Bab 1

"Kamu mau pergi ke mana?"

Di tengah sebuah pesta pernikahan, Elis Lazuardi panik saat dia meraih pergelangan tangan Tio Wintara untuk menghentikannya pergi, kedua matanya dipenuhi permohonan.

Aula perjamuan dipenuhi oleh keluarga dan teman-teman dari kedua belah pihak, semuanya duduk dan menunggu. Pembawa acara pernikahan telah mengajukan pertanyaan pada Tio tentang kesediaannya menikahi Elis. Alih-alih menjawab, dia mengabaikan pembawa acara, mengangkat telepon yang masuk, dan kemudian tiba-tiba berusaha pergi.

"Kesya tahu tentang pernikahan kita, dan sekarang dia mengancam akan bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Kamu tahu dia mengidap depresi, kan? Aku harus pergi menyelamatkannya," jelas Tio dengan nada tidak sabar dan mendorong Elis menjauh.

Dorongan dari Tio menyebabkan pergelangan kaki Elis terkilir, dan saat dia terjatuh ke lantai, dia mengulurkan tangannya dengan canggung, masih berusaha untuk menahan kepergian pria itu.

"Hari ini adalah hari pernikahan kita! Apa yang harus kulakukan jika kamu pergi? Kesya Benhur benar-benar telah mengkhianatimu sebelumnya, apa kamu sudah lupa tentang itu? Dia sudah membuatmu sangat menderita, kenapa kamu masih ingin menemuinya sekarang?"

Sorot mata Tio semakin dingin. "Kamu tidak berhak menghakimi atas apa yang terjadi antara aku dan Kesya. Tidak peduli seberapa besar kesalahan atau rasa sakit yang dia timbulkan, kamu tidak bisa dibandingkan dengannya!"

Rasa sakit menghantam hati Elis. Dia menyadari bahwa Tio tidak pernah benar-benar melupakan Kesya. Bagi pria itu, dia tidak akan pernah sepenting Kesya.

"Kesalahan apa yang telah aku perbuat sampai aku pantas menerima ini? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kumohon padamu, tunggulah sampai pernikahan selesai. Kita sebentar lagi akan bertukar cincin. Kamu bisa pergi setelah itu."

Tio menghindari tangannya dan berkata dengan jijik, "Kamu lebih mementingkan pernikahanmu daripada nyawa orang yang masih hidup. Kamu benar-benar tidak berperasaan! Pernikahan ini dibatalkan."

Tanpa melirik wajah pucat Elis, dia melangkah menjauh dari panggung yang didekorasi dengan indah, mengabaikan tatapan bingung para tamu di sekitarnya.

Saat pengantin pria pergi, para tamu menjadi gempar.

"Jangan, kumohon jangan tinggalkan aku, Tio! Apa yang harus kulakukan jika kamu pergi?" Elis berteriak putus asa sambil duduk dengan menyedihkan di lantai. Tubuhnya gemetar hebat, air mata merusak riasannya yang cantik.

Tanpa menghiraukan martabatnya, pria yang dicintainya selama tiga tahun telah memilih wanita lain tanpa berpikir dua kali di hari pernikahan mereka. Tio dipenuhi dengan pemikiran tentang Kesya yang kasihan dan tak berdaya, tetapi sepenuhnya tidak peduli terhadap betapa dia merasa kehilangan arah dan terhina saat ditinggal sendirian di panggung.

Di sekelilingnya, banyak sekali mata yang menatap ke arahnya, ada yang mengejek, ada yang mengasihani, dan bahkan ada yang tertawa di atas penderitaannya. Elis belum pernah merasakan siksaan seperti ini dalam hidupnya!

Ayahnya, Leno Lazuardi, menghampirinya. Dia mengharapkan kenyamanan, tetapi sebaliknya, ayahnya memarahinya dengan kejam, "Kamu bahkan tidak bisa mempertahankan seorang pria. Benar-benar tidak berguna!" Setelah memarahinya, Leno pergi bersama istrinya, Gita Ladika, tanpa melihat ke belakang.

Tepat pada saat ini, adiknya, Megan Lazuardi, muncul dari kerumunan sambil menyeringai. "Kak, kamu sungguh tidak berguna! Pengantin priamu kabur, dan sekarang kamu jadi bahan tertawaan orang banyak. Bahkan aku merasa malu untukmu. Bayangkan bagaimana perasaan Ibu dan Ayah." Setelah mengatakan ini, dia berbalik dan pergi.

Seluruh anggota keluarga Elis pergi satu per satu, meninggalkannya sendirian. Awalnya kedua orang tua Tio merasa bersalah, tetapi setelah menyaksikan reaksi keluarga Elis, semua rasa bersalah mereka lenyap.

"Bahkan orang tuanya sendiri tidak peduli padanya. Sepertinya pengantin wanita ini bermasalah. Tidak heran Tio ingin pergi."

"Ya, jika dia adalah pasangan yang baik, kenapa tunangannya sendiri meninggalkannya?"

"Mungkinkah dia berselingkuh? Kalau tidak, bagaimana bisa pengantin pria pergi begitu saja seperti tadi?"

Gumaman kritik dari para tamu di sekitar Elis semakin keras.

Tiba-tiba, terdengar suara berisik tidak jauh di dekatnya.

Saat menoleh, Elis melihat seorang pria berjas duduk sendirian di kursi roda. Pembawa acara tampak bingung saat memandang pria itu dan bertanya, "Di mana pengantin wanitamu?"

Elis menyeka air matanya saat dia menghentikan seorang anggota staf yang lewat dan bertanya, "Pria itu juga pengantin pria, kan? Di mana pengantin wanitanya?"

Anggota staf tersebut meliriknya dan menjawab, "Pengantin wanita tidak muncul. Kudengar alasannya karena dia tidak terima menikah dengan pria yang cacat."

"Selama ini dia menunggu kedatangannya di sini?"

Anggota staf itu mengangguk sebagai jawaban.

Pengantin pria yang berkursi roda itu menghadap ke arah Elis, dan jarak mereka cukup jauh. Dia tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi dia mengerti betapa sakitnya ditinggal sendirian.

Mereka berdua sama-sama jiwa malang yang ditinggalkan.

Setelah beberapa saat merenung, pandangan penuh tekad terlihat di mata Elis.

Dia telah mencintai Tio selama tiga tahun, tetapi pria itu telah mengkhianatinya. Kenapa dia harus tetap setia padanya? Dia menyadari dia sama sekali tidak perlu bersama Tio.

Ketika dia tiba-tiba berdiri, para tamu yang tadi berbisik dan mengejeknya terdiam. Semua mata langsung terfokus padanya saat Elis mengangkat ujung gaunnya dan dengan percaya diri berjalan menghampiri pria berkursi roda itu.

Pemandangan seorang pengantin wanita dengan gaun pengantin berwarna putih mendekat membuat para tamu pengantin pria itu sama-sama tercengang.

Mendengar suara gemeresik gaun Elis, pria berkursi roda itu berbalik secara perlahan.

Elis berhenti dan menatap pria tampan di hadapannya, kilatan keterkejutan terlihat di matanya. Kemudian, dia mengulurkan tangannya dan berkata, "Halo, kudengar kamu sedang membutuhkan seorang pengantin wanita. Pengantin priaku baru saja meninggalkanku. Bagaimana kalau kita menikah?"

Bab 2

"Namaku Elis Lazuardi. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa menikah hari ini," usulnya dengan penuh percaya diri.

Usulannya yang berani membuat para tamu terkejut, sehingga mendorong beberapa orang untuk mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.

"Nona Elis, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Mengingat kecacatanku, aku mungkin tidak dapat memberikan masa depan yang kamu impikan," jawab pria itu terang-terangan, tanpa menyembunyikan kondisinya, dan mendesaknya dengan lembut untuk memikirkan ulang keputusannya.

"Aku sudah mengambil keputusan," jawab Elis dengan penuh tekad.

"Namaku Joshua," ucap Joshua saat memperkenalkan diri.

Menyaksikan tekad Elis, Joshua Ordinus menggenggam tangan wanita itu dan menyampaikan kekhawatirannya, "Aku khawatir kamu akan menyesali keputusanmu ini kelak."

Elis memilih untuk tidak menanggapi. Dia yakin dengan keputusannya. Dulu, dia hanya memfokuskan diri untuk menikah dengan Tio yang tidak pernah benar-benar membalas cintanya. Sekarang, tidak lagi penting dengan siapa dia menikah.

Setelah menjalani upacara pernikahan, Elis dan Joshua yang menyelesaikan formalitas pendaftaran pernikahan di Kantor Catatan Sipil, kini telah terikat oleh ikatan pernikahan, resmi bersatu sebagai suami istri.

Memegang buku nikah di tangannya, Elis merasakan kelegaan yang mendalam.

Tio telah menghancurkan hatinya, dan dia bertekad untuk tidak pernah kembali pada pria itu.

Kalaupun dia tidak menikah dengan Keluarga Wintara, bukankah ayahnya masih memiliki Megan Lazuardi?

Dia sangat memahami adiknya, Megan. Sebagai seseorang yang didorong oleh keserakahan, bagaimana Megan bisa menahan godaan untuk menjadi istri Tio dan anggota Keluarga Wintara?

Karena itu, menikah dengan Joshua merupakan pelarian sempurna Elis dari cengkeraman keluarganya. Dia tidak berniat untuk kembali ke rumahnya.

Saat Elis merenung menatap buku nikahnya, Joshua bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan? Menyesali keputusanmu menikah dengan pria cacat?"

Elis menggelengkan kepala, memegang kursi roda suaminya, dan menjawab, "Menurutku ini adalah keputusan yang tepat."

Joshua tersenyum tipis, meski matanya menunjukkan sedikit skeptisisme dan ketidakpercayaan.

Bagaimana mungkin ada wanita yang benar-benar ingin menikah dengan pria cacat? Dia mengira wanita itu hanya bersandiwara, sesuatu yang tidak akan bertahan selamanya.

Dia membutuhkan seseorang menjadi pengantinnya untuk sementara waktu agar bisa mengalihkan perhatian keluarganya sementara dia mengejar tujuannya sendiri. Dia memutuskan, sebaiknya dia melihat apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan.

Elis membantu Joshua masuk ke mobil, dan mereka pergi ke rumah pria itu.

Rumah Joshua mewah, dilengkapi dengan taman dan kolam renang, dan dikelola oleh seorang kepala pelayan yang mengenakan tuksedo dan pelayan berseragam.

Saat Elis menginjakkan kaki ke karpet wol yang mewah, dia akhirnya menyadari bahwa suami barunya jauh dari kata biasa.

Kepala pelayan, Dimas Listiono, mendekati mereka dengan hormat dan bertanya, "Tuan Joshua, apakah ini istri Anda?"

Saat mengamati rumah mewah dan mengingat nama lengkap suami barunya, Elis tiba-tiba sadar.

Keluarga Ordinus adalah keluarga paling berpengaruh di kota, dan Joshua Ordinus merupakan tokoh yang sangat menonjol di antara rekan-rekannya karena kecerdasan bisnis dan bakatnya yang luar biasa. Joshua salah satu orang terkaya di dunia. Namun, setelah kecelakaan mobil yang menyebabkan kakinya patah setahun lalu, Joshua menghilang dari pandangan publik dan pencapaiannya sebelumnya sebagian besar terlupakan.

Jadi, dia menikah dengan Joshua Ordinus, sosok legendaris di kota?

Elis teringat pernah mendengar rumor tentang pertunangan Joshua dengan seorang gadis dari Keluarga Faldian. Pengantin wanita yang menghilang pada hari pernikahannya pastilah putri Keluarga Faldian itu.

Elis tidak terlalu memikirkan saat dia mendengar nama lengkap Joshua di Kantor Catatan Sipil tadi. Jika dia mengetahui latar belakangnya lebih awal, dia tidak akan berani mengajaknya menikah.

Joshua menyadari keterkejutan dan kepanikan di wajah Elis, tetapi tetap diam. Dia masih ragu apakah wanita itu benar-benar tidak mengenalinya. Lagi pula, semua orang sudah mengetahui dia cacat.

"Ini istriku, namanya Elis Lazuardi. Mulai sekarang, dia akan menjadi nyonya rumah di sini." Joshua memperkenalkannya dengan tegas.

"Yohana Faldian kabur di hari pernikahan kami karena tidak ingin menikah dengan pria cacat," tambah Joshua terus terang.

"Yohana Faldian kabur di hari pernikahan?" Dimas mengungkapkan keterkejutannya. Keluarga Faldian sangat ingin menjalin hubungan dengan Keluarga Ordinus melalui pernikahan, mendorong Joshua untuk menikahi Yohana.

Namun, pada hari pernikahan, pengantin wanita menghilang. Bukankah ini sama saja dengan sengaja menghina Joshua?

Dimas bersimpati padanya dan memberikan penghiburan, "Tuan, mungkin kepergiannya adalah yang terbaik untuk Anda. Sepertinya Anda telah menemukan orang yang tepat."

Elis tidak menunjukkan kepedulian terhadap kecacatan Joshua dan bersedia menikah dengannya. Dimas memiliki kesan yang baik tentang Elis.

Bab 3

Melihat kaki Joshua, Elis merasakan gelombang simpati melanda dirinya. Joshua yang dulu pernah berada di puncak kesuksesan kini tampak begitu rentan. Hanya karena pria ini cacat, pengantin wanitanya meninggalkannya sendirian dengan kejam di panggung, tidak menunjukkan rasa hormat padanya sedikit pun. Pasti Joshua lebih patah hati dibandingkan yang dia rasakan saat pernikahan tadi.

Mendekati Joshua, Elis meraih tangannya dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Tenang saja. Kita sudah menjadi suami istri sekarang. Aku akan menjagamu sampai kita tutup usia nanti."

Ekspresi Joshua menegang. Mungkinkah Elis bersungguh-sungguh berjanji akan menjaganya seumur hidup? Dia meragukan ketulusannya, mengira wanita ini hanya menunjukkan belas kasihan.

Hanya diam, Joshua menggerakkan kursi rodanya menuju ruang kerja di lantai satu.

"Saya minta maaf, Nyonya," ucap Dimas dengan nada meminta maaf. "Sejak kecelakaan yang menimpanya, dia menjadi lebih temperamental."

"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Elis sambil melambaikan tangannya. Siapa pun dalam posisi Joshua pasti akan mengalami perubahan temperamen.

Dia kemudian mengikuti Dimas ke lantai atas, menuju ke sebuah kamar di lantai dua.

——

"Tuan."

Di ruang kerja tersebut berdiri seorang pria botak bernama Vandro Bramanda, dia mengenakan kemeja hitam ketat yang menonjolkan otot-ototnya yang kuat.

Dengan hormat, Vandro menyalakan korek gas dan menyalakan cerutu untuk Joshua.

"Yohana telah pergi ke luar negeri. Keluarga Faldian berusaha mati-matian untuk mendapatkan solusi."

"Mereka telah mengambil enam puluh miliar dan lima proyek besar dariku. Beginikah cara mereka membalas budi padaku?"

Joshua meniupkan asap dan berkata dengan santai, "Jika aku tidak memberi mereka pelajaran, orang lain akan menganggapku sebagai orang yang mudah ditindas. Keluarga Faldian perlu mendapatkan pelajaran atas insiden ini."

"Apakah Anda ingin kami membawa kembali Yohana?" tanya Vandro sambil mengangguk. "Mengenai istri baru Anda, apakah Anda ingin memperkenalkannya pada orang-orang kita?"

"Tidak perlu."

Joshua dengan cerutu terkatup di antara giginya, mengangkat dokumen dari meja dan berjalan ke jendela.

Kursi rodanya yang disimpan di sudut ruangan, diabaikan, saat dia berjalan dengan mantap di lantai.

Dokumen yang ada di tangannya merinci seluruh kehidupan Elis, dari masa kecilnya hingga kehidupan kampusnya, bahkan termasuk kisah cintanya dengan Tio.

Joshua membolak-balik halamannya dengan santai dan berkata, "Wanita biasa. Dia menikah denganku semata-mata demi uangku."

Dulu, Keluarga Ordinus telah mengumumkan mereka mencari wanita yang tepat untuk menjadi istri Joshua, bertujuan hanya untuk mendapatkan ahli waris.

Setelah pengumuman tersebut, tidak ada keluarga kaya yang ingin menikahkan putri mereka dengannya, kecuali Keluarga Faldian yang biasa memperkaya diri dengan menikahkan putri keluarga mereka.

Tujuan Keluarga Faldian sangat jelas, menukar putri mereka dengan sumber daya dan uang.

Vandro tidak melihat alasan lain bagi Elis untuk menikah dengan Joshua selain demi mendapatkan keuntungan finansial.

Namun, ada yang tidak beres. "Awalnya, dia akan menikah dengan Tio Wintara."

"Wintara? Keluarga Wintara yang terkenal itu?" Joshua mengangkat alis.

"Ya, tapi rupanya, pengantin pria kabur untuk bertemu kembali dengan mantan pacarnya setelah menerima panggilan telepon."

Vandro berhenti sejenak, lalu mulai berspekulasi, "Mungkin dia menikah dengan Anda hanya untuk membuat kesal Tio Wintara."

Joshua berhenti membaca dokumen di tangannya dan menatap Vandro dengan sedikit kesal. "Kamu terlalu dangkal. Dengan menikah denganku, dia akan mendapatkan lebih banyak keuntungan. Itulah alasan sesungguhnya kenapa dia menikah denganku terlepas dari kecacatanku."

Di mata Joshua, Elis hanya belum menunjukkan sifat aslinya. Akan tetapi, dia tidak keberatan dengan ketertarikan wanita itu pada uangnya.

Dia membutuhkan seorang istri untuk menenangkan keluarganya. Jika Elis menikah dengannya demi keuntungan, itu akan mempermudah perceraian mereka di masa depan.

——

Duduk di tepi tempat tidur, Elis menelusuri ponselnya dan memperhatikan topik yang sedang tren.

"Pengantin Pria Kabur untuk Menemui Mantannya."

"Pengantin Wanita Menikah dengan Pria Asing untuk Membuat Jengkel Pengantin Prianya yang Kabur."

Dia melihat-lihat bagian komentar dengan santai. Publik menganggap seluruh situasi ini tidak dapat dipercaya dan tindakan kedua belah pihak tidak masuk akal. Meskipun demikian, diskusi membuat nama Elis menjadi dikenal banyak orang.

Beberapa bahkan mengetahui bahwa dia adalah seorang pemain biola di sebuah orkes dan menemukan video lamanya saat tampil di panggung.

Merasakan nostalgia, Elis tidak dapat menahan diri untuk menonton video itu. Tepat pada saat ini, Tio menelepon. "Elis, kamu di mana? Ayo bertemu dan mengobrol."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED