Bab 1

"Awh!" pekik Claudia kesakitan saat Ryuga di bawah sana berusaha membobol mahkotanya.

Ryuga berusaha masuk lebih dalam lagi. Claudia mencengkram punggung Ryuga kuat-kuat. Laki-laki itu berhenti dari aktivitasnya.

"Kamu masih perawan?"

Sebelumnya Ryuga sama sekali tak memikirkan itu. Claudia menyerahkan tubuhnya dengan mudah. Jadi, Ryuga pikir gadis itu sudah pernah melakukannya.

"Terobos aja, Pak," tukas Claudia cepat.

Satu tangan Claudia merangkul tengkuknya. Cewek itu berusaha mengalihkan perhatian Ryuga dengan bibirnya. Namun, Ryuga menolak.

"Jawab pertanyaan saya," tegasnya.

Ditatap seperti itu, nyali Claudia menciut. Tapi, di bawah sana sudah basah. Melihat Ryuga di atasnya dengan keringat-keringat yang mengkilat di leher dan dahinya membuat Claudia ingin cepat-cepat merasakan Ryuga di dalamnya. Ryuga memantik gairahnya.

Niatnya sudah berantakan. Claudia hanya menginginkan cowok ini dan merasakan kepuasaan yang sebenarnya. Sebelumnya Claudia sudah diberitahu oleh sahabat-sahabatnya bahwa beberapa cowok menolak untuk berhubungan dengan gadis yang masih perawan.

Rasa sakit hati yang bercokol di dadanya teralihkan. Claudia ingin melupakan itu malam ini bersama sosok Ryuga yang tak sengaja bertemu dengannya di sudut ruangan pesta.

"Ya menurut Bapak?!" Claudia menjawab dengan sedikit gugup.

Mata sipit Ryuga terpejam sesaat. Dia mengatur napasnya yang memburu. Perlahan dia mencabut miliknya. Untung saja Ryuga belum menembus surga kenikmatan Claudia.

Ryuga akui dia brengsek. Saat bertukar pandang dengan cewek ini, Ryuga langsung merasa tertarik. Entah siapa dia dan dari perusahaan mana. Cewek itu hanya memperkenalkan diri sebagai Claudia.

Claudia saja. Tanpa embel-embel apa pun.

"Saya pikir kamu udah nggak perawan," ucap Ryuga menyuarakan isi pikirannya.

Mata Claudia terbelalak. Seenak jidat saja cowok berkulit pucat itu bicara.

"Enak aja. Clau masih suci, ya," protes Claudia.

Kepala Ryuga mengangguk. Dia telah salah jika memerawani gadis semacam Claudia. Ryuga tak sejahat itu. Didengarkan secara baik-baik, Claudia bukan cewek sembarangan. Dia bahkan memanggil dirinya sendiri dengan nama.

Entah mengapa hal itu menambah nilai kemanisan dari cewek tersebut. Ryuga sudah bertemu banyak wanita. Model yang seperti Claudia ini jarang-jarang ditemuinya.

"Saya nggak bisa lanjut." Suara Ryuga kembali mengudara di tengah hawa panas yang menyelimuti keduanya.

"Pak, tanggung," rengek Claudia.

Eh, kenapa dia tak jadi marah? Ternyata napsunya lebih besar dari rasa marahnya. Dasar Clau.

"Kita udah mau ke inti tau. Bapak udah bikin Clau on, terus sekarang nggak mau tanggung jawab hanya karena Clau masih perawan?"

Tubuh Claudia sudah dibuat merinding oleh jari, mulut bahkan lidah cowok itu. Dalam sekejap, Claudia bisa berubah menjadi gadis nakal.

Ayolah, selama ini Claudia tak senakal itu apabila berpacaran. Ah, sudah berapa lama, ya, dia tak berpacaran? Claudia terlalu fokus pada satu sosok yang tidak kunjung menjadikannya pacar.

"Kamu harus lakuin itu dengan seseorang yang kamu suka."

Lucu sekali. Seorang Ryuga memberikan nasihat? Oh, Ryuga merasa heran dengan dirinya sendiri? Untuk apa dia peduli?

"Nggak ada orang yang Clau suka," jawab Claudia sedikit curhat.

Padahal ada. Rasa itu sudah menetap lama. Sial. Rasanya Claudia ingin menangis. "Clau nggak keberatan kalau orangnya Pak Ryuga. Lagian Clau 'kan yang ngajak check in? Clau yang mau," ucap Claudia sambil mengecup pipi kiri Ryuga.

Demi apa pun, Ryuga berusaha mengendalikan dirinya yang dipenuhi napsu. Yang dikatakan Claudia benar, ini tanggung sekali.

"Pak, udah keras banget yang di bawah," beritahu Claudia soal milik Ryuga yang berada di himpitan tengah pahanya.

"Kita 'kan ngelakuin ini mau sama mau, suka sama suka--

"Siapa yang bilang saya suka kamu?" potong Ryuga.

Claudia terdiam sejenak. Benar juga. Atau ini hanya keinginan Claudia saja?

"Emang nggak, ya? Tadi pas Bapak nyentuh-nyentuh Clau, Clau ngerasanya Bapak kayak tergila-gila gitu lho. Apalagi di sini, Bapak betah banget. Suka 'kan?"

Claudia menunjuk dadanya yang tertutupi selimut putih hotel. Kepala Ryuga pening. Benda yang ditunjuk Claudia pas di tangan besarnya. Ryuga suka. Cewek ini malah semakin membuat birahinya naik. Ryuga harus ke kamar mandi dan berendam di air dingin. Claudia benar-benar gadis gila.

Ketika dirinya hendak beranjak dari tempat tidur, Claudia menarik tangannya. Sumpah, Ryuga tak boleh dilewatkan.

"Pak Ryuga," panggilnya pelan. "Jahat banget tau nggak!?"

Saat Ryuga menoleh, gadis itu sudah menutupi seluruh badannya menggunakan selimut. Suara isakan mulai terdengar dibalik sana.

Masa bodoh. Tapi, baru saja Ryuga akan turun, tangis Claudia malah semakin kencang. Terpaksa Ryuga naik ke atas ranjang dan mendekati gadis itu.

"Buka selimutnya, Claudia," pintanya dengan suara yang serak.

Claudia pura-pura tak mendengar. Tangisnya kian menjadi. Dia malu. Sumpah. Masa setelah pemanasan tak dilanjutkan ke inti?

Apa yang harus Ryuga lakukan? Suara tangis Claudia menganggu telinganya. Dia biasa menghadapi satu bocah dalam hidupnya. Namun, bocah itu tak menangis seperti Claudia.

"Terserah. Saya nggak peduli kalaupun kamu mati karena kehabisan napas," ujarnya penuh ancaman.

"Pak, jahat banget, sih, mulutnya!" protes Claudia yang sudah membuka selimut tersebut dari wajahnya.

Matanya yang basah membuat bulu mata Claudia kian lentik, hidungnya sedikit memerah dengan anak rambut yang nakal menempel di wajahnya. Claudia cantik, pandangan Ryuga tertuju pada bibir gadis itu yang memerah, seakan meminta Ryuga untuk kembali melumatnya.

"Saya minta maaf. Saya bener-bener nggak bisa," ucap Ryuga dengan tulus.

"Tapi, kenapa? Pak Ryuga takut Clau hamil? Bapak 'kan pake pelapis di 'anu'-nya Bapak," cablak Claudia. "Kalau Bapak maunya langsung, ya udah nanti keluarin di luar."

"Claudia," geram Ryuga tertahankan.

"Apa, Pak Ryuga, apa?" potong Claudia penuh emosi. Dadanya naik turun. Dia hampir saja melepas keperawanannya. Namun, cowok di sampingnya ini tak mau memerawaninya.

"Atau Pak Ryuga takut Clau nggak bisa puasin Bapak? Iya, gitu? Atau karena tubuh Clau nggak sesexy cewek-cewek yang pernah tidur sama Pak Ryuu--

Ucapan Claudia terputus sebab Ryuga lebih dulu membungkam mulutnya lewat bibirnya. Gadis itu terlalu banyak bicara yang bukan-bukan.

Pagutan itu terlepas karena Claudia hampir kehabisan napas. Kening Ryuga menempel di kening Claudia. Napas laki-laki itu juga memburu. Kilat gairah jelas terpancar di mata hitam legamnya.

Ryuga sengaja menurunkan tubuhnya agar bisa menyapa milik Claudia. Cewek itu melenguh.

"Saya ingin kamu, Claudia," kata Ryuga dengan suaranya yang berat.

Claudia tak sedikit pun mengalihkan tatapannya. Dia terlena. Ryuga terlalu memesona. Kulitnya yang terlalu putih untuk ukuran seorang cowok. Matanya yang sipit dan rambut panjang selehernya membuat Ryuga tampak seksi.

"Clau juga," balasnya.

Kepala Ryuga menggeleng. Bibirnya mengulas senyum tipis. Ada yang membuat Ryuga enggan melakukannya.

"Kamu takut. Saya bisa lihat itu di mata kamu."

Yap, itu dia.

Mendengarnya, Claudia tersedak air ludahnya sendiri. Apakah itu terlihat jelas? Sejujurnya, Claudia memang takut karena ini pertama kali baginya.

"Apa alasan kamu ingin tidur dengan saya?"

Alasan bagus apa ya kira-kira yang bisa Claudia gunakan?

***

Bab 2

Bertanya lagi. Ayolah. Claudia seketika berpikir keras. "Clau mau aja, Pak."

Itu saja. Semoga Ryuga percaya. Lagipula bisa-bisanya di saat-saat genting seperti ini muncul pertanyaan itu.

"Saya yakin bukan itu alasan utamanya," tolak Ryuga sambil menyugar rambutnya ke belakang.

Mana ada gadis yang rela melepas keperawanannya begitu saja. Pasti ada sesuatu. Ryuga hanya belum mengendus alasannya.

"Pak, Clau penasaran," ucap Claudia setelah beberapa saat.

"Soal?" Alis Ryuga naik sebelah.

Claudia mendadak mendapatkan ide untuk alasannya. "Okey okey gini ya, Pak. Fyi, Clau ini penulis dengan nama pena CLR. Pernah dengar?"

"Nggak," sahut Ryuga cuek. Kalaupun ada penulis yang Ryuga kenal, itu pasti dari buku bisnis.

Claudia mengibaskan rambutnya. "Biasanya Clau nulis cerita tuh yang aman-aman aja, soal remaja gitu, misalnya kayak judul Beautiful Plan yang baru tamat bulan kemarin. Nah, Clau berencana comeback dengan genre dewasa, Pak, berkat dari saran kenalan Clau."

Cewek itu belum selesai. Ekspresinya serius. "Clau pikir membaca cerita yang anu-anu aja nggak cukup. Clau mau praktik langsungnya. Ya dengan Pak Ryuga malam ini."

Selain cewek gila, Claudia dalah gadis aneh yang pernah Ryuga temui. Cewek manis yang semula tersemat mendadak pudar.

"Clau nggak mau mundur. Clau juga udah bertekad bakal buka segel keperawanan."

Sialan. Jadi, Ryuga terjebak di rasa penasaran cewek itu?

"Saya nggak mau terlibat dalam urusan kamu," beritahu Ryuga.

"Jadi, kita serius nggak jadi making love ini?" tanya Claudia kecewa.

"Nggak."

Ryuga sudah tak berada di atas tubuh Claudia. Itu sama saja menyiksa dirinya sendiri. Salah besar kalau tubuh Claudia tak menarik perhatiannya.

"Bener nih, Pak?" Claudia masih berharap.

"Atau Clau harus nuntasin ini sama orang lain?" lanjutnya.

Jika Claudia sedang memancing perhatian Ryuga, cewek itu berhasil. Badan Ryuga memutar arah padanya.

"Claudia," panggil Ryuga dengan suara beratnya.

"Hmm?" Claudia menyahut lembut. Jari-jari lentiknya menyentuh ujung rambut Ryuga yang sedikit ikal.

"Saya mau bobol keperawanan kamu kalau kamu terima permintaan saya."

"Apa?" Claudia menyahut santai.

"Ayo menikah," ajak Ryuga menatap gadis di bawah kukungannya itu dalam-dalam.

Ini durasi terlama Ryuga mengendalikan dirinya meskipun yang di bawah sana terus berdenyut-denyut.

"No," tolak Claudia mentah-mentah. Tanpa berpikir dua kali.

"Pak Ryuga kolot banget, sih ... Clau nggak akan hamil kali—

"Saya mau hamilin kamu."

"Astaga, Pak, mulutnya."

Mendadak Claudia merasa ngeri. Gairahnya menciut. Dia mendorong dada Ryuga agar cowok itu menyingkir dari atas tubuhnya.

"Nggak jadi deh, Pak, nggak usah."

Perut Claudia seketika mulas. Menikah adalah hal yang sakral. Claudia belum siap untuk itu.

"Kenapa?" heran Ryuga. "Menikah dengan saya adalah pilihan yang bagus, Claudia. Hidup kamu dijamin sejahtera."

Wow, percaya diri sekali. Claudia setuju jika itu menyangkut finansial.

"Lalu, alasan Pak Ryuga menikahi Clau?" Claudia bertanya balik. "Cuma mau ena-ena doang?"

Ryuga mengembuskan napas lelah. "Tentu nggak, Claudia. Kamu pikir otak saya isinya gawang perempuan aja?"

"Ya mana Clau tau," jawabnya sambil mengedikkan bahu.

"Saya tanya, kamu mau menikah dengan saya?"

Keduanya berpandangan lama. Claudia memutus kontak mata yang bisa membuat imannya lemah.

"Nggak. Makasih."

Setelah itu hanya deru napas keduanya yang terdengar. Sampai pada akhirnya Ryuga mengangguk kecil dan bangkit dari tempat tidur. Meninggalkan Claudia dengan gairahnya yang masih tersisa.

Baru menyentuh knop pintu kamar mandi, Ryuga terdiam sesaat. Dia sama sekali tk menolehkan wajahnya, “Saya harap kamu nggak menuntaskannya sama laki-laki lain.”

****

"Clau, lo beneran nggak mau tinggal bareng gue aja?"

Hari ini sudah berapa kali Claudia mendengar tawaran serupa dari teman-temannya. Kalau yang ini Claire Lee, sahabat Claudia sejak kuliah.

"Nggak, Clau udah pindahan ini. Yakali pindah lagi," jawab Clau seraya terkekeh.

"Lo nggak mau pap gitu?" Clara mendelik sebal karena Claudia belum memperlihatkan tempat tinggalnya yang baru.

Seharian ini Claudia sibuk. Sejak pagi dia menempuh perjalanan sekitar tiga jam hingga sampai tiba di kamar loteng. Lalu, tentu Claudia membeli beberapa keperluan yang harus dibeli dan bercengkrama dengan Larissa.

Larissa adalah pemilik kamar loteng ini. Rumahnya cukup luas. Claudia bahkan ditawari untuk tinggal bersama di rumah bawah karena masih memiliki beberapa kamar kosong. Namun, Claudia menolak karena merasa tak enak. Meskipun Larissa adalah kenalan ayahnya, tetap saja segan bagi Claudia untuk menerima tawaran baik tersebut.

"Besok aja, sih. Sekarang udah malem, gelap."

Lebih tepatnya Clau malas, sih. Lagipula tak ada yang menarik dari kamar lotengnya. Pandangan Clau mengedar. Rambut sepunggungnya tersibak angin malam. Claudia hanya menggunakan cardigan tipis. Tangannya merabai kalung pick gitar berwarna hitam yang sudah tiga bulan terpasang di lehernya.

Senyum kecil terbit di bibirnya. Claudia penasaran tentang bagaimana cowok yang hampir membobol keperawanannya itu. Ryuga mungkin tak ingat jika kalung pick gitar miliknya tertinggal. Claudia ingin mengembalikan, semoga saja dia bisa bertemu lagi lain kali.

“Gue denger dari Sam, tempat yang lo tinggalin itu punya sepupunya. Bener?”

Pandangan Claudia turun ke bawah. Kucing jalanan melintas beberapa kali. Ingatkan Claudia untuk membeli makanan kucing nanti. Tubuhnya memutar ke belakang dan bersandar di pembatas pagar. Claudia mengernyit heran.

Seorang cowok tengah duduk dengan satu tangan menahan tubuh ke belakang dan satu tangan memegangi rokok. Tatapannya mengarah pada padanya. Tajam sekali.

Claudia melirik ke kiri dan kanan. Tak ada orang lain selain dirinya. Jadi, cowok itu memperhatikannya?

"Clau, lo masih di sana?"

Sedari tadi Claudia belum menggubris apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Claudia berdekhem. "Claire, udah dulu, ya."

Karena takut pada cowok tersebut, Claudia lebih baik segera masuk ke dalam. Lagipula siapa dia? Bukankah loteng ini seutuhnya milik Claudia? Maksudnya, Larissa menyewakan hanya untuk Claudia.

"Claudia Mada."

Suara itu berhasil membuat Claudia menghentikkan langkahnya. Persis di sebelah cowok itu duduk.

Claudia menolehkan wajah dan cowok itu tengah meliriknya. Dari atas sampai bawah. Tidak sopan!

"A-apa?"

Mengapa Claudia mendadak gugup? Dia mengeratkan cardigan yang dipakainya. Memang salah Claudia yang hanya mengenakan tanktop.

"Tau nama Clau darimana?" Claudia jelas memicing heran.

Cowok itu mendengus. Satu tangan yang bebas dari rokok mengambil sebuah kotak makan di sampingnya.

"Nyokap," jawabnya singkat. "Ambil," titahnya.

"Tante Larissa?" tanya Claudia memastikan.

Cowok itu mengangguk lagi. Detik setelahnya dia berdiri. Claudia tak kaget jika cowok itu lebih jangkung darinya.

"Kamu pasti Dirga anaknya Tante Larissa?"

"Ck, ngapain masih nanya," dengusnya.

Claudia melotot kaget. Bibirnya menyunggingkan senyum. Rasa takut yang semula melingkupinya mendadak sirna.

"Dirga yang dulu kalau main suka jadi anak Clau 'kan?"

Ingatan tentang masa kecil Claudia hadir. Dulu dia cukup sering bermain rumah-rumahan. Jelas ada ayah, ibu, dan anak. Dirgalah yang tak pernah protes dijadikan seorang anak.

"Ngapain dibahas, sih," gumam Dirga memalingkan wajah. Merasa malu dengan masa kecilnya. Kalau tidak salah umurnya masih delapan tahun waktu itu.

"Kamu udah gede sekarang," ucap Claudia tanpa permisi mengusap kepala Dirga pelan.

Baru beberapa detik, Dirga menepis lengan Claudia kelewat kasar. Tenaganya terlalu kuat sampai Claudia tersentak kaget.

"Iya, gue udah gede. Jadi, jangan coba-coba memperlakukan gue sebagai anak kecil," jawabnya ketus.

"Tapi kamu paling suka kalau Clau elus rambut kamu—

"Itu dulu Claudia," potong Dirga dengan berani.

Claudia terdiam sebentar. "Kamu panggil Clau nggak pake "Mbak" lagi?"

***

Bab 3

Langkah Dirga perlahan mendekat. Claudia tak merasa takut. Bagi Claudia, Dirga sudah seperti adiknya sendiri. Sama seperti Aland. Usia keduanya hanya terpaut dua tahun.

"Ah, Mbak Claudia," angguk Dirga. Badannya agak sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan Claudia.

“Apa kabar?” tanyanya dengan terlambat.

“Baik,” jawab Claudia singkat. "Makasih.” Dia menggoyangkan sedikit kotak makan yang diterimanya.

Dirasa tak ada yang ingin dibicarakan lagi, Claudia memutuskan melanjutkan langkahnya. Lagipula suasananya menjadi canggung dan tak nyaman. Namun, baru satu langkah Claudia berjalan, Dirga berhasil membuat langkahnya berhenti.

"Gue sering nongkrong di sini," ucap Dirga sambil mengeluarkan asap putih dari mulutnya.

Itu juga yang membuat Claudia cepat-cepat menjauhkan diri. Claudia benar-benar tidak tahan dengan asap rokok.

"Terus? Apa yang mau kamu omongin?" Claudia tahu Dirga belum sepenuhnya menyampaikan maksud dari ucapannya.

"Lo akan paham nanti, jangan ganggu kesenangan gue."

Setelah mengatakan itu dengan ambigu, Dirga pergi menuruni tangga tanpa berpamitan atau semacamnya.

"Siapa juga yang mau ganggu? Bukan urusan Clau!"

Cewek itu mencebik kesal lalu masuk ke dalam rumah untuk membuka kotak makan pemberian Larissa.

Dia sama sekali tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan Dirga. Masa bodoh. Hidup masing-masing saja. Toh Claudia tak berniat mencampuri urusan bocah seusia Dirga.

Baiklah. Dirga sudah besar dan bisa mengurus dirinya dengan baik.

***

Telat.

Gawat.

Astaga. Seharusnya semalam Claudia tak begadang membenahi beberapa barangnya yang belum ditata. Pagi harinya Claudia kalang kabut untuk pergi ke sekolah. Butuh waktu yang lumayan lama untuk mengeringkan rambutnya menggunakan catokan.

Cewek itu menuruni tangga dengan tergesa. Totebag di bahunya merosot. Map di tangan Claudia cukup berat. Titik-titik keringat membanjiri dahinya.

"Clau!" sapa Larissa yang sedang menyapu di teras rumah.

Otomatis Claudia mendekat untuk menyalami wanita paruh baya tersebut. Inilah sosok Larissa. Dia kenalan lama ayahnya. Baru kemarin Claudia bertemu dengannya setelah kurang lebih empat tahun lamanya Claudia dan keluarganya pindah ke lingkungan baru.

"Tante, Clau berangkat dulu, ya!" pamitnya.

"Clau, naik apa?" Larissa menahannya.

"Eh? Naik ojek online kayaknya, Tante,” jawab Claudia seadanya.

Claudia baru akan mengeluarkan ponselnya untuk memesan, tetapi Larissa mencegah aksinya itu.

"Bareng Dirga aja, dia belum berangkat." Larissa tersenyum. "Dirga, udah siap belum?" panggil Ibunya sambil melirik ke arah pintu.

Bertepatan dengan Dirga yang muncul dengan seragam SMA-nya. Rambut cowok itu sedikit berantakan. Parfum khas cowok menguar. Claudia tak bisa menebak baunya.

"Aku berangkat, Ma," pamit Dirga menyalami Larissa.

"Bareng Claudia aja, ya. Kemarin 'kan Mama udah cerita kalau Claudia ngajar di sekolah kamu," jelasnya. Lalu Larissa menepuk jidatnya pelan. "Eh iya, maksud Mama, Ibu Claudia."

Seketika Claudia memasang senyum canggungnya. Benar dugaannya jika Dirga dan Aland hanya berbeda dua tahun. Aland duduk di bangku kelas sepuluh dan Dirga mungkin memasukki kelas akhir. Namun, Claudia tak menyangka akan mengajar di sekolah anak dari kenalan Sang Ayah.

Kemarin saat bercengkrama, Larissa tak menyebutkan bahwa Dirga bersekolah di tempat Claudia diterima bekerja sebagai seorang guru. Sekarang cowok itu menatapnya aneh.

"Cewek aku udah nunggu, Ma." Terselip nada kesal dalam ucapan Dirga.

"Cewek kamu mulu perasaan. Udah cepet bareng sama Bu Claudia. Kasian kalau telat," perintah Larissa.

“Dulu waktu Claudia pindah dan nggak pernah main ke sini lagi, kamu sampe nolak main sama orang lain,” beber Larissa.

Ingginnya Dirga menyahut, “Bongkar aja terus, bongkarrr.”

Begitulah Ibunda Ratu. Tak dapat ditolak keinginannya. Dirga mengangguk lesu. Dia tak mau Larissa lebih banyak membuka aibnya satu persatu.

Melalui lirikan matanya, Dirga menyuruh Claudia untuk naik ke motor vespanya. Untung Dirga selalu mencuci motornya di hari minggu sehingga pespa berwarna hitam kesayangannya tampak bersih dan mengkilau.

"Tante Larissa, Clau berangkat dulu," pamit Claudia benar-benar pamit.

Buru-buru Claudia mengikuti Dirga sebelum cowok itu berubah pikiran. Namun, Claudia belum berani naik sebelum Dirga menyuruhnya.

Tampaknya Dirga sedang mengirim pesan pada seseorang. Claudia tebak, pasti pada pacarnya. Claudia meringis karena merasa tidak enak.

"Sorry, ya, Clau ngerepotin," ungkap Claudia.

Dirga tak menggubris. Dia menyalakan motor vespanya dan menyerahkan helm bogo milik pacarnya.

Cepat-cepat Claudia menerimanya meskipun cukup kerepotan. Dirga sama sekali tak berniat membantu sebelum Larissa berdekhem keras. Ternyata Larissa memperhatikan sejak tadi.

"Siniin mapnya!"

Itu namanya merebut paksa. Claudia mencibir. Namun, itu membantunya. Claudia memegangi tas Dirga dan naik ke atas vespa.

"Cewek gue cemburuan, jangan pegang-pegang gue." Ini peringatan.

Claudia paham. Dia juga tak berniat macam-macam. Apalagi Dirga hanyalah bocah SMA. Sekalipun Claudia jomlo, dia akan memacari cowok lajang dan lebih tertarik pada laki-laki berusia matang.

Contohnya Ryuga.

Oh, tidak. Mengapa Claudia mengingat cowok itu lagi? Tapi, sejujurnya semenjak malam itu Claudia jadi terus membayangkannya.

Dari kaca spion diam-diam Dirga memperhatikan Claudia. Dalam hatinya Dirga merasa berdebar. Cewek itu semakin cantik setelah dewasa. Dirga tak menampik jika sejak dulu dia memang memiliki rasa.

Mungkin saat Claudia pindah. Dirga baru menyadari perasaannya. Saat itu Dirga merasa marah karena cewek itu tak berpamitan padanya. Dirga mencoba memahami maksud kepindahan cewek itu. Namun, tetap saja Dirga masih merasa kesal.

“Dirga, kamu ada di kelas mana?” Tiba-tiba Claudia mengajukan tanya.

“Ngapain, sih, nanya-nanya?” Dirga jelas tak suka. Inginnya Claudia meminta maaf dulu padanya.

“Ya siapa tau Clau ngajar di kelas kamu,” jawabnya sambil manyun. “Jangan lupa panggil Bu Claudia.”

“Pengin banget gue panggil gitu?” dengus Dirga yang kembali melirik spion.

“Udah seharusnya tau,” cibir Claudia. “Nanti gimana kalau misalnya ternyata Clau ngajar kelas kamu? Kita harus saling kenal atau pura-pura nggak kenal?”

“Nggak kenal,” jawab Dirga tanpa pikir panjang. Sepertinya masih ada yang ingin Claudia katakan, entah bagaimana cara menghentikkan kicauan cewek itu.

“Kamu punya pacar Dirga? Kalian satu sekolah? Satu kelas?” Claudia tak bisa menahan rasa penasarannya. Kedua sudut bibirnya tersenyum. Claudia memandangi punggung belakang Dirga yang lebar. “Nggak kerasa kamu udah gede, punya pacar, bisa bawa motor …,” jedanya.

Dirga balas berdecak, “Apaan, sih, lebay deh.”

“Kamu tumbuh dengan baik,” sambung Claudia seraya menepuk pelan bahu Dirga berulang-ulang. Seolah mengabaikan peringatan Dirga untuk tak menyentuhnya. Perasaan Dirga menjadi bergemuruh.

“Bisa diem aja nggak?” ketus Dirga.

Kali ini ada lampu merah. Vespa Dirga berhenti paling depan. Claudia seketika bungkam. Dia tahu dirinya terlalu banyak bicara.

“Widihh, gandengan baru nih, Ga!” celetuk seseorang di samping vespa Dirga.

“Bosen hidup lo?” ancam Dirga melirik sebal ke arah pengemudi yang menyeletuk barusan.

Prasetya Gemintang. Sohib SMA-nya. Pras, ya panggil itu saja. Sekarang cowok itu bagaikan kedapatan sesuatu yang menakjubkan saat Claudia menolehkan wajah ke arahnya.

“Kenapa lo liat-liat?” seru Dirga galak.

“Cuci mata. Cantik banget, boleh tau siapa namanya?” Dengan polosnya Pras menyodorkan tangan.

Hei, dia sepertinya lupa tengah berada di jalanan. Karena tak ingin mempermalukan cowok itu, Claudia ragu-ragu membalas jabatan tangannya.

“Claudia.”

“Pras.”

“Boleh minta nomor yang bisa dihubungi?”

“Pras.” Itu Dirga yang memanggil.

“Eh, nggak ada yang marah ‘kan, kalau gue ngajak lo kenalan?”

“Pras!"

“Claudia udah ada yang punya belum?”

“Prassss!” ucap Dirga yang kesekian lagi dengan ngegas. Pras menatapnya, “Apa?” Tatapannya datar.

Urat-urat di leher Dirga tampak terlihat. Cowok itu memasang wajah yang tidak ramah. “Punya gue. Paham?”

Hanya ada sahutan knalpot yang siap untuk melaju. Lampu kini sudah hijau dan Dirga tanpa berlama-lama melajukan vespanya. Di belakang sana, Claudia hanya terdiam. Tak berniat menanyakan apa pun pada Dirga.

Yang Claudia pahami, cowok itu berusaha melindunginya. Awww, Dirga adalah adik yang manis. Jika Claudia bisa, dia ingin menukar Aland –adik kandungnya dengan Dirga saja.

Bisa tidak, ya?

Ah, Claudia ganti pertanyaannya.

Dirga mau tidak, ya?

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED