Kini ia menatap pantulan dirinya di cermin, seorang wanita muda dengan mata penuh amarah dan kebencian. Namanya Alana Evander, pewaris tunggal keluarga Evander yang terpandang. Namun, gelar itu tak lebih dari belenggu yang kini mengikatnya. Belenggu yang disebut perjodohan. Ia harus menikah dengan seorang pria bernama Michael Jackson, seorang CEO sekaligus bos mafia yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.
"Sial!" umpatnya sambil meninju meja rias. "Kenapa harus aku yang dijodohkan dengan monster itu?!"
Ia tak sudi, tak akan pernah sudi. Alana dikenal sebagai gadis bar-bar, tak takut menghadapi apapun, bahkan jika itu harus berhadapan dengan bahaya. Tapi kali ini, ia merasa tak berdaya. Keluarganya, terutama sang Ayah, menuntutnya untuk segera menikah dengan Michael. Entah apa yang ada di pikiran mereka, namun yang jelas, keputusan ini tak bisa diganggu gugat.
Ia menatap foto calon suaminya, wajah tampan itu terlihat dingin dan tanpa ekspresi. Michael Jackson, pria yang tak pernah ia temui seumur hidupnya, kini akan menjadi suaminya. Pria yang ia benci bahkan sebelum mereka bertemu.
"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi," gumamnya dengan nada penuh tekad.
Namun, semua rencananya untuk kabur tak pernah berhasil. Setiap sudut rumahnya dijaga ketat, seolah-olah ia seorang tahanan. Para penjaga, pelayan, bahkan supirnya, semua diperintahkan untuk mengawasinya. Ia tak bisa keluar, tak bisa menghubungi siapapun. Ia terisolasi.
Hari demi hari berlalu, ia merasa seperti seekor burung yang sayapnya dipatahkan. Setiap pagi, ia akan bangun dengan kebencian baru, kebencian pada keluarganya, pada perjodohan ini, dan pada Michael Jackson.
Satu minggu kemudian, hari yang paling ia benci akhirnya tiba. Hari pernikahannya.
Alana duduk di depan meja rias, para perias sibuk memoles wajahnya. Rambutnya di sanggul rapi, gaun pengantin berwarna putih gading membalut tubuhnya. Gaun yang indah, namun terasa seperti kain kafan baginya.
"Nona, Anda terlihat sangat cantik," puji salah satu perias.
Alana hanya diam, menatap pantulan wajahnya yang kini terlihat seperti boneka. Wajah yang dipaksa tersenyum, padahal hatinya menjerit kesakitan.
"Cepat selesaikan," ucapnya dengan suara dingin. "Aku muak melihat wajah ini."
Para perias terdiam, tak berani membantah. Mereka tahu siapa Alana, gadis yang dikenal dengan temperamennya yang meledak-ledak.
Setelah riasan selesai, seorang pelayan menghampirinya. "Nona, sudah waktunya," ucapnya dengan suara lembut.
Alana bangkit, gaun pengantinnya yang panjang menyapu lantai. Ia merasa seperti robot, bergerak tanpa emosi. Ia dituntun oleh pelayan itu menuju altar. Sepanjang perjalanan, ia melihat banyak penjaga yang berdiri tegak di setiap sudut mansion. Harapan untuk kabur pun sirna.
Saat ia memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya. Ia melihat wajah-wajah yang familiar, wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil. Namun, tak ada satupun yang peduli pada penderitaannya. Mereka semua tersenyum, seolah-olah ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.
Di ujung altar, ia melihatnya. Michael Jackson. Pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang ia benci.
Ia berdiri tegak, mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya yang tampan terlihat dingin, tak ada senyum sedikit pun di bibirnya. Matanya yang tajam menatap Alana, seolah-olah ia sedang meneliti mangsanya.
"Kau terlihat cantik," bisik Michael saat Alana berdiri di sampingnya.
Alana hanya diam, tak sudi membalas. Ia tak sudi menatapnya. Ia merasa mual.
Upacara dimulai, sang pendeta mengucapkan kata-kata sakral. Namun, Alana tak mendengarkan. Pikirannya kosong, hatinya mati rasa.
Hingga akhirnya, tiba saat ijab kabul.
"Saudara Michael Jackson, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya Alana Evander binti Tuan Evander, dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
Michael menatap Alana, matanya yang dingin seolah menembus jiwanya. Alana menahan napas, berharap ia salah mengucapkan ijab kabul. Berharap semua ini hanya mimpi buruk.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alana Evander binti Tuan Evander dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara Michael terdengar mantap dan tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Semua tamu bersorak, "Sah!"
Alana merasa dunia runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya jatuh. Ia kalah, ia tak berdaya. Ia kini sah menjadi istri Michael Jackson, monster yang ia benci.
Setelah ijab kabul, Michael menuntunnya untuk menandatangani buku nikah. Ia mengambil pena, tangannya bergetar. Ia menatap nama Michael Jackson, suaminya.
Pesta pernikahan dilanjutkan, semua tamu bersenang-senang. Mereka tertawa, menari, dan menikmati hidangan yang mewah. Para wartawan berbondong-bondong mengambil foto, memotret pasangan baru ini.
Michael merangkul pinggang Alana, menariknya mendekat. Alana mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Michael terlalu kuat.
"Jangan macam-macam," bisik Michael di telinganya. "Tersenyum, Alana. Atau kau akan tahu akibatnya."
Alana terpaksa tersenyum, senyum palsu yang memuakkan. Ia melihat wajah-wajah bahagia di sekelilingnya, namun ia tak merasakan kebahagiaan sedikit pun.
Hingga akhirnya, tiba saatnya Michael mencium Alana. Michael menarik tubuh Alana mendekat, menundukkan kepalanya, dan mencium bibirnya. Ciuman itu terasa dingin dan tak berperasaan, seolah-olah ia sedang mencium benda mati.
Alana mencoba melepaskan diri, namun Michael menahan tengkuknya, memperdalam ciuman itu. Ia merasa mual, jijik, dan marah. Ia tak sudi, tak akan pernah sudi.
Ia memejamkan mata, berharap semua ini segera berakhir. Berharap ia bisa kabur dari neraka ini. Namun, ia tahu, ini hanyalah awal. Awal dari neraka yang akan ia jalani bersama Michael Jackson.
Pesta akhirnya selesai, dan para tamu pulang. Alana berdiri di tengah-tengah ruang pesta yang kini kosong, menatap ke arah pintu. Ia merasa sendirian, terasingkan. Michael menghampirinya, melepaskan jasnya, dan melemparkannya ke sofa.
"Kau terlihat lelah," ucapnya dengan nada datar. "Ayo, kita ke kamar."
Alana tak bergeming, ia menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian. "Aku tidak mau," jawabnya dengan suara dingin.
Michael berjalan mendekat, tangannya meraih dagu Alana, dan memaksa Alana untuk menatapnya. "Kau sekarang istriku, Alana," bisiknya, matanya yang tajam menatapnya lurus. "Kau harus mematuhiku. Jangan coba-coba membantahku."
"Aku takkan pernah mematuhimu, monster!" balas Alana, suaranya meninggi. "Aku akan kabur darimu, secepatnya!"
Michael tersenyum sinis. "Kau tak bisa lari dariku, Alana," bisiknya, suaranya terdengar mengancam. "Kau milikku sekarang."
Michael menarik Alana, membawanya ke kamarnya. Alana meronta, mencoba melepaskan diri, namun Michael terlalu kuat. Ia tak berdaya. Ia merasa seperti seekor domba yang dibawa ke kandang singa.
"Jangan menyentuhku!" teriak Alana, air matanya kembali mengalir.
Michael tak peduli. Ia membawa Alana masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan menghempaskannya ke tempat tidur. "Kau tak akan kemana-mana, Alana," bisiknya. "Kau milikku, selamanya."
Alana menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis, menangisi nasibnya. Ia kini terjebak dalam neraka, bersama seorang pria yang ia benci. Pria yang akan menghancurkan hidupnya.
Alana keluar dari kamar mandi, handuknya melilit tubuhnya yang indah. Malam pertama pernikahan. Tak ada cinta, tak ada romansa. Hanya ada kebencian dan keputusasaan. Ia memejamkan mata, berusaha menguatkan diri. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan ia benci akan hal itu.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya yang ramping dan tinggi, rambutnya yang basah terurai. Ia membuka lemari, mengambil bikini tipis berwarna hitam yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bikini itu terlihat menggoda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, dengan payudara yang besar dan kencang. Ia memakainya dengan tangan gemetar. Ia melakukan ini bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena ia terpaksa. Ia harus memberikan Michael pewaris. Itu adalah syarat dari keluarganya.
"Demi Ayah, demi keluarga." gumamnya, suaranya bergetar.
Ia membuka pintu kamar mandi, Michael sudah berdiri di depan pintu. Ia menatap Alana, matanya yang tajam menelusuri setiap inci tubuhnya. Alana merasa merinding. Ia benci cara Michael menatapnya. Tatapan itu seolah-olah ia adalah sebuah objek, bukan seorang manusia.
"Sudah siap?" tanya Michael, suaranya terdengar serak.
Alana hanya diam, menatapnya tajam. Ia tak sudi menjawab. Ia hanya ingin semua ini cepat berakhir.
"Keluargaku membutuhkan pewaris," ucap Michael, suaranya terdengar dingin. "Kita akan melakukannya malam ini."
Alana tak menjawab, ia hanya menatap Michael dengan tatapan penuh kebencian. Ia melakukan ini karena keluarganya, ia harus. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia adalah Alana Evander, ia tidak akan pernah menyerah.
Michael mendekatinya, tangannya meraih pinggang Alana, menariknya mendekat. Alana mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Michael terlalu kuat. Ia tak berdaya. Michael menundukkan kepalanya, mencium bibir Alana. Ciuman itu terasa dingin dan tak berperasaan, seolah-olah ia sedang mencium benda mati.
Michael mendorong tubuh Alana ke kasur, menghempaskannya. Alana terkejut, namun ia tak melawan. Ia hanya memejamkan mata, menunggu apa yang akan terjadi. Michael membuka handuknya, telanjang bulat. Penisnya menggantung besar dan tegang, siap untuk memulai aksinya. Alana terkejut melihat ukuran penisnya, ia tak menyangka sebesar itu. Ia merasa takut, ia ingin berteriak, namun suaranya tak keluar.
Michael naik ke atas tubuh Alana, menindihnya. Ia merobek bikini Alana, membiarkan tubuhnya telanjang. Alana mencoba berontak, namun Michael mencium bibirnya, mengunci mulutnya. Ciuman itu turun ke lehernya, ke payudaranya. Ia memainkan puting Alana, tangannya meremas payudara Alana dengan kuat.
"A-ahhh..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia menekan kepala Michael, memintanya untuk berhenti, namun Michael tak peduli. Ia terus menjilati payudara Alana, menggigit putingnya. Alana tak bisa menahannya lagi, ia merintih kesenangan.
Michael menundukkan kepalanya, menjilati perut Alana, turun ke bawah, ke vaginanya. "Begitu basah," bisiknya, suaranya terdengar serak.
Ia memasukkan jarinya ke dalam lubang Alana, membuat lubang. "Sakit!" teriak Alana, air matanya mengalir. "Berhenti!"
Michael tak peduli, ia terus memasukkan jarinya, memutari selaput daranya. Alana merasa geli, ia tak bisa menahannya lagi. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan desahannya.
Michael mengarahkan penisnya ke dalam lubang Alana. Penisnya setengah masuk. "Sakit! Berhenti, kumohon!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia menghentakkan pinggulnya, sampai selaput dara Alana robek. Darah mengalir, Alana menjerit kesakitan. Ia masih perawan. Ia merasa sakit, ia merasa hancur. Ia ingin mati saja.
Michael terus menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana, memasukkan lidahnya. Ciuman itu terasa panas, Alana tak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah.
"A-ahhh... Sialan!" desah Michael, ia mengeluarkan cairan spermanya, menyembur ke dalam tubuh Alana.
Kaki Alana melingkar di pinggang Michael, ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Michael membalikkan tubuhnya menjadi duduk bersandar di tepi ranjang, penisnya masih menyatu di dalam vaginanya. Michael meremas pantat Alana, begitu nikmat. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam.
"Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, ciuman mereka masih menyatu.
Michael meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas ranjang. Michael memasukkan penisnya ke lubang Alana, ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
Michael menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. "Ahh... Begitu nikmat!" desah Michael, suaranya terdengar serak.
Michael mengubah posisi, ia terbaring di kasur, meminta Alana untuk duduk di atasnya, menghadap ke belakang. Alana menurut, ia duduk di atas tubuh Michael, memasukkan penisnya ke dalam vaginanya. Michael mengeluarkan spermanya, menyembur ke dalam.
"Ahh... Nikmat," desah Michael, ia meremas payudara Alana dari belakang.
Alana membaringkan tubuhnya di atas tubuh Michael, menghadap ke belakang. Penis Michael masih di dalam vaginanya. Michael terus meremas payudara Alana, ia menjambak rambut Alana dengan tangan kirinya. Ia terus menyemburkan spermanya ke dalam tubuh Alana.
"Ahh... Kau nikmat, Alana," desah Michael.
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah.
Pagi hari menyapa, cahaya matahari menembus celah gorden, menyinari kamar yang berantakan. Alana terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam. Ia membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Ia merasakan beban berat di atasnya. Michael. Pria itu masih tertidur pulas, tubuhnya menindih Alana.
Alana menatap ke bawah, matanya membelalak kaget. Ia telanjang. Dan yang lebih mengejutkan, penis Michael masih tertanam di dalam vaginanya. Alana merasakan panas dan nyeri yang luar biasa. Ia mencoba untuk bergerak, namun tubuhnya terasa kaku.
"Mmmph..." desah Michael, ia terbangun dari tidurnya.
Ia menatap Alana, matanya yang tajam seolah menembus jiwanya. Ia tersenyum sinis, senyum yang membuat Alana merinding. "Kau sudah bangun?" bisiknya.
"Lepaskan aku," ucap Alana, suaranya bergetar.
Michael menggelengkan kepalanya. "Tidak akan," bisiknya. "Kau milikku, Alana. Selamanya."
Ia bangkit dari tempat tidur, berdiri, namun penisnya masih di dalam vagina Alana. Alana terkejut, ia merasa seperti boneka yang dimainkan. Michael berjalan menuju kamar mandi, sambil terus menggerakkan pinggulnya. Alana tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa pasrah.
"Ahhh... Michael..." desah Alana, tak bisa menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Michael tersenyum sinis, ia terus menggerakkan pinggulnya. "Kau suka?" bisiknya, suaranya terdengar serak.
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Alana, namun ia tak bisa membohongi tubuhnya. Tubuhnya bereaksi, ia merasa geli, ia merasa nikmat. Ia membenci dirinya sendiri.
Michael membawa Alana masuk ke kamar mandi. Ia memutar keran, mengisi bak mandi dengan air hangat. Ia melepaskan penisnya dari vagina Alana, dan memasukkannya lagi setelah ia selesai mengisi bak mandi. Ia membaringkan Alana di dalam bak mandi. Air hangat memanjakan kulitnya, namun ia tak bisa merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah nyeri dan kebencian.
Michael masuk ke dalam bak mandi, menindih Alana. Ia kembali menggerakkan pinggulnya, mencium bibir Alana. "Ahhh... Kau nikmat sekali, Alana," desahnya.
Alana hanya bisa diam, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata, berharap semua ini segera berakhir.
Michael mengeluarkan penisnya dari vagina Alana, ia mengangkat tubuh Alana, mendudukkannya di wastafel. "Kau terlihat cantik dari sini," bisiknya.
Michael berdiri di depan Alana, ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. Ia menggerakkan pinggulnya, menyemburkan spermanya ke dalam. Alana menjerit, namun Michael membungkamnya dengan ciuman.
"Ahhh... Nikmat," desah Michael, ia terus menggerakkan pinggulnya.
Michael membalikkan tubuh Alana, meminta Alana untuk menungging. Alana menurut, ia kini berlutut di atas wastafel. Michael memasukkan penisnya ke belakang. Alana menjerit, ia tak pernah membayangkan akan merasakan hal ini.
"Kau suka, kan?" bisik Michael, suaranya terdengar mengancam. "Kau suka, kan?"
"Tidak! Aku benci!" teriak Alana, air matanya mengalir deras.
Michael tak peduli. Ia terus menggerakkan pinggulnya, terus menyemburkan spermanya. Ia mengangkat tubuh Alana, membawanya keluar dari kamar mandi, kembali ke ranjang.
Ia membaringkan Alana di atas ranjang, ia menindihnya, dan kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina Alana. "Kau milikku, Alana," bisiknya. "Kau hanya milikku."
Alana hanya bisa menangis, ia merasa hancur, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah. Ia tak bisa kabur, ia tak bisa lari. Ia kini terjebak dalam neraka, bersama seorang pria yang ia benci. Pria yang akan menghancurkan hidupnya.