Bab 2

“DARI MANA SAJA KAMU, ANAYA?” hardik Nyonya Hetty.

Menjelang subuh, Anaya memang memutuskan pulang meninggalkan pria sewaannya tertidur sendirian di hotel. Anaya tidak menjawab, langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.

“ANAYA!! IBU BICARA PADAMU!”

Anaya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nyonya Hetty. “Aku dari rumah teman. Dia kesepian dan butuh teman,” bohong Anaya.

Rasanya tidak mungkin juga jika Anaya berkata jujur kepada ibu tirinya itu.

“Ya sudah, istirahatlah kamu pasti lelah. Kamu harus fitting baju, ibu sudah membuat janji pukul 10. Tuan Sandoro juga akan menunggumu di sana.”

Anaya tidak menjawab hanya menganggukkan kepala kemudian berjalan dengan lesu masuk ke dalam kamar. Anaya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Helaan napas panjang baru saja keluar dari bibir Anaya.

“Ya Tuhan, maafkan aku. Aku benar-benar sangat kacau dan frustasi sehingga mengambil jalan pintas ini. Maafkan aku, Ibu. Maafkan anakmu ini.”

Anaya sudah berurai air mata menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Andai saja ayahnya masih hidup, pasti tidak akan menjualnya ke pria tua hanya untuk beberapa rupiah saja. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan Anaya tidak bisa menolaknya. Kalau dia tidak menuruti permintaan Nyonya Hetty, taruhannya adalah Nyonya Hetty akan menghentikan biaya pendidikan adiknya di luar negeri. Tentu saja Anaya tidak mau itu terjadi.

Selain itu Nyonya Hetty juga mengancam akan menjual perusahaan milik ayahnya jika Anaya tidak menuruti permintaannya. Anaya mana mungkin rela mengorbankan harta peninggalan orang tuanya jatuh di tangan orang tak bertanggung jawab. Mau tidak mau sekarang dia yang harus turun tangan menyelesaikan permasalahan ini.

Anaya tiba-tiba bangkit dan duduk di kasur. “Sudah jangan disesali, yang berlalu biar saja berlalu. Yang penting Andin masih bisa sekolah dan perusahaan Papa tidak jatuh ke tangan orang. Biar aku yang harus sedikit berkorban.”

Anaya terdiam kemudian tiba-tiba teringat pria asing yang ditinggalkannya begitu saja di hotel. “Semoga saja setelah ini aku tidak bertemu dengannya. Meski dia ganteng dan mempesona, tapi tetap saja dia hanya pria panggilan. Akh ... sudahlah, lupakan saja.”

Sementara itu di hotel tempat Anaya menginap semalam, sudah ada kesibukan tersendiri di kamar yang ditempati Anaya.

“Jadi maksud kamu, ada wanita aneh yang menyewa dan menghabiskan malam denganmu, begitu?” tanya seorang pria berkacamata dengan tampang serius.

“Iya. Wanita aneh. Aku pikir dia hanya bercanda tadinya, ternyata dia serius dan mengajakku bermalam di sini.”

“Lalu ... kamu memanfaatkannya?”

“Di, kalau kamu menjadi aku bagaimana? Menolaknya atau tidak?”

Pria berkacamata yang bernama Ardi itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau jadi kamu, Vin. Aku tidak mahir untuk hal semacam itu.”

Pria tampan yang bernama Kevin Wiratama itu hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ia sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap dan sekarang berjalan menuju Ardi.

“Aku ingin kamu menyelidiki siapa wanita ini, Di. Aku ingin bertanggung jawab pada dirinya atas apa yang terjadi di malam ini.”

Ardi sontak mengernyitkan alis menatap dengan heran ke arah Kevin. “Sejak kapan kamu seperti ini? Bukankah kamu sudah biasa melakukan dengan banyak wanita. Kenapa kamu tiba-tiba ingin terikat dengannya.”

Kevin tidak menjawab hanya menggelengkan kepala kemudian tersenyum. “Lakukan saja perintahku! Aku sangat penasaran dengannya.”

**

Pukul 10 pagi saat Anaya menginjakkan kakinya ke salah satu butik di pusat kota. Hari ini Nyonya Hetty memang sudah membuat janji hendak melakukan fitting baju untuk Anaya. Dengan ragu, Anaya masuk ke butik tersebut.

“Selamat pagi, saya Anaya yang hendak melakukan fitting baju,” sapa Anaya dengan ramah.

“Akh ... iya, putri Nyonya Hetty. Mari sini, ikut saya! Saya sudah siapkan bajunya,” jawab pemilik butik.

Anaya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sambil mengekor langkah wanita cantik pemilik butik ini.

“Ini baju yang dipilih ibumu.” Anaya langsung membisu, dia terkejut saat melihat baju pengantin warna putih yang dipasang di manekin. Itu terlihat aneh dan sedikit old fashion. Apa mungkin Nyonya Hetty sengaja memilih yang murah untuk memperkecil biaya pernikahan Anaya. Padahal jelas-jelas Tuan Sandoro mengucurkan banyak uang untuk pernikahan keduanya ini. Anaya yakin ibu tirinya itu sudah menyunat lebih dulu uang pemberian Tuan Sandoro untuk keperluan Nyonya Hetty dan putranya.

“Eng ... Tante, apa tidak ada yang lain?”

Wanita pemilik butik itu tersenyum. “Sebenarnya Tante sudah menawarkan beberapa pilihan model baju terbaru, tapi ibumu memilih yang ini. Namun, kalau kamu tidak suka bisa Tante pilihkan yang lain. Apa kamu mau menunggu sebentar?”

Anaya mengangguk dengan cepat sambil mengulas senyum manis. Ia tidak mau berpikir panjang. Biar saja Nyonya Hetty yang menanggungnya. Toh, dia tidak dirugikan sama sekali dengan pernikahan paksaan ini malah Anaya yang merasakannya.

Anaya sedang asyik memainkan ponselnya menunggu si Pemilik butik mengambilkan baju yang lain untuknya saat tiba-tiba ia mendengar suara pria yang sangat dikenal.

“Mbak, calon istriku mana? Apa dia sudah datang?” seru suara itu yang tak lain suara Tuan Sandoro.

DEG!!

Anaya ketakutan setengah mati. Lusa dia memang akan menikah dengan pria tua itu, tapi Anaya sama sekali tidak mau bertemu dengan pria jelek itu saat ini. Dia ingin menikmati saat-saat terakhir menghirup udara bebasnya tanpa harus bertemu Tuan Sandoro.

Terdengar percakapan antara Tuan Sandoro dan pegawai butik di depan. Sepertinya pria tua itu mengajukan banyak pertanyaan, bisa juga bandot tua itu sedang menggoda pegawai butik di depan. Itu adalah salah satu alasan mengapa Anaya tidak mau menikah dengan Tuan Sandoro. Tidak hanya tua, mata keranjang, suka melecehkan wanita dan banyak sifat buruk yang melekat pada sosok Tuan Sandoro. Anaya kini bangkit dari duduknya dan tampak kebingungan.

“Aku harus sembunyi. Aku gak mau bertemu dia!” Anaya menoleh ke sana kemari mencari tempat sembunyi kemudian berjalan menuju ruang ganti yang berjajar di depannya.

Ada 6 ruang ganti berjajar di sana, satu persatu Anaya mencoba membuka dan sebagian terkunci. Sepertinya butik itu banyak didatangi orang pagi ini sehingga ruang gantinya penuh. Lalu mata Anaya melihat salah satu ruang ganti yang paling ujung terbuka pintunya.

“Anaya!! Sayang!! Suamimu datang,” seru Tuan Sandoro dengan suara paraunya.

Anaya bergidik geli. Membayangkan Tuan Sandoro saja membuatnya jijik apalagi setelah ini dia harus melihatnya setiap hari. Anaya menggelengkan kepala dengan cepat.

“Gak!! Aku gak mau ketemu bandot tua itu. Besok saja di altar ketemunya,” gumam Anaya.

Dengan langkah panjang dan sedikit bergegas, dia masuk ke ruang ganti yang terbuka di paling ujung. Anaya cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya. Ia lalu bersandar di balik pintu sambil mencoba mengolah napasnya yang ngos-ngosan.

“Syukurlah.” Anaya memejamkan mata mencoba menenangkan diri sambil mengurut dadanya.

Namun, sepertinya Anaya tidak tahu kalau ruang ganti yang ia masuki tadi berpenghuni. Karena saat ini ada sosok tampan yang sedang berkacak pinggang menatap ke arahnya dengan tajam. Anaya mengangkat kepala membalas tatapan dan sontak matanya memelotot saat melihat siapa sosok yang ada di hadapannya.

“KAMU!!”

Bab 3

“Kamu ngapain di sini? Apa masih kurang uang pemberianku?” tanya Anaya.

Pria yang berkacak pinggang di depan Anaya itu hanya terdiam dan menggelengkan kepala.

“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masuk ke sini? Aku sedang fitting baju. Apa pelayananku semalam belum cukup?”

Seketika wajah Anaya memerah, dia buru-buru menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya. Tanpa diminta bayangan kejadian semalam melintas begitu saja di benak Anaya. Ia melirik sekilas pria tampan di depannya ini. Pria itu sedang bertelanjang dada hanya mengenakan celana kain saja. Sepertinya dia memang sedang melakukan fitting baju. Namun, entah mengapa otak Anaya malah traveling ke mana-mana.

“Maaf ... aku salah masuk tadi. Aku ... aku akan keluar,” ucap Anaya.

Pria yang tak lain bernama Kevin itu hanya menganggukkan kepala kemudian sudah meminta Anaya keluar dengan dagunya. Anaya membalikkan badan kemudian dengan pelan membuka kunci pengait pintu. Baru saja ia membuka pintu sedikit, kemudian ditutup kembali dengan cepat dan dikuncinya lagi.

“Kenapa? Gak jadi keluar?” tanya Kevin dengan mengernyitkan alisnya.

Anaya membisu tidak menjawab hanya bersandar di balik pintu seraya mengolah udara, terlihat sekali kalau dia ketakutan. Kevin kembali teringat kejadian semalam. Anaya memang sangat cantik, tapi Kevin bisa melihat kalau mata gadis itu sedang menyimpan kesedihan dan putus asa. Sama seperti yang ia lihat saat ini.

“Kamu kenapa? Apa ada yang mencarimu?”

Anaya menarik napas panjang kemudian menatap Kevin dengan sendu. “Apa kamu mau membantuku sekali lagi? Aku ... aku akan membayarmu.”

Sontak Kevin terbelalak kaget mendengar ucapan Anaya. Mengapa juga gadis cantik di depannya ini gemar melakukan sebuah transaksi. Padahal dia bisa memberinya bantuan dengan cuma-cuma.

“Oke, apa yang bisa aku dapatkan jika aku membantumu kali ini?” Anaya terdiam. Kalau mau jujur sebenarnya uang di tabungan Anaya sudah terkuras habis gara-gara semalam. Perusahaan ayahnya yang colaps, kemudian kondisi Anaya yang baru saja kehilangan pekerjaan membuat dia sedikit kebingungan menjawab.

“Terserah. Kamu minta apa saja, aku akan turuti!” Akhirnya terlontar kata itu dari mulut Anaya.

Lagi-lagi Kevin terbelalak kaget mendengarnya. Mengapa juga gadis di depannya ini begitu mudah menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dia tepati.

“Terserah aku? Baik, aku tidak mau uangmu kali ini.” Anaya terkejut, alisnya terangkat keduanya dengan mata yang menatap Kevin.

“Maksudku aku ingin kamu membalas dengan bentuk yang lain saja, bukan uang,” ralat Kevin. Anaya tampak berulang menganggukkan kepala.

“Namun, tidak sekarang. Nanti saja aku akan beritahu jika aku membutuhkan bantuanmu. Sekarang katakan apa yang kamu ingin aku bantu?”

Anaya menarik napas panjang kemudian mendekat ke arah Kevin. Tak lama dia sudah menceritakan perihal Tuan Sandoro yang sedang menunggunya di depan, juga alasan dia datang ke tempat ini.

“Jadi lusa kamu akan menikah?” Kevin memperjelas cerita Anaya dengan pertanyaannya.

Anaya menghela napas panjang dan mengangguk pelan. “Iya, tua bangka itu yang menjadi suamiku. Aku dinikahi sebagai istri keduanya.”

Kevin hanya diam, melihat ke arah gadis cantik di depannya ini sambil mengetukkan jemarinya ke dagu.

“Memang berapa banyak uang yang akan kau dapatkan dengan menikahi pria itu?”

Anaya mengendikkan bahu dan menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Ibu tiriku yang mengaturnya. Beliau bilang untuk menutup semua hutang perusahaan dan pinjaman bank agar kami tidak kehilangan aset.”

Kevin manggut-manggut mendengarkan. “Lalu kalau kamu menolak?”

Anaya mengangkat kepala dan melihat Kevin dengan sendu. “Ibu tiriku mengancam akan menghentikan biaya sekolah adikku yang di luar negeri. Aku tidak mau itu terjadi. Adikku sedang mewujudkan impiannya di sana dan aku berharap dia bisa menjadi orang sukses sehingga mengangkat derajat kami. Biar aku saja yang menanggung segalanya di sini.”

Kevin tertegun mendengar cerita Anaya. Anaya hanya diam dan terus menundukkan kepala.

“Selain itu ibu tiriku juga mengancam menjual perusahaan ayah jika aku menolak pernikahan ini.”

“Itu sebabnya kamu menyewaku semalam? Kamu tidak mau memberikan mahkota berhargamu kepada bandot tua itu?” tebak Kevin.

Anaya mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Aku ingin menikmati saat-saat terakhir kehidupanku dengan baik. Aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri karena selanjutnya aku akan masuk dalam penjara kungkungan bandot tua itu.”

Kevin kembali terdiam dan memperhatikan Anaya dengan seksama. Padahal awalnya dia sudah meminta Ardi untuk menyelidiki tentang Anaya. Namun, sekarang malah gadis itu yang datang kepadanya dan menceritakan semua pahit manis kehidupannya.

“Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat.”

Anaya terdiam, telinganya tegak berdiri siap mendengarkan permintaan Kevin. “Apa? Katakan saja!”

Kevin mengangguk siap bersuara saat tiba-tiba pintu ruang gantinya diketuk seseorang. Seketika Anaya menarik tangan Kevin seakan memohon untuk menyembunyikan keberadaannya. Kevin tersenyum sambil menatap datar gadis cantik di depannya ini.

“Kamu sudah janji,” cicit Anaya lirih.

Lagi-lagi Kevin mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya. Tak lama kemudian Kevin mendekat ke arah pintu, membuka pengaitnya membuat pintu ruang ganti terbuka. Anaya bergegas sembunyi di balik pintu ruang ganti tersebut.

“Oh ... maaf, Tuan. Saya pikir kamar ganti ini tidak ada penghuninya,” ucap pria tua yang tak lain Tuan Sandoro.

“Saya dari tadi di sini, Pak. Sedang fitting baju. Kalau boleh tahu Anda mencari siapa?”

Pria tua yang sudah keriput semua wajahnya itu hanya tersenyum menyeringai. “Saya mencari calon istri saya. Katanya dia sudah datang lebih dulu untuk fitting baju, tapi sedari tadi saya lihat tidak tampak batang hidungnya.”

Kevin hanya manggut-manggut sambil tersenyum. “Saya tidak melihat ada wanita di sini sedari tadi, Pak. Mungkin dia memang belum datang atau sedang mampir ke tempat lain.”

“Hmm ... iya, bisa jadi. Calon istri saya ini memang lebih muda usianya dari saya. Bisa jadi dia sedang mampir ke suatu tempat.”

“Ya ... mungkin ke salon untuk perawatan, bukankah kata Anda kalian hendak menikah. Tentu dia menginginkan segala sesuatunya istimewa.”

“Ah ... iya, iya tepat sekali kata Anda. Mungkin saya akan mencarinya di salon sebelah. Terima kasih, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktunya.”

Kevin tersenyum sambil menganggukkan kepala kemudian Tuan Sandoro sudah berlalu pergi meninggalkan butik itu. Kevin melihat pria tua itu hingga menghilang di balik pintu.

“Dia sudah pergi! Aku sudah mengusirnya.”

“Akh ... syukurlah.” Anaya berkata seperti itu sambil menarik napas lega dan mengurut dadanya.

Kevin hanya diam kemudian menyambar kemeja di gantungan dan memakainya dengan cepat. Anaya memperhatikan sekilas kemudian sudah menarik pengait pintu bersiap membukanya. Namun, tangan Kevin sudah mencegah Anaya membuka pintu bahkan mengunci pintu kembali.

Anaya menoleh ke arah Kevin dan menatapnya dengan bingung. Kevin balas melihatnya.

“Bukankah kamu sudah berjanji akan melakukan apa saja atas pertolonganku ini?”

Anaya membisu, tapi kepalanya sudah mengangguk. Dia menyesal mengatakan hal sebodoh itu tadi. Saking paniknya Anaya berkata sembarang dan mengiyakan apa saja yang diminta Kevin.

“Ya sudah. Sekarang ikut aku!” ujar Kevin sambil menarik tangan Anaya keluar ruang ganti.

Anaya tampak kebingungan dan melihat ke arah Kevin. “Ke mana?”

Kevin tersenyum sekilas sambil melirik gadis cantik di sebelahnya ini. “Tentu saja membayar jasaku tadi.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED