Bab 1

Jarum jam tepat berada di angka 11.00 saat seorang pemuda berusia 17 tahunan itu masih tetap berdiri dalam posisi hormat di bawah tiang bendera merah putih serta dinaungi oleh panas matahari yang terasa kian menyengat.

Sesekali dia mengusap peluh yang menetes di dahi menggunakan tangan kiri, lalu kembali hormat hingga pukul 11.30 nanti. Di sampingnya, tiga remaja berseragam putih abu-abu pun ikut serta melakukan kegiatan yang sama seperti apa yang dilakukannya karena kesalahan yang sama pula.

Dikelilingi oleh gedung berlantai dua bercat abu-abu kusam, serta genting-genting yang telah berubah menghitam, lelaki yang bertubuh cungkring serta berkulit cukup gelap, tiba-tiba menurunkan tangannya. Namun, dia masih terdiam di sana. Kemudian dalam hitungan detik, tubuhnya berbalik.

“Gara! Apa yang kau lakukan? Masih setengah jam lagi, lanjut sikap hormat!” Lelaki bertubuh gempal serta berseragam cokelat muda dilengkapi pantofel hitam, berteriak dari tepi lapangan.

Remaja bernama Gara Imana Dani itu tak langsung menjawab. Dia memperhatikan banyak siswa berlalu-lalang di koridor kelas, dan satu dua dari mereka terlihat berdiri di lantai dua memperhatikan dia dan teman-temannya yang tengah menjalankan hukuman di bawah. Mungkin segerombolan remaja nakal itu bukan lagi suatu pemandangan menarik, sehingga anak-anak di sekolah tak menjadikan mereka pusat perhatian kala dihukum.

“Bapak sibuk banget menghukum kami cuma karena saya telat tiga menit dan kawan-kawan saya ketahuan main kartu di kelas. Tapi bapak lepasin pelaku kekerasan seksual.” Gara berteriak.

Refleks, teman-teman yang tadi masih hormat menurunkan tangannya dan menatap terkejut pada Gara. Bahkan beberapa siswa yang tengah berjalan di sekitar pun langsung menoleh, karena baru saja pulang dari kantin atau hendak mengembalikan buku ke perpus. Mereka dengan cepat memelankan langkah karena pekikan Gara yang terdengar seantero lapangan dan sekitarnya. 

Bapak Nawawi selaku guru BP, kemudian mendekat ke arah Gara. Kedua matanya melotot dan memukul pelan pundak Gara. “Siapa yang kamu maksud?” tanya Pak Nawawi.

“Nah itu yang saya maksud, Pak. Bapak terlalu sibuk memburu tikus-tikus di sekolah tapi bapak nggak tahu kalau sekolah udah dimasuki anjing liar,” jawab Gara dengan  suara yang terdengar begitu lantang.

“Sudah, cepat sana kamu masuk ke dalam kelas! Kerjaanmu cuma bikin gaduh saja di sekolah!” cetus Pak Nawawi yang kemudian pergi meninggalkan Gara dan kawan-kawan.

Remaja setinggi 168 sentimeter itu kemudian pergi meninggalkan lapangan, menyeret langkah menuju kelas yang sebentar lagi akan masuk pelajaran ketiga, yaitu pelajaran sejarah Indonesia.

“Gara!” Suara lelaki terdengar berteriak ketika Gara hendak menaiki anak tangga dan menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Mendengar suara seseorang memanggil namanya, Gara pun membalikkan badannya.

“Lo udah gila? Apa lo nggak salah ngomong tadi? Lo nggak takut, Gar?” Javas Nakahta, remaja kelas XII IPA 1 selaku teman Gara, mengingatkan.

“Kalau lo dipanggil guru BP buat diwawancarai karena blow up kasus ini gimana? Tindakan lo ini udah kelewat batas, Gara,” lanjut Javas.

Remaja berseragam lusuh itu justru tertawa mendengar Javas berbicara. Dia lantas menepuk bahu Javas. “Kalau hanya dengan memperhatikan batas-batas cuma bisa nutup-nutupi kasus, mending gue nggak pernah memperhatikan batas yang lo maksud itu, Av. Gue tau gue bodoh, Av, tapi kalau lo diam karena kalau blow up takut reputasi lo hancur, ya udah biar gue yang blow up.” Gara tertawa lagi, lalu dia melanjutkan langkah menaiki satu per satu anak tangga menuju kelasnya XII IPS 8 di ujung koridor yang berada di ujung lantai dua.

🍁🍁🍁

Bab 2

Gosip mengenai ucapannya pada pak Nawawi belum tersebar ke mana-mana, pasalnya siswa-siswi terlihat biasa saja saat memandang kehadiran Gara. Tahu sendiri bahwa ketika gosip telah terdengar di Admin Lambe Sekolah, maka mulut sang Admin akan langsung menyebarkan gosip dan membuat orang yang digosipkannya menjadi buah bibir selama tujuh harian. Tapi Gara yakin bahwa hari ini ucapannya belum terdengar admin, dan kalaupun sekarang sedang proses maka dia tak peduli.

Gara masuk ke kelas berukuran 5X8 yang diisi oleh sekitar 35 pelajar di dalamnya. Pada tembok putih kelas yang telah mengusam, terlihat pula retak di beberapa titik dinding. Bangku-bangku kayu berderet yang diisi oleh masing-masing dua siswa. Gara berjalan ke belakang, di sana berkumpul beberapa siswa yang sedang rebahan sembari menunggu guru kelas yang belum datang. Beberapa dari mereka menghabiskan makanan dari kantin yang belum sempat dimakan.

“Lo abis dari mana? Mie lo dimakan Satya,” ujar salah satu dari mereka yang sedang memakan nasi kuning.

BRAK!!

"Mana si Satya?" seru Gara.

“Anj*r nggak ada otak!” teriak lelaki berambut cepak yang duduk di sudut kelas, sembari membanting ponselnya ke atas ransel yang ada di atas meja.

Gara yang baru saja menggebrak meja, langsung menatap tajam pada lelaki itu.

“Hampir aja chicken dinner dia, kalau selingkuhannya nggak telepon,” celetuk Satya yang ada di sampingnya sambil memasukkan ujung jarinya ke dalam lubang hidung, menjelaskan arti tatapan Gara yang penuh tanya.

“Blokir makanya! Lo nggak mau belajar dari gamers lainnya apa,” komentar Gara pedas.

“Diem lo linggis,” cetus siswa yang baru saja membanting ponselnya tadi.

“Santai dong, Bro! Kalau hari ini gagal chicken dinner, kan bisa dicoba lagi nanti mana tau nanti gagal lagi,” ujar yang lain.

Gara kemudian duduk di kursi dan menyandarkan punggungnya di meja. Segera ia meraih mangkuk berisi mie rebus yang tersisa setengah, padahal sebelum dihukum mie-nya masih penuh. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melahap mie miliknya itu meskipun hanya tinggal tersisa separo saja. Karena sejak pagi Gara memang belum sarapan untuk mengisi perutnya.

“Mana yang lain?” Tiba-tiba terdengar suara berat seorang lelaki berseragam coklat yang memasuki ruangan kelas.

Anak-anak yang tadi tengah bersantai di belakang kelas, refleks bangkit dan langsung memenuhi bangku-bangku kosong yang tadi sempat mereka tinggalkan. Begitupun juga dengan Gara yang duduk di bangku paling belakang bersama Satya, teman seperjuangannya. Mangkuk mie rebus yang tadi ia pegang, segera ia taruh di laci, sembari menyimak guru yang sedang mengabsen, sesekali Gara melanjutkan makannya. Sayang sekali rasanya bila harus dibuang atau dimakan nanti-nanti, karena mie mudah sekali mengembang.

“Gara Imana Dani!” Panggil seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas.

Gara buru-buru mengangkat kepalanya. Pak Restu, ternyata sudah berdiri di sebelah Satya, menatapnya tajam.

“Nunduk terus ada apa? Tawadhu bener,” sindir Pak Restu.

“Makan, Pak.” Gara memberikan cengiran kudanya tanpa merasa berdosa sama sekali.

“Nggak punya sopan santun banget tuh anak,” desis salah satu siswi.

“Nggak aneh juga tiap hari dihukum,” timbrung yang lain.

“Walah, mulutnya pada rombeng banget,” cetus Satya. "Udah kayak paling nggak punya dosa dan bersih dari segala hal yang munkar,” lanjutnya.

“Sudah ... sudah, sekarang Gara jelaskan ulang materi yang saya sampaikan kemarin,” pinta Pak Restu.

“Tentang apa, Pak?”

Gara seketika tercengang mendengarnya.

🍁🍁🍁

Bab 3

“Tentang apa, Pak?” tanya Gara setelah menaruh sendoknya di samping mangkuk yang sudah ia letakkan.

“Dampak dari kebijakan politik serta ekonomi di masa orde baru.” Pak Restu menjawab dengan suara yang lembut.

“Seingat saya sih waktu bapak jelasin kemarin kata bapak, kalau secara umum stabilisasi nasional pendekatan keamanan yang diterapkan di waktu pemerintahan Orde baru itu berhasil menciptakan rasa aman di masyarakat. Gitu kan kata bapak? Terus perkembangan ekonomi waktu itu juga lancar karena pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi."

"Waktu itu Indonesia berhasil mengubah status negaranya dari negara pengimpor beras terus jadi negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Swasembada beras. Tapi sayangnya setiap sesuatu kan terdapat kekurangan dan kelebihan, dan sayangnya dalam bidang politik, pemerintah orde baru itu otoriter."

"Presidennya punya power gede buat menjalankan pemerintahan. Dan pemerintahan daerah peluangnya kecil banget buat ngatur anggaran daerahnya sendiri. Hingga akhirnya otoriterisme ini merambah ke aspek kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara hingga ke politik. Dan seingat saya kata Pak Restu kemarin, pemerintah Orde Baru dinilai gagal dalam menjalankan demokrasi yang baik.” Gara menjelaskan sedikit dari banyaknya materi yang masuk ketika minggu kemarin. Dia hanya berusaha mengingat, karena tak punya buku pegangan seperti anak-anak lain.

“Pak, ada sebuah negara di mana katanya negara tersebut memakai sistem demokrasi. Tapi, ketika ada rakyatnya yang mengkritik pemerintah daerah tersebut, langsung dikenai pasal. Apakah itu masih bisa dinamakan sebuah demokrasi, Pak? Apakah pemahaman demokrasi di negara itu berbeda dengan demokrasi dalam KBBI?” tanya Satya.

“Yang dinamakan demokrasi, berarti di mana semua, sekali lagi semua warga negaranya memiliki hak sama dalam mengambil keputusan. Entah itu sosial, agama, ekonomi, tapi kita tahu bahwa manusia tidak semuanya sama. Kesalahannya bukan pada sistemnya, tapi sekelompok orang dengan kedudukan tinggi, yang seharusnya bertugas melayani rakyatnya tapi mereka melupakan tugas awal, hingga pada akhirnya masing-masing berjalan di rel berbeda.”

“Itu negara mana sih, Sat?” tanya Gara penasaran.

“Eh, aku juga nggak tahu, sih. Aku ngarang aja, pengen nanya soalnya bingung.” Satya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.

Pluk!

"Kirain beneran encer, ternyata encernya jadi-jadian, lo," ucap Gara sembari menepuk kepala Satya dengan pelan.

Saat jadwal pelajaran terakhir yang seharusnya adalah pelajaran Sosiologi, nyatanya jam terakhir itu tidak di isi oleh hadirnya guru alias jam kosong. Melihat adanya kesempatan emas yang indah di depan matanya, Gara dan Satya segera berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah menuju dinding belakang sekolah. Daripada menghabiskan waktu di pojokan kelas, lebih baik mereka segera pulang. Begitu pikir mereka berdua.

Dengan cepat dan gerakan yang sudah lihai, Gara dan Satya segera memanjat tembok belakang. Kelas-kelas lainnya masih menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya dengan baik disertai rasa kantuk siang hari. Setiap hari Jumat, mereka pulang pukul sebelas siang. Sementara pada hari-hari lainnya bisa sampai pukul empat.

Hap!

Setelah melompat ke bawah, mereka berdua terlihat berlarian kecil di jalan setapak yang ada di samping sungai. Tepat di belakang sekolah SMA Permadani Putih ada sebuah aliran sungai yang tak terlalu besar, yang sering digunakan siswa untuk memancing. Sementara di seberang kali merupakan jalan raya besar yang setiap siang selalu padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Mereka berdua masih terlihat berlarian, melewati rumah-rumah warga. Anak-anak kecil tampak bermain-main di sungai dengan sangat riang. Apa yang baru saja Gara dan Satya lakukan itu benar-benar menguji adrenalin. Beberapa ibu-ibu berdaster sedang mencuci pakaian di tepi sungai, sementara bapak-bapak ada yang masih bekerja di kebun atau kantor-kantor desa dengan seragam coklat yang memang biasa mereka kenakan.

“Sat, apa kamu mau pulang ke rumahku?” tanya Gara ketika mereka sudah mulai masuk ke jalan pedesaan. Baju seragamnya yang berwarna putih kusam, dibiarkannya keluar. Barangkali memang telah menjadi ciri khas Gara dan Satya atau sebagian besar siswa di sekolah Permadani Putih untuk mengeluarkan bajunya daripada memasukkannya agar terlihat rapi.

“Enggak lah, Ga. Bapakku lagi sakit. Ibu juga harus jualan di pasar, jadi nggak ada yang ngurus Bapak kalau aku nggak pulang,” jawab Satya apa adanya.

🍁🍁🍁

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED