Bab 1

Medan, Februari 2019

Kriiinggg, kriiinggg, kriiinggg

Bel yang me-mekakkan telinga berbunyi memenuhi seantero sekolah diiringi pekik sorak anak-anak yang lega karena jam pelajaran telah usai. Vina merapikan laptop dan alat tulisnya, lalu membagikan buku tugas siswa.

"Baik, tolong dipelajari materi Persamaan Kuadrat ini dengan serius di rumah. Soalnya minggu depan kita akan membahas materi Fungsi Kuadrat yang sangat berhubungan dengan materi ini"

"Baik miss"

"Selamat siang semuanya, silahkan nikmati waktu makan siangnya. See you next week"

"Selamat siang miss" Balas para siswa serempak. 

Vina pun meninggalkan kelas lalu berjalan ke kantor guru untuk menikmati makan siangnya. Teman-teman satu gengnya sudah duduk sambil tertawa-tawa menikmati makan siang mereka. Vina menghembuskan napas sambil duduk terhenyak di kursinya. Salah satu temannya, guru Biologi yang bernama Hadi mulai berbuat usil. 

"Eh Vin, gimana tadi aroma eek si Farhat? Semerbak kan? Jarang-jarang lho" Kekeh Hadi ditimpali oleh gelak tawa teman-teman yang lain. 

Vina yang kesel refleks melemparkan buku ke arah Hadi yang dengan cekatan ditangkisnya. 

"Setan kau ya Di, itu kejadian pas di jam pelajaran mu lho, tapi nggak kau bereskan, gila kau ya Di"

"Hahaha, tapi kau kan wali kelas orang itu. Lagian si Farhat eek pas sepuluh menit lagi jam-ku mau habis. Yaudah, kubiarin ajalah. Nggak mungkin juga kuceboki anak kelas X kan, hahaha"

"Atau jangan-jangan kau ceboki tadi si Farhat?" Tanya Baskoro alias Ireng, guru olahraga yang berkulit gelap

"Ah, diamlah kalian. Memangnya aku cewek apaan? Cuma ku suruh pulang dia tadi. Mulanya nggak mau pulang, tapi ku paksalah. Gila aja aku harus nyium aroma alam sepanjang jam pelajaran" 

"Terus, apa kata teman-teman nya? " Tanya winda, guru Fisika yang keibuan

"Aku peringatkan aja supaya nggak ada yang ungkit kejadian ini lagi. Kasian si Farhat, apalagi orang ini udah kelas X. Sampai ku ancam juga tadi, siapa yang ketahuan membully si Farhat bakal berurusan sama aku. Nggak mau aku punya anak perwalian tukang bully" Balas Vina sembari menenggak air putih dari Tupperware-nya. 

"Eleh, kayak situ nggak tukang bully" Ujar Hadi

"Aku tukang ejek, bukan tukang bully"

"Podo ae tho nduk" Balas Ireng pula. 

"Dia pula lucu. Masak nggak bisa dirasakan kapan eek-nya mau keluar, ijin dulu kek. Ini bakal jadi aib seumur hidup lho. Nggak kebayang aku reuni nanti orang ini beberapa puluh tahun ke depan, pasti eek si Farhat ini jadi hot topic, ckckck" Intan, guru kimia nggak mau kalah turut memberi komentar

"Ya sudah, kau ciptakan dulu ramuan kimia yang bisa bikin lupa ingatan" Joyce, guru bahasa Inggris turut menimpali

Kedua guru yang usianya sepantaran ini memang jarang akur, sering memperdebatkan hal-hal yang sepele. Namun begitu bukan berarti mereka tidak dekat, terlalu kompak malahan. Semacam love and hate relationship istilahnya. 

"Young lady, if I have that competence, I will not stay here with you all" Balas Intan sok kece

"Cieee, English dia, hahaha"

Serempak mereka menggoda Intan yang hanya tersenyum sengak mendengar sindiran temannya. 

"Udah dulu ya guyss, kakak mau makan dulu. Sepuluh menit lagi udah habis jam makan siang kita" Vina membuka bekal dan mulai makan. 

Ruang guru pun kembali  sunyi hanya bunyi dentingan sendok yang sesekali terdengar. Meja di kantor guru ini memang disusun menyerupai grup. Satu grup terdiri dari enam sampai delapan guru.

Tujuannya agar para guru bisa bertukar pikiran dengan guru lain setelah jam mengajarnya usai. Memang niat awalnya baik, tetapi pengaturan yang begini malah membuat seorang guru hanya dekat dengan guru lain yang duduk dalam grupnya. Sudah tiga tahun Vina mengajar disini dengan gaji yang tidak terbilang besar. Namun lingkungan kerja yang akrab membuatnya betah untuk bertahan. 

Tak lama jam makan siang pun usai. Guru-guru mulai merapikan peralatan makan dan bersiap-siap untuk kelas selanjutnya. Baru saja Vina dan teman-teman nya ingin berdiri, tiba-tiba terlihat Karan Singh, ketua kelas IX A datang tergopoh-gopoh

"It must be bad news, I guess" Kata Intan

"Miss Vina, habis ini mengajar di kelas kami kan?" Tanyanya dengan napas yang masih tersengal

"Ya, terus? "

"Miss ayolah masuk sekarang. Kelas kami lagi rusuh. Si Carlos menumbuk kacamata si Monang sampai pecah"

"Lha, kok bisa?! " Tanya Vina kaget. 

"Awalnya tadi saling ejek miss, terus didorong si Monang si Carlos. Habis itu si Carlos emosi, tak sadar ditumbukkannya kacamata si Monang miss"

"Mana wali kelas kalian?" Selidik Vina lagi

"Nggak masuk miss"

"Aissh, anak-anak si Denny inilah. Terus buat masalah. Ampuuunnn..." Ujar Vina kesal

"Hahaha"

Serentak Hadi dan guru-guru lain dalam grup mereka menertawakan kemalangan Vina. 

"Nasibmu lah, Nak. Dinikmati aja lah ya, segala hal ada hikmahnya" Ujar Winda sok bijak

"Huh, awaslah tiba giliran kalian nanti yang kena prank sama siswa, pasti aku ketawa sepuasnya. Aku pergi dulu ya guys, bye maksimal" 

Vina pun tergesa melangkah menuju kelas IX A bersama Karan sementara teman-temannya masih menertawakan kemalangannya hari ini. 

Indahnya menjadi guru. 

***

Kelas IX A dalam suasana hiruk pikuk ketika terdengar bunyi tumit sepatu yang beradu dengan lantai yang keras. Beberapa siswa yang menyadari kedatangan guru mereka segera duduk dengan tertib di kursinya sementara yang lain masih asyik memperkeruh kegaduhan antara Carlos dan Monang.

Vina berdiri di depan kelas, tangan nya bersedekap di depan dada, matanya yang tajam awas mengamati siswa-siswa satu persatu. Suasana kelas perlahan hening, sedangkan siswa yang berbuat kegaduhan mulai duduk satu persatu, meninggalkan dua jagoan, Monang dan Carlos, saling tatap satu sama lain di tengah kelas.

Tak ada satupun yang mau mengalah, keduanya masih ngotot untuk menjatuhkan mental lawan melalui tatapan tajam nan sangar. 

"Okay hero, come you both here" Ucap Vina memecah keheningan

Perlahan keduanya pun maju ke depan kelas dengan muka masih ditekuk, khas bocah ngambek. 

"So, do tell me what happen here" Tanya Vina tenang sambil duduk di kursi guru. 

"Carlos duluan miss, disebut-sebutnya nama bapak saya. Terus saya emosi, langsung terdorong saya dia miss" Monang memulai serangan

"Terdorong kata kau? Sengaja kau dorong aku ya. Kan pas kau dorong aku, sadarnya kau. Nggak pengsan kau kan? " Ucap Carlos tak mau kalah

Vina menunduk menahan senyum mendengar perdebatan keduanya. Giliran berdebat langsung cerdaslah pikiran siswanya, giliran menjawab soal jangan ditanya. Pasti bungkam seribu bahasa.

"Oke, sekarang giliran mu Carlos. Apa cerita versimu?" Ujarnya sambil menatap mata Carlos. 

"Iya miss, saya tadi becanda sama Monang habis itu langsung didorongnya saya miss, untung kepala saya nggak sampai menghantam tembok, karena kesal saya tumbuk dia miss rupanya kena kacamatanya miss" Kelit Carlos

"Wait, bercanda yang kamu maksud itu menyebut nama bapaknya? 

" Ehm, iya miss "

"Baiklah, kamu Monang pernah nggak menyebut nama Tuhan, nama dewa, atau nama nabi? "

"Pernah miss"

"Kalau nama mereka saja bisa kamu sebut, kenapa nama bapak kamu nggak boleh disebut?"

"Tapi itu lain miss, biasanya kita sebut gelarnya di depan nama. Contohnya; Nabi Isa, Nabi Muhammad, dewa Krisna, kan nggak langsung dibilang namanya. Ini masak dibilang Talu, Talu, gitu miss"

"Oh, nama bapak kamu Talu" Vina menahan napas agar tidak tersenyum

"Haaa, lucu kan miss, hahaha" Ucap Carlos tak sopan lalu seisi kelas pun mulai ribut

"Cukup, diam semua! " Bentak Vina mulai kesal

Setelah kelas hening, dia melanjutkan ucapannya. 

"Baik, coba dengar Monang. Kamu tidak seharusnya semarah itu kalau nama bapak disebut. Banggalah dengan nama bapak kamu. Kalau kamu merasa terganggu juga, kamu boleh kok melapor ke guru yang masuk supaya si Carlos ditangani guru. Jangan langsung main dorong-dorong. Bangsa yang berbudaya tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Paham kamu Monang? "

"Paham miss"

Lalu Vina menatap Carlos pula dan ia melanjutkan. 

"Kamu juga Carlos mengingat usia pak Talu jauh di atasmu, tidak sepantasnya kamu mengucapkan namanya begitu. Saya yakin orang tua di rumah pasti sudah mengajarimu etika dalam berbicara khususnya kepada yang lebih tua. Lagian kamu ngapain menyebut-nyebut nama pak Talu? Apa kamu pengen ketemu sama beliau? Biar saya pertemukan" Tanyanya tajam

"Nggak, nggak, miss" Carlos menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Well, besok kalian berdua ketemu sama pak Denny supaya beliau yang menyelesaikan masalah penggantian kacamata si Monang. Carlos beritahu orangtua kalau kamu perlu mengganti kacamata si Monang besok dan tolong jangan diulang perilaku mu ini, paham? "

"Paham miss"

"Baiklah, silakan kembali ke kursi kalian masing-masing" Pungkasnya menutup pembicaraan. 

Vina kemudian berdiri di depan kelas lalu melanjutkan materi pelajaran yang tertunda. 

"Nah, hanya karena masalah sepele, Carlos harus mengeluarkan dana ekstra untuk mengganti kacamata Monang. Makanya jangan suka melakukan hal yang tidak perlu seperti menyebut-nyebut nama ayah temanmu. Itu menyangkut harga diri seseorang. Saya harap tidak terjadi lagi masalah seperti ini. Gara-gara kalian, waktu untuk pelajaran hari ini berkurang lima belas menit. Seharusnya lima belas menit ini bisa digunakan untuk belajar tetapi jadi terbuang sia-sia"

Guru yang terkenal cerewet ini menatap siswanya satu persatu sampai ucapannya meresap ke dalam pikiran mereka, lalu dia melanjutkan penjelasannya. 

"Baik, keluarkan buku dan alat tulisnya, kita lanjutkan materi mengenai panjang busur dan luas juring"

Vina menggambar sebuah lingkaran dengan busur kayu yang besar di papan tulis. 

"Anggap ini sebuah pizza yang besar, berbentuk lingkaran dengan taburan keju, daging asap, dan irisan sosis yang banyak. Lalu, kalian akan memberikan sepotong pada adik kalian"

"Jangan miss, mau dihabiskan, hahaha" Seru anak-anak kompak. 

"Dasar pelit. Nah, luas sepotong pizza ini dapat dianggap sebagai juring pada lingkaran. Ringkasnya luas juring adalah sebagian dari luas total lingkaran. Jadi untuk mengetahui berapa luas juring ini kamu harus tahu dulu luas lingkaran. Nah, Carlos bagaimana cara mencari luas lingkaran? "

"Ah, eh, itu miss, anu, ... Aduh, lupa miss? " Jawab Carlos sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.

"Iyalah lupa, habis kamu memakai memori di otak untuk menghapal nama bapak temanmu, mana cukup lagi untuk mengingat hal lain, ckckck"

"Huuuuuuu"

Serentak satu kelas menyoraki Carlos. 

"Baik, tenang semua. Jadi untuk mencari luas sebuah lingkaran kamu harus mengalikan kuadrat dari jari-jari lingkaran dengan nilai pi, kemudian... "

Lalu seisi kelas pun sibuk dengan materi dan tugas yang diberikan. Seperti biasa, guru matematika selalu memberikan soal yang lebih sulit daripada contoh dengan alasan untuk mengasah kemampuan bernalar siswa.

Vina berjalan keliling kelas memeriksa pekerjaan siswanya. Kadang ia behenti untuk memberikan penjelasan tambahan jika dirasa perlu.

Tak lama, bel penanda jam pulang pun berbunyi. 

"Fiuuhhh"

Serentak seisi kelas menghembuskan napas lega. Akhirnya hari yang melelahkan ini berakhir. 

"Baik, selesaikan tugas kalian di rumah. Saya harap pada pertemuan berikutnya semua tugas diselesaikan dengan baik dan jangan lupa untuk mengerjakannya secara mandiri, biarpun itu salah. Good day students, see you next time"

"Good day miss"

Vina pun berjalan ke ruang guru. Ia duduk sejenak sambil menghembuskan napasnya perlahan. Punggungnya yang penat disandarkan, lalu dia membuka gawainya. Ada pesan masuk di aplikasi WhatsApp miliknya. 

Sayang, ayok. Aku udah di bawah. 

Ternyata pesan dari Andri pacarnya sudah masuk sejak sepuluh menit yang lalu. 

Baik, aku turun sekarang. 

Vina bergegas mengemasi barangnya lalu turun ke lantai satu tanpa menunggu rekan-rekannya yang belum kembali ke ruang guru. Setibanya di lantai satu, nampak Andri sedang duduk di bawah pohon sambil memainkan gawainya.

Ia pun bergegas menghampirinya pria itu. 

"Ayok Yang, sorry lama"

Andri mengangkat wajahnya, menatap Vina dan tersenyum. 

"Okay Yang, ayoklah pulang. Aku sangat lapar"

"Baik boss"

Keduanya pun menaiki motor bebek Andri dan bergegas meninggalkan gedung sekolah.

Tanpa disadari ada sepasang mata indah yang menatap lekat-lekat kepergian mereka.

Catatan:

Monang = memang

Talu = kalah 

*bhs batak toba

Fiuh, akhirnya bab pertama dari cerita ini selesai. Mohon dukungan nya teman-teman agar saya tetap semangat menulis. Terimakasih

Bab 2

Batam, Februari 2019

Seorang pria dengan seragam khas polisi perairan dan udara (POLAIRUD) berwarna biru gelap sedang menatap ke ufuk timur, arah terbitnya matahari. Angin laut berhembus pelan meniup rambutnya yang dipotong pendek. Dia tampak sibuk memutar-mutar gawai di tangannya.

Dia menghirup udara yang beraroma asinnya laut dalam-dalam lalu rambutnya diusap kasar. Seorang polisi lain yang sedari tadi menatap dari kejauhan mendekatinya pelan lalu menepuk pundaknya, hingga pria tadi kaget dan hampir menjatuhkan gawainya. 

"Aduh mas Tri, bikin kaget aja sampeyan. Kok bisa jalan nggak kedengaran? Udah kayak makhluk halus mas Tri ini" Rutuknya kesal

"Lae Luki, kamu yang sibuk melamun sampai nggak mendengar langkah kakiku. Lagi ada masalah lae? Kusut kali mukanya"

"Biasalah Mas, masalah yang kuceritakan kemarin sama kamu itu. Sampai sekarang Shanty nggak bisa dihubungi. Nomor HP nya udah nggak aktif, media sosialnya pun ditutup semua. Nggak biasanya lho dia kayak gini. Aku khawatir Mas Tri, apalagi kemarin dia pamit mau praktek ke pedalaman Lingga. Udah dua minggu lebih nggak ada kabarnya" Ucap Luki lemas

"Orang tuanya udah Lae hubungi, adeknya? Atau keluarganya yang lain barangkali? "

"Udah, tapi nggak ada yang mengangkat. Menurut Mas Tri aku harus gimana? " 

"Maaf ya Lae, bukannya mau merusak hubungan kalian, tapi menurutku ini sangat mencurigakan. Sebelumnya kan Shanty nggak pernah begini. Apa mungkin ini ada hubungan nya dengan isu-isu yang kita dengar dulu?"

"Maksudmu rumor sampah tentang hubungan Shanty dengan abang kelasnya si Rio itu? Nggak mungkinlah Mas. Shanty bukan perempuan kayak gitu, lagian hubungan orang itu hanya sebatas teman satu kampung dan satu SMA"

Tri terdiam cukup lama, berusaha mencari kata yang tepat untuk mengungkap kecurigaannya karena Luki memang cinta mati dengan Shanty. 

"Maaf Lae, tapi pria yang namanya Rio ini bukan hanya sekedar teman sekarang, dia juga seorang perwira. Level yang sudah berbeda dengan kita yang hanya brigadir polisi. Tidak semua orang kuat waktu dihadapkan dengan uang dan jabatan Lae" 

"Maksudmu apa Mas Tri? Kamu jangan memperkeruh suasana. Aku cerita padamu bukan untuk mendengar kamu menjelek-jelekkan Shanty" Ucap Luki dengan nada tinggi

"Maaf, maaf, Lae. Cukuplah, aku salah. Tidak akan kuucapkan lagi hal jelek tentang Shanty, oke... "

Ditengah perdebatan yang mulai memanas, seorang polisi lain berlari lalu memanggil mereka berdua. 

"Hei kalian berdua, siap di posisi. Ada kapal penangkap ikan ilegal terlihat 25 derajat dari arah barat. Kali ini kita harus menangkap kapal licik ini"

"Siap Ndan, Lapan-enam" Ucap keduanya sambil memberi tabik lalu bergegas ke posisi masing-masing.

Patroli Kali ini hanya ada sebelas personel di kapal ini. Tiga orang berpangkat tamtama yang bertugas dalam hal logistik, 5 orang berpangkat brigadir yang bertugas dalam operasi lapangan, dua orang berpangkat bripka dan satu orang berpangkat IPDA yang bertugas untuk mengatur jalannya patroli. 

"Naikkan kecepatan kapal 3 knot lagi" Perintah IPDA Heru dari belakang kemudi

"Siap Ndan" Ucap Luki

"Sudah, tidak perlu formal. Fokus saja membawa kapal ini" Tegasnya lagi

Kapal pun melaju mengejar kapal penangkap ikan yang tidak terlihat mencolok itu. Warna kapal merah bercampur biru pudar. Dilihat dari bentuknya, ini seperti kapal penangkap ikan dari Vietnam, tetapi mereka dengan lancangnya memasang bendera merah putih pada kapalnya untuk mengelabui petugas kelautan. 

Kapal ilegal ini sepertinya menyadari mereka telah dikejar lalu meningkatkan kecepatannya. Tentu saja strategi mereka diimbangi oleh kapal POLAIRUD dengan menambah kecepatannya di batas maksimal. Bahkan dari arah depan ada juga kapal ferry milik polisi perairan yang menghadang kapal penangkap ikan ini. Akhirnya setelah pengejaran yang berlangsung alot selama lebih kurang 45 menit, kapal asing ini pun menyerah. 

Para kru berdiri sambil tertunduk di atas geladak kapal dengan tangan diletakkan di atas kepala. Sigap beberapa personel polisi segera meringkus mereka, sebagian lainnya dengan senjata lengkap masuk ke kapal dan menggeledah isinya.

Ternyata bagian luar kapal ini menipu, karena di bahkan dalamnya terbilang mewah. Dilengkapi dengan peti kemas yang besar bahkan ada pula alat pengolahan ikan. Berton-ton ikan  malah sudah dikalengkan. Sungguh kamuflase yang luar biasa. Tidak berapa lama, semua kru telah diborgol dan dipindahkan ke kapal polisi, sementara kapal illegal fishing dijaga dengan ketat oleh beberapa polisi.

***

Di sebuah ruangan dalam kapal polisi, para kru kapal jongkok dengan posisi tangan diborgol dan diletakkan di atas kepala sementara itu seorang Vietnam yang merupakan kepala kapal bernama Nguyen Trai, seorang ABK yang bisa berbahasa Indonesia, IPDA Heru, serta seorang lagi polisi yang baru tiba berpangkat AKBP masuk ke ruangan lain dalam kapal.

Luki, Tri, dan Hamid duduk mengawasi para kru kapal dengan posisi siaga. Beberapa petugas polisi lain berdiri di dek dan geladak kapal untuk memantau situasi.

"Hei, yellow boy, why is your face different? You are not Vietnamese?" Ucap brigadir Hamid

"Bukan Pak, Saya orang Indonesia" Jawab seorang ABK berbaju kuning sambil menatap jemari kakinya. 

"Oh ya, darimana Kau? "Tanya brigadir Luki

"Dari Sulawesi selatan Pak. Saya suku bugis"

"Udah lama gabung dengan kapal ilegal ini? Kok mau gabung sama mereka? "Lanjut Tri pula

"Nggak ada pilihan Pak. Keluarga Saya miskin sedangkan Saya anak paling besar. Selama ini Saya melaut sama bapak, tapi makin hari tangkapan ikan makin berkurang, padahal peralatan melaut kami masih sangat sederhana, tidak bisa mengimbangi peralatan orang luar Pak. Terpaksa Saya mencari pekerjaan lain" Sahutnya lemah

Luki sudah sering mendengar cerita ini. Bagaimana para nelayan begitu kesulitan menghadapi pelaut asing yang perlengkapannya jauh lebih modern. Ironisnya, walau ada bantuan dari pemerintah berupa mesin atau jaring, banyak juga nelayan yang menjualnya lagi entah dengan alasan apa. 

"Kamu mencari uang dengan cara menjarah bangsamu sendiri? " Cecar Luki lagi

"Maaf Pak" Pria berbaju kuning tertunduk malu

"Siapa nama mu dan berapa umur mu? "

"Nama saya Andi Isogi pak, umur saya tahun ini dua puluh tujuh"

"Wah, sudah cukup usia untuk menikah. Udah ada calon-nya? "

"Sudah Pak, tapi karena keluarga saya miskin belum bisa menikah. Di adat kami uang panaik itu mahal Pak. Makanya Saya bekerja keluar untuk mengumpulkan uang panaik Pak. Rencananya tahun depan kalau tabungan sudah cukup, saya akan pulang kampung dan melamar calon istri. Nggak akan melaut lagi Pak, mungkin akan berdagang atau bertani"

"Oh begitu, semoga berhasil melamar gadis impian mu. Carilah pekerjaan lain yang legal agar hidupmu tenang" Saran Luki. 

"Baik Pak, terimakasih" Sahutnya semakin tertunduk

Tiba-tiba pintu ruangan kecil tempat para ketua sedang rapat terbuka lalu keempat pria yang ada di dalamnya keluar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak. Tetapi ada yang ganjil, Nguyen Trai yang tadinya diborgol sudah bebas kedua tangannya, demikian juga ABK yang barusan ikut mendampinginya ke dalam juga sudah tidak diborgol. Luki menatap heran sementara Tri dan Hamid hanya terdiam kalem, siap menunggu instruksi berikutnya.

Lalu pria yang berpangkat AKBP memberi isyarat dengan matanya pada ketiga brigadir yang mengawasi para kru kapal, Tri dan Hamid dengan sigap mulai membuka borgol para tawanan diikuti oleh Luki yang masih termangu-mangu, bingung bercampur heran dengan instruksi atasannya.

Tak lama, semua kru dibebaskan dan dikembalikan ke kapal mereka sementara itu Nguyen Trai menyalami IPDA Heru dan AKBP Hasan, seolah-olah sahabat lama. Luki hanya bisa menatap semua peristiwa itu dengan pikiran yang kacau balau sampai Hamid menepuk pundaknya

"Sadar woy, kenapa lae? "

"Entahlah bang, aku benar-benar bingung. Nggak ngerti aku" Tukas Luki

"Sudahlah, aku tahu perasaan mu. Sana balek dulu kamu ke kabin. Tenangkan dirimu sebentar, nanti kita bicara lagi"

"Siap bang" Ujar Luki sambil berlalu

Sementara itu semua anggota kapal telah kembali ke kapalnya masing-masing lalu kapal-kapal ini pun mulai bergerak ke arah tujuannya. Semakin jauh jarak yang terbentang hingga akhirnya kapal ilegal tadi hanya berupa noktah di kejauhan. 

***

Di dalam kabin, Luki merebahkan dirinya, merasa sangat penat dan bingung. Matanya nanar menatap langit-langit kabin, mencari jawaban atas semua kegundahan hatinya. Masih ingat dia peristiwa yang barusan terjadi waktu para kru hendak naik lagi ke kapal mereka. Tatapan Isogi yang sendu namun tajam seolah menghunjam hatinya. 

Carilah pekerjaan lain yang legal agar hidupmu tenang

Kalimat itu yang diucapkannya pada Isogi barusan, namun segera saja ini menjadi lelucon yang tidak lucu. Dia sendiri apa sudah menikmati uang yang legal? Sebenarnya apa pengertian legal? 

Dia merasa sangat jenuh. Ditutupkan matanya dengan kedua tangan.

Sejurus kemudian pintu kabin terbuka, dan Tri masuk sambil membawa segelas kopi yang mengepul hangat.

"Eh, mas Tri rupanya" Ucap Luki sambil menoleh ke arah pintu lalu bangkit dari tidurnya

"Santai saja Lae, nah minum kopi dulu"

"Makasih mas" Luki pun segera menyeruput kopi panas. Harumnya kopi menenangkan sarafnya yang masih tegang

"Gimana lae, udah mendingan? "

"Udah Mas, makasih ya. Maaf tadi aku sempat kesal sama kamu" Ucapnya tulus

"Easy Lae, biasa itu. Mengenai yang barusan terjadi jangan terlalu kaget Lae. Aku ngerti ini hal yang memalukan, tapi mau gimana lagi Lae? "

"Itulah Mas, selama ini aku di bagian administrasi tidak terlalu terpapar masalah yang kayak gini. Apa semua kapal yang tertangkap diselesaikan dengan cara begini? "

"Nggak Lae, ada faktor lain juga yang jadi pertimbangan. Bulan lalu kami juga menangkap kapal asing dari Taiwan tetapi dinaikkan ke pengadilan karena kapal itu selain menangkap ikan juga membawa narkoba bahkan dijadikan transportasi untuk human trafficking. Ngeri memang zaman sekarang? " Ujar Tri sambil menarik napas

"Iya dan kita turut andil dalam kengerian itu" Sesalnya entah kepada siapa

"Lae jangan terlalu polos. Tangkapan kecil begini nggak ada artinya. Sudahlah Lae nikmati ajalah mumpung cuma kita yang beroperasi di sini. Kadang kalau lagi apes kita harus juga 'berbagi' dengan TNI AL dan instansi PNS macam DKP, karena undang-undang tidak pernah merinci siapa yang berwenang penuh di lautan. Dari operasi begini, kroco macam kita ini bisa dapat 3 hingga 4 juta, kalau kamu tabung bisa cepat terkumpul sinamot mu biar bisa melamar si Shanty. Jangan terus dia merengek minta dinikahi" Saran Tri semangat

"Makasih Mas Tri, Aku hanya perlu waktu untuk terbiasa"

"Saranku Lae, jangan lurus-lurus kali. Siapa yang nggak berdosa di dunia ini? Mulai dari ustadz, pendeta, guru, siapa coba yang suci? Apalagi perkara uang, nihil lae. Semua orang suka uang. Sedangkan pejabat eselon tinggi yang gaji dan tunjangannya sampai tiga digit aja masih korupsi, apalagi brigadir macam kita yang gajinya ngos-ngosan. Lagian kalau pun kita bawa ini ke pengadilan, yakin Lae kebal uang jaksa sama hakimnya itu? Heh, kalau aku sih nggak" 

"Okelah Mas, makasih buat sarannya. Kita bahas masalah lain ajalah ya. Mumet otakku dibuat permainan dunia ini" Luki menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kapal

Tri yang paham betul sifat temannya segera mengalihkan pembicaraan ke pertandingan sepak bola liga inggris. 

"Jadi gimana pertandingan bola semalam, menang Liverpool Lae? 

" Menanglah mas, nggak mas tengok tendangan si Muhammad Salah, mantaplah pokoknya" Ujar Luki bersemangat

"Iya ya, jadi berapa skornya?"

"Nggak selisih jauh mas, cuma 3 - 2 tapi yang penting sih menang soalnya... "

Tiba-tiba gawai Luki berdering. Ada pesan masuk di aplikasi WhatsApp-nya.

Nanar dia menatap layar gawainya, tak percaya kalau orang yang dirindukannya mengirimkan pesan. Apa yang tertulis disana membuatnya semakin tidak percaya. Dia terdiam lama menatap layar gawainya, nggak tahu harus berbuat apa.

Sampai Tri pun kebingungan melihat tingkah Luki. 

"Ada apa Lae, kok bengong? Hei Lae!" Ujar Tri sambil melambaikan tangan di depan wajah Luki

Tetapi yang bersangkutan tidak merespon.

Akhirnya Tri merebut HP dari tangan Luki dan dia membeku membaca pesan yang tertulis disana. 

Shalom bang, apa kabar? 

Ku harap abang baik-baik aja. 

Bang, aku minta maaf sudah merepotkan mu selama ini tapi tolong jangan cari aku lagi bang. Aku sudah dijodohkan orang tua ku dengan yang lain. Selama ini abang nggak bisa kasih kepastian kapan mau menikahi aku. Maafkan aku ya bang, nggak bisa kutolak keinginan orang tua-ku. Semoga segera bertemu penggantiku, perempuan yang jauh lebih baik dari aku dalam segala hal. Terimakasih untuk semua kebaikanmu kiranya Tuhan yang membalas semuanya

Tri hanya bisa mengusap pelan bahu Luki.

Bab 3

Medan, Februari 2019

Hari ini sabtu, sekolah tempat Vina mengajar tidak melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa karena sekolah menerapkan kebijakan five days school. Vina duduk bersantai di karpet sambil menonton TV bersama Andri, pacarnya. Film korea 'Parasite', setelah melalui perdebatan, akhirnya terpilih untuk ditonton hari ini.

"Ya ampun, nggak nyangka kalau di Korea ternyata ada juga daerah kumuh ya. Kirain nggak ada lagi sobat missqueen disana" Ucap Vina sambil mengelus-elus rambut Andri yang rebahan di pangkuannya. 

"Pasti adalah sayang, semua negara pasti punya penduduk miskin bukan hanya di Indonesia. Bedanya orang kita lebih gampang iba dan membantu orang yang kesulitan makanya makin banyak orang yang menjual cerita sedih untuk bertahan hidup" Jawab Andri sambil me-remas pelan tangan pacarnya. 

Keduanya pun kembali serius menatap layar TV sambil menikmati jalannya cerita. Sesekali Vina memberi komentar receh khas cewek-cewek yang sebisanya di jawab singkat atau terkadang hanya ditanggapi dengan "oh", " Heh", "iya yang" Oleh Andri.

Scene demi scene terus berlanjut hingga tiba pada adegan nyonya Park yang diperankan oleh aktris Cho Yeo Jeong beradegan panas dengan sang suami, Tuan Park. Tanpa sadar, tangan Andri mencengkeram tangan Vina semakin kuat, menelan ludah, hingga akhirnya dengan suara serak ia bergumam

"Yang, I feel hot" 

Vina hanya mendengus sambil memutar bola matanya jengah

"So what? Aku harus bilang WOW? "

"Yaanng, Kiss me dong" Pintanya memelas

"Shut up, ayok masak. Udah kubeli tadi bahan-bahannya" Ujarnya sambil berdiri

Bukan Andri namanya kalau langsung menyerah. Sigap ia menarik tangan Vina sampai dia terduduk kembali lalu memagut bibirnya yang ranum, membungkam semua protes yang hendak terucap.

Mulanya Vina mencoba melawan, tetapi Andri dengan sabar menuntun ia menikmati kecupannya. Awalnya ciuman yang selembut kapas namun ketika Vina lengah, lidah Andri langsung menerobos masuk dan ia mulai menciumi Vina dengan intens.

Lidah Andri bergerilya, mulai dari mulut Vina lalu ke lehernya sementara tangannya mulai menyusup ke balik blouse-nya. Diremasnya pelan dada Vina yang kecil tetapi padat, napas keduanya semakin memburu dan tanpa sadar Vina mengeluarkan erangan kecil yang memalukan.

Saat mereka sedang sibuk memadu kasih, alarm di otak Vina berdering, menyadarkannya untuk tidak bertindak lebih jauh. Dia pun menahan hasratnya lalu segera menepiskan tangan Andri dari tubuhnya. 

"Stop bocah tengil. Sudah sana, siram kepalanya pakai air dingin di kamar mandi" 

"Hah, maaf sayang terbawa suasana" Sahut Andri dengan napas yang tersengal sambil memeluk Vina

"I know, makanya memang lebih bagus kencan di luar. Kalau kencan di rumah, ya begini kejadiannya" Vina melepaskan diri dari pelukan Andri lalu menarik tangan Andri

"Sudah sana, masuk ke kamar mandi dan cuci muka. Aduh, sempat bapak tahu aku mengijinkan diriku digrepe - grepe anak orang, bakalan datang beliau kemari sambil bawa bazoka"

"Hahaha, tenang sayang palingan aku yang mati duluan"  Kata Andri sambil merangkul pundak Vina

"Isss, dikira lucu mati konyol. Udah ah, sana cuci muka habis itu bantuin aku masak lunch kita"

"Oke sayang" 

Andri pun pergi ke kamar mandi sementara Vina mulai ke dapur menyiapkan bahan yang akan dimasak. Tinggallah televisi yang masih menyala sendirian di ruang tamu. 

Dua tahun lalu Vina memutuskan untuk membeli rumah dengan fasilitas KPR, sudah bosan dia harus berbagi kontrakan dengan orang lain. Vina memang hidup sendirian di kota Medan.

Kedua orang tuanya tinggal di Pekanbaru, pun abangnya laki-kaki yang seorang polisi juga tinggal disana, sementara adik perempuan tinggal di Tanjung Pinang. Sudah sepuluh tahun dia merantau di kota Medan.

Niat awal hanya untuk kuliah, tak disangka dia mendapat pekerjaan dan pacar orang Medan. Jadilah Vina betah jadi warga Sumatra Utara, tak berniat lagi pulang ke Riau.

Sejurus kemudian, keduanya pun mulai sibuk dengan kegiatan memasak mereka. Andri sibuk memotong sayuran sementara Vina mengulek sambal sambil sesekali memberi instruksi. 

"Nanti sayurannya langsung rebus di dalam panci yang di atas kompor ya bang. Tiga menit aja, langsung angkat, masukkan dalam baskom berisi air es batu di atas meja biar warnanya tetap cerah"

"Nggih Ndoro" 

"Terus jus wortel yang didalam blender disaring ya sayang. Masukkan perasan jeruk nipis biar nggak langu. Jeruk nipis ada di dalam kulkas"

"Baik nyonya"

Setelah berkutat lebih kurang 1 jam di dapur, makan siang pun siap. Ada ayam geprek, sambal terasi, lalapan sayur, dan jus wortel.

Keduanya lahap menikmati makan siang yang sederhana namun terasa sangat nikmat.

Handphone Vina yang ada di atas meja bergetar lalu Andri membuka isi pesannya.

"Dari siapa? " Tanya Vina sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. 

"Dari grup GBHN"

"Oh, dari temanku di sekolah. Sini aku balas" 

Vina mengetik beberapa kata sambil tersenyum lalu meletakkan ponselnya kembali. 

"Apa itu GBHN? " Tanya Andri heran

"Oh, itu singkatan dari grup kami, Gaya Banyak Hasil Nol, hahaha"

"Aih, ada-ada aja lho kalian. Bikin nama bagusan dikitlah" Ejek Andri tak habis pikir dengan kelakuan Vina dan teman-temannya. 

"Itu yang paling bagus terpikirkan otak kami yang dangkal, hahaha. Nanti antar aku ya ke Multatuli. Mau hang out sama kawan-kawan"

"Oke, jam berapa? Pulang siapa yang antar? "

"Jam tujuh sore ngumpulnya, nanti pulang di antar temanku si Hadi. Dia tinggal di daerah sini juga. Nggak apa-apa kan? "

"Nggak apa-apa, yang penting tahu batasan" Sahut Andri tegas

Keduanya pun melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. 

***

Tepat pukul 07.00 WIB, Vina tiba di kafe langganan mereka, ternyata semua anggota grup GBHN sudah nangkring manis disana. Hadi yang rakus mulai menyeruput es boba nya sedangkan yang lain masih sibuk dengan gawainya.

Vina berjalan ke arah teman-temannya dan Baskoro sigap menarik kursi yang disebelahnya untuk Vina duduki. Meja yang mereka pilih berbentuk bundar sedangkan kursinya berupa sofa yang nyaman dilapisi kulit yang lembut, bikin pengen tidur.

"Kok lama kau nyampe Say? " Winda memulai pembicaraan

"Biasa kak, kencan dulu pasti sama Bang Andri" Tukas Joyce

"Iyalah, mana mungkin nggak dapat jatah pas malam minggu" Intan menimpali

"Amboiiii, bibirnya ya. Jatah apaan? Cuma sikitnya, hahaha" Balas Vina tak mau kalah

Para pria yang semeja dengan mereka hanya tersenyum maklum. Sebagai guru yang selalu harus tampil tak bercela di sekolah, ada kalanya mereka harus melepaskan topeng 'sempurna' itu agar kembali menjadi manusia. 

"Idih, sa-nge kali loh kalian bahas-bahas jatah jam segini, nanti si Baskoro pengen baru tahu kalian" Ejek Denny sok polos

"Nggak apa-apa, ada Vina kok di sebelah ku. Pasti dia nggak mau nengok aku tersiksa, ya kan Say? "

"Dih, gaya mu anak muda. Coba ada Vanny langsung mingkem lambe-mu itu" Cecar Hadi

"Entah si Baskoro Silkoro ini. Sok flirting, tapi nggak jelas. Bikin ngarep mode on" Vina menambahi

"Yakin? Nanti kau yang nggak mau sama aku? " Kata Baskoro sambil menatap mata Vina dalam-dalam

Deg.

Jantung Vina berdetak kencang. Tak bisa dipungkiri Baskoro pria yang menawan baik secara fisik dan sikap, apalagi selama ini Baskoro cukup memberi sinyal kalau dia tertarik pada Vina dan mereka juga satu iman. Andai saja belum ada Andri disisinya, mungkin Baskoro bisa menjadi pilihan. But again tidak ada seandainya yang nyata. 

"Alah, udahlah ireng jadi kenyang perutku gara-gara kau, terus sok playboy. Bentar putus kau sama Vanny, bentar lagi nyambung. Habis itu flirting kau sama gadis baik-baik macam kami ini" Ujar Intan

"Kami? Nggak ada aku flirting sama kau ya, sorry"

"Hahahahaha"

Sontak mereka semua tertawa ngakak, sampai-sampai dilihatin tamu yang lain. Ini guru-guru memang nggak ada jaim nya. 

"Jadi gimana woy, pesan apa kita? Dari tadi udah kenyang makan angin" Tukas Denny

"Aku mau pesan nasi sama rawon"

"Aku pesan nasi goreng komplit"

"Aku pesan nasi sama ayam goreng mentega"

Masing-masing mereka menyebutkan pesanan sementara Winda kebagian tugas mencatat semuanya sebelum menyerahkan ke waiter yang berjaga di dekat meja mereka. 

"Iss, malu aku duduk sama kalian. Udah dilihatin kita sama tamu-tamu yang lain" Ucap Hadi

"Yaudah, sana duduk di emperan jadi kang parkir" Balas Baskoro

"Ngomong kau lagi ireng, ini semua gara-gara kau dari tadi. Imej ku yang sempurna jadi luruh tak bersisa" 

"Kok aku pula?" Balas Baskoro tak mau kalah

"Iyalah, siapa suruh kau hitam, jadinya teruslah kau jadi kambing hitam soalnya kambing putih nggak ada" Sahut Vina galak

"Hahahaha"

Sekali lagi tawa mereka yang membahana menjadi pusat perhatian tamu-tamu kafe yang lain. 

"Isss, udahan kenapa sih woy? Ribut kali lho. Diusir nanti kita dari sini" Kata Joyce

"Iya woy, agak kalem dikit kita. Jangan jadi headline news pula besok 'sekelompok guru diusir gara-gara mengkambing-hitamkan teman mereka yang hitam' kan malu kita" Kata Winda menasehati

Kali ini mereka hanya bisa menahan tawa sampai tenggorokan serasa tercekik. 

Untungnya pada saat yang genting ini menu pesanan mulai diantar pramusaji. Mereka pun mulai sibuk mengunyah makanan yang dipesan, sesekali dentingan sendok terdengar beradu dengan piring dan gelas.

Acara makan malam itu diselingi dengan canda dan tawa untuk mencairkan suasana.

Dua puluh menit kemudian, satu persatu mulai menyudahi makanannya, diakhiri oleh Denny yang memang terkenal paling lelet di antara mereka. Puas makan mulailah mereka sibuk dengan gawai, ada pula yang sibuk menghitung bill. 

"Jo, kok cepat kali menghitung bill? Udah mau langsung pulang kau? " Tanya Intan melihat Joyce yang mulai kasak kusuk

"Iya Say, bentar lagi pacar aku mau nelpon. Nanti kalau dia tahu aku keluar bareng cowok-cowok, aku bakal dimarahi"

"Idih, toxic kali pacarmu Jo. Ngapain dipacarin model begitu? " Tanya Baskoro yang langsung disambut dengan cubitan Vina di lengannya. 

Winda pun menatap mereka semua agar tidak mempersulit situasi Joyce. Lalu ia membantu menghitung bill masing-masing sementara Vina dan yang lain membayar tagihan mereka pada Winda untuk memudahkan pembayaran.

Hanya Intan yang belum bergerak. Dia masih sibuk membongkar-bongkar isi dompetnya. 

"Sini Intan, bill mu harganya 85 ribu. Kasihkan aja cepek biar ku balikkan lima belas ribu" Kata Winda sambil membuka dompetnya

Hais, nggak nyangka semahal itu bill-ku. Nggak cukup uangku soalnya ini akhir bulan. Ada yang bisa pinjamin nggak?"

"Ckckck, teruslah kau gitu Ntan. Makan-makan harus ditempat yang instagramable tapi nggak sanggup bayar. Sini kurang berapa uangmu? Uangku aja dulu pakai nanti pas gajian dibayar? " Jawab Joyce

"Nggak bisa bayarnya pake doa aja" Tanya Intan tanpa rasa malu

"Cuih, enyah dari hadapanku, hai kamu si pembuat utang. Sudah kemarikan uang mu biar ku gabung sama bill ku" Sahut Joyce ketus

Lalu masalah pembayaran pun selesai setelah mereka lelah 'meroasting' Intan.

Begitulah sahabat, saling mengejek, saling bercanda, namun saling menutupi apa yang kurang. Sejurus kemudian Joyce pun pamit pada teman-temannya. 

"Guys, aku cus duluan. Maaf ya, kutinggal. Next meeting aku stay lebih lama, bye..." Sambil mengambil jaket, helm, dan tas nya ia pun berlalu. 

Teman-temannya hanya bisa menatap kepergiannya dengan rasa sesal. Dulu sebelum punya pacar, Joyce pribadi yang ceria dan bebas. Sekarang setelah pacaran dia sering galau dan terkekang. Tapi lucunya Joyce nggak mau putus dari sang kekasih. 

"Kasian kali aku nengok anak ini" Iba Winda

"Biarinlah, pilihan dia kok. Kemarin kutembak nggak mau dia" Seloroh Denny

"Iyalah, Wong  kau cuma guru swasta kere berperut buncit, hahaha" Ejek Baskoro

"Isss, jangan kau hina si Denny itu Reng, kawan kita itu, iya kan Den" Ucap Vina sok akrab sambil mengusap perut Denny yang besar

Puas mempermainkan perut Denny, Vina menoleh pada Hadi dan menyampaikan hajatnya. 

"Hadi, nanti kita pulang bareng ya"

"Oke, gampang itu. Tapi KTP ya" Cengir Hadi lebar yang membuat perasaan Vina nggak nyaman. 

"Apa pula itu? Jangan aneh-anah kau Di"

"Kena Te-tek Prei" 

"Isss, najis kau Di. Dasar guru Biologi cabul" Seru Vina kesal

Lalu merekapun rame-rame me-roasting Hadi dan teman yang lain, siapapun yang bisa di roasting.

Mereka memutuskan untuk pulang tepat pukul sepuluh malam setelah puas bercanda dan meng-order makanan lagi dan lagi. 

Mari lupakan pacar malam ini. Hidup untuk teman.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED