Bab 2

Lagi-lagi Arsen bingung, ia jadi orang yang linglung.

"Oh astaga apa yang sudah terjadi padaku?" batinnya frustrasi.

Dari pada semakin bingung Arsen memutuskan untuk memencet dengan cepat bel rumahnya, tak lama pintu kokoh itu terbuka menampilkan Aylona dengan wajah kaget seperti melihat hantu saja.

"Arsen?" Suaranya nyaris seperti berbisik.

Namun semua tak berlangsung lama karena Aylona kembali pada mode normalnya, wanita cantik itu memberikan pertanyaan panjang untuk Arsen yang tiada ubahnya seperti kereta.

Berhubungan pria tampan itu sudah sangat lelah untuk sekedar mendengarkan atau menjawab seribu pertanyaan dari sang istri, ia langsung membungkam saja bibir tipis berwarna pink itu dengan kecupan maut andalannya.

Setelah melakukan aksinya tadi Arsen dengan santai melenggang menuju kamar, masih ia dengar suara dari sang istri yang masih mengomel atas kelakuan ajaibnya tadi, tanpa sadar si tampan tersenyum meski samar.

Sesampainya di kamar pribadi miliknya dengan Aylona, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Rasanya sungguh penat, entah apa yang sudah terjadi padanya sampai ia merasa begitu linglung hari ini.

Seusai mandi Arsen melihat istrinya yang cantik dan tengah hamil itu sudah tertidur. Perlahan ia mendekat ikut merebahkan diri di sisi lain tepatnya di belakang tubuh Aylona.

Sebenarnya ia takut untuk tidur, takut mimpinya datang lagi.

'Sungguh menakutkan,' batinnya sambil bergidik ngeri.

Si tampan mencoba melingkarkan tangan kekarnya pada perut Aylona yang sudah membuncit, ah sungguh tak tega melihatnya membawa beban seperti ini setiap hari.

Namun lagi-lagi ia dibuat bingung dengan sikap Aylona yang terperanjat karena pelukannya itu.

Arsen sebenarnya ingin berbagi cerita tentang linglungnya ia hari ini pada Aylona. Namun, ia urungkan niatnya karena ia takut malah semakin membebani pikiran si cantik.

Flashback

"Bae ... kamu kapan pulangnya sih! Aku dan calon baby kita sudah kangen nih," ucap manja Aylona wanita cantik bertubuh mungil, istri kesayangan Arsen.

Arsen Abraham atau yang biasa akrab disapa Arsen adalah pengusaha muda yang sukses meski usianya baru menginjak dua puluh lima tahun.

"Sabar ya, semingguan lagi aku sudah pulang kok dan kita akan segera ketemu," ucap pria berparas tampan, berpostur tubuh tidak begitu tinggi tapi tidak pendek juga di seberang telepon.

Aylona menetap di Jakarta, sedangkan Arsen beberapa minggu ini berada di Batam. Dua pasangan muda ini sudah dua bulan menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan sang suamilah yang menuntut mereka mau tak mau harus LDR-an.

Waktu bergulir dengan begitu cepat, hari yang ditunggu-tunggu pun akan segera tiba.

"Kamu jadi naik pesawat, Bae?" tanya wanita cantik dan manis secara bersamaan itu pada suaminya.

"Iya ... kenapa, hm?" jawab singkat Arsen dengan suara khasnya yang selalu terdengar lembut di pendengaran Aylona.

"Ya, enggak apa-apa. Kenapa enggak naik kereta saja sih kayak biasanya, aku hanya sedikit khawatir," ungkap si cantik jujur akan hal yang mengganjal pada hatinya saat ini.

"Kalau naik pesawat kan jauh lebih cepat nyampenya Bae, lagi pula aku sudah enggak tahan ingin cepat ketemu kamu sama si utun," jawab Arsen dengan segala kerinduan yang membuncah dalam hatinya.

"Hm aku juga ingin cepat ketemu kamu tapi a-aku ... beberapa hari ini mimpiin buruk tentangmu Sen, aku jadi takut kalau jadi beneran," ucap terbata Aylona seraya memainkan ujung kedua telunjuknya seolah si lawan bicara bisa melihat tingkahnya saat ini.

Umur Aylona ini setahun lebih tua dari Arsen jadi terkadang dia panggilnya pakai nama saja.

"Eits .... Ibu hamil enggak boleh berpikir macam-macam yang bikin stres loh. Itu hanya bunga tidur Bae, yang penting kamu doain yang baik- buat aku, ok!"

"Sepertinya aku akan segera terbang. Eh bukan maksudku akan naik pesawat dulu nih, Sayang."

"Tunggu sebentar, Sen," interupsi dari sang istri.

"Ada apa, hm?" jawab pria yang sesekali memandangi jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.

Bab 3

Tunggu sebentar Sen," interupsi dari sang istri.

"Ada apa, hm?" jawab pria yang sesekali memandangi jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.

"Aku harap kita bakal terus sama-sama. Temenin aku tidur lalu besar in anak kita bareng, please stay with me?" ucap memohon wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu.

"Yes Baby, aku janji. Apa sih yang enggak buat istri manisku ini, kamu harus tahu aku akan selalu bucinin kamu selamanya. Ya sudah ya ... bay, see you."

Arsen kemudian memutus sambungan teleponnya yang sesaat tadi terhubung dengan sang istri.

Lima jam meleset dari perkiraan Aylona, harusnya Arsen sudah sampai di jam tujuh sore tadi namun sudah hampir tengah malam ini tiada kabar darinya, membuat khawatir ia saja.

Tepat pukul dua belas malam bel pintu berbunyi nyaring, nyaris membuat wanita ini jantungan karena berbunyi secara tiba-tiba.

"Ah itu pasti si kunyuk Arsen, bikin orang khawatir saja huh!" gerutu si cantik sambil masih mengusap dadanya yang masih berdetak kencang.

"Iya Arsen, tunggu in bentar!" teriak Aylona yang berjalan dengan tertatih karena perutnya yang sudah semakin membesar.

"Kok tengah malam ini baru sampek sih, harusnya kamu sampek dari lima jam lalu loh. Kenapa juga enggak kabarin aku dulu, bikin khawatir orang saja dan lagi kamu naik apa kok aku nggak dengar suara kendaraan berhenti?" tanya Aylona tiada jeda dan panjang seperti kereta pada sosok lelaki yang diyakininya adalah sang suami. Jangan lupakan tingkahnya yang celingukan karena mencari kendaraan yang mengantar Arsen.

Cup!

Tiba-tiba si tampan membungkam bibir yang tak mau berhenti berbicara itu dengan sebuah kecupan kilat.

"Kenapa tiba-tiba, eh," ucap Aylona pelan jangan lupa dengan sikapnya yang salah tingkah akibat ulah dari sang suami.

"Karena kamu bawel," ucap si pria sembari mengusak rambut Aylona.

Pipi chubby-nya pun merona semerah buah tomat sungguh menggemaskan. Sembari menyentuh bibirnya sendiri ia merasakan sebuah sensasi seperti ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.

Tapi ada satu hal berbeda yang si cantik rasakan. Bibir itu, ya bibir yang biasanya terasa hangat namun kali ini yang ia rasakan itu adalah kecupan yang terasa begitu dingin, entah karena memang ini tengah malam atau karena apa si cantik tak tahu.

Apalagi kedatangan Arsen tadi disertai angin yang lumayan kencang yang membuat bulu kuduk meremang.

Setelah berhasil mengambil kecupan tiba-tiba pada sang istri, Arsen menyelonong masuk ke dalam rumah lalu melenggang menuju lantai atas di mana kamarnya berada.

"Eh, tungguin aku," ucap Aylona bernada manja.

Wanita itu bergegas mengunci pintu lalu berlari kecil menyusul sang suami ke kamar pribadi mereka.

Sesampainya di kamar Arsen memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur itu juga untuk melakukan ritual membersihkan diri.

Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkan Arsen untuk menyelesaikan ritualnya akhirnya si tampan keluar dari kamar mandi.

Dada bidangnya yang terekspos putih semakin terlihat seksi ketika buliran bening air mengalir melewati sela-sela di sana, jangan lupakan handuk putih pendek yang setia menutupi daerah privatnya.

Si tampan berjalan menuju lemari besar yang terletak di samping ranjang tidur lalu membukanya. Tak menghabiskan waktu lama piyama tidur berwarna hitam itu sudah terpasang apik di tubuh kekar Arsen.

Selanjutnya apa lagi kalau tidak ikut berbaring di samping sang istri, memeluk pinggang itu sampai pagi tiba.

Aylona sedikit terperanjat saat merasakan sentuhan dingin melingkar di bagian pinggangnya.

"Kenapa tubuhmu dingin sekali, apa kamu sakit?" ucapnya dengan posisi mereka masih saling berpelukan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED