Flora menatap pantulan wajahnya di cermin, terlihat seutas senyum manis di sana. hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, sudah seharusnya hari ini di rayakan.
Dia sudah siap dengan gaun indah dengan hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Saat ini dia sudah tampak seperti bintang yang bersinar di tengah langit malam.
Dirinya yakin suaminya, Leo. Pasti melupakan hari yang bersejarah ini. Flora tak pernah mempermasalahkan hal ini karena memang suaminya seorang presidir di sebuah perusahaan ternama.
Tanggung jawabnya bukan pada keluarganya saja, melainkan banyak orang yang bersandar padanya.
Hari ini tepat 7 tahun mereka menikah, dia mendengar kalau 5 tahun awal pernikahan adalah masa yang paling sulit. tapi lihatlah kenyataan ini, Flora sangat bahagia karena mereka dapat melewati masa yang 'sulit' ini dengan bahagia.
Bukankah hal ini perlu di rayakan? Flora sudah memesan kamar hotel untuk merayakan hari bahagia ini.
Saat ini dia sudah siap, wajahnya sangat cantik bahkan jauh lebih muda 10 tahun dari umurnya.
"Mbok jagain anak-anak yaa ... Saya sama Tuan pulang besok agak siangan," ucap Flora sambil menuruni tangga.
Karena saat ini hari sabtu, besok anak-anak juga libur sekolah, jadi Flora bisa sedikit lebih tenang.
Mbok Ranti segera berlarian mendekati flora yang melangkah menuruni tangga. dan segera menganggukkan kepala tanda mengerti.
Flora melangkah keluar rumah dan segera naik ke mobil, mewahnya melaju meninggalkan istana megahnya menuju kantor di mana sang suami sedang berkutat dengan segudang tugasnya.
Di tempat lain, tepat dimana seorang pria dengan postur tubuh tegap dengan deretan otot tertata rapi di perutnya.
Keringat masih membasahi tubuhnya, adegan panas baru saja berakhir. Di sampingnya ada seorang wanita yang sedang terbaring lemas.
Matanya menatap sayup ke arah sang pria, dia menatap punggung kekar dan lebar yang baru saja memberi kehangatan pada tubuhnya.
Telfon kantor berdering kencang, menandakan bahwa ada seorang yang sedang menunggunya dan nunggu persetujuan.
"Halo," ucap Demian, sambil memakai celananya kembali.
"Nyonya Flora mau masuk, apakah rapat Bapak sudah selesai?" tanya sang resepsionis.
Mata Demian terbelalak, dia tak menyangka istrinya akan datang ke kantor. Dia segera melempar pandangan ke arah wanita yang masih berbaring di sofa dengan tubuh polosnya.
"Oke sebentar lagi selesai, suruh Nyonya tunggu 5 menit lagi." Demian segera menutup telepon dan segera menggendong wanita tersebut ke dalam kamar mandi.
Tidak lupa dia membereskan semua pakaian yang berceceran, "pakai ini, Flora ada di bawah," Demian berbisik lirih.
"Apa?" Mata wanita tersebut membulat sempurna, dia segera sadar dan merapikan dirinya. Tidak biasanya wanita itu kemari, kenapa mendadak seperti ini?
Demian segera merapikan diri dan ruangannya. Membereskan kertas yang berserakan dan tisu yang bertebaran di mana-mana.
Saat dirinya selesai, dalam waktu yang bersamaan pintu terbuka. Tubuhnya membeku, nyawanya serasa lepas dari jasad karena terkejut.
Sepasang tangan lembut memeluknya mesra, terasa hawa hangat yang berhembus di punggungnya.
Demian sedikit lega, setidaknya dia aman kali ini. Tidak ada kecurigaan padanya. Dia segera memutar badan dan memeluk mesra wanita di hadapannya.
Mata Flora menatap aneh ke arah kemeja yang di pakai suaminya, kenapa suaminya memasang kancing yang tidak sejajar, sehingga kerah kemeja naik sebelah. Tubuhnya juga berkeringat?
"Kau tidak apa-apa Sayang?" tanya Flora lembut.
"Ti-dak, aku baik-baik saja. Apa ada yang aneh?" jawab Demian yang masih belu sadar dengan kemejanya.
Flora menyapu ruangan dengan mata tajamnya mencoba mencari kejanggalan pada ruang kerja suaminya ini. Pasti ada yang tidak beres.
Matanya tertuju pada suatu benda yang berada di atas sofa, dia segera melangkah mendekatinya. Namun langkanya terhenti karena Demian menghalanginya.
Dia melempar tatapan penuh tanda tanya,
"Kau mau kemana?" tanya Demian gelisah.
"Ke sofa, emang kenapa?" sahut Flora.
Flora mendorong tubuh sang Suami dan meraih remot AC, memastikan suhu ruangan Demian. Alisnya bertaut, sejak kapan suaminya lupa untuk menghidupkan AC.
"Kamu mau uji nyali, kenapa AC nya nggak di hidupin?" Flora tersenyum manis.
Dia merasa bersalah telah mempunyai pemikiran buruk kepada suaminya akibat kemejanya itu. Dia melangkah mendekati sang Suami dan membuka kancing bajunya.
Demian meraih pinggul sempit dan menarik Flora kedalam dekapannya, sebisa mungkin dia untuk bersikap biasa saja agar istrinya tidak curiga.
Semoga dengan seperti ini Flora tidak curiga,
"Apakah aku melupakan sesuatu, sampai kau datang kemari tiba-tiba seperti ini?" tanya Demian sambil mengecup kening Flora.
Tepat seperti dugaan, sang suami sibuk dengan aktifitas kantor yang kian padat. Flora menarik kerah Demian dan mendekatkan bibirnya ke telinga.
"Aku sudah boking kamar di tempat pertama kita bertemu, jadi bisakah kita pergi sekarang?" Flora berbisik dan meninggalkan kecupan mesra.
Baru kali ini sang istri memiliki inisiatif, biasanya dia tak pernah seperti ini. Apa yang terjadi padanya, tetapi Demian menyukai Flora saat ini.
"Sepertinya kau sangat tidak sabar," ucap Demian tersenyum nakal, dia semakin mempererat dekapannya.
Flora membuka kancing kemeja Demian satu persatu, tatapan mata tajamnya menatap paras tampan yang selama ini telah memberikannya cinta tulus dulu.
Sebenarnya Flora ingin segera keluar dari ruangan ini, namun entah mengapa dia ingin memulai permainannya disini.
Jantung berdebar kian cepat, untung saja pengaruh obat perangsang masih bereaksi, kalau tidak. Dia tidak akan tau apa yang akan istrinya pikirkan.
Sementara seorang di dalam kamar mandi sudah menggigil kedinginan, entah kenapa wanita bodoh di luar sana menaikkan suhu AC. Saat ini ruangan ini seperti Kutub Utara, terlebih di kamar mandi.
Yang lebih menyebalkan lagi, kedua orang di luar sedang bercumbu mesra. Mau atau tidak dia harus menunggu mereka sampai selesai bertempur.
"Argh dasar bajingan," ucap wanita itu lirih.
Hanya kurang satu kancing lagi, maka otot kekar Demian terekspos bebas. Semua otot ini bagaikan roti tawar yang siap untuk di santap.
Jemari lentik Flora mulai membuka sisa kancing dan membuang kemeja Demian ke segala arah, perlahan dia membuka kancing pengait yang masih menahan pusaka hebatnya itu.
Terukir senyum nakal di wajah cantik Flora, tangan Demian sudah menari indah di punggung mulus Flora beberapa inci lagi sudah bisa melepas gaun yang melekat pada tubuh indahnya.
"Kau sangat cantik malam ini," ucap Demian mendekatkan wajahnya ke Flora.
Tak ada jawaban, jemari Flora bergerak semakin lincah membuka sabuk yang membentengi banteng yang sudah siap untuk bertempur.
"Sepertinya aku mencium bau betina lain disini," ucap Flora dengan tatapan tajam.
Nyawa Demian terasa benar-benar lepas dari tubuhnya kali ini, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Maksud mu?"
Tak hanya Demian, wanita yang bersembunyi di balik pintu kamar mandi juga tercengang mendengar ucapan Flora.
Kalau sampai semua terbongkar, bukan hanya hidup Demian. Dirinya akan ikut terseret dan masuk ke dalam liang lahatnya sendiri.
Otaknya berpikir keras mencari cela yang tidak ketahui, padahal semua rencana sudah tersusun rapi dan tidak mungkin terbongkar secepat ini.
Astaga ... bahkan dia belum mengeruk harta Demian sedikit pun.
"Sepertinya aku ingin buang air kecil dulu," Flora melepas tangan Demian yang saat ini memeluknya erat.
Demian mengeratkan dekapannya lebih erat. Bila dia sampai masuk kamar mandi akan tamat riwayat nya saat ini juga.
Sesungguhnya hati Flora hancur berkeping-keping saat ini. dirinya sudah mencium bau perselingkuhan sejak 3 bulan lalu. Namun dia tetap diam dan berusaha untuk biasa saja.
Saat ini dia memang tidak mempunya bukti yang kuat, mereka bermain terlalu cerdik. CCTV yang berada di ruangan suaminya mati dengan alasan melindungi privasi kantor. Sungguh menyebalkan.
Di tambah semua orang kantor sudah mereka bungkam, sangat cerdik. Tetapi bukan Flora Vernandes namanya kalau tidak bisa membongkar semuanya dengan elegant.
Memang salahnya yang memungut sampah di pinggir jalan dan menjadikannya seorang raja. Dia tak menyangka kalau kebaikan dan kepercayaannya di nodai seperti ini.
Sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Entah berapa lama mereka menjalin hubungan yang jelas Flora sudah muak dengan permainan ini.
"Jangan Baby," sahut Demian.
Flora menautkan kedua alisnya, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Sejak kapan panggilan 'Sayang' menjadi 'Baby'.
"Maksudku, mari kita berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar," Demian segera mengubah ucapannya.
Flora menatap tajam mata Demian, terlihat kecemasan yang terpancar di sana.
"Kelihatannya mata dan hatimu tidak sejalan." Flora melepas dekapan Demian dan melangkah menuju meja kerjanya.
Flora duduk bersandar di meja kerja Demian, bercakan air di meja kerja dengan nuansa kaca hitam itu mencuri perhatian Flora.
Harusnya dia memang tidak kemari, ide untuk memberi kejutan merupakan ide yang sangat buruk.
Dia hanya mengharapkan sebuah hubungan yang dapat di perbaiki, dia sadar belakangan ini dirinya tidak terlalu perhatian kepada sang suami.
Bukan sepenuhnya salah Demian bila dia mencari hiburan di luar, tapi ini sudah melebihi batas. Dia terlalu larut di dunia luarnya.
Hati Flora sudah bergemuruh, ingin sekali dia melepas semua amarahnya saat ini, tapi sebisa mungkin dia tahan. Dia tak mau buah hatinya menjadi korban keegoisannya lagi.
Flora mengatur napasnya, berulangkali dia menarik dan mengembuskan napas kasarnya. Mencoba berdamai dengan keadaannya.
Memang sabarnya tidak setebal kamus. Namun setidaknya dia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga yang penuh kepalsuan ini.
Sementara itu, Demian sedang sibuk merapikan kemejanya kembali sambil berpikir keras bagaimana sekertaris nya bisa keluar dari bilik kecil di sudut ruangan.
Dia pasti sangat kedinginan, ruangannya saja berada di suhu minim. Dirinya memang tidak suka ruangan yang engap, tetapi ini terlalui berlebihan.
Apakah Flora sudah mengetahui semuanya? Tetapi dia tetap diam dan tak menunjukan amarahnya. Semua terlihat santai, bisa di bilang istrinya lebih baik dari sebelumnya.
Demian merogoh ponselnya, dia segera mengirim pesan singkat ke sebuah nomor.
"Kenapa kau sangat khawatir Sayang, Bukankah aku ada disini?" ucap Flora mulai membuka laptop Demian.
Demian melempar pandangannya ke Flora dan segera memasukkan ponselnya kembali, dia melangkah mendekati istrinya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Demian.
"Baiklah ayo, kelihatannya kau sudah tak sabar." Flora bangkit dari kursi dan melangkah keluar ruangan.
Demian mengikuti langkah sang istri dan menutup pintu ruangan yang meninggalkan suara debaman cukup keras, seolah memberikan kode seseorang di balik pintu ruangan lain.
Seorang yang berada di balik pintu kamar mandi segera keluar, dia sudah tak tahan berada terlalu lama di dalam. Dia segera mengambil kartu indentitasnya yang terjatuh di bawah sofa dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Rebecca, wanita cantik dan sexy sedang berjalan menuju ruangan kerjanya. Dia segera membuka lemari dan mengambil satu set baju kerjanya.
Berulang kali bibir tipisnya mengumpat, dia tak percaya akan di kalahkan dengan wanita cengeng seperti Flora itu. Hanya kurang sedikit lagi dia mendapatkan tanda tangan Demian dan akan mendapatkan semuanya.
Sayangnya dia harus terbangun dari mimpi indahnya, Flora datang menghancurkan segalanya dan menyeretnya masuk kembali ke dunia nyata.
Sementara itu, Flora dan Demian sudah sampai di hotel bintang lima yang sudah di pesan beberapa jam lalu.
Beberapa penjaga pintu menyambut kedatangan mereka, maklum saja perusahaan Demian dan Flora saat ini sedang melambung jauh di awan.
Siapa yang tidak kenal Demian Bramasta dan Flora Vernandes, mereka merupakan pasangan paling romantis dan harmonis di kota ini.
Dengan paras yang sama-sama memukau, membuat mereka seperti pasangan dongen ala Disney Land.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya, Saya antar anda ke kamar," ucap Resepsionis yang menyambut hangat kedatangan mereka.
Kedatangan mereka merupakan suatu kehormatan bagi hotel ini, mereka adalah magnet yang mampu menarik semua orang untuk berkunjung kemari.
Beberapa hari ada rumah makan sederhana yang mereka datangi, selepas itu rumah makan tersebut menjadi buronan para pengunjung kuliner.
Dengan anggun Flora melangkah memasuki hotel, beberapa pasang mata menatap takjub kedatangan mereka.
Demian melangkah dia memancarkan aura yang mempesona. Semua wanita terpesona sampai tak berkedip.
Resepsionis masuk ke lift diikuti Demian dan Flora. Mereka melangkah menuju kamar yang sudah di siapkan setelah lift berbunyi.
Mata Flora berbinar ketika melihat kamar yang di hias dengan penuh kelopak mawar merah bertebaran. Dia sangat puas dengan pelayanan hotel ini, hanya saja moodnya memang sedang rusak.
"Kamarnya sangat cantik," Flora memuji.
"Kami senang bila Nyonya menyukai ini semua, selamat malam. Kami akan mengirimkan anggur merah dengan kualitas terbaik," ucap Resepsionis melangkah pergi.
Flora melangkah masuk, Demian segera menutup pintu dan mendekap erat tubuh mungil di hadapannya.
Perlahan Demian mengecup lembut punggung putih mulus sang istri, menghirup aroma parfum yang selalu memanjakan indra penciumannya.
Meskipun Rebecca melayaninya dengan liar, tetap saja pemenangnya adalah Flora. Tubuhnya bagai obat yang memabukkan dan memberi efek ketagihan.
Andai saja Flora seperti ini dari dulu, dia tak akan pernah mencari jajanan di luar.
"Kau tetap seperti dulu, sangat mempesona," Demian mengucapkan dengan suara parau dan berat ciri khasnya.
Jemari Demian berselancar indah di punggung mulus Flora, menarik sebuah besi kecil yang mengaitkan lembaran kain untuk membalut tubuh sang istri.
Flora berbalik badan, kedua tangannya menggantung indah di bahu Demian, jemarinya mengelus lembut rambut ikal lebat milik suaminya.
Flora menarik lembut tengkuk Demian membuat wajahnya mendekat, embusan napas mereka saling menyatu hanya kurang beberapa inci lagi kecupan tersebut menjadi pangutan.
"Bisakah kau mandi, aku tidak bisa mencium bau ini." kekeh Flora.
Dengan wajah kecewa Demian melepas pelukan Flora, dia menggendong tubuh mungil itu dan menghempaskannya ke atas kasur. Bersamaan dengannya.
Terdengar tawa yang pecah saat jemari demian bermain di perut Flora,
"Udah sana," Flora mendorong tubuh Demian yang berada di atasnya.
"Mandi bareng yuk!" Demian memohon.
"Ide bagus, aku akan menyusul," sahut Flora.
Demian tersenyum nakal dan mengigit bibir bawahnya, dan melangkah menuju kamar mandi.
Mata bulat Flora menatap bahu lebar yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Ya Tuhan, beri aku jalan keluar dan kesabaran yang lebih."
Flora masuk ke kamar mandi, dia sudah memakai baju dines yang paling di sukai suaminya.
Mata Demian tak bisa berkedip menatap pemandangan indah di hadapannya saat ini. Flora sudah seperti seonggok daging yang siap untuk di santap bulat-bulat.
Meskipun tubuhnya tidak seindah Rebecca, tetapi ada satu bagian yang bisa membuatnya melayang dan terbang bebas di awan.
Flora masuk ke dalam bak mandi yang di penuhi busa dengan aroma bunga lily, bunga favorit Demian. Dia sengaja memesan sabun dengan aroma demikian.
Demian sedikit membuka kakinya dan menarik Flora ke dalam pelukannya. Roti sobek yang berjajar di perut Demian terasa begitu menggoda untuk jadi santapan makan malam.
Jemari Demian berselancar nakal di setiap inci kulit Flora yang membuat istrinya itu merasakan terbang walau sesaat.
"Kau menyukai ini?" tanya Demian berbisik di telinga.
"Sepertinya kau sudah tau jawabannya," jawab Flora sambil memejamkan mata.
Dia mencoba menyatu dengan situasi ini, harusnya dia merasakan kenyamanan seperti biasanya. Sentuhan Demian merupakan hal yang paling memabukkan di seumur hidupnya, tetapi kenyataan itu tiba-tiba lenyap saat ini.
Bahkan Flora tak dapat mengesampingkan emosinya, gelora sengatan listrik yang harusnya membawa kenikmatan berbanding terbalik. Hanya amarah yang penuh gelora di hati Flora.
Merasakan keanehan pada istrinya, Demian segera menghentikan permainan jemarinya dan membalik tubuh Flora sehingga mereka saling berhadapan saat ini.
"Sepertinya ini bukan yang biasanya," tanya Demian menatap lekat wajah Flora.
"Katakan, seberapa pentingnya aku dan anak-anak bagimu?" tanya Flora yang sudah tak dapat menahan emosinya lagi.
Untuk sejenak Demian terdiam, dia harus bisa memberikan jawaban yang meyakinkan istrinya. Flora sudah mulai curiga padanya.
Flora kian mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Demian, sangat jelas bagaimana degupan jantung sang Suami yang kian cepat
"Kenapa malah jantungmu yang menjawab, sementara bibir manismu hanya bungkam,'' lanjut Flora yang tidak sabar mendengar jawaban Demian.
Demian menarik napas panjang dan mendekap erat kepala Flora, mencoba untuk mengontrol rasa cemasnya.
"Kau adalah segalanya bagiku, terlebih anak-anak. Mereka adalah generasi penerusku yang akan membawa namaku melambung. Bukan begitu?" jawab Demian, hanya itu yang dapat dia jawab.
Flora tersenyum kecut, ternyata suaminya tidak pintar mencari alasan. Sangat gimik dan membuat amarah Flora semakin membara.
Mungkin kalau dia menjawab kalau dirinya adalah sumber tambang emas terbesarnya, Flora akan lebih percaya karena itu adalah fakta yang tidak terbantahkan.
"Kau taukan aku tidak suka main-main?" ucap Flora sambil merubah posisinya di pangkuan Demian.
Flora mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk Demian dan memperlihatkan sebuah bagian yang paling dia sukai.
Demian hanya mampu menahan gelora yang kian membara pada pangkal tubuhnya. Dari tatapan Flora sudah tergambar jelas kalau dia sedang menyimpan sebuah rahasia besar.
Apakah permainannya sudah terbongkar? Tamatlah riwayatnya saat ini. Tombak yang sudah menjulang kini mengempes bagai balon yang kehilangan udaranya.
Tatapan Flora membuat nyalinya menciut, akan sangat mudah bagi istrinya membuangnya dari kemewahan ini.
"Kenapa Juniorku menciut begini? Apakah dia sudah kelelahan?" tanya Flora yang merasakan perbedaan di bawah sana.
Suasana kamar yang dingin berubah menjadi gerah, bahkan kening Demian mulai keluar buliran keringat dingin.
"Sayang, apakah kamu sakit? Padahal aku ingin lima ronde malam ini," lanjut Flora memasang wajah kecewa, namun tidak matanya.
Kali ini hidup Demian sudah berada di ujung tanduk,
"Sa-sayang bagaimana kalau kita tidur dulu, hari ini aku sangat lelah. Ada banyak tamu di kantor hari ini," jawab Demian mengalihkan pembicaraan.
"Hanya tubuhmu bukan? Bukan Juniorku itu, tidak aku ralat. Ini Junior mu dan kau yang berhak mengaturnya untuk masuk kemana," ucap flora penuh arti.
"Tidak Flo ... Ini milikmu dan akan selalu begitu, A-aku hanya kelelahan dan tidak bisa konsentrasi." sahut Demian meyakinkan Flora.
"Baik kalau begitu puaskan aku malam ini, kalau kau tidak bisa. Kau hanya perlu berbaring dan aku yang akan memacunya," ucap Flora mengakhiri acara berendamnya.
Dia segera keluar dari bak mandi dan memutar kran, rintikan air hangat keluar dari shower dan menyiram tubuh mungilnya yang penuh busa.
Flora tak mampu menahan emosinya, tapi ini terlalu dini untuk membongkar perselingkuhan ini. Dia masih belum mempunyai cukup bukti.
Belum lagi mental anak-anak yang masih perlu di jaga, mereka terlalu dekat dengan Papanya. Hal ini yang membuat rencana ini semakin terasa sulit.
Andai saja mereka tak membutuhkan pria bejat ini, pasti detik ini juga Flora akan membuangnya.
Flora membalut tubuhnya dengan handuk ketika acara mandinya selesai. Tanpa mengucap satu katapun Flora keluar dan meninggalkan Demian yang masih menatapnya lekat.
Saat ini otak Demian kacau balau, mana yang perlu dia lakukan terlebih dahulu. Harta yang dia simpan walau hanya secuil, segera menghubungi wanita yang tau kebusukannya saat ini atau mungkin melayani Ratu yang telah menjadikannya Raja.
Di tempat yang berbeda ada seorang wanita yang sedang mengobrak-abrik meja riasnya. Bagaimana bisa ATM nya terblokir secara bersamaan, dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya ke depan.
Apakah dia akan hancur sendirian? Bila memang Flora sudah tau semuanya, mengapa dia masih begitu mesra kepada Demian. Apakah dia wanita yang tidak jijik dengan pria seperti itu.
Astaga, ini tidak bisa di biarkan. Dia tidak mau hancur sendiri, bagaimana caranya Demian harus bisa merasakan kehancurannya.
Rebecca segera menghubungi salah satu nomor di ponselnya, dan segera merencanakan sesuatu.
Kembali ke kamar hotel, Flora sudah berbaring di balik selimut dengan santainya dia membaca majalah. Di sampingnya sudah siap dua gelas anggur merah.
Demian keluar, rambutnya basah kuyup dan tubuh bagian bawahnya terbalut handuk tebal. Sepertinya tidak akan ada malam yang panas tidak akan terjadi karena juniornya masih kempes.
Biasanya saat dia mode on Demian akan melangkah keluar dengan tubuh polosnya dan memamerkan setiap inci tubuhnya.
"Jadi juniorku belum siap, baiklah aku bisa membantunya saat ini. Kemari lah!" ucap Flora dan meletakkan majalahnya.
Demian melangkah menuju meja dan segera mengeringkan rambutnya mencoba mengulur waktu. Dia benar-benar tidak bisa bermain saat otaknya kacau seperti ini.
Entah sejak kapan Flora sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya erat.
"Tidak perlu di keringkan, aku suka basah-basahan seperti ini," ucap Flora dengan suara menggoda.
Demian menaruh hair dryer, dia membalikan tubuh dan sebisa mungkin untuk biasa saja. Dia menatap lekat Flora dan menghujaninya dengan kecupan lembut.
"Aku akan membantumu Sayang," bisik Flora.
Dia memeluk Demian dan membawanya naik ke atas ranjang. Flora mendorong tubuh Suaminya hingga terlempar ke kasur.
Perlahan Flora naik ke atas ranjang dan menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.
Tubuh Flora menari indah di dalam selimut dan membuat tubuh Demian akhirnya merasakan sengatan listrik itu.
Darahnya mengalir hingga ke ubun-ubun, ototnya di sekujur tubuhnya menegang sempurna.
Kepala Flora keluar dari dalam selimut dan mendekati wajah Demian yang mulai hanyut akan situasi ini.
"Jadi, aku ingin tau apa pendapatmu?" Tanya Flora dengan jemari masih bermain di dalam selimut.
Mata Demian terbuka dan menutup, otaknya tak dapat berfikir dengan baik saat ini. Hanya kenikmatan yang dapat dia rasakan.
"Sayang aku mohon jangan seperti ini," pinta Demian memohon.
"Lebih nikmat mana, Jajanan pasar atau Resto berkelas?"