Langkah kaki Aurora terdengar mantap menapaki marmer putih di lorong rumah mewahnya yang lapang.
Baru saja pulang dari kantor, penampilannya tetap rapi dan memesona, meski hari sudah menjelang sore.
Ia mengenakan blouse satin warna gading dengan potongan V-neck yang anggun namun cukup berani menampilkan sedikit belahan dada.
Blouse itu dimasukkan rapi ke dalam celana panjang high-waist berwarna navy, membentuk lekuk pinggangnya yang ramping dan mempertegas siluet tubuh semoknya.
Sepasang stiletto nude yang masih membungkus kakinya mengeluarkan suara halus setiap kali menyentuh lantai, seolah memberi tahu seluruh rumah bahwa sang pemilik baru saja kembali.
Rambut cokelat karamel sepanjang punggungnya dibiarkan terurai longgar, sedikit bergelombang karena aktivitas seharian.
Make-up-nya masih sempurna, lipstik nude glossy, eyeliner tajam, dan pipi dengan semburat blush tipis yang menambah kesan segar pada wajahnya yang awet muda.
Tas kerja kulit berwarna hitam dari brand ternama menggantung di lekukan lengannya, dan sebuah jam tangan perak melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
Sosoknya memancarkan aura berkelas sekaligus menggoda, seorang wanita yang tahu betul siapa dirinya, dan tidak meminta izin untuk menguasai ruangan.
"Len, kamu di mana?" panggilnya, suaranya lantang namun tetap terdengar elegan.
Matanya menelusuri tiap ruangan, mencari sahabatnya, Magdalena. Namun rumah besar itu sepi.
Aurora mendesah pelan, lalu mengarahkan langkahnya menuju bagian belakang rumah, tempat kolam renang pribadi berada, tempat yang kadang menjadi pelarian tenangnya setelah hari panjang yang melelahkan.
Seorang pria baru saja keluar dari kolam renang, mengibaskan rambut basahnya tanpa sadar, menciptakan percikan kecil yang menghiasi udara sekitarnya, tanpa menyadari kehadiran Aurora di sana.
Air masih menetes dari ujung rambutnya yang hitam legam, sebagian mengalir pelan menuruni garis rahangnya yang tegas hingga membasahi leher dan dada bidangnya.
Tubuhnya terpahat sempurna layaknya model sampul majalah kebugaran. Otot-ototnya kencang dan simetris, kulitnya kecokelatan, berkilau di bawah matahari sore yang mulai meredup.
Dia hanya mengenakan celana renang boxer hitam ketat yang menempel pas di pinggul, garis otot perutnya jelas terlihat, menciptakan siluet V yang mengundang pandangan liar siapa pun yang melihat.
Aurora berdiri beberapa meter darinya, setengah tersembunyi di balik tirai gazebo taman. Wanita itu berusia 38 tahun, tapi tubuhnya masih seindah saat ia berumur dua puluhan.
Pinggulnya padat dan berisi, lekuk tubuhnya terjaga, dan kulitnya halus terawat.
Saat pandangan Aurora tertumbuk pada tubuh pria yang basah dan nyaris telanjang, jantungnya berdetak tak karuan.
Aurora terpaku, napasnya tercekat sesaat.
"Ya Tuhan..." bisik batinnya.
"Itu... Brian?"
Jarang sekali ia dibuat terpana seperti ini. Biasanya, lelaki seusia pria yang tampak mentah dan polos.
Tapi yang satu ini... menggoda. Matang di tempat yang tepat. Membuat pikirannya melayang ke arah yang tak seharusnya.
Dan ketika lelaki itu menoleh, menatapnya tepat di mata, lalu tersenyum, senyum manis yang polos tapi menyimpan bara tersembunyi.
Senyuman hangat penuh keyakinan, seperti pria yang tahu betul daya tariknya.
Aurora merasakan gelombang panas merayap dari ujung kaki sampai tengkuknya. Senyum itu tak hanya membuatnya gugup, tapi juga berbahaya. Seolah pemuda itu tahu persis efek seperti apa yang ditimbulkannya.
Aurora buru-buru mengalihkan pandangan, jantungnya berdetak tak karuan.
Tapi langkah kaki si pemuda justru mendekat.
"Tante Aurora..." suara itu rendah, hangat, dan sedikit berat.
"Perasaan apa ini? Aku gak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," gumam Aurora dalam hati, gugup luar biasa.
"Tante apa kabar?" sapa Brian dengan nada santai namun penuh daya tarik.
"Makin cantik aja... nggak berubah sama sekali." pujinya, dengan mata berbinar.
Aurora menoleh dengan senyum malu-malu.
"Brian! Kamu bisa aja," katanya tersipu, bibirnya melengkung manis.
"Seperti yang kamu lihat, tante sehat dan happy." Suaranya terdengar berusaha tetap tenang, tapi pipinya merona samar.
Brian menyeka rambut basahnya ke belakang, lalu menatap Aurora dari ujung kaki hingga kepala, tanpa malu.
"Kalau aku nggak tahu umur tante, aku pasti pikir tante ini mahasiswa baru," godanya.
Aurora tertawa kecil, tapi matanya menyipit, menahan gejolak aneh yang mengusik.
"Kamu makin jago menggombal, ya." kata Aurora.
"Aku nggak gombal. Tante selalu tampak... luar biasa. Cantik, segar, dan jujur aja, lebih menggoda dari yang aku bayangkan selama ini."
Aurora menahan napas. Kalimat itu... terlalu jujur.
Aurora melangkah menjauh sedikit, berusaha mengendalikan detak jantungnya.
"Jangan muji tante terus, nanti tante bisa kegeeran, loh," ucap Aurora sambil tersenyum, mencoba bersikap santai walau dadanya berdebar tak karuan.
Brian tertawa ringan, rambut basahnya masih menetes, menambah kesan liar dan alami dari sosoknya yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.
"Aku nggak muji, aku cuma bilang kenyataan," balas Brian santai, lalu menatap Aurora dari kepala sampai kaki tanpa menyembunyikan kekagumannya.
"Tante makin terlihat segar dan berseri-seri banget. Lebih... padat, berisi, dan semok dari tiga tahun lalu."
Aurora tertawa kecil, tapi matanya melirik Brian sekilas, dan buru-buru berpaling saat mata mereka bertemu.
"Itu karena tante sekarang rajin hidup sehat," katanya sambil menegakkan bahu dan berusaha tidak terlihat gugup.
"Minum air putih, olahraga rutin, tidur cukup, makan buah dan sayur organik. Pokoknya, nikmatin hidup aja." sambungnya.
"Dan hasilnya luar biasa. Tante kelihatan kayak baru 25 tahun, serius." Brian mengangkat jempol, lalu menyandarkan satu tangannya di pagar kayu kolam renang, menatap Aurora tanpa berkedip.
"Kalau aku bukan kenal tante dari bayi... mungkin aku kira tante ini influencer cantik yang suka yoga dan traveling." kata Brian jujur.
Aurora menggeleng sambil tersenyum malu.
"Kamu dari dulu memang jago gombal ya, Brian." katanya.
"Dulu aku gombal karena suka main-main," bisik Brian, nadanya berubah lebih rendah.
"Tapi sekarang, aku serius." jawabnya.
Aurora tercekat. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan dengan ekspresi bingung... dan gugup.
Matanya menatap Brian, lelaki muda itu berdiri percaya diri dengan tubuh atletis, kulit kecokelatan yang sedikit basah, dan sorot mata yang tak main-main.
Ia ingat betul, terakhir kali melihat Brian, cowok itu masih remaja kurus dengan rambut acak-acakan dan suara yang kadang masih melengking. Tapi sekarang... Brian sudah menjadi pria.
Tingginya 187 meter, tubuh ramping tapi berotot, dada bidang, rahang tegas, dan senyum yang bisa membuat jantung wanita melambat satu detik.
Aurora menelan ludahnya perlahan, matanya tak bisa berpaling.
Untuk sesaat, dunia seakan diam. Hanya ada dia... dan Brian, makhluk muda yang mungkin lebih berbahaya daripada pria mana pun yang pernah singgah dalam hidupnya.
Dulu, ia sering memeluk Brian dengan hangat, mengusap rambutnya, bahkan membantunya belajar.
Tapi kini... pelukan itu terasa seperti kenangan dari dunia lain. Kini, hanya menatap Brian saja sudah membuat jari-jarinya gemetar.
"Aku kangen banget sama tante, tahu nggak?" ujar Brian, pelan, hampir seperti bisikan.
"Tiap kali tante kirim voice note atau video call, aku nungguin. Aku bahkan hafal suara tawa tante..." katanya.
Aurora menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Jangan kayak gitu, Brian... kita ini udah kayak keluarga sendiri." sebut Aurora.
"Tante anggap aku keluarga, ya?" tanya Brian mendekat setengah langkah, jarak mereka kini begitu sempit.
"Tapi aku nggak bisa anggap tante kayak itu. Dulu mungkin iya. Tapi sekarang? Nggak bisa." tegasnya.
Aurora membeku. Angin sore menerbangkan sedikit rambut di pelipis Aurora. Ia merasakan tatapan itu tajam, panas, jujur.
Dan untuk pertama kalinya... ia tidak ingin memalingkan wajah.
********
Jadi tante baru pulang dari kantor ya?" tanyanya, menatap wajah cantik itu tak berkedip.
"Iya. Baru pulang kantor," jawabnya.
"Oh ya, Mamamu kemana? Gak kelihatan? Tante cariin gak ada," tanyanya.
"Mama ke minimarket. Katanya ada yang mau dibeli. Sudah satu jam belum pulang juga," sahut cowok itu.
"Pergi sama siapa? Kok gak kamu temani?" kembali Aurora bertanya.
"Diantar Om Daniel," sahutnya.
"Oh sama Daniel," sebutnya.
"Ya sudah, tante ke dalam dulu ya. Kamu kalau mau lanjut berenang silahkan aja," kata Aurora berbalik badan hendak masuk ke dalam.
"Tante tunggu," cegah Brian memegang tangan wanita itu.
Aurora kemudian berhenti dan berbalik badan. Jantungnya berdetak sangat kencang karena dia langsung berhadapan dengan pria tampan yang berdiri tepat di depannya, memeluknya.
"Tenangkan dirimu tarik nafas perlahan," batin Aurora.
"Aku rindu banget sama tante," bisiknya lembut mendayu di telinga Aurora, membuat wanita itu merinding.
"Tante gak kangen aku ya? Gak senang jumpa sama aku. Kenapa tante gak peluk aku seperti biasanya?" protes Brian.
"Ah, mmmh..itu.. tante gak mau basah. Kamu kan habis berenang," katanya beralasan.
"Bener karena itu? Bukan karena tante gak senang bertemu aku kan?" tanyanya.
"Gak lah. Mana mungkin tante gak senang melihatmu. Tante rindu, karena tak bertemu kamu sudah 3 tahun," jawabnya.
"Tante wangi banget," kembali Brian memujinya, masih mendekap erat wanita itu.
"Ih apaan sih gak habis- habis muji tante dari tadi. Genit banget," sahutnya manja, mencubit lengan pemuda itu, lalu melepaskan pelukan lelaki muda itu.
Brian pura-pura meringis kesakitan sambil mengusap lengannya. Padahal cubitan Aurora tidak terlalu keras dan tidak sakit juga.
"Sakit ya? Maafin tante ya. Kamu sih gombalin tante melulu, kan jadi gemes," katanya, mengelus lengan Brian lembut.
"Gak sakit kok. Aku rela tante cubit lagi. Kalau perlu seluruh tubuhku juga gak apa-apa asalkan setelah itu tante elus-elus aku dengan penuh kasih sayang," katanya cekikikan.
"Udah ah, berhenti godain tante terus. Sana masuk, mandi, bilas tubuhmu sehabis berenang biar bersih dan segar," sebutnya.
"Siap. Tapi habis berenang kok perutku lapar. Tante mau masakin buat aku kan? Atau pesan makanan di luar," katanya.
"Kamu mau makan apa? Biar tante bikinin?" tanyanya.
"Camilan aja dulu. Masih sore juga nih," kata Brian.
"Ok deh tante bikinin pancake. Nanti tunggu mamamu dan Om Daniel pulang baru masakin makan malam," sebutnya, masuk ke dalam diikuti Brian.
Cowok itu lalu masuk ke kamar mandi di lantai bawah rumah mewah dua lantai dan lima kamar tidur berarsitektur midcentury modern, yang memiliki ruang-ruang terbuka, dengan jendela kaca berukuran besar, lengkap dengan segala fasilitasnya.
Sementara Aurora mengganti pakaiannya dengan baju santai lalu dia ke dapur membuatkan pancake untuk Brian. Camilan kesukaan anak muda itu.
Meski rumahnya besar dan mewah, tapi Aurora hanya tinggal sendiri di sana.
Dia juga sengaja tak memakai jasa pembantu.
Sebab, dia biasa mengurus sendiri semua urusan rumahnya.
Aurora Camelia adalah perempuan mandiri dan independen woman, yang sampai usianya memasuki 38 tahun masih betah sendiri.
Bukan karena dia tak tertarik pada lelaki, tapi karena dia punya standar tinggi memilih pria untuk menjadi pasangannya hidupnya. Apalagi, dulu dia pernah merasakan kegagalan saat menjalin hubungan dengan beberapa pria.
Dia itu tipe perempuan perfeksionis, semuanya harus sempurna dan bisa dilakukannya sendiri. Bahkan dia punya prinsip lelaki bukan hal penting dan utama dalam hidupnya.
Meski dia pernah tiga kali pacaran, tapi semua berakhir di tengah jalan tak berlanjut ke jenjang lebih serius. Dan belum ada satupun pria yang membuatnya berdebar -debar dan benar-benar jatuh cinta.
Selama ini hubungannya dengan mantan kekasihnya hanya sebatas rasa suka saja, bukan karena cinta.
Keluarganya yang awalnya menginginkan dia berumah tangga kini menyerahkan semuanya pada keputusan Aurora sendiri.
Dia memiliki seorang adik perempuan yang sudah menikah sejak 12 tahun lalu dengan pria keturunan Amerika dan telah dikaruniai dua orang anak tinggal di Boston.
Keluarganya hanya ingin lulusan Periklanan dan Pemasaran di Suffolk University Boston Amerika Serikat itu bahagia. Dengan maupun tanpa pasangan hidup.
*********
Aurora baru saja meletakkan pancake terakhir di atas piring ketika suara Brian yang nyaring memanggil namanya dari arah kamar mandi.
"Tante Aurora, aku lupa ambil handuk! Bisa tolong bawain, ya?" teriaknya.
Aurora mengangkat alis, sedikit menghela napas.
"Iya, tunggu sebentar. Tante bawakan," sahutnya sambil mengambil handuk bersih dari lemari.
Dengan langkah ringan namun agak gugup, ia berjalan menuju kamar mandi. Saat membuka pintu dan melangkah masuk, tubuhnya langsung membeku di ambang pintu.
Matanya terpaku pada sosok Brian di balik pintu kaca transparan.
Pemuda itu berdiri di bawah guyuran shower, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Air mengalir di sepanjang lekuk ototnya, membasahi setiap inci kulit yang terlihat begitu... maskulin.
Tangan Brian mengusap tubuhnya dengan perlahan, membilas sabun dari dadanya, turun ke perutnya dengan gerakan yang... sensual.
Aurora bergidik. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat. Ia tak bisa memalingkan pandangannya, meski dalam hati ia panik luar biasa.
"Astaga..." batinnya.
"Kenapa aku... malah merasa bergairah melihat ini? Gila, Aurora! Dia anak sahabatmu! Tapi... tubuh itu... Tuhan..." gumamnya.
Brian melirik ke arahnya, lalu menyunggingkan senyum nakal dari balik kaca.
Tiba-tiba ia membuka pintu kaca dan menyembulkan kepalanya.
"Mau mandi bareng gak, Tan?" ucapnya santai, menggoda, sambil mengedipkan mata.
Aurora langsung tersentak. Pipi wanita itu memerah, dadanya berdetak tak karuan. Ia buru-buru meletakkan handuk di gantungan dekat pintu.
"Eh, so... sorry. Tante gak sengaja lihat kamu. Lanjut aja mandinya," ucapnya gugup sambil cepat-cepat melangkah keluar.
Sesampainya di dapur, ia langsung duduk sambil memegang dadanya. Napasnya terengah.
"Tenang, Aurora... tenang..." bisiknya, mencoba menenangkan diri.
Namun bayangan tubuh Brian masih menari-nari di benaknya. Untuk mengalihkan pikiran, ia menenggak segelas air putih dan mulai menyantap sepotong pancake, meski rasanya kini hambar di lidahnya yang masih panas oleh rasa bersalah dan... hasrat.
Tiba-tiba, ia merasakan kehangatan mendekat dari belakang. Lengan kekar Brian merangkul dari belakang, mengambil potongan pancake di piringnya.
Tubuh polosnya, yang hanya berbalut handuk di pinggang, menempel langsung ke punggung Aurora.
Gemetar. Tubuh Aurora bagai kesetrum. Ia menoleh, menatap pemuda itu yang kini mengunyah pancake sambil menatapnya tajam.
"Pancake tante enak banget," gumam Brian, suaranya dalam dan penuh arti.
Aurora buru-buru berdiri, memalingkan wajah.
"Kenapa sih masih pakai handuk doang? Sana, pakai baju dulu. Jangan keluyuran di rumah kayak gitu," protesnya, berusaha terdengar tegas meski suaranya gemetar.
Brian justru tersenyum lebih lebar.
"Iya, nanti juga aku pakai. Ini cuma mau habisin pancake dulu," sahutnya.
Matanya menyipit nakal.
"Tapi... Tante kenapa panik dan malu-malu gitu, sih? Wajahnya sampai merah banget, kayak tomat." sambungnya.
"Siapa juga yang malu?! Tante... cuma risih aja lihat kamu begitu..." bantahnya. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang panas.
Brian tertawa kecil, lalu menjulurkan tangan lagi, mengambil potongan terakhir pancake.
"Kalau cuma risih, kenapa tadi gak langsung tutup pintunya, hmm?" bisiknya dekat telinga Aurora.
Aurora kehilangan kata-kata. Dia diam membeku.
Brian tertawa renyah, suaranya ringan seperti angin pagi yang menggoda.
"Tenang aja ya, aku segera pakai baju. Gak mungkinlah berkeliaran di rumah hanya handukkan. Wk..wk..wk," ujarnya sambil melirik ke arah Aurora dengan ekspresi jahil.
Tawa kecilnya menggema di ruangan, menambah suasana jadi lebih hangat dan sedikit canggung. Pipi Aurora memanas.
Setelah menghabiskan pancake dan minum jus, Brian lalu berjalan pergi dengan santai, meninggalkan wanita itu berdiri kaku, jantungnya berdentum tak karuan.
Dia santai melangkah menuju kamar, meninggalkan aroma sabun yang masih melekat di udara.
Setelah itu memakai kaos Off white dan celana training abu-abu.
Brian kemudian ke luar kamar, melihat Aurora sedang duduk di sofa sembari menelpon.
*********
"Lena, kamu di mana? Aku sudah pulang ke rumah nih. Kata Brian, kamu ke minimarket sama Daniel ya?" tanya Aurora begitu sambungan telponnya tersambung.
Suara Lena terdengar jernih di ujung sana.
"Oh, kamu sudah pulang dari kantor ya? Iya, aku memang tadi pergi ke minimarket sebentar. Daniel nemenin. Ini kita lagi dalam perjalanan balik ke rumahmu. Paling lima belas menit lagi sampai," jawabnya.
"Baik. Aku tunggu ya," sahut Aurora, lalu menutup panggilan itu dengan senyum kecil.
Sementara itu, Brian yang sejak tadi duduk santai di ruang tamu, langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, tepat di samping Aurora yang mulai membuka majalah mode.
Aroma tubuh pria muda itu menyeruak samar, menyatu dengan aroma lembut parfum ruangan.
Aurora mencoba mengalihkan perhatian ke artikel tentang tren fashion musim panas, namun dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Brian yang terlalu lekat.
Beberapa saat kemudian, bel pintu berbunyi. Aurora segera bangkit dan membukakan pintu. Lena berdiri di sana, bersama seorang pria yang tak asing, Daniel.
Pria itu masih terlihat gagah dengan jaket kulit dan senyum ramahnya.
"Lena!" seru Aurora, langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Mereka berdua cipika-cipiki, tertawa kecil sambil menatap satu sama lain dengan mata berbinar.
"Aduh, kangen banget sama kamu, Ra," ucap Lena hangat.
"Sama, Len. Sudah hampir setahun ya kita gak ketemu. Rasanya kayak sepuluh tahun," kata Aurora sambil mengelus punggung Lena.
Setelah melepas rindu sejenak, mereka masuk ke rumah. Aurora, seperti biasa, langsung mengenakan apron dan menuju dapur, disusul Lena yang tak ingin hanya duduk diam.
Mereka menyiapkan makan malam bersama, tertawa, bernostalgia sambil menumis sayuran dan memanggang ayam. Kehangatan malam itu terasa berbeda, penuh tawa dan cerita, seolah tidak ada jarak waktu yang memisahkan.
Meja makan malam dipenuhi hidangan lezat, ayam panggang madu, salad segar, mashed potato, dan sup krim jamur. Daniel dan Brian duduk berseberangan, namun suasana sedikit aneh.
Aurora sempat melirik Brian yang tampak tak terlalu nyaman. Ia menyendok mashed potato-nya dengan sedikit gerakan kasar. Aurora menangkap perubahan itu.
Brian memang sudah mengenal Daniel sejak kecil, sebagai teman lama ibunya. Tapi malam ini, tatapan Brian kepada Daniel seperti menyiratkan sesuatu yang berbeda. Ada kegelisahan, atau mungkin... kecemburuan?
Lena rupanya tak sadar akan suasana itu. Ia begitu larut dalam percakapan dengan Aurora, menceritakan kesibukannya membuka restoran baru, hingga alasan utama dia akhirnya bisa datang ke Chicago.
"Sebetulnya, aku bisa ke sini karena sekalian mengantar Brian," kata Lena ketika mereka sudah duduk di sofa setelah makan malam.
"Dia mau lanjutin kuliah di Chicago University. Jurusan bisnis," sebut Lena.
Aurora mengangguk pelan, menatap Brian sekilas.
"Iya, kamu udah bilang sebulan lalu. Tapi terus terang aku masih kaget dia memilih Chicago. Kukira dia bakal lanjut di Yale University, seperti rencana awal." kata Aurora.
"Aku pikir Chicago gak kalah bagus, lagi pula di sini ada Tante Aurora kan?" sebut Brian.
Lena tersenyum.
"Aku juga sempat kaget. Tapi dia yang memutuskan sendiri. Dan aku dukung. Tapi ya itu... aku pengin dia tinggal sama kamu." kata Lena.
Aurora mengerutkan kening.
"Maksudnya... tinggal di rumahku selama kuliah?" tanya Aurora kaget.
"Iya," sahut Lena, tak ragu.
"Kamu kan tinggal sendirian, Ra. Rumahmu besar, tenang, dan nyaman. Brian butuh tempat seperti ini, apalagi dia baru pertama kali jauh dari keluarga. Dan kamu bisa jadi pengganti aku di sini. Aku tahu kamu orang yang bisa dipercaya," jelas Lena.
Aurora terdiam sesaat, menimbang.
"Len... aku bukannya gak mau bantu. Tapi dua tahun itu waktu yang lama. Aku sudah terlalu terbiasa hidup sendiri. Aku... butuh ruang juga," tolaknya halus.
"Tapi kamu juga butuh teman," balas Lena cepat.
"Aku anak baik kok, gak akan bikin masalah. Aku janji," tambah Brian.
"Kamu terlalu sering sendirian, Ra. Brian itu anak baik. Dia gak akan menyusahkanmu. Lagipula, dia senang banget waktu tahu aku minta kamu yang jagain dia. Dia gak keberatan sama sekali tinggal di sini." sebut Lena.
Aurora melirik Brian. Cowok itu menunduk, namun senyumnya tipis saat mata mereka bertemu.
"Aku pengen dia tinggal sama orang yang sayang padanya. Yang bisa jadi tempat pulang... tempat dia merasa aman," lanjut Lena, suaranya lebih lembut.
"Please, Ra. Anggap saja kamu bantu aku sebagai seorang ibu yang cemas," pintanya.
Aurora menunduk, menggenggam tangan Lena.
"Aku butuh waktu untuk mikir. Aku gak janji ya, Len. Tapi aku pertimbangkan," sahutnya.
"Cukup itu aja. Makasih," bisik Lena sambil tersenyum lega.
Malam pun berlalu dalam kehangatan, namun dalam hati Aurora, ada badai kecil yang mulai muncul.
Dia tahu hidupnya akan berubah jika Brian tinggal bersamanya. Dan dia belum siap mengakui... bahwa sebagian dirinya justru tak keberatan dengan perubahan itu.
Suasana rumah kembali hangat dan nyaman setelah makan malam yang lezat. Di ruang keluarga, mereka duduk santai sambil menyeruput teh hangat dan sesekali tertawa pelan atas cerita-cerita ringan masa lalu.
Aurora duduk bersisian dengan Lena, sementara Daniel menyender santai di kursi tunggal, menikmati suasana yang akrab dan kekeluargaan.
Topik perbincangan kemudian beralih pada kehidupan pribadi Aurora. Lena, seperti biasa, mulai menyinggung status lajang sahabatnya yang nyaris berusia empat puluh tahun.
"Aurora, kamu serius belum tertarik juga untuk punya pasangan?" tanya Lena, menyentuh lengan Aurora lembut.
"Len, aku sudah nyaman sendiri. Rasanya ringan, bebas. Lagian, kamu tahu sendiri, aku bukan tipe yang bisa sembarangan buka hati," jawab Aurora tenang, meski senyum tipisnya terasa penuh pertahanan.
Daniel ikut menimpali, "Bukan soal sembarangan atau tidak, Ra. Tapi masa kamu nggak pernah ngerasa... kesepian?" tanya Daniel ingin tahu.
"Kalau aku kesepian, aku masak. Kalau masih sepi juga, aku kerja. Gitu aja." kata Aurora tertawa pelan.
"Tapi kamu itu perempuan, Ra. Kamu butuh bahu buat bersandar, butuh seseorang yang ngerti kamu secara utuh..." sebut Lena, mendesah panjang.
Brian, yang duduk agak jauh di ujung sofa, terlihat gelisah. Sejak tadi ia hanya diam memperhatikan, meski diminta mamanya masuk ke kamar dan beristirahat.
"Brian, sayang, ini obrolan orang dewasa. Kamu masuk kamar ya, istirahat," tegur Lena dengan nada lembut namun tegas.
Brian mengangkat alis. "Kenapa harus masuk kamar? Aku gak ganggu kok. Aku cuma duduk dan dengerin. Aku juga sudah dewasa, Ma." protesnya.
Lena menatapnya, sempat ingin bersikeras, namun Aurora mengangkat tangan kecil sebagai isyarat.
"Nggak apa-apa, biarin aja dia di sini. Toh dia gak nimbrung." kata Aurora.
"Janji gak komentar ya, Brian?" kata Lena, masih dengan nada serius.
"Janji," jawabnya singkat. Tapi hatinya bergolak hebat.
Dia mendengarkan, memperhatikan, dan diam-diam... cemburu.
*********