"Dek, Mas mau nikah lagi!" Aku yang tengah duduk di sofa ruang tamu seketika berdiri. Menatap bingung pria yang baru saja melewati pintu depan.
"Ap-apa, Mas?" tanyaku mencoba memastikan. Berharap apa yang baru saja melewati telingaku hanya sebuah kebohongan belaka.
"Mas mau nikah lagi! Titik!" ulangnya bagai petir yang menyambar tepat di ubun-ubunku. Wajah menegang, telinga pun rasanya berdengung mendengar perkataan suamiku yang mendadak.
Nikah lagi? Yang benar saja. Aku bukan wanita yang menentang poligami, silakan siapapun boleh melakukannya, tapi jangan suamiku. Aku nggak mau. Nggak akan pernah mau. Lebih baik pisah dari pada cintanya tak hanya terbagi untuk wanita lain.
"Kok, tiba-tiba? Kita nggak lagi berantem loh, Mas! Kita nggak ada masalah, rumah tangga kita adem ayem, kok!" kataku berapi-api. Sebelum-sebelumnya tidak ada pertanda apapun yang menjurus ke arah sana. Suamiku pun baik, hangat, dan penuh perhatian, seperti biasa. Kami … baik-baik saja. Setidaknya, itu menurutku.
"Pokoknya mas mau nikah lagi!" ulangnya bagai sembilu yang menusuk-nusuk telinga bahkan hati ini. Kurangku apa?
Apa … belum adanya keturunan di antara kami sebagai bibit masalahnya? Tapi, kenapa harus nikah lagi, sih? Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memiliki anak. Adopsi mungkin, itu jauh lebih baik ketimbang dipoligami.
"Gaji aja pas-pasan kok mau nambah lagi. Ini gimana, Mas? Pikir dong! Jangan mau enaknya aja!" Lahar amarah dalam dada kian membumbung.
"Itu bisa dipikir belakangan," katanya sambil bersedekap.
"Belakangan gimana? Perbaiki dulu sikapmu, agamamu, keuanganmu, setelah itu barulah memikirkan menambah istri! Jangan hanya memikirkan enaknya aja, Mas!"
Dia kira bakal enak memiliki dua istri. Kasur, dapur, sumur, bisa digilir seenaknya. Iya kalau adil, kalau condong sebelah, bisa-bisa yang didapat malah kebuntungan.
"Pokoknya, kamu harus siap dimadu!" Dia masih kukuh pada keputusannya. Bahkan, telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. Pertama kalinya, pria yang kuhormati selama ini sebagai imam saat salat, kepala keluarga, dan kesabarannya yang patut menjadi teladan, bersikap tak sopan seperti ini.
Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang berhasil merubah sikap lelaki ini.
"Nggak!" tegasku. Dia punya keputusan, aku pun sama.
"Aku sudah bawa calon," ungkapnya semakin membuatku meradang.
"Sayang, ke sini Sayang." Kepalanya menoleh pada pintu.
Sayang? Panggilan yang biasanya membuatku melayang, kini disematkan juga pada si jalang? Benar-benar kurang ajar kamu mas.
Kuikuti arah pandang pria depanku. Terlihat wanita tinggi semampai muncul di sana. Kulitnya putih, bersih, mengkilap bak porselen. Badan lenggak-lenggoknya yang seperti gitar spanyol terpampang nyata karena dress pas badan yang dikenakannya.
"Aduhai." Satu kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Sungguh, melihat siluetnya saja sudah seperti bidadari yang digambarkan di buku-buku dongeng. Aku yang wanita normal pun pasti jatuh hati pada bentuk indah itu.
"Bagaimana? Sempurna bukan?" ucap suamiku bangga. "pilihan siapa dulu, Ilham." Tangannya menepuk-nepuk dada. Begitu bangganya sampai menyebut namanya sendiri.
Mataku mengerjap, jemari pun mengusap-usap netra, wajah sosok bidadari di depan pintu terlihat samar, buram, nyaris tak terlihat.
"Anu, Mas, kok mukanya silau." Netraku memicing, mencoba memperjelas laju pandang. Tetap saja, wajah --yang kata suamiku-- sempurna itu tak terlihat sedikitpun. Mata, hidung, bahkan dagunya, putih. Hanya rambut dan leher ke bawah hingga ujung kaki yang terlihat jelas.
"Ngarang! Jelas-jelas cantik gitu, ya! Bilang aja kamu iri karena kalah jauh! Kamu itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengannya! Dia langsing, kamu … meskipun bisa dibilang nggak gemuk, tapi pipi tembem dan badan berisimu cukup mengganggu mata," katanya tak pedulikan hatiku yang hancur berkeping-keping.
Bagaimana bisa, seorang suami terang-terangan membandingkan istrinya dengan wanita lain. Jahat kamu mas.
"Beneran! Nggak kelihatan itu mukanya, Mas." Aku masih mengusap-usap netra dengan keras. Bagaimana mungkin, mataku yang masih normal mendadak rabun begini?
"Halah! Susah emang ngadepin orang yang iri hati!" ucap suamiku sambil berjalan ke arah selingkuhannya itu.
"Mas! Mau kemana kamu, Mas." Aku berteriak. Namun, pria itu tetap maju tanpa menoleh sedikitpun padaku. Merangkul pinggang ramping kekasihnya, dan melangkah semakin jauh.
"Mas!" Aku masih berteriak. "Mas Ilham!" meraung pun tak ada arti. Sejoli itu sudah tak terlihat lagi.
Aku terduduk di lantai, menyembunyikan wajah yang di banjiri air mata di sela-sela lutut yang tertekuk. Aku tak kuat lagi untuk tidak menangis. Hatiku sakit, perih, luka yang suamiku torehkan begitu dalam hingga diri ini tak mampu menahannya.
"Mas Ilham …!"
***
"Dek, bangun." Badanku terus-terusan berguncang. Perlahan, netra yang tertutup mulai terbuka. Berat, perih, tapi aku harus mencobanya.
"Dek, bangun. Astaghfirullah. Nyebut, Dek," seru Mas Ilham. Samar-samar kulihat lelaki itu masih setia mengguncang-guncang tubuh ini. Mencoba membangunkanku dari tidur. Sesekali menampar pipi, penuh sayang loh agar cepat sadar.
"Astaghfirullah sakit, Mas. Teganya kamu menamparku!" Aku terbangun dengan berderai air mata. Tangan kanan mengusap-ngusap pipi yang kena tampar.
"Enggak usah drama, Dek, orang cuma pelan ya. Lagian, mimpi apa sih sampai nangis sesenggukan begitu? Manggil-manggil nama mas terus lagi," katanya sambil tertawa.
Semua ini gara-gara kamu tahu nggak! Jadi, itu hanya mimpi? Mas Ilham mau poligami, dan wanita itu juga cuma mimpi? Syukurlah jika begitu adanya.
Aku terduduk bersila di ranjang. "Oalah, Mas, aku mimpi kamu bawa calon madu ke rumah ini." Tanganku menepuk kening.
"Ya Allah, Dek, mimpimu itu mengada-ada. Kebanyakan nonton sinetron ikan terbang sih." Tawa suamiku semakin berderai. Tangannya terulur, menyeka air mata di pipiku.
Diri ini nggak gemuk kok, hanya sedikit berisi. Beratku lima puluh delapan kilo dengan tinggi badan seratus enam puluh, bukankah itu termasuk ideal?
"Kamu itu satu-satunya, Dek, disini." Mas Ilham menunjuk dadanya, tepat di jantung. Lah gombal lecek.
"Beneran ya, Mas?" Aku meremas tangannya yang masih berada di pipiku.
"Satu aja nggak habis-habis ya, menul-menul gini, aku ya nggak bakalan berpaling, Dek," kata Mas Ilham meninggalkan kecupan di keningku. Lalu turun ke hidung, turun lagi hingga bibir. Cukup lama dia bermain di sana. Aku pasrah dan berusaha mengimbanginya.
Suamiku ini, pandai sekali menenangkan hati yang gundah. Bagaimana mungkin suami yang begitu lembut memperlakukanku bakal tega berpaling, selingkuh, bahkan menikahi gundiknya itu. Nggak, itu nggak bakal terjadi. Semoga ….
"Ya sudah aku mau bobok lagi," ucapku saat tautan kami terlepas. Kembali merebahkan diri, lalu memiringkan badan membelakangi Mas Ilham.
"Loh, Dek, sudah bangun ini." Keningku berkerut dalam. Bangun? Astaga … kututup mulutku yang mengaga.
Aku berdeham lalu berkata, "Bangun, ya ditidurin lagi, Mas. Masih gelap gulita ini loh." Aku berpura-pura tak paham maksud terselubung suamiku itu.
"Ini yang bawah, Dek, ya elah gak peka banget," rengeknya terasa semakin mendekat. Bahkan, embusan napas hangatnya terasa di tengkuk leherku, merembet hingga ceruk leher.
"Nggak mau, Mas. Salah siapa mau poligami," kataku seraya menahan tawa.
"Itu kan cuma mimpi, Dek."
Aku tahu itu hanya bunga tidur, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal dalam dada. Aku resah, kepikiran, tak tenang.
"Kenapa, Mas Ilham masuk mimpiku? bawa calon madu lagi." Aku masih enggan berbalik untuk sekedar menatapnya.
"Dek ... Dek," rengeknya semakin mendekatkan badan.
"Tidur, Mas." Aku memejamkan mata sambil terus cekikikan. Duh, menggemaskannya suamiku ini.
"Dek, nggak mau bobok ini."
Aku menghela napas. Menetralkan degup jantung yang kian menjadi-jadi. "Iya, iya." Aku menghadapnya sambil menunduk malu-malu.
Lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, selama itu pula selalu tidur di ranjang yang sama, tak terhitung lagi sudah berapa kali kuserahkan raga ini untuknya, tapi setiap kali memulai aku masih saja merasa gugup, malu, dan jantung berdebar-debar. Selalu, seperti waktu pertama kali melakukannya.
Suamiku tersenyum, tangannya mulai memberikan sentuhan lembut nan memabukkan.
Bercampurnya pasangan halal malam ini, semoga Allah titipkan nyawa yang bersarang di rahimku. Janin yang akan kukandung selama sembilan lebih. Titipan yang amat-sangat kami nanti-nantikan.
Aku dan Mas Ilham sudah menikah selama lima tahun, dan belum juga memiliki keturunan. Padahal kami tidak ada kendala dalam kesuburan, semua hasil medis tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bagus semua, kata beberapa dokter yang pernah kami kunjungi. Metode kimia, herbal, bahkan sampai urut peranakan pun sudah pernah aku lakukan.
Memang belum rejekinya, mau berusaha seperti apapun kalau Allah belum menghendaki semua itu tidak akan terjadi. Aku yakin, Allah memiliki rencana tersembunyi untuk kami yang tak henti-hentinya berusaha.
Semoga, apa yang aku khawatirkan, hanya sebatas kekhawatiran saja, Mas. Semoga.
"Mas, bangun. Mas Ilham." Badanku berguncang hebat, apa ada gempa? Dan, kenapa wajah ini terasa basah? Apakah di luar hujan lebat dan atapku bocor? Ah, itu tidak mungkin.
Aku membuka mata perlahan, lalu berkedip beberapa kali, cahaya lampu kamar cukup terang bagai jarum yang menusuk-nusuk netra, perih dan terasa berat. Enggan rasanya membuka walau hanya sebentar saja. Kantuk masih bergelayut manja di pelupuk mata. Lelah pun menyelimuti sehabis bergumul dini hari tadi bersama istri.
Ah, mengingatnya sudah membuat senyumku terkembang. Namun, aku tak bisa mengabaikan panggilan dan percikan air di wajahku. Akhirnya, kupaksakan netra untuk membuka sempurna.
"Astaghfirullah, Dek, begini caramu membangunkan suamimu?" Kulihat Ina --istriku-- tengah menggoyang-goyangkan tubuhku dan membiarkan rambut basahnya sehabis keramas menjuntai di atas muka. Membiarkan bulir airnya menetes bebas menimpa wajahku.
Segar. Akan tetapi, kenapa istriku se-absurd ini kelakuannya? Tidak bisakah dia keringkan dulu rambutnya yang tergerai bebas itu?
"Maaf, Mas. Habisnya susah banget banguninnya, kaya kebo." Tawa renyahnya terdengar, menggelitik untuk ikutan melengkungkan bibir lebar-lebar. Begitulah istriku, caranya mengekspresikan bahagia selalu saja menular padaku.
Sebutan itu hadir setelah kami menghabiskan malam bersama setelah menikah. Karena aku, jika sudah terlelap susah sekali untuk dibangunkan. Apalagi didukung kondisi tubuh yang lelah, teriakan kebakaran pun tidak akan mampu membangunkanku.
"Suami sendiri dibilang kebo." Aku merengut. Namun, aku tak pernah benar-benar marah padanya. Malahan menikmatinya, ekspresinya saat menjahiliku sungguh menggemaskan. Sakit hati tidak pernah bercokol dalam dada, dan menegurnya pun hanya sebatas gurauan saja.
Aku benar-benar tidak menyangka cinta yang kupersembahkan akan sebesar ini untuk dirinya.
"Jam berapa, Dek?" tanyaku mencoba duduk.
"Jam empat, Mas. Sebentar lagi subuh." Wanita itu sudah beranjak dari sampingku, memakai mukena terusan berwarna putih gading di depan meja riasnya.
"Tunggu, Dek, mas mandi dulu." Seketika aku turun dari ranjang, berlari menuju kamar mandi.
"Nggak salat di masjid, Mas?" Meskipun sudah di dalam ruangan lembab ini, aku masih bisa mendengar teriakannya.
"Lagi pengen jadi imam kamu, Dek," pekikku dari dalam kamar mandi.
***
Setelah mimpi istriku semalam, aku kira dia akan terus-terusan kepikiran. Sepertinya tidak. Alhamdulillah, aku bersyukur wanitaku tidak terlalu larut dalam mimpi buruknya itu.
Netraku bergerak-gerak memperhatikan Ina --istriku-- yang tengah memasak di dapur. Dia dengan daster khasnya yang kedodoran. Entah kenapa dia menyebut baju yang dikenakannya itu sebagai baju kebangsaan ibu-ibu.
Di komplek perumahan ini, memang tak jarang aku menemukan para wanita yang memakai baju kedodoran seperti dia. Yang tak kumengerti, kenapa dia suka sekali memakainya padahal kulihat bagian leher sudah sobek-sobek dan warnanya sudah pudar karena cuci kering pakai.
"Adek, nggak suka daster yang mas belikan ya? ya sudah, besok kalau mas libur kita ke pasar malam ujung komplek sana, nyari daster yang kamu mau," ucapku, dan langsung mendapat senyuman manis darinya.
"Nggak usah, Mas, aku suka kok yang kemarin," tolaknya membuat keningku berkerut.
"Kok gak dipakai?" Aku memiringkan kepala. Katanya suka, tapi masih tersimpan rapi di lemari. Bahkan, gantungan mereknya masih ada, tandanya sama sekali belum dicuci.
"Yang ini saja masih bisa dipakai, kok." Dia meringis. Lalu kembali berucap, "Mas malu ya aku pakai baju sobek-sobek begini? Tenang saja, Mas, aku pakainya di dalam rumah aja, kok, kalau keluar aku ganti gamis. Aku juga tahu harus menjaga nama baik suami di kalangan ibu-ibu komplek yang suka ghibah itu," rengesnya menunjukkan deretan rapih gigi putihnya.
"Iya, mas tahu, makasih ya, Dek." Aku berdiri mencoba mengecup keningnya, tapi dia menghindar membuat hati mulai berdesir dan diliputi banyak tanya dalam benak. Bulu kuduk pun mendadak meremang. Ada apa dengan istriku? Jangan-jangan ucapanku menyakiti hatinya.
"Kok disitu, Mas? Sini lah," katanya menunjuk bibir. Astaga, minta lebih ternyata. Aku kira kenapa, bikin jantung berdebar-debar aja kamu dek.
"Nggak mau, nanti mas nggak jadi kerja." Aku mengedipkan sebelah mata, lalu menjawil hidungnya.
Biarlah dia jadi dirinya sendiri saat di rumah. Ketika kamu bersamaku, lakukanlah apapun yang kamu inginkan, asal masih batas wajar dan mentaati norma yang ada, tahu batasan, mampu membedakan hak dan kewajiban yang harus kamu terima dan kamu berikan.
Biarlah dia pakai daster itu, asal dia merasa nyaman, aku pun tak akan keberatan dengan itu. Yang penting, saat di kamar bersamaku dia memakai baju kebangsaan istri yang nampak indah dipandang suami. Jadi ingat yang semalam dek. Duh, jadi kayak pengantin baru saja aku.
***
"Mas, ini bekalnya jangan lupa," kata istriku menenteng rantang dua susun merek tupperware, lalu menyerahkannya padaku.
"Astaghfirullah, hampir aja ketinggalan, Dek." Aku menepuk kening.
"Rantangnya jangan sampai ketinggalan loh, Mas. Ingat ya." Dia mewanti-wanti.
"Siap, Bu Bos." Dia memang selalu protektif dengan peralatan makan merek ini, mungkin karena mahal harganya. Bayangkan saja satu set ada yang harganya lima ratus ribu sampai jutaan. Waduh, jika hilang bakal kepikiran terus pastinya dia.
Akan tetapi, istriku itu pintar menyisihkan uang untuk membeli keperluannya sendiri. Dia aktif mengikuti arisan bersama ibu-ibu satu komplek, katanya 'Itung-itung nabung, Mas', terserah lah asal jangan ikut arisan sosialita, mas belum sanggup, dek.
"Assalamualaikum, Dek," pamitku sambil memutar gas tipis-tipis motor matik yang baru kubeli dua bulan lalu, melewati pagar rumah.
"Wa'alaikumsallam, Mas. Jangan ngebut, Mas," pesannya yang kubalas dengan lambaian tangan.
****
Sesampainya di kantor, aku disambut dengan senyuman aneh dari Bu Retno --atasanku-- di pintu masuk ruanganku bekerja. Senyuman yang membuatku merasa tak pernah nyaman bekerja. Dia, cukup genit dan gencar merayu lawan jenisnya. Sebagai bawahan aku hanya bisa menghindar perlahan, tanpa bisa berterus terang.
Beruntungnya, beliau hanya bermain dengan mata.
Hingga waktu makan siang tiba. Bu Retno, tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu ruangannya.
"Ilham, tolong keruangan saya," panggilnya. Aku yang sengaja menunduk seketika mengangkat wajah. Wanita dengan kemeja putih itu sudah berbalik, masuk ke dalam ruangannya.
'Kenapa juga aku harus makan di kantin?' rutukku dalam hati. Biasanya, aku memakan bekal dari istri di taman belakang, dekat tempat parkir. Gara-gara rekan kerjaku mengajak makan bersama, jadilah kami melewati ruangan angker ini. Dari ruanganku bekerja satu-satunya jalur menuju kantin hanyalah lewat ruangan Bu Retno.
"Lah, baru juga mau makan siang. Ada apa sih sama manager itu? Akhir-akhir ini kaya sering manggil kamu, Ham," gerutu Anton, si biang kerok.
Entahlah, aku juga nggak ngerti. Beberapa hari ini beliau memang sering memintaku datang ke ruangannya, tidak seperti biasa. Hanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting.
"Nggak tahu, Ton." Aku menghendikkan bahu. "kamu makan duluan aja, aku keruangan Bu Retno dulu." Anton pun menyetujuinya, gegas pergi menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu ke tempat makan.
"Assalamualaikum, Bu," panggilku setelah mengetuk pintu kayu bercat coklat.
"Wa'alaikumsallam, masuk Ilham."
Setelah dipersilakan, aku pun memasuki ruangan yang entah mengapa terasa begitu mencekam siang ini.
"Ada apa ya, Bu?" Aku menarik kursi di depan meja Bu Retno, lalu mendudukinya.
Dia berdehem, lalu menarik napas panjang. Sedangkan aku, menunggu dengan debar tak biasa menanti omongannya.
"Dua hari lagi devisi kita ada dinas ke Bandung."
Aku manggut-manggut, masih menyimak.
"Aku harap, kamu nggak bawa istri kamu, ya, 'kan sudah ada aku," kata Bu Retno membuatku hampir tersedak ludah sendiri. Dengan berani tangannya menggenggam kedua tanganku yang berada di meja kerjanya.
Astaghfirullah, cobaan apa ini? Apakah ini petunjuk mimpi istriku semalam? Ya Allah, kuatkan lah iman dalam diriku.
"Maksud, Bu Retno apa?" Aku menarik tangan dari genggamannya. Ini sungguh mengagetkan. Bagaimana bisa, Bu Retno yang menjabat sebagai atasanku bertindak se-berani ini? Tanpa aba-aba, tanpa persetujuan, seenaknya meraih tangan bawahannya yang sudah beristri.
"Masa kamu nggak paham, Ilham?" Dia menggigit bibir bawahnya. Tidak terlihat keragu-raguan di wajah bulat itu, yang ada gerakan seduktif menanti respon positif dariku.
Maaf, aku tidak akan tergoda.
"Maksud, Ibu, apa?" Aku pura-pura bertanya. Nggak usah pakai kode, aku sudah hapal betul apa yang beliau inginkan.
"Aku 'kan belum menikah, Ham." Dia mulai bergerak-gerak gelisah. "kalau yang lain bawa pasangan, aku malu lah nggak bawa pasangan sendirian. Kayak nggak laku aja." Netranya mengerling, sambil menunduk malu-malu. Air muka yang sulit diartikan itu membuatku risih, ingin segera pergi dari tempat tak nyaman ini.
Memang, di usianya yang hampir empat puluh tahun dia masih belum bersuami. Beliau bisa terbilang cantik, terlihat lebih muda dari usia aslinya. Badan berisinya terlihat kencang, nampaknya beliau rajin berolahraga guna menjaga bentuk badan. Rambut lurus sebahunya tergerai rapi nan terawat. Aset bagian belakangnya pun enak dipandang.
Astaghfirullah, kenapa aku jadi membayangkan wanita lain? Jangan sampai aku goyah.
"Hubungannya sama saya apa, Bu?" Aku geram. Kenapa pula beliau menceritakan masalah pribadinya padaku? Ini benar-benar di luar konteks atasan dan bawahan. Hubungan kami tidak sedekat itu, hingga bisa saling membagi masalah.
"Yah, pokoknya jangan bawa aja." Bu Retno memalingkan wajah, lalu beranjak dari kursinya. Melangkah keluar dengan tergesa, meninggalkan aku yang masih dirundung gelisah.
Kenapa harus aku? Bawahannya yang sudah menikah bukan hanya diriku saja. Bukankah ini termasuk menyalah gunakan jabatan? Semena-mena pada bawahan juga termasuk melanggar hak asasi manusia. Kesal.
***
"Assalamualaikum, Dek." Dengan langkah gontai aku memasuki rumah setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tak kunjung terbuka.
"Wa'alaikumsallam," sahut istriku yang sedang rebahan manja di sofa depan TV.
"Mas pulang kok gak dibukain pintu, Dek?" Aku duduk di sisi kosong sebelah wanita berdaster merah motif bunga-bunga itu.
"Maaf, Mas, adek lagi lemes banget, perut bolak-balik keram. Biasa, lagi hari pertama, Mas," katanya sambil meremas perut, kemudian merubah posisi menjadi duduk. Meraih tangan kananku yang terulur, lalu mengecupnya dengan takzim.
"Sudah minum obat?" Khawatir menyelimuti melihat wajah wanitaku tidak secerah biasanya. Pucat.
"Tadi sudah minum teh tawar anget, Mas. Sebentar lagi juga enakan, kok." Dia tersenyum tipis. Bibir seputih kertas dan pecah-pecah itu pasti sulit membuat lengkung lebar.
Dia selalu begini saat tamu bulanannya datang, apa memang haid itu sesakit ini? Alangkah baiknya aku sebagai kaum Adam selalu mengerti, dan siap sedia saat dibutuhkan, sigap saat wanitanya meminta pertolongan.
"Yah, mas puasa seminggu dong, Dek," selorohku, berharap mampu mengurangi rasa sakit pada perutnya.
"Kamu itu, Mas, kayak baru pertama kali puasa aja!" Bibirnya mencebik, menggemaskan sekali saat dia melakukan itu.
Aku tersenyum, lalu mencubit pipinya.
"Capek banget hari ini, Mas?" tanya Ina setelah aku menyandarkan kepala pada ujung sandaran sofa. Helaan napas panjang, dan anggukan kepala dariku menjawab semuanya.
Ya, lelah sekali hari ini. Apalagi, perbuatan Bu Retno siang tadi yang membuatku gusar, dan terus kepikiran. Ingin rasanya melampiaskannya semalaman bersama Ina di balik selimut, tapi malang tak dapat ditolak, istriku sedang datang bulan.
****
"Dek, dua hari lagi mas berangkat dinas ke Bandung, dengan rekan-rekan satu divisi," ucapku setelah merebahkan badan di tempat peraduan kami yang hangat.
"Berapa hari, Mas?" Wanita tiga puluh tahun sebelahku mengerutkan kening.
"Tiga hari dua malam, Dek." Ada raut kecewa pada wajah manisnya. Usianya sudah tak lagi muda, tapi untuk masalah manja kala merajuk dia ahlinya. Sulit sekali dikendalikan. Padahal usia kita sama, tetapi aku diharuskan untuk lebih banyak mengalah darinya, agar rumah tangga ini selalu baik-baik saja.
"Lama banget, Mas." Bibirnya mengerucut. Aku tahu maksud tersiratnya wajah itu. Langsung saja kutarik dia masuk ke dalam dekapan. Meninggalkan kecupan bertubi-tubi pada puncak kepalanya.
Andai, tidak ada penghalang di bawah sana sudah pasti kulakukan lebih dari ini. Pembuatan anak, misal.
"Kamu ikut, ya," pintaku. Persetan dengan permintaan tak masuk akal dari atasan. Hakku untuk mengajak sang istri turut serta.
Dia menggeleng. "Nggak, Mas, aku risih. Pergi-pergi saat datang bulan membuatku tak nyaman. Apalagi sampai menginap," tolaknya menenggelamkan wajahnya di dadaku.
"Aku bakal kesepian, Mas," lanjutnya membuat dadaku berdesir.
"Minta Bu Minto untuk menginap." Beliau adalah tetangga sebelah rumah.
"Mana mungkin, Mas, nggak enak aku. Suaminya lagi di rumah pasti lebih penting nemenin suami dari pada aku." Intonasinya melemah.
"Sebentar kok, Sayang, nanti aku bawain bolu susu Lembang favorit kamu," bujukku, lalu mengecup keningnya cukup lama, berharap rayuan ini akan mengendurkan keningnya yang sedari tadi berkerut.
"Tiga ya, Mas. Aku mau kasih Bu Minto, dan Bu RT. Mereka kalau masak lebih, sering dibagi ke kita, Mas," katanya mulai antusias.
Kuamati wajahnya mulai berbinar saat membahas bolu kesukaannya itu. Syukurlah, dia bisa menerima kepergian sementaraku.
"Iya," sahutku singkat. Menghela napas panjang, sebenarnya ingin sekali aku mengadukan perbuatan Bu Retno siang tadi kepada istri. Namun, aku takut membuatnya kepikiran. Dan, Ina adalah tipe wanita pencemburu, aku tidak mau rumah tangga ini menjadi taruhannya.
Bu Retno memang lumayan aktif merayu pria-pria yang berada disekitarnya. Bukan hanya aku, Anton pun tak jarang mendapatkan kedipan mata menggoda darinya. Tapi, kejadian siang tadi sudah tidak dapat diabaikan lagi.
****
Dua hari telah berlalu begitu cepat, waktunya untuk pergi pun tiba.
"Mas berangkat dulu ya, Dek, sudah dijemput Anton dan Andi," teriakku dari ruang tamu. Seketika, wanita dengan jilbab lebar itu keluar dari kamar. Berlari menghampiri.
"Iya, Hati hati, Mas," ucapnya sambil membetulkan kerah kaos polo yang kukenakan. Wajahnya yang terlipat membuatku berat untuk pergi.
"Kenapa, Dek? kok lesu gitu? Mas nggak usah pergi aja, ya." Aku mengusap puncak kepalanya yang berbalut jilbab abu tua.
"Gak tahu, Mas, perasaanku mendadak nggak enak."
"Mas di rumah aja, wajahmu masih pucat, Dek." Tanganku turun ke keningnya. Nggak panas.
"Sudah sana berangkat, sudah ditungguin. Dinas ini 'kan juga penting untukmu, Mas." Diraihnya tanganku dan mengecup cukup lama. Mendorongku sampai keluar rumah.
Aku tersenyum, sambil melambaikan tangan dan mengucapkan salam. Sungguh, berat meninggalkan dia seorang diri. Akan tetapi, dinas ini pun aku harus mengikutinya sebagai bukti tanggung jawab pada pekerjaan.
Seringkali, firasat buruk istriku selalu berakhir pada kenyataan. Membuat hatiku tak tenang dan gelisah. Semoga Allah selalu menjaga hatiku dari wanita penggoda di luaran sana.
***
"Loh, Bu Retno belum datang, Ham?" Terlihat Anton tengah melihat sekeliling. Sekarang kami sudah sampai di tempat tujuan, Lembang Bandung.
Pemandangan yang asri dengan pohon pinus menjulang tinggi membuatku terpesona, benar-benar mengagumkan panorama ini. Tanpa sadar aku mengabaikan pertanyaan dari Anton, mata ini masih terfokus pada ciptaan Tuhan yang menyejukkan hati ini.
"Dewi, kamu nggak bareng Bu Retno?" tanya Andi pada Dewi, juniornya.
"Nggak, Mas, aku sama suamiku."
"Tadi Bu Retno minta bareng aku, tapi sudah penuh. Ada istri bersama satu anakku, ditambah Anton dan istrinya juga ikutan, Ilham juga satu mobil dengan kita. Haduh, untung kamu nggak bawa istri, Ham. Kalau bawa ya nggak muat mobilku."
Aku menoleh pada Andi saat mendengar namaku disebut. Seandainya dia tahu, aku menyesal tak membawa istri turut serta. Wanitaku pasti bahagia melihat keindahan alam yang asri ini.
Dinas yang memperbolehkan membawa keluarga, bukankah ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan? Akan tetapi, aku menjadi orang bodoh yang menyia-nyiakannya.
"Eh, lihat itu Bu Retno, dibelakangnya siapa itu?" Dewi mendadak heboh, mengarahkan telunjuknya ke arah dua wanita yang tengah berjalan dengan anggunnya menuju berkumpulnya kami.
"Wanita yang sama Bu Retno, kenapa terlihat nggak asing ya, Ham?" tanya Anton, membuatku tertarik siapa gerangan wanita itu. Aku menajamkan penglihatan pada dua sosok hawa yang tengah berjalan semakin dekat.
"Wah, kalian sudah sampai?" Sapa wanita dengan kemeja putih itu setelah sampai di tempat kami. "kenalkan, ini Monita, keponakanku." Beliau menunjuk wanita yang berdiri tepat di belakangnya.
"Nita bakalan kerja bareng kita mulai senin depan, sebagai asistenku," jelas Bu Retno.
Monita? Nita? kenapa wajah dan namanya seperti tak asing buatku? Siapa dia sebenarnya? Pikiranku terus bertanya-tanya.
Wanita baru itu menjabat tangan seluruh rekan yang datang. Sekarang, tiba giliranku menjabat tangannya, tanda perkenalan.
"Mas Ilham, gimana kabarnya? pasti lupa ya sama aku?" Senyumnya terkembang.
"Eh?" Dia mengenalku rupanya. Ini menjelaskan memang kami pernah bertemu sebelumnya.
"Aku Nita, adik kelas Mas Ilham dan Mas Anton di SMA dulu," katanya melihatku dan Anton bergantian.
"Ap-apa?" Aku terperangah. Apa dia ... Nita yang itu? Nita yang pernah disukai Anton sewaktu SMA? Bukan hanya Anton, aku pun memiliki masa lalu bersamanya. Masa lalu yang susah payah kuhilangkan dalam benak.
Dan kini dia kembali. Tak hanya itu, wanita itu juga menjadi rekan kerjaku.
Dia begitu berbeda dari jaman SMA dulu. Jauh lebih cantik. Dan, masa lalu bersamanya dulu tiba-tiba berkelebat dalam benak. Membuat perasaanku tak enak.