dengan hari yang panas di kota Jakarta walaupun udara segar dari tumbuhan dan pepohonan memberikan kesejukan.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah oriental keturunan Tionghoa tersenyum menyambut dua putra kesayangannya di depan pintu untuk makan siang bersama. Dia bisa melihat kekesalan pada wajah jimat keberuntungan keluarga Hardianto.
"Ada apa ini?" Mama berdiri di depan pintu.
"Hm." Jordan mengangkat pundaknya.
“Berikan pelukan pada Mama.” Wanita itu membentangkan tangannya.
“Halo, Ma.” Jordan berlari memeluk wanita cantik dengan kulit putih bersih.
“Halo, Sayang. Kenapa dengan wajah tampan kakak kamu?” tanya Nyonya Jia Li−Mama Jordan dan Michael.
“Dia sedang memikirkan Guci pernikahan.” Jordan tersenyum dan mencium dahi mamanya.
“Ma, aku saja yang mengambil Guci itu.” Suara Jordan terdengar manja.
“Usia kakak kamu sudah tiga puluh lima tahun dan belum juga menikah, Mama sangat khawatir,” bisik Mama di telinga Jordan yang harus menunduk karena wanita itu hanya sebats bahunya.
“Aku juga sudah tua, Ma.” Jordan memancungkan mulutnya.
“Kamu punya banyak kekasih.” Nyonya Li menjewer telinga Jordan.
“Aww, sakit, Ma.” Jordan berlari masuk ke dalam rumah.
“Menyebalkan.” Michael melewati Mamanya.
“Berhenti!” perintah Nonya Li dan itu dapat menghentikan langkah kaki Michael.
“Halo, Ma.” Michael memeluk mamanya.
“Jangan mengecewakan dan membuat sedih Mama,” bisik Nyonya Li di telinga Michael.
Michael dan Jordan masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri dan membuka jas serta dasi, keduanya keluar bersama dengan kemeja dan celana berbahan menuju ruang makan.
“Putraku semakin tampan dan gagah.” Tuan Hardianto tersenyum dan bersiap untuk makan siang.
“El, kapan kamu akan pergi ke Bangka?” tanya Papa.
“Besok,” jawab Michael pelan.
“Pa, apa aku boleh ikut?” tanya Jordan bersemangat.
“Jo, kamu harus menggantikan El selama di Bangka,” ucap Mama dengan senyuman.
“Sebaiknya kita segera makan.” Michael mengambil makanan dengan sumpitnya.
“Apa kamu akan kembali ke Perusahaan setelah makan siang?” tanya Jo dengan mulut penuh makanan.
“Tidak, aku akan jalan-jalan saja sebentar. Aku sudah kenyang.” Michael beranjak dari kursi.
“Jo, ada apa dengan El?” tanya Mama.
“Mama lebih tahu.” Jordan tersenyum.
“Sebenarnya, Guci pernikahan itu mitos atau fakta?” Jordan melihat Papa dan Mama bergantian.
“Itu fakta untuk mempertemukan El dengan jodohnya.” Mama tersenyum puas.
“Itu ide dari Mama kamu.” Papa menyelesaikan makan siang.
“Aku kembali ke kantor, Sayang.” Tuan Hardianto mencium kepala istrinya.
“Hanya Jakarta-Bangka dan El akan menggunakan pesawat bisnis. Fanny dan Fandy yang di dekatnya.” Jordan menatap Mamanya.
“Belum tentu, Sayang.” Mama menyentuh pipi Jordan dengan lembut dan merapikan meja makan dibantu beberapa pelayan.
Nyonya Lia Ji hanya ibu rumah tangga biasa, ia setiap hari berada di rumah mengurus keluarganya. Tuan Hardianto adalah pria yang setia, ia puas dan bahagia bersama istrinya dari hidup susah hingga menjadi kaya raya. Pernikahan mereka yang ditentang keluarga membuat Hardianto melarikan diri ke Jakarta dan membuka usaha kecil-kecilan dari modal yang dia tabung sejak masih muda.
Jordan berjalan menuju kamar Michael, ia membuka pintu yang tidak terkunci dan melihat pria tampan sedang membaca sebuah buku bisnis yang hanya menggunakan celana pendek sebatas paha berbaring di kursi malas yang berada di balkon kamar.
“Apa aku perlu membereskan koper saudaraku?” Jordan duduk di depan Michael.
“Aku akan menghubungi Fanny.” Michael akan mengambil ponsel.
“Tidak perlu.” Jordan menahan tangan Michael.
“Ada apa?” tanya Michael heran.
“Mama yang akan melakukannya. Jangan biarkan orang asing masuk ke dalam ruangan pribadi kamu!” Jordan menatap Michael. Dia paham benar dengan kakaknya yang selalu di layani bak Raja sejak lahir.
“Sekretaris ku adalah seorang pelayan yang akan melakukan semua pekerjaanya.” Michael kembali membaca buku.
“Apakah kamu akan menjadikan istrimu seperti pelayan?” tanya Jordan.
“Tidak, ia akan jadi Ratu yang hanya perlu menghabiskan uangku.” Michael tersenyum.
“Wanita yang bagaimana yang kakak sukai?” Jordan mengambil sebuah buku tebal yang ada di atas meja.
“Bagaimana dengan dirimu?” Michael balik bertanya.
“Seperti Mama, lembut, ramah, menyukai anak-anak dan selalu tersenyum dengan kulit sawo matang tapi terang.” Jordan tersenyum.
“Sepertinya selera kita sama.” Michael meletakkan buku di atas meja.
“Tidak biasanya kakak jadi peniru.” Jordan memicingkan matanya.
“Aku harus meniru adikku yang punya banyak pengalaman dengan wanita.” Pria tinggi dan putih itu beranjak dari kursi. Dia mengenakan kemeja biru langit untuk menutupi tubuh seksi dengan otot-otot dan kulis putih bersih.
“Mau kemana?” Jordan memperhatikan saudaranya.
“Jalan-jalan.” Tangan kekar itu mengancingkan kemejanya.
“Bagaimana jika kita pergi ke kampung Pecinaan?” Jordan terlihat bersemangat.
“Untuk apa?” tanya Michael.
“Dasar pria tidak percaya pada Tuhan.” Jordan menepuk pundak Michael.
“Sebenarnya siapa kakak? Aku atau kamu?” Jordan keluar dari kamar Michael.
“Jo, apa kakak kamu sudah berberes?” tanya mama ketika melihat Jordan menuruni tangga kamar.
“Apa yang bisa dilakukan El selain mengurus bisnis?” Jordan duduk di ruang tengah.
“Tidak ada.” Mama tersenyum dan berjalan menuju kamar putra pertama yang terlalu dimanja itu.
“Putraku mau kemana?” Mama melihat Michael di depan pintu kamar.
“Jo, mengajakku bermain ke kampung Pecinaan.” Michael menatap mamanya.
“Baiklah, jangan pulang terlalu malam.” Wanita itu menjentikkan jarinya agar Michael menunduk dan ia bisa memberikan ciuman di pipi putranya.
“Aku tidak pernah bisa membantah Mama.” Michael melihat Mama yang telah masuk ke kamar untuk membereskan koper.
“Apa kamu jadi ikut?” tanya Jordan.
“Ya, besok aku akan pergi ke Bangka dan tidak bisa menghabiskan waktu bersama kamu.” Michael melemparkan kunci mobilnya kepada Jordan.
Jordan mengendarai mobil menuju Gladak yang merupakan salah satu kawasan yang dikenal sebagai Chinatown-nya Jakarta. Michael memejamkan matanya menikmati perjalanan dengan tidur dan menjadikan adiknya seorang supir pribadi. Jordan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sifat Bossy dari kakaknya. Michael adalah pria nomor satu dimanapun dia berada begitu juga di dalam rumah, Mama membiasakannya seperti seorang raja yang selalu dituruti semua kemauannya dan menjadikan manusia yang harus dilayani.
“Bagaimana dengan Cleya?” tanya Jordan tanpa melihat Michael.
“Aku tidak tertarik pada wanita penggoda dan mencari perhatian,” jawab Michael.
“Cleya wanita karier dan seperti seorang tuan putri.” Jordan tersenyum.
“Aku mau menikah dengan wanita rumahan seperti mama, pandai memasak, merawat suami dan anak-anak penuh cinta kasih.” Michael melirik Jordan.
“Mama adalah wanita lembut tapi tegas dan ketika marah seperti Singa,” lanjut Michael.
“Sebagai seorang bos kaya dan tidak pernah berada di lingkungan menengah ke bawah, bagaimana bisa kamu bertemu dengan wanita seperti itu?” Jordan melihat kearah Michael.
“Pulau Bangka hanya di huni manusia biasa saja kan?” Michael merapikan duduknya.
“Apa maksud kamu dengan kata manusia biasa?” Jordan menoleh pada Michael.
“Tidak ada artis atau model di sana,” jawab Michael acuh.
“Apakah kamu berniat mencari wanita di pulau Bangka?” Jordan menghentikan mobil di tempat parkir.
“Mama adalah wanita yang berasal dari Pulau Bangka.” Mata tajam yang tersembunyi dari balik kaca mata hitam melihat sekeliling.
“Mengapa kita pergi ke tempat seperti ini?” Michael melihat kearah Jordan.
“Kita akan pergi berdoa kepada Tuhan.” Jordan keluar dari mobil.
“Apa? Aku tidak percaya dengan semua ini.” Michael membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Pria itu melihat sebuah Klenteng yang sangat Indah.
Berkunjung ke Chinatown Jakarta, tentu akan ada banyak bangunan kuil atau vihara-vihara yang salah satunya adalah Vihara Dharma Bhakti atau dikenal juga dengan nama Klenteng Jin De Yuan. Vihara ini sendiri merupakan salah satu dari vihara-vihara tua yang ada di kawasan pecinan Gladak dan menjadi salah satu destinasi wisata dan juga ziarah khususnya bagi masyarakat penganut ajaran Kong Hu Cu.
Menjelang hari-hari besar seperti Waisak dan tahun baru Imlek vihara ini akan sangat ramai dikunjungi serta kerap dimeriahkan berbagai acara-acara sosial ataupun pertunjukan seni tradisional khas Tiongkok. Tak cuma tempat ibadah Vihara, di sekitar kawasan pecinan Gladak, bisa menemukan tempat ibadah umat Katolik yang cukup unik, yakni Gereja Santa Maria de Fatima yang dibangun dengan arsitektur bergaya oriental bak kuil-kuil di China. Dengan arsitektur dan ornamen khas pecinan, tentu gereja ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup menarik di Chinatown Jakarta. Bahkan, gereja ini juga memiliki jadwal khusus untuk misa yang diselenggarakan dalam bahasa mandarin.
“Ayolah.” Jordan tersenyum melihat Michael yang masih berdiam diri di depan mobil.
“Apakah tempat ini memang sepi?” Michael berjalan mendekati Jordan.
“Tentu saja, ini bukan jadwal ibadah dan masih jauh dari tanggal perayaan keagamaan.” Jordan melangkah masuk ke dalam Klenteng dengan nuansa merah itu. Lampion-lampion merah menghiasi bagian depan tempat ibadah begitu indah.
“Apa yang mau kamu lakukan di sini?” Michael memperhatikan sekeliling begitu tenang.
“Berdoa,” jawab Jordan.
“Kamu saja, aku tidak mau.” Michael menghentikan langkah kakinya.
“Kapan kamu akan percaya dengan adanya Tuhan? Kamu adalah pria yang cerdas.” Jordan menatap sedih pada Michael, ia tidak tahu apa yang membuat saudaranya tidak memiliki agama di hatinya. Sikap Michael yang tidak mau melakukan semua ritual keagamaan membuat Jordan harus menggantikannya.
“Entahlah, aku tidak tahu,” jawab Michael.
“Aku akan masuk.” Jordan meninggalkan Michael berjalan menuju sebuah tempat di samping Klenteng, ia tertarik pada sebuah patung yang terlihat seperti wanita yang akan terbang ke langit dan meninggalkan pasangannya. Pria itu melangkahi kolam kecil yang mengeliling patung.
“Jangan sentuh!” Sebuah kalimat larangan yang sangat Michael benci. Mata tajam itu melihat kearah sumber suara. Tangan Michael berada tepat pada bunga yang di pegang oleh patung pria dan wanita. Da ingin mengetahui jenis bunga itu.
“Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya!?” bentak Michael pada pria tua itu.
“Itu adalah patung cinta terlarang.” Tubuh pria tua itu gemetar melihat tatapan tajam dan suara keras dari Michael.
“Apa yang akan terjadi karena aku telah menyentuhnya?” tanya Michael marah.
“Anda akan jatuh cinta pada wanita yang tidak menginginkan anda sama sekali karena banyak perbedaan dan anda akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan wanita itu,” jelas pria tua dengan tetap menunduk.
“Apa? Tidak ada wanita yang akan menolak seorang El.” Michael mencekik leher pria itu dengan sangat emosi, dua kalimat yang sangat tidak ingin ia dengarkan.
“Maafkan saya, Tuan.” Pria itu kesulitan bernapas.
“Semuanya mitos bodoh.” Michael melepas tangannya dengan kasar dari leher pria tua hingga terjatuh ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan?” Jordan membantu pria dengan pakaian biksu itu berdiri.
“Hancurkan patung ini!” Tangan Michael menyentuh wajah patung wanita dengan emosi.
“Apa kamu gila?!” Jordan menatap tajam pada Michael.
“Dengar Jordan! Untuk apa ada patung bodoh seperti ini?” Michael mencengkram kerah baju saudaranya.
“Kenapa kamu emosi? Apa salah patung itu?” Jordan memegang tangan Michael yang hanya terdiam.
“Kenapa ada patung terlarang di tempat seperti ini?” Michael menarik tangannya.
“Kamu harus membaca buku sejarah keagamaan.” Jordan mendekati pria tua.
“Maafkan saudara saya.” Jordan membungkuk tubuhnya memberi hormat dan meminta maaf.
“Apa yang kamu lakukan?” Michael menarik Jordan dengan kasar.
“Dengar El, kita harus menghormati pelayan Tuhan.” Jordan menatap tajam pada Michael.
“Kau mengajari diriku!” Michael membalas tatapan Jordan dengan lebih tajam.
“Sebaiknya kita pulang, ini semua salahku.” Jordan memberikan amplop pada Pria tua yang masih berdiri.
“Menyebalkan.” Michael berjalan cepat menuju mobil.
Jordan mengelengkan kepala melihat sikap kasar dan pemarah Michael. Pria itu kembali mendekati Pak Tua yang bertugas menjaga tempat ibadah. Lelaki yang dengan pakaian biksu itu memperhatikan Michael.
“Sekali lagi, tolong maafkan saudara saya.” Jordan tersenyum dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
“Dengar Nak, patung ini bukan mitos, saudara kamu akan jatuh cinta pada wanita yang bahkan mungkin sangat membenci dirinya.” Pak Tua menggengam tangan Jordan.
“Aku berharap bisa menyaksikan keajaiban itu.” Jordan tersenyum.
“Ah, apa saudaraku akan mendapatkan wanita itu?” tanya Jordan penasaran.
“Itu tergantung usahanya.” Pak Tua menepuk pundak Jordan.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan mengikuti perjalanan cinta saudaraku.” Jordan kembali membungkuk dan berjalan menuju mobilnya. Ia melihat Michael berbaring di kursi samping pengemudi dengan mata terpejam.
“Aku tidak tahu jika temperamen kamu sangat buruk.” Jordan menjalankan mobilnya meninggalkan klenteng.
“Apa kamu lapar?” tanya Jordan.
“Terserah,” jawab Michael sekenanya. Dia terus memikirkan perkataan biksu tadi. Ada rasa khawatir yang cukup menggangu dan berusaha disembunyikan dari Jordan.
“Kita akan mencari makan di sini.” Jordan memarkirkan mobilnya di Gang Gloria.
“Tempat apa lagi ini?” Michael menatap tajam pada Jordan.
“Jika tidak mau turun tetaplah berada di dalam mobil.” Jordan segera keluar dari mobil,
“Aku juga lapar.” Michael sangat kesal.
“Tempat apa ini?” Michael mengulangi pertanyaan dengan mengernyitkan dahi.
“Sangat ramai,” ucap pria arogan itu lagi dan kembali ke dalam mobil.
“Dasar.” Jordan berdecih melihat saudaranya. Ia berjalan menuju kedai Es Kopi dan membeli dua gelas.
“Halo Tuan, apa Anda mau saya ramal?” Seorang wanita tua berdiri di samping pintu mobil dengan kaca yang terbuka.
“Kenapa aku terus bertemu dengan orang-orang bodoh?” Michael menatap tajam pada wanita itu.
“Itu hanya mitos!” bentak Michael.
“Bisakah Nyonya meramal saya?” Jordan meletakkan dua gelas es kopi di atas bagian depan mobil.
“Tentu saja, anak muda.” Wanita itu menyentuh telapak tangan Jordan.
“Kisah cinta yang rumit,” ucap wanita itu.
“Maksudnya?” tanya Jordan penasaran.
“Anda akan bertemu dengan wanita yang membuat benar-benar jatuh cinta dengan indah tetapi harus bersaing dengan orang yang kuat.” Wanita itu menepuk tangan Jordan.
“Nyonya, aku mempunyai banyak kekasih.” Jordan menarik tangannya.
“Tetapi tidak ada diantara mereka yang benar-benar kamu cintai.” Wanita paruh baya dengan pakaian tradisional Cina itu tersenyum.
“Bagaimana dengan kakakku?” Jordan menarik tangan Michael.
“Apa yang kamu lakukan?” Michael terlihat kesal dan berusaha untuk menarik tangannya tetapi dipegang kuat oleh Jordan.
“Hmm, pria posesif yang akan jatuh cinta pada wanita yang membenci dirinya.” Wanita itu tersenyum.
“Apa?” Michael menatap tajam dan penuh kebencian pada wanita itu.
“Terima kasih.” Jordan menjauhkan wanita itu dari Michael dan memberikan uang.
“Dia adalah saingan cinta kamu,” ucap wanita itu dan berlalu.
“Apa?” Jordan terkejut dengan kalimat yang terdengar samar-samar.
“Apa yang wanita itu katakan?” tanya Michael pernuh emosi.
“Kamu adalah saingan cintaku.” Jordan memberikan Es Kopi Takkie pada Michael.
“Itu tidak mungkin, tidak ada satupun dari kekasih kamu yang menarik perhatianku.” Michael tersenyum dan meminum kopi.
“Aku bahkan belum bertemu dengan wanita yang membuat aku jatuh cinta dan menjadi rindu bila tidak bertemu,” ucap Jordan duduk di samping saudaranya.
“Apa kamu akan memberikan wanita itu kepada diriku jika kita mencintai orang yang sama?” tanya Jordan menatap serius pada Michael.
“Apa maksud kamu? Kita tidak mungkin jatuh cinta pada wanita yang sama. Ada banyak wanita di dunia ini.” Michael tersenyum.
“Kenapa tidak? Kita memiliki kriteria yang sama dan berdasarkan ramalan itu kita akan menjadi saingan cinta.” Jordan menghabiskan minumannya.
“Dengar Jordan, kita hidup di zaman modern, tidak usah percaya dengan hal-hal seperti itu.” Michael menyerahkan gelas kosong pada Jordan agar membuangnya.
“Hmm.” Jordan mengambil gelas dan keluar dari mobil untuk membuang pada tempat sampah.
“Cari restaurant mewah, aku sangat lapar.” Pria itu tersenyum.
“Baiklah.” Jordan segera mengendarai mobil menuju restaurant sesuai perintah Michael.
Berkunjung ke pecinan Gladak, takkan lengkap tanpa menjelajahi kuliner-kulinernya. Salah satu destinasi kulineran legendari khas Chinatown Jakarta adalah Gang Gloria. Berbagai kuliner khas pecinan bisa ditemukan di kawasan ini. Beberapa diantara kedai makanan bahkan sudah sangat terkenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner legendaris di Jakarta seperti Rujak Shanghai Encim, Mie Kangkung, dan Es Kopi Takkie.
Jordan memilih restaurant Akira Back−restoran bintang 5 yang berada di Setiabudi. Mereka mengusung konsep makanan khas Jepang yang digabungkan dengan makanan khas Korea. Menu favorit di sini adalah Pizza Tuna, AB Tacos, Miso Black Cod dan Crispy Kalbi Roll. Tentu saja, rasa lezat khas hasil fusion yang kreatif ini tidak mungkin ditemukan di restoran lain. Michael dan Jordan masuk ke dalam restaurant, langsung menuju ruangan VIP, pria itu tidak akan mau berada di keramaian dan bertemu dengan banyak orang tidak penting. Jordan sangat mengerti itu.
“Masuklah, aku mau ke kamar mandi.” Jordan menepuk pundak Michael. Pria itu tidak menjawab, ia langsung duduk di depan meja membuka dua kancing bagian atas dari kemejanya. Seorang pelayan wanita berjalan mendekat.
“Selamat malam, Tuan. Silakan pesanan Anda.” Waitress menyerahkan tap kepada Michael agar pria itu bisa memilih menu dan memesan. Michael mengambil tap dan mulai menggeserkan layar untuk memesan makanan, tetapi ia tidak tahu apa yang akan dipesan karena pria itu tidak pernah melakukannya.
“Biarkan adikku yang memesan.” Michael mengembalikan tap pada waitress.
“Baiklah.” Wanita itu menunduk dan meninggalkan Michael yang memainkan ponselnya.
Jordan keluar dari kamar mandi dan bertemu dengan seorang wanita dengan postur sempurna dengan menggunakan pakaian sangat seksi untuk memperlihatkan tubuh proporsionalnya. Cleya−putri tunggal seorang pengusaha dan juga model yang telah go internasional.
“Hai, Jordan,” sapa wanita dengan kulit putih bersih itu.
“Hai, apa yang kamu lakukan di sini?” Jordan tersenyum.
“Aku menemani papa dan mama bertemu klien.” Cleya tersenyum cantik dengan bibir merah merona.
“Bagaimana dengan dirimu?” tanya Cleya.
“Aku mengajak Michael jalan-jalan dan makan malam.” Jordan tersenyum, ia memperhatikan Cleya dan berpikir, wajar jika Michael menyebut wanita itu sebagai penggoga dengan pakaian begitu minim.
“Apakah kamu bersama Michael?” tanya Cleya bersemangat.
“Ya, aku harus pergi sekarang. Michael bukan tipe pria yang sabar.” Jordan melewati Cleya.
“Jordan, tunggu.” Cleya menahan tangan Jordan.
“Ada apa?” Pria itu menarik tangannya.
“Apa aku boleh bergabung bersama kalian?” tanya Cleya lembut.
“Aku tidak tahu, kamu bisa bertanya pada Michael.” Jordan melanjutkan langkah kakinya dan berjalan menuju ruangan yang telah ia pesan. Cleya mengikuti dengan semangat.
“Aku rasa El tidak akan suka ini.” Jordan tersenyum.
“Kenapa kamu sangat lama?” Michael menatap tajam pada Jordan.
“Apa saudaraku tidak bisa memesan makanan?” Jordan tersenyum.
“Silakan, Tuan.” Waitres memberikan tap pada Jordan.
“Terima kasih.” Pria itu tersenyum ramah berbeda dengan Michael yang bahkan tidak bisa mengucapkan terima kasih.
“Halo Mich.” Cleya tersenyum cantik menebarkan pesona yang menggoda. Tidak ada jawaban dari Michael, ia hanya melirik sekilas pada Cleya untuk memastikan wanita yang berani menyapa dirinya.
“Apa aku boleh bergabung?” tanya Cleya.
“Kami hanya punya dua kursi,” jawab Michael tanpa melihat Cleya.
“Maaf, Cleya. Kami tidak bisa mengundang kamu bergabung.” Jordan tersenyum.
“Baiklah, aku permisi.” Cleya memaksakan diri untuk tersenyum dan keluar dari ruangan Michael.
“Apa kamu tidak tertarik dengan Cleya?” tanya Jordan yang menyerahkan tap pada pelayan.
“Mama tidak pernah berpakaian seperti itu.” Michael meletakkan ponsel di atas meja.
“Hey, Cleya masih muda dan mama sudah punya dua putra dewasa.” Jordan tersenyum.
“Aku sudah melihat foto-foto mama dari kecil hingga hari ini dan mama selalu memakai pakaian sopan serta panjang.” Michael menatap kearah Jordan.
“Tidak ada lagi wanita seperti mama di zaman seperti ini.” Jordan meneguk air putih yang ada di atas meja.
“Ah ada, wanita beragama Islam,” lanjut Jordan.
“Mereka bahkan menutupi seluruh tubuhnya. Ada yang hanya memperlihatkan mata saja.” Jordan tersenyum.
“Aku tidak perduli dengan agama mereka selama wanita itu seperti mama, aku akan suka,” ucap Michael.
“Ketika kamu jatuh cinta, semua standard yang kamu cari akan hilang seketika.” Jordan melihat beberapa pelayan membawa pesanan mereka.
“Baiklah, aku sangat ingin jatuh cinta.” Michael memperhatikan makanan yang mulai tertata di atas meja.
“Jika sudah jatuh cinta, belajarlah memilih menu sendiri.” Jordan tersenyum.
“Istriku yang akan melakukan itu.” Michael melirik Jordan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kamu benar-benar seorang raja yang harus dilayani.” Jordan tersenyum.
“Sebaiknya kamu menikah dengan seorang pembatu rumah tangga atau seorang pelayan.” Jordan tertawa dan mendapatkan tatapan tajam dari Michael.
“Apa itu lucu?” tanya Michael.
“Aku sangat lapar.” Tangan Jordan segera mengambil makanan. Dia tahu pria di depannya tidak bisa diajak bercanda.
Cleya terlihat kesal. Dia berjalan cepat kembali ke ruangan orang tuanya. Wanita itu selalu mendapat penolakan dari Michael−pria dingin yang sangat sulit untuk dicairkan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan pria terkaya di Indonesia itu. Model cantik menghempaskan bokongnya dengan kasar di kursi. Wajah yang ditekuk dan bibir manyun. Jari-jari Cleya memainkan garpu dan sendok dengan kasar.
“Ada apa, Sayang?” tanya Nyonya Meylan ketika melihat wajah putrinya yang cemberut.
“Pa, bisakah aku dijodohkan dengan Michael?” Cleya menatap pada Rudi Hartono.
“Apa Michael Hardianto?” tanya Tuan Rudi.
“Ya. Siapa lagi kalau bukan dia? Pria tampan dan kaya yang diidolakan semua wanita di Indonesia hingga mancanegara.” Cleya terlihat kesal.
“Apakah kecantikan dan kepopuleran seorang Cleya tidak bisa menaklukkan Michael?” Nyonya Meylan mengusap kepala Cleya.
“Michael bahkan tidak melihat diriku.” Tangan Cleya meremas tisu yang ada di atas meja.
“Habiskan makanan kamu, Papa akan berbicara dengan Hardianto.” Tuan Rudi Hartono tersenyum.
“Terima kasih, Pa. Aku mau jadi kekasih dan calon istri Michael.” Cleya bersemangat.
“Apa kamu bertemu dengan Michael?” tanya Nyonya Meylan.
“Ya, dia bersama Jordan di ruangan paling ujung,” Cleya memakan makanannya dengan anggun.
“Jika tidak mendapatkan Michael, kenapa kamu tidak mendekati Jordan saja?” Nyonya Meylan tersenyum.
“Ma, Jordan punya banyak teman kencan dan itu membedakan dia dengan Michael.” Cleya tersenyum.
“Jordan hanya bermain bersama mereka dan tidak benar-benar berkencan,” ucap papa Cleya.
“Bagaimana Papa tahu?” tanya Cleya penasaran.
“Semua wanita yang dekat dengan Jordan tidak ada yang dia sentuh, bukankah itu sama artinya tidak ada harapan untuk mendapatkan Jordan?” Mama Cleya tersenyum.
“Jordan hanya berpura-pura menjadi seorang playboy,” ucap Cleya.
“Benar, Sayang. Kamu adalah wanita cerdas lulusan luar negeri.” Nyonya Meylan tersenyum.
“Mama benar, hanya aku yang pantas menjadi menantu keluarga Hardianto.” Cleya tersenyum lebar.
Cleya Hartono, wanita keturunan Tionghoa dengan kulit putih bersih dan seorang model internasional, sejak kuliah serta meniti karir Cleya tinggal di luar negeri dan bertemu dengan Michael ketika perayaan ualng tahun perusahaan milik Hardianto. Pertemuan pertama yang membuat wanita itu langsung jatuh cinta pada pria dingin dan tampan bernama Michael Hardianto−orang terkaya di Indonesia. Sejak saat itu, Cleya tidak mau lagi kembali ke luar negeri.
Cleya adalah salah satu dari banyak wanita yang jatuh cinta pada Michael. Wajah tampan dan sikap dingin yang selalu terpampang di majalah bisnis membuat banyak orang mengaguminya. Di usia yang tidak muda lagi Michael masih melajang dan tidak pernah terdengar gossip pria itu memiliki kekasih.
Hari-hari Michael dihabiskan untuk bekerja, ia tidak mau mengalami kerugian apalagi kehilangan harta hanya karena melakukan kegiatan yang tidak menghasilkan uang. Pria itu bahkan sangat jarang pergi liburan, meskipun memiliki banyak uang tidak membuat dirinya menjalani kehidupan yang berfoya-foya dan tidak berguna. Michael lebih suka memanfaatkan liburannya dengan tetap bekerja dan mengembangkan usahanya di seluruh Indonesia hingga manca Negara. Kehidupan pencintaan pun dia lupakan sehingga hampir tidak pernah memandang wanita mana pun di dekatnya.
Keluarga Rudi Hartono menyelesaikan makan malam bersama. Mereka melakukan pembayaran dan bersiap meninggalkan restaurant. Cleya bisa melihat Jordan dan Michael yang berjalan menuju tempat parkir. Wanita itu tersenyum. Dia bisa memilih salah satu dari pria tampan dan kaya, walaupun pesona sang kakak jauh lebih tinggi dari adiknya.
“Pertama aku inginkan Michael. Jika gagal, Jordan pun boleh.” Cleya memperhatikan mobil yang telah menyala.
“Apa yang membuat kamu tersenyum?” tanya Nyonya Meylan.
“Melihat dua pangeran tampan dengan kuda besi mewah.” Cleya menujukkan ke arah mobil Jordan dan Michael.
“Ohh.” Nyonya Meylan tersenyum.
“Mama heran. Mereka memiliki ketampanan dan aura yang berbeda.” Mama Cleya memperhatikan dua pria tampan dan tinggi yang telah memasuki mobil.
“Hm.” Cleya menghardik pundaknya.
“Ayo kita pulang.” Tuan Rudi berjalan menuju tempat parkir diikuti anak dan istrinya. Mobil Michael dan Jordan telah menjauh meninggalkan restaurant.