"Namaku Elis Lazuardi. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa menikah hari ini," usulnya dengan penuh percaya diri.
Usulannya yang berani membuat para tamu terkejut, sehingga mendorong beberapa orang untuk mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.
"Nona Elis, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Mengingat kecacatanku, aku mungkin tidak dapat memberikan masa depan yang kamu impikan," jawab pria itu terang-terangan, tanpa menyembunyikan kondisinya, dan mendesaknya dengan lembut untuk memikirkan ulang keputusannya.
"Aku sudah mengambil keputusan," jawab Elis dengan penuh tekad.
"Namaku Joshua," ucap Joshua saat memperkenalkan diri.
Menyaksikan tekad Elis, Joshua Ordinus menggenggam tangan wanita itu dan menyampaikan kekhawatirannya, "Aku khawatir kamu akan menyesali keputusanmu ini kelak."
Elis memilih untuk tidak menanggapi. Dia yakin dengan keputusannya. Dulu, dia hanya memfokuskan diri untuk menikah dengan Tio yang tidak pernah benar-benar membalas cintanya. Sekarang, tidak lagi penting dengan siapa dia menikah.
Setelah menjalani upacara pernikahan, Elis dan Joshua yang menyelesaikan formalitas pendaftaran pernikahan di Kantor Catatan Sipil, kini telah terikat oleh ikatan pernikahan, resmi bersatu sebagai suami istri.
Memegang buku nikah di tangannya, Elis merasakan kelegaan yang mendalam.
Tio telah menghancurkan hatinya, dan dia bertekad untuk tidak pernah kembali pada pria itu.
Kalaupun dia tidak menikah dengan Keluarga Wintara, bukankah ayahnya masih memiliki Megan Lazuardi?
Dia sangat memahami adiknya, Megan. Sebagai seseorang yang didorong oleh keserakahan, bagaimana Megan bisa menahan godaan untuk menjadi istri Tio dan anggota Keluarga Wintara?
Karena itu, menikah dengan Joshua merupakan pelarian sempurna Elis dari cengkeraman keluarganya. Dia tidak berniat untuk kembali ke rumahnya.
Saat Elis merenung menatap buku nikahnya, Joshua bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan? Menyesali keputusanmu menikah dengan pria cacat?"
Elis menggelengkan kepala, memegang kursi roda suaminya, dan menjawab, "Menurutku ini adalah keputusan yang tepat."
Joshua tersenyum tipis, meski matanya menunjukkan sedikit skeptisisme dan ketidakpercayaan.
Bagaimana mungkin ada wanita yang benar-benar ingin menikah dengan pria cacat? Dia mengira wanita itu hanya bersandiwara, sesuatu yang tidak akan bertahan selamanya.
Dia membutuhkan seseorang menjadi pengantinnya untuk sementara waktu agar bisa mengalihkan perhatian keluarganya sementara dia mengejar tujuannya sendiri. Dia memutuskan, sebaiknya dia melihat apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan.
Elis membantu Joshua masuk ke mobil, dan mereka pergi ke rumah pria itu.
Rumah Joshua mewah, dilengkapi dengan taman dan kolam renang, dan dikelola oleh seorang kepala pelayan yang mengenakan tuksedo dan pelayan berseragam.
Saat Elis menginjakkan kaki ke karpet wol yang mewah, dia akhirnya menyadari bahwa suami barunya jauh dari kata biasa.
Kepala pelayan, Dimas Listiono, mendekati mereka dengan hormat dan bertanya, "Tuan Joshua, apakah ini istri Anda?"
Saat mengamati rumah mewah dan mengingat nama lengkap suami barunya, Elis tiba-tiba sadar.
Keluarga Ordinus adalah keluarga paling berpengaruh di kota, dan Joshua Ordinus merupakan tokoh yang sangat menonjol di antara rekan-rekannya karena kecerdasan bisnis dan bakatnya yang luar biasa. Joshua salah satu orang terkaya di dunia. Namun, setelah kecelakaan mobil yang menyebabkan kakinya patah setahun lalu, Joshua menghilang dari pandangan publik dan pencapaiannya sebelumnya sebagian besar terlupakan.
Jadi, dia menikah dengan Joshua Ordinus, sosok legendaris di kota?
Elis teringat pernah mendengar rumor tentang pertunangan Joshua dengan seorang gadis dari Keluarga Faldian. Pengantin wanita yang menghilang pada hari pernikahannya pastilah putri Keluarga Faldian itu.
Elis tidak terlalu memikirkan saat dia mendengar nama lengkap Joshua di Kantor Catatan Sipil tadi. Jika dia mengetahui latar belakangnya lebih awal, dia tidak akan berani mengajaknya menikah.
Joshua menyadari keterkejutan dan kepanikan di wajah Elis, tetapi tetap diam. Dia masih ragu apakah wanita itu benar-benar tidak mengenalinya. Lagi pula, semua orang sudah mengetahui dia cacat.
"Ini istriku, namanya Elis Lazuardi. Mulai sekarang, dia akan menjadi nyonya rumah di sini." Joshua memperkenalkannya dengan tegas.
"Yohana Faldian kabur di hari pernikahan kami karena tidak ingin menikah dengan pria cacat," tambah Joshua terus terang.
"Yohana Faldian kabur di hari pernikahan?" Dimas mengungkapkan keterkejutannya. Keluarga Faldian sangat ingin menjalin hubungan dengan Keluarga Ordinus melalui pernikahan, mendorong Joshua untuk menikahi Yohana.
Namun, pada hari pernikahan, pengantin wanita menghilang. Bukankah ini sama saja dengan sengaja menghina Joshua?
Dimas bersimpati padanya dan memberikan penghiburan, "Tuan, mungkin kepergiannya adalah yang terbaik untuk Anda. Sepertinya Anda telah menemukan orang yang tepat."
Elis tidak menunjukkan kepedulian terhadap kecacatan Joshua dan bersedia menikah dengannya. Dimas memiliki kesan yang baik tentang Elis.
Melihat kaki Joshua, Elis merasakan gelombang simpati melanda dirinya. Joshua yang dulu pernah berada di puncak kesuksesan kini tampak begitu rentan. Hanya karena pria ini cacat, pengantin wanitanya meninggalkannya sendirian dengan kejam di panggung, tidak menunjukkan rasa hormat padanya sedikit pun. Pasti Joshua lebih patah hati dibandingkan yang dia rasakan saat pernikahan tadi.
Mendekati Joshua, Elis meraih tangannya dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Tenang saja. Kita sudah menjadi suami istri sekarang. Aku akan menjagamu sampai kita tutup usia nanti."
Ekspresi Joshua menegang. Mungkinkah Elis bersungguh-sungguh berjanji akan menjaganya seumur hidup? Dia meragukan ketulusannya, mengira wanita ini hanya menunjukkan belas kasihan.
Hanya diam, Joshua menggerakkan kursi rodanya menuju ruang kerja di lantai satu.
"Saya minta maaf, Nyonya," ucap Dimas dengan nada meminta maaf. "Sejak kecelakaan yang menimpanya, dia menjadi lebih temperamental."
"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Elis sambil melambaikan tangannya. Siapa pun dalam posisi Joshua pasti akan mengalami perubahan temperamen.
Dia kemudian mengikuti Dimas ke lantai atas, menuju ke sebuah kamar di lantai dua.
——
"Tuan."
Di ruang kerja tersebut berdiri seorang pria botak bernama Vandro Bramanda, dia mengenakan kemeja hitam ketat yang menonjolkan otot-ototnya yang kuat.
Dengan hormat, Vandro menyalakan korek gas dan menyalakan cerutu untuk Joshua.
"Yohana telah pergi ke luar negeri. Keluarga Faldian berusaha mati-matian untuk mendapatkan solusi."
"Mereka telah mengambil enam puluh miliar dan lima proyek besar dariku. Beginikah cara mereka membalas budi padaku?"
Joshua meniupkan asap dan berkata dengan santai, "Jika aku tidak memberi mereka pelajaran, orang lain akan menganggapku sebagai orang yang mudah ditindas. Keluarga Faldian perlu mendapatkan pelajaran atas insiden ini."
"Apakah Anda ingin kami membawa kembali Yohana?" tanya Vandro sambil mengangguk. "Mengenai istri baru Anda, apakah Anda ingin memperkenalkannya pada orang-orang kita?"
"Tidak perlu."
Joshua dengan cerutu terkatup di antara giginya, mengangkat dokumen dari meja dan berjalan ke jendela.
Kursi rodanya yang disimpan di sudut ruangan, diabaikan, saat dia berjalan dengan mantap di lantai.
Dokumen yang ada di tangannya merinci seluruh kehidupan Elis, dari masa kecilnya hingga kehidupan kampusnya, bahkan termasuk kisah cintanya dengan Tio.
Joshua membolak-balik halamannya dengan santai dan berkata, "Wanita biasa. Dia menikah denganku semata-mata demi uangku."
Dulu, Keluarga Ordinus telah mengumumkan mereka mencari wanita yang tepat untuk menjadi istri Joshua, bertujuan hanya untuk mendapatkan ahli waris.
Setelah pengumuman tersebut, tidak ada keluarga kaya yang ingin menikahkan putri mereka dengannya, kecuali Keluarga Faldian yang biasa memperkaya diri dengan menikahkan putri keluarga mereka.
Tujuan Keluarga Faldian sangat jelas, menukar putri mereka dengan sumber daya dan uang.
Vandro tidak melihat alasan lain bagi Elis untuk menikah dengan Joshua selain demi mendapatkan keuntungan finansial.
Namun, ada yang tidak beres. "Awalnya, dia akan menikah dengan Tio Wintara."
"Wintara? Keluarga Wintara yang terkenal itu?" Joshua mengangkat alis.
"Ya, tapi rupanya, pengantin pria kabur untuk bertemu kembali dengan mantan pacarnya setelah menerima panggilan telepon."
Vandro berhenti sejenak, lalu mulai berspekulasi, "Mungkin dia menikah dengan Anda hanya untuk membuat kesal Tio Wintara."
Joshua berhenti membaca dokumen di tangannya dan menatap Vandro dengan sedikit kesal. "Kamu terlalu dangkal. Dengan menikah denganku, dia akan mendapatkan lebih banyak keuntungan. Itulah alasan sesungguhnya kenapa dia menikah denganku terlepas dari kecacatanku."
Di mata Joshua, Elis hanya belum menunjukkan sifat aslinya. Akan tetapi, dia tidak keberatan dengan ketertarikan wanita itu pada uangnya.
Dia membutuhkan seorang istri untuk menenangkan keluarganya. Jika Elis menikah dengannya demi keuntungan, itu akan mempermudah perceraian mereka di masa depan.
——
Duduk di tepi tempat tidur, Elis menelusuri ponselnya dan memperhatikan topik yang sedang tren.
"Pengantin Pria Kabur untuk Menemui Mantannya."
"Pengantin Wanita Menikah dengan Pria Asing untuk Membuat Jengkel Pengantin Prianya yang Kabur."
Dia melihat-lihat bagian komentar dengan santai. Publik menganggap seluruh situasi ini tidak dapat dipercaya dan tindakan kedua belah pihak tidak masuk akal. Meskipun demikian, diskusi membuat nama Elis menjadi dikenal banyak orang.
Beberapa bahkan mengetahui bahwa dia adalah seorang pemain biola di sebuah orkes dan menemukan video lamanya saat tampil di panggung.
Merasakan nostalgia, Elis tidak dapat menahan diri untuk menonton video itu. Tepat pada saat ini, Tio menelepon. "Elis, kamu di mana? Ayo bertemu dan mengobrol."