Bab 2

Part 2

Sarah dan Elena dilarikan bersama-sama ke rumah sakit, hanya berbeda ruangan saja. Siang-malam mereka selalu dijaga keluarga masing-masing, hingga kesadaran itu datang.

''Di mana aku?'' ucap Elena saat pertama kali membuka kelopak matanya.

''Sarah ... kau sudah sadar sayang?'' tanya Sayyida setengah berlari menghampiri putrinya.

''Sarah? siapa dia?'' dan kamu siapa?'' tanya Elena dengan tangan memegang rambut, dia lupa dengan seseibu yang berada di luar gerbang saat acara ulang tahunnya. Elusan Elena mendadak berhenti, saat dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan rambutnya. Rambut yang biasanya halus, lembut dan wangi, tapi kenapa ini begitu kaku?

''Kamu kenapa, Nak? apa gara-gara petir itu? tunggu disini, ibu panggilkan dokter!'' Sayyida berjalan tergopoh-gopoh keluar ruangan. Hendak menemui dokter.

Degup jantung Elena terpacu sangat kuat, dia ingat wanita yang mengaku jika dirinya adalah ibu Elena atau entahlah itu. Elena tiba-tiba merasakan firasat buruk, dengan lemah dia berdiri, mencari apa saja yang bisa dijadikan berkaca.

''Ini bukan tubuhku, ini bukan tanganku, tanganku tak sekasar ini! apa yang terjadi sebenarnya padaku? '' ceracau Elena bingung.

Dia segera berlari keluar, dan sekarang matanya tertuju pada cermin di sudut tembok itu. Dia melangkah gontai ke arah cermin. Sesampainya di sana Elena terperanjat keget sampai tak sadar tubuhnya beringsut ke belakang.

''I-ini wajah siapa? ini bukan wajahku!'' ujarnya tergagap dengan membingkai kedua pipinya. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya.

Elena ingat, itu wajah gadis dekil di depan gerbang rumahnya.

''Oh ...God!'' seloroh Elena.

''Tubuh siapa ini?''

''Di mana tubuhku?''

''Kenapa aku bisa ditubuh ini?''

"Tuhan ... kenapa aku bisa di tubuh ini!"ujar Elena lagi. Kali ini dia bertanya pada Tuhan.

Dia segera berlari, masuk ke kamar dengan langkah lesu dan bingung dengan langkah apa yang ia harus lakukan. 

''Kenapa aku bisa di tubuh ini?'' entah sudah sepersekian kali Elena bertanya. Dia pun bingung, harus cari jawab dan solusi kepada siapa

Warna langit yang mulai menggelap, diiringi dengan suara sahut-sahutan klakson kendaraan menambah kemelut hati Elena. Kota ini begitu ramai, bahkan malam hari pun masih ada kemacetan, mungkin juga karena ada perbaikan jalan, pembangunan, atau yang malah lebih parah adalah kecelakaan. Pikir Elena begitu.

''Kalau jiwaku di tubuh ini, lalu? siapa yang ada di tubuhku?'' tanya hati Elena, berpikir kuat. Dia segera berbalik, ingin segera mencari tahu. Terpaksa langkahnya harus terhenti...wanita yang mengaku sebagai Ibunya sudah berada di depan matanya.

''Sarah, ayo duduk Nak!biar pak dokter periksa'' suruh Sayyida, entah sejak kapan ia sudah di kamar milik jiwa Elena.

''Sepertinya ini normal semua, Bu, mungkin Nona Sarah jiwanya hanya terguncang,'' jelas dokter sambil merapikan stetoskopnya usai periksan Elena bertubuh Sarah.

Terguncang? dia salah kalau bilang aku hanya teguncang, bahkan lebih parah dari itu. Elena seperti orang gila. Mau berteriak, kalau dia bukan si pemilik tubuh ini, tapi rasa-rasanya sangat mustahil bagi orang laon mempercayainya.

Elena memutuskan pasrah sekarang, sampai dia  bisa bertemu dengan tubuhnya, Dia harus tahu tentang semua yang terjadi.

Perbincangan antara Sayyida dan dokter sepuh itu sudah usai. Elena memejamkan mata, dia menangis sejadi-jadinya  detik itu dalam hati.

''Kau sudah makan Anakku?'' Sayyida bertanya pada Elena sekali lagi yang bertubuhkan Sarah.

Elena membuka kelopak mata dan menggeleng lemah, memang pada kenyataannya, dia sangat lapar. Perut yang sedari tadi pagi sama sekali belum kemasukan makanan, ditambah serangan petir yang menghancurkan jiwa dan angannya, membuat perutnya terasa melilit sampai terdengar suara cukup keras dari dalam perut.

Sayyida meringis mendengar protes perut gadis yang ia yakini putrinya. Dia berjalan medekat ke nakas, mengambil jatah makan rumah sakit. Secara perlahan, ia menempatkan pantatnya ke atas kursi yang telah disediakan di dekat ranjang pasien.

"Buka mulutmu, Sarah!"

Elena terdiam menatap, dasar hatinya mengakui jika wanita di depannya adalah sosok yang baik dan pasti penyanyang. Hatinya terenyuh mendapat perlakuan manis seperti itu. Jarang-jarang Elena merasakan, kalau sakit pun kedua orang tuanya lebih memilij pekerjaan dibandingkan temani Elena yang lemah tak berdaya di atas kasur.

"Nanti nenek ke sini Ele, sementara waktu kamu ditemani ART dulu. Jangan lupa makan dan minum obat!" peringat Ibu Elena kala itu saat ia dengan tega meninggaljan putrinya yang terbaring lemas hanya dengan ART saja.

"Aku anak Mama! bukan anak ART!" protes Elena lemah.

"Ele! jangan manja begitu. Mama banyak kerjaan. Nanti siang Mama juga harus berangkat ke Singapura, ada relasi yang harus Mama temui!"

Elena tak membalas ucapan Mamanya, bukan hanya karena malas melainkan juga karena suara klakson dari bawah halaman sana sudah mendominasi pendengaran Elena, pun juga Mamanya.

"Sudah, Mama berangkat dulu. Papamu udah panggil! bye sayang! cepat sembuh!"

Kenangan itu terngiang-ngiang dalam memori Elena. Bagaimana dia bisa lupa atapun melupakan. Disaat setiap kebanyakan anak sakit akan mendapat penuh perhatian dari Mamanya tapi bagi Elena tidak.

"Aku bisa makan sendiri!" lirih Elena namun masih bisa terdengar oleh Sayyida.

"Tumben, biasanya kalau sakit mintanya disuapin sama Ibu. Udah nggak usah malu. Ibu suapin, ya!"

Elena bertubuhkan Sarah tak bisa menolak. Dia tak kuasa menolak niat sayang seseorang pada dirinya. Elena makan suapan Sayyida. Menu sederhana namun penuh cinta.

"Ibu sangat sedih waktu lihat kamu pingsan di gerbang mewah itu. Ibu pikir lebih baik ibu saja yang tersambar petir dari pada kamu. Kamu tahu, kan? hanya kamu yang paling ngerti Ibu!" Sayyida berucap dengan mata berkaca-kaca.

"Kita akan selalu sama-sama ya Sarah. Jangn tinggalin ibu sendirian," imbuh Sayyida. Kali ini air mata jatuh perlahan ke wajah yang sudah terlihat keriput di mana-mana.

Elena tak salah dengan dugannya, benar itu wanita yang ikut menyaksikan ulang tahunnya di depan gerbang. Melihat air mata tulus itu, Elena tak kuasa juga ikut menangis.

"Mengapa kamu ikut menangis sayang? jangan nangis, ya!" sanggah Sayyida sambil berdiri, lalu memeluk Elena bertubuhkan sarah itu.

Kali ini, tangis Elena makin pecah. Dia sangat berterimakasih pada Tuhan untuk hari ini. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu akhirnya dia bisa merasakan pelukan seorang Ibu. Walau pada kenyataannya Elena tahu kalau Sayyida bukan ibunya.

Elena tetap bahagia.

"Ibu! bolehkah aku ke luar sebentar?"

Kening Sayyida berkernyit, dia menjauhkan diri dari tubuh Sarah.

"Ngapain?"

"Emm ... mau ke musolla. Solat, tadi kan Ele ... eh, maksudnya Sarah belum solat!" ucap Elena tak sepenuhnya berbohing.

"Baiklah ... Ibu tunggu disini saja. Tapi habiskan makanmu dulu!"

*********

Bab 3

Elena berjalan menuju tempat resepsionis. Sesekali dia memandang ke belakang karena khawatir apabila Sayyida mendapatinya beralwanan arah dengan Musolla. 

"Bu, ada pasien yang bernama Elena tidak? di rumah sakit ini? dia korban tersambar petir!"

"Tunggu sebentar!"jawab lawan bicara Elena sambil mengecek satu persatu daftar pasien di komputernya.

"Tadi ada. Tapi sekarang sudah di rujuk di rumah sakit lain atas permintaan keluarga!"

Mata Elena membulat sempurna, separah itu kah tubuhnya hingga dia harus di rujuk ke rumah sakit lain.

"Parahkah Bu?"

"Kurang tau pasti, tapi sedari tadi dia teriak-teriak nggak jelas, Maaf kata pasien , dia minta tubuhnya! mungkin efek kesamber petir, otaknya sedikit tak fokus!" ucap petugas resepsionis tak bisa mengerem pembicaraan.

Degup jantung Elena serasa terhenti. Dia yakin sekali, kalau yang di tubuhnya adalah pemilik tubuh yang Elena diami detik ini.

"Jiwaku tertukar,"

********

Semerbak bau-bauan tak sedap menusuk-nusuk hidung Elena. Terbiasa dengan bau-bau parfum yang menggetarkan jiwa, alih-alih sekarang dia harus terbiasa dengan bau yang tak ia suka, apalagi kalau bukan makhluk mati bernama jengkol.

"Ibu ... masak apa? kenapa bau sekali!" seloroh Elena lembut sambil satu tangannya mengibas-ibas ke udara, sedangkan satunya guna menutup hidung.

"Kamu ini Rah! semenjak kesamber gledek, kamu jadi agak berubah. Biasanya jengkol ini kesukaan kamu. Katamu bau jengkol itu parfum," ujar Sayyida dengan tangan tetap bekerja cepat mengaduk-aduk masakan sesekali dia mendekatkan uap masakan ke hidung guna membauinya, seolah dia chef bertaraf internasional.

Elena bergidik ngeri membayangkan rasa jengkol itu. Mencium baunya saja serasa ingin muntah. Apalagi makan? 

Sudah dua hari ini Elena berada di rumah Sarah, dia ingin sekali kabur, namun Sayyida berukang kali melarang kardna masih belum takin kesehatan putrinya telah pulij seratus persen.

"Nanti Sarah ikut jualan ya?" tawar Elena berakting menamai dirinya sebagai Sarah.

"Nggak perlu. Kamu tunggu di rumah aja. Barangkali nanti si Danang kesini, kemarin dia telpon ibu, denger keaadan kamu habis kesamber petir. Katanya hari ini mau jenguk? kasihan jauh-jauh dari kost nya malah kamu cuekin,"

Danang adalah lelaki baik hati, tampan, dan rupawan. Poin pentingnya dia adalah tunangan Sarah, dan Danang pun sangat mencintai Sarah. Elena belum mengetahui ini

"Danang? siapa lagi tuh?" tanya hati Elena bingung. Namun dia tak berani bertanya kembali.

Sayyida sudah bersiap, kali ini dia hanya memasak semur jengkol di rumah buat Danang dan putrinya.

Sehari-hari dia menjual nasi bungkus di area dekat pasar, memasak dan membungkus di sana juga, sudah menjadi kebiasaan Sayyida sedari dulu.

Menurutnya, kalau memasak di sana. Kadang orang-orang akan merasa tergoda apabila mencium bau masakan Sayyida.

"Ibu pergi dulu. Jaga rumah, dan oh ya, nanti kalau ada si Danang, suruh makan aja sama semur jengkol itu. Kamu sama Danang memang pasangan serasi. Sama-sama suka jengkol, pacar kompak" Saayyida mengakhiri ucapannya dengan terkekeh geli. 

Namun tidak untuk Elena. Wajahnya yang cantik, mendadak pucat pasi usai perkataan Sayyida yang sudah beejalan ke luar rumah.

"Pasangan? Danang pacar aku?"

Tanya hati Elena frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya asal, berharap pikirannya sedikit mencair.

********

Elena sudah bersiap, hari ini dia akan ke rumahnya. Elena yakin tubuhnya ada dirumah itu bersama jiwa Sarah.

Elena membuka pintu, betapa terkejutnya dia mendapati tubuhnya sudah berada di ambang pintu.

"Sarah!" ucap Elena.

"Elena!" sahut Sarah jua. Mereka menatap secara bersamaan tanpa berkedip. Terlalu syok dengan kejadian-kejadian yang baru kemarin terjadi.

"Kembalikan tubuhku!" seru Elena meninggi.

"Harusnya aku yang bilang. Kembalikan tubuhku! dasar pencuri!" tajam Sarah tak kalah meninggi dengan Elena.

Tanpa mereka sadari dua pemuda dari arah berlawanan, menatap mereka heran. Apa yang mereka maksudkan. Dua lelaki itu mendekat. Kini posisi mereka sejajar menatap pasangan masing-masing.

"Elena!" panggil Riko

" Sarah!" panggil Danang.

Secara bersamaan Elena dan Sarah menatap kedua lelaki itu kemudian Elena dan Sarah saling memandang bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Mereka sangat sadar posisi jiwa mereka yang tertukar.

Elena tak yakin lelaki di samping Riko adalah Danang, begitupun Sarah. Walau dia kemarin sesaat melihat Riko di rumah sakit, tapi Sarah tak hapal betul dengan wajah Riko. Sarah tak fokus kemarin, saking syoknya dia.

Elena bertubuhkan Sarah segera sadar lalu secara cepat menyenggol lengan Sarah yang berada di tubuhnya agar segera tersadar.

Elena berbisik pada Sarah.

"Itu Riko, calon tunanganku!" bisik Elena tepat di kuping Sarah.

"Dia Danang, juga calon tunanganku!" Sarah menimpali sangat lirih, hampir tak menimbulkan suara. Beruntung Elena masih mendengarnya.

"Cepet sana samperin Riko!" titah Elena memelotot tak santai.

Dengan berat hati Sarah menghampiri Riko, mengabaikan lelaki yang sebenarnya sangat ia cinta. Siapa lagi kalau bukan Danang seorang.

Elena sadar akan posisinya juga segera mendekat ke Danang. Rasa serba salah hinggap di hatinya, namun segera ia mantapkan hati mendekat ke Danang.

"Sarah! gimana keadaanmu? aku sangat khawatir!" seloroh Danang sambil memegang tangan Sarah Berjiwa Elena.

Elena yang tak siap, hanya bisa tersenyum kikuk serba salah. Apalagi melihat tatapan tak suka dari Sarah. Namun Elena bisa apa sekarang?

"Kamu sedang apa kesini Len? untung tadi aku mengikutimu dari belakang! dan ..." ucapan Riko terhenti dan menatapn Elena bertubuh Sarah dan Danang dengan tatapan merendahkan.

"Ngapain kamu disini? Kaum kumuh dan permukiman kumuh! kamu bisa semakin sakit. Ayo cepetan pulang!" Imbuh Riko sambil menggandeng tangan Sarah bertubuh Elena dengan lembut.

Jiwa Sarah yang tak suka dengan ucapan Riko segera menepis kasar genggaman itu.

Elena melotot tak santai melihat respon Sarah terhadap Riko. Dia tak suka jika orang yang ia cintai mendapat perlakuan kasar dari wanita lain. Termasuk tubuhnya sendiri.

"Apa-apaan sih cewek itu?" geram Elena dalam hati.

Betapapun sombongnya Riko, pada kenyataannya Elena sangat mencintai lelaki itu. Bagi Elena wajar saja Riko bersikap sedikit sombong, karena sedari kecil dia sudah berada di lingkungan sehat dan mewah.

Tatapan Sarah bertemu dengan tatapan tajam Elena. Sarah segera sadar akan kesalahannya, segera memutuskan untuk pergi. Dari belakang Riko membuntuti Jiwa Sarah yang berada di tubun Elena.

Sebetulnya mengikuti tubuh Elena sampai kesini merupakan kegiatan yang membosankan bagi Riko. Kalau bukan karena omelan sang Mama yang menyuruh Riko selalu di samping Elena, mungkin lebih baik hari ini Riko memilih menghabiskan waktunya dengan mengencani gadis-gadis cantik, atau kalau tidak mencari mangsa baru.

"Dia siapa Rah?" tanya Danang yang sama sekali tak mendapat respon jiwa Elena. Elena lebih terfokus memandang punggung Riko dari belakang. Ada perasaan yang teramat sedih karena hanya bisa menatap Riko dari Belakang.

Sekuat tenaga jiwa Elena menahan diri untuk berlari memeluk punggung Riko lalu menumpahkan seluruh air matanya. Namun, dia segera sadar jika itu hanya akan sia-sia belakan. Mana ada orang yang akan percaya dengan keadaam jiwanya yang tertukar.

"Ini semua salahku ... andai ..."gumam Elena sambil tangannya menyeka air mata yang luruh berguguran melewati pipi mulus jiwa Elena.

"Rah, kamu kenapa?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED