Bab 1

Bab 1

Kelakuan Agung dan Keluarganya

"Bang, tolong dong, belikan air minum! Itu galon sudah kosong semua!" pinta Andini.

"Alah… beli sendiri kan bisa! Biasanya juga beli sendiri! Manja banget!" ujar sang suami sambil terus memainkan game onlinenya.

Andini hanya bisa menghela nafas. Selalu begitu. Agung tidak pernah peduli kepadanya. Pun kepada anak semata wayang mereka. Padahal, dia sedari pagi hanya bermain game online. Sementara Andini harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menyelesaikan jahitan tetangga.

Memang, sejak awal menikah, Agung tidak pernah mau membantu pekerjaan rumah. Baginya, pantang mengerjakan pekerjaan wanita. Itu akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria.

Andini beranjak bangun dari kursi kerjanya. Dia pergi ke warung sendiri.

"Nitip belikan rokok sekalian!" teriak Agung. Andini tak menjawab. Dia terus melangkah.

"Mak, beli rokok satu sama galonnya satu ya!"

"Aduh, Din! Kamu kok mau-maunya sih angkat galon sendiri! Berat itu! Mbok, ya, suruh si Agung itu!" omel Mak Warsih.

Mak Warsih adalah pemilik toko kelontong dekat rumah. Walaupun orangnya cerewet, tapi dia satu-satunya orang yang bersimpati terhadap Andini.

Andini hanya menanggapinya dengan senyuman. Saat dia hendak melangkah pergi, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

"Din, gue mau beli sabun mandi sama bumbu dapur! Bayarin sekalian ya?" ujar Niken dengan tak tahu malu. Niken adalah kakak iparnya.

"Enak saja! Situ yang belanja, kenapa Dini yang harus bayar?" bela mak Warsih.

"Ya elah, Mak! Gue ngomong sama Dini, kenapa situ nyahut, sih?"

"Maaf, mbak! Saya bawa uang pas!" ujar Dini sambil melangkah pergi.

"Huh…! Dasar pelit!" omel Niken. Dini sudah terbiasa dengan semua itu. Jadi dia tidak kaget.

Melihat itu, mak Warsih tertawa terpingkal-pingkal.

"Syukurin…!" ujar mak Warsih sambil meneruskan tawanya.

"Ketawa ja, terus! Puas? Ya udah, kalo gitu gue ngutang dulu!"

"Eits, gak bisa! Utang elu saja yang Minggu kemarin belum dibayar, ini mau ngutang lagi! Gak ada! Bayar utang dulu!"

"Ish, dasar pelit! Tak sumpahin tokomu bakalan bangkrut, gak laku!"

"Tokoku jelas akan bangkrut kalau pembelinya modelan kamu semua!"

Akhirnya Niken pergi sambil ngedumel.

"Awas, kamu, Din! Akan aku adukan sama Ibu! Biar tahu rasa kamu!" omel Niken sambil jalan.

**************

Sesampainya Dini di rumah, dia sudah disambut teriakan Agung.

"Dini! Buatkan kopi! Sekalian, mana rokoknya?" ujar Agung tanpa merasa bersalah.

Dini beranjak ke dapur membuatkan kopi untuk Agung. Berulang kali dia mencoba menyalakan kompor, tapi tak berhasil.

Ceklek … ceklek….

Dini masih berusaha, tapi kompornya tetap tak mau menyala. Saat dia mengecek, ternyata gasnya habis.

Dini menghela nafas lelah.

"Dini… mana kopinya? Lama amat!" teriak Agung.

"Bentar, Bang! Gasnya habis!" ujar Andini sambil melangkah ke luar untuk membeli gas di warung Mak Warsih.

Tak lama kemudian, Dini sudah kembali sambil menenteng tabung gas. Dia segera kembali ke dapur untuk membuat kopi, sebelum Agung kembali berteriak marah.

"Ini, Bang, kopinya!" ujar Dini.

"Hm…." Agung menanggapinya hanya dengan deheman. Dini segera kembali ke dapur untuk memasak makan siang.

Siang ini, Andini ingin makan sayur asem, sambal terasi, dan lauk ikan asin. Membayangkannya saja, membuat Dini menelan liur.

"Din! Dini!" teriak mertua Andini saat masuk ke rumahnya.

"Ada apa sih, Bu? Kok teriak-teriak gitu! Malu kalau didengar tetangga!" ujar Agung.

"Mana istrimu? Dia itu sudah berani kurang ajar sama kakak iparnya! Dini!"

Dini yang mendengar suara ribut dari depan rumahnya, bergegas keluar.

"Ada apa, Bu? Kok teriak-teriak? Saya tadi masih masak."

"Kamu itu bikin malu saja! Mbok, ya, kalo Niken minta dibayarin, ya dibayarin saja! Wong belanja segitu saja kok, kamu pelit! Jangan lupa, uang yang kamu pakai belanja itu uangnya anakku! Adiknya Niken!"

Selalu begitu. Sebenarnya, Dini sudah jengah. Namun, dia berusaha bertahan. Demi anaknya.

Dia kasihan jika anaknya harus tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya.Walaupun, selama ini, Agung nyaris tidak pernah mau memegang anaknya. Dia terlalu asyik dengan dunianya.

"Maaf, Bu! Tadi itu saya memang benar-benar hanya bawa uang pas! Jadi, tidak bisa membayar belanjaan mbak Niken!" ujar Dini halus.

"Alah..., alasan saja kamu! Emang dasar kamunya saja yang pelit!"

"Memang tadi mbak Niken belanja apa, Bu?" tanya Agung.

"Tadi mbakmu belanja sabun mandi sama bumbu dapur. Tapi, gak jadi. Sama Mak Warsih gak boleh ngutang. Wong hutangnya yang dulu belum dibayar!"

"Memang berapa, Bu, hutangnya?"

"Gak banyak, kok! Hanya lima ratus ribu!"

Agung membuka dompetnya dan memberikan uang lima ratus ribu kepada ibunya.

"Udah, ini Ibu bayarkan hutangnya mbak Niken!"

"Tambahin dua ratus ribu, dong, Gung! Besok Ibu ada arisan!"

"Lho, kan kemarin sudah Agung kasih dua juta, Bu! Buat belanja satu bulan dan buat bayar arisan! Ini uang tabunganku untuk membayar kreditan mobil dan uang semesteran Shelly."

"Itu, Gung! Emmm…, uangnya Ibu pakai buat beli gamis baru. Kan Ibu malu, pakai gamis itu-itu terus!"

Agung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Koleksi gamis Ibunya sudah satu lemari penuh. Namun, tetap saja. Selalu beli dan beli lagi.

Agung mengambil dompet lagi dan menyerahkan uang dua ratus ribu kepada Ibunya. Dini hanya mampu memandangnya.

"Terimakasih, Gung! Ibu pulang dulu!"

"Jangan boros-boros, Bu! Agung juga ingin menabung!"

"Iya, iya!"

Dini kembali ke belakang. Dia meneruskan pekerjaannya dan membereskan rumah dengan berurai air mata.

Sampai kapan dia harus begini? Dia mencoba bertahan, tapi suaminya tidak ada tanda-tanda mau berubah. Agung begitu royal kepada keluarganya, tapi perhitungan kepada anak dan istrinya.

Dia hanya mendapat nafkah dua juta rupiah per bulan. Itu pun harus dipotong untuk bayar listrik lima ratus ribu. Belum lagi untuk membelikan susu dan diapers anaknya. Sisanya untuk belanja kebutuhan dapur.

Sebenarnya, gaji Agung sebesar sepuluh juta rupiah sebulan. Dini mengetahui itu pun karena tidak sengaja menemukan slip gaji di kantong celana suaminya. Itu belum termasuk tunjangan dan uang lembur.

Selama ini, Agung tidak pernah jujur tentang jumlah gajinya. Sejak awal menikah, Dini hanya diberi nafkah dua juta rupiah. Bahkan, hingga usia pernikahan mereka tiga tahun dan memiliki seorang balita yang tampan, uang nafkah yang diberikan Agung pun tidak berubah.

Sebenarnya, dengan gaji segitu, seharusnya mereka bisa hidup berkecukupan dan memiliki sedikit tabungan. Tapi sayang, Agung lebih suka menghabiskan gajinya untuk keluarga dan teman-temannya daripada untuk anak dan istrinya.

Sejak awal menikah, mereka sudah menempati rumah sendiri. Rumah itu dibuatkan oleh ayah mertua Dini untuk anak lelakinya. Dini senang karena tidak harus serumah dengan mertua dan iparnya. Jadi, dia bisa bebas. Tidak ada yang merecoki rumah tangga mereka. Walaupun pada kenyataannya, sungguh berbeda.

Hampir setiap hari mertua dan iparnya pasti membuat masalah. Jarak yang dekat membuat mereka bebas keluar masuk rumah Dini. Bahkan, Dini merasa, dia kehilangan privasinya di rumah sendiri.

Bab 2

Bab 2

Anak Magang

Hampir setiap hari mertua dan iparnya pasti membuat masalah. Jarak yang dekat membuat mereka bebas keluar masuk rumah Dini. Bahkan, Dini merasa, dia kehilangan privasinya di rumah sendiri.

Sering sekali mereka ikut makan di rumah Dini. Masakan yang disiapkan Dini, habis oleh mereka. Itulah sebabnya, pengeluaran jadi membengkak.

Setelah kelahiran Rasyid, Dini minta izin kepada Agung untuk membuka jasa menjahit pakaian.

********

Flash back on

"Bang, aku mau ngomong, boleh?" ujar Andini.

"Mau ngomong, ya, ngomong aja!" jawab Agung acuh.

"Aku mau minta izin untuk buka jasa jahit disini!" ujar Dini ragu-ragu.

"Apa? Aku aku gak salah dengar? Memangnya uang dariku kurang?"

"Bukan begitu, Bang! Aku hanya ingin mengisi waktu sambil momong Rasyid! Kan, gak mungkin aku kerja di luar!"

"Gak usah! Malu-maluin aja! Apa kata orang, istri seorang Agung jadi penjahit."

"Gak papa dong, Bang! Yang penting kan halal!"

"Udah dibilang gak ya gak!" teriak Agung.

Andini menjengit kaget.

"Ada apa sih, Gung? Kok kamu teriak-teriak?" tanya Ibu Agung yang tiba-tiba muncul. Beliau segera duduk di sebelah Agung.

"Itu, Bu! Masak, Dini izin mau buka jahitan di sini! Kan, malu-maluin!" adu Agung kepada Ibunya.

"Benar itu, Din?"

"Iya, Bu!"

"Memangnya uang yang dari Agung kurang? Harusnya dengan uang segitu, kamu bisa nabung. Wong anak masih kecil, belum banyak kebutuhannya," one Ibu Agung.

"Dengerin, tuh!" tambah Agung.

"Bukan kurang, Bu! Dini hanya ingin ngisi waktu luang saja, sambil momong Rasyid. Kan, lumayan hasilnya, bisa buat nabung!" Dini masih keukeuh dengan keinginannya.

"Memangnya, kamu punya uang untuk beli mesin jahit dan perlengkapannya? Jangan minta uang Agung buat modal," tanya Ibu Agung.

"Dini punya, Bu. Dini akan jual perhiasan untuk modal," jawab Dini.

"Udah, Gung. Ijinin aja. Lumayan, bisa bantu-bantu cari uang," ujar Ibunya kepada Agung.

"Tapi, Bu, apa itu tidak malu-maluin?"

"Gak papa. Yang penting ada hasilnya. Kan, dia juga bisa kasih yang ke Ibu kalo punya uang."

"Ya sudah, aku ijinin. Tapi, pakai modalmu sendiri, dan jangan sampai pekerjaan rumahmu terganggu," ujar Agung kepada Dini.

Dini tersenyum lega. Niatnya untuk mencari uang tambahan bisa dia wujudkan.

Flashback off

**********

"Masak apa kamu?" tanya Agung sebelum berangkat kerja.

"Oseng kangkung dan orek tempe, Bang!"

"Memangnya kamu tidak bisa masak yang lain apa? Setiap hari seperti itu terus! Sekali-kali masak ayam goreng apa rendang, gitu!" omel suaminya.

"Kalau mau makan enak, ya tambahin uang belanjanya, Bang! Uang segitu, ya, hanya cukup untuk masak seperti ini!"

"Uang terus! Uang terus! Kamu kan punya uang sendiri! Ya, pakai itu saja kan bisa!"

Dini hanya diam saja. kalau diteruskan, pertengkaran pun bisa saja terjadi. Agung bukan tipe pria yang mau mengalah.

Agung menyeruput kopinya,lalu beranjak pergi.

"Gak sarapan dulu, Bang?"

"Gak. Sudah gak mood," jawab Agung sambil ngeloyor pergi.

Sebenarnya, bukannya Dini tidak pernah membeli ayam. Dia selalu punya stok, tetapi dia sembunyikan khusus untuk anaknya. Walaupun ayahnya pelit, dia tidak ingin anaknya kekurangan gizi.

"Din, kamu masak apa?" tanya Niken yang tiba-tiba muncul.

"Mbak Niken ini ngagetin orang saja! Mbok, ya, ngucap salam dulu kalau mau masuk ke rumah orang!"

"Alah, rumah adik sendiri saja kok!" ujar Niken sambil membuka tudung saji.

"Gak ada yang lain ini? Masak ginian doang?"

"Iya, aku cuma masak itu tadi!"

"Ya udah, deh! Daripada kelaparan!"

"Emang, Mbak gak masak?"

"Gak, lagi malas!"

"Lha ibu sama mas Bimo?"

"Mas Bimo sarapan di pabrik, kalo Ibu tadi minta dibawakan lauk dari sini!"

Ini juga yang membuat biaya untuk kebutuhan sehari-hari semakin membengkak. Mbak Niken sering sekali ikut makan di sini. Bahkan, tak jarang, dia pulang masih membungkus sisa makanan dan bahan makanan di kulkas.

Sebenarnya, Dini sudah sering membicarakan hal ini dengan Agung. Tapi dia tidak menanggapinya dengan serius. Agung sering bilang untuk membiarkan saja. Toh, uang belanja dari dia juga. Kalau sudah seperti ini, Dini lebih memilih diam.

Mbak Niken masih tinggal bersama Ibu mertua yang letak rumahnya tidak jauh dari rumah Dini. Suami mbak Niken bekerja sebagai buruh di pabrik rokok. Dia memiliki seorang anak yang berusia lima tahun. Selain mereka, masih ada satu orang lagi penghuni rumah mertua yaitu Shelly, adik ipar Dini. Dia kini masih kuliah semester enam.

Dulu, awal menikah, Dini sering kewalahan mengatur keuangan. Tapi sekarang, dia sudah bisa menyiasati. Dini hanya berbelanja untuk hari itu saja. Tidak pernah menyetok makanan di kulkas. Untuk masakan jadi, dia tidak pernah meletakkan semua di meja makan. Hanya sebagian saja. Sebagian lain dia sembunyikan karena mbak Niken tidak segan membungkus semua makanan. Jadi, dia harus masak lagi.

***********

"Kusut banget itu muka. Kenapa? Ada masalah ya sama bini lu?" tanya Doni, rekan kerja Agung.

"Iya, nih! Bosen gue! Di rumah bini masak cuma gitu-gitu doang! Mana penampilannya kucel lagi!" curhat Agung.

"Alah, paling elu kurang kali ngasih nafkahnya!"

"Apanya yang kurang? Seharusnya uang segitu sudah lebih dari cukup dan bisa makan enak!" ujar Agung. Dia tidak pernah cerita kepada temannya tentang jumlah uang nafkah. Bisa ditertawakan dia.

Agung berprinsip, gaji suami tidak boleh diserahkan kepada istri. Secukupnya saja. Karena dia masih harus menafkahi ibunya dan membiayai kuliah adiknya. Dia anak laki-laki satu-satunya. Jadi, hanya dia yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah.

"Daripada bete, ntar pulang kerja ikut kita ja, yuk!" ujar Ricky.

"Mau kemana?"

"Ngopi di cafe yang baru buka itu! Teman-teman yang lain juga mau ke sana!"

"Boleh juga, tuh!"

*************

"Gung! Tuh, lihat! Siska merhatiin elo dari tadi!" ujar Ricky.

Agung melirik sekilas. Dia tahu kalau selama ini Siska berusaha mencuri perhatiannya. Wajah tampan dan jabatan yang lumayan membuat seorang Siska yang hanya karyawan magang ingin memilikinya. Dia tidak peduli walaupun Agung sudah menikah.

"Udah, hajar saja! Lumayan, buat hiburan!" tambah Ricky.

"Dasar teman gak ada akhlak lu! Ngajarin gak bener! Jangan dengerin dia, Gung!" samber Doni.

"Lha daripada lihat muka dia ditekuk. Kayak gak dikasih jatah sebulan saja!" ujar Ricky sembari tertawa terbahak.

"Kusut banget itu muka! Mau gue temenin gak?" tanya Siska setelah mendekat.

"Ekhm… ekhm!"

"Elu kenapa, Rick! Keselek kodok ya?" tanya Doni.

"Dasar lu! Ayo, gabung sama yang lain! Gung, kita kesana dulu!"ujar Ricky ngeloyor pergi sambil merangkul Doni.

Kini, Agung hanya berdua dengan Siska.

"Lagi ada masalah, ya? Aku perhatiin dari pagi itu muka kusut banget!" ujar Siska.

"Biasalah! Masalah rumah tangga! Suatu saat, kalau kamu nikah, pasti akan mengalaminya juga!"

"Suatu saat, kalau aku nikah, aku gak akan biarin lakiku keluar rumah dalam keadaan kusut gitu!"

Agung terkekeh.

"Caranya?"

"Dengan memberikan service spesial!" bisik Siska di telinga Agung.

Bab 3

Bab 3

Agung Mulai Selingkuh

"Suatu saat, kalau aku nikah, aku gak akan biarin lakiku keluar rumah dalam keadaan kusut gitu!"

Agung terkekeh.

"Caranya?"

"Dengan memberikan service spesial!" bisik Siska di telinga Agung.

Entah sengaja atau tidak, bibir Siska sempat menyentuh daun telinga Agung. Dan, itu membuat Agung merasa panas dingin.

Akhir-akhir ini, Agung mulai malas menyentuh istrinya. Wajah kusam dan bau badannya yang tidak wangi seperti teman-teman wanitanya membuat dia tidak mood untuk menyentuh istrinya. Dia melakukannya hanya untuk menuntaskan hasratnya saja.

Agung tersenyum samar.

"Kayak udah pengalaman aja!" gurau Agung.

"Gak harus pengalaman. Semua hal bisa dipelajari," jawab Siska diplomatis.

Mereka tertawa bersama. Tawa yang penuh arti.

"Pulang, yuk! Naik apa tadi kesini?" tanya Agung kepada Siska.

"Nebeng teman-teman tadi!"

"Mau gue anterin. Tapi, tadi gue bawa motor. Mobil lagi di bengkel."

"Gak papa. Malah asik. Ayo!"

Setelah berpamitan kepada teman-teman, mereka segera pulang.

Agung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, mereka terus mengobrol. Siska memeluk Agung erat dari belakang. Tubuhnya yang menempel erat membuat Agung semakin panas dingin.

"Kamu tinggal dimana?" tanya Agung.

"Gue ngekost di kawasan Indah Permai. Elo jam segini belum pulang, gak dicariin bini?"

"Udah, biarin saja! Gak usah dipikirin!"

"Elo tinggal sendiri?"

"Iya, gue gak suka ada teman kost."

"Kenapa?"

"Rasanya gak nyaman saja. Kurang privasi."

"Ini mau langsung di antar pulang atau kemana dulu, nih?" tanya Agung.

"Kita muter-muter aja dulu, bagaimana? Dah lama gue gak naik motor."

"Emang dulu suka naik motor?"

"Iya. Pas jalan sama mantan."

"Sekarang jadi ingat kenangan sama mantan, nih, critanya?"

"Gak lah. Cuma gue emang suka aja naik motor."

"Kok bisa? Biasanya, cewek lebih milih naik mobil."

"Lebih romantis," jawab Siska sembari mengeratkan pelukannya.

Siska terus memeluk Agung erat hingga tiba di kost nya.

"Mampir dulu, yuk!" ajak Siska.

"Gak papa, nih, gue masuk?" tanya Agung.

"Gak papa, santai saja. Di sini bebas kok!"

Agung segera masuk mengikuti Siska.

"Mau minum apa?"

"Terserah elo!"

Saat mengantar minuman ke depan, Siska tersandung kaki meja sehingga minumannya tumpah dan dia jatuh menindih Agung.

Mereka terdiam untuk sesaat.

"Aduh, maaf ya! Jadi basah, deh, baju lo!"

Siska berusaha membersihkan pakaian agung menggunakan tisu.

"Udah, gak papa. Gak usah dibersihkan!" ujar Agung gugup.

Tapi, Siska tetap berusaha membersihkan kemeja Agung. Jarak yang begitu dekat dan kontak yang intens, membuat jantung Agung berdetak dengan cepat. Untuk sesaat, mereka terdiam dan saling berpandangan.

Siska memberanikan diri untuk terus mendekat dan mengecup bibir Agung. Agung yang kaget pun tak dapat mengelak. Entah bagaimana mulanya, akhirnya, malam itu, terjadi hal yang tidak seharusnya.

"Maafkan gue, Sis! Gue khilaf!" ujar Agung setelah selesai melakukannya.

"Ssst …." Siska menempelkan telunjuknya di bibir Agung.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka," lanjut Siska.

"Lo tidak menyesal melakukannya?" tanya Agung.

Siska tersenyum.

"Tentu saja tidak. Gue melakukannya dengan orang yang gue cintai. Apa yang perlu gue sesali?"

"Lo tahu kan, kalau gue sudah menikah?" tanya Agung.

"Gue tahu. Gue juga gak peduli. Asalkan lo mau sama gue dan gak ninggalin gue" rayu Siska.

Agung pun tersenyum dan mengecup kening Siska. Tak lama kemudian, Agung terlelap karena kelelahan.

Siska tersenyum puas. Dia mengambil ponsel dan mengambil beberapa foto dengan berbagai pose. Dia yakin, suatu saat, foto-foto itu pasti berguna.

**********

Malam ini, Andini begitu khawatir. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, tapi suaminya belum juga pulang. Dia sudah berusaha menghubungi ponsel suaminya, tetapi tidak aktif. Memang, Agung biasanya sering pulang malam. Tapi, tidak pernah selarut ini.

Tok...tok... tok! Suara pintu diketuk.

"Kok malam sekali pulangnya, Bang?"

Agung tidak menjawab. Dia ngeloyor pergi menuju kamarnya. Dia segera ke kamar mandi dan membersihkan badannya.

Dini mencium aroma parfum wanita. Tapi, dia mencoba berfikir positif. Mungkin, itu parfum teman kantornya. Atau, tadi ada penjual parfum yang meminta dia untuk mencobanya.

Di kamar, Dini mencoba menggoda suaminya. Sudah lama, dia tidak mendapat nafkah batin dari suaminya.

Dini memeluk suaminya yang berbaring membelakanginya dari belakang.

"Maaf, Din! Aku capek banget! Lain kali saja, ya!" ujar Agung, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus.

Dini merasa kecewa dan sakit hati dengan penolakan Agung. Dia sudah berusaha menebalkan mukanya dengan menggoda suaminya. Namun, hasilnya nihil. Dia merasa dipermalukan.

*********

"Abang tadi malam kemana? Kok pulangnya sampai larut gitu?"

"Ada acara di rumah teman."

"Harusnya, Abang ngabarin dulu, agar aku gak cemas! Gak biasanya Abang selarut itu."

Prang…. Agung membanting sendok.

Dini melonjak kaget.

"Ngerusak mood saja!" ujar Agung, lalu beranjak pergi berangkat ke kantor.

Dini mengelus dada. Selalu begitu.

"Kapan kamu akan berubah, Bang! Aku lelah!"

Tok… tok… tok…!

Dini bergegas berjalan ke depan.

"Oh, Bu Hajjah! Mau ambil jahitan, ya! Silahkan masuk, Bu! Sebentar, saya ambilkan!"

"Iya, Mbak Dini!"

"Ini, Bu! Silahkan di cek dulu!"

"Gak perlu! Saya percaya kok! Jahitan kamu itu memang bagus! Saya yakin pasti cocok! Rasyid mana? Kok gak kelihatan?" tanya Bu Hajjah Salamah sambil celingukan.

"Rasyidnya belum bangun, Bu!"

"Oalah, ya sudah! Ini ongkos jahitnya! Dan, ini ada makanan untuk Rasyid!"

"Aduh, jadi merepotkan, Bu! Terimakasih banyak, Bu!"

"Iya, sama-sama. Ya sudah, saya pulang dulu!"

"Iya, Bu! Silahkan!"

"Dini!" Belum sempat Dini menutup pintu rumahnya, mertua dan iparnya tiba-tiba datang.

"Bu Hajjah kesini tadi ambil jahitan?" tanya mertuanya.

"Iya, Bu!" jawab Dini sambil beranjak masuk.

"Eh, Din! Itu apaan yang kamu pegang? Aku lihat!" ujar Niken.

"Oo … ini makanan dari Bu Hajjah untuk Rasyid."

Niken mengambil dari tangan Dini dan membukanya.

"Jangan, Mbak! Itu untuk Rasyid!" cegah Dini.

"Wuih … makanan enak, nih! Udah, buat aku saja! Makanan seperti ini cocoknya dimakan Rino. Bukan anak kamu yang kampungan itu!" ujar Niken.

"Mbak, tolong kembalikan! Itu untuk Rasyid!"

"Dini! Gitu aja kamu permasalahan! Udah, biar dibawa Niken. Rasyid buatkan telur ceplok saja," omel mertuanya. Niken tersenyum penuh kemenangan.

"Dapat uang berapa tadi dari Bu Hajjah?" tanya mertuanya lagi.

"Em … itu tadi ...em …."

"Ngomong yang jelas. Berapa?" teriak Ibu mertuanya.

"Ish … Ibu kelamaan," ujar Niken. Dia meletakkan makanannya di meja, lalu menggeledah saku baju Andini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED