Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akhirnya telah tiba. Seleksi beasiswa ke luar negeri akan dilaksanakan besok pagi di gedung Ganesha di kota Jakarta. Banyak murid dari lulusan SMA dan SMK bahkan dari kalangan mahasiswa akan mengikuti seleksi ini. Mereka yang lolos pada tahap bahasa asing telah bersaing dengan ratusan ribu orang untuk mendapatkan kursi ekslusif yang semakin dekat dengan berbagai universitas di luar negeri.
Marsha Zachira, perempuan yang baru saja lulus dari SMA tahun ini ikut menjadi salah satu dari beberapa orang yang beruntung karena telah berhasil lolos pada tahap bahasa asing. Ia sudah mempersiapkan dengan matang sejak SMA untuk mendapatkan beasiswa kedokteran di luar negeri. Berbagai usaha telah ia lakukan untuk bisa lolos pada tahap bahasa asing ini. Kini Marsha hanya tinggal mengerahkan semua usaha yang telah ia dapatkan untuk bisa lolos pada tahap akhir.
Hari ini kegiatan yang dilakukan oleh Marsha sebelum besok menghadapi ujian adalah me-review semua materi yang ada di bukunya. Berbagai macam buku sudah tergeletak di atas mejanya sejak pagi hari. Marsha mulai membaca satu per satu buku yang ada di hadapannya dari pagi hingga sore hari dan hanya tinggal tersisa dua buku lagi yang belum ia baca ulang. Sebelum mulai membaca bukunya lagi, Marsha beranjak ke dapur untuk menyiapkan kopi yang akan menemaninya ketika sedang membaca. Namun, saat mencari kopi di rak, ia tidak menemukan satu bungkus pun kopi di sana. Marsha kemudian memutuskan untuk pergi ke minimarket yang berada tidak jauh dari apartemennya.
Sejak berada di kelas 12 SMA, Marsha mulai hidup sendiri di apartemennya. Orangtuanya memberikan kebebasan untuk memilih tinggal sendiri demi melatih kemandirian anak semata wayangnya. Marsha pun memilih untuk tinggal di apartemen yang jaraknya tidak jauh dari sekolahnya saat SMA. Kini, ia pun sudah terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orangtuanya.
Setelah selesai membeli kopi dan perlengkapan lainnya di minimarket, Marsha bergegas kembali menuju apartemennya. Hari sudah mulai gelap dan banyak orang berlalu-lalang di jalanan. Marsha kemudian menekan angka sebagai sandi yang ada di pintu masuk ke dalam apartemennya. Ia segera masuk ke dalam dan beranjak ke dapur untuk menyeduh kopinya.
Marsha kembali duduk ke bangkunya untuk melanjutkan membaca buku yang hanya tersisa dua buku lagi. Ia perlahan meniup lalu menyeruput kopi yang masih panas. Beberapa detik kemudian, perutnya mulai mengeluarkan suara layaknya orang kelaparan. Akan tetapi, baru satu jam yang lalu Marsha makan. Ia kemudian merasakan mual yang berasal dari perutnya. Marsha segera menuju ke dapur untuk mengambil air putih. Tubuhnya kini berkeringat dan Marsha mulai merasakan pusing di kepalanya.
Ia segera mencari obat masuk angin di lemari karena Marsha pikir ia baru saja terkena masuk angin setelah pergi ke minimarket tanpa menggunakan jaket. Setelah meminum obat, perut Marsha justru lebih terasa mual. Ia beranjak ke wastafel untuk memuntahkannya tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Marsha kemudian segera mencari ponselnya untuk menelpon seseorang dan hanya satu orang yang terlintas di benaknya. Namun, sudah hampir lima kali panggilannya tidak diangkat oleh orang tersebut. Ia panik tetapi ia tetap berusaha menjernihkan pikirannya.
“Nggak mungkin aku hamil, nggak mungkin,” ucapnya bermonolog sendiri. Marsha berusaha untuk mengingat kejadian yang pernah ia alaminya dengan seseorang.
“Aku yakin waktu itu dia pakai pengaman. Nggak, nggak mungkin aku hamil.” Perlahan air mata Marsha mulai jatuh.
Untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak hamil, ia bergegas menuju ke apotek terdekat untuk membeli test-pack. Marsha yakin bahwa ia tidak mungkin hamil hanya karena kecerobohannya dengan seseorang. Segera setelah membeli barang tersebut, Marsha pergi ke toilet untuk mengecek kehamilan dengan menggunakan urinenya. Beberapa saat kemudian hasil yang ada di test-pack langsung keluar. Di dalam test-pack terlihat jelas menunjukkan dua garis yang artinya Marsha positif hamil.
Marsha langsung menangis dalam diam dan menyesali perbuatan hina yang telah dilakukan dengan seseorang itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Mimpi yang sudah ia idamkan sejak SMA tidak akan pernah bisa terwujud lagi. Ini semua adalah akibat dari kecerobohannya.
Marsha mencoba untuk menelpon orang itu sekali lagi. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satupun panggilan yang diangkat olehnya. Bahkan Marsha mencoba untuk memberikan pesan lewat whatsapp tetapi hanya berakhir dengan tanda centang. Marsha kemudian menelpon kerabat dekat yang kenal dengan orang tersebut dan menanyakan di mana keberadaannya sekarang. Akan tetapi, kerabat dekatnya pun tidak mengetahui di mana ia berada. Kerabat dekatnya bahkan sudah tidak bertemu dengan orang tersebut hampir satu minggu dan ia juga tidak memberikan kabar kepadanya.
Marsha benar-benar merasa hina. Ia malu atas apa yang telah diperbuat bersama orang itu. Apa yang harus Marsha katakan kepada orangtua dan teman-temannya? Ia tidak mau dicap sebagai anak nakal dan tidak tahu diri. Bahkan orang yang telah menghamilinya tidak menjawab telepon dan pesannya. Apakah ia kabur? Tidak mungkin. Marsha yakin bahwa ia adalah orang yang sangat baik dan bertanggung jawab. Akan tetapi, mengapa ia tidak menjawab satu panggilan pun dari Marsha?
Buku yang tadinya menumpuk di meja belajarnya saat ini sudah berserakan di lantai. Mug kaca yang berisi kopi pun sudah terpecah belah dan berceceran di lantai karena Marsha membantingnya. Ia meluapkan semua amarahnya kepada benda yang ada di sekitarnya. Marsha merasa sangat bingung dan marah. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana dengan ujian seleksi besok? Ia tidak mau semua usahanya sia-sia. Namun, Marsha juga merasa sangat malu dan hina jika besok ia berangkat mengikuti ujian. Ia merasa menjadi perempuan paling kotor di dunia. Marsha bahkan merasa sangat malu jika nantinya bertemu orang-orang asing di luar sana. Apakah mereka akan merasa jijik dengannya?
Tiba-tiba terlintas satu orang di benak Marsha. Ia pikir hanya orang itu yang akan membantunya di saat seperti ini. Tidak, bukan orangtuanya, bukan juga teman-temannya. Marsha yakin orang itu akan tutup mulut rapat-rapat setelah mendengar apa yang telah terjadi kepadanya. Ia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon orang tersebut.
Beberapa menit kemudian orang itu mengangkat panggilan dari Marsha setelah beberapa kali panggilannya tidak diangkat, “Hey, maaf baru mengangkat. Ada apa?” tanya orang itu di seberang sana.
“I need your help, right now.”
Suasana bandara Soekarno-Hatta saat ini sangat ramai karena adanya libur pertengahan tahun. Sudah satu minggu sejak kejadian pahit yang dialami oleh Marsha berlalu. Kini ia berada di antara orang-orang yang sedang mengantre di boarding pass. Ya, Marsha memutuskan untuk pergi meninggalkan Indonesia dan merelakan kesempatan emasnya yaitu beasiswa ke luar negeri. Dengan bantuan seseorang, akhirnya Marsha memutuskan untuk memulai hidup baru entah di mana dan tidak ada yang tahu ke mana ia pergi termasuk orangtua dan teman-temannya, bahkan orang yang telah menghamilinya sekali pun.
Seseorang tiba-tiba datang menghampiri Marsha dan segera mengajaknya menuju pesawat setelah melewati proses di boarding pass.
“Are you sure about this?” tanya orang itu.
“Even this is the wrong choice, I want to leave this country as soon as possible.”
Siapa sih yang enggak kenal sama Haris dan Marsha? Pasangan favorit sebagian besar warga SMA Antariksa Jakarta. Menurut mereka, Haris dan Marsha layaknya pasangan Barbie dan Ken, sama-sama cantik dan tampan, enggak bakal ada yang bisa menyangkal. Haris dan Marsha selalu berangkat ke sekolah bersama, makan di kantin bersama, dan pulang sekolah pun bersama. Bukan hanya para murid yang mendukung mereka berdua, tetapi para guru pun ikut serta menjadi pendukung hubungan Haris dan Marsha.
Tidak seperti murid kebanyakan, Haris dan Marsha merupakan salah satu dari jajaran murid berprestasi di sekolah. Hal itulah yang membuat mereka berdua disukai oleh sebagian besar warga SMA Antariksa Jakarta, kecuali bagi segelintir orang yang membenci mereka. Apalagi bagi para guru, mereka menganggap Haris dan Marsha seperti anak emas di SMA Antariksa Jakarta. Sudah cantik dan tampan, pintar, tidak suka berbuat ulah, mana ada guru yang tidak menyukai murid seperti Haris dan Marsha.
Sudah menjadi tradisi bagi Haris untuk memenangkan OSN, Olimpiade Sains Nasional, setiap tahun. Haris adalah salah satu dari murid berprestasi yang selalu mendapatkan juara satu di mata pelajaran Fisika. Piala yang ia dapatkan terjejer rapi di lemari miliknya. Hari ini, Haris dan teman-temannya yang telah memenangkan OSN sudah berdiri di atas mimbar kecil di lapangan SMA Antariksa Jakarta untuk menerima piala dan medali emas. Kepala sekolah memberikan sambutan sebagai pembukaan, dan ucapan selamat bagi para murid yang telah memenangkan OSN tahun ini.
Namun, kali ini Marsha tidak berada di sebelah Haris untuk menerima piala dan medali dari hasil juara OSN karena Marsha memutuskan untuk tidak mengikuti OSN tahun ini. Padahal tahun ini adalah tahun terakhir baginya untuk mengikuti berbagai olimpiade. Hal itu karena Marsha ingin fokus pada tujuannya yaitu mengejar beasiswa kedokteran di universitas luar negeri.
Akan tetapi, Haris tidaklah seperti Marsha. Ia tetap mengikuti olimpiade meskipun sebentar lagi akan menduduki kelas 12, kelas di mana semua murid sudah harus mempersiapkan masa depan mereka dengan mengikuti berbagai ujian masuk perguruan tinggi. Mungkin karena otaknya yang sangat encer membuat Haris tidak pusing untuk mengikuti olimpiade sekaligus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
“Selamat, ya, si langganan dapet piala.” Marsha berjalan mendekati Haris yang sedang mengobrol dengan temannya di depan kelas. Apel pagi tadi hanya dilaksanakan dengan waktu yang singkat karena kegiatannya hanya memberikan piala dan medali emas bagi para murid berprestasi serta amanat singkat dari kepala sekolah.
“Nggak ngaca, ya? Kamu juga langganan dapet piala, baru kali ini aja enggak,” ujarnya membalas perkataan Marsha. Teman Haris yang awalnya sedang mengobrol dengannya pamit pergi karena sang pujaan hati Haris sudah datang.
“Ris, gue masuk ke kelas dulu, ya.” Haris mengangguk kepada temannya dan beralih menatap Marsha.
“Nanti sore nggak ada jadwal bimbel, kan? Jalan yuk ke kafe,” ucap Haris.
“Enggak ada. Emangnya kamu juga nggak ada jadwal bimbel?” tanya Marsha kepada Haris. Jarang-jarang Haris mengajaknya untuk pergi saat sedang hari sekolah. Biasanya Haris selalu mengajak pergi saat hari weekend saja.
“Hari ini aku mau bolos bimbel dulu, mau main sepuasnya sama kamu,” sambung Haris.
“Kok gitu? Nggak boleh dong. Orangtua kamu udah capek kerja buat biayain bimbel sedangkan kamu malah seenaknya bolos,” omel Marsha kepada kekasihnya.
“Kali ini aja kok, Sha. Aku juga udah izin ke Mama dibolehin, please.” Haris memohon kepada Marsha dengan menggenggam tangannya. Supaya luluh pikir Haris.
“Beneran udah izin? Nggak bohong kan kamu?” Marsha masih curiga dengan Haris. Meskipun pintar dan tampan, tetapi ia juga terkadang suka berbohong. Pernah saat itu Haris mengajak Marsha pergi ke pantai. Haris bilang kalau ia sudah meminta izin kepada ibunya, Tina, dan beliau telah mengizinkan mereka berdua untuk pergi.
Namun, ketika sedang bersenang-senang di pantai, tiba-tiba Haris ditelepon oleh Tina dan beliau sedang mencari di mana keberadaan anaknya. Sontak Haris langsung berkata jujur dan Tina pun marah kemudian menyuruh Haris dan Marsha untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, Haris dimarahi habis-habisan oleh Tina karena telah berani membohonginya. Marsha yang tidak tahu apa-apa hanya diam. Untungnya beliau tidak memarahi Marsha. Sejak saat itu, ketika Haris ingin mengajak Marsha pergi ia harus mendapatkan izin dari ibunya agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
“Iya, Marsha. Kalau nggak percaya coba aja telepon Mamaku.” Haris meyakinkan Marsha. Sepertinya kali ini Haris berkata jujur dan Marsha memercayainya.
“Iya deh percaya. Tapi jangan kelamaan, ya, Ris. Soalnya nanti malem aku kedatangan tamu saudara jauh.” Saudara jauh Marsha ini berasal dari negara yang terletak di benua Eropa, tepatnya di Swiss. Marsha dan keluarganya jarang sekali bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan mereka. Maka dari itu, Marsha ingin sekali bertemu dengan saudaranya untuk yang pertama kalinya. Ia dan keluarganya harus memberikan kesan pertama yang baik kepada saudara jauh mereka.
“Loh kamu punya saudara dari Swiss? Kok nggak pernah cerita ke aku,” tukas kekasihnya itu.
“Ceritanya nanti aja, ya, Ris, waktu kita pergi. Lia barusan chat ke aku katanya Bu Ani bentar lagi masuk kelas,” ucap Marsha sedikit panik setelah mengecek ponselnya yang ternyata terdapat pesan dari Lia. Ia tidak sadar sudah mengobrol dengan Haris hingga bel masuk berbunyi.
“Iya, buruan masuk nanti kalau telat bisa dihukum sama Bu Ani.” Marsha mengangguk dan segera pergi menuju kelasnya.
Ternyata benar, sesampainya di kelas sudah ada Bu Ani yang sedang duduk di meja guru depan kelas. Marsha merutuki dirinya sendiri karena terlalu asyik mengobrol dengan Haris hingga lupa jika ada pelajaran matematika oleh Bu Ani, salah satu guru yang termasuk guru disiplin di sekolah. Marsha bergegas mengetuk pintu kelas dan ia dipersilakan masuk oleh Bu Ani.
“Kenapa datangnya telat, Marsha?” tanya beliau kepada Marsha.
Marsha meneguk salivanya pelan karena gugup dan menjawab, “Maaf Bu, saya barusan dari toilet.”
Bu Ani mengangguk, “Baiklah, silakan duduk. Lain kali jangan telat lagi, ya,” ucapnya. Marsha kemudian mengangguk dan segera menuju bangkunya yang terletak di tengah-tengah. Untung saja hari ini Bu Ani sedang baik hati. Biasanya jika ada murid yang terlambat masuk saat pelajaran beliau tidak segan untuk segera menyuruh keluar agar tidak mengikuti pelajarannya.
Lia yang duduk di sebelah Marsha tertawa pelan, “Ke toilet apa ke kelas Haris? Perasaan tadi gue lihatnya lo lagi ngobrol sama si Haris deh, Sha,” ledek Lia kepada Marsha. Marsha segera menyikut lengan teman sebangkunya itu karena berbicara terlalu keras. Ia takut jika Bu Ani akan mendengar ucapan Lia hingga beliau akan menghukumnya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Haris bergegas menuju parkiran motor. Ia sudah memberitahu kekasihnya untuk segera menuju ke parkiran motor jika kelasnya sudah bubar. Haris sudah menunggu Marsha selama sepuluh menit di parkiran motor. Namun, sedari tadi batang hidung milik perempuannya itu belum muncul juga. Haris bahkan sudah menelpon Marsha tiga kali tetapi tidak ada satu pun panggilan yang dijawab.
Haris melihat Sadam, salah satu teman sekelas Marsha, sedang menuju ke parkiran motor. Ia lantas menanyakan keberadaan Marsha kepada Sadam karena pasti ia tahu ke mana Marsha pergi.
“Dam!” panggilnya.
Sadam mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Ia kemudian segera menuju ke arah Haris, “Kenapa manggil, Ris?”
“Lo lihat Marsha tadi ke mana nggak?” tanya Haris to the point kepada Sadam.
“Kayaknya tadi Marsha sama Lia disuruh kumpul ke ruang OSIS, tapi gue juga nggak tau, Ris. Coba lo cek aja sendiri ke sana,” jelas Sadam. Kemudian Haris mengangguk.
“Okay. Thanks, ya, Dam.” Sadam membalas ucapan Haris dengan acungan jempol.
“Duluan, Ris.” Sadam kemudian meninggalkan Haris dan segera menuju ke parkiran di mana motornya berada. Setelah itu Haris segera pergi ke ruang OSIS untuk mencari Marsha.
Kini Haris tepat berada di depan ruang OSIS. Terdapat beberapa sepatu yang berjejer rapi di rak. Ia menilik satu per satu sepatu yang ada di sana dan menemukan sepatu milik Marsha, lebih tepatnya sepatu yang ia belikan untuk Marsha saat menginjak usia ke tujuh belas tahun.
Haris menunggu Marsha dengan duduk di bawah pohon dekat ruang OSIS. Ia membuka ponselnya dan sekali lagi memberikan pesan kepada Marsha. Sambil menunggu Marsha, Haris bermain dengan kucing yang ada di sekolah. Nama kucing itu adalah Miko. Semua warga SMA Antariksa pasti tahu siapa Miko. Kucing ras kampung yang merangkap menjadi penjaga sekolah layaknya preman. Miko biasanya selalu tidur siang di depan masjid atau ruang OSIS. Ketika lapar, ia akan pergi ke kantin untuk meminta makanan kepada para murid. Lebih tepatnya memalak para murid.
“Haris!” Marsha memanggil Haris yang tengah fokus bermain dengan Miko. Mendengar namanya dipanggil, Haris segera mendekati Marsha.
“Kok nggak bilang kalau ada rapat?” tanyanya.
“Maaf, ya, Ris. Tiba-tiba Bu Dian suruh aku sama Lia buat jadi perwakilan kelas study tour. Aku nggak sempet buka hp karena tadi sibuk nulis informasi buat study tour dua minggu lagi,” jelas Marsha kepada Haris. Marsha tahu pasti Haris sedikit kesal karena ia tidak memberikan kabar kepadanya.
Haris tersenyum dan mengangguk, “Iya, nggak apa-apa kok. Tadi aku juga telat keluar kelasnya.”
“Ya udah, yuk.” Haris menggenggam tangan Marsha dan mengajaknya menuju ke parkiran sekolah. Para murid yang berada di sana hanya bisa melihat dengan rasa iri dan ingin merasakan seperti mereka berdua. Apalagi Lia, ia sudah menjerit di dalam hati karena melihat sahabatnya yang sangat romantis ketika bersama kekasihnya.
“Gue duluan, ya, Li,” pamit Marsha kepada Lia dan temannya itu mengangguk.
Haris dan Marsha berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke parkiran. Biasanya Marsha risih jika tangannya digenggam saat sedang berada di sekolah oleh Haris. Namun, karena hari sudah lumayan sore dan para murid sudah pulang, ia pun menerima genggaman tangan Haris.
“Oh iya, katanya kamu mau cerita tentang saudara jauhmu, gimana?” Haris membuka obrolan sembari mereka berdua berjalan menuju parkiran motor.
Marsha mengangguk, “Iya, Ris. Jadi aku punya saudara dari Swiss. Mereka saudara dari ayahku, tepatnya kakak dari ayahku. Kata ibuku mereka jarang banget ke Indonesia. Pernah tapi cuma sekali itu pun waktu aku masih bayi, jadi aku nggak inget wajahnya. Mereka juga punya anak satu yang katanya seumuran juga sama aku, jadi aku nggak sabar mau ketemu sama mereka.” Marsha menjelaskan dengan wajah yang cerah. Terlihat sekali jika ia tidak sabar untuk bertemu dengan saudaranya. Hal itu membuat Haris tersenyum.
“Dia berarti sepupumu, kan? Laki-laki atau perempuan, Sha?” tanya Haris kemudian memberikan helm kepada Marsha ketika sudah sampai di depan motornya.
“Laki-laki, Ris. Kata ayahku namanya Peter. Kelihatan banget kan bulenya,” jawab Marsha sembari menerima helm dari Haris. Ia segera menaiki motor Haris karena hari sudah mulai sore. Sedangkan Haris hanya mengangguk membalas perkataan Marsha.
“Ini kita jadinya ke mana, Ris?” tanya Marsha.
“Makan-makan aja yuk di kafe. Biar nanti kamu pulangnya nggak kesorean, kan katanya nggak sabar mau ketemu sama Peter.” Marsha terkekeh kemudian mengangguk. Haris segera menjalankan motornya menuju kafe yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.
Sesampainya di kafe, Haris dan Marsha segera memesan makanan dan minuman serta mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan sekali kafe yang mereka pilih lumayan sepi sehingga mereka dapat mengobrol dengan kondusif.
“Lanjutin cerita yang tadi, Sha,” ucap Haris lalu meneguk minumannya yang baru saja tiba.
“Baru segitu, Ris. Kan aku belum ketemu sama mereka. Besok deh aku ceritain lagi.” Marsha sibuk bermain dengan ponselnya. Ia baru menerima pesan dari teman sebangkunya, Lia, yang mengatakan bahwa akan ada siswa baru dari Australia. Temannya itu memang sangat gercep ketika ada berita baru di sekolah.
“Ris, udah tau belum kalau ada siswa baru dari Australia?” Marsha bertanya kepada Haris yang juga sibuk bermain dengan ponselnya, tepatnya sedang bermain game.
Haris mengangguk, “Tau lah, kan yang pertama kali kasih tau Putra. Kenapa emangnya?” ucapnya. Fyi, Putra adalah salah satu teman tongkrongan Haris, lebih tepatnya sahabat Haris. Jika Lia adalah teman Marsha yang sangat update, maka Putra adalah teman Haris yang sangat update juga.
“Kok bisa si Putra cepet banget taunya. Tau dari mana dia?” tanya Marsha kepo.
“Biasalah, dia kan telinganya ada di mana-mana. Gosip baru keluar aja dia langsung tau.” Haris heran dengan sahabat satunya ini. Telinga milik Putra bisa ada di mana-mana. Bagaimana tidak, gosip tentang salah satu teman kelasnya yang pacaran saja bisa langsung tersebar berkat telinga Putra. Atau bisa dibilang berkat telinga Putra yang suka menguping dan mulutnya yang sangat tidak bisa menjaga rahasia. Untungnya Putra masih berbaik hati kepada Haris untuk menjaga rahasia yang dimiliki sahabatnya itu.
“Aduh, kok hidupku jadi dikelilingi sama bule, ya. Nanti ketemu sama sepupu bule, besok ketemu sama siswa pindahan bule juga. Lama-lama aku ikutan jadi bule juga,” oceh Marsha. Haris hanya memutar bola matanya malas. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Marsha yang satu ini.
“Udah makanannya dihabisin dulu, habis itu kita pulang. Langitnya udah mau gelap, nih,” ujar Haris dan Marsha mengangguk. Mereka berdua segera menghabiskan makanan dan minuman yang ada di meja sembari mengobrol hal-hal yang tidak penting.