Hotel Mandapa, sebuah hotel bintang lima di Kota Daka.
Tempat di mana Lala Setiawan merayakan ulang tahunnya yang ke-22 dengan sebuah pesta yang hampir berakhir. Tampak pipinya yang memerah sehingga terlihat seakan baru saja dipoles dengan pewarna. Ia mulai berjalan terhuyung-huyung.
Ketika lift sampai di lantai delapan, Sarah Ferdina mengeratkan genggamannya pada tangan Lala, tanda bahwa ia sudah bertekad untuk tidak membiarkannya tidur dengan Mike Gabian.
Setelah yakin dengan keputusannya, ia menarik Lala menuju kamar di ujung koridor. Pelayan kamar baru saja selesai melakukan tugasnya di kamar itu dan hendak pergi ketika Sarah dan Lala tiba di sana.
"Tolong biarkan pintunya terbuka. Kamar ini ditempati oleh temanku, dan aku ingin bertemu dengannya." Tanpa curiga sedikit pun pelayan kamar itu membiarkan pintu kamar terbuka dan pergi dengan mendorong trolinya.
Di dalam kamar, Sarah melihat seorang pria dari belakang, pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan sedang mengenakan jubah mandi.
'Pria ini bisa!' pikir Sarah. Ia mendorong Lala dengan kasar ke dalam kamar tanpa ragu-ragu, dan dengan cepat menutup pintu.
Sarah mendongak untuk mencari keberadaan kamera pengawas. Untungnya, kamar itu terletak di titik buta dan ia tidak menemukan apa yang dicarinya.
Sambil merapikan rambut panjangnya yang bergelombang, ia pun pergi menuju kamar lain seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam kamar ujung koridor lantai delapan, Lala disergap kebingungan, entah bagaimana ia bisa sampai di kamar ini. Sebuah kamar dengan cahaya remang di mana saat ini seorang pria berbalik dan menatapnya dengan tajam.
Ia menggigil, merasakan betapa dinginnya tatapan pria di hadapannya.
Rasa tidak nyaman menyerang dan membuatnya tidak dapat berpikir tentang semua kejadian ini. Dengan terhuyung-huyung ia mencoba untuk berdiri dan menghampiri pria itu. Ia membutuhkan sesuatu. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkannya.
"ENYAH!" teriak Heri Nasution, nama pria yang sedang bersama Lala saat ini. Kini ia dapat melihat wajah Lala dengan jelas setelah wanita itu berusaha menghampirinya.
Untuk pesta ulang tahunnya, penata rias profesional telah menata rambut hitam panjang Lala menjadi kepang yang indah, semakin menonjolkan kecantikan dan keanggunannya. Mengenakan gaun terusan berwarna putih, bentuk tubuh Lala yang menawan dan seksi pun semakin terlihat jelas.
Bagian bawah gaunnya berbentuk busur, dihiasi berlian kecil yang bersinar, menampakkan kaki putihnya yang jenjang di sisi kanan.
Sandal berhias berlian dengan hak setinggi 3 inci semakin menampilkan karakter Lala yang menyenangkan, jujur, dan tulus.
Dengan tidak sopan Lala melepas salah satu sandal yang dikenakannya itu hingga terlihat seakan dia menendangnya. Pada cermin yang ada di dekatnya, ia melihat rona merah yang tidak wajar di wajahnya.
"Aku merasa tidak enak badan. Bolehkah aku minta segelas air dingin?" Lala mencoba melepaskan sandal yang tersisa di kakinya dengan cara yang sama.
Sandal itu akhirnya terlepas dan terlempar sejauh tiga meter setelah Lala memeluk leher pria itu dengan tangan kanannya.
Hanya dari samar aroma parfum yang dikenakannya, orang bisa tahu bahwa Lala bukanlah perempuan biasa, wangi bunga lili air dengan kombinasi bunga bakung lembah yang dikeluarkan oleh Indulgence, salah satu merek ternama di dunia.
Dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita ini, satu kata yang bisa mewakili apa yang ditampilkannya, keanggunan. Seorang wanita muda yang kaya salah masuk kamar? Apa mungkin?
Heri melepaskan pelukan Lala di lehernya dan kemudian tanpa ragu berjalan menuju pintu.
Karena gagal menopang tubuhnya, Lala jatuh berlutut dengan satu tangannya masih dipegang oleh Heri.
"Apa yang terjadi di sini?" Heri menjadi tidak sabar, ia melepaskan genggamannya pada tangan Lala dan hendak menelepon meja resepsionis.
Tepat ketika ia mengangkat gagang telepon, tanpa ia sadari Lala telah berdiri dan memeluknya di pinggang dari belakang.
"Aku merasa panas. Tolong selamatkan aku." Caranya yang memohon dengan lembut memiliki pesona khusus di malam yang gelap ini.
"Jadi siapa yang memberitahumu tentang kedatanganku di Kota Daka hari ini, dan siapa yang mengirimmu..." Heri meletakkan kembali gagang telepon dan kemudian menatapnya dengan dingin dan tajam.
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Lala mendorongnya dengan keras ke sofa dan menerkamnya.
"Hei! Aku... sedang tidak enak badan sekarang. Aku memerintahkan... kamu untuk menyelamatkanku!"
Memerintahnya?
Heri berusaha mendapatkan kembali ketenangannya, ia mencibir dan mendorong tubuh Lala menjauh tanpa ragu.
Memang harus diakuinya wanita ini sangat menawan. Namun siapa pun yang mengirim wanita ini pasti meremehkan kemampuannya untuk mengendalikan diri.
"Untuk terakhir kalinya, ENYAH!"
Lala terhuyung mundur beberapa langkah sebelum akhirnya terdiam. Ia hampir tidak bisa mendengar perkataan Heri. Satu-satunya yang ia rasakan adalah dirinya semakin menderita melihat bibir tipis Heri yang menawan bergerak membuka dan menutup saat pria itu berbicara.
Lala membuka ritsleting tak terlihat di bagian belakang gaunnya, sehingga penutup tubuhnya itu jatuh ke bawah tanpa suara.
Dihadapkan dengan tubuh telanjang Lala, Heri kehilangan kendali. Sepertinya ia memiliki saingan kuat, yang telah dengan berani mengirim wanita luar biasa cantik ini padanya.
Meskipun dalam kondisi yang tidak sadar, namun Lala tahu bahwa pria itu akan mengusirnya kembali. Ia menerkam pria itu lagi.
Heri tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
"Aduh! Sakit. Sialan!"
Heri terkejut dengan reaksi normal Lala selama beberapa detik berikutnya. Pria itu melambat dan mengubah posisi beberapa kali.
Pada akhirnya, Heri tidak memberinya belas kasihan.
Keduanya baru tertidur lelap ketika waktu telah menjelang fajar.
Matahari telah bersinar dengan terang.
AC yang disetel pada suhu yang terlalu rendah membangunkan Lala dari tidurnya. Ia membuka matanya, bermaksud menarik selimut agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak.
Namun ternyata selimut yang dicarinya tergeletak di lantai.
Tunggu! Ada yang salah. Kenapa seluruh tubuhnya terasa sakit? Kenapa ia tidur di hotel?
Lala langsung duduk dan tidak menemukan ada orang lain di kamar mewah ini, namun ia memerhatikan bahwa di lantai adalah pakaiannya dan pakaian orang lain dan... jubah mandi?
Ia menatap tubuhnya sendiri dengan kaget. Sebagai seorang wanita yang sudah dewasa, ia tahu betul apa yang telah terjadi padanya.
Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi?
Bukankah tadi malam Sarah mengantarkannya ke atas untuk beristirahat? Apa yang sebenarnya terjadi setelahnya? Siapa pria itu?
Sialan! Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi.
Duduk di tempat tidur dengan penuh kebingungan, hampir saja Lala menangis.
Lala turun dari tempat tidur, dengan kaki yang terasa lemah berusaha pergi ke jendela dan menyingkap tirainya.
Cahaya matahari yang menyilaukan mata menunjukkan bahwa saat ini sudah lebih dari tengah hari. Ia menduga ini sudah sore.
Lala masih belum paham kenapa hal yang begitu buruk bisa sampai terjadi padanya. Apa yang salah?
Melihat pemandangan yang ada di jendela, ia tahu bahwa dirinya masih berada di Hotel Mandapa. Pemandangan di luar cukup indah. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dan mengayunkan tirai jendela, membawa aroma bunga. Tirai jendela berwarna merah muda itu berkibar tertiup angin yang berhembus. Sungguh suasana dan pemandangan yang menyenangkan. Namun saat ini dia sedang tidak ingin menikmati semuanya itu.
Ia sama sekali tidak mengerti Ia menggosok alisnya, sambil menghela napas seakan ingin membuang pikiran yang saat ini membebaninya. Dalam masalah ini, tidak ada kata-kata yang berguna.
Di meja samping tempat tidur, Lala melihat ada dua kotak kemasan yang sangat indah. Ia membuka kotak itu dan di dalamnya tampak sepotong gaun sifon putih.
Lala berencana untuk mandi dan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Dengan susah payah ia berjalan ke kamar mandi, dan menemukan beberapa perlengkapan mandi pria yang mahal. 'Ini pasti milik pria itu' tebaknya.
Lala menggelengkan kepala, dan kemudian menyalakan keran bak mandi. Setelah bak mandi penuh dengan air hangat, Lala pun berendam dan tenggelam dalam pikirannya.
"Siapa pria tadi malam?"
Ia bergumam dan berusaha mengingat kejadian di malam liar yang baru saja dilaluinya.
Lala telah berusaha sangat keras untuk menghilangkan tanda-tanda hubungan seks yang tersisa di tubuhnya, namun tanda-tanda itu masih saja ada. Matanya menjadi merah karena amarah. Keperawanan yang paling berharga baginya, yang bahkan ia sembunyikan dari Mikael, telah hilang tanpa ia mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi! Dan yang lebih buruk lagi, bisa jadi pria itu tidak menggunakan perlindungan apa pun ketika bercinta dengannya.
"Lala, kamu bukan anak berusia dua tahun lagi. Umurmu sekarang sudah 22 tahun. Lihat apa yang telah kamu lakukan! Sungguh kacau."
Bagaimana cara menjelaskan kepada Mikael nantinya? Bagaimana cara memberi tahu ayahnya bahwa ia menghabiskan sepanjang malam di luar? Ia tidak dapat menghubungi siapa pun, karena tas tangannya entah di mana, mungkin pelayan telah mengambilnya. Sungguh gadis yang malang! Saat ini yang ia inginkan hanyalah menyelesaikan mandinya dengan cepat dan pergi dari sini sesegera mungkin.
Lala merasa jauh lebih baik setelah mandi, dengan tubuhnya yang terbalut handuk, ia keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya dengan cepat, ia kemudian pergi meninggalkan hotel mengenakan gaun yang telah dipersiapkan oleh pria itu.
Pria itu kembali beberapa menit setelah Lala pergi, dan ia hanya menemukan kamar kosong yang sedang menantinya.
Kotak yang terbuka di atas meja samping tempat tidur menunjukkan bahwa wanita itu telah pergi. Ia melihat sekeliling dan menemukan secarik kertas di meja samping tempat tidur, bertuliskan, "Halo, Tuan Pendamping. Apa yang terjadi tadi malam adalah sebuah kesalahan. Aku harap kamu dapat mematuhi etika profesimu, dan berpura-pura tidak saling mengenal jika suatu saat kita bertemu lagi. Bahkan sebenarnya, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi! Satu hal lagi, aku berutang 3, 5 juta rupiah padamu untuk layanan tadi malam. Ingatkan aku lain kali! Sampai jumpa!"
Pendamping? 3, 5 juta rupiah? Gigolo? Ini adalah pertama kalinya Heri menjadi sangat marah dan merasa kewalahan dengan informasi yang diterimanya. Sambil meremas kertas yang dipegangnya, ia menatap sofa. Noda darah di sofa berwarna putih menunjukkan bahwa ini adalah pertama kalinya bagi wanita itu.
Namun, ia pergi dengan begitu cepat. Apakah ia mempunyai rencana yang lain di masa depan?
Terik cahaya matahari membuat Lala merasa tidak nyaman. Ia memanggil sebuah taksi di jalan, dan menghubungi Zulfikar Aziz di mobil dengan menggunakan ponsel yang dipinjamnya dari sang sopir taksi.
Zulfikar adalah sahabatnya, seorang juara balap mobil internasional berusia 24 tahun. Mereka saling mengenal satu sama lain juga lantaran memiliki kesamaan dalam hal yang disukai, yaitu balap mobil.
Dia berniat untuk kembali pada Mikael. Namun kini ketika keperawanannya telah hilang, ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapinya.
"Halo." Zulfikar menjawab telepon, terdengar kaku tidak seperti biasanya.
"Ini aku! Kakak perempuanmu! Ada apa denganmu?" Meski dirinya lebih muda, Lala meminta Zulfikar untuk memanggilnya dengan sebutan kakak perempuan. Zulfikar sedikit bingung ketika mendengar suara di telepon, ia memeriksa nomor yang menghubunginya dan bertanya, "Lala?"
"Ya, ini aku Lala! Aku dalam kondisi darurat. Aku kehilangan tas tanganku. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju tempatmu. Tolong kamu bayar ongkosnya nanti."
"Ongkos? Sekarang kamu di mana?" Sepertinya Lala belum tahu apa yang telah terjadi hari ini.
"Kamu terdengar aneh hari ini. Aku akan sampai di tempatmu dalam sepuluh menit. Tunggu aku di tepi jalan. Kita akan membicarakannya nanti."
Setelah selesai, Lala mengembalikan ponsel yang dipinjamnya serta tak lupa menyampaikan terima kasihnya kepada sang sopir taksi, kemudian ia memberi tahu alamat tujuannya dan bersandar di kursi untuk beristirahat.
Sang sopir menyalakan radio. "... presiden telah diberhentikan. Semua saham kepemilikannya telah dialihkan kepada orang lain sejak dua bulan yang lalu. Hal ini dapat diartikan bahwa kariernya yang gemilang telah berakhir. Saat ini wartawan sedang dalam perjalanan. Ikuti terus. Terima kasih."
Saat ini Lala masih sibuk memikirkan apa yang telah terjadi tadi malam. Karenanya ia sama sekali tidak mendengar apa yang sedang disiarkan di radio.
Setelah beberapa menit taksi pun menepi. Mengetahui bahwa Lala telah sampai, Zulfikar dengan rambut pendeknya yang berwarna merah segera menutup telepon dari pacarnya dan turun untuk menemui Lala. Ia membayar ongkos taksi yang ditumpangi Lala kemudian dengan teliti mengamati ekspresi temannya itu, ia tidak menemukan hal yang ganjil selain wajah Lala yang tampak kelelahan.
Jelas sekali, Lala belum tahu tentang berita itu. "Apa kamu tidak pulang tadi malam?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Reaksi Lala yang berlebihan atas pertanyaan sepele itu membuat Zulfikar khawatir bahwa Lala mungkin telah mengetahui sesuatu.
"Kamu tidak pulang, kan?" Zulfikar memegang tangan Lala dan menariknya untuk bergegas ke arah lift dengan tergesa-gesa. Lala pun mengikutinya dengan kebingungan, karena menurutnya Zulfikar bertingkah sangat aneh hari ini.
"Ada satu hal yang perlu kuberitahukan padamu.. Te... Tetap tenang, oke?" Cepat atau lambat ia akan tahu tentang berita itu. Saat ini yang terpenting adalah untuk membuatnya tetap tenang.
"Lala, aku akan menunjukkan sebuah video kepadamu. Aku minta kamu tetap tenang, oke?" Zulfikar kembali mengulangi permintaannya itu dengan lebih serius ketika mereka sudah memasuki apartemen.
"Zulfikar, video apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku, kenapa kamu jadi begitu serius? Zulfikar biasanya bersikap santai. Sangat jarang ia bersikap serius seperti sekarang ini.
Apakah pria itu memposting video kejadian tadi malam secara online? Apa-apaan! Betapa menyedihkan!
"Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi tadi malam. Bagaimana bisa..." Lala menatap Zulfikar dengan wajah sedih. Hilangnya keperawanannya mungkin kini sedang menjadi topik hangat di seluruh penjuru kota. Ini sangat memalukan! Berbagai imajinasi dan bayangan buruk membanjiri benak Lala.
Zulfikar menggandengnya ke arah komputer dan kemudian memutarkan video yang telah ditontonnya berulang kali. Video itu menampakkan kerumunan wartawan dengan mikrofon di tangan mereka.
Berdasarkan latar belakang yang ditampilkan, video itu tidak diambil di hotel, hal ini membuyarkan imajinasinya dan membuatnya merasa sedikit lega. Oke, rupanya... Ini adalah alarm palsu. Tidak. Tunggu! Video itu menampilkan perusahaan ayahnya. Apa para wartawan mengganggu ayahnya dengan kejadian tadi malam?
"Halo, para pemirsa. Saya Adila Lutfi dari kantor berita Kota Daka. Saya mendapatkan informasi bahwa Chairil Setiawan, sang presiden dari Grup Setiawan telah melakukan penyuapan, penggelapan dana publik, penjualan saham, dan pencucian uang. Sekarang mari ikuti saya untuk memeriksa kebenarannya."
Ayah? Penyuapan? Penggelapan dana publik? Penjualan saham? Pencucian uang? "Tidak masuk akal. Itu jelas tidak mungkin." "Ayah adalah orang yang jujur, lurus, transparan dan terus terang. Tidak mungkin ayah melakukan itu semua!" pikir Lala.
"Tenanglah. Video ini belum selesai." ucap Zulfikar berusaha menenangkannya. Akan tetapi lanjutan video itu bahkan lebih buruk.
"Pemirsa! Saat ini manajemen senior sedang mengadakan pertemuan. Kami dapat mendengar perdebatan sengit yang terjadi di ruang pertemuan dari waktu ke waktu. Jelas sekali bahwa pertemuan ini tidak berjalan dengan baik."
Kemudian video menampakkan pintu ruang pertemuan yang dibuka dari dalam dan beberapa manajemen senior yang Lala kenal, serta beberapa pemegang saham utama yang belum pernah Lala temui sebelumnya keluar dari ruangan, diikuti oleh Mikael, manajer umum Grup Setiawan, dan Yakub Gabian, wakil presiden Grup Setiawan. Lala tidak melihat Chairil di antara mereka.
"Sangat disayangkan, dengan ini kami mengumumkan pengunduran diri Tuan Setiawan. Mulai detik ini saya yang akan mengambil alih tugas-tugasnya. Saya sangat berterima kasih atas dukungan yang Anda berikan. Terima kasih!" Yakub, wakil presiden Grup Setiawan, mengumumkan kepada media dengan wajah kemerahan.
Video kemudian menampilkan tanya jawab antara media dengan perwakilan Grup Setiawan. Lala tiba-tiba merasa kosong. Ayahnya telah mencurahkan seluruh energinya untuk membangun Grup Setiawan selama beberapa dekade. Lalu tiba-tiba Grup Setiawan beralih menjadi milik Om Gabian? Om gabian merupakan sahabat baik ayah, Mikael dan Lala tumbuh besar bersama dan keduanya menjadi sepasang kekasih. Pada saat itu, Lala tidak dapat menahan diri untuk tidak curiga terhadap keduanya.
"Antar aku ke Grup Setiawan." ucap Lala dengan lembut setelah beberapa saat.
Zulfikar kemudian mematikan komputernya tanpa komentar sedikit pun, ia pergi ke garasi parkir bawah tanah dengan kunci motornya lalu mengantar Lala pergi ke Grup Setiawan.
Saat itu adalah pertengahan musim panas. Ketika mereka sampai di Grup Setiawan, Lala merasa sangat gerah karena teriknya matahari. Cuaca yang panas membuatnya sangat mudah emosi.
Setelah memasuki aula Grup Setiawan, ia merasa lebih baik karena dikelilingi oleh udara yang sejuk.
Lobi di lantai pertama gedung Grup Setiawan terlihat kosong. Lala langsung naik lift ke lantai 28, lantai di mana kantor presiden berada. Ketika pintu lift terbuka di lantai yang ditujunya, terdengar Mikael yang sedang berbicara kepada wartawan, "Saya akan bertunangan dengan Nona Sarah, putri presiden Grup Ferdina dalam waktu dekat. Saya sangat berterima kasih atas doa yang Anda berikan. Terima kasih!"
Ia akan... bertunangan dengan Nona Sarah... putri presiden Grup Ferdina dalam waktu dekat! Sarah? Sahabat dekatnya selama 11 tahun terakhir?
Mendengar hal itu seakan satu bom lagi dijatuhkan tepat pada Lala. Zulfikar yang datang bersama Lala merasa geram mendengar perkataan Mikael dan berniat memukulnya.
Lala menarik keras ujung baju Zulfikar demi meminta agar ia tetap tenang, ia gelengkan kepalanya kepada Zulfikar sebagai tanda bahwa ia ingin mendengar lebih jauh apa yang akan dikatakan Mikael.
"Tuan Gabian, sebelumnya dikabarkan bahwa Anda berpacaran dengan Lala, putri Chairil. Namun kini Anda mengumumkan akan bertunangan dengan Nona Sarah. Dapatkah Anda menjelaskannya?"
Mikael telah menjadi seorang Manajer Umum di Grup Setiawan pada usia yang masih muda, 24 tahun, yang menjadikannya berada di antara bujangan idaman bagi komunitas kelas atas. Ditambah lagi dengan penampilannya yang terpelajar, sikapnya yang halus dan lembut menjadikannya semakin populer di kalangan para wanita. Bukankah itu juga yang menjadi alasan Lala menyukainya dari awal?
"Ya, kami memang berpacaran. Tapi kami sudah lama putus." Jawab Mikael kepada wartawan, tetap konsisten dengan ekspresi wajah dan nada suara yang lembut.
Meskipun apa yang disampaikan Mikael benar adanya, namun tak bisa dipungkiri perkataan itu menusuk hati Lala dengan tajam.
Tiba-tiba Lala teringat kejadian di pesta kemarin, saat di mana ia merasa tidak enak badan setelah meminum segelas anggur merah yang diberikan Mikael kepada dirinya dan Sarah yang mengantarkannya ke lantai atas.
"Hahaha..." Suara tawa sinis yang sangat keras terdengar dari belakang ketika para wartawan sedang mengambil gambar Mikael dari dekat.
Semua orang pun menoleh mencari tahu asal suara tawa sinis itu dan menemukan seorang wanita yang terlihat tidak asing bagi mereka.
"Lala! Ia Lala! Putri kesayangan Chairil!" Seorang wartawan senior mengenali Lala. Dalam sekejap semua wartawan berkumpul di sekitar Lala.
Wajah Mikael terlihat kurang senang ketika melihat Lala. Kenapa ia ada di sini? Ke mana ia setelah meminum anggur merah yang kuberikan kemarin? Sesungguhnya Mikael tidak memiliki perasaan apa pun kepada Lala. Yang ia inginkan hanyalah tubuh Lala, dan kemarin ia hampir berhasil mendapatkannya. Namun ia tidak dapat menemukan Lala lagi setelah kembali dari menyapa Chairil, sungguh sebuah kesempatan bagus yang terbuang sia-sia. Sialan!
"Nona Setiawan, kenapa Anda tertawa?"
"Nona Setiawan, apakah Anda tahu sesuatu tentang kejadian yang dituduhkan pada Presiden Setiawan?"
"Apa yang menjadi sebab putusnya Anda dengan Manajer Umum Gabian?"
Para wartawan terus mendesaknya dengan berbagai macam pertanyaan. Lala tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya melontarkan tatapan memusuhi kepada Mikael yang terlihat tidak senang dengan kehadirannya di sini.
Mikael tidak berusaha memberikan penjelasan apa pun. Dapatkah Lala menarik kesimpulan bahwa Mikael dan Yakub telah merampok Grup Setiawan dari ayahnya, bertunangan dengan sahabat baiknya dan meninggalkannya tanpa memiliki apa-apa?
Lala tidak dapat menyalahkan siapa pun atas kejadian ini, bahkan Zulfikar telah memperingatkannya tentang Sarah dan dia mengabaikannya.
"Apa yang kalian ingin tahu? Aku akan memberitahu kalian semuanya. Kenapa kami putus? Tahukah kalian panggilan apa yang aku berikan kepada Mikael? Gabian Tiga Detik! Ya, ia hanya mampu bertahan sebentar di tempat tidur. Sebuah apel Sodom. Dan Sarah adalah seorang perusak hubungan, ia berselingkuh dengan Mikael yang masih berpacaran denganku. Sekarang mereka bersekongkol untuk menjebak ayahku demi menguasai Grup Setiawan. Sejak detik ini, mereka adalah musuhku!"
Semuanya hening beberapa detik setelah Lala selesai berbicara. Mikael hanya menatapnya dengan ekspresi wajah yang ditekuk. Sebagian dari apa yang dikatakan Lala adalah benar adanya. Dan berani sekali ia memanggilnya dengan sebutan Gabian Tiga Detik? Mereka telah bersama selama tiga tahun. Mikael merasa ia seharusnya meniduri Lala ketika ada kesempatan, untuk membuktikan apakah dirinya memang hanya dapat bertahan selama 3 detik saja di ranjang.
"Lala, aku mengerti perasaanmu saat ini. Namun, tidak ada gunanya kamu membuat keributan seperti ini.. Bukti-bukti atas tindakan yang telah Paman Setiawan lakukan telah dipaparkan. Aku dan ayahku juga kecewa atas kejadian ini. Dan tentang Sarah..." Mikael berusaha mengembalikan suasana hatinya dan melanjutkan perkataannya dengan suara dan nada yang lembut. Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, Lala pergi ke ruang presiden bersama Zulfikar, tanpa mengindahkannya sedikit pun.
Setelah kepergian Lala, para wartawan kembali memfokuskan wawancaranya kepada Mikael.
Di ruang presiden.
Zulfikar tidak ikut masuk ke ruangan itu Ia lebih memilih menunggu di luar demi memberi privasi untuk Lala dan ayahnya.
Lala mendorong pintu dengan pelan dan berjalan memasuki ruangan. Chairil terlihat duduk di belakang meja, dahinya bersandar pada telapak tangan kanannya, matanya tertutup, tenggelam dalam kecamuk yang ada di dalam benaknya.
"Ayah..."
"Lala, kamu di sini." Chairil berusaha tersenyum, membuat Lala ingin menangis melihat senyum ayahnya yang dipaksakan itu, yang membuat wajah ayahnya terlihat lebih jelek daripada saat menangis.
"Jangan sedih Ayah. Nenek dan aku akan tetap menemanimu oke?" Lala berusaha terdengar tenang dan santai, namun usahanya gagal ketika melihat beberapa uban di kepala ayahnya, ia menangis terisak.
Tiba-tiba ia tersadar, betapa ia telah menjadi anak yang tidak berbakti, ayahnya telah mencurahkan segalanya untuk memberinya kehidupan yang nyaman, namun ia tak pernah sedikit pun berusaha membalas atau meringankan beban ayahnya.
"Lala, aku tidak lagi bisa memberikan apa yang kamu inginkan di masa yang akan datang..." Chairil menatap data di layar komputer, yang seakan meluncurkan pisau tajam yang menyayat hatinya.
"Ayah, aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Aku hanya berharap Ayah, nenek dan aku bisa hidup bersama dengan damai." Lala menghampiri ayahnya, dan dengan lembut memeluk pria yang telah membesarkannya sejak lahir itu.
Melihat kedewasaan yang ditampilkan putrinya, Chairil menepuk punggung tangan Lala, ia merasa lebih tenang sekarang. Kemudian Chairil berdiri dan mengemasi barang-barang miliknya, ia pun pergi ke luar ruangan bersama Lala.
Chairil dan Lala keluar dari ruangan bersama-sama, sementara Mikael sudah tidak terlihat lagi. Para wartawan masih berkerumun menunggu mereka. Mereka pun bergegas menghampiri begitu melihat Chairil dan putrinya keluar dari ruang presiden.
"Tuan Setiawan, apakah ada yang ingin Anda sampaikan perihal semua tuduhan itu?"
"Tuan Setiawan, Tuan. Gabian mengatakan bahwa dia tidak akan mengajukan tuntutan atas kesalahan Anda, setelah pengunduran diri Anda dari jabatan presiden. Bagaimana menurut Anda?"
"Presiden Setiawan..."
Chairil tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun untuk mengomentari tuduhan palsu yang diarahkan kepadanya. Tak ingin ayahnya tersiksa lebih jauh dengan pertanyaan-pertanyaan para wartawan, Lala berkata dengan penuh harga diri, "Kenapa kalian meminta ayahku mengakui hal-hal yang tidak dia lakukan? Dia telah dijebak oleh orang-orang keji itu. Suatu saat nanti akan terbukti bahwa ayahku tidak bersalah sama sekali."
"Nona Setiawan, apakah maksud Anda Yakub adalah seseorang yang keji?" Desak seorang reporter mengejar penjelasan Lala demi bahan pemberitaan yang lebih menarik.
"Saya pikir apa yang saya katakan sudah cukup jelas. Kalian akan mengetahui kebenarannya suatu saat nanti." Meskipun hanya tahu sedikit tentang bisnis Grup Setiawan, namun Lala tidak akan segan dan diam saja ketika ada orang berkata semaunya tentang ayahnya. Yakub, Mikael dan Sarah, kita lihat saja akan seperti apa nantinya! Melihat kegigihan di wajah mungil seorang wanita, yang sedang diwawancara di televisi, seorang pria tersenyum.
"Bos, Grup Setiawan telah dialihkan. Apakah kita akan tetap mengakuisisi Grup Setiawan sebagaimana sudah direncanakan?" Sang asisten, Johan Mustafa memeriksa informasi yang baru saja diterimanya. Segala sesuatunya telah sesuai rencana, kecuali pengalihan ini.