Seorang gadis cantik duduk di hadapan cermin ruang riasnya, wajahnya terhias, tubuhnya anggun dengan gaun pernikahan berwarna putih. Matanya memandang nanar ke arah cermin yang berada di depannya. Ekspresi wajahnya sulit untuk diartikan, ada kebahagiaan, ada pula kabut kesedihan di pelupuk matanya. Ia tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin ia lulus dari Pondok Maarif dan melanjutkah kuliahnya di salah satu Universitas Negeri terkemuka di kota Bandung dan sekarang seorang pria telah siap mengucapkan janji suci pernikahan. Ia bingung dengan perasaan hatinya sendiri, tidak pernah dalam pikirannya akan menikah dengan pria itu. Pria yang mampu membolak-balikkan hatinya, membuatnya merasakan cemburu, dan bertingkah seperti anak kecil. Kisah cinta yang cukup rumit hingga melaju ke pelaminan.
Perjalanan cinta yang berliku, dimulai dari hal-hal yang tak terduga, bermula dari hatinya yang kesepian. Cinta tulus dari pria itu yang mampu mewarnai hari-harinya dan meramaikan jiwanya yang sepi. Hubungan yang dimulai tanpa sengaja memberi arti yang mendalam dalam kehidupannya.
"Rania sampai kapan kamu akan melamun di depan cermin? Pak penghulu sudah menunggumu.”Suara lembut Umi Khadijah, Ibu Rania membuyarkan lamunannya.
"Umi membuat Rania terkejut, tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu,”keluh gadis bernama Rania itu.
"Ya Allah, sayang Umi berkali-kali mengetuk pintu kamarmu, tapi tidak ada jawaban, makannya jangan melamun terus. Pengantin kok melamun, kerasukan baru tahu rasa,”canda Umi Khadijah.
"Umi kok doanya jelek si,” ucap Rania sambil memanyunkan bibir mungilnya.
"Umi tidak mendoakan, habisnya kamu kebanyakan melamun. Apa ada yang mengganggu pikiran kamu? Apa kamu ragu mau menikah dengan dia?” Ekspresi Umi Khadijah terlihat sedikit cemas.
Rania tersenyum, bibir merahnya membentuk lengkungan bulan sabit. “Umi kenapa berpikiran seperti itu? Rania sama sekali tidak ragu untuk melabuhkan hati padanya. Rania hanya sedang mengenang masa-masa yang lalu, sebelum memulai kehidupan baru. Waktu begitu cepat berlalu, Umi.”
Umi Khadijah berjalan mendekati Rania, kemudian mengecup puncak kepala Rania yang tertutup kerudung berwarna putih. “Kau benar sayang waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin Umi menggendong kamu dan mengantar kamu ke sekolah, tapi hari ini kamu akan menjadi milik orang lain.” Umi Khadijah mulai berkaca-kaca.
"Umi jangan menangis. Itu membuat Rania sedih.” Rania mengusap air mata yang berada di pelupuk mata sang ibunda.
"Ini tangisan bahagia sayang, kamu harus tahu di mana pun kamu berada doa Umi akan selalu menyertaimu.” Umi Khadijah membelai kedua pipi Rania dengan lembut.
"Iya, Rania tahu itu. Oh iya bukannya Umi ke sini untuk menjemput putri tercinta Umi?” Rania menampakkan senyum kecil di bibirnya.
Umi Khadijah tertawa kecil. "Iya, kamu benar sayang, kok malah kita jadi melankolis begini. Sebaiknya kita turun sekarang sebelum pak penghulu yang datang ke sini.”
"Tidak ada yang tahu tentang jodoh, kepada siapa hati kita akhirnya akan berlabuh. Jodoh adalah rahasia Tuhan, hanya kepadanyalah selama ini aku berserah. Tidak pernah terbayang olehku akan berjodoh dengannya, semua telah menjadi suratan takdir yang digariskan oleh Allah. Apa yang kita harapkan memang tidak selalu dapat terwujud. Segala yang ada dalam hidup datang dan pergi begitu saja, begitu pula dengan cinta. Namun, aku yakin bahwa Allah selalu memberi yang kita butuhkan bukan yang kita minta,” suara hati Rania berbisik pada dirinya. Bersama Umi Khadijah, Rania dengan mantap melangkahkan kaki menuju tempat berlangsungnya ijab qobul pernikahan dirinya.
∞
Matahari sore menebarkan kehangatan di bumi Pondok Maarif (PM), rasa gerah bersarang di tubuh para santri, hari itu hari pertama imtihan akhiru sannah , seperti kebudayaan yang telah turun-temurun di Pondok Maarif, apabila santri kelas 1-5 imtihan, kelas enamlah yang bertugas piket ma’had , dari piket thobahoh , kharisatu nahar , kharisatu lail , wadhifah ghurfah , wadhifah khatif , dan juga piket di sore hari yang biasanya disebut bersih lingkungan (berlin).
Pondok Maarif merupakan pondok yang memiliki banyak cabang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, tempat Rania belajar merupakan cabang Pondok Maarif Putri yang ke-lima, letaknya di daerah Kediri, Jawa Timur. Penempatan pondok putra dan putri pun tidak satu wilayah, berbeda dengan pondok pesantren kebanyak yang mempunyai santri putra dan putri pada satu wilayah yang hanya berbatas tembok. Pondok Maarif sangat ketat dalam pengawasan santrinya karena itu pondok putra dan putri terletak pada wilayah yang cukup jauh.
Sore itu saat Rania dan beberapa orang temannya, Aulia, Aira, dan Zakia sedang bertugas membersihkan sampah yang berada di sekitar gedung Syiriah, tiba-tiba suara dari speaker qismu i’lam memanggil namanya untuk datang kebagian riayah.
“Ran, nama kamu tuh dipanggil, kamu habis melanggar peraturan ya?” ucap Zakia sedikit cemas.
“He ki, memangnya kalau dipanggil ustazah riayah harus selalu berhubungan dengan kesalahan ya?” Sungut Aulia tak terima.
“Hehehe, ya nggak juga sih,” Zakia menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung putih.
“Eh sudah-sudah yang dipanggil aku kok kalian yang ribut, tenang saja aku tidak merasa punya salah kok. Jadi, kalian tidak perlu khawatir, palingan juga akan ada tamu yang datang,” ucap Rania mencoba menenangkan teman-temannya.
“Ya sudah Ran, cepat ke sana,” ucap Aira.
Tanpa disuruh dua kali Rania memberikan sapu lidi yang dipegangnya pada Aira dan berlari ke hujroh ustazah riayah. Dengan nafas yang masih terengah-engah ia mengucapkan salam di depan pintu riayah.
“Waalaiku salam, naam suaya,” ucap salah satu ustazah dari dalam hujroh.
Rania menunggu dengan sedikit cemas. Ia mencoba menyakinkan dirinya bahwa tidak ada kesalahan yang ia perbuat sehingga tidak ada alasan bagi ustazah riayah untuk menghukumnya. Namun, dia juga tidak dapat membohongi perasaannya, takut apabila secara tidak sengaja melanggar peraturan, gadis itu tidak ingin mendapatkan hukuman di hari-hari terakhirnya di pondok, baginya sudah cukup banyak peraturan yang selama ini dilanggar oleh dirinya selama berada di Pondok Maarif.
Salah satu hal yang ditakutkan Rania adalah memakai kerudung berwarna oranye mencolok, hadiah khusus dari ustazah riayah bagi para santri yang melanggar peraturan. Baginya sudah cukup lima kali saja memakai kerudung mencolok itu. Itu merupakan hukuman yang memalukan. Saat semua santi memakai kerudung putih, orang yang melanggar memakai kerudung berwarna oranye, berbeda dari yang lain, selain itu ditambah dengan dijemur di depan masjid setelah Salat Zuhur dengan membawa papan bertuliskan kesalahan yang telah dilakukan, semua mata tentunya akan tertuju pada si pelaku, seakan-akan diadili oleh semua penghuni dunia.
Saat Rania sibuk dengan pikirannya, suara langkah kaki terdengar semakin mendekatinya, ia menegakkan pandangannya, dan melihat seorang wanita berumur 23 tahunan berdiri tegap dihadapannya, badannya lebih tinggi beberapa senti dari Rania, tubuhnya tidak gemuk dan tidak kurus, cukup proposional, ia adalah Ustazah Uswah, asisten wali kelas 6 B, kelas Rania belajar.
“Rania, seusai Salat Magrib siapkan guest house ya, karena pukul delapan nanti Ustaz Hanafi dan sekertarisnya akan berkunjung ke sini,” ucap Ustazah Uswah to the point.
“Oh, naam ustazah,” ucap Rania sopan.
“Beri tahu qismu ghurfah dari sannah sadisa yang lain ya.”
“Naam ustazah.”
“Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kamu yang lain.”
“Naam ustazah, syukron. Assalammualaikum,” Rania berpamitan dan mencium punggung tangan Ustazah Uswah.
Rania kembali berjalan ke tempat teman-temannya berada. Dari kejauhan terlihat Aulia, Aira, dan Zakia sedang duduk berselonjor di samping taman depan gedung Syiriah. Pekerjaan mereka telah beres, mereka menunggu kedatangan Rania sambil bersantai.
“Ran bagaimana? Kamu tidak mendapat hukuman kan?” Aulia berseru heboh.
Rania hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Terus kenapa kamu dipanggil ke riayah?” Aira kini ikut bertanya tidak sabar.
“Biasa, mau ada tamu, jadi qismu ghurfah disuruh bersih-bersih guest house,” ucap Rania sambil duduk di sebelah Aira.
“Wah meskipun sudah pergantian pengurus masih saja bertugas ya, kasihan, hahaha,” Zakia melontarkan ledekannya. Suara tawanya yang cempreng membuat Rania, Aulia, dan Aira menutup telinga.
“Kia diam!” ucap Rania, Aulia, dan Aira serempak.
Zakia menghentikan tawanya dan menatap kesal pada tiga temannya, kemudian mereka berempat tertawa bersama-sama.
“By the way, tamunya siapa sih?” Aira menghentikan tawa mereka.
“Ustaz Hanafi dan sekertarisnya.”
“Apa? Ustaz Hanafi dan sekertarisnya? Kamu tidak bohongkan Ran?” Aulia berseru heboh.
“Untuk apa aku berbohong? Kamu kenapa sih heboh begitu?” ucap Rania.
“Aduh Ran, kamu ini seperti tidak tahu saja, sekertarisnya Ustaz Hanafi itu kan ganteng banget, banyak santriwati dan ustazah yang suka beliau juga,” ucap Aulia antusias.
“Aduh kambuh lagi penyakitnya,” ucap Zakia, Rania dan Aira hanya tertawa geli melihat sikap Aulia.
**
Setelah Salat Magrib dengan cepat Rania, Anisa, dan Fatma mengganti mukenah mereka dengan kerudung dan bergegas ke guest house. Saat mereka sampai, Ustazah Uswah telah menuggu mereka.
“Ustaz Hanafi sebentar lagi tiba, tadi guest house sudah dibersihkan, sekarang kalian tinggal siapkan makan malam dan meja makannya saja. Tadi Ustazah Alin juga sudah beli nasi dan lauknya, semuanya ada di dapur, saya harus pergi sekarang kalian bisa sendirikan?” tutur Ustazah Uswah dengan wajah datar.
“Naam ustazah,” ucap Rania, Fatma, dan Anisa bebarengan.
Tanpa ba-bi-bu mereka bertiga langsung pergi ke dapur. Lauk yang telah dibeli oleh Ustazah Alin mereka hidangkan di mangkuk dan piring-piring. Saat mereka sedang asyik menata meja makan tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan guest house, tanpa menunggu komando mereka mempercepat kerja mereka.
“Aduh aku mabtun ,” ucap Fatma tiba-tiba.
“Haduh jangan bohong deh,” Anisa tidak percaya.
“Beneran ini, aku tidak berbohong, aku ke kamar mandi dulu ya, maaf.”
Fatma berlari dengan wajah yang sulit diartikan, seakan menahan sesuatu yang akan keluar. Rania hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Anisa yang kesal pada Fatma.
“He jangan cemberut dong, kamu kenapa tidak percaya pada Fatma? Lagi pula untuk apa dia berbohong?”
“Ran kamu ini, tahu sendirikan setiap Ustaz Hanafi ke sini Fatma kan selalu menghidar, dia itu tidak mau bertemu dengan beliau. Padahal kalau aku jadi Fatma, aku akan memanfatkan keadaan.”
“Maksudnya kamu memanfaatkan keadaan? Ah aku tahu kamu mau cari perhatian sama sekertaris Ustaz Hanafi ya?” Rania menggoda Anisa.
“Ngawur kamu, maksudku memanfaatkan keadaan untuk meminta tambahan uang saku ke Ustaz Hanafi, kan Fatma keponakan ustaznya, andai saja aku yang keponakannya pasti dapat uang saku tambahan,” ucap Anisa penuh harap.
“Anisa kamu ini, Masyaallah, uang saku terus yang dipikirin, kamu jangan mikir enaknya saja, pikirin juga sisi negatifnya.”
“Maksud kamu? Memangnya ada sisi negatif menjadi keponakan Ustaz Hanafi?”
“Ya tentu saja ada. Misalnya, Fatma pasti akan ditanya-tanya tentang ujian kemarin, terus tugas akhir papernya dia, kan kamu tahu sendiri dulu saja secara tiba-tiba Ustaz Hanafi pernah ngetes Fatma waktu dia masih kelas lima.”
“Ah iya kamu benar juga. Aku tidak berpikir sejauh itu. Aku jadi ingat saat itu Fatma bilang dunia seperti berhenti berputar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Fatma saat itu, ih horor.”
Rania tertawa geli melihat ekspresi wajah Anisa, “Lebih horor melihat kamu Sa.”
Anisa memutar kedua bola matanya, membuat Rania tertawa terpingkal-pingkal, saat itulah tiba-tiba suara langkah kaki seseorang berjalan mendekati mereka.
“Afwan Ukhti, fi Ma’ ?” Suara asing yang tidak pernah didengar Rania menggema di langit-langit dapur.
Rania dan Anisa merasa salah tingkah, berharap tingkah aneh mereka sebelumnya tidak dipergoki oleh pria yang kini tegap berdiri di depan mereka.
“Eh, ma..ma.ujud ustaz,” ucap Rania sedikit tergagap. Pandangan mata Rania tertuju pada kaki pria itu, berusaha menghindari pandangan mata pria yang ada di hadapannya.
“Ini ustaz,” Anisa dengan sigap memberikan botol air mineral kepada pria yang mereka panggil dengan sebutan ustaz itu, setelah menerima uluran air, pria itu mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan mereka.
“Ran...Ran sumpah ganteng banget ustaz itu,” bisik Anisa sambil mencengkram lengan Rania.
“Aduh kamu ini apa-apaan sih nis, sakit tahu,” ucap Rania kesal sambil melepaskan cengkraman tangan Anisa.
“Aduh kamu kok biasa saja, padahal baru saja ada pangeran di hadapan kita,” ucap Anisa dengan gaya centilnya.
“Anisa kamu ini apa-apaan si, kamu kan tahu memandang pria yang bukan mahrom kamu dengan intens itu dosa, zina mata tahu nggak si.”
“Sekali-kali nggak apa-apa kali, kenapa kamu jadi sewot sih?” ucap Anisa kesal.
“Bukannya sewot, cuman mengingatkan kamu saja Nis, ingat dosa,” ucap Rania geram.
“Iya bu nyai, maaf, sudah jangan ributin itu lagi, mendingan kita membawa semua makanan ini ke meja makan.”
“Nah, itu baru benar,” Rania tersenyum jail ke arah Anisa.
Rania dan Anisa pun memindahkan makanan yang ada di dapur ke ruang makan, karena kecerobohan Anisa kuah soto yang ia bawa tumpah ke bajunya, kebetulan malam itu ia memakai baju berwarna biru langit sehingga bercak kuning terlihat jelas di bajunya. Anisa merasa malu apabila harus ikut menghidangkan makanan di hadapan Ustaz Hanafi dan Ustaz Ahda dengan keadaan seperti itu. Ia pun menolak untuk keluar dapur. Jadilah Rania seorang diri yang menata meja makan.
Ketika Rania sedang menyiapkan piring di atas meja makan tiba-tiba Ustaz Ahda telah berdiri di sampingnya, membuat Rania kaget dan salah tingkah.
“Maaf saya mengagetkan kamu,” ucap Ustaz Ahda penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa Ustaz,” ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.
“Ustaz Hanafi kurang sehat, beliau mengalami sakit kepala. Jadi, akan makan di dalam kamarnya dan baru keliling mahad besok pagi,” ucap Ustaz Ahda tiba-tiba, membuat Rania bingung memberikan tanggapan.
“Oh, naam Ustaz,” akhirnya hanya kata-kata itu saja yang keluar dari bibir mungilnya.
“Saya yang akan mengantarkan makan malam Ustaz Hanafi,” lanjut Ustaz Ahda.
“Oh, naam Ustaz,” lagi-lagi hanya itu yang dapat Rania ucapkan.
Keadaan hening beberapa saat, dalam keheningan Ustaz Ahda sedikit mencuri pandang pada wanita yang berada di hadapannya itu, Rania yang merasa diperhatikan merasa semakin salah tingkah. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat, perasaan aneh menyergap dirinya, ia mulai sibuk dengan hatinya yang berkecamuk tak menentu.
“Di mana teman kamu yang tadi?” suara lembut Ustaz Ahda memecah keheningan.
“Ada di dapur ustaz, sedang membersihkan dapur,” ucap Rania dengan suara sedikit bergetar.
Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, berharap agar Ustaz Ahda tidak menyadari suaranya yang bergetar.
Setelah merapikan meja makan, Rania berpamitan untuk kembali ke dapur, tetapi Ustaz Ahda menghentikannya.
“Sebentar, saya minta tolong kamu masak air panas ya, saya mau membuat kopi tapi tidak terbiasa menggunakan air panas dari dispenser, kamu tidak keberatan kan?”
“Oh baik Ustaz, akan saya rebuskan airnya,” ucap Rania dengan menyunggingkan senyum manisnya, tanda bahwa ia tidak merasa keberatan dengan permintaan Ustaz Ahda.
“Oh iya sampai mendidih ya,” tambah Ustaz Ahda.
“Naam ustaz,” Rania berjalan menuju dapur dan meninggalkan Ustaz Ahda yang sedang mempersiapkan makan untuk Ustaz Hanafi.
Saat Rania tiba di dapur, Fatma ternyata telah kembali dan sedang asyik berbincang-bincang dengan Anisa, pandangan kedua teman Rania itu terasa misterius, tajam dan menakutkan, seperti pandangan mata serigala yang sedang memandang tajam ke arah mangsanya.
“Kalian kenapa sih melihatku seperti itu?” tanya Rania heran.
“Kamu bicara tentang apa saja dengan ustaz kece?” tanya Anisa sewot.
“Apa saja yang kamu lakukan di ruang makan tadi? Hayo ngaku!” timpal Fatma.
Rania berkacak pinggang di depan teman-temannya dengan wajah yang penuh kekesalan, “Maksud kalian apa?”
“Halah tidak perlu sok polos, kita tahu lagi,” ucap Anisa sambil menahan tawa, Rania hanya mengerutkan keningnya, tanda tak mengerti dengan ucapan kedua temannya itu.
“Ah terserah kalian lah, aku mau masak air panas dulu,” ucap Rania kesal.
“Cie..cie,” Fatma dan Anisa dengan kompak menyoraki Rania. Rania memilih tidak meladeni mereka, dia melanjutkan pekerjaannya dengan diam.
“Jangan marah dong Ran, kita kan cuma bercanda,” ucap Anisa setelah hening beberapa saat.
“Siapa coba yang marah, aku cuma malas meladeni kalian saja,” ucap Rania sambil menjulurkan lidahnya ke arah Anisa.
“Heh Ran aku mau nanya serius, jawabnya yang serius juga ya,” ucap Fatma dengan ekspresi wajah penuh keseriusan.
“Kamu mau tanya apa Fat? Jangan membuat aku merinding gitu deh,” ucap Rania.
“Kamu suka apa tidak dengan Ustaz Ahda?” Ucap Fatma to the point, membuat Rania memutarkan bola matanya, tanda kesal.
“Ran jawab dong, aku serius ini,” Fatma memaksa.
“Iya Ran jawab, apa susahnya sih tinggal jawab?” Anisa membantu Fatma.
“Aduh kalian ini apa-apaan sih, aku saja baru bertemu hari ini, detik ini dengan ustaznya, kok ya sudah ditanya suka apa tidak, lagi pula kenapa sih kalian kepo banget?” Rania mulai emosi.
“Bukan maksudnya kepo, cuma kita lihat-lihat sepertinya Ustaz Ahda suka dengan kamu,” ucap Anisa tanpa ragu.
Rania menghembuskan nafas kasar, tanpa menanggapi ucapan kedua temannya. Ia mematikan kompor LPG dan mengangkat air mendidih dalam panci, kemudian memasukkannya ke dalam tremos air panas.
“Ran kita serius, tadi waktu kamu berbicara dengan ustaznya di ruang makan, kita kan ngintip dari celah pintu, terus aku memperhatikan ekspresi wajah ustaznya waktu ngelihatin kamu. Aduh ekspresinya ituloh ekspresi penuh cinta,” ucap Anisa mendramatisasi.
Rania meletakkan panci yang dipegangnya, masih terdapat sisa air panas yang mengepul, “Nis sudah deh kamu ini ngarang aja kerjaannya.”
“Ya sudah kalau kamu tidak percaya, kan kamu tahu aku punya kelebihan membaca ekspresi wajah seseorang,” ucap Anisa kesal.
“Ya sudah terserah kamu, yang jelas memandang orang yang bukan mahromnya itu dosa, apa lagi kalau menikmati pemandangan itu jadi zina mata, ingat itu nis.” Rania semakin emosi menanggapi dua teman baiknya itu.
“Iya, tenang saja tidak akan aku ulangi lagi kok. Tadikan cuma mau lihat dan memastikan apa benar gosip yang beredar selama ini kalau sekertaris Ustaz Hanafi itu cakep, eh ternyata gosipnya bukan gosip tapi fakta,” ucap Anisa tanpa rasa bersalah.
“Terserah kamu lah yang penting aku sudah mengingatkan. Jadi, kalau dosa ditanggung sendiri ya.”
“Tapi aku masih penasaran kamu suka apa tidak dengan Ustaz Ahda?” Anisa masih berusaha mencari jawaban dari Rania.
“Nis aku baru pertama kali bertemu dengan beliau, jadi aku tidak tahu, lagian rasa suka itukan tidak bisa begitu saja datangnya,” ucap Rania sambil menutup termos.
“Ya kan ada cinta pada pandangan pertama,” Anisa tak mau kalah.
“Pandanganku tidak tertuju pada beliau, jadi aku tidak mungkin merasakan cinta pada pandangan pertama,” Rania membela diri.
“Em, okelah bisa diterima deh jawaban kamu, tapi kamu bisa pegang omongan aku kok, kalau ustaz kece itu ada rasa tertarik dengan kamu,” Anisa mengakhiri ucapannya.
Rania tidak lagi menanggapi ucapan Anisa, ia berjalan keluar dapur menuju ke ruang makan untuk memberikan air panas yang diminta Ustaz Ahda, namun di dalam hatinya mulai timbul pertanyaan. Pertanyaan akan kebenaran dari pernyataan Anisa. Benarkah Ustaz Ahda tertarik padanya? Memikirkan hal itu membuat jantung Rania berdegup tidak menentu.
Saat Rania tiba di ruang makan, Ustaz Ahda sedang menyantap makan malamnya, kaki Rania terasa berat saat berjalan mendekatinya, Rania sendiri tidak mengerti apa penyebabnya, hanya saja ia merasa tidak nyaman berada di satu tempat dengan pria yang bukan mahromnya tanpa ada orang lain, meski di ruang lain ada Ustaz Hanafi dan juga dua temannya yang berhasil membuat hati Rania merasakan perasaan campur aduk.
“Hadha alma’ Ustadz,” ucap Rania sambil menyodorkan air dalam termos yang ia pegang.
“Oh iya, terima kasih ya,” ucap Ustaz Ahda dengan senyum manis yang membuat kedua lesung pipinya terlihat, namun Rania hanya melihat senyum itu dengan samar karena pandangan matanya terfokus pada meja makan bukan pada wajah tampan sang ustaz.
Ustaz Ahda mengambil termos dari tangan Rania, ia memegang bagian ujung termos yang ternyata sedikit licin karena basah, hampir saja termos itu jatuh ke lantai, untungnya Rania secara sigap menangkap termos itu, tanpa sadar Ustaz Ahda juga melakukan hal yang sama, tetapi yang tertangkap oleh tangan Ustaz Ahda adalah ujung jari Rania. Secara tidak sengaja tangan mereka pun saling menyentuh.
“Maaf,” ucap Rania dan Usta Ahda secara bersamaan.
Keduanya tampak salah tingkah dan kikuk, buru-buru Rania pamit agar wajahnya yang bersemu merah tidak terlihat oleh Ustaz Ahda, saat itulah ketika tangan mereka secara tidak sengaja saling bersentuhan Rania untuk pertama kalinya dapat memandang dengan intens wajah pria yang telah berhasil membuat hatinya berkecamuk tak menentu, tentu saja tatapan mata mereka bertemu secara tak sengaja. Setelah dapat menguasai dirinya kembali Rania buru-buru memalingkan tatapan matanya, dan berusaha menetralisasi hatinya yang berdesir tidak karuan.
∞
Dalam lindungan pencipta alam ku serahkan hidupku
Allah, Tuhan pemberi cinta
Segalanya masih rahasia
Penuh misteri tak dapat diprediksi
Yang dekat tak selalu dekat
Yang jauh tak selalu jauh
Biarlah takdir yang menentukan
Biarlah waktu yang berbicara
Ku serahkan segalanya pada Allah Taala
Kosa kata
Imtihan: ujian akhir tahun di semester genap
Ma'had: pondok
Tobakhoh: menjaga makanan di dapur
Kharisatun Nahar: piket gedung dan lingkungan pondok di siang hari
Kharisatul Lail: jaga pondok di malam hari
Wadhifhah Ghurfah: berjaga di tempat penerimaan tamu
Wadhifah khatif: berjaga di tempat penerimaan telepon
Qismu I'lam: bagian informasi
Riayah: pengasuhan (bagian yang mengurusi segala sesuatu, berhubungan dengan santri, pimpinan pondok, masalah santri, berhubungan dengan wali santri, keamanan pondok, penanggung jawab penuh santri-santri yang ada di pondok, berwenang memberikan hukuman pada para santri khususnya kelas lima dan enam, dipegang oleh ustazah)
Hujroh: kamar
Na'am, suaya: iya, sebentar
Hijrotu dhuyuf: kamar tamu
Na'am: iya
Qismu Ghurfah: bagian penerimaan tamu
Sanah sadisa: kelas enam
Syukron: Terima kasih
Mabtun: sakit perut
Afwan ukhti, fi ma'un?: Maaf, saudara (pr) apakah ada air?
Maujudah: ada
Hadza al-ma': ini airnya
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, PM masih ramai dengan kesibukan belajar para santri kelas 1-5, sedangkan siswi akhir atau kelas enam ada yang sibuk mengerjakan dan memperbaiki paper tugas akhir, ada yang sibuk hafalan jus tiga puluh dan surat pilihan ke ustazah pembimbing masing-masing, ada pula yang mengulang hafalan sendiri. Memang benar ungkapan yang mengatakan Alma’hadu La Yanamu Abadan yang berarti bahwa Pondok tidak pernah Tidur.
Meskipun sudah kelas enam tidak berarti mereka bisa berleha-leha dan bebas dari kegiatan pondok, bukan hanya bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan PM tapi mereka juga mempunyai setumpuk tugas akhir sebagai persyaratan mengikuti yudisium kelulusan, seperti tugas membuat paper yang berhubungan dengan Ilmu Fikih, Hadis, dan Tafsir yang tentunya ditulis dengan bahasa wajib PM, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris, santri mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari dua bahasa wajib tersebut, selain menggunakan bahasa wajib PM paper juga ditulis dengan tulisan tangan bukan dengan ketikan. Selain paper siswi kelas enam juga mempunyai tugas untuk menghafalkan jus tiga puluh dan beberapa tambahan surat-surat pilihan, cukup berat namun itu adalah kewajiban yang harus dipenuhi.
Malam itu ketika Rania sedang sibuk mengulang hafalan jus tiga puluh dan surat-surat pilihan di depan taman gedung Santiniketan, tiba-tiba suara Aulia yang sedikit cempreng berteriak memanggilnya.
“Kamu kenapa sih, teriak-teriak tidak jelas, kamu pikir ini hutan apa?” sungut Rania ketika Aulia telah berada di sampingnya.
“Ya maaf kan sudah kebiasaan suka teriak-teriak,” ucap Aulia tanpa rasa bersalah sambil memperlihatkan cengiran kudanya.
Rania melotot malas pada Aulia, kemudian ia melanjutkan kembali hafalannya.
“Eh Rania sebentar, Aulia mau bicara,” Aulia menarik tangan kanan Rania.
“Apa sih Aul? Kamu ini mengganggu hafalan aku saja,” Rania menunjukkan wajah kesalnya.
“Ih sabar dulu, aku juga belum hafalan kok, kamu dipanggil Ustazah Aida di hujroh wartel.”
Rania berpikir sejenak, “Ustazah Aida? Perasaan aku tidak ada urusan dengan ustazahnya deh.”
“Pembimbing paper akhir kamu kan Ustazah Ilma.”
“Iya Ustazah Ilma, terus apa hubungannya dengan Ustazah Aida?”
“Ih kamu ini, kalau ada orang bicara dengar dulu sampai selesai jangan dipotong.”
“Iya, maaf deh.”
“Jadi, ceritanya Ustazah Ilma itu disuruh pulang mendadak oleh orangtuanya karena neneknya sakit, terus paper yang kamu kumpulkan ke ustazahnya seminggu yang lalu dititipin ke Ustazah Aida. Lalu, karena Ustazah Aida beberapa hari yang lalu ada urusan di ma’had pusat jadinya baru sempat sekarang mengembalikan ke kamu, paham?” Aulia menjelaskan panjang lebar.
“Oh begitu, paham teman tercintaku, terus sekarang dimana paperku?” Mata Rania memperhatikan tubuh Aulia, mencari-cari kalau temannya itu membawa paper tugas akhirnya.
“Ya dibawah Ustazah Aida.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi?” Ucap Rania geram.
“Ya ini sudah bilang.”
“Terserah kamu deh, yang penting sekarang kamu harus mengantarkan aku ke sana,” tanpa mendengar jawaban Aulia, Rania menarik paksa tangan Aulia.
Tanpa disadari Rania, sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan tingkah lakunya bersama Aulia. Orang itu adalah Ahda, ia duduk di depan guest house saat Rania sedang menghafalkan hafalan Al-qurannya.
Meski suasana di sana cukup ramai, namun tidak sulit bagi Ahda untuk menemukan sosok Rania.
Rania berjalan tergesa-gesa menuju hujroh Ustazah Aida yang berada dibagian gedung Syanggit, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ia takut apabila banyak kesalahan di paper miliknya, apa lagi besok sore adalah hari terakhir pengumpulan. Sejak di perjalanan dia merutuki dirinya sendiri yang ceroboh karena melupakan batas akhir pengumpulan.
“Sudah tenang saja jangan panik,” Aulia mencoba menenangkan Rania.
“Assalammualaikum,” setelah menenangkan dirinya, Rania pun mengucapkan salam di jendela kamar Ustazah Aida, memang begitulah kebiasaan di PM, apabila santri ingin bertemu atau ada keperluan dengan ustazah, mereka akan mengucap salam melalui jendela kamar sang ustazah.
“Waalaikum salam,” ucap seorang wanita dari dalam kamar.
“Ustazah saya Rania, apa Ustazah Aida ada?”
“Oh iya Rania, saya sendiri, sebentar ya.”
“Iya Ustazah.”
Beberapa saat Rania dan Aulia menunggu, kemudian Ustazah Aida membuka celah di jendela kaca kamarnya, “Ini Rania, maaf ya ustazah baru memberikannya ke kamu sekarang,” ucap Ustazah Aida sambil mengeluarkan paper yang dijepit dengan klip dari celah jendela.
“Iya tidak apa-apa Ustazah, terima kasih Ustazah, assalammualaikum,” Rania mengambil paper miliknya kemudian bergegas meninggalkan gedung Syanggit.
Rania dan Aulia berjalan menuju tempat belajar mereka biasanya, yaitu di taman gedung Santiniketan. Ia membuka paper yang dipegangnya dengan hati-hati. Saat membuka halaman pertama ia masih bernafas dengan lega karena tidak terdapat coretan, memasuki halaman kedua tangannya berkeringat dingin karena tulisannya dicoret-coret di sisi kiri tulisan, terdapat tulisan bahasa Arab di sebelahnya yang menyatakan tulisan Rania tidak sejajar dari baris pertama hingga baris akhir halaman dua. Ia membalik halaman berikutnya dan kesalahan yang sama terlihat di halaman itu, ia mempercepat gerakan tangannya untuk membuka setiap halaman di paper tersebut. Mata Rania memanas, setetes, dua tetes, dan menjadi bertetes-tetes air mata Rania berjatuhan, dari halaman kedua hingga terakhir terdapat kesalahan yang sama di paper Rania yang artinya Rania harus menulis ulang paper tersebut.
“Jangan menangis dong Ran, aku bantuin deh, kamu tenang ya,” Aulia mencoba menenangkan hati Rania.
“Mana bisa Aul, tulisan kita kan tidak sama,” ucap Rania dengan terisak.
“Iya bagaimana ya? Aku juga bingung,” ucap Aulia sambil menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung meski tidak gatal.
“Ustazah Ilma tega banget sih,” ucap Rania di sela tangisnya.
“Ada apa ini? Rania kenapa kamu menangis?” Ucap Fatma panik.
Tidak ada jawaban dari bibir Rania, Aulia pun angkat bicara dan menjelaskan duduk permasalahannya pada Fatma.
“Oh begitu, jangan sedih dong Ran pasti ada caranya,” ucap Fatma kemudian.
“Tapi besok batas akhir pengumpulannya dan Ustazah Ilma sedang pulang. Selain aku harus mengulang dari awal, aku juga tidak memiliki ustazah pembimbing. Waktunya juga mepet banget,” Rania bersedu-sedan.
“Kita ke Ustazah Uswah saja, bagaimana?” Usul Fatma.
“Ustazah Uswah? Untuk apa?” tanya Rania.
“Kita cerita ke Ustazah Uswah permasalahannya terus kita minta tolong Ustazahnya menjadi ustazah pembimbing pengganti untuk kamu,” Fatma menjelaskan.
“Ah! Itu ide yang bagus,” Aulia menyetujui.
“Kalau Ustazahnya marah?” Rania ragu.
“Marah urusan nanti, yang penting kamu punya pembimbing dulu dan paper kamu bisa dikumpulkan tepat waktu,” ucap Fatma bersemangat.
Rania terdiam, Aulia tidak sabar menunggu sahabatnya itu, ia pun menarik tangan Rania untuk ikut bersamanya ke kamar Ustazah Uswah yang letaknya tidak jauh dari gedung Santiniketan.
Mereka bertiga berjalan melewati depan guest house, Ahda yang sedang berbincang dengan ustaz pengasuh PM 5, yaitu Ustaz Hanafi seketika mengalihkan pandangannya ke arah tiga santri yang berjalan berdampingan, pandangannya tertuju pada santri berjubah merah muda yang berjalan di tengah, diapit kedua temannya. Meski tidak begitu jelas tapi Ahda dapat melihat raut kesedihan di mata santriwati itu dan wajahnya pun terlihat muram tidak seperti beberapa jam lalu saat bertemu dengannya.
“Ustaz, ada apa?” Ustaz Hanafi menegur Ahda yang terlihat tidak fokus.
“Oh tidak Ustaz tadi saya melihat seseorang lewat, sepertinya saya mengenal dia tapi ternyata setelah saya perhatikan lagi bukan orang yang saya kenal,” ucap Ahda berbohong, dalam hati ia merasa bersalah karena telah berbohong pada Ustaz Hanafi.
“Oh begitu, saya kira kamu sedang memperhatikan santriwati yang ada di sini?”
Ahda merasa tersendiri, ia merasa terkejut dengan ucapan Ustaz Hanafi, ia terlihat kikuk beberapa saat.
“Hahaha, ternyata menggoda antum begitu mudah Ustaz, tenanglah jangan dipikirkan saya hanya bercanda!” ucap Ustaz Hanafi, seketika itu Ahda bisa bernafas dengan tenang kembali.
“Atau jangan-jangan benar kamu sedang memperhatikan seorang santri?”
Ustaz Hanafi kembali berbicara, Ahda merasa salah tingkah kembali. Ustaz Hanafi tertawa menyaksikkan sikap pria yang ada di hadapannya itu, Ahda pun menyadari bahwa ustaz pengasuh yang ada di hadapannya ini hanya bergurau, menggodanya.
∞