Bab 1

PLAK!

Sebuah tamparan keras menghujami pipiku. Rasa sakit menerjang pipiku dengan segera. Aku tatap penuh kebencian kepada Ayahku sendiri, Logan Savire.

“Apakah dengan menamparku Ayah puas?!” teriakku dengan nada yang keras.

“Berani-beraninya kau membuka mulutmu, Serenna!!”

Air mataku sudah berkumpul di pelupuk mata. Peristiwa ini sudah sering kualami. Bahkan bukan untuk pertama kalinya.

Ayahku, Logan Savire, tulang punggung keluargaku, justru orang yang paling menyebalkan di dunia ini. Ia tak bekerja, pulang dalam keadaan mabuk, dan terkadang juga pulang dengan seorang wanita. Berhaha-hihi di dalam kamar sembari bercinta. Menjijikkan.

Ia hanya mengandalkan diriku yang masih SMA untuk bekerja. Sungguh ironis. Lelaki jahanam yang paling biadab di muka bumi ini.

“Kenapa? Kenapa aku tak boleh berbicara? Bukankah Ayah hanya akan meminta uang dariku?!”

Padahal aku hanyalah seorang karyawan paruh waktu di sebuah toserba kecil. Pun aku harus mati-matian untuk mengejar waktu, antara sekolah dan bekerja. Ayahku yang tak tahu diri ini hanya menjadi benalu dalam keluargaku.

Bahkan Ibuku, Juliet Savire, sudah tak sanggup lagi dengan kekangan kekejaman Ayahku. Ia melarikan diri di suatu malam tanpa kuketahui. Tiba-tiba saja raib dari rumah ini. Melarikan diri tanpa meninggalkan satu jejakpun untukku.

“Kenapa? Kau sudah besar harusnya sudah bisa mandiri!” Ayahku yang sialan ini mulai menjambak rambutku. Aku meringis pedih.

“Apakah aku harus kabur juga dari rumah ini, sebagaimana Ibu?! Ayah pikir aku tak berani, hah?!”

PLAK!!

Satu tamparan yang jauh lebih keras nan kuat pun terasa di pipiku.

SUDAH! SUDAH CUKUP! SUDAHI SAJA SEMUANYA!

“Ayah akan menyesal karena telah menamparku.” tandasku dengan dingin. Seketika aku hempaskan tubuh Ayah ke belakang.

Dengan uraian air mata yang tak tertahankan, aku pun pergi menuju kamar. Aku keluarkan koperku dengan sesegara mungkin. Mengemasi barangku secepat yang aku bisa.

Tak mungkin lagi rasanya aku berada di neraka ini.

Mencegah air mataku yang jatuh, aku memanjatkan do’a kepada Tuhan. ‘Tuhan, maafkan aku. Aku menjadi anak yang durhaka. Sekali saja... Sekali saja...’

‘Aku sungguh tak sanggup jika terus berada di sini.’

Hanya dalam waktu lima belas menit, aku selesai mengemasi barangku. Kini, aku sudah pergi dengan menyeret koper. Ayahku yang berada di ruang tamu itu melototkan matanya.

“Kau mau ke mana, Jalang Kecil?!”

Aku diam saja.

BRAKK!!

Ayahku menarik tanganku. Tetapi, keputusanku sudah bulat. Kuenyahkan tangan Ayahku itu. Lalu, pergi ke luar rumah memberhentikan taksi yang muncul di depan mata.

Di belakang sana, Ayahku berlari-lari memanggilku.

Apa peduliku?

Memangnya kau siapa, kau hanyalah Ayah yang tak pernah pantas untuk kusebut Ayah.

* * *

Aku tahu tindakanku ini cukup gegabah. Pergi dari rumah tanpa rencana sama sekali. Dan aku yakin seratus persen, Ayahku akan meneror di tempatku bekerja. Ia akan menungguku saat aku pulang kerja.

Menghela napas berat, sepertinya aku sudah tak bisa bekerja di toserba lagi. Aku sudah tak mau berhubungan dengan Ayahku.

Di jalanan yang sempit nan kumuh, aku meminta turun kepada supir taksi. Menyeret koperku. Di kanan-kiriku, terdapat banyak sekali apartemen dan hotel dengan harga yang miring.

Mendapatkan penginapan adalah hal yang terbaik. Tak mungkin aku pergi tanpa tujuan. Aku perlu mendinginkan otak, sembari mencari pekerjaan yang baik untukku.

Masuk ke salah satu indekos di sana, sengaja membayar selama satu bulan. Setidaknya, aku tak perlu khawatir untuk tidur selama satu bulan ke depan.

Lebih baik tidak makan, daripada tak punya atap untuk pulang.

Di dalam kamar, aku mengistirahatkan tubuh seraya mencari lapangan pekerjaan via online.

“Hah ... Pekerjaan apa yang bisa kudapatkan? Sedangkan lulus SMA saja belum.”

Aku pun membuat postingan di media sosial. Berisikan keinginan bekerja. Intinya, aku siap untuk bekerja keras.

Namun, aku hanya mendapatkan kesedihan tatkala membaca komentar mereka.

[Hei, bocah! Kau hanya anak di bawah umur! Mencari pekerjaan? Kau bercanda?]

[Aku yakin, orang yang memperkerjakan dirimu hanya akan terkena sanksi UU Ketenagakerjaan!]

[Bocah tanpa skill, mau kerja apa kau? Aku saja yang sudah lulus bingung mau kerja apa. Apalagi kau!]

Semua orang menghujatku. Perkataan mereka benar. Aku mestinya bersyukur bisa bekerja paruh waktu di toserba. Tidak semua orang berbaik hati untuk memberikan pekerjaan kepada anak di bawah umur.

Hingga akhirnya ...

Sebuah pesan pun masuk ke media sosialku. Tertera namanya, Anna Cecilia.

Anna Cecilia : [Aku mencari karyawan baru di tempatku bekerja. Gajinya 150$ setiap satu jam. Apakah kau mau bekerja bersamaku?]

150$?!!! Gila saja. Ini angka yang fantastis!

Pekerjaan macam apa ini? Perasaanku menjadi tidak enak. Jangan-jangan perekrutan sebagai pekerja seks komersil? Hih! Enak saja!

Aku ini masih perawan ting-ting. Lagipula, aku ini cantik tahu!

Kubalas langsung pesan tersebut.

Serenna Savire : [Pekerjaan apa, Kak?]

Anna Cecilia : [Datang saja ke kantorku. Cupid Company, Mango Street Number 7, West Cassey].

Berada di sebelah barat kotaku? Lumayan jauh juga.

Perasaan penasaranku meningkat. Aku pun mencari di internet terkait dengan Cupid Company.

Mataku membelalak seketika... Ternyata... Ini adalah perusahaan penyedia jasa sebagai pacar sewaan.

Jantungku berdebar. Aku tahu, di Kota Cassey ini jasa pacar sewaan sudah biasa. Banyak orang yang membutuhkan pasangan. Entah itu sekadar untuk menemani mereka kencan. Atau pun sebagai pembuktian kepada orang tua mereka.

“Setidaknya ... aku tidak menjual diriku.”

Pada saat itu juga, aku pun mandi dan mengganti pakaianku. Aku harus segera ke sana. Menjadi pacar sewaan, siapa pun itu.

* * *

Aroma parfumku menguar wangi. Banyak lelaki yang mengalihkan pandangannya tatkala aku masuk ke Cupid Company.

Aku sengaja menggunakan pakaian terbaik yang kumiliki. Sebuah dress berwarna merah menyala dengan motif floral yang kecil. Roknya terbuat dari satin dengan pita di leherku. Belum lagi dengan riasanku yang sederhana, tetapi tetap menggoda.

Bagaimana pun, aku ini cantik. Aku berterima kasih kepada Ibuku yang telah menurunkan gen kecantikannya padaku.

Manakala masuk ke Cupid Company, mataku langsung mengenali Anna Cecilia yang sama persis dengan foto profil di media sosial.

Aku memperkenalkan diri dan kini ... aku diantarkan di sebuah ruangan CEO Cupid Company, Madamme Bianca.

“Aku tak menyangka kau akan datang.”

Kuulaskan sebuah senyuman. “Well, semua orang butuh uang.”

“Kau berada di tempat yang tepat. Kau bisa mendapatkan uang yang banyak dari sini. Apalagi kau cantik. Pasti banyak customer yang ingin pergi bersamamu.”

“Benarkah?”

Anna menganggukkan kepalanya.

Saat itu, aku pun masuk ke dalam ruangan Maddame Bianca. Perempuan itu memiliki tubuh gendut dengan pakaian seksi berwarna oranye. Dari pakaiannya yang super seksi, tubuhku bergetar.

Jujur saja, kakiku melemas. Perasaan takut memenuhi hatiku.

Bagaimana jika ... aku akan menjadi pekerja seks komersil?

* * *

Bab 2

“Halo. Duduklah, Serenna.”

Madamme Bianca mempersilakanku untuk duduk. Sedangkan Anna meninggalkanku di ruangan ini seorang diri.

Aku menggigit bibirku, canggung lagi takut.

“Aku sudah mengetahui dirimu dari Anna. Kau belum berusia 18 tahun, kan?”

Kugelengkan kepalaku. “Saya berusia 17 tahun.”

Setidaknya, di usiaku yang tergolong belia ini, aku sudah mendapatkan kartu identitas dari pemerintah negara Westtia. Meskipun tahun depan, aku baru boleh bekerja.

Aku menganggukkan kepala.

Madamme Bianca pun mengulurkan perjanjian kontrak di depanku. Isinya adalah perjanjian pekerjaan paruh waktu. Ternyata, satu hari aku hanya akan mendapatkan satu klien dalam jangka waktu satu bulan sebagai masa percobaan. Sedangkan di bulan depannya, aku baru boleh mendapatkan klien lebih dari satu dalam satu hari.

Sebelum menandatangi kontrak, aku mencoba untuk bertanya. “Seberapa jauh ... hubunganku dengan klien nantinya? Aku tak bisa ... untuk tidur bersama dengan mereka.”

Perempuan gemuk di depanku ini tertawa. Bibir merahnya itu menganga lebar dengan tawanya. “Hahaha! Hahahah!”

Aku terdiam, merasa itu tak lucu.

Karena tanggapanku yang super dingin, Madamme Bianca pun menyipitkan mata. “Bukankah kepuasan klien adalah prioritas perusahaan?”

“Aku tetap tak bisa melakukannya.” Aku menegaskan. Sama sekali aku menjunjung tinggi keperawananku ini. Bejat mana yang mau mencabuliku, tak akan kubiarkan sedikit pun!

Lebih baik aku mati daripada berzina.

Bukannya aku sok suci, tetapi tindak keji itu hanya akan merugikanku.

“Hahaha. Rupanya kau adalah orang yang keras kepala.”

“Aku akan angkat kaki dari tempat ini sekarang, jika kau akan memberikan keleluasaan bagi klien untuk menjamah tubuhku.”

“Hahaha. Sombong sekalii kau, Nona Muda. Kau sudah kuberikan pekerjaan, tetapi kau masih menawar?”

“Kau yang akan kehilangan aset seperti diriku. Muda dan cantik. Aku yakin, kau akan mendapatkan banyak klien.”

Senyuman jahatku terpulas. Aku tak berbohong, kok. Wajahku memang cantik. Luar biasa, bahkan. Dengan kecantikanku, aku bisa menaklukan satu pria hanya dalam waktu sepuluh menit.

Jangan tanya seberapa banyak lelaki di sekolah yang menaksirku.

Madamme Bianca juga menyadari, wajah dan bentuk tubuhku yang proporsional lagi sintal bak gitar spanyol ini menggaet banyak pelanggan. Ia mendengus. “Cih. Baiklah. Aku akan memberikan peraturan khusus untukmu. Sebagai gantinya, kau hanya mendapatkan bayaran 100$ per jam.”

“Itu sudah lebih dari cukup untukku.”

Deal. Perjanjian ini selesai. Aku dan Madamme Bianca bersepakat. Perempuan gendut itu juga mengatakan kalau aku harus merahasiakan perlakukan khusus atas diriku. Karena, tak banyak ‘pria nakal’ yang meminta lebih daripada seharusnya. Mereka yang melanggar kontrak sendiri.

Dan terkhusus untuk diriku, Madamme Bianca akan mewanti-wanti klien dengan alasan aku yang masih belia.

“Kalau begitu, akan kuberikan kau kartu identitas baru nantinya. Semua orang di sini juga demikian. Mereka punya identitas baru.”

Madamme Bianca memberikan kartu nama baru untukku. Queen Aprodithe, mahasiswa Universitas S, jurusan Ilmu Komunikasi, berusia 20 tahun. Yah, profil yang cukup bagus.

Ketika aku selesai membaca kartu namaku, Anna muncul dengan wajah panik. “Ada klien baru yang mendadak datang. Ia akan membayar berapa pun untuk pertemuannya yang urgent ini.”

“Berikan saja Camelia atau Jean. Mereka sangat profesional.” kata Madamme Bianca.

Anna menggelengkan kepalanya. “Sayangnya, semua talent saat ini sedang pergi. Aku sudah membuatkan jadwal untuk mereka semua sejak kemarin.”

Madamme Bianca pun terantuk kepadaku.

Aku meringis. “Jangan bilang kalau ....”

“Tidak ada pilihan lain. Daripada menolak klien?” tanya Madamme Bianca.

Aku membuang napas panjang. Menelan ludahku sendiri. Padahal, aku tak ingin bekerja sekarang. Maksudku, sekarang ini!

Masih ada beberapa hal yang kuurus. Seperti Louise, Manager Toko yang pasti akan gencar mencariku karena aku menghilang di shift malam nanti. Setidaknya aku harus menjelaskan kepadanya.

Akan tetapi ...

“Kau harus berangkat. Sekarang juga.” Madamme Bianca memutuskan. Sebuah hal yang tak bisa diganggu gugat.

Manakala aku bangkit untuk menghadapi klien, Madamme Bianca mengingatkan.

“Ingat, nama barumu adalah ... Queen Aprodithe.”

* * *

Ketika aku keluar dari ruangan Madamme Bianca, Anna memberikan overview terkait dengan klien. Ia bernama Claude Weston. Tak kusangka, dia adalah seorang CEO muda berusia 28 tahun. Ia melanjutkan usaha orang tuanya sebagai desainer pakaian Cladius. Aku bahkan tahu, harga pakaian merk Cladius saja bisa mencapai jutaan dollar. Tak heran, Ia sangat-sangat-sangat kaya. Begitulah kata Anna.

“Kenapa orang se-kaya dia ada di sini? Bukannya orang kaya seperti dia bisa dengan mudah cari pacar?”

“Huh. Justru itu. Banyak orang kaya yang kesusahan cari pacar. Perempuan yang gila harta dan bisa menjilat, atau perempuan yang cinta setengah mati bisa menjadi bumerang bagi mereka.”

“Mereka tak mau ambil pusing. Memilih untuk pergi bersama dengan kita. Tak punya resiko.”

Aku manggut-manggut. Benar juga apa yang dikatakan oleh Anna.

Kami pun masuk ke dalam ruang tamu VVIP. Aku melihat Claude yang sudah bangkit. Kupikir, dia adalah om-om yang berjenggot dan berkumis.

Tetapi, dia malah tampan! Pakaiannya jelas branded produknya sendiri. Ia juga menggunakan jam tangan merk GUCCY yang berjuta-juta. Aku yakin, pakaiannya itu bisa untuk menghidupiku selama satu bulan. Saking mewahnya.

Karena aku bengong, Anna pun melemparkan pandangannya kepadaku. Ia mendelik.

“Ah, perkenalkan namaku Queen Aprodithe. Panggil saja Queen, Tuan.”

Tanpa kuduga, mendadak Claude menggebrak meja. Matanya itu melotot sampai mau lepas dari tempatnya. “Apa-apaan kau!? Kenapa kau membawa bocah sekecil ini?! Dia bahkan hampir seumuran dengan adikku!! Bukannya dikira berpacaran, kami seperti kakak-adik!!!”

Dia menggertak. Marah. Sangat amat menakutkan.

Jantungku bahkan berdebar saking takutnya.

Herannya, Anna tetap tenang. “Memangnya Tuan Claude mau pergi bersamaku atau atasan tempat ini yang berusia empat puluh tahunan?”

“Tetapi, kenapa aku disandingkan dengan anak sekecil dia?! Dia terlihat ringkih! Mana bisa menghadapi orang tuaku!”

“Aku tak bisa pergi dengannya!”

Seketika, tanganku terkepal. Kemarahanku menjelma. Kenapa om-om ini menolakku? Apa maksudnya aku tak bisa menghadapi orang tuanya? Dia meremehkanku?! YANG BENAR SAJA!

Rahangku bergemerutuk. Perasaan takutku melenyap. Hangus entah ke mana. Bergantian dengan amarah yang besar.

“Tuan, aku sudah berusia dua puluh tahun. Wajahku ini memang awet muda! Tetapi, jangan sampai Tuan merendahkanku hanya karena aku masih muda!”

“Oh, kau berani berkata songong padaku?!”

“Memangnya kenapa? Adakah alasan aku untuk tak bicara? Tuan sendiri tadi yang mengatakan, kalau seseorang yang dibutuhkan untuk bertemu orang tua Tuan adalah yang berani?”

“Apakah Tuan memandang nyaliku ini kurang?”

Claude menyeringai. Ia masih tampak meremehkanku. Namun, dia pun berkata. “Baiklah. Aku akan membawamu. Aku lihat sendiri apakah mulut besarmu itu bisa menghadapi orang tuaku.”

Anna mengerjap. Ia menggelengkan kepalanya.

Namun, tekadku sudah membara. Aku ini memang masih terlalu muda. Emosiku masih bergejolak dan tak stabil.

Tetapi, aku ingin membuktikan kepada si Claude sialan ini, kalau aku juga bisa menghadapi orang tuanya. Memangnya segila apa sih orang tua Claude!

“Ayo kita berangkat.”

Claude pun berjalan di depanku dengan langkahnya yang lebar.

* * *

Bab 3

Kami berdua masuk ke dalam mobil. Gila abis. Mobilnya ini sangat amat luar biasa. Desainnya begitu mewah. Kursinya nyaman dan empuk. Sudah pasti, dia ini sangat amat kaya raya!

Sepanjang perjalanan, Claude menjelaskan tugasku. Yah, tugasnya sederhana. Aku hanya perlu bertemu dengan orang tuanya. Membuktikan kalau dia bukanlah bujang lapuk.

“Sialan kedua orang tuaku itu. Dia berpikir aku ini tak laku-laku.”

“Padahal standarmu saja yang terlalu tinggi.” gumamku tanpa sadar. Lelaki semacam Claude yang dingin nan menyebalkan, mana mungkin mau dengan perempuan rendahan.

Kriterianya kujamin sangat tinggi. Cantik dengan kulit putih bersinar, kepribadian mempesona, terlebih dengan kekayaan yang setara.

Laki-laki kan mencari yang sebanding. Sedangkan wanita mencari yang lebih tinggi derajatnya.

“Cih. Kau paham juga, bocah kecil.”

Aku mendengus. Lihat apa kataku?

“Mungkin nanti orang tuamu tak akan suka padaku.”

“Tentu saja. Aku saja kalau tak terpaksa, tak ingin pergi dengan gadis miskin yang udik.”

Ingin sekali rasanya kucekik saja leher Claude. Sudah dibantu, malah tak tahu diri. Jauh-jauh deh lelaki macam dia!

Aku memutuskan untuk menutup mulutku. Tak ada gunanya berbicara dengan patung yang kejam lagi sombong. Lebih baik aku memikirkan strategi macam apa yang akan kuhadapi, tatkala bertemu dengan orang tua Claude.

* * *

BYURRR!!!

Adegan yang semula kukira hanya di televisi belaka pun benar-benar terjadi kepadaku. Aku disiram air! Aku. Disiram. Air!!!

Tuan Erick, Ayah Claude mendadak marah kepadaku manakala aku memperkenalkan diri! Dia menyimpulkan dari penampilanku yang baginya terlihat biasa saja. Dia sudah tahu, kalau pakaianku bukan merk mahal.

“Gadis miskin! Beraninya kau berpacaran dengan Claude!! Aku pikir kalau Claude berpacaran, dia akan memiliki pacar yang sepantaran!”

“Tetapi, apa ini?! Dia bahkan masih mahasiswa!! Kau hanya menghasut Claude, kan?!”

Aku tetap tersenyum pada kondisi tersebut. “Kita tak tahu masa depan seseorang, Tuan Erick.”

PLAK!!

Ia menampar pipiku. Dengan sangat keras. “Jangan berbicara apa pun, perempuan penggoda! Mulutmu itu tak pernah sekolah!!”

Seketika, Tuan Erick pun memanggil petugas. Para petugas berdatangan dengan cepat. “BAWA PERGI GADIS JALANG TAK TAHU DIRI INI!!”

Kuberikan seringai terburukku. “Aku tak akan pernah melepaskan Claude. Sedikit pun.”

Erick berubah kalap. Ia menjambak rambutku. “Apa kau bilang?!!!”

Situasi di sini berubah sangat runyam. Aku tetap diam saja. Sedangkan Odeth, Ibu Claude dan anaknya itu bersikeras melerai kami.

Tetapi, tarikan rambut dari Tuan Erick sangat kencang. Kepalaku terasa pedas. Kulit kepalaku tertarik. Aku menahan diri untuk tak menangis.

Tuhan, kenapa pekerjaanku juga semenyedihkan ini? Aku harus direndahkan dan terluka.

Sungguh, ini adalah sebuah pertemuan yang gagal. Gagal total.

* * *

“Sudah kuduga Ayahku akan begitu.” kata Claude manakala kami berdua bisa terbebas dari Tuan Erick. Para petugas menenangkan Tuan Erick, sementrara Claude membawaku pergi secepat mungkin.

Beberapa karyawan mencuri-curi pandang ke arahku. Apalagi kalau bukan tampilanku yang acak-acakan. Rambutku yang basah menjuntai ke sana kemari. Dan lagi, pakaianku juga ikut basah.

Claude melirik ke arah tubuhku. Ah, sudah pasti bajuku menerawang. Mau bagaimana lagi. Toh nanti juga aku tinggal naik taksi untuk pulang.

PLUK.

Mendadak sebuah jas pun jatuh ke tubuhku. “A-apa ini?”

“Di sini kau masih pacarku.”

Dia pasti merasa bersalah. Apalagi aku sudah ditampar, dijambak, disiram air lagi. Triple combo.

Manakala aku hendak memberhentikan taksi, ia mencegatku. “Aku antarkan saja. Masa iya aku membiarkanmu berkeliaran dengan rambut dan baju yang basah.”

Dia ingin membalas keburukan orang tuanya rupanya. Tetapi, aku menolaknya dengan halus. Bahaya jika Claude tahu rumahku.

Identitas Queen Aprodithe harus dirahasiakan. “Terima kasih, tetapi lain kali saja.”

Kutolak halus permintaan darinya. Lantas aku pun pergi dengan taksi yang muncul di depanku.

Ah, sial ...

Saat aku menyalahkan nasib di dalam taksi, sebuah pesan pun masuk. Kubuka ponselku sendiri. Pesan dari Anna.

[Tuan Claude sudah membayarkan kepada kami. Besok kau datang ke kantor untuk mengisi data rekening dan juga mengurus hal lainnya.

NB. Dia juga memberikan tip cukup banyak untukmu. Kerja bagus, Queen.]

Aku menghela napas. Semuanya memang bisa dibayarkan dengan uang ya... Bahkan termasuk harga diriku.

Ingatan mengerikan tadi memasuki otakku. “Semoga aku tak perlu bertemu dengan Tuan Erick lagi.”

Bisa gila aku kalau bertemu dengan Tuan Erick ataupun kasus yang hampir sama dengan Claude.

* * *

Ketika pulang ke indekos, aku menyalakan ponselku. Kulihat ponselku dengan banyak sekali panggilan tak terjawab. Tentu saja ini berasal dari Louise.

Manager toko toserba tempatku bekerja dulu sangat mengkhawatirkan diriku. Ia mengirimiku pesan berkali-kali. Juga mengatakan kalau Ayahku berada di sana.

“Ah ... Kenapa masalah selalu datang kepadaku tanpa aku meminta?”

“Apakah tak bisa aku bernapas sejenak?”

Sebuah telepon pun masuk. Sepertinya Louise sudah tahu kalau ponselku telah aktif. Aku menyeringai, “Halo, Louise.”

“Kau tak mau datang ke sini?” suaranya berbisik-bisik.

“Ah, soal itu ... Aku minta maaf, Louise. Aku berniat untuk mengundurkan diri dari toko. Tapi, aku belum sempat memberikan surat pengundurkan diri.”

“Kau akan keluar?! Hei, jangan bercanda!!” Nadanya yang berbisik itu berubah panik.

Mendadak, suara lain terdengar tumpang tindih. Berikutnya, aku mendengar suara dari orang yang paling kubenci. Tak lain dan tak bukan adalah ayahku yang keparat itu!!

“Wah-wah ... Kau pikir aku tak mendengarnya?! Kau mau keluar, hah?! Pulanglah, keparat!”

“Ayah!”

“Anak setan! Aku selama ini sudah menyekolahkanmu dan mengeluarkan –“

BIP!! Sengaja aku matikan ponselku. Aku masih tak mau mendengar ocehan buruk Ayahku lagi.

Aku tahu ini adalah tindakan durhaka dan paling jahat.

Namun, apa yang bisa aku lakukan jika aku mendengarkannya? Dan dia akan memarahiku lagi?

Aku tak bisa.

Sudah cukup berat dengan pekerjaanku dan masalah keuanganku sendiri. Tak perlu direpotkan lagi dengan sosok Ayah yang seperti benalu.

Ayahku masih sehat bugar, semestinya dia berpikir untuk menghidupi dirinya sendiri. Seharusnya.

* * *

Seusai pulang sekolah, aku segera datang ke Cupid Company. Aku mengurus data administrasi yang kemarin belum tuntas kuselesaikan. Dan juga mendapatkan jadwal lain pada hari ini.

Kulihat biodatanya. Namanya adalah Edwin Petterson. Tujuannya hanya ingin berjalan-jalan berdua di akuarium saja.

“Hanya ini?” tanyaku tak percaya.

“Ya. Ada banyak kok laki-laki yang ingin berjalan-jalan dengan perempuan. Salah satunya Edwin ini.”

Aku manggut-manggut. Menuju ke ruang lain untuk mengganti pakaian.

Sungguh rasanya aku bersyukur. Tak lagi bertemu dengan klien menyebalkan sebagaimana Claude kemarin. Aku bisa menikmati akuarium dengan lega nanti.

Sengaja menggunakan gaun berwarna putih dengan rok pendek di atas lutut. Memperlihatkan kakiku yang jenjang dan juga tubuhku yang indah.

Aku meringis, memberikan pulasan terakhir di bibirku supaya merona indah.

Kulangkahkan kaki dengan penuh percaya diri. Tiba di ruang tamu, aku membeliak kaget...

Ternyata ... Dia adalah Edwin. Salah satu teman satu kelas tatkala kelas X.

“Serenna?” Ia bertanya.

Aku mengerjap.

* * *

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED