“Arghhh!”
Seorang anak perempuan berteriak sebelum tubuhnya terpental dan jatuh ke aspal. Tubuh kecil itu tergeletak dan bersimbah darah. Bersyukur kepalanya terganjal oleh tas yang digendongnya, namun tidak ada rintihan dan juga tangisan dari anak itu.
“Kita menabrak anak kecil, Bos.” Tama melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau anak kecil itu terpental jauh.
Seorang laki-laki yang memakai kemeja berwarna putih itu keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, napasnya memburu ketika melihat bocah kecil tergelatak dan berlumuran darah.
Pria yang keluar dari sisi kiri mobil hanya bergumam dalam hati saat melihat anak kecil yang ditabrak bosnya itu. 'Alana.'
Pria yang dipanggil bos itu langsung menggendong tubuh Alana. “Tam, kamu yang nyetir. Cepat!” perintah Pandu sebelum memasuki mobilnya.
“Baik, Bos.” Tama segera menjalankan mobilnya membelah jalanan kota. Untung saja jalanan tidak macet walau ramai dengan kendaraan, tapi lancar.
Pandu, seorang CEO BARA Corporation yang masih terlihat muda dan tampan di usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Pria itu terus memandang wajah anak kecil yang lemah tak berdaya dalam gendongannya akibat kelalaiannya saat mengendarai mobil.
“Bos, apakah anak itu masih bernapas?” Tama melirik sebentar ke arah spion dalam untuk melihat keadaan Alana, lalu ia kembali fokus pada kemudinya.
Tama tetap berusaha fokus, walau pikirannya tertuju pada ibu dari anak yang ditabrak bosnya itu.
'Bagaimana caranya saya menjelaskan semua ini?' Pria yang duduk di kursi kemudi itu hanya bisa bergumam dalam hati. Ia tidak memberitahu pada bosnya kalau ia mengenali anak itu.
Pandu menatap wajah anak perempuan yang terkulai dalam pangkuannya. Anak kecil itu masih terlihat cantik dan manis walau sudah sangat pucat.
Pria yang memakai kemeja putih yang sudah berlumuran darah itu meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Alana, ia bernapas lega saat masih merasakan napas anak itu.
Tidak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit. Suster segera membawa Alana ke instalasi gawat darurat. Pandu dan Tama berjalan cepat mengikuti brankar yang didorong suster.
Alana dimasukkan ke instalasi gawat darurat. Pandu menunggu dengan gelisah di depan ruangan. Ia takut terjadi sesuatu pada Alana. Jika itu terjadi ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Tama mendekati sang Bos yang berdiri dengan gelisah di depan pintu ruang IGD. “Bos, sebaiknya kita memberitahukan keluarganya.”
“Ya Tuhan ... kenapa aku bisa lupa. Kita harus mencari tahu ke mana? Aku tidak tahu siapa orang tuanya."
Pandu tiba-tiba teringat tas anak itu yang diberikan oleh suster kepadanya. "Mungkin di sini ada info tentang keluarganya." Pandu menyodorkan tas berwarna merah muda itu pada asistennya.
"Baik, Bos." Tama mengambil tas berwarna merah muda itu. "Saya akan segera menghubungi orang tua Alana."
"Alana?" Kening Pandu berkerut. "Anak itu bernama Alana?"
"Iya, Bos," jawab Tama.
"Dari mana kamu tahu? Apa kamu mengenalnya?" Pandu mencecar beberapa pertanyaan kepada asistennya.
"Ini ada namanya?" Tama memperlihatkan nama Alana yang tertera di tas sekolah berwarna merah muda itu. "Ini pasti nama anak itu."
"Ya itu pasti namanya," kata Pandu, "kamu cari tahu taman kanak-kanak itu dan minta nomor orang tua Alana pada mereka," lanjutnya sambil menunjuk nama sekolah Alana yang tertera pada tas sekolahnya.
Tama mengangguk, lalu pergi dari hadapan bosnya. Setelah berada sedikit jauh dari Pandu, Tama segera menghubungi ibu kandung Alana.
"Halo ... anakmu mengalami kecelakaan. Cepat kamu datang ke sini, nanti saya kirim alamatnya." Tanpa menunggu jawaban dari orang di balik telepon itu. Tama segera menutup panggilannya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang pastinya akan dilontarkan padanya.
Tama kembali menghampiri Pandu setelah selesai menelepon.
"Saya sudah menghubungi ibunya," kata Tama, "dia akan segera datang."
"Baguslah." Hanya itu yang bisa diucapkan Pandu. Kini ia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada orang tua anak kecil itu.
Setelah sekian lama, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Apa Bapak keluarga anak gadis kecil yang mengalami kecelakaan itu?” tanya Dokter.
“Iya, Dok,” jawab Pandu, "saya ayahnya."
Tama membelalakkan matanya saat sang bos mengaku sebagai ayah dari anak yang ditabraknya.
“Gadis kecil itu kehilangan banyak darah. Untuk darah golongan AB di rumah sakit sedang kosong,” jelas Dokter.
Pandu terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan sang dokter.
“Agar mendapatkan penanganan lebih lanjut, untuk administrasi dan pendaftarannya tolong segera diurus,” tambah Dokter lagi sebelum ia pergi.
Pandu sangat gelisah, pria dewasa itu terus menengok ke jendela ruang rawat darurat. Pandu ingin tahu bagaimana keadaan gadis kecil itu.
Ia benar-benar tidak sengaja saat menabraknya. Andai ia tahu kalau akan begini jadinya, Pandu akan mengendarai mobilnya dengan pelan.
Padahal sebelumnya Tama sudah menawarkan diri agar dia saja yang menyetir, tetapi Pandu bersikeras ingin menyetir sendiri. Alhasil begini jadinya, karena tidak hati-hati, ia menabrak seorang gadis kecil.
Ia sudah siap jika orang tua Alana marah besar padanya dan ia akan bertanggung jawab penuh dan ikhlas jika orang tua Alana menuntutnya.
Pandu terus gelisah, ia terbayang wajah gadis kecil ketika dalam gendongannya yang terasa tidak asing baginya.
“Bos, kalau Anda ingin pulang, biar saya yang mengurus masalah ini,” ucap Tama.
“Mana mungkin aku pulang kalau aku yang sudah menyebabkan gadis itu celaka? Kalau dia kenapa-napa bagaimana?” sentak Pandu menggebu-gebu.
Tama terdiam, bibirnya ingin membuka suara lagi. Namun, ia urungkan saat melihat raut wajah bosnya yang semakin lama semakin gelisah.
Seorang suster keluar dari ruang instalasi gawat darurat. Pandu segera mendatangi suster itu. “Sus, apa saya boleh masuk?” tanya Pandu tak sabar ingin segera bertemu dengan gadis kecil yang ditabraknya.
“Silakan, Pak!” jawab suster itu dengan ramah.
Pandu mengangguk, ia segera masuk ke ruangan, sedangkan Tama mengurus pendaftaran untuk Alana.
Pandu memasuki ruang gawat darurat dengan perasaan yang campur aduk, gelisah, takut dan merasa kasihan. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika matanya terus fokus pada wajah anak kecil itu.
Tangan besar Pandu perlahan membelai tangan Alana, tangan gadis kecil itu sangat dingin. Kepala dan tangannya juga dibalut perban.
"Anak manis, bangunlah! Maafkan Paman karena sudah membuatmu seperti ini. Paman janji akan membelikan boneka besar untukmu dan kita akan berteman. Kamu cepat sembuh ya." Pandu mengusap-usap dengan lembut tangan Alana sambil memerhatikan wajah cantik anak kecil itu.
'Wajahmu mengingatkanku pada seseorang.'
"Alana bangun—"
“Lana!” Suara teriakan wanita membuat Pandu menghentikan ucapannya. Lalu menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita yang sangat Pandu kenal kini berdiri di samping kanan ranjang. Pandu terkejut saat tahu ibu dari anak kecil yang ia tabrak itu.
"Amanda ...."
Wanita yang dipanggil Amanda itu pun terkejut, bibirnya menyebut nama Pandu meski tidak bersuara.
“Manda, kenapa kamu di sini?” tanya Pandu.
Pandu menatap bergantian Alana dan Amanda, dua perempuan beda usia yang wajahnya terlihat sangat mirip.
Amanda memasuki ruang gawat darurat. Air matanya tumpah ruah ketika melihat sang buah hati terbaring lemas dengan kepala yang dibebat perban.
“Kamu yang sudah menabrak anakku?” tanya Amanda menghardik Pandu. Walau kesal, tapi ia tetap memelankan suaranya supaya tidak menggangu pasien lain.
“Anak?" Pandu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan pernyataan Amanda bahwa dia adalah ibu dari anak yang telah ditabraknya. "Dia anakmu?"
Amanda tidak menjawab pertanyaan Pandu. Ia terus menatap iba putrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
“Manda, katakan sejujurnya, dia anakku, 'kan?” tanya Pandu memaksa Amanda untuk menghadapnya. Namun, ibu muda itu menepis tangan laki-laki yang telah menabrak anaknya.
"Jangan ngawur kamu, Mas." Amanda geram, tapi ia tetap memelankan suaranya karena takut mengganggu pasien lain. "Sebaiknya kamu keluar!"
Tidak mau membuat kegaduhan di rumah sakit, akhirnya Pandu keluar dari ruangan itu. Ia duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu sambil memegangi kepalanya.
Tama menghampiri sang bos setelah menyelesaikan administrasi Alana.
"Bos, Anda kenapa?" tanya Tama yang terdengar sedikit panik melihat bosnya terlihat frustrasi.
Bukan lelaki itu yang ia khawatirkan, tapi anak kecil yang ada di dalam ruang IGD.
"Bagaimana keadaan anak itu?" Tama terlihat sangat cemas, ia khawatir terjadi sesuatu kepada Alana. "Dia baik-baik saja 'kan?"
"Aku tidak bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi ...."
"Tapi apa, Bos?" Tama duduk di samping sang bos yang masih menunduk sambil memegangi kepala.
"Alana adalah anak Amanda ... mantan istriku." Pandu menegakkan duduknya, lalu menoleh pada asistennya. "Apa ada kemungkinan Alana itu anakku?"
"Maaf, Bos, saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. Sebaiknya Anda tanyakan langsung kepada Nyonya Amanda."
"Aku sudah bertanya, tapi dia bilang itu bukan anakku. Usia anak itu sekitar lima tahun dan kami berpisah belum genap enam tahun. Ada kemungkinan dia anakku."
"Apa Anda ingin saya menyelidikinya?"
"Tidak perlu Tama, aku yang akan menyelidikinya sendiri. Bisa jadi anak itu anak dari selingkuhannya sewaktu dia masih menjadi istriku."
Tama diam. Ia tidak membalas lagi ucapan bosnya. Seandainya ia ditugaskan untuk mencari tahu tentang anak itu, ia akan melakukannya sesuai perintah, walau ia sudah tahu segalanya. Ia akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Kini Alana sudah dipindahkan ke ruang rawat sembari menunggu donor darah. Gadis kecil itu terlihat masih lelap dalam tidurnya seolah enggan untuk bangun. Amanda terlihat sangat sedih, berkali-kali ia menepuk pipi Alana berharap anaknya bangun.
Stok darah di rumah sakit sedang kosong membuat Amanda kalang kabut menelpon teman-temannya yang mempunyai golongan darah AB. Golongan darah Amanda tidak sama dengan anaknya, hal itu yang membuatnya gelisah. Anaknya membutuhkan darah, tapi ia belum menemukan pendonor.
Air mata Amanda terus mengalir membasahi pipinya. Ia merasa menjadi ibu yang gagal karena tidak bisa menyelamatkan sang anak.
Hanya Alana dan Alan yang saat ini ia punya. Merekalah yang bisa membuat Amanda tidak lelah memperjuangkan hidupnya. Tapi, kini salah satu anaknya terbaring tak berdaya dengan jarum infus yang menancap di lengan kirinya.
Pandu menatap Amanda yang menangis di sudut ruangan. Pria itu tidak tega melihat mantan istrinya bersedih. Walau ia masih membencinya jika teringat pengkhianatan Amanda padanya, tapi cintanya tak kalah besar dengan rasa bencinya.
Namun, kini keadaannya berbeda, ia yang menyakiti Amanda. Bahkan ia pun merasakan sakit yang wanita itu rasakan ketika melihat Alana terbaring lemah tak berdaya.
“Manda, aku yang akan mendonorkan darah untuk Alana,” ucap Pandu sambil berdiri dari duduknya.
Amanda menatap lekat mantan suaminya. Sudah hampir enam tahun ia berpisah dengan pria itu, tetapi Pandu masih sama, masih terlihat tampan seperti dulu.
Namun, semua itu tidak ada artinya lagi bagi Amanda. Perpisahan yang menimbulkan rasa sakit sampai sekarang membuat Amanda tidak bisa bersikap biasa saja.
Rasa nyeri itu kembali terasa ketika teringat laki-laki yang ia cintai itu telah mengkhianatinya bahkan dengan tega memfitnahnya.
“Apa maksud kamu?” tanya Amanda. Ia baru tersadar kalau Pandu adalah ayah kandung dari kedua anaknya, tentu saja kemungkinan besar golongan darah mereka sama.
“Golongan darahku AB, sama seperti anak kamu. Izinkan aku mendonorkan darah untuk Alana," pinta Pandu sedikit memaksa.
“Tapi—”
“Alana membutuhkan darah segera. Kalau kita tidak ambil tindakan yang cepat, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya," ujar Pandu.
"Tidak akan terjadi apa-apa kepada anakku!" ucap Amanda dengan tegas.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, tapi tolong pertimbangan penawaran ini baik-baik. Untuk saat ini lupakan masalah tentang kita. Ingat, Alana butuh darah itu secepatnya. Anggap saja ini bentuk tanggung jawabku karena sudah membuatnya seperti ini," kata Pandu, "jangan egois, Manda! Alana membutuhkan darah segera."
“Baiklah,” jawab Amanda yang akhirnya menyetujui.
Amanda tidak ingin melibatkan Pandu untuk urusan anak-anaknya, tapi Alana sangat membutuhkan darah itu. Demi anaknya, Amanda menekan sedikit egonya.
Amanda dan Pandu segera menemui dokter dan melakukan pengecekan kesehatan untuk Pandu, agar ia bisa cepat mendonorkan darahnya.
Serangkaian pemeriksaan, Pandu lakukan untuk memastikan kalau darahnya benar-benar sama dengan Alana. Untungnya seluruh tubuh Pandu sangat sehat, membuatnya bisa mendonorkan darah untuk gadis kecil yang sudah dia tabrak.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di otak Pandu, termasuk darah Alana yang sama dengannya. Perpisahannya dan Amanda sudah hampir enam tahun lalu, tapi entah kenapa ia sangat yakin kalau Alana adalah anaknya.
Tidak mungkin semua hal yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada jalan takdir yang sudah digariskan. Setelah sekian lama ia berpisah dengan Amanda, baru kali ini ia bertemu lagi dengan wanita yang masih dicintainya itu.
Setelah proses pengambilan darah, Pandu kembali ke ruang rawat Alana. Dokter menyarankannya untuk istirahat sejenak, tetapi Pandu kukuh ingin melihat Alana.
Darah yang didonorkan segera dimasukkan ke tubuh Alana melalui selang infus. Gadis kecil yang malang itu harus merasakan sakit karena ketidaksengajaan mantan suami ibunya.
Pandu duduk di sofa tidak jauh dari ranjang Alana. Pandangan pria itu menatap lekat gadis kecil yang sedang tertidur pulas.
Amanda yang melihat anaknya sudah mendapat transfusi darah bisa bernapas lega. Ia duduk di samping ranjang sang anak, elusan lembut penuh sayang ia berikan ke puncak kepala anaknya.
“Lana, kamu pasti baik-baik saja,” bisik sang ibu.
Amanda mendaratkan ciuman tepat di puncak kepala sang anak. Semua hal yang dilakukan wanita itu tidak luput dari pengamatan Pandu. Mantan istrinya masih sama seperti dulu, terlihat cantik dan penuh kasih sayang.
Pandu tidak habis pikir, kenapa wanita selembut Amanda bisa berselingkuh. Lelaki itu larut dalam kenangan masa lalu. Kemudian Pandu mengembuskan napasnya dengan kasar, dan memberanikan diri mendekati mantan istrinya.
“Amanda,” panggil Pandu pelan.
Amanda menoleh, perempuan itu menatap mantan suaminya. Air matanya mendesak ingin keluar, tetapi sebisa mungkin ia menahannya. Tidak pantas ia menangisi lelaki yang sudah menyakiti hatinya itu.
“Ya," jawab Amanda dengan suara yang sangat serak.
“Aku ingin bicara serius denganmu."
“Kita bicara di luar saja,” jawab Amanda.
Amanda beranjak dari duduknya, sebelum meninggalkan sang anak. Ia menaikkan selimut Alana terlebih dahulu agar anaknya tidak kedinginan.
Amanda keluar lebih dulu yang diikuti oleh Pandu. Ia sengaja berbicara di luar supaya Alana tidak mendengarnya jika sewaktu-waktu dia terbangun.
Alana tidak boleh mendengar pembicaraannya dengan Pandu, apalagi masalah yang dibicarakan adalah tentang Alana.
Ibu muda itu tidak mau kalau sampai Pandu mengetahui kebenaran tentang kedua anak kembarnya.
Amanda dan Pandu menuju ke sebuah taman rumah sakit yang berada tepat di belakang ruang rawat Alana.
Wanita yang baru berusia dua puluh lima tahun itu duduk di salah satu kursi taman. Pandu ingin duduk satu kursi, tapi ia sadar diri kalau mantan istrinya itu sudah pasti akan menolak duduk berdekatan dengannya.
“Manda, tolong kali ini jawab pertanyaanku dengan jujur!” pinta Pandu, "apa Alana anakku?” tanya pria itu lagi.
Berkali-kali Pandu bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Amanda. Ia berharap mantan istrinya itu memberi jawaban yang berbeda dengan sebelumnya.
Amanda terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Pandu yang sudah lebih dari dua kali ditanyakan padanya. Ia mengembuskan napasnya dengan kasar, lalu menjawabnya dengan tegas.
“Dia bukan anak kamu!” Amanda menegaskan sekali lagi. "Dia anakku!"
"Dia anak aku dan kamu. Alana anak kita 'kan?" Pandu sangat berharap kalau Alana itu anaknya.
"Apa kamu tidak bisa mengerti apa yang aku bicarakan? Alana bukan anakmu!" Dengan kesal Amanda menegaskan sekali lagi.
“Tapi golongan darahnya dan golongan darahku sama, Manda. Kamu jangan membohongiku!”
“Aku tidak membohongimu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia bukan anak kamu!” tekan Amanda sekali lagi. Ia tidak akan bosan mengatakan kalau Alana bukan anak mantan suaminya.
“Kalau dia bukan anakku, kenapa golongan darahnya sama?” Pandu tidak yakin dengan ucapan mantan istrinya itu, ia terus mendesak Amanda untuk jujur.
Ia sangat berharap Amanda jujur dengan kenyataan yang ada. Dalam hati kecil Pandu, ia sangat yakin kalau Alana adalah darah dagingnya.
"Memangnya cuma kamu yang mempunyai golongan darah AB?" balas Amanda sinis, "tapi, aku tetap bersyukur dan aku ucapkan terima kasih banyak padamu karena sudah menolong Alana.”
“Kalau dia bukan anakku, lalu anak siapa? Kita berpisah belum genap enam tahun, tapi kamu sudah mempunyai anak yang usianya lima tahun. Besar kemungkinan kalau dia anakku, Manda!” tekan Pandu.
“Kalau aku jawab bukan, ya itu artinya bukan!” jawab Manda dengan tegas, tapi tidak berani menatap mata Pandu yang berdiri di hadapannya.
“Tatap mataku dan katakan kalau dia bukan anakku!” perintah Pandu.
Amanda terdiam, bukannya menatap mata mantan suaminya, tapi Amanda malah menundukkan kepalanya.
“Kamu tidak berani?” tanya Pandu sedikit sinis. Mendapat pertanyaan itu membuat Amanda sedikit marah.
Amanda menatap Pandu lekat.
“Kamu mau jawaban yang sebenarnya, kan? Baik, aku jawab. Dia bukan anak kamu!” Amanda berucap seraya menatap mata mantan suaminya.
Meski Amanda sudah menatap matanya, tapi Pandu tidak percaya begitu saja. Pria itu masih mendesak mantan istrinya untuk mengiyakan pertanyaannya.
“Lana anakku dengan suami baruku,” ujar Amanda.
“Kamu sudah menikah lagi?” tanya Pandu tidak percaya.
“Setelah bercerai dengan kamu, tidak lama kemudian aku menikah dan hamil Alana. Sekarang usianya baru empat tahun, bukan lima tahun,” jelas Manda mematahkan keyakinan Pandu.
“Setelah bercerai, kamu langsung menikah? Hebat kamu.” Suara Pandu terdengar sinis. Pria itu pun memberanikan diri untuk duduk di samping mantan istrinya. Amanda sedikit menggeser tubuhnya.
"Iya, aku memang hebat. Tidak sulit bagiku untuk mencari suami pengganti setelah kita bercerai."
Amanda terpaksa berbicara demikian supaya Pandu tidak lagi mempertanyakan tentang anaknya.
"Apa dia anak selingkuhanmu?" Pandu menoleh pada Amanda.
“Kamu sangat benar, Mas. Alana adalah anakku dan selingkuhanku dulu. Jadi, jangan bertanya lagi tentang Lana karena dia bukan anak kamu!” ucap Amanda penuh penekanan.
Dalam hati, Amanda merasa bersalah karena sudah menyembunyikan fakta, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain hal itu.
Pandu dan Amanda masih duduk bersama di bangku taman. Kedua orang itu sama-sama terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Pikiran Pandu dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal tentang Alana.
“Aku akan tetap bertanggung jawab untuk membayar administrasi rumah sakit." Akhirnya Pandu bersuara setelah sekian lama terdiam. Pria itu juga berdiri untuk bersiap pergi.
“Kamu tidak perlu melakukannya!” balas Amanda dengan spontan.
Perempuan itu ikut berdiri menghalangi Pandu yang akan melangkah. Pria itu mengerutkan dahinya menatap mantan istrinya.
“Aku harus melakukannya?” Pandu tetap bersikeras untuk bertanggung jawab supaya bisa lebih dekat lagi dengan Alana karena ia ingin mencari tahu sendiri tentang kebenarannya. "Dia tanggung jawabku."
“Tapi dia bukan anak kamu,” balas Amanda.
“Ya, dia memang bukan anakku, tapi aku yang sudah menabraknya. Jadi, aku yang bertanggung jawab mengurus seluruh administrasi Alana.”
Hanya itu yang bisa Pandu gunakan sebagai alasan untuk tetap bertemu dengan Alana dan menyelidiki kebenaran tentang anak perempuan yang ditabraknya itu.
“Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu pulang!” ujar Amanda beranjak pergi. Namun, tangannya dicekal oleh mantan suaminya.
“Manda, aku hanya berniat baik padamu. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu tidak nyaman, tapi aku perlu melakukan ini. Biaya rumah sakit sangat mahal, kamu—”
“Apa kamu pikir aku tidak mampu? Kamu mengira kalau aku ini masih miskin?” tanya Amanda menyela ucapan mantan suaminya sambil menyunggingkan satu sudut bibirnya. "Jangan lupa! Aku ini sudah punya suami, dia yang akan bertanggung jawab kepadaku dan Alana."
Ingatan kejadian beberapa tahun lalu merasuki otak Amanda, di mana mertuanya sangat tidak menyukai keberadaannya karena dirinya adalah gadis miskin. Sekarang Pandu menghinanya, mengatakan seolah-olah dia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit.
“Manda, bukan itu maksudku. Aku hanya—”
“Meski aku wanita miskin, aku bisa bekerja keras demi anakku. Terlebih aku juga punya suami, jadi kamu tidak perlu melakukannya,” jelas Amanda kembali menyela ucapan Pandu.
“Apa salahnya kalau aku yang membayar? Kamu jangan keras kepala, Amanda.” Pandu sedikit meninggikan suaranya.
“Alana anakku, dia tanggung jawabku,” ujar Amanda penuh penekanan.
Amanda mengempaskan cekalan tangan mantan suaminya,
Amanda bukan tidak mau mantan suaminya bertanggung jawab. Hanya saja ia tidak ingin identitas anaknya terungkap. Ia tidak ingin Pandu mengetahui kenyataan kalau Alana anak kandungnya.
Selama ini Amanda yang sudah membesarkan anaknya. Dalam keadaan apa pun ia memperjuangkan kebahagiaan untuk Alana dan Alan. Sekarang Pandu datang lagi saat Alana sudah berusia lima tahun, Amanda tidak rela bila Pandu merebut anak-anaknya.
Amanda berlari menuju ke pusat administrasi untuk membayar semua pengobatan putrinya. Air mata wanita itu mendesak keluar ketika melihat tagihan rumah sakit yang begitu besar.
“Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?”