Alana keluar dari kamar mandi, handuknya melilit tubuhnya yang indah. Malam pertama pernikahan. Tak ada cinta, tak ada romansa. Hanya ada kebencian dan keputusasaan. Ia memejamkan mata, berusaha menguatkan diri. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan ia benci akan hal itu.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya yang ramping dan tinggi, rambutnya yang basah terurai. Ia membuka lemari, mengambil bikini tipis berwarna hitam yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bikini itu terlihat menggoda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, dengan payudara yang besar dan kencang. Ia memakainya dengan tangan gemetar. Ia melakukan ini bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena ia terpaksa. Ia harus memberikan Michael pewaris. Itu adalah syarat dari keluarganya.
"Demi Ayah, demi keluarga." gumamnya, suaranya bergetar.
Ia membuka pintu kamar mandi, Michael sudah berdiri di depan pintu. Ia menatap Alana, matanya yang tajam menelusuri setiap inci tubuhnya. Alana merasa merinding. Ia benci cara Michael menatapnya. Tatapan itu seolah-olah ia adalah sebuah objek, bukan seorang manusia.
"Sudah siap?" tanya Michael, suaranya terdengar serak.
Alana hanya diam, menatapnya tajam. Ia tak sudi menjawab. Ia hanya ingin semua ini cepat berakhir.
"Keluargaku membutuhkan pewaris," ucap Michael, suaranya terdengar dingin. "Kita akan melakukannya malam ini."
Alana tak menjawab, ia hanya menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian. Ia melakukan ini karena keluarganya, ia harus. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia adalah Alana Evander, ia tidak akan pernah menyerah.
Michael mendekatinya, tangannya meraih pinggang Alana, menariknya mendekat. Alana mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Michael terlalu kuat. Ia tak berdaya. Michael menundukkan kepalanya, mencium bibir Alana. Ciuman itu terasa dingin dan tak berperasaan, seolah-olah ia sedang mencium benda mati.
Michael mendorong tubuh Alana ke kasur, menghempaskannya. Alana terkejut, namun ia tak melawan. Ia hanya memejamkan mata, menunggu apa yang akan terjadi. Michael membuka handuknya, telanjang bulat. Penisnya menggantung besar dan tegang, siap untuk memulai aksinya. Alana terkejut melihat ukuran penisnya, ia tak menyangka sebesar itu. Ia merasa takut, ia ingin berteriak, namun suaranya tak keluar.
Michael naik ke atas tubuh Alana, menindihnya. Ia merobek bikini Alana, membiarkan tubuhnya telanjang. Alana mencoba berontak, namun Michael mencium bibirnya, mengunci mulutnya. Ciuman itu turun ke lehernya, ke payudaranya. Ia memainkan puting Alana, tangannya meremas payudara Alana dengan kuat.
"A-ahhh..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia menekan kepala Michael, memintanya untuk berhenti, namun Michael tak peduli. Ia terus menjilati payudara Alana, menggigit putingnya. Alana tak bisa menahannya lagi, ia merintih kesenangan.
Michael menundukkan kepalanya, menjilati perut Alana, turun ke bawah, ke vaginanya. "Begitu basah," bisiknya, suaranya terdengar serak.
Ia memasukkan jarinya ke dalam lubang Alana, membuat lubang. "Sakit!" teriak Alana, air matanya mengalir. "Berhenti!"
Michael tak peduli, ia terus memasukkan jarinya, memutari selaput daranya. Alana merasa geli, ia tak bisa menahannya lagi. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan desahannya.
Michael mengarahkan penisnya ke dalam lubang Alana. Penisnya setengah masuk. "Sakit! Berhenti, kumohon!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia menghentakkan pinggulnya, sampai selaput dara Alana robek. Darah mengalir, Alana menjerit kesakitan. Ia masih perawan. Ia merasa sakit, ia merasa hancur. Ia ingin mati saja.
Michael terus menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana, memasukkan lidahnya. Ciuman itu terasa panas, Alana tak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah.
"A-ahhh... Sialan!" desah Michael, ia mengeluarkan cairan spermanya, menyembur ke dalam tubuh Alana.
Kaki Alana melingkar di pinggang Michael, ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Michael membalikkan tubuhnya menjadi duduk bersandar di tepi ranjang, penisnya masih menyatu di dalam vaginanya. Michael meremas pantat Alana, begitu nikmat. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam.
"Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, ciuman mereka masih menyatu.
Michael meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas ranjang. Michael memasukkan penisnya ke lubang Alana, ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
Michael menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. "Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, suaranya terdengar serak.
Michael mengubah posisi, ia terbaring di kasur, meminta Alana untuk duduk di atasnya, menghadap ke belakang. Alana menurut, ia duduk di atas tubuh Michael, memasukkan penisnya ke dalam vaginanya. Michael mengeluarkan spermanya, menyembur ke dalam.
"Ahh... Nikmat," desah Michael, ia meremas payudara Alana dari belakang.
Alana membaringkan tubuhnya di atas tubuh Michael, menghadap ke belakang. Penis Michael masih di dalam vaginanya. Michael terus meremas payudara Alana, ia menjambak rambut Alana dengan tangan kirinya. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam tubuh Alana.
"Ahh... Kau nikmat, Alana," desah Michael.
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah.
Pagi hari menyapa, cahaya matahari menembus celah gorden, menyinari kamar yang berantakan. Alana terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam. Ia membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Ia merasakan beban berat di atasnya. Michael. Pria itu masih tertidur pulas, tubuhnya menindih Alana.
Alana menatap ke bawah, matanya membelalak kaget. Ia telanjang. Dan yang lebih mengejutkan, penis Michael masih tertanam di dalam vaginanya. Alana merasakan panas dan nyeri yang luar biasa. Ia mencoba untuk bergerak, namun tubuhnya terasa kaku.
"Mmmph..." desah Michael, ia terbangun dari tidurnya.
Ia menatap Alana, matanya yang tajam seolah menembus jiwanya. Ia tersenyum sinis, senyum yang membuat Alana merinding. "Kau sudah bangun?" bisiknya.
"Lepaskan aku," ucap Alana, suaranya bergetar.
Michael menggelengkan kepalanya. "Tidak akan," bisiknya. "Kau milikku, Alana. Selamanya."
Ia bangkit dari tempat tidur, berdiri, namun penisnya masih di dalam vagina Alana. Alana terkejut, ia merasa seperti boneka yang dimainkan. Michael berjalan menuju kamar mandi, sambil terus menggerakkan pinggulnya. Alana tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah.
"Ahhh... Michael..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Michael tersenyum sinis, ia terus menggerakkan pinggulnya. "Kau suka?" bisiknya, suaranya terdengar serak.
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Alana, namun ia tak bisa membohongi tubuhnya. Tubuhnya bereaksi, ia merasa geli, ia merasa nikmat. Ia membenci dirinya sendiri.
Michael membawa Alana masuk ke kamar mandi. Ia memutar keran, mengisi bak mandi dengan air hangat. Ia melepaskan penisnya dari vagina Alana, dan memasukkannya lagi setelah ia selesai mengisi bak mandi. Ia membaringkan Alana di dalam bak mandi. Air hangat memanjakan kulitnya, namun ia tak bisa merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah nyeri dan kebencian.
Michael masuk ke dalam bak mandi, menindih Alana. Ia kembali menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana. "Ahhh... Kau nikmat sekali, Alana," desahnya.
Alana hanya bisa diam, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata, berharap semua ini segera berakhir.
Michael mengeluarkan penisnya dari vagina Alana, ia mengangkat tubuh Alana, mendudukkannya di wastafel. "Kau terlihat cantik dari sini," bisiknya.
Michael berdiri di depan Alana, ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. Ia menggerakkan pinggulnya, menyemburkan spermanya ke dalam. Alana menjerit, namun Michael membungkamnya dengan ciuman.
"Ahhh... Nikmat," desah Michael, ia terus menggerakkan pinggulnya.
Michael membalikkan tubuh Alana, meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas wastafel. Michael memasukkan penisnya ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
"Kau suka, kan?" bisik Michael, suaranya terdengar mengancam. "Kau suka, kan?"
"Tidak! Aku benci!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia terus menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. Ia mengangkat tubuh Alana, membawanya keluar dari kamar mandi, kembali ke ranjang.
Ia membaringkan Alana di atas ranjang, ia menindihnya, dan kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. "Kau milikku, Alana," bisiknya. "Kau hanya milikku."
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia tak bisa kabur, ia tak bisa lari. Ia kini terjebak dalam neraka, bersama seorang pria yang ia benci. Pria yang akan menghancurkan hidupnya.