Bab 1

Dan keajaiban itu datang ... Ia serupa kehangatan dalam bongkahan es.

Mencairkan kristal beku yang sempat membatu

Lalu bunga api memercik. Membakar tepian tepian kering yang meranggas

=*=

Seharusnya Stephen tidak dibiarkan menyetir mobil malam ini. Entah berapa banyak minuman beralkohol yang sudah masuk ke dalam perutnya. Dari tempat duduknya di belakang Stephen, Gio bisa merasakan napas Stephen yang beraroma minuman keras. Belum lagi jika dia bersendawa, pengharum mobil pun tak sanggup menyerap aroma busuk yang mengalir dari perutnya. Mobil berjalan semakin oleng. Gio berpegangan erat pada pintu mobil dengan mata terpejam. Dia tidak mau jika harus mengeluarkan isi perutnya di dalam mobil Stephen.

"Stop! Stop di depan!"

Stephen menghentikan mobil tiba-tiba. Pintu penumpang di samping Stephen membuka dan langsung saja Argus memuntahkan isi perutnya ke trotoar.

"Untung lu nggak jackpot di mobil gua. Kalo sampai kejadian bakal gua suruh lu nyuci mobil malam ini juga," kata Stephen sambil cekikikan.

Alkohol masih sangat mempengaruhinya. Dengan sempoyongan dia keluar dari mobil dan kencing di tengah jalan. Angin dingin menerpa kemaluannya dan seketika Stephen merasakan hasrat menjalari urat-urat di sekitar kemaluannya.

Dia menyapukan pandang ke kanan-kiri jalan. Suara-suara halus berbisik di telinganya. Membuat pandangannya terbalik dan sebuah kekuatan napsu menguasai Stephen dengan cepat.Menghilangkan kewarasannya. Menggelapkan pandangannya dan menyembulkan sebuah rasa yang ingin disalurkan dan dipenuhi.

Stephen menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Senyum miring tersungging dari bibirnya. Dia masuk ke dalam mobil dan menyulut rokoknya.

"Nunggu apaan, sih, Stev? Udah ayo jalan. Gua udah pengen rebah."

"Argus bener. Kepala gua udah puyeng banget, nih. Kalo kelamaan ntar gua bisa jackpot juga kayak Argus."

"Ah, tutup mulut lu pada. Sebentar lagi lu bakal berterima kasih ma gua. Sebentar lagi gua bakal ngasih sesuatu yang bisa ngilangin puyeng lu."

"Ngomong apa, sih, Stev? Udah ayo jalan!" Argus berusaha menepuk pundak Stephen, tapi pandangannya masih mengabur. Tepukannya meleset dan dia menepuk dashboard sebagai gantinya. Argus mengerang lalu membalikkan badan dan meringkuk menghadap pintu.

Stephen mengisap rokoknya sambil berusaha memandangi satu titik yang membuat sesak isi celananya. Dia sudah mematikan lampu dan mesin mobil sedari tadi. Dia membiarkan mobil berkamuflase dalam gelap. Hanya tinggal titik merah dari bara rokoknyalah yang menandakan ada kehidupan di sekitar mobil yang diam.

Asap rokok mengabur cepat ditelan udara malam. Stephen mematikan rokoknya dan duduk diam dalam kegelapan. Kedua temannya masih mengerang-erang halus. Stephen menyuruh mereka diam barang sejenak. Setelah tak ada lagi suara yang mengganggu, dia kembali fokus dan menunggu.

Di sebelahnya, Argus bergerak-gerak gelisah. Dia memandang pada Stephen yang memandang lurus ke depan. Rasa penasaran membuat Argus mengikuti arah pandang Stephen, seketika tenggorokannya tercekik dan dia memandang Stephen minta penjelasan. Stephen hanya menjawab dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Argus paham. Ini bukan pertama kali Stephen berulah. Mereka pernah melakukan ini sebelumnya dan dia tahu Stephen benar, tak lama lagi pening di kepala mereka akan hilang.

=*=

Mobil itu terlihat menepi. Lampunya menyala sebentar lalu mati. Val mendengar bunyi muntahan dikeluarkan paksa. Dari tempatnya berjalan, suara itu seharusnya tidak terdengar. Namun sepi yang menyerap semua bunyi di udara membuat bunyi menjijikkan itu tertangkap telinga Val dan dia ikut mual dibuatnya. Kendati jarak mereka cukup jauh, Val secara reflek menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah tangan. Seolah aroma tak sedap bisa tercium olehnya.

Langkah Val hampir mendekati tempat mobil itu diparkir. Dia bisa menangkap titik merah terlihat sekilas dari balik kaca mobil yang gelap. Meski seperti tak ada kehidupan di sekitar mobil itu (mungkin orang-orangnya pingsan karena mabuk), Val yakin, seseorang sedang merokok dan seperti menunggu sesuatu karena mobil itu tak juga bergerak meski seseorang yang muntah-muntah telah lama masuk ke dalam mobil.

Bulu-bulu halus ditubuh Val semakin menegak. Perasaan tak enak semakin bergulung di perut dan dadanya. Rumahnya sudah mulai terlihat namun jalanan yang dia lalui terasa sangat panjang. Secepat apa pun dia melangkahkan kaki, rasanya seperti jalan di tempat. Bunyi kecipak air yang terinjak tapak kakinya membuatnya terkejut bukan kepalang.

Terlambat untuk menyadari jika pintu mobil di samping pengemudi terbuka cepat dan seorang pemuda berjalan ke arahnya dengan cepat juga. Langkahnya sedikit oleng. Dia pasti mabuk. Namun tatapan matanya seolah membekukan Val dan melemaskan otot-otot di kakinya. Dia tak sempat berteriak. Tangan pemuda itu terlampau cepat menutupi mulutnya yang menganga. Dengan satu tarikan, pemuda itu menyeret Val ke arah mobil. Tubuh Val meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan pemuda itu. Namun tenaganya kalah kuat. Pemuda mabuk yang berhasrat tinggi memiliki tenaga cadangan yang berkali lipat dari kondisi normal.

"Gio! Buka pintu! Buka brengsek!"

Dengan lututnya yang bebas, pemuda itu menggedor pintu di belakang kursi pengemudi. Pintu membuka perlahan. Pemuda itu menarik pintu semakin lebar dan mendorong Val ke dalam mobil hingga jatuh di pangkuan Gio.

"Bungkam mulutnya jangan sampai bersuara!"

"Pake apa?"

"Pake apa aja, terserah! Jangan sampai kita ketauan pokoknya!"

Gio segera membekap mulut Val dengan tangannya dan memeluk tubuh Val agar berhenti meronta. Hangat. Sama seperti Stephen, hasrat kelelakiannya timbul dengan cepat ketika tangannya menyentuh dada Val yang kenyal.

Stephen menyalakan mesin mobil dengan terburu-buru.

"Mau kita garap di mana?"

"Di mobil ajalah. Gue udah horny. Ni cewek kulitnya alus banget."

"Gila lu. Bisa kepergok orang lewat nanti. Gus! Lu ada ide? Jangan kejauhan. Gue juga udah nggak tahan ini!"

"Rumah kosong di depan aja. Berhenti deket semak-semak itu. Di dalam pasti ada tempat kering yang bisa kita pake."

"Udah cepetan. Ni cewe udah makin kuat aja geraknya. Gue kewalahan."

"Tahan bentar, Gi. Gus, lu bantu Gio pegangin tu cewek. Jangan sampai lepas!"

Stephen menghentikan mobil di dekat semak-semak di depan rumah kosong. Setelah mematikan mesin dan menyuruh Argus dan Gio menggotong Val, dia berlari mendahului mereka ke arah rumah kosong. Rasa yang seharusnya muncul ketika berada di dalam bayangan gelap, telah dikalahkan oleh napsu yang melebihi rasa takut itu sendiri.

Entah karena lapuk di makan waktu atau memang setan sedang mengambil alih jalan cerita, pintu rumah kosong itu tak memberi perlawanan berarti ketika Stephen mendorongnya. Dan di dalam ruangan, setelah matanya terbiasa dalam gelap, Stephen bisa melihat sebuah meja besar menempel pada salah satu dinding. Bau debu yang menyengat dan kayu lapuk kena air menguar dari sekitaran meja.

"Taro dia di sini. Kalian berdua pegangin dia. Gio tahan mulutnya jangan sampai bersuara. Gue duluan," kata Stephen sambil membuka risleting celananya.

Val semakin meronta kuat kendati tahu usahanya akan sia-sia. Gio membungkam mulut dan memegang salah satu tangannya. Sementara Argus duduk di atas meja sambil memegangi tangannya yang sebelah lagi. Bukan itu saja, tangan Argus yang lain menarik kaus dan bra-nya hingga ke leher, menampakkan buah dadanya yang bulat sempurna. Di bawah, dia merasa hawa dingin menerpa selangkangannya. Val memejamkan mata dan mulai menangis. Dia menyadari yang sedang terjadi dan berharap keajaiban segera datang. Ketika rasa sakit dan perih mengaduk-aduk sekitar pahanya, dia tahu, sesuatu yang berharga telah direnggut dan kini dia hanya perempuan yang sedang dihina.

Perlawanan Val mengendur. Lelah dan tak berdaya membuatnya menjadi sesosok manekin yang dingin. Bahkan ketika Argus ganti menungganginya, dia tak merasakan apa-apa lagi. Bibir Argus yang liar, hanya menderaskan air yang mengalir dari mata tanpa suara.

Val memejamkan mata. Membayangkan hal-hal indah dan menyenangkan yang bisa menghiburnya. Dia memaksa pikirannya berkata jika semua ini hanya mimpi buruk dan semua akan baik-baik saja jika dia membuka mata nanti. (*)

Bab 2

'Retak. Kepercayaan itu rapuh. Sekalinya retak, sulit untuk diperbaiki.'

=*=

Rasa sakit di kepala membuatnya urung bangkit dari kasur. Tapi kandung kemihnya penuh dan dia tak ingin mengotori seprai dengan cairan pagi yang pesing. Memalukan. Juga menjijikkan. Masalahnya bukan dia yang nantinya harus membereskan kasur dan mencuci seprai. Meskipun tidak mungkin ada yang berani mencelanya, dia tetap tidak mau dicap lelaki jorok.

Setelah mengeluarkan isi kandung kemihnya, dia mengaduk-aduk kotak obat dan mengeluarkan dua butir pil dari tabung transparan. Aspirin. Kepalanya butuh diringankan sebelum dia memutuskan akan ke kantor atau tidak. Tidak ada yang mengharuskan dia pergi bekerja setiap hari. Toh perusahaan juga miliknya sendiri. Jika semua urusan bisa diselesaikan bawahan, untuk apa dia repot-repot mengurusi kerjaan. Bukankah bawahan digaji untuk bekerja dan dia menggaji untuk bersantai? Kalau semua kerjaan harus dia yang melakukan, lebih baik karyawan satu gedung itu diberhentikan saja semuanya.

Dia menelan pilnya, lalu duduk bersandar pada kursi di ruang makan. Pikirannya sedikit terperangkap pada kejadian semalam. Samar-samar dia mengingat sesuatu. Merasakan sesuatu.

Jeritan tertahan yang putus asa. Gerakan meronta yang sia-sia. Lalu desahan itu ... Erangan tertahan yang lirih namun dia yakin, dia mendengar erangan itu. Dan erangan itu begitu ... Begitu ...

Akkhhh! Sial!

Mengapa harus terganggu oleh erangan tipis semalam? Sudah berapa banyak perempuan mengerang karenanya dan tak satu kali pun dia merasa terganggu. Tidak hingga semalam.

Kenapa?

“Cewek ini beda dari yang lain. Gue ngerasa gitu. Gue nggak tau apa ini rasa simpati atau yang lainnya. Apa gue kasihan sama dia?”

Lalu dia teringat sesuatu. Langkahnya gontai ketika berjalan ke ruang tamu, di mana dia menyerakkan seluruh barang–barangnya semalam sebelum jatuh terkapar. Dicarinya benda pipih hitam yang seharusnya masih menyala karena dia baru mengisi dayanya kemarin sore.

“Ah, ini dia!” serunya ketika benda itu dia temukan di saku jaketnya. Dimasukkannya kode khusus untuk mengaktifkan layar ponsel lalu dia langsung mencari sesuatu di galery.

Beberapa saat matanya membuntang menatap foto dan juga video-video kurang fokus dan buram yang dia ambil semalam. Kembali suara itu bergaung di telinganya. Ketika video terakhir selesai dia putar, tubuhnya mendadak lemas dan dia pun jatuh terduduk di kursi terdekat. Matanya menangkap sebuah benda tipis yang menyembul dari saku jaketnya.

Tangannya terulur dan membaca nama serta memandangi foto yang menempel di sana.

“Dia cantik. Sangat cantik. Aku ingin memilikinya,” katanya lirih.

Lalu tiba-tiba kepalanya berdenyut lagi. Kali ini menggila. Dua butir aspirin tak bisa meredam denyutnya. Dia memutuskan untuk mencoba kembali tidur.

=*=

"Val, gue minta maaf soal semalam. Nggak seharusnya gue ninggalin lu gitu aja." Sarah mengempaskan tubuhnya di samping Valerie yang terduduk diam.

"Lu berhak marah. Setelah nurunin lu semalam gue jadi kepikiran. Soalnya semalam jalanan licin banget. Gue aja nyaris tergelincir di simpang empat. Semoga lu nggak kenapa-kenapa, ya, Val."

‘Terlambat. Kalau lu nggak ninggalin gue ... Kejadian semalam nggak akan menimpa gue.’

Val mengeraskan rahang. Dia ingin menimpakan semua kesalahan pada Sarah agar perasaannya sedikit tenang. Tapi jika dia memaki, sama artinya dia membocorkan kejadian semalam. Dan itu aib. Tidak ada yang boleh mengetahui tentang kejadian itu.

"Val ... Lu marah, kan? Iya, kan? Jangan diem gini, dong. Lu marah aja kayak biasanya. Gue nggak apa-apa, kok." Sarah menyentuh bahu Val yang geming.

"Val?" Sarah mencoba membalikkan bahu Val perlahan. Membuat Val mengembuskan napas berat dan menoleh pada Sarah.

"Oh mai! Bibir lu kenapa, Val?" Sarah menutup mulutnya sambil memandang bibir Val yang sedikit bengkak. Tangannya terulur hendak menyentuh bibir sahabatnya, namun Val menghindar.

"Jatuh. Seperti lu bilang. Jalanan licin semalam," katanya dingin.

Jawaban sama seperti yang dia berikan pada orang tuanya semalam ketika mereka melihat keadaannya yang berantakan.

"Maafin gue ya, Val. Ini semua gara-gara gue. Kalau gue nggak nurunin lu di jalan pasti lu nggak akan kayak gini."

‘Dan gue nggak akan diperkosa! Ya! Ini gara-gara lu. Semua gara-gara sifat buruk lu. Dasar anak manja. Egois. Bego!’

"Lu ... Lu udah berobat, kan? Maksud gue, bibir lu udah lu obatin?" Sekali lagi tangannyanya terulur dan lagi-lagi Val menggeser tubuhnya hingga tangan Sarah hanya menyentuh udara.

‘Hati, perasaan, tubuh gue, diri gue yang harusnya diobatin. Gue nggak tau gimana caranya gue sembuh dari trauma ini. Gue juga nggak tau kenapa masih bisa pergi ke sekolah dan bersikap biasa aja. Padahal semalam, gue udah memutuskan mau mati. Tapi gue masih hidup! Nggak tau sampai kapan gue bakalan bertahan. Dan ini semua gara-gara, lu, Sar!’

"Gue nggak apa-apa, Sar. Cuma nyium aspal aja semalam. Nggak lama lagi juga bengkaknya bakal ilang."

"Val, gue beneran minta maaf, ya. Gue egois banget semalam."

‘All the time. Bukan cuma kali ini.’

"Lu bilang, deh, Val, apa yang bisa gue lakuin buat nebus kesalahan gue. Apa pun Val."

"Apa pun?"

"Apa pun."

‘Balikin hidup gue, Sar. Balikin keperawanan gue! Bisa?’

Val menggeleng. "Gue nggak minta apa-apa. Andai gue minta pun, nggak bakal bisa lu kabulin. Semuanya udah terlambat."

"Maksudnya?"

Bel masuk memutus pembicaraan mereka. Sarah kembali ke bangkunya di sebelah kanan Val. Ika yang datang terlambat, terlihat heran melihat muka Val. Namun jawaban atas pertanyaan di kepalanya harus tertunda karena guru mereka sudah berdiri manis di depan kelas. Menunggu setiap kelompok menyerahkan tugas karya tulis perjalanan mereka ke Jogja minggu lalu.

=*=

"Val! Val! Tunggu Val!" Ika mengejar Valerie yang terburu- buru keluar kelas.

"Val, ada apa semalam?" tanya Ika ketika dia dan Val sudah berhadapan.

"Nggak ada apa-apa. Kenapa?"

"Sikap lu aneh. Nggak kayak biasanya. Something happen?"

"Gue cuma jatuh. Itu aja, kok."

"Pasti ada sesuatu ketika lu jatuh. Gue tau elu. Kita sahabatan udah lama. Lu mau crita?"

Val menghela napas. Dia butuh bahu untuk bersandar saat ini. Dia butuh tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Tapi tak bisa. Peristiwa itu terlalu memalukan untuk diingat, apalagi diceritakan.

"Gue lagi bad mood. Mungkin PMS. Gue mau ke perpus. Lu ikut?" ajak Val.

Ika menggeleng. Dia menatap sedih pada punggung Val yang menjauh. Sesuatu telah terjadi. Ika bisa merasakan itu. Sesuatu yang sangat besar dan tidak biasa. Val tidak bisa bercerita apa-apa saat ini. Tapi jika waktunya tiba, dia ingin jadi orang yang tepat untuk selalu berada di sisi Val. []

Bab 3

Jangan memaki cinta. Karena kita tak pernah tahu dia datang untuk siapa.

=*=

Sebuah Lexus putih diparkir di seberang jalan tempat Val bersekolah. Seseorang di balik kemudi mengembuskan asap rokok dan menjentikkan abunya keluar jendela. Sudah satu jam lebih dia menunggu dan mengamati tapi sosok yang dicari belum juga muncul.

Dia sudah memastikan jika tidak ada pintu lain tempat siswa keluar masuk. Kecuali jika orang yang dia cari mengendarai sepeda motor, maka dia menunggu di tempat yang salah. Tapi dia yakin sosok yang dia maksud tidak mengendarai motor.

Jika tidak diantar jemput, pasti naik kendaraan umum. Dia berharap, sangat berharap, jika kemungkinan yang kedua yang tepat.

Dia menjentikkan puntung rokoknya hingga melenting ke trotoar. Jika satu batang lagi orang yang dicari belum muncul juga, dia memilih pergi dan kembali lagi esok pagi. Atau siang.

Namun baru saja dia menyalakan pemantik, sosok yang dia tunggu muncul. Menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menyeberang jalan dengan terburu-buru. Dengan perlahan, dia memajukan mobilnya hingga tiba di depan sosok yang sedang berdiri di tepi jalan. Dengan tergesa dia keluar dari mobil dan menarik tangan gadis itu.

"Masuk! Lama banget, sih. Sampai kram perut gue nungguin elu!"

"Eh, eh, apa-apaan ini. To--"

"Kalau lu teriak, gue sebarin video lu telanjang tadi malam."

"Ap-apa?"

"Masuk. Penjelasannya di dalam aja," katanya sambil mendorong tubuh gadis itu ke kursi di belakang pengemudi.

"Siapa lu?" tanya Val sambil memandang ke kaca mobil. Pemuda di depannya membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum sinis pada Valerie. Sontak tubuh Val menegang ketika melihat wajahnya lebih jelas.

"Inget?"

"Mana mungkin gue lupa. Dasar brengsek!" Val menerjang pemuda yang sedang menyetir itu dan memukulinya dengan membabi buta.

"Eh, eh, lu mau bikin kita berdua mati?" tanyanya sambil berusaha mengendalikan mobil.

"Lu pikir gue masih pengen hidup setelah yang lu dan temen-temen lu lakuin semalam?" Val masih berusaha menyakiti pemuda itu sebisanya.

"Nyatanya lu masih hidup. Lu bukan tipe cewek yang gampang mati.. gue yakin. Stop! Stop! Kalau lu mo cakar-cakar gue, tunggu sampai kita berhenti. Oke?"

"Biar aja kita berdua mati!"

"Fine!" Pemuda itu melepas kemudi. Seketika mobil menjadi oleng dan meluncur cepat tak terkendali. Membuat beberapa kendaraan membunyikan klakson keras-keras sebagai tanda peringatan. Seorang supir truk memaki dalam bahasa sunda yang kasar.

"Ahhh!" Val terempas ke sandaran kursi ketika mobil mengerem mendadak dan membentur bahu jalan. Pejalan kaki memandang heran ke arah mobil dan mereka mulai berjalan mendekat.

"Oke. Oke. Jalanin mobilnya cepat. Gue nggak mau disergap massa berdua di dalam mobil sama orang nggak dikenal."

"Gue Gio. Setelah kejadian semalam, gue rasa kita sudah lebih dari sekadar saling kenal," ujarnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata nakal. Dia mengendarai mobil perlahan. Meninggalkan orang-orang yang mulai berkerumun.

=*=

"Apa?!!" Val memandang Gio dengan tatapan yang tak bisa dilukiskan. Marah. Benci. Jijik. Muak.

"Lu pikir gue akan setuju ama semua keinginan brengsek lu? Dasar mesum!" Val menerjang dan menyerang setiap bagian tubuh Gio yang bisa dia jamah.

Sedikit kewalahan, Gio berusaha menghindar dari serangan membabi buta Val. Hingga pada satu kesempatan, Gio bisa menangkap kedua tangan Val dan menahannya di sisi tubuh. Tubuh mereka kini berhadapan. Rapat. Val bisa mencium aroma manis cengkeh dari napas Gio. Gio bisa mengendus aroma keringat Val yang bercampur parfum lembut beraroma buah. Segar terasa di hidung Gio.

"Lu nggak punya pilihan. Kecuali kalo lu mau video lu yang lagi terkapar kelelahan itu tersebar di dunia maya. Lu bayangin aja efeknya. Buat lu. Sekolah. Temen-temen. Dan keluarga. Lu siap?"

Pertanyaan Gio menusuk pendengaran Val. Hawa dingin menyergap tengkuknya. Di tepi jalan yang sepi tempat mereka berhenti kini, Val mematung dan memandang ngeri pada Gio. Dia bisa membayangkan rasa malu yang akan dia terima. Pandangan jijik teman-temannya. Dikeluarkan dari sekolah karena telah mencemarkan nama baik sekolah. Kemana dia akan melanjutkan sekolah nanti?

Tidak sampai setahun lagi dia sudah menempuh ujian akhir dan lulus. Melanjutkan kuliah di PTN favorit. Dengan nilai-nilainya yang cemerlang kemungkinan besar dia bisa diterima tanpa tes di jurusan yang diidamkannya. Masa depah cerah sudah terbayang di pelupuk mata. Senyum bangga orang tua sudah terkembang di benaknya.

Dan kini semua bayangan indah itu terancam musnah karena seseorang yang egois dan rakus yang kini berdiri di hadapannya.

"Tidak bisakah kita membuat ini berjalan seperti seharusnya? Lu pelaku dan gue korban. Lu menghilang dan gue tenggelam dalam trauma dan mencoba bertahan untuk terus hidup. Lu bener, gue bukan orang yang gampang mati."

"Sayangnya, lu lagi berada di posisi yang nggak bisa untuk tawar-menawar. Gue yang berkuasa. Gue yang punya aturan. Lu kudu ikut atau tanggung sendiri akibatnya." Gio mengecup singkat pipi Val dan melepaskan kedua tangannya begitu saja. Dia berjalan sedikit menjauh dan menyalakan rokok.

"Tapi permintaan lu berlebihan! Gue nggak mungkin bisa ..." Val tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ekpresi jijik terlihat di wajahnya.

"Apanya yang nggak bisa? Lu tinggal nurutin kemauan gue. Cuma nerusin yang udah terjadi semalam. Kepalang basah. Lu udah nggak perawan, jadi kenapa nggak sekalian aja dijadiin profesi?"

"Brengsek lu!" Val hendak mengamuk lagi. Kali ini Gio lebih sigap. Tangannya menangkis tangan Val.

"Gue janji ... Kali ini akan memperlakukan lu sebaik mungkin. Nggak terburu-buru dan terlalu memaksa. Gue janji bakal bikin lu ketagihan dan nggak bisa lepas dari gue. Akui aja, Valerie, semalam lu menikmati saat bersama gue, kan?"

Val tak sanggup lagi bertahan. Amarah yang meluap seakan surut oleh hinaan Gio. Dia berlari masuk ke dalam mobil dan menangis sejadinya di sana. Berteriak, memukul-mukul kursi mobil dan membenturkan kepalanya ke sandaran kursi.

Gio hanya memandangi kegilaan Val sambil tersenyum sinis. Dia mengembuskan asap rokoknya ke atas dengan perasaan puas. Valerie, siswi kelas tiga SMU yang kartu pelajarnya dia temukan tercecer di mobil Stephen, gadis yang semalam dia perkosa bergiliran dengan dua temannya, Valerie juga yang dia lumat bibirnya sampai bengkak dan berdarah, gadis itu sebentar lagi akan menjadi miliknya. Memuaskan napsunya.

Hanya dia. Tanpa harus berbagi dengan yang lain.[]

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED