Februari 2009,
Gienka berdiri di depan pintu ruang 16, kantor dosen Sastra Inggris. Di depan pintu berbahan kayu yang sudah terlihat tua itu tergantung sebuah papan kayu kecil bertuliskan:
Speak English, please!
Jadi memang tulisan itu adalah salah satu peraturan mutlak bagi semua mahasiswa Sasing (Sastra Inggris). Mereka harus menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi saat masuk ke kantor dosen.
Ada beberapa mahasiswa yang protes terhadap aturan ini, karena di dalam kelas pun mereka sudah full menggunakan Bahasa Inggris, lantas di kantor masih juga harus menggunakan Bahasa Internasional tersebut. Namun tentu saja protes itu tidak digubris. Toh peraturan itu dibuat demi mereka juga agar Bahasa Inggris mereka lebih fasih.
Gienka menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia mengangguk mantap dan kemudian mengetuk pintu yang terbuka itu.
Tok..tok..tok..
"Excuse me?"
Tidak ada sahutan.
Tok..tok..tok..
Dia mengetuk sekali lagi namun tetap tak ada jawaban.
Dia menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan yang memiliki 8 meja itu.
Kosong.
"Hayo loh.. Lagi cari siapa?" punggungnya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
"Astaga, Mbak. Kaget aku." Gienka mengusap dadanya.
Mareta tersenyum jail.
"Halah, gitu aja kaget," ucap Mareta.
"Ya kaget lah Mbak, orang Mbak Maret datang langsung tepuk punggungku. Mana aku gak denger lagi tadi suara langkah kaki Mbak."
Mareta yang sering di panggil Maret itu pun cengengesan. Wanita muda ini adalah petugas administrasi jurusan Sasing. Para mahasiswa Sasing akrab dengannya. Selain karena usianya yang masih 24 tahun, Mareta adalah orang yang mudah bergaul.
"Anyway, dosen-dosen pada kemana sih?" tanya Gienka heran.
"Masih di bawah, lagi meeting. Mau ke wali studi?" tanya Mareta sambil mempersilahkan Gienka duduk di sofa hitam dekat pintu.
"Iya, Mbak. Aku belum KRS-an nih." Gienka mengeluarkan dua lembar kertas dari tas ransel hitamnya.
"Lah, kemana aja? Hari terakhir baru ngampus. Teman seangkatan kamu udah pada memproses itu loh. Tinggal kamu doang yang belum."
"Ya liburan dong Mbak. Kaya Mbak aja nggak pernah liburan," ejek Gienka.
"Ih, dasar. Watch out!"
Mareta melempar kulit kacang tanah ke arah Gienka.
Namun Gienka berhasil menangkap itu.
"Hey, Mbak. Kalau mau lempar kulit kacang ke aku ya jangan kasih peringatan. Gimana sih, Mbak?"
Gienka tersenyum memamerkan deretan giginya yang sangat rapi. Mareta menepuk jidatnya membenarkan ucapan Gienka.
"Good morning, sir!" sapa Gienka begitu melihat Pak Maruli masuk ke ruangan itu.
"Ah... Good morning, my baby!"
Pak Maruli tersenyum lebar pada Gienka.
Tak perlu berpikir macam-macam. Beliau memang terbiasa memanggil mahasiswanya begitu. Jadi panggilan itu tak berarti apa-apa. 'Baby' disini hanya berupa sebuah panggilan akrab saja.
"Are you waiting for me?" tanya Pak Maruli masih berdiri.
Gienka pun ikutan berdiri.
Iyalah, pak. Kan bapak wali studi saya. Tentu saja bapak yang saya tunggu, batin Gienka.
"Yes, sir. I need you to sign my Course Selection Sheet," jawab Gienka.
Pak Maruli mengangguk.
"Alright, let's go!" ajak Pak Maruli ke meja kerjanya.
"Take a seat!" perintah Pak Maruli.
"Thank you, sir," sahut Gienka. Dia pun duduk. Dia segera menyerahkan KHS dan KRS-nya.
"Let me see!" Pak Maruli membaca dan mulai meneliti dua lembar kertas itu. Dua sesekali menganggukkan kepalanya dan berpikir.
"Hmm... Well done, well done.. You get A for Speaking, A for.....bla bla bla."
Pak Maruli menyebutkan hasil studi Gienka sambil tersenyum manggut-manggut dengan puas.
"You did a great job in your first semester. Your GPA is 3.95. That's wonderful, my baby Gienka!" Pak Maruli bertepuk tangan seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainan.
Gienka yang melihat tingkah dosen berusia 60 tahun itu pun bingung harus bereaksi seperti apa.
Namun akhirnya Gienka memilih cara yang paling aman, yakni tersenyum.
"You only take 11 courses.
22 credits. Add one more!" titah Pak Maruli.
"But, sir. I can't. History of England has the same day as Listening II," ucap Gienka yang sudah memperkirakan akan diminta mengambil mata kuliah untuk Semester Empat itu.
Pak Maruli memainkan penanya, berpikir sebentar. Gienka masih menunggu.
"No, it's not History of England. Take English for Tourism and Guiding!" ucap Pak Maruli.
Gienka terkejut.
"Sir, that's for Semester six."
"That's why you have to take it."
Pak Maruli tersenyum dan menambah kode mata kuliah itu, mencoret-coret sebentar sebelum menyerahkan kembali kertas itu kepada Gienka.
Setelah selesai berkonsultasi, Gienka menuju tempat administrasi dan lanjut ke bank terdekat untuk membayar biaya kuliahnya.
Semua orang pun tau, berkuliah di Universitas Swasta itu jauh dari kata murah. Maka dari itu Gienka berusaha keras agar dapat membanggakan orangtuanya dengan menunjukkan kemampuan maksimalnya. Ini terbukti dari hasil belajar satu semesternya.
***
"Nanti aku kembalikan setelah aku balik," rayu Nendra sambil menggenggam tangan Gienka.
Gienka tak habis pikir, kenapa pacarnya ini sering meminjam uang darinya.
"Tapi pegangan aku tinggal sedikit. Nanti gimana kalau aku lagi butuh sesuatu. Aku nggak mungkin minta papaku lagi." Gienka mencoba memberi pengertian pada Nendra.
"Aku nggak pinjam banyak, caramia. Dua ratus ribu aja. Aku pasti bakal balikin kok. Hari Kamis aku udah balik. Aku kan perginya cuman tiga hari aja."
Nendra mengusap-usap punggung tangan Gienka dan mengendusnya seperti anak kucing. Dia berharap Gienka menyetujuinya.
Gienka pun luluh. Bagaimanapun juga, Nendra adalah orang yang disayanginya.
"Oke, Ra. Tapi beneran yah nanti di balikin?" Gienka meyakinkan dirinya sendiri jika Nendra akan menepati janjinya.
"Iya, caramia. Pasti. Kamu tenang aja. Lagipula ini juga buat masa depan kita. Aku ke Surabaya buat tes kerja, bukan main. Kalau aku dapat kerja, kan kamu juga yang senang. Trust me, ok?" Nendra berusaha meyakinkan Gienka.
Gienka mengangguk. Nggak ada salahnya kan membantu pacar sendiri yang lagi berjuang?
Nendra adalah pacar pertama Gienka. Mereka baru empat bulan berpacaran. Gienka yang baru dalam hal berhubungan dengan lawan jenis pun tak bisa menolak pesona Nendra. Nendra yang tinggi. Nendra yang tampan. Nendra yang perhatian. Nendra yang banyak sekali mengumbar kata-kata manis. Singkatnya, Gienka jatuh hati pada Nendra.
"Ti amo, caramia," ucap Nendra begitu Gienka menyerahkan apa yang dia mau. Nendra memberikan Gienka senyuman termanisnya.
***
Gienka sedang memainkan ponsel baru miliknya, Nx. Sebuah hadiah dari papanya karena dia berhasil mendapatkan IP (Indeks Prestasi) tertinggi.
"Sayang, Mama mau bicara sebentar, Boleh?"
Amanda, Mama Gienka sudah duduk disamping Gienka yang sedang rebahan di kasurnya.
"Iya, Ma. Ada apa, Ma? Kok serius amat."
Gienka meletakkan ponselnya di nakas dan segera duduk mendengarkan Mamanya.
"Kamu masih sama si Nendra itu?" pertanyaan yang membuat Gienka waspada. Ekspresi Mama terlihat tidak suka.
"Masih, Ma. Tadi ketemu sebentar habis Gienka dari kampus," jawab Gienka.
"Gienka, Mama udah bilang kan, Mama nggak sreg sama dia. Mama nggak suka dia. Dia itu kaya nutupin sesuatu. Dia bukan orang yang jujur, nak," jelas Amanda.
Gienka mulai tak suka arah pembicaraan Mamanya.
"Enggak, Ma. Dia jujur kok. Dia bilang semua apa yang dia lakukan ke Gienka," bantah Gienka.
"Jujur kamu bilang? Dia aja udah bohongi kamu lho, sayang. Bilangnya punya kedai kopi tapi ternyata nggak punya," ucap Amanda dengan menahan emosi.
"Dia punya, Ma. Orang Gienka udah pernah kesana kok. Sekarang lagi tutup aja. Dia lagi nyari kerja. Biar bisa punya modal buat buka kedai lagi, Ma," bela Gienka.
"Kamu itu dibohongi, sayang. Kapan sih kamu mau dengerin Mama?D itu pengangguran nggak jelas," Amanda mulai kesal karena Gienka masih juga membela Nendra.
Mama Gienka memang benar. Nendra telah membohonginya. Di awal pertemuan mereka, Nendra mengaku memiliki sebuah kedai yang sudah dia jalankan selama dua tahun. Saat itu Papa Gienka, Yusuf, ingin datang ke kedai itu. Namun Nendra selalu beralasan. Dan ternyata kedai itu ditutup. Nendra berdalih bahwa kedainya itu baru mengalami kebangkrutan. Tapi tentu saja Papa Gienka sudah tidak mempercayainya lagi. Karena terlihat dari depan, kedai itu sudah lama ditutup dan bisa saja kedai tersebut bukan milik Nendra.
"Bukan kaya gitu, Ma. Kan dia sekarang lagi mencoba bangkit dari keterpurukannya," bantah Gienka.
"Dan asal kamu tau, Gienka. Mama juga ngerti kamu sering kasih duit ke si Nendra itu," kata Amanda.
Gienka kaget. Dari mana Sang Mama mengetahui hal ini.
Dia pun hanya menunduk. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan.
"Gienka, kamu perempuan. Nggak sepantasnya kamu memberi uang pada laki-laki. Seharusnya dia itu malu meminta uang seperti itu sama kamu."
"Dia nggak minta, Ma. Dia pinjam." Gienka mulai frustrasi.
"Dibalikin? Seringnya nggak kan?" tebak Mamanya yang ternyata memang benar adanya.
Gienka terdiam. Mamanya benar.
"Kalau Papa kamu sampai tahu hal ini, entah apa yang akan dilakukannya pada pacar kamu itu."
Gienka masih belum berani menjawab perkataan Mamanya.
Ting tong..Ting tong..
"Ada tamu, Mama bukain dulu. Kita bicara lagi nanti," ucap Amanda
Gienka hanya bisa pasrah
*****
- Course Selection Sheet: Kartu Rencana Studi (KRS)
- Course: Mata Kuliah
- Credit: Satuan Kredit Semester (SKS)
- GPA (Grade Point Average): Indeks Prestasi Komulatif (IPK)
- Caramia: Sayangku (B. Italia)
- Ti amo: Aku Cinta Kamu (B. Italia)
**********
Gienka memegang ujung kaos panjangnya. Dia memilin baju itu sambil menahan kesal. Dia dipaksa oleh mamanya keluar kamar untuk menemani tamu Papanya.
"Gienka, itu kuenya, sayang."
Amanda menyikut lengan Gienka.
"Apa sih Ma?" sahut Gienka ogah-ogahan, melirik kue itu sekilas.
"Itu Lapis Surabaya. Kesukaan kamu. Cepat dimakan! Udah repot-repot dibawain juga sama nak Sancaka."
Amanda memberikan Gienka tatapan peringatan agar tak membuatnya malu.
Sancaka yang melihat itu hanya mengulum senyumnya. Dia tau Gienka terlihat terpaksa duduk di ruang tamu ini.
Lagian, siapa juga yang nyuruh bawa, gerutu Gienka dalam hati.
Gienka kemudian mengambil sepotong kue yang sebenarnya sangat menggoda untuk dilahap itu. Dia hanya gengsi saja di hadapan Sancaka. Dia langsung menggigit kue itu dan wajahnya menampilkan ekspresi lucu yang sangat menggemaskan bagi Sancaka.
"Kuliahnya lancar kan, Dik?" tanya Sancaka memulai obrolan dengan Gienka.
Gienka menunjuk kue yang dia pegang di tangan kanannya.
"Orang lagi makan itu nggak boleh diajak ngomong," ujar Gienka sambil mengunyah kue yang sangat disukainya.
"Aduh, Ma.. sakit."
Gienka meringis.
Amanda mencubit lengannya.
"Makannya yang sopan sama tamu," tegur Amanda.
"Nak Sancaka, maafin Gienka ya?" ucap Amanda tersenyum malu atas kelakuan anak gadisnya.
"Nggak apa-apa, Bu. Saya ngerti."
Sancaka mengangguk sambil tersenyum.
Ih, sok kalem banget ni orang, pakai senyum lagi, batin Gienka sebal.
Gienka mengambil air putih dan meminumnya.
"Ma, Gienka bener kok. Kalau makan terus diajak bicara ya bisa tersedak lah. Iya kan, Mas?" Gienka meminta dukungan Sancaka.
"Hush, kamu ini..." Kata-kata Amanda terpotong.
"Sudah, sudah. Malah debat di depan tamu," potong Yusuf yang baru saja selesai mandi.
Sancaka bangkit dan mencium tangan Yusuf.
"Apa kabar, Pak? Sehat kan, Pak?" tanya Sancaka.
"Alhamdulillah, saya sehat seperti yang kamu lihat, nak. Bapak masih kuat. Lihat ini!" gurau Yusuf.
Yusuf memamerkan otot lengannya yang gempal sambil tertawa. Gienka malah malu melihat tingkah Papanya ini, kaya anak kecil pikirnya. Sedangkan Amanda terlihat bangga suaminya itu masih bugar di usia akhir lima puluhan. Kemudian mereka kembali duduk.
Sancaka tersenyum senang karena guru semasa SMP-nya ini terlihat bugar.
"Gimana S2 kamu? Ada kendala?" tanya Yusuf.
"Sejauh ini tidak ada, Pak. Lancar-lancar saja, Alhamdulillah," jawab Sancaka.
Yusuf manggut-manggut.
"Baiklah, lantas ada hal penting apa yang membuatmu kesini?" tanya Yusuf.
"Mau lamar Gienka ya?" tanya Amanda dengan senyum berbinar.
Uhuk.. Uhuk..
Gienka yang mendengar itu langsung tersedak.
Amanda segera menepuk punggung Gienka, sedangkan Yusuf mengambilkan segelas air putih yang tadi diminum Gienka.
"Pelan-pelan kalau makan!" ucap Yusuf.
Gienka menoleh ke arah Sancaka yang sekarang tersenyum menunduk.
"Mama apaan sih, kan Mama tau Gienka udah punya pacar, kok malah tanya Mas Sancaka kaya begitu,"
Gienka heran kenapa mamanya bertanya seperti itu.
"Gienka!" tegur Yusuf.
Gienka menutup mulutnya.
"Saya tahu kamu menaruh hati sama anak saya sejak lama, apakah benar kamu berniat melamar Gienka?" tanya Yusuf tenang.
Benarkah? Gienka membatin.
Gienka menahan napasnya menunggu jawaban Sancaka.
"Maaf, Bapak dan Ibu. Benar, saya memang menyukai Gienka dari dulu. Tapi kalau untuk melamarnya saya masih belum berani. Saya masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak, Pak. Saya belum pantas mendampingi Gienka," jelas Sancaka.
Gienka menghembuskan napasnya pelan. Dia lega luar biasa.
Sedangkan kedua orangtuanya tersenyum kagum pada jawaban yang diberikan Sancaka. Mereka tau Sancaka adalah laki-laki yang bertanggung jawab.
"Lalu apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Yusuf.
"Begini Pak, saya kan mengambil program magister yang double degree. Jadinya saya akan menjalani kuliah di Perancis selama satu tahun. Saya ingin pamit, Pak. Minggu depan saya akan terbang kesana," jelas Sancaka
Gienka bengong. Dia tak menyangka, Sancaka secerdas itu. Oke, dia tau Sancaka memang pintar. Dia hanya tak menduga bahwa ternyata Sancaka mampu mendapatkan beasiswa luar negeri. Untuk beberapa detik dia kagum.
"Wah, hebat sekali, nak!" puji Amanda.
Yusuf tersenyum bangga. Iya dia bangga, pasalnya Sancaka adalah murid kesayangannya saat Sancaka masih bersekolah di sekolah Yusuf mengajar.
***
"Jaga diri baik-baik ya, Dik!" ucap Sancaka sambil memandang lekat ke arah Gienka yang sekarang sedang berdiri di depan pagar. Dia mengantar Sancaka pergi.
Gienka sebenarnya tak kuat dipandangi seperti itu oleh Sancaka yang sebenarnya sangat tampan sekali itu.
"Iya," sahut Gienka tanpa memandang ke arah Sancaka.
"Gienka," panggil Sancaka.
"Iya," sahut Gienka tetap tak menoleh.
"Lihat saya sebentar!" pinta Sancaka.
Gienka pun dengan enggan menoleh ke arah Sancaka yang masih berdiri di samping motor Maticnya.
"Saya suka kamu. Tidak. Tapi saya cinta kamu," ungkap Sancaka.
Gienka terkejut. Dia tak memperkirakan akan mendapat ungkapan cinta dari Sancaka. Mereka memang sudah saling mengenal sejak Sancaka masih SMP dan Gienka duduk di Sekolah Dasar. Tapi ini aneh.
Gienka bingung kenapa Sancaka bisa menyukainya? Selama ini mereka bisa dibilang sangat jarang berbicara. Mereka hanya bertegur sapa sekedarnya saja.
Sancaka sering datang ke rumah Gienka sejak dia masih bersekolah di tempat Yusuf mengajar, tapi itupun untuk hanya untuk kepentingan les saja.
Saat Sancaka sudah menjadi mahasiswa pun juga dia berkunjung ke rumah Gienka namun tetap yang dia temui ya Yusuf, bukan Gienka.
Tapi tadi bahkan Yusuf tahu kalau Sancaka memiliki perasaan khusus terhadapnya.
Bagaimana bisa? tanya Gienka pada dirinya sendiri.
"Saya punya pacar, Mas. Kenapa Mas bilang seperti itu?" tanya Gienka yang bingung bagaimana meresponnya.
Sancaka tersenyum.
"Saya tahu itu, Gienka. Saya hanya mengungkapkan perasaan saya saja," ucap Sancaka.
"Nggak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan kepada orang yang sudah memiliki pasangan, Gienka. Hal itu hanya menjadi terlarang ketika berniat merusaknya. Dan saya tidak berniat merusak hubungan kamu," jelas Sancaka.
Sancaka masih memuaskan matanya untuk menatap gadis yang sudah mengisi hatinya selama bertahun-tahun ini.
Gienka terdiam. Dia tak berani memandang Sancaka lagi.
"Saya hanya jatuh cinta sama kamu. Suatu saat jika takdir mempertemukan kita kembali dan saat itu kamu sedang tidak terikat dengan orang lain, saya yang akan mengikatmu. Bukan untuk jadi kekasih saya, tapi istri saya," lanjut Sancaka.
Setelah mengatakan itu Sancaka langsung menaiki motornya.
"Kamu akan selalu ada di sini. Di hati saya. It's always you, Gienka," ucap Sancaka.
Sancaka menunjuk dadanya ketika mengatakan itu. Kali ini dia tersenyum sangat manis pada Gienka yang menoleh ke arahnya.
Sancaka pergi.
Gienka mematung di depan pagar.
"Apa-apaan dia? Setelah menyatakan cinta terus pergi begitu saja? Dia kan mau ke Perancis, kenapa juga dia harus ungkapin perasaannya? Gunanya apa coba?" omel Gienka kesal.
***
Gienka ingin berteriak. Diliriknya lagi ponselnya yang dia taruh di nakas.
Ada satu pesan di sana yang membuatnya sedikit sebal. Pesan dari Nendra,
Caramia, maaf ya. Aku belum bisa balikin uang kamu. Aku lagi sepi nih. Nanti ya..! Jangan lupa makan ya! Aku nggak mau kamu sakit.
Lagi. Begini lagi. Mau sampai kapan dia begini? Gienka tak tau harus bagaimana lagi menghadapi Nendra. Bukankah dia sudah terlalu bersabar pada Nendra? Apa memang benar apa yang dibilang Mamanya? Nendra banyak bohong. Haruskah dia menjauhi Nendra saja? Tapi bagaimana dengan hatinya? Apa hatinya sudah siap melepas Nendra?
Gienka segera memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya dan bergegas berangkat ke kampus. Dia tak mau terlambat di hari pertamanya di semester dua ini.
***********
"Aku nggak bisa yang itu. Terlalu tinggi, Gie. Yang itu saja ya?" tanya Daniel.
Daniel menunjuk buah kersen yang warnanya merah.
"Ya udah yang itu aja deh. Ada banyak yang udah matang itu," jawab Gienka.
Gienka menengadah melihat betapa ranumnya buah itu.
"Oke. Bentar!" ucap Daniel.
Daniel memanjat pohon kersen itu.
Pohon yang terletak di depan gedung fakultas teknik itu bisa dibilang cukup tinggi. Pohon itu memiliki daun yang lumayan lebat dan seakan-akan tak pernah berhenti berbuah.
Di bawah pohon itu terdapat bangku-bangku yang bisa digunakan oleh mahasiswa untuk bersantai maupun mengerjakan tugas. Tempat itu adalah salah satu tempat favorit Gienka karena berdekatan dengan gedung fakultasnya.
Fakultas sastra kebetulan terletak di samping fakultas teknik. Makannya tidak heran jika banyak diantara mereka yang bisa berteman atau bahkan berpacaran.
"Ayo, buruan deh, Niel! Bu Raisa keburu datang," ujar Feli yang berkali-kali melirik jam tangannya.
"Bawel ah, bentar dong! Masih usaha nih."
Daniel berusaha meraih buah Kersen yang berada di ranting pohon sebelah kanan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya berpegangan pada batang pohon.
"Gotcha!" seru Daniel.
Dia berhasil memetik buah itu.
"Yeah, that's my man!" pekik Angela sambil bertepuk tangan.
Gienka dan Feli tersenyum. Mereka sudah tak sabar ingin makan buah itu.
"Dapat berapa, Niel?" tanya Gienka.
"Sabar! Aku turun dulu," sahut Daniel.
Begitu turun, Daniel dikerubungi ketiga sahabatnya itu. Dia membagikan buah manis itu secara merata.
"Ah, ini tuh enak banget!" seru Feli.
"Iya, nggak ada duanya emang kersen ini tuh," timpal Angela sambil menggigit buah itu.
"Heh, itu Bu Raisa udah datang," teriak Daniel sambil menunjuk ke arah dosen cantik berambut pirang yang sedang berjalan sambil mengangguk kepada mahasiswa yang menyapanya.
Mereka berempat pun berlarian menuju ruang 72 yang terletak di ujung koridor.
"Welcome to Speaking II!" ucap Bu Raisa pertama kali.
***
Gienka memandang ke arah kakak-kakak tingkatnya yang sudah semester enam. Sebagian dari mereka memberi tatapan heran pada Gienka dan sebagian terlihat tak suka. Gienka makin gugup karena itu.
Hanya dia yang berasal dari semester dua. Mahasiswa semester empat pun tak ada karena mata kuliah yang akan Gienka ikuti ini jadwalnya berbarengan dengan History of England, mata kuliah semester empat. Otomatis tak ada yang bisa ambil mata kuliah ini.
Kemudian Gienka melihat ada beberapa kakak tingkat perempuannya yang mulai berbisik dan tersenyum mengejek sambil melirik Gienka.
Tenang, Gienka! batin Gienka.
Gienka hanya meremas bukunya sambil bersandar di dinding.
"Hello, Gienka!" sapa Pak Endik yang sekarang berdiri di depan Gienka.
Pak Endik tersenyum juga ke arah mahasiswanya yang lain.
"Hello, Sir!" balas Gienka. Dia tersenyum pada dosen Grammar II itu.
"Lagi nungguin Bu Natasha ya? Tourism, benar?" tanya Pak Endik ramah.
"Benar, pak," jawab Gienka sopan.
"Kamu tau ini pertama kalinya Pak Maruli membiarkan mahasiswa semester dua mengambil mata kuliah ini. Biasanya beliau selalu menolak mahasiswa tingkat satu yang ingin mengambil mata kuliah tingkat tiga," ujar Pak Endik.
"Tapi Pak, bukan saya yang mau mengambil Tourism ini. Pak Maruli lah yang justru menyarankannya," jelas Gienka.
"Nah, itu langka sekali! Pak Maruli itu yah kau mungkin juga tau, beliau terlalu strict. Jadi saat beliau kasih kamu suggestion untuk ambil mata kuliah level atas, berarti Pak Maruli percaya sama kemampuan kamu," ucap Pak Endik dan tersenyum pada Gienka.
Gienka tertegun mendengar penjelasan Pak Endik.
"Then, trust Yourself!" ucap Pak Endik berlalu meninggalkan Gienka.
"Eh, Dik. Jadi kamu ya yang dapat IP 3,95 itu?" tanya salah satu kakak tingkatnya.
"Iya, Mbak," jawab Gienka.
"Keren! Belum ada yang bisa dapat IP segitu. Setahu aku tertinggi itu Mbak Gina, semester 8. Dia dapat 3,8, lagi skripsi sekarang. Eh salah, udah mau sidang kayaknya."
Gienka tersenyum.
"Melisa," ucapnya memperkenalkan diri.
"Gienka, Mbak."
"Nggak usah pedulikan mereka. Mereka envy aja sama kamu. Cuekin aja." Melisa berbisik pelan.
***
"Hello, everyone. It's an honour for me to have you in this class. Well, welcome to English for Tourism and Guiding!"
Bu Natasha berjalan ke depan. Dia menyapukan matanya ke arah mahasiswanya dan berhenti sepersekian detik pada Gienka.
"Ah, we have a student from semester two. Gienka, aren't you?" tanya Bu Natasha pada Gienka.
Semua kontan menoleh ke arah Gienka.
"Yes, Ma'am," jawab Gienka dengan gugup.
"One thing that you have to know is that I don't care whether you are from semester two. You have to follow the course like the other students. I don't give you any exceptions. I won't give you any special treatments. Do you get it?"
Bu Natasha masih menatap Gienka dengan tatapan ingin tau.
Seberapa cerdas anak ini sampai banyak dosen membicarakannya di ruang dosen? pikir Bu Natasha.
"Yes, Ma'am."
Gienka mengingat apa yang telah dikatakan Bu Natasha tadi. Dia tidak akan diberikan kelonggaran hanya karena dia masih semester dua. Dia harus mengikuti mata kuliah ini seperti mahasiswa lainnya.
Gienka terlalu terlena dengan accent Bu Natasha yang excellent itu. Dia seperti seolah-olah mendengar seorang Native Speaker berbicara. Padahal Bu Natasha asli Jawa, bukan keturunan luar atau seorang blasteran.
"Your last task from this course is to present one of tourism objects in Java. Do observations and many others!" ucap Bu Natasha di akhir kelas itu.
***
Gienka duduk di bawah pohon jambu air yang terdapat beberapa kursi dan meja. Dia hanya menatap bakso yang sudah dari 10 menit yang lalu diantar oleh Pak Jo, penjual bakso keliling yang selalu mangkal di depan kampusnya dari jam 9 hingga 1 siang.
"Mbak Gienka, kenapa nggak dimakan? Mau ditambahin mie atau kecapnya?" tanya Pak Jo yang sudah hafal selera Gienka.
"Udah, Pak Jo biarin aja. Lagi mumet dia," ucap Angela yang sekarang sedang menuangkan saos ke mangkuknya.
"Mumet kenapa mbak? Baru semester dua kok udah mumet saja?" tanya Pak Jo.
"I-tu pak. Tourism. Hah. Dia nye-sel ambil," sahut Feli yang kepedasan.
Gienka memberi tatapan sebal ke arah kedua sahabatnya itu.
"Wah, Mbak udah ambil itu? Hebat sekali! Itu yang bikin penelitian ke tempat wisata kan Mbak?" tanya Pak Jo yang pernah juga berkuliah di kampus itu namun harus keluar karena keterbatasan biaya. Saat itu beasiswa yang ditawarkan tak sebanyak sekarang.
Gienka mengangguk lesu.
"Aku harus gimana dong, guys. Itu tugas akhir tapi harus selesai bulan depan. Nanti per meeting bakal ada dua sampai empat orang yang presentasi. Aduh, I'm dead." Gienka sudah mau menangis.
Feli menyeruput es jeruknya.
"Ngapain bilang mati segala cuman karena satu mata kuliah. Pak Maruli dan Pak Endik aja yakin kamu bisa kok. Kenapa kamu malah meragukan dirimu sendiri? Lagian kemampuan speaking kamu juga jauh di atas kita," jelas Feli yang masih terlihat kepedasan.
"Nah, that's right! Terus nggak usah pedulikan senior kita itu juga. Mereka belum dengar aja saat kamu ngomong. Aku yakin saat mereka dengar kamu ngomong, pasti mingkem deh," imbuh Daniel yang lagi main game dari tadi.
Gienka berkaca-kaca.
"Ah, you're the best," ucap Gienka memeluk Angela dan Feli.
Angela dan Feli mengusap punggung Gienka. Daniel tersenyum tipis.
"Jangan lupa bayarin bakso kita ya!" ujar Feli sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kan udah dihibur," tambah Angela.
"Eh-"
**********