Bab 2
Ayana mengikuti langkah Daniel, sedang tangan kanan menyeret koper hitam menuju kusen pintu berwarna coklat. Kusen pintu bernomor 918 kini tepat dihadapannya. Ayana mengeratkan pegangan koper, agar tidak terlihat gugup. Sejarah pertama kalinya ia merasakan tinggal bersama laki-laki yang baru ia kenal.
Daniel membuka pintu dengan kunci kombinasi. "1502" ucap Daniel.
"Apa?" Ayana bingung.
"1502 kunci kombinasinya, kamu harus tahu itu, agar kamu bisa keluar dan masuk tanpa seizin saya".
Ayana mengangguk, Daniel membuka hendel pintu. Pintu itu terbuka, menampakan sisi ruang apartement minimalis. Daniel kaya raya, tajir, sukses, semua hilang dari pandangannya. Lihat saja apartemen ini begitu kecil, hanya dua kamar tidur, ruang tv kecil, sekaligus difungsikan ruang tamu dan dapur. Apartement kecil ini kah Daniel tinggal? Bahkan ruangan ini hanya sebesar kamarnya dirumah. Bela sungguh keterlaluan, awas saja jika bertemu nanti, ia pastikan akan mencekiknya.
Permainan sialan itu menyebabkan ia seperti ini. Oh tidak, cuti kuliah selama satu bulan di Indonesia sia-sia. Indonesia oh Indonesia, negeri eksotis yang sangat ia rindukan selama ini. Menjadi liburan terburuk untuknya. Bodohnya, ia mengiyakan permainan bodoh itu. Daniel, lelaki kaya raya, punya usaha property, uang banyak ternyata jauh dari ekspetasi. Sangat tidak mungkin kekayaan seperti itu, hanya memiliki tempat tinggal sekecil ini. Bahkan untuk berdua saja terlihat penuh. Ayana meletakkan kopernya di samping pintu, sementara tanganya memegang erat ujung sweater rajut, menahan gugup.
"Ini tempat tinggal saya, ini kamar saya. Dan disebelah kamar kosong, kamu bisa menggunakannya" ucap Daniel melangkah masuk menunjukan pintu kamar.
Daniel mengerutkan dahi, menatap Ayana hanya diam termangu memperhatikan secara detail ruangan apartemen, wajah itu terlihat tidak suka. "apa kamu tidak suka tempat tinggal saya?".
"Ah tidak, saya suka kok minimalis".
Daniel berjalan menuju sofa satu-satunya, "Ya, saya tidak suka ruangan terlalu besar, saya laki-laki dan jarang sekali membersihkannya" Daniel duduk disofa, menyandarkan punggungnya.
Daniel meletakkan ponsel di meja satu-satunya. Daniel melirik Ayana, sedari tadi hanya diam, mematung di samping pintu.
Ayana menyelipkan rambut ketelinga, ia masih tidak percaya, apa yang dilihat. Apartement Daniel terlihat berantakkan, Ayana meneliti lebih lanjut, debu-debu sudah menebal di sudut plafon. Ia pastikan banyak sekali kecoa yang bersarang di apartemen ini. Sial....!!! ia hidup dengan pria jorok seperti Daniel. Ayana miris menatap hidupnya satu bulan kedepan.
Daniel menatap koper hitam milik Ayana. Daniel beranjak dari duduknya, ia berjalan mengambil koper milik Ayana, lalu ditarik koper itu menuju kamar kosong.
"Ini kamar kamu" Daniel membuka pintu kamar.
"Maaf sedikit berantakkan, kamu bisa membuang barang-barang bekas itu" Daniel menunjuk kardus bekas Tv dan kulkas, setahun yang lalu ia dibeli.
Ayana menatap tidak percaya, kamar itu lebih mirip gudang dari pada sebuah kamar. Kardus-kardus berserakkan di lantai kamar.
"Ya, terima kasih, ini sudah cukup untuk saya. Saya akan membersihkannya".
"Syukurlah kalau begitu, oiya sekalian bersihkan semua, saya akan pergi terlebih dulu".
Ayana dengan cepat mencegah Daniel pergi "Kamu akan kemana?" Tanya Ayana.
"Saya akan keluar sebentar ada urusan" Daniel memasukkan tangan disaku celana.
"Kemana?" Ayana penasran.
"Kenapa saya harus memberitahu kamu?" Alis Daniel terangkat.
"Saya takut kamu meninggalkan saya, sementara kamu masih punya tanggung jawab membiayai kuliah saya" ucap Ayana sakartis.
"Saya akan bertanggung jawab" ucap Daniel, menepuk bahu Ayana.
"Terima kasih" ucap Ayana.
****
Ayana dengan cepat membuka kunci layar ponsel, mencari nama Bela di kontak ponsel. Lalu menekan tombol hijau di layar ponsel pintar miliknya. Suara sambungan speaker terdengar jelas. Seketika suara itu tidak terdengar lagi.
"Halo" suara lembut Bela terdengar jelas.
"Bela kamu gila...!!!kamu tahu apa yang saya hadapi sekarang?" Ayana menyandarkan tubuh di sofa.
"Hahah apa yang kamu hadapi Aya, bukan kah Daniel tipe pria yang kamu cari selama ini, tajir, pengusaha, keren, cerdas".
"Bela, asal kamu tahu, saya akan tersiksa disini. Apartemen kotor, sempit. Saya tidak bisa tinggal disini" Ayana memekik geram.
"Benarkah? Daniel yang saya kenal itu charming, good looking, ternyata seperti itu. OMG Aya itu namanya kamu masuk perangkap dia"
"Bel, kamu pasti tidak percaya. Saya bisa gila jika berlama-lama disini. saya akan ke Bali bulan depan" Ayana menjauhkan bantal berdebu disamping, diletakkanya ke bawa.
"Ya, ya akan saya temani, tapi nikmati dulu hubungan kamu dengan Daniel, tidak ada salahnya kamu menghambur-hamburkan uangnya yang banyak itu".
"Saya tidak yakin, Daniel punya uang sebanyak itu, melihat hidupnya saja susah" Ayana mendengus kesal.
"Hemmm... sepertinya kamu yang dikerjai Daniel".
"Sepertinya begitu" ucap Ayana, mengakui dugaan Bela.
"Oke, nanti jika kamu ada apa-apa cepat hubungi saya, oiya taruhan waktu itu, mulai berlaku dari sekarang ya baby".
"Iya saya tahu, sepatu, sendal, baju, dan tas louis vuitton akan menjadi milik saya".
"Hahaha, iya iya... selamat menikmati baby" sambungan terputus.
"Dasar" Ayana terkekeh.
*****
Ayana memulai membersihkan kamar yang sekarang menjadi miliknya. Ayana mengeluarkan semua kardus-kardus berserakan, agar ia bisa leluasa mengemaskan kamarnya. Ayana mulai melepaskan kain saprai, sarung bantal, taplak meja, serta gorden lalu di masuk ke dalam kantong plastik. Ayana memutuskan mencuci di laundry saja, ia yakini lebih dari setahun barang tersebut tidak pernah di ganti. Ayana tidak mungkin hidup tidak sehat seperti ini. Ayana membersihkan debu-debu dengan vacum cleaner, tempat tidur, karpet dan plafon, Ayana juga mengelap sisi Tv dengan kain lembab. Untung saja ruangan apartement Daniel kecil, hingga membersihkan dengan cepat.
Sudah tiga jam Ayana membersihkan ruang apartemen Daniel. Kini ia manatap puas, ruangan terlihat bersih. Karpet sudah terbebas dari debu. Gorden hitam telah berganti Dengan gorden hijau, yang sengaja ia beli di supermarket bawah apartemen. Serta tidak lupa Ayana meletakkan pengharum ruangan otomatis di dekat Ac. Ayana berdecak kagum dengan hasil karyanya.
Ayana menatap lega, sejujurnya baru kali ini ia kerja keras seperti ini. Biasa asisten rumah tangga lah yang membersihkan kamarnya. Ayana membujurkan badannya di tempat tidur miliknya, mencoba memejamkan mata sejenak.
****
Bab 3
Daniel membuka pintu apartemen, ia terdiam tidak percaya apa yang dilihat. Apa ia salah masuk? Di tutup kembali pintu itu, melihat kembali nomor ruangan yang tertempel jelas di depan pintu. Tidak ada yang salah dengan nomor pintu apartemenya. Lalu Daniel melangkah masuk, benar ini apartemennya. Apartemen yang sudah lama ia tinggalkan. Daniel tersenyum, menatap ruang apartemennya kini sudah terlihat bersih, dan harum.
Daniel melepaskan jaket, diletakkan di sisi sofa. Daniel tersenyum bahagia, ruangan apartemen sudah disulap oleh Ayana sedemikian rupa. Daniel sebenarnya tidak sempat membersihkan apartemen, bahkan ia baru saja sampai di Indonesia beberapa hari yang lalu, itupun ia langsung kerumah orang tuanya. Tidak sia-sia Ayana ada disini, ternyata wanita manja itu, bisa kerja keras juga.
Daniel tertawa pelan, sebenarnya apa mau Ayana? Hidup dengan dirinya?.
Sebenarnya beberapa jam yang lalu Daniel telah menyelidiki identitas Ayana, ia sudah melacak semua melalui sistem cepat. Ia tidak ingin hidup dengan orang yang tidak tahu asal usulnya dengan jelas. Untung saja ia memiliki banyak teman yang bekerja dibidang IT. Ternyata cukup mudah melacak identitas Ayana. Siapa yang tidak kenal Ayana. Ayana adalah putri kedua dari Darmawan Senjaya. Darmawan Senjaya adalah kepala perwakilan kedutaan besar Republik indonesia yang saat ini bertugas di Berlin. Anak pejabat itu sekarang meringkuk di atas tempat tidur.
Daniel tertawa lagi, untuk apa Ayana berbohong seperti itu demi tinggal bersamanya?. Ayana tidak cukup pintar membohonginya, kuliah di kedokteran? Kedokteran bullshit, Ayana masih sangat muda, umurnya masih 22 tahun, ia tahun ke tiga kuliah di Universitas Berlin jurusan manajemen bisnis. Ya Tuhan, jika ingin berbohong, bukan dirinya menjadi tempat sasaran. Jika ingin menipu, seharusnya disusun secara rapi dan terencana.
Daniel hampir tertawa sepanjang perjalanan menuju apartemennya tadi. Daniel menggelengkan kepala tidak percaya. Ayana oh Ayana, andai Darmawan Senjaya tahu tingkah anaknya seperti ini? Tidak dapat ia bayangkan reaksi kedua orang tuanya seperti apa. Kini anak bungsunya tinggal dengan seorang laki-laki dewasa seperti dirinya.
Daniel mengambil remot di meja, lalu menekan tombol merah. Tv kini menyala, Daniel merebahkan punggung di sofa mencari siaran bola. Daniel melirik pintu kamar yang setengah terbuka, Ayana masih tertidur nyenyak.
***
Ayan mengerjapkan matanya, membuka mata secara perlahan. Ayana menyandarkan tubunya disisi bantal. Ayana menatap estalase kaca, awan putih kini berubah menjadi gelap. Ayana melirik jam dinding di tembok kamar. Menunjukkan pukul 7 malam. Ayana menegakkan tubuh, berjalan menuju satu-satunya pintu. Ayana mendengar suara tv menyala. Tersadar ia benar-benar kini tinggal bersama dengan Daniel. Ayana merapikan rambut dengan jari-jari tangannya.
"Sudah bangun?" Tanya Daniel.
Ayana otomatis menoleh kearah sumber suara. Ayana menelan ludah menatap Daniel. Daniel hanya mengenakan celana adidas hitam pendek. Hingga tubuh itu dipertontonkan secara live dihadapannya. Tubuh Daniel sempurna, tubuh bidang itu ia yakini hasil olah raga teratur. Pantas saja semua wanita rela mengantri dipelukkannya. Betapa nyaman jika bersandar didada bidang Daniel.
"Iya sudah".
Ayana berjalan menuju lemari es, mengambil struk yang ia simpan disisi lemari. Ayana lalu menyerahkan struk-struk itu kepada Daniel.
Daniel mengerutkan dahi, "ini apa?".
"Ini daftar belanjaan hari ini, kamu ganti uang saya".
Daniel terbelalak menatap struk, daftar list struk begitu panjang, lalu melihat nominal paling akhir, "5 juta???".
Ayana mengedikkan bahu, "ya begitulah, saya terpaksa memakai tabungan saya, untuk mengisi apartemen kamu yang kotor ini, karpet ini, gorden itu, taplak meja, isi lemari es kamu, sabun, laundry, dan saya tidak bisa menyebutkan satu persatu".
Daniel menggelengkan kepala, "kamu bahkan belum 24 jam tinggal dengan saya, sudah menghabiskan 5 juta dalam beberapa jam saja, saya bisa bangkrut jika begini terus setiap hari".
"Ini juga untuk keperluan kamu, bukan saya".
"Saya tidak ada uang tunai, saya transfer saja bagaimana".
"Transfer sekarang". Ayana memperlihatkan nomor Rekening yang ia simpan di kontak ponsel.
"Iya, iya" Daniel mulai mengetik, mentransfer dengan mobile banking.
"Saya sudah mentransfer. Sekarang kamu bisa mengecek" ucap Daniel.
Ayana mengecek notifikasi masuk melalui email. Isi email itu menyatakan uang transfer masuk. Ayana menggulung rambut hingga ke atas. Ayana melirik Daniel duduk di sofa satu-satunya tempat yang bisa ia duduki di apartemen sempit ini.
"Kamu sudah makan?" Tanya Daniel.
"Belum" Ayana berjalan membuka lemari es. Ia mengambil beberapa buah apel, meletakkan apel itu di atas meja, tangan kanan itu mengambil talenan dan pisau yang tadi ia gantung sedemikian rupa.
Daniel beranjak dari sofa, berjalan menghampiri Ayana yang sedang asyik memotong apel.
"Kamu kuliah dimana?" Tanya Daniel, ia sengaja mengikuti alur cerita yang dibuat Ayana, Daniel menahan tawa, dan ia mencoba setenang mungkin, agar tawa itu tidak pecah.
"Hemmm UI".
"Wow, pintar sekali bisa masuk UI, kedokteran lagi".
"Ya begitulah" Ayana melirik Daniel.
Daniel mengambil buah yang dipotong Ayana. Memasukkan buah itu kedalam mulutnya, "kanapa beasiswa kamu dicabut?".
Ayana melirik Daniel, mulai berpikir, "hemmm tidak tahu, itu kebijakan dari kampus".
"Saya bisa, membantu agar beasiswa kamu tidak dicabut. Saya punya akses penting di UI untuk mendapatkan beasiswa kamu kembali itu sangat mudah, jika kamu mau".
Daniel menatap Ayana, Ayana terperangah. Apel yang di pegangnya hampir jatuh kelantai, Ayana menahannya. Ayana gelagapan mendengar ucapan Daniel.
"Benarkah?".
Ayana mundur tertur, ia menghindari Daniel, buah yang ia iris telah berpindah kepiring, Ayana membawanya menuju sofa.
"Iya, papa dan mama saya donatur tetap disana, saya bisa membantu kamu" Ucap Daniel asal.
Daniel mengikuti Ayana hingga ke sofa. Daniel melirik Ayana yang mulai berpikir keras, "hemmm boleh deh" akhirnya Ayana bersuara, suara itu nyaris tidak terdengar. Tawa Daniel hampir meledak melihat reaksi Ayana.
"Ya, bagus, kalau begitu saya tidak lagi menanggung kuliah kamu lagi bukan".
Ayana menaikan alis sebelah, "kamu tetap harus tanggung, tidak bisa begitu".
Daniel menatap lekat-lekat wajah Ayana, jika dilihat secara dekat seperti ini wajah Ayana terlihat lucu dan menggemaskan.
"Saya akan tanggung jawab, buktinya saya akan membantu mendapatkan beasiswa kamu kembali".
Ayana mencoba mengelak, "tapi saya perlu uang".
"Tempat tinggal sudah saya kasih, uang untuk hidup saya akan transfer, dan kamu tidak akan terlantar. Beasiswa kamu akan saya urus secepatnya, apa masih kurang tanggung jawab saya?".
Ayana terdiam dan tersadar, kini posisinya benar-benar sangat dekat dengan Daniel. Daniel berbicara tepat dihadapannya, hembusan nafas Daniel terasa dipermukaan wajah. Daniel menyunggingkan bibir, menahan piring dengan tangan kiri. Jika saja Daniel tidak menahan piring, ia pastikan piring berisi irisan apel akan jatuh ke lantai.
****