Tetes demi tetes embun bening jatuh berderai membasahi pipi tanpa jeda. Hening mengambil alih keadaan hingga masing-masing deru napas berat yang saling bersahutan terdengar begitu jelas bahkan menyayat kalbu ditambah pula dengan isakan dari mulut-mulut yang tak bisa berkata-kata atas kejadian terlampau mendadak ini.
Gadis kecil dengan tubuh yang dibaluti kaos pink bergambar tokoh kartun terkenal cinderella berpadu dengan rok mini berwarna hitam tengah berdiri menatap dengan sorot terluka ke arah brankar rumah sakit tempat di mana sebuah tubuh mungil terbaring. Yang lebih menampar tubuh itu tertutupi selimut putih dan tak lagi menampakkan aktivitas menghirup dan mengembuskan napas.
"Mengapa kamu melakukan perbuatan keji pada anak saya?!" bentak pria paruh baya pada gadis kecil yang berdiri tepat di sampingnya.
"A-ku n-ggak mu-mungkin nge-lakuin i-tu, Pa," jawab gadis kecil tersebut dengan suara yang gemetar karena pertama kali mendengar bentakan sang ayah.
"Nggak usah nangis kamu, inikan yang kamu mau?! Saya tahu kamu iri dengan anak saya makanya kamu nekad ngelakuin hal setega ini! Kamu tahu? Kamu secara tak langsung telah menghancurkan keluarga saya!" Si gadis kecil hanya bisa tertunduk dalam. Tidakkah orang menyadari siapa yang paling terluka? Apa ada orang yang mau sosok yang paling dekat dengannya terluka bahkan kehilangan hak untuk melihat dunia lebih lama? Tidak bukan? "Kamu emang anak nggak tahu untung! Dasar anak pembawa sial!" teriak seorang wanita yang tengah terduduk lemas memeluk tubuh kaku itu. "Kenapa bukan kamu saja yang mati?!"
"Tapi Ma, Pa, ... ini bukan sa—"
"Udahlah, lo nggak usah ngelak, jelas-jelas gue liat dengan mata kepala gue sendiri, kalo lo sengaja dorong Tiara. Kecil-kecil udah pintar aja jadi orang munafik! Besar mau jadi apa lo, hah?!" seru anak laki-laki yang tengah menyeka kasar sisa air mata di pelupuk.
Tak ada pilihan lain. Gadis malang yang tak tahu apa-apa hanya bisa diam dengan air mata berjatuhan. Seharusnya saat ini sang ibu akan merangkul dirinya, memberinya semangat, bukan malah menyuguhkan tuduhan yang bahkan ia tak mengerti. Tuhan apakah ia akan hidup dengan takdir sepahit ini? Gadis itu tak menyerah, mungkin saudara perempuannya akan mengerti dan tak berlaku sama.
"Kak Naya. Kakak percaya, 'kan, bukan aku yang buat Tiara pergi?" Sayang beribu sayang gadis yang diajaknya bicara hanya memalingkan muka. Sama saja mengiyakan insiden yang sang tersangka pun tak mengerti.
"Mulai sekarang kamu bukan bagian dari kami walau wajah kalian serupa, kalian berbeda dia korban dan kamu pembunuhnya! Tapi tenang kamu akan tetap tinggal di rumah kami, sebagai penumpang maka berlakulah layaknya penumpang. Ya, saya tidak ingin reputasi saya hancur, jadi jangan mengira saya melakukan itu karena saya perduli sama kamu, tidak sama sekali! Penjahat tetaplah penjahat mau berbuat sebaik malaikat sekalipun!" sergah lelaki setengah baya seraya menekankan kalimat terakhirnya tanpa merasa bersalah atau iba sedikit pun karena membuat gadis kecilnya tertunduk takut.
Kata-kata terakhir sang ayah masih selalu terngiang-ngiang dalam otak seperti kaset rusak. Sial, memori itu selalu meretakkan dan meninggalkan lubang yang tak terobati di batinnya. walau begitu, selalu ada harap jika suatu hari akan ada cahaya yang menerangi kegelapan dan ada tangan yang membantunya bangkit dari kesedihan
"Woi! Jangan bengong! Gue tahu lo pasti mikirin bagaimana malunya lo nanti pas kalah balapan, bukan?" tanya pemuda bernama Devon dengan senyum remeh yang ia terbitkan di kedua sudut bibirnya.
Gadis yang kerap disapa Tara bukannya merasa tertantang malah mendengkus menahan tawa. Kemudian, menutup kaca helm fullface yang sempat dibuka hanya untuk menyapa para penggemar. "Kita lihat aja nanti."
Kedua netra di balik helm berwarna senada dengan kendaraan menatap serius ke arah kain kecil yang dipegang oleh gadis berpakaian minim dimana berdiri di antara motor mereka seraya menghitung mundur mulai dari angka tiga.
Saat kain menyentuh permukaan aspal, kedua peserta menarik tali gas dengan semangat membara yang terpampang jelas di wajah, suara deru motor terdengar keras memekakkan telinga, tetapi hal tersebut tidak membuat para penonton menghentikan teriakan kebanggaan kepada idola masing-masing hingga tak terlihat lagi.
***
"Sekarang yang malu, siapa?"
Devon yang saat ini tengah menghentikan motor tepat di samping Tara, mendesah kesal disertai dengan pukulan keras pada helm tanda tak terima. "Nggak usah sombong! Lo menang hanya karena kebetulan!"
Tara berjalan menghampiri Devon dan mengusap beberapa kali bahu lelaki tersebut. "Oh, yah? Bukannya ini kesekian kali lo kalah dari gue?"
Rahang pemuda bertubuh tinggi itu mengeras hingga suara gemelutuk gigi yang saling beradu terdengar. "Lo!" Jika saja tidak ada orang di sana, Devon tak akan segan-segan melayangkan bogeman pada mulut yang gemar menghina itu.
"Sayang, yah, malam ini gue lagi yang dapat. Ya sebenarnya gue tahu sih nggak akan ada yang berubah, cuman cowok sok kek lo perlu dikasih tahu tempat," ledek Tara menampakkan smirk andalannya tak lupa dengan sorot remeh.
"Lagi!" teriak seorang lelaki yang berlari dari arah yang berlawanan tempat Tara berdiri sekarang.
"Mampus gue." Tara meneguk saliva kasar dengan mata melayang kemana-mana mencari tempat persembunyian.
"Kayaknya gue udah nggak perlu ada di sini lagi, selamat menikmati amukan singa," ujar Devon melambaikan tangan puas lalu meninggalkan Tara yang tertunduk gemetar.
"Ngeyel banget, sih, jadi orang!" bentak lelaki muda yang baru saja datang, dadanya naik turun pertanda sedang berusaha mengatur napas.
"Wih, Kak Raffael ganteng banget malam ini," puji Tara terkekeh pelan.
"Nggak usah muji-muji! Nggak akan mempan! Udah berapa kali gue bilang jangan balapan! Lo tahu, 'kan, akibatnya kalo bokap terhormat lo itu liat lo di sini?"
Tara mengembuskan napas kasar. Bosan mendengar kalimat yang lagi diutarakan Raffael. "Maaf, ini yang terakhir, gue janji."
"Setiap lo kedapatan balap pasti jawabannya ini, 'kan? udahlah, Ra, gue butuh pembuktian bukan cuman omongan! Semua orang juga bisa kalo hanya berucap!"
Tara melirik sekeliling, semua penonton sedari tadi memperhatikan perdebatan yang sudah biasa terjadi. Malam ini adalah kesekian kalinya ia tertangkap basah adu kelihaian di atas aspal oleh kakak super protektif, mungkin saat ini dirinya hanya butuh mengiyakan semua ucapan yang terlontar di mulut lelaki itu.
"Ingat, Ra, lo itu anak pengusaha ternama, gimana kalo rekan bisnis Om Arka ngeliat lo di sini? Lo bakal kena lagi, Ra!"
Tara melepaskan helm fullface yang membungkus kepala. Kemudian merapikan rambut yang menutupi wajah. "Nggak mungkin klien papa ngelihat gue, ini udah larut, Kak. Lagian kurang kerjaan banget nonton acara kayak gini apalagi mereka-mereka itu manusia dompet tebal."
"Iya gue tahu. Gue, 'kan, lagi khawatir ceritanya. pokoknya gue nggak mau lagi liat lo balapan, kalau lo keciduk lagi anggap aja kita nggak pernah kenal!" ancam Raffael dengan tatapan serius yang mengarah pada Tara. Tara benci itu, ia tak akan pernah mampu jauh dari Raffaell karena ia sudah terlanjur menopangkan seluruh hidupnya disana. Pundak, telinga, hanya Raffaell yang bisa memenuhi kebutuhan Tara satu itu.
"Main ngancam lo, Kak, nggak seru! Ya udah gue usahain, deh. Gue mau pulang dulu mama sama papa pasti khawatir nyariin gue," ujar Tara seraya menampilkan senyum lebar pada sang Kakak.
"Halu!"
Bahagia maupun kecewa hidup beriringan. Tak jarang penyebab hadirnya juga datang dari yang paling dekat
-----
Rembulan beserta para dayang-dayang yang menemani sunyinya atas harap bertemu sang surya kini tak terlihat diambil alih oleh mentari yang disambut kicauan burung menjadi melodi indah yang menemani sunyinya kota Jakarta. Angin-angin kecil sengaja dibiarkan menerpa wajah karena ia hanya ingin menemui tenang.
Tara—gadis yang memiliki kebiasaan berbicara dengan benda mati yang ia tahu tidak akan pernah membalas ucapannya. Menurutnya, mereka sama dengan orang-orang yang disebut 'keluarga' ada tapi teracuhkan.
Setelah puas menghirup segarnya udara pagi, Tara yang sudah membaluti tubuh dengan seragam yang tidak pernah rapi memutuskan untuk menutup pintu balkon hingga menampakkan kamar suram nan hampa miliknya.
Ia berjalan keluar kamar tak lupa menutup pintu dan menguncinya. Gadis itu sedikit tergesa-gesa berjalan menuruni tangga satu-persatu, matanya tidak lepas menatap jam bundar berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, gadis itu akan berhenti melangkah saat mencapai undakan tangga terakhir. Rasa sesak kembali menggerogoti relung, telinga memanas mendengar tawa bahagia keluarga, sedih karena tak dapat bergabung dan senang karena melihat senyum lebar dari kedua orang tuanya.
Tara mutuskan untuk mempercepat langkah menuju pintu, selalu saja begini pergi tanpa pamit. Karena ia tahu saat melakukan hal itu ia hanya akan mendapat caci-makian, bentakan, bahkan hinaan yang tidak pantas untuk didengar telinga.
"Ra, sini sarapan bareng!" ajak gadis yang tidak lain adalah anak tengah dari keluarga besar Ganendra. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas menampilkan senyum manis ke arah orang yang dipanggilnya.
Gadis 16 tahun itu menghentikan langkah. Kemudian mengarahkan pandangan kepada seseorang yang memanggil namanya.
"Ngapain sih kamu ngajakin dia buat bareng ama kita?" Wanita setengah baya yang duduk berhadapan dengan Naya memutar bola mata jengah, kekesalan jelas terpampang di wajah putih tanpa kerutan miliknya.
"Tau tuh Naya, bikin nafsu makan gue hilang aja!" ketus Fian dengan tatapan tajam yang mengarah pada adik bungsunya, dirinya merupakan putra sulung dari keluarga Ganendra.
"Sudah, lanjutkan makan kalian!" perintah Arka lantas meletakkan sendok yang digenggamnya dengan kasar.
Pria dengan gaya formalnya beralih memandang Tara yang mulai menghitung detik kapan semburan api pemicu luka itu keluar.
"Bisa tidak jangan mengganggu sarapan kami pagi ini! kehadiran kamu hanya akan membuat sarapan pagi kami hancur! dasar anak tidak tahu diri!"
"Papah ....," cicit Naya menatap Arka seolah memohon untuk menghentikan makian terhadap adiknya.
Tara tertunduk sendu menatap ujung sepatunya rasa perih yang sama kembali menjalar masuk ke hati. "Maafkan saya. Teruntuk lo Kak Naya, gue hargai perhatian lo, tapi gue minta jangan pernah ngajak gue sarapan bareng, lo pasti tau apa akibatnya. Nggak usah perduliin gue, mending lo mikir cara ngebuat suasana harmonis keluarga ini kembali lagi!" gadis itu menatap keluarganya dengan sorotan terluka sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan keluarga yang hanya mengganggapnya sebagai bakteri. Cairan bening yang berusaha ditahan kini mengalir tanpa permisi memenuhi pipi, tangis yang selalu ia tumpahkan saat tidak ada orang yang melihatnya.
"Apa gue seburuk itu di mata kalian?" lirih Tara, gadis itu menghapus kasar bulir-bulir kristal bening yang belum kering di pelupuk matanya, dengan segera ia menancapkan gas motor v-xion miliknya meninggalkan tempat yang dijuluki surga bagi orang-orang tapi neraka baginya.
"Yang Papah katakan sama Tara itu keterlaluan!" bentak Naya. Selama ini ia selalu bungkam dengan perlakuan kedua orang tuanya terhadap Tara.
"Sejak kapan kamu mulai peduli padanya, kamu lupa apa yang dia lakuin sama adik kamu?" balas Seina menatap putrinya tidak percaya.
"Mungkin ... Naya termakan hasutan pembunuh itu, Ma," tuduh Fian yang kini telah menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat ke sekolahnya.
Naya menghela nafas panjang. "Udah ngomongnya? aku capek tau liat sikap kalian. Kalian tau yang merusak suasana itu bukan Tara tapi kalian sendiri tau nggak!! tidak bisakah kalian mene—"
"Ma, Pa, Fian pamit dulu," sela Fian seolah tahu apa yang akan dikatakan Naya selanjutnya. Ia pun meraih tas kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Lelaki itu menoleh sekilas pada Naya lalu melenggang pergi begitu saja.
"Lo selalu aja ngehalangin gue saat berusaha ngebela adik kita, gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo itu. Lo yang nggak tahu diri Fian!" batin Naya, ia menatap tajam ke arah Fian di iringin dengan dengusan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Ya udah, Ma, Pa, Naya juga pamit," ucap Naya sambil mencium kedua tangan orang tuanya sama seperti yang dilakukan kakaknya tadi, dirinya berlari kecil menyusul Fian menyisakan pasangan yang tidak pernah menganggap kehadiran anak bungsunya itu.
"Ya udah, Sayang, aku juga pamit Ke kanntor yah." Sebelum berangkat, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk mencium kening sang istri tercinta.
"Kamu hati hati yah, Mas, di jalan!" balas Seina sembari memberikan tas hitam yang berisi laptop dan berkas-berkas penting. Sama seperti Arka, Seina juga tidak pernah lupa untuk mencium tangan lelaki teman hidupnya.
----
"Jujur yah Fian, di sini lo yang tertua di antara kita tapi lo yang paling kekanak-kanakan."
Alis lelaki yang kini sibuk membawa kendaraan beroda empatnya membelah lalu lalang manusia di jalan raya terangkat satu. "Maksud lo?"
"Lo harusnya bisa lebih bijak sama Tara, bukan malah ikut-ikutan ngehakimi dia kek dia orang paling buruk di dunia ini."
"Dia emang orang paling buruk di dunia ini," jawab Fian santai.
Sontak Naya mendesah lucu. "Nggak salah, kita berdua juga tahu gimana yang sebenarnya dan siapa yang harusnya ada di posisi Tara sekarang. Please, lo nggak kasihan ngelihat Tara?"
"Nggak dan nggak akan pernah. Kebencian nggak bisa jadi cinta. Gue nggak sudi punya adik kek dia."
"Fian!"
"Apa?" Lelaki itu malah tertawa kecil. "Gue salah? Dia pantas dapatin itu semua!"
"Dasar nggak punya hati yah lo!" Naya menggeleng tak habis pikir. "Lo nggak tahu, gimana gue nahan sedih ngelihat dia lebih akrab sama keluarga lain daripada keluarga sendiri? Gue malu Fian! Gue nggak bisa jadi kakak yang baik buat dia dan lo disini santai-santai aja! Dia juga adik lo Fian sama kayak gue dan Tiara!"
"Dia bukan adek gue!" sentak Fian, matanya berapi-api hingga langsung mengalihkan pandangan ke arah lain atau akan terlampiaskan pada gadis yang tentu tak ingin ia sakiti.
"Lo udah buta, lo benar-benar nggak tahu diri!"
Fian mengorek kupingnya jengah. "Bacot deh. Gue nggak peduli! Nggak usah terlalu naruh hati sama dia, mau nyusul Tiara?"
Peduli bisa nyata jika dibarengi ketulusan dan restu kepercayaan
----
SMAN Angkasa, tempat di mana Tara bisa melupakan sejenak rasa sakit batin maupun fisiknya. Kini ia menghentikan tunggangan roda duanya dan memandang sejenak gerbang sekolah sebelum memasuki area parkiran.
Gadis itu memarkirkan motor v-xion hitam kebanggaan di area parkiran khusus kendaraan beroda dua, ia berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil meraba tas untuk mengambil benda yang selalu mengganjal kedua telinga, menemaninya menghabiskan waktu dan juga menemaninya untuk sedikit ... hidup.
"Aduh! Gue lupa bawa earphone lagi. Malas banget, kan, harus dengar ocehan mereka," eluh Tara sambil memukul jidatnya sendiri, di depan sana sudah berjejer gerombolan siswa maupun siswi yang siap mencemooh siapa saja yang lewat di hadapan mereka.
Tara mulai berjalan di lantai koridor bersama wajah datar andalannya, baru selangkah ia sudah bisa mendengar bisikan yang ditujukan untuknya.
"Tara lo cantik banget hari ini," oceh seorang laki-laki sembari sesekali mengedip-ngedipkan satu matanya.
"Tara mau nggak jadi pacarnya abang?"
"Sok jual mahal banget, sih, jadi cewek!" desis salah satu gadis yang berdiri di ambang pintu kelas X IPA 2. dengkusan kesal terdengar jelas di akhir kalimatnya
"Jangan deketin Tara! Dia itu cewek nggak benar!"
" Iya, liat aja, tuh, penampilannya berantakan banget kek anak sekolah enggak, kek preman iya!"
"Yaiyalah, berantakan. Hobi dia, kan, cuman berantem nggak jelas. Terus gue denger-denger dia juga nggak dapat perhatian dari ortunya, jadi gitu deh."
"Dasar pembuat onar!"
"Lo tahu nggak? Katanya dia itu nggak dianggap sama keluarganya, kasian banget, 'kan?" ejek seorang gadis sambil menatap sinis ke arah Tara.
Kira-kira seperti itulah bisikan-bisikan yang indra pendengarannya terima pagi ini. Hal ini terjadi setiap hari. Akan tetapi, Tara tidak pernah mengubrisnya, perkataan mereka tidak ada apa-apa dibandingkan rentetan kalimat yang keluarganya lontarkan hampir setiap mereka bertatap muka. Kali ini salah satu bisikan dari seorang gadis yang menatapnya sinis tadi berhasil menghentikan langkah.
Plak!
"Tahu apa lo tentang hidup gue, hah?!" bentak Tara berkacak pinggang, matanya menatap tajam ke arah gadis di hadapannya.
"Emang benar, kan, lo itu anak yang nggak dianggap sama keluarga sendiri?" sosor gadis yang bernama Vandra—salah satu anggota dari KaniaCs yang terkenal di SMA Angkasa sebagai pembully—ia masih setia mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari Tara.
"Jaga, ya, mulut lo!" gertak Tara sambil menunjuk geram ke arah Vandra, sementara gadis yang ditunjuknya malah tersenyum meremehkan.
"Dan gue juga dengar kalo lo sendiri yang ngebu-,
Plak!
Tamparan kedua Tara layangkan pada pipi mulus milik Vandra yang bahkan belum sempat menyentuh pipi lainnya yang begitu sakit. Ia melakukan itu seolah tahu kata apa yang akan dikeluarkan Vandra selanjutnya. Tanpa basa-basi Tara pun menonjok dan memukuli Vandra tanpa ampun. Bagi Tara, siapa pun yang berani mencampuri masalah pribadinya maka orang tersebut musuh.
Tidak ada yang mau melerai mereka, semua hanya diam menyaksikan pertengkaran itu, bahkan ada yang menyemangati dan mendukung andalannya masing-masing lalu dengan gilanya mengabadikan dalam bentuk video maupun foto hingga datang dua orang gadis yang akhirnya berusaha melerai pertikaian panas tersebut.
"Telepon kak rafael, Sha!" pinta gadis yang sibuk melerai pertengkaran Tara dan Vandra, sebut saja dia Aundry. "Cepat!"
"Iya, sabar Dry, gue juga lagi cari nomornya kak Rafael, nih!" gerutu gadis yang bernama Meysha.
Drrt! Drrt!
Meysha tersenyum lebar melihat nama siapa yang tertera di layar handphonennya, tanpa buang waktu ia dengan segara mengangkat telepon dari orang yang baru saja ingin dihubunginya.
"Halo, Kak, lo udah di sekolah 'kan?" tanya Meysha, ia menggigit bibir bawah karena cemas melihat perkelahian sahabatnya yang tak kunjung usai.
"Iya, gue lagi di kelas, nih, biasa lagi ngumpul bareng sama teman-teman. Sorry, yah, semalam telepon lo nggak gue angkat. Emang ada apa, sih?" tanya Rafael penasaran.
"Cepat turun ke bawah! Tara berantem lagi!" ujar Meysha dengan nada panik.
"Apa?!" Suara bariton itu sedikit membentak efek terkejut hingga dibuat Meysha tersentak. "Okey, gue bakal ke bawah sekarang!" lelaki itu memutuskan telepon sepihak, tanpa menunggu balasan dari lawan bicara.
"Udah bikin kaget, minta maaf dulu kek." Meysha menggeleng kepala sedikit kesal.
"Gimana, Sha?" tanya Aundry napasnya naik turun karena lelah memisahkan dua orang yang sedang bertengkar hebat.
"Bentar lagi Rafael bakal dateng, jadi tenang aja." Meysha kembali menyimpan handphone ke dalam saku seragam.
"Gimana mau tenang Sha? Yang Tara lawan itu temannya Kania, lo tahu kan akibatnya?" Aundry hanya menatap khawatir ke arah sahabatnya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Harapan satu-satunya adalah lelaki yang bernama Raffael itu.
"Dia itu Tara, dia beda sama yang lain apalagi korban bullyan Kania, lo liat aja bagaimana cara dia ngatasinnya nanti."
Tak butuh waktu lama Rafael pun tiba di koridor kelas X. Dengan cepat ia berjalan menghampiri gadis yang saat ini jadi bahan tontonan sekolah.
"Tara! Stop!" teriak Rafael dari kejauhan dada lelaki itu nampak naik turun dengan keringat jatuh membasahi kening bahkan saking kencangnya berlari beberapa helai surai hitamnya jatuh menjuntai menutupi kening.
"Hei, ada apa?" tanya Raffael selembut mungkin sebagai salah satu taktik menenangkan singa yang jelas masih menampakkan raut menyergapnya.
Semua orang hanya bisa memasang wajah cengo melihat Tara mendadak memasang ekspresi seolah apa tang barusan terjadi hanyalah dongeng semata. Mungkinkah karena dia adalah ketua OSIS? Tetapi kenapa Tara tidak takut kepada guru BK yang terkenal sangat galak? Banyak pertanyaan yang timbul di benak siswa-siswi yang melihat kejadian itu bahkan ada yang beranggapan bahwa mereka mempunyai hubungan spesial.
"Nggak ada, Kak. Maaf gue gagal lagi."
"Udah, sekarang ikut gue ke uks kita obati luka lo dan jelasin apa yang terjadi, kenapa bisa sampai ke gitu?" Tanpa izin Rafael langsung menarik tangan Tara meninggalkan kerumunan tersebut.
Tanpa mereka sadari ada dua orang yang melihat sejak awal apa yang Tara lakukan, mereka adalah Fian dan Naya.
'Habis ini, lo bakalan kena hukuman dan omelan lagi sama bokap dan nyokap,' batin Fian dengan senyum miring yang tercetak penuh semangat di sudut bibirnya.
"Gue duluan, Nay." Lelaki itu berjalan menyusuri tangga yang menuju lantai dua sesekali melompat girang.
'Lo kasian banget, Ra. Gue tau lo itu sensitif banget kalo masalah keluarga, maaf gue nggak bisa bantuin lo,' batin Naya menatap sendu ke arah gadis yang berjalan beriringan dengan Rafael. Tara tampak begitu bahagia, wajah sederhana yang tak pernah ia dapati di rumah.
-----
"Kenapa?" tanya Rafael singkat sembari mengobati luka lebam di sudut bibir Tara.
"Dia udah ngurusin masalah pribadi gue, dan gue nggak suka," jawab Tara seadanya.
"Gue tau lo nggak suka kalo ada orang yang ngebahas masalah pribadi lo. Tapi, Ra, lo juga harus tahu siapa yang lo ajak berantem."
"Gue tahu, tenang aja gue nggak bakalan takut sama KaniaCs, gue akan lawan mereka, jadi tenang aja." Tara masih setia mengembang lekukan manisnya meyakinkan Rafael.
"Gue boleh minta sesuatu sama lo?" tanya Raffael membaluri kapas ketiga dengan obat merah yang berada di dalam kotak P3K.
"Boleh, apaan?"
Raffael mengembuskan napas secara pelan. "Gue mau lo berubah, gue mau lo nggak berantem, bisa?"
"Gue nggak bisa," jawab Tara cepat.
"Okey, kalau gitu anggap aja kita nggak pernah kenal," ujar Raffael memalingkan wajah. Ia jelas tahu Tara tak akan bisa berkutik jika sudah membahas hubungan. Rafael tak bermaksud tapi demi membuat adik angkatnya menjadi lebih baik, kenapa tidak? Ia muak sendiri mendengar keluarga terpandang itu gemar sekali mencari-cari kesalahan Tara.
"Itu nggak adil, Kak!"
Raffael beranjak dari posisi duduknya. "Ya udah, Fine."
Tara mengembuskan napsnya kasar. "Iya-iya, gue coba!"
"Nah, gitu dong, ini baru adek gua." Raffael memeluk erat tubuh Tara sampai gadis itu kesulitan bernapas.
"Iya-iya, lepasin Kak, maskulin lo terlalu harum bikin gue mual." Tara memukul kencang bagian belakang Raffael.
Raffael melepas pelukannya disertai dengan kekehan kecil. "Lo harusnya bangga punya Kakak ke gue yang harum dan mempesona di mata para kaum hawa."
"Hadeuh! penyakit sok kegantengannya kumat lagi. Eh, dengar, yah, Kak, bagi gue lo itu butek nggak ada cakep-cakepnya." Tara menyibakkan rambutnya ke samping karena menghalangi pandangannya.
"Ya udah, lo ke kelas sana!" usir Tara. Meski telat, gadis itu tetap mengusap luka lebam di pipi kanannya akibat tamparan dari Vandra tadi. Entahlah, rasa perihnya seperti bertambah dua kali lipat.
"Lo nggak apa-apa sendirian nanti lo kesambet lagi?"
"Iman gue kuat setan nggak berani deketin gue, jadi tenang aja, bentar lagi bakal ada panggilan dari Pak Samsul kok."
Ceklek!
Pintu UKS terbuka sehingga menampakkan sosok gadis yang merupakan anggota dari osis SMA Angkasa.
"Kata Pak Samsul, kak Tara ke ruangannya sekarang." Gadis berambut keriting berujar dengan kepala tertunduk serta tangan yang dikaitkan menjadi satu di depan rok mini yang dipakainya. Tentu saja, dia salah satu penggemar berat seorang Raffael yang masuk dalam jajaran manusia tertampan dan membahana di sekolah elit ini.
"Ya udah Kak, gue duluan." Tara berjalan santai keluar dari ruangan UKS mengekori gadis itu menuju ruangan yang menjadi salah satu tempat yang biasa disinggahinya.
"Dasar, yah! manusia terlalu santai!" Raffael hanya menggelengkan kepala melihat ekspresi adiknya, kebanyakan orang akan gelisah jika berhadapan dengan guru BK yang kebanyakan memilik sifat emosional tinggi.
-----
"Kamu lagi, kamu lagi! Kamu nggak bosan keluar masuk ruangan ini?!" Pak samsul menatap tajam gadis yang tampak santai menatap kuku jarinya satu persatu.
"Kalo bapak bosan nggak?" bukannya menjawab gadis itu malah bertanya balik.
"Ya, jelas saya bosanlah!" decih pak Samsul.
"Kalo bosan, keluarin saya dari ruangan ini. Kan gampang. Bapak aja yang buat ribet."
Pak Samsul hanya bisa membuang nafas kasar kemudian memijit pelipisnya mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Tara, sungguh anak yang tidak mau mengalah! Ia beralih menatap gadis lain yang duduk tepat di samping kanan Tara.
"Dan kamu Vandra apa yang kamu lakukan pada Tara?" tanya Pak Samsul kepada Vandra dengan nada tegas.
"Saya nggak lakuin apa-apa, kok, Pak," bohong Vandra matanya berputar untuk menghindari tatapan tajam dari pria paruh baya yang duduk di hadapannya.
"Nggak mungkin Tara langsung mukulin kamu pasti ada apa-apa. Walaupun dia nakal, saya tahu dia tidak akan langsung memukuli orang tanpa alasan. Biar masalah cepat selesai salah satu dari kalian harus minta maaf!"
"Saya nggak mau pak minta maaf sama pembuat onar ke dia," sindir Vandra melirik sekilas gadis di sampingnya.
"Saya juga nggak mau Pak," ujar Tara singkat nan padat.
"Baiklah, kalo tidak ada yang mau mengalah kalian saya beri hukuman lari keliling lapangan sampai bel pulang!!" ancam Pak Samsul.
"Okey, pak," jawab Tara sembari menaikkan satu jempolnya terlihat begitu setuju.
"Nggak! Gue nggak mau! Sekarang aja muka gue udah bonyok, gimana kalau sampai belang dan item? bisa nggak cantik lagi gue," jelas Vandra sembari mengusap lembut wajahnya.
Tara mendengus menahan tawa. "Emang lo pernah cantik?"
"Lo!" gertak Vandra menahan suara, ia menatap Tara tajam seolah berkata 'awas lo!'
"Vandra! ayo, minta maaf kalau kamu masih sayang sama muka kamu itu!" sela Pak Samsul seraya menggebrak meja.
"Tara gue minta maaf," ujar Vandra singkat dalam satu tarikan napas tanpa menoleh ke arah orang yang sedang diajaknya bicara.
"Kurang ikhlas," sela Pak Samsul lagi.
Vandra mengembuskan nafas kasar. "Gue minta maaf Tara, gue tau, gue salah, jadi maafin gue, yah," ujar Vandra dengan nada yang sangat dipaksakan.
"Ok, gue maafin," jawab Tara tersenyum meremehkan.
"Nah, gitu dong. Ya udah, sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing." Pak Samsul melepas kacamata yang menghias kedua netranya.
"Okey, Pak, sampai ketemu di lain waktu," ujar Tara melambaikan tangan, yang justru di balas gelengan kepala oleh Pak samsul.
"Saya tidak mengerti jalan pikiran kamu Tara," guman Pak samsul yang masih setia menatap kedua pundak gadis yang sama-sama paling sering keluar masuk ruangannya