Bab 1

*Happy Reading*

"Bohong, Om! Tante Intan banyak pacarnya. Jangan mau di jadiin cadangan!!"

Aku langsung mendengkus sebal. Ketika suara cempreng itu tiba-tiba saja menggelegar dari samping rumahku.

Sialan!!

Dasar bocah tengik!!

Badan seupil aja, reseknya minta ampun. Awas aja kamu, bocah sialan!!

"Anak itu, yang sering kamu ceritain?" tanya Guntur. Cowok yang baru saja akan pulang dari rumahku.

Guntur ini tuh gebetan aku di kampus. Dia itu ganteng, pinter, humble dan ... pokoknya paket komplit di mata aku. 

Makanya, aku seneng banget pas akhirnya dia mau respon aku. Udah ke tahap mau anter jemput lagi. Kan, gimana aku gak jejingkrakan, coba?

Namun aku lupa, kalo aku tuh punya tetangga reseknya naudzubillah. Ah, ralat. Anaknya doang yang resek. Karna Bapak dan kakek neneknya justru baik banget. Cuma dia doang nih sebiji, Demen banget cari ribut sama aku. Entah karena apa?

Siapa lagi kalo bukan, Ratu Isabella.

"Iya. Itu bocahnya. Nyebelin banget, kan? Bikin aku jomblo terus gara-gara mulut lemesnya. Ih ... pengen aku cubit aja ginjalnya!" jawabku menggebu-gebu. Tak menutupi sedikit pun kekesalanku pada anak tetangga itu.

Guntur pun hanya terbahak saja menanggapiku. Kemudian mengusap rambutku dengan lembut. Sambil bilang, " Sabar, namanya juga anak-anak," ucapnya lembut. Membuat jantungku langsung kelojotan di buatnya.

Aduh! Hati anteng dikit, dong. Kan, mau kalo sampai Guntur denger kamu.

"Ingat dosa, Om! Bukan mahram!"

Setan!!!

Nih, bocah beneran ngerusak momen aja!!

"Bell, diam, gak? Nanti Tante cubit pantatnya, ya?" Omelku akhirnya. Yang sudah terpancing emosi.

"Cubit aja, nih!" 

Namun, dasar emang si Bella anak setan! Dia malah nantangin aku. Sambil menunjukan bokong mungilnya di balik gerbang rumahnya. Membuat aku makin pengen bunuh tuh anak saja.

Berbeda denganku, Guntur malah kembali tertawa ngakak melihat tingkah si Bella. Sampai matanya menyipit sempurna.

Dih! Apa-apan itu? Lucunya di mana, coba?

"Anak itu gemesin, ya?"

Hah?!

Apaan? Gemesin? 

"Gemesin pengen nyekek!" ceplosku. Karna memang bagiku, Si Bella itu gak ada lucu-lucunya. Yang ada malah nyebelinnya minta ampun.

"Jangan gitu. Anak itu cuma pengen becanda aja kok, sama kamu. Namanya juga gak punya ibu. Pasti dia pengen cari perhatian doang."

Ah iya, lupa kasih tau. Si Bella ini memang gak punya Ibu. Tapi, tolong jangan tanyakan ibunya di mana, padaku ya? 

Karena aku juga gak tau! 

Soalnya dari awal mereka tinggal di sini, kira-kira lima bulan yang lalu. Aku memang tak pernah melihat keberadaan wanita lain di rumah itu, selain neneknya, dan dirinya sendiri tentunya.

Namun, kalo tidak salah. Mama ku pernah bilang, Kalo orang tuanya si Bella ini sudah bercerai lama. Sejak Bella masih bayi. Karna selingkuh.

Entah itu benar atau tidak? Namanya gosip tetangga. Yang jelas, gara-gara gosip itu pula. Papanya Si Bella di nobatkan jadi Duren sawit paling hits. 

Soalnya ... ya, memang ganteng sih orangnya. Aku aja tadinya naksir. Tapi berhubung tuh duren punya anak macem iblis cilik cem Si Bella. Aku pun mundur teratur. Karna gak mau mati muda akibat ulah tuh bocah.

Makasih banget!!

Mending aku gebet Guntur aja yang ketauan single. Yee kan? 

"Aku juga tau kalo soal itu. Tapi ... gak gitu juga kali caranya nyari perhatian," balasku tak mau mengerti.

"Tante, cemen! Beraninya di mulut doang. Sini kalo berani. Nih, cubit pantat bella!" Si Bocah setan itupun kembali bersuara. Sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Membuat aku makin meradang.

Baru saja aku mau membalas teriakannya. Pak Dika, atau Bapaknya Bella sudah terlebih dahulu muncul dan menegur anaknya.

"Bella, masuk!" titahnya. Yang membuat tuh bocah langsung memberengut kesal sambil menghentakan kakinya.

Mamam, tuh!

Bab 2

*Happy Reading*

“Tanteee …!”

Bruk

“Akh!”

Hahahahahahaha ....

“Bellaaa …!”

Tawa Bella pun semakin membahana penuh kemenangan, mendengar kekesalanku pagi itu.

Dasar anak kutil! Masih pagi udah ngerecokin orang aja!

“Awas kamu, Bel! Sini Tante cubit ginjalmu!” marahku seraya bangkit dari lantai dan mengejar anak sialan itu.

Ya … gimana nggak menyebalkan kalau pagi-pagi begini, anak itu seenaknya datang ke kamarku dan berteriak di kuping dengan keras. Aku bahkan harus  melompat dari atas tempat tidur saking kagetnya, kemudian nyungsep di lantai dengan mengenaskan.

Nah, gimana aku nggak murka, coba? Orang lagi enak-enak tidur, dirusuhin bocah gendeng itu.

“Bella sini kamu! Cepat sini!” seruku di sela langkah, sambil terus mengejar bocah kutil yang masih berlari sambil tertawa penuh kemenangan.

Emang bocah nggak ada akhlak!

“Bella!”

“Tante payah! Masa kejar Bella aja nggak bisa? Huh ... dasar, Tante Babon!”

Bajirut! Malah dia ngatain aku sekarang!

Wah. Ini, sih, nggak bisa dibiarin! Awas aja kalau ketangkap! Bakalan gue pites nih kutu satu.

Aku pun mempercepat langkah kakiku tanpa melihat kanan dan kiri lagi. Berusaha lebih keras mengejar bocah itu. Namun, saat aku hampir menangkapnya, bocah itu malah berbelok begitu saja ke arah dapur hingga aku ....

Kerompyang!

... Menabrak Mama tanpa sengaja, yang sedang membawa tepung di baskom untuk bahan kue.

Alhasil, kini wajahku pun putih semua penuh tepung itu.

“Mamaaa …!” teriakku yang nyaris menangis saking kesalnya.

Mama menutup kupingnya dengan dramatis, seolah suaraku ini bisa menghancurkan seluruh isi dunia. Sementara bocah sialan yang jadi penyebab semua kekacauan ini, malah terbahak kian kencang di balik tubuh Mama.

“Astaga, Intan!? Kebiasaan, sih? Masih pagi udah teriak-teriak aja. Malu sama … loh, Tan. Mukamu kenapa? Abis mandi bedak? Apa abis ketumpahan cat tembok?” Papa yang tiba-tiba muncul dari ruang TV pun langsung menghentikan omelannya, saat melihat tampilanku yang putih semua.

Sementara di belakang Papa. Pak Dika merapatkan bibirnya, yang aku tau pasti sedang menahan tawanya melihat tampilanku yang hancur saat ini.

Sialan memang!

Padahal aku jadi begini juga karena anaknya yang buandel banget! Bukannya minta maaf, pria itu malah ingin menertawaiku.

Dasar duda sialan!

“Ini semua gara-gara bocah rese itu, Pah! Dia ngerecokin tidur Intan tadi. Bikin Intan jatuh dari tempat tidur! Makanya Intan kejar, mau dicubit tadinya biar kapok. Eh, malah dimandiin tepung sama Mama,” aduku tanpa menutupi apapun di hadapan kedua orang tuaku dan Bapaknya Bella yang ... sialannya pagi-pagi udah cakep aja. Bikin aku hampir gagal fokus!

Papa dan Mama pun hanya menggeleng tak habis pikir, “Kamu, nih. Anak kecil aja dilawan.”

Eh? Kok, malah jadi aku yang disalahin? Tadi ‘kan yang bikin rusuh si boneka Annabell. Kenapa malah aku yang diomelin?

“Ish, Papa! Ini tuh gara-gara bocah setan itu yang rese!”

“Intan!” tegur Mama nggak suka dengan ucapanku.

“Apa? Emang bener kok, tuh bocah emang sialan banget. Jahilnya naudzubillah!” tukasku sengit, karena terlalu kesal dengan kelakuan si bocah.

“Tapi nggak gitu juga negornya, Intan,” bantah Mama tak setuju.

“Ya, terus? Intan harus gimana? Anaknya udah nggak bisa dibaikin gitu. Semakin lama malah semakin ngelunjak,” balasku tak mau mengalah.

“Tap—”

“Saya minta maaf.”

Eh?

“Saya belum bisa mendidik anak saya untuk jadi anak manis seperti yang lainnya karna keterbatasan waktu. Saya memang belum bisa mendidiknya dengan baik. Saya minta maaf ya, Intan. Semoga kamu mau memaafkan saya.”

Suasana pagi itu pun langsung hening, saat Pak Dika mengintrupsi Mama begitu saja dengan permintaan maafnya. Membuat aku merasa linglung seketika. Semua karena aku ini sebenarnya lumayan sungkan pada pria tersebut. Dia sangat pendiam dan jarang terlihat berinteraksi dengan orang lain.

Aku saja lumayan bisa dihitung dengan jari melihat pria ini selama jadi tetangga. Apalagi dengar suaranya, yang selama ini hanya terdengar kala menegur anaknya doang. Itu pun selalu cuma dua kata saja, “Bella, masuk!”

Hanya itu, selebihnya pria ini memang minim kata dan interaksi. Jelas saja saat akhirnya dia bicara sepanjang itu, bisa apa aku selain terpesona. Pak Mahardika dalam mode banyak omong ternyata lumayan bersahaja.

Terasa lebih anehnya lagi, ketika mendengar suaranya tadi, emosiku pun menyurut begitu saja. Hilang tak tau ke mana, berganti dengan degupan jantung cepat yang kurang ajar.

Jantung nggak ada akhlak!

“Bella, minta maaf sama Tante,” titah Pak Dika kemudian melirik anaknya.

Tidak keras memang, hanya suaranya penuh ketegasan, membuat Bella cemberut, tetapi bocah setan itu tetap maju menghadapiku.

“Bella minta maaf, Tante,” lirihnya sambil menunduk.

Kalau sudah seperti ini, bisa apa aku selain memaafkan?

“Iya, Tante maafin. Jangan diulangi lagi ya?” balasku sekenanya.

“Iya. Tapi ... Bella boleh ngomong sesuatu nggak sama Tante nggak?” jawabnya bertanya.

“Apa?” kepoku.

“Tante nggak pakai BH ya? Pentilnya keliatan, tuh!”

Dasar, Anak setan!

Bab 3

*Happy Reading*

Gara-gara mulut tanpa saringannya si Bella. Aku pun dengan refleks menyilangkan tangan di depan dada, untuk menutupi bagian yang Bella sebutkan tadi. Sebelum akhirnya menjerit histeris dan lari ke lantai atas, kembali ke kamarku.

Sumpah demi neneknya Tapasya yang jahat. Aku malu banget!

Tentu saja! Tadi itu ‘kan ... Astaga! Mau ditaruh di mana mukaku setelah ini?

Oke! Aku akui, memang yang dikatakan si Bella itu benar adanya. Aku memang terbiasa tidur tanpa dalaman apapun. Hanya daster rumahan yang panjangnya selutut. Namun, oh … ayolah! Aku rasa yang punya kebiasaan seperti itu bukan cuma aku, bahkan kuyakin 90% wanita memang suka tidur tanpa benda-benda sialan yang sering bikin nyesek itu. Iya, kan? Ngaku aja!

Nah, cuma masalahnya adalah ... kenapa si Bella harus mengatakannya selugas itu, sih? Aku ‘kan tengsin banget! Mana ada bapaknya pula di situ. Aduh ... sumpah demi apapun! Aku rasanya mau hilang aja dari bumi selamanya. Sayangnya, itu cuma akan jadi anganku saja, karena saat hari menjelang sore, si bocah gendeng itu kembali merecokiku.

Kali ini, dia seenaknya datang ke kamarku dan minta ditemani belajar sepeda. Kan? Nih, bocah emang minta dimutilasi. Nggak tau apa, kalau aku masih dalam mode sembunyi karena tengsin akibat kelakuannya?

“Bell, minta Bapakmu saja sana yang ajarin. Jangan gangguin Tante lagi!” omelku yang masih kesal padanya.

“Papa lagi pacaran. Gak bisa diganggu!”

Eh?

Apa katanya?

“Pacaran? Bapakmu emang punya pacar, Bel?” tanyaku akhirnya mulai kepo.

“Ck, Tante ini gimana, sih? Papanya Bella ‘kan, ganteng. Tentu aja punya pacar. Emang, Tante. Jones!”

Sialan! Malah aku dikatain. Dasar bola bekel!

“Sembarangan kamu kalo ngomong. Gini-gini Tante itu punya pacar, tau!” balasku tak mau kalah.

“Siapa? Om yang waktu itu?” tanya Bella.

Aku baru saja mau mengangguk dengan bangga. Sebelum nih kutil satu seenaknya bicara lagi.

“Jangan halu, Tante. Orang cakep kaya gitu, mana mau sama Tante. Palingan juga Tante cuma dijadiin mainan aja. Udah putusin! Lagian, kata Nenek pacaran itu dosa, tau. Mending langsung nikah aja. Menjauhi dosa zina.”

Tua ... tua ... bocah kelas 1 SD bisa-bisanya ngomongin dosa. Dada aja masih rata lo, Bell. Sok-sok ngomongin dosa.

“Sok tua lu, Bel!” Aku menoyor kepala mungilnya dengan gemas. Membuat gadis itu cemberut tak terima.

“Lagian ngapain kamu ngomongin soal pacaran itu dosa? Lah, Bapakmu aja pan lagi pacaran, katanya tadi. Sono ceramah depan Bapakmu kalo berani,” tantangku kemudian.

“Siapa yang pacaran?”

Eh?

Kepalaku pun sontak berputar ke arah pintu. Saat suara bariton itu tiba-tiba terdengar.

Mampus! Lagi enak-enaknya ghibahin orang, malah muncul dia. Alamak! Mati ajalah, ini mah.

“Papa?” seru Bella. Saat melihat penampakan Bapaknya yang muncul begitu saja di ambang pintu kamarku.

Bocah itu pun melompat ke tubuh Bapaknya, yang langsung ditangkap dengan sigap oleh pria itu.

“Papa udah selesai kerjanya? Udah bisa temenin Bella belajar sepeda, dong. Iya ‘kan?”

Tunggu!

Bukannya tadi ... si Bella bilang Bapaknya lagi pacaran ya? Kok, sekarang dia bilang kerja, sih?

Lah, ini yang budek aku atau emang si Bella yang baru aja nyebarin Hoax. Malah jadi nggak sinkron gini?

“Udah. Ini makanya Papa jemput kamu ke sini,” jawab Pak Dika lembut sekali, bikin aku salfok lagi.

Sialan! Si Bella yang dilembutin. Ngapa aku yang baper, coba?

“Ya, udah. Ayo, Pa. Lagian Tante Intan nggak asyik. Masa Bella minta ajarin cara naik sepeda. Malah dialihin jadi bahas pacaran. Nggak bagus kan buat Bella ya, Pa?”

Bangke! Nih, bocah malah nebar racun lagi.

“Sembarangan!” sergahku tak terima. “Yang duluan bahas pacaran siapa coba? Kamu ya kan?” sambungku membela diri.

“Dih! Kok jadi Bella?”

“Lah, iya! Kamu ‘kan yang awalnya bilang Bapakmu nggak bisa nemenin karena lagi pacaran. Terus ujung-ujungnya malah bawa-bawa dosa. Udah ngaku aja kamu, Bel!” desakku tak mau mengalah.

Biar dikata nih bocah masih piyik, tetap aja, kalau bibit netizen sudah terlihat. Wajib banget dibasmi dari usia dini.

“Tapi ‘kan Bella nggak bilang Papa pacaran sama orang.”

Eh? Maksudnya?

“Papa emang tadi pacaran, tapi sama kerjaannya. Bukan sama orang. Itu, sih, Tante aja yang cemburuan. Makanya langsung kepoin siapa pacar Papa. Iya kan?”

Asem! Dia ngerjain aku ternyata.

“Bell, Tante nggak—”

“Jadi kamu cemburu sama saya, Tan?”

Eh?

“Enggak gitu ceritanya, Pak. Saya—”

“Nggak papah. Saya ngerti kok,” sela Pak Dika seenaknya sambil menepuk kepalaku, sebelum pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih megap-megap di depan kamar.

Astaga!

Ini bapak sama anak kenapa, sih? Bikin pusing banget kelakuannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED