"Leen, sorry ya ... Aku tadi kena macet, karena ada kecelakaan di jalan," ucap Mey pada Aleena, teman baiknya. Saat ini mereka sedang janjian bertemu di sebuah Mall yang ada di pusat kota.
"Gapapa kali, Mey. Gue juga baru nyampai kok," balas Aleena, kemudian mereka berjalan sambil mengobrol. "By the way, lo jadi ngelamar kerja di kantor gue?" sambungnya.
Mey menggeleng. "Aku udah diterima di TK Nusa Bangsa, TK terbaik di kota ini."
"Astaga, Mey! Kenapa ga jadi ngelamar di kantor gue sih?" sungut Aleena.
"Sorry, Leen. Kamu 'kan tau sendiri, aku pengen banget jadi guru TK." Mey memperlihatkan wajah memelasnya, agar teman baiknya ini tidak marah lantaran kecewa.
Aleena menghentikan langkahnya, otomatis Mey ikut berhenti. Aleena menghela napas dan menatap Mey. "Ya udah deh. Mau gimana lagi? Lo juga udah keterima jadi guru," ucapnya sambil mengedikkan bahu. "Selama lo nyaman dan bahagia di tempat lo sekarang," lanjutnya sambil tersenyum. "Tapi, kalau lo udah ga nyaman di tempat kerja lo, lo harus langsung hubungin gue, ya! Ntar biar gue minta ke bos gue buat merekomendasikan lo, ok!" Alesna merangkul Mey dan Mey mengangguk, menyetujuinya.
Mereka melanjutkan langkahnya untuk jalan-jalan dan berbelanja sejenak.
Tentang Mey yang memiliki nama lengkap Amanda Mey Diana, dia seorang gadis yang berasal dari desa. Namun, meski lahir dan besar di desa, Mey memiliki otak yang cukup pintar hingga dia mendapat kesempatan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di kota metropolitan ini.
Mey sudah menjadi yatim piatu sejak usianya dua belas tahun. Ibunya lebih dulu meninggal di usia Mey masih dua tahun. Sang ibu meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang dideritanya, sedangkan ayahnya meninggal saat usia Mey dua belas tahun akibat terkena serangan jantung.
Sejak itu, Mey hanya tinggal bersama sang nenek. Neneknya harus bekerja keras untuk menghidupi Mey dan membiayai sekolah gadis itu. Mey tidak pernah sedikit pun kehilangan kasih sayang dan perhatian dari neneknya.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Mey sudah pintar mencari uang untuk membantu sang nenek. Gadis cantik itu bekerja serabutan, apa pun akan dia kerjakan selama pekerjaan itu halal. Setiap mendapat upah, Mey selalu berikan kepada neneknya. Dia juga bisa membiayai sekolahnya sendiri hingga akhirnya dia bisa lulus SMA.
Pihak sekolah memberikan bantuan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi dan Mey salah satunya. Awalnya, Gadis cantik itu merasa ragu. Jika dia menerima beasiswa itu, dia harus pergi ke kota dan meninggalkan neneknya sendirian di rumah untuk melanjutkan pendidikannya di sana.
Akan tetapi, sang nenek terus meyakinkan dan memberi semangat agar Mey pergi untuk menyelesaikan pendidikannya, karena itu juga demi kebaikan hidupnya nanti. Nenek selalu mendoakan Mey agar kelak kehidupan gadis cantik kesayangannya itu bisa berubah menjadi jauh lebih baik.
Akhirnya, Mey pun pergi ke kota metropolitan dan tinggal di indekos yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Selama empat tahun lamanya, Mey tinggal di kota metropolitan dan mampu menyelesaikan pendidikannya hingga mendapat gelar sarjana S1. Mey begitu bahagia, karena dia masuk dalam deretan mahasiswa dengan nilai terbaik, bahkan Mey sudah langsung mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan ternama di kota tersebut.
Mey pulang ke desa untuk memberi kabar bahagia ini kepada sang nenek, bahkan gadis itu berencana akan mengajak neneknya tinggal di kota bersamanya nanti. Namun, kesempatan itu menguap begitu saja, karena saat Mey kembali ke desa, ternyata neneknya sedang sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia.
Mey begitu terpukul dan sangat kehilangan sosok orang tua satu-satunya yang selama ini menyayanginya setulus hati. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Mey pun memutuskan kembali merantau ke kota metropolitan untuk mencari pekerjaan di sana, dan di sinilah sekarang ini dia berada.
"Ayo kita ke sana! Gue pengen beliin lo baju, abis itu, gue traktir lo makan, ok!" ajak Lina, teman baik Mey.
Aleena Azreen Shalom adalah sahabat Mey. Mereka mulai menjalin hubungan persahabatan sejak pertama kali masuk kuliah di universitas dan fakultas yang sama. Selain baik, Aleena juga begitu menyayangi Mey.
Aleena merupakan gadis blasteran Inggris, ayahnya berdarah Inggris dan ibunya Indonesia tulen. Aleena terlahir di keluarga yang berada. Namun, yang membuat Mey kagum pada sosok Aleena, sahabatnya itu memiliki pribadi yang sangat baik, tidak sombong, dan sering membantu orang-orang yang membutuhkan.
"Leen, ga usah deh! Mending uangnya kamu tabung. Kamu ga perlu beliin aku baju segala." Mey berusaha menolak dengan halus, tetapi Aleena tidak pernah menerima penolakan dari Mey.
"Udah, ga usah banyak protes! Nurut aja, ayo! Duit gue ga bakal habis cuma buat beliin lo baju doang." Aleena menarik tangan Mey memasuki departemen store.
Keduanya kemudian menikmati pertemuan mereka setelah lama tidak bertemu dengan berbelanja. Aleena yang loyal, dia mengambil beberapa pakaian. Mulai dari pakaian kerja dan pakaian santai untuk sehari-hari. Tentu saja semua itu buat Mey, sahabat terbaiknya.
"Astaga, Aleena ... Udah ya, cukup! Ini udah banyak banget, ntar uang kamu beneran habis loh," rengek Mey sambil cemberut, tetapi hatinya merasa begitu terharu dengan kebaikan sahabatnya ini.
"Biarin! Uang masih bisa dicari, sahabat kayak lo tuh, ga bakal bisa gue dapet di mana pun alias limited edition," balas Aleena sambil terkekeh.
"Dasar, mentang-mentang anak sultan!" gumam Mey.
"Eits, ngaco! Ini gue pake duit gue sendiri ya!" protes Aleena dan Mey hanya terkekeh geli.
Meski Aleena terlahir di keluarga kaya, bahkan ayahnya merupakan seorang pengusaha sukses pemiliki perusahaan makanan ringan yang cukup terkenal, tetapi gadis itu tetap ingin berdiri di kakinya sendiri. Dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain, karena ingin membuktikan bahwa dia juga bisa sukses dengan kemampuannya sendiri.
Setelah merasa puas berbelanja pakaian, Aleena mengajak Mey berbelanja keperluan rumah dan lain sebagainya. Mey tidak bisa menolak, karena diancam oleh Aleena. Jika Mey menolak, maka Aleena mengancamnya tidak akan pernah mau mengenalnya lagi.
Mey hanya bisa pasrah, tetapi dalam hati terus mengucap syukur, karena diberikan seorang sahabat yang begitu baik seperti Aleena. Dalam hati, Mey berjanji akan membalas semua kebaikan Aleena suatu saat nanti.
"Semoga kamu cepat dapat jodoh, biar ga terus maksa aku kayak gini," gumam Mey yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Aleena, tetapi dia malah terkekeh geli melihat sahabatnya itu.
"Gue bakal cari jodoh setelah sahabat gue yang imut ini dapet jodoh dan nikah duluan," balas Aleena sambil mendengus sebal. "Dengan catatan, cowok yang bakal jadi jodoh lo itu harus good looking dan sayang sama lo lebih dari gue!" imbuhnya dengan serius.
"Cieee, kalau gitu ... Gimana kalau kamu aja yang berubah jadi cowok dan nikahin aku?" gurau Mey yang langsung mendapat sentilan di kening dari Aleena..
"Untung aja gue cewek, kalau enggak ... Bakal langsung gue kawinin lo!" seloroh Aleena, kemudian keduanya tertawa renyah.
...
"Ayah ...!" Seorang anak laki-laki yang belum genap lima tahun berlari sambil berteriak memanggil ayahnya yang baru pulang dari kantor.
"Jagoan ayah sudah wangi, pasti sudah mandi." Sang ayah berkata seraya mengangkat tubuh jagoan kecilnya, lalu duduk di sofa ruang keluarga dan mendudukkan anak itu di atas pangkuannya.
"Sudah dong, Ayah," jawab bocah kecil itu dengan riang.
"Anak pintar," puji sang ayah sambil mengusap kepala anaknya.
"Den Adrian, Aden sudah pulang tah?" sapa seorang wanita paruh baya yang bernama Bi Minah dengan logat jawanya. Bi Minah merupakan asisten rumah tangga di sana dengan logat jawanya.
"Iya, Bi."
"Mau bibi buatkan kopi, Den?" tawar Bi Minah.
"Ga usah, Bi. Bibi siap-siap aja, karena kita mau jalan-jalan sekalian makan malam di luar."
"Yeay!" sorak bocah kecil yang masih duduk di pangkuan ayahnya kegirangan. "Ayah, aku mau ke taman bermain!" imbuhnya dengan manja.
Adrian terkekeh pelan. "Iya," jawabnya sambil mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang.
"Yeay!" Anak itu bersorak lagi, terlihat begitu gembira, karena sang ayah sudah lama tidak mengajaknya jalan-jalan dan bermain bersama.
"Ya sudah, kalau gitu bibi mau siap-siap dulu," ucap Bi Minah sambil tersenyum senang, kemudian bergegas pergi ke kamarnya.
"Ayah juga mau mandi dulu, Aarav tunggu sebentar di sini ya!" ucap Adrian.
"Oke!" jawab bocah kecil yang bernama Aarav dengan semangat .
Adrian kemudian menurunkan Aarav dari pangkuan, lalu bangkit dari tempat duduknya dan segera pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Adrian Aditya Widjaya, pria introver, tetapi begitu menyayangi Aarav. Pria itu tidak pernah berniat menjalin hubungan lagi ataupun mencarikan ibu sambung untuk jagoan kecilnya. Dia selalu menyibukkan dirinya dengan terus bekerja demi masa depan bocah kecil kesayangannya itu.
Rasa kecewa dan sakit hati yang begitu dalam masih dia rasakan hingga saat ini. Bahkan, Adrian sudah menganggap bahwa ibu kandung dari Aarav telah tiada. Dia juga tidak mengizinkan orang-orang terdekatnya menceritakan tentang mantan istrinya kepada Aarav.
Kini, sang anak telah tumbuh besar dan sudah sekolah. Di sekolah, banyak teman-temannya yang diantar dan ditemani oleh ibu mereka. Tentu saja hal itu membuat Aarav menjadi mempertanyakan tentang ibunya. Namun, setiap kali anak itu bertanya, Adrian selalu saja mengalihkan ke hal lain.
***
Beberapa menit kemudian.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Adrian yang sudah terlihat lebih segar dan menawan setelah mandi. Aarav langsung bersorak kegirangan menyambut ajakan sang ayah.
Sesampainya di sebuah Mall ternama yang terletak di pusat kota, Adrian bersama Aarav dan Bi Minah langsung menuju ke restoran yang ada di lantai tiga Mall tersebut untuk makan terlebih dulu sebelum mengajak Aarav bermain.
"Ayah, boleh aku makan ice cream?" tanya Aarav saat mereka memasuki restoran.
"Tentu saja, tapi Aarav harus makan nasi dulu, oke!" tegas Adrian.
"Oke, Ayah!" jawab bocah kecil itu dengan riang penuh semangat.
Adrian mengambil buku menu yang diberikan pelayan kepadanya, kemudian bertanya pada Aarav. "Aarav mau pesan apa?"
"Aku mau chicken katsu, sushi, ramen, dan juga ice cream vanilla!" seru Aarav dan pelayan dengan cepat mencatat pesanan bocah tampan itu.
"Sudah?" tanya Adrian memastikan.
"Sudah, Yah." Aarav menjawab dengan wajah imutnya.
Tanpa Adrian sadari, pelayan yang mencatat pesanan itu diam-diam mencuri pandang, karena terpesona dengan ketampanan pria itu. "Ganteng banget sih nih cowok! Apa bocil ini anaknya? Wah ... Sugar daddy dong!" batin pelayan itu.
Pelayan yang memakai kemeja putih dan apron hitam berlogo restoran tersebut juga mencatat pesanan Adrian serta Bi Minah. Setelah mengoreksi pesanan agar tidak salah, pelayan itu segera meninggalkan meja Adrian dengan catatan berisi pesanan makanan mereka.
"Ayah mau ke toilet dulu sebentar," ucap Adrian pada Aarav. "Bi, titip Aarav sebentar ya," imbuhnya seraya berdiri.
"Iya, Den."
Adrian segera beranjak menuju toilet. Setelah menyelesaikan urusannya di dalam toilet, pria itu segera keluar dan hendak kembali ke mejanya. Namun, tiba-tiba ada seorang gadis yang tak sengaja menabraknya cukup keras hingga membuat gadis itu terjungkal dan memekik keras.
Beruntung tubuh gadis itu tak sampai membentur lantai, karena dengan sigap Adrian langsung menariknya dan malah jatuh ke dalam dekapan pria itu. Bahkan tanpa sadar kedua tangan gadis itu melingkar di leher Adrian. Dia menatap pria tampan sejuta pesona tanpa berkedip dengan jantung yang sudah berdegup kencang ketika merasakan tangan kekar dari pria itu memeluk pinggang rampingnya.
Mereka saling tatap dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja di depan mata. Namun, Adrian segera memutus pandangannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan datar dan wajahnya yang dingin, tetapi gadis itu masih bergeming menatap Adrian tanpa berkedip.
"Ganteng banget nih cowok!" batin gadis itu.
"Hei! Apa kamu tuli?" tanya Adrian lagi sambil mendorong pelan gadis itu hingga membuat tangan yang melingkar di lehernya terlepas dengan paksa.
"Euh ... Ma–maaf! Aku ... Aku ga sengaja," ucap gadis itu gelagapan dan salah tingkah.
"Lain kali hati-hati!" Adrian kemudian berlalu pergi begitu saja.
Gadis itu menghela napas panjang. "Oh, ya ampun ... Ganteng benget sih dia, tapi sayang, dia jutek," gumamnya sambil mengedikkan bahu, kemudian segera meninggalkan tempat itu dengan buru-buru.
***
"Kenapa ayah lama?" tanya Aarav dengan mulut yang penuh dengan makanan ketika melihat ayahnya kembali.
"Tadi ada orang yang buru-buru jalan, terus ga sengaja nabrak ayah," jawab Adrian sambil meraih tissue dan mengelap bibir Aarav dengan lembut.
"Apa dia perempuan?"
Adrian mengernyit mendengar pertanyaan dari mulut mungil putranya, lalu dia terkekeh pelan. Bi Minah yang duduk di hadapan mereka juga ikut tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Aarav.
"Memangnya kenapa?" Adrian menjawab dengan bertanya balik sambil meraih kopi yang sudah tersaji di atas meja, lalu menyesapnya.
"Kalau dia perempuan cantik, aku mau jadikan dia ibuku," jawab bocah kecil itu dengan polos sambil mengunyah makanannya, sedangkan Adrian langsung tersedak kopi yang baru disesapnya.
"Uhuk-uhuk ...."
"Den, pelan-pelan minumnya!" seru Bi Minah ketika melihat Adrian tersedak sampai wajahnya memerah.
Adrian menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. Pria itu kembali dilanda rasa bimbang. Aarav menginginkan sosok seorang ibu, sedangkan dirinya tidak ingin mencari pendamping lagi ataupun ibu sambung untuk putranya yang mungkin sudah begitu merindukan sosok seorang ibu.
Egois mungkin, tetapi Adrian masih belum bisa melupakan rasa kecewa dan sakit hatinya terhadap sang mantan istri.
***
"Hufff ...." Mey membuang napasnya kasar.
"Kenapa sih lo, Mey? Kayak abis dikejar setan aja," celetuk Aleena ketika melihat Mey yang baru kembali dari toilet dengan buru-buru.
"Bukan dikejar setan, tapi aku baru aja ketemu seorang pangeran," jawab Mey asal dengan wajah yang sumringah.
"Hah? Pangeran?" Aleena mengernyit heran. "Pangeran dari kerajaan mana?" imbuhnya lagi.
Mey terkekeh geli, "Udah ah, ayo kita pergi!" ajak Mey sambil menarik tangan Aleena tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
Kedua gadis itu segera keluar dari restoran setelah Aleena membayar semua makanan yang telah mereka habiskan bersama tadi.
Hari semakin larut, dan Mey harus menyiapkan untuk keperluan besok di hari pertamanya bekerja sebagai seorang guru TK.
"Mey!" panggil Aleena ketika mereka berjalan keluar dari Mall.
"Apa?" balas Mey menoleh ke arah Aleena.
"Gini ya, Mey ... Lo itu lumayan cantik, lo juga pinter ...." Aleena menjeda ucapannya.
"Terus?" tanya Mey sambil mengernyit.
"Kenapa sih, lo ga mau coba dulu ngelamar kerja di perusahaan-peusahaan yang ada di kota ini? Gue yakin deh, lo pasti langsung keterima," keukeuh Aleena yang masih berharap agar sahabatnya itu mendapatkan pekerjaan yang menurutnya lebih baik lagi, setidaknya bisa mendapat gaji yang besar.
"Berapa kali aku bilang, Leen? Aku ga tertarik kerja di perusahaan. Kamu tau sendiri, dari dulu aku suka dengan anak kecil, dan pengen banget jadi guru TK yang dikelilingi anak-anak," jawab Mey sambil tersenyum, membayangkan ketika dirinya bermain bersama anak-anak didiknya.
Aleena menghela napas sejenak. "Kalau gitu, mending lo cari suami deh! Terus, lo bikin anak sendiri sama suami lo!" seloroh Aleena, kemudian gadis itu terbahak.
"Ish, dasar! Kamu pikir nikah itu segampang membalikkan telapak tangan?! Sembarangan aja kalau ngomong!" balas Mey sambil memukul pelan lengan Aleena. "Aku bahkan sama sekali ga kepikiran buat nikah dan punya anak," imbuhnya.
"Iya deh iya." Aleena akhirnya mengalah dan tidak memaksa sahabatnya lagi.
Kedua gadis itu naik taksi untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
...
"Den, maaf kalau bibi lancang. Bibi cuma mau tanya ... Apa Den Adrian masih mengingat non Monica?" tanya Bi Minah dengan pelan dan hati-hati ketika mereka dalam perjalanan pulang setelah Aarav puas bermain hingga kemudian bocah kecil itu tertidur pulas di pangkuan Bi Minah karena kelelahan.
Adrian yang sedang fokus menyetir, dia hanya terdiam dan enggan untuk menjawab pertanyaan Bi Minah. "Bi, tolong jangan sebut dia lagi!" pintanya tanpa menoleh.
"Maaf, Den ... Bukannya bibi lancang dan mau ikut campur. Bibi cuma kasihan sama den kecil saja. Apa Den Adrian ga kasihan sama den kecil?" Bibi bertanya lagi sambil mengusap kepala Aarav yang tidur di pangkuannya dengan penuh kasih sayang.
Adrian tidak menjawab pertanyaan Bi Minah. Wanita paruh baya itu juga tidak berbicara lagi. Dia cukup memahami bagaimana Adrian.
Tentang Bi Minah, beliau sebelumnya adalah asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Widjaya. Namun, sejak masalah besar yang menimpa Adrian hingga pria itu harus diusir dari rumah lantaran telah mencoreng nama baik keluarga, Bi Minah akhirnya resign atas permintaan Farah Farida Widjaya, mamanya Adrian setahun kemudian.
Farah meminta Bi Minah untuk mencari putra kesayangannya itu dan meminta tolong agar Bi Minah tinggal bersama Adrian agar bisa mengetahui kabar serta perkembangan Aarav, cucunya, karena Surya Widjaya, papanya Adrian tidak mengizinkan seluruh anggota keluarga mencari tahu tentang putranya itu. Bahkan, Adrian sudah dicoret dari daftar keluarga oleh Surya.
Kini, dalam benak Bi Minah, beliau hanya merasa kasian pada Aarav. Anak seumuran Aarav masih sangat membutuhkan sosok ibu, dan sudah beberapa kali bocah itu mengatakan bahwa dia menginginkan untuk punya seorang ibu.
Bi Minah juga sedih, setiap mengantar Aarav di sekolah, semua teman-teman Aarav ditemani oleh ibu mereka. Hal itulah yang membuat Aarav akhir-akhir ini menjadi sering menanyakan tentang ibunya.
Sesampainya di kediaman Adrian, pria itu segera keluar dari mobil dan menggendong Aarav masuk ke dalam rumah, lalu naik ke lantai dua menuju kamar bocah kecil itu yang berada di sebelah kamarnya, sedangkan Bi Minah langsung menuju kamarnya sendiri.
Adrian dengan pelan membaringkan tubuh kecil Aarav, lalu menyelimutinya. Pria itu kemudian duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah damai putranya saat tidur. "Maafkan ayah, Aarav," ucap Adrian pelan sambil mengusap kepala Aarav penuh kasih sayang, kemudian dia segera beranjak keluar dari kamar itu.
Adrian kembali ke kamarnya, dia berjalan menuju balkon dan duduk di sana. Pria yang berstatus duda itu termenung memikirkan perkataan Bi Minah.
Tentu saja Adrian merasa kasihan pada putranya. Pria itu begitu menyayangi Aarav, bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya demi putra kesayangannya itu. Hanya saja, dia masih belum bisa memberikan seorang ibu pengganti untuk putranya. Tidak mungkin kalau dia harus meminta mantan istrinya datang untuk menemui Aarav.
...
Keesokan harinya.
Adrian sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, karena ada rapat dadakan dan tidak bisa diwakilkan. Padahal pria itu tahu, jika hari ini dia harus menghadiri sebuah acara di sekolah Aarav. Seluruh wali murid diminta datang ke sekolah untuk mendampingi anak-anak mereka dalam perayaan anniversary sekolah.
Hari ini, semua teman-teman Aarav didampingi oleh orang tua mereka, karena pihak sekolah akan memberikan hadiah juga penghargaan bagi anak-anak yang berprestasi. Sebelumnya, Adrian sudah berjanji pada Aarav, selesai rapat nanti, pria itu akan langsung ke sekolah untuk mendampingi putranya.
Saat ini, Aarav sedang duduk sendirian di bangku taman. Bocah kecil itu termenung, wajah tampan yang menggemaskan itu tampak murung dan bersedih. Matanya sudah berkaca-kaca, karena mengingat bahwa ayahnya sudah berjanji akan datang, tetapi sang ayah tak kunjung datang, dan acara sebentar lagi sudah akan dimulai.
"Kenapa ayah belum datang? Ayah 'kan sudah janji mau datang," gumam Aarav sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba mentes membasahi pipi.
"Hai, anak manis!" Tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapa dan menghampiri Aarav. "Kenapa kamu masih duduk di sini? Semua teman-temanmu sudah berkumpul di aula," imbuhnya bertanya, kemudian duduk di samping bocah kecil itu.
Aarav terkejut, bocah itu langsung menoleh ke arah wanita muda yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Hey, kenapa kamu menangis?" Wanita muda itu tertegun ketika melihat mata Aarav memerah dan penuh dengan air mata.
"Kakak siapa?" Aarav balik bertanya sambil kembali mengusap air matanya.
"Perkenalkan, aku Mey!" Mey tersenyum manis seraya mengulurkan tangan kanannya mengajak Aarav berkenalan.
Kebanyakan anak-anak, jika melihat sesuatu yang indah dan cantik, pasti akan suka, seperti yang dirasakan oleh Aarav saat ini. Bocah kecil itu melihat sosok Mey yang cantik dan juga ramah, membuatnya seketika langsung ikut tersenyum dan segera menjabat tangan wanita muda itu.
"Namaku Aarav," balas Aarav.
"Baiklah, Aarav yang manis, kita udah kenalan sekarang. Jadi, kita sekarang adalah teman, oke!" Mey dengan senyum khasnya yang mampu membuat Aarav seketika lupa dengan kesedihannya.
"Oke, Kakak Mey! Aku senang bisa kenalan dengan kakak yang cantik," ucap Aarav dengan tulus, seketika membuat Mey tertawa gemas.
"Aih, manis sekali sih kamu. Aarav juga genteng, dan aku jauh lebih senang bisa mengenalmu," balas Mey sambil menangkup wajah imut Aarav dengan gemas dan bocah kecil itu pun ikut tertawa.
"Ayo, sekarang kita ke aula karena semua teman-temanmu sudah ke sana," ajak Mey seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih tangan Aarav.
"Tapi, aku mau menunggu ayahku dulu. Ayahku sudah janji mau datang," ucap Aarav sambil menahan tangan Mey.
Aarav kembali terlihat murung dan bersedih. Mey pun kembali duduk, lalu mengusap pipi chubby Aarav sambil tersenyum. "Memangnya di mana ayahmu?" tanya gadis itu.
"Ayahku masih di kantor, tapi ayah sudah janji mau datang." Aarav menjawab dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Oh begitu." Mey mengangguk. "Lalu, ibumu? Apa ibumu juga sedang bekerja?" tanya Mey dengan lembut.
Pertanyaan dari Mey membuat bocah kecil itu semakin bersedih dan menunduk. "Ibuku ... Aku tidak punya ibu," jawab Aarav melirih, lalu mengerjapkan mata dan seketika air matanya menetes, membasahi pipi.
Aarav mengusap air matanya lagi, membuat senyum manis Mey seketika memudar. Gadis itu merasa sangat bersalah dan menyesal, karena menanyakan pertanyaan yang membuat Aarav menangis.
"Aarav, aku minta maaf ya," ucap Mey penuh penyesalan. "Eum ... Gini aja, gimana kalau aku yang nemenin kamu dulu? Seenggaknya sampai ayahmu datang. Apa kamu mau?" imbuhnya bertanya sambil tersenyum manis, berusaha mengembalikan senyum bocah kecil itu.
"Kakak serius mau menemaniku?" tanya Aarav memastikan.
"Tentu dong! Kamu mau?" Mey menjawab dengan cepat.
"Oke, aku mau," jawab Aarav dengan cepat.
"Oke, Aarav! Ayo kita ke aula sekarang!" ajak Mey sambil bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan ke Aarav. Bocah kecil itu langsung meraih tangan Mey sambil tertawa gembira.
Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju aula.
...