Bab 2

Gosip mengenai ucapannya pada pak Nawawi belum tersebar ke mana-mana, pasalnya siswa-siswi terlihat biasa saja saat memandang kehadiran Gara. Tahu sendiri bahwa ketika gosip telah terdengar di Admin Lambe Sekolah, maka mulut sang Admin akan langsung menyebarkan gosip dan membuat orang yang digosipkannya menjadi buah bibir selama tujuh harian. Tapi Gara yakin bahwa hari ini ucapannya belum terdengar admin, dan kalaupun sekarang sedang proses maka dia tak peduli.

Gara masuk ke kelas berukuran 5X8 yang diisi oleh sekitar 35 pelajar di dalamnya. Pada tembok putih kelas yang telah mengusam, terlihat pula retak di beberapa titik dinding. Bangku-bangku kayu berderet yang diisi oleh masing-masing dua siswa. Gara berjalan ke belakang, di sana berkumpul beberapa siswa yang sedang rebahan sembari menunggu guru kelas yang belum datang. Beberapa dari mereka menghabiskan makanan dari kantin yang belum sempat dimakan.

“Lo abis dari mana? Mie lo dimakan Satya,” ujar salah satu dari mereka yang sedang memakan nasi kuning.

BRAK!!

"Mana si Satya?" seru Gara.

“Anj*r nggak ada otak!” teriak lelaki berambut cepak yang duduk di sudut kelas, sembari membanting ponselnya ke atas ransel yang ada di atas meja.

Gara yang baru saja menggebrak meja, langsung menatap tajam pada lelaki itu.

“Hampir aja chicken dinner dia, kalau selingkuhannya nggak telepon,” celetuk Satya yang ada di sampingnya sambil memasukkan ujung jarinya ke dalam lubang hidung, menjelaskan arti tatapan Gara yang penuh tanya.

“Blokir makanya! Lo nggak mau belajar dari gamers lainnya apa,” komentar Gara pedas.

“Diem lo linggis,” cetus siswa yang baru saja membanting ponselnya tadi.

“Santai dong, Bro! Kalau hari ini gagal chicken dinner, kan bisa dicoba lagi nanti mana tau nanti gagal lagi,” ujar yang lain.

Gara kemudian duduk di kursi dan menyandarkan punggungnya di meja. Segera ia meraih mangkuk berisi mie rebus yang tersisa setengah, padahal sebelum dihukum mie-nya masih penuh. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melahap mie miliknya itu meskipun hanya tinggal tersisa separo saja. Karena sejak pagi Gara memang belum sarapan untuk mengisi perutnya.

“Mana yang lain?” Tiba-tiba terdengar suara berat seorang lelaki berseragam coklat yang memasuki ruangan kelas.

Anak-anak yang tadi tengah bersantai di belakang kelas, refleks bangkit dan langsung memenuhi bangku-bangku kosong yang tadi sempat mereka tinggalkan. Begitupun juga dengan Gara yang duduk di bangku paling belakang bersama Satya, teman seperjuangannya. Mangkuk mie rebus yang tadi ia pegang, segera ia taruh di laci, sembari menyimak guru yang sedang mengabsen, sesekali Gara melanjutkan makannya. Sayang sekali rasanya bila harus dibuang atau dimakan nanti-nanti, karena mie mudah sekali mengembang.

“Gara Imana Dani!” Panggil seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas.

Gara buru-buru mengangkat kepalanya. Pak Restu, ternyata sudah berdiri di sebelah Satya, menatapnya tajam.

“Nunduk terus ada apa? Tawadhu bener,” sindir Pak Restu.

“Makan, Pak.” Gara memberikan cengiran kudanya tanpa merasa berdosa sama sekali.

“Nggak punya sopan santun banget tuh anak,” desis salah satu siswi.

“Nggak aneh juga tiap hari dihukum,” timbrung yang lain.

“Walah, mulutnya pada rombeng banget,” cetus Satya. "Udah kayak paling nggak punya dosa dan bersih dari segala hal yang munkar,” lanjutnya.

“Sudah ... sudah, sekarang Gara jelaskan ulang materi yang saya sampaikan kemarin,” pinta Pak Restu.

“Tentang apa, Pak?”

Gara seketika tercengang mendengarnya.

🍁🍁🍁

Bab 3

“Tentang apa, Pak?” tanya Gara setelah menaruh sendoknya di samping mangkuk yang sudah ia letakkan.

“Dampak dari kebijakan politik serta ekonomi di masa orde baru.” Pak Restu menjawab dengan suara yang lembut.

“Seingat saya sih waktu bapak jelasin kemarin kata bapak, kalau secara umum stabilisasi nasional pendekatan keamanan yang diterapkan di waktu pemerintahan Orde baru itu berhasil menciptakan rasa aman di masyarakat. Gitu kan kata bapak? Terus perkembangan ekonomi waktu itu juga lancar karena pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi."

"Waktu itu Indonesia berhasil mengubah status negaranya dari negara pengimpor beras terus jadi negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Swasembada beras. Tapi sayangnya setiap sesuatu kan terdapat kekurangan dan kelebihan, dan sayangnya dalam bidang politik, pemerintah orde baru itu otoriter."

"Presidennya punya power gede buat menjalankan pemerintahan. Dan pemerintahan daerah peluangnya kecil banget buat ngatur anggaran daerahnya sendiri. Hingga akhirnya otoriterisme ini merambah ke aspek kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara hingga ke politik. Dan seingat saya kata Pak Restu kemarin, pemerintah Orde Baru dinilai gagal dalam menjalankan demokrasi yang baik.” Gara menjelaskan sedikit dari banyaknya materi yang masuk ketika minggu kemarin. Dia hanya berusaha mengingat, karena tak punya buku pegangan seperti anak-anak lain.

“Pak, ada sebuah negara di mana katanya negara tersebut memakai sistem demokrasi. Tapi, ketika ada rakyatnya yang mengkritik pemerintah daerah tersebut, langsung dikenai pasal. Apakah itu masih bisa dinamakan sebuah demokrasi, Pak? Apakah pemahaman demokrasi di negara itu berbeda dengan demokrasi dalam KBBI?” tanya Satya.

“Yang dinamakan demokrasi, berarti di mana semua, sekali lagi semua warga negaranya memiliki hak sama dalam mengambil keputusan. Entah itu sosial, agama, ekonomi, tapi kita tahu bahwa manusia tidak semuanya sama. Kesalahannya bukan pada sistemnya, tapi sekelompok orang dengan kedudukan tinggi, yang seharusnya bertugas melayani rakyatnya tapi mereka melupakan tugas awal, hingga pada akhirnya masing-masing berjalan di rel berbeda.”

“Itu negara mana sih, Sat?” tanya Gara penasaran.

“Eh, aku juga nggak tahu, sih. Aku ngarang aja, pengen nanya soalnya bingung.” Satya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.

Pluk!

"Kirain beneran encer, ternyata encernya jadi-jadian, lo," ucap Gara sembari menepuk kepala Satya dengan pelan.

Saat jadwal pelajaran terakhir yang seharusnya adalah pelajaran Sosiologi, nyatanya jam terakhir itu tidak di isi oleh hadirnya guru alias jam kosong. Melihat adanya kesempatan emas yang indah di depan matanya, Gara dan Satya segera berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah menuju dinding belakang sekolah. Daripada menghabiskan waktu di pojokan kelas, lebih baik mereka segera pulang. Begitu pikir mereka berdua.

Dengan cepat dan gerakan yang sudah lihai, Gara dan Satya segera memanjat tembok belakang. Kelas-kelas lainnya masih menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya dengan baik disertai rasa kantuk siang hari. Setiap hari Jumat, mereka pulang pukul sebelas siang. Sementara pada hari-hari lainnya bisa sampai pukul empat.

Hap!

Setelah melompat ke bawah, mereka berdua terlihat berlarian kecil di jalan setapak yang ada di samping sungai. Tepat di belakang sekolah SMA Permadani Putih ada sebuah aliran sungai yang tak terlalu besar, yang sering digunakan siswa untuk memancing. Sementara di seberang kali merupakan jalan raya besar yang setiap siang selalu padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Mereka berdua masih terlihat berlarian, melewati rumah-rumah warga. Anak-anak kecil tampak bermain-main di sungai dengan sangat riang. Apa yang baru saja Gara dan Satya lakukan itu benar-benar menguji adrenalin. Beberapa ibu-ibu berdaster sedang mencuci pakaian di tepi sungai, sementara bapak-bapak ada yang masih bekerja di kebun atau kantor-kantor desa dengan seragam coklat yang memang biasa mereka kenakan.

“Sat, apa kamu mau pulang ke rumahku?” tanya Gara ketika mereka sudah mulai masuk ke jalan pedesaan. Baju seragamnya yang berwarna putih kusam, dibiarkannya keluar. Barangkali memang telah menjadi ciri khas Gara dan Satya atau sebagian besar siswa di sekolah Permadani Putih untuk mengeluarkan bajunya daripada memasukkannya agar terlihat rapi.

“Enggak lah, Ga. Bapakku lagi sakit. Ibu juga harus jualan di pasar, jadi nggak ada yang ngurus Bapak kalau aku nggak pulang,” jawab Satya apa adanya.

🍁🍁🍁

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED