“Ohhh… Hhhhh… shhh…”
Suara itu kembali masuk memenuhi indera pendengar Liontin, saat gadis berusia 22 tahun itu menginjakkan kakinya ke dalam rumah.
Gadis yang baru saja pulang kuliah itu mengerutkan keningnya dan menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar lebih jelas lagi suara aneh itu.
“Dari kamar mama lagi? Sebenarnya apa yang sedang mama lakukan?” gumamnya sambil mendekati pintu kamar sang ibunda.
“Oouh… hhhh… in.. Ini nik… nikmat sekali Sa… yang. Le… lebih keras lag… lagi. Lebih dalam lagi. Hhhh…”
Kini terdengar suara ibunya berbicara dengan suara tersengal -sengal.
Kriet… kriet… kriet…
Suara deritan ranjang bersahut -sahutan dengan suara desahan dan erangan itu.
Karena tak bisa memendam rasa penasaran, Liontin mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kamar ibunya.
“Ma! Mama!!!” panggil Liontin dengan nada pelan.
Suara desahan dan deritan ranjang itu pun seketika menghilang. Tapi tak ada jawaban.
“Mama. Ini Liontin Ma. Mama ada di dalam kan?”
Tetap tak ada jawaban.
“Ma. Lion tahu kalau mama ada di dalam. Sebenarnya mama lagi ngapain dan sedang sama siapa di dalam? Kenap…”
“Woi!!! Ngapain kamu berdiri di depan kamar mama?”
Terdengar suara seseorang dari arah belakang membuat Liontin langsung menghentikan ucapannya.
“Kak Wulan. Aku mendengar su…”
“Suara aneh itu lagi? Astaga Liontin. Kamu ini kenapa sih? Kamu selalu bicara yang tidak jelas. Aku tidak mendengar suara apa -apa di dalam. Tapi kamu?”
“Tapi itu memang benar adanya Kak. Bahkan baru saja tadi aku mendengar suara itu lagi. Suara des…”
“Stop Lion. Kamu selalu saja membuat cerita yang tidak benar. Heran deh aku sama kamu. Dia itu ibu kita loh. Tapi kamu ngomongnya nggak pakai mikir dulu.”
“Kak Wulan. Ak…”
Wulan mencekal lengan Liontin dengan keras, membuat Liontin merintih kesakitan.
“Aw… sakit kak. Lepasin.”
“Ayo. Daripada kamu ngomong nggak jelas. Mendingan kamu siapkan makan siang buat kakak. Kakak baru pulang syuting. Kakak capek. Cepat.”
Wulan menarik -narik tangan Liontin dan mendorong tubuhnya ke dapur sehingga gadis itu terjerembab ke lantai dapur.
Bi Situ yang sedang memasak terkejut melihat Liontin terjatuh tak jauh dari kakinya.
Dia lalu berjongkok di hadapan Liontin dan membantu gadis itu untuk berdiri.
“Non Liontin nggak apa -apa kan? Nggak ada yang terluka?”
“Halah. Lebay. Hanya begitu saja luka. Ayo cepat buatkan aku makan siang. Nasi goreng plus telur mata sapi. Jangan lupa. Susu coklat panasnya.”
Wulan lalu segera berlalu dari depan pintu dapur.
Bu Siti mengelus lutut Liontin yang terlihat sedikit memerah.
“Sakit ya Non? Kalau begitu Non duduk saja di sini. Biark bibi yang buatkan makan siang Non Wulan.”
“Eitsss…”
Wulan kembali menghadap ke dapur.
“Bibi tidak boleh membantunya. Kalau bibi ketahuan membantu Liontin, makan bi Siti akan aku pecat. Paham?”
“I.. Iya Non Wulan. Bibi paham.”
Wulan lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Bi Siti menatap wajah Liontin dengan raut wajah sedih.
“Maafkan Bi Siti ya Non. Bibi tidak bisa membantu Non.”
“Iya Bi. Liontin nggak apa -apa kok. Lion juga tak ingin bibi dipecat. Kalau bibi pergi, lalu siapa yang nanti akan temani Liontin di sini. Oya, di mana bawang merah dan bawang putihnya? Bibi cukup tunjukkan tempatnya biar Lion ambil sendiri.”
“Ada di rak yang sebelah kanan Non.”
Liontin meletakkan begitu saja tas kuliahnya di atas meja lalu mengambil bawang dan mulai mengupasnya dengan perlahan -lahan.
“Hati -hati kalau motongnya Non. Nanti terluka.”
“Iya Bi. Oya, apa bibi pernah mendengar sesuatu dari dalam kamar mama?”
“Suara aneh itu ya Non? Hmmm… bibi nggak dengar apa- apa?”
“Hah? Benar bibi nggak dengar? Yakin?”
“Iya Non. Bibi nggak dengar apa -apa.”
“Kalau bibi nggak dengar apa -apa kenapa tadi bibi bisa tahu suara aneh? Padahal Liontin nggak ngomong suara aneh tadi.”
“Oh hmmmm itu…”
Bi Siti terlihat salah tingkah.
“Hmmm itu.. Tadi bibi nggak sengaja mendengar pembicaraan Non Liontin sama Non Wulan. Maaf.”
“Iya Bi. Nggak apa- apa.”
Liontin lalu melanjutkan pekerjaannya, menyiapkan makan siang kakaknya.
Dia yakin Bi Siti pasti juga pasti mendengarnya. Tapi bi Siti tak berani bicara karena setatus dia cuma ART di rumah berlantai dua itu. Bahkan mungkin saja Bi Siti tahu sesuatu tapi tak berani menceritakannya pada Liontin karena mungkin diancam.
Saat mau mengantarkan makanan untuk Wulan, terlihat seorang pemuda seusia Wulan sedang berada di ruang tamu ditemani oleh Wulan dan Mama Santy.
“Nak Bob. Ini putri keduaku namanya Liontin. Dan Liontin. Ini Nak Bobby. Dia yang sudah banyak membantu Wulan hingga bisa mendapatkan peran utama di di film Seksi Girl yang akan segera tayang di bioskop.”
Mama Santy bicara panjang lebar.
“Ah ibu bisa saja. Aku hanya sedikit mengarahkan saja. Memang pada dasarnya Wulan memang orangnya cantik dan pandai. Aktingnya memang maksimal banget. Aku yang sudah banyak garam pun rasanya kalah saing deh dengan dia. Aku yakin sebentar lagi Wulan bakal jadi artis terfavorit di tahun ini. Bakal ada banyak fansnya. Apalagi ibu juga pandai ngelobi seperti ini.”
Wulan dan Mama Santy terlihat begitu tersanjung dipuja seperti itu.
Sementara itu Liontin merasa sedikit risih melihat mama Santy dan Bobby agak sedikit berbeda cara saling bertatapannya.
“Oya, kalau begitu aku ke kamar dulu Ma. Permisi Kak Bobby. Kak Wulan.”
“Iya. Silahkan cantik.” jawab Bobby sambil tersenyum ramah.
Liontin langsung bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Masih terdengar suara tawa Mama Santy, Wulan dan Bobby di bawah sana.
“Pantas saja putri -putri ibu pada cantik -cantik. Ternyata menurun dari sang ibunda sendiri. Sudah cantik, bodi oke, supel pula.”
“Ah… nak Bobby bisa saja. Oya, kamu juga belum bertemu putri bungsu ku. Namanya Anggun. Dia bahkan paling cantik dari semua -semuanya. Kalau Liontin mah kecil.”
Begitulah suara -suara yang masih tertangkap telinga Liontin sebelum semakin jauh naik ke atas.
*** *** ***
Setelah berganti pakaian Liontin langsung melemparkan diri ke atas ranjang empuknya.
Ingin turun untuk makan siang tapi malas karena kalau turun berarti dia harus bertemu lagi dengan pemuda bernama Bobby itu.
Tok..tok..tok..
“Non Liontin.”
Terdengar suara pintu diketuk dari luar disusul suara Bi Siti memanggil namanya.
Kriet…
Liontin bergegas membuka pintu untuk perempuan bertubuh gempal.
“Maaf Non, mengganggu. Bibi hanya mau mengantar tas Non yang ketinggalan di dapur.”
Bi Siti menyerahkan tas berwarna tosca itu pada Liontin.
“Oh iya Bi. Makasih.”
“Sama -sama Non. Tapi apa Non nggak mau makan siang dulu?”
“Nanti saja Bi. Liontin mau istirahat sebentar.”
“Iya Non. Kalau Non mau makan siang, nanti panggil bibi saja. Biar bibi siapkan.”
“Iya Bi. Sekali lagi makasih.”
Begitu bi Siti pergi, Liontin kembali menutup pintu kamarnya.
Bersambung.
Terlalu memikirkan tentang suara -suara aneh dalam kamar ibunya, membuat Liontin merasa sedikit pusing dan memutuskan untuk tidur saja dulu sebelum makan siang.
Sempat menghubungi nomor pacarnya, tapi sang pacar tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Berpikir kalau pemuda tampan kesayangannya yang adalah seorang anak band, yang berada di posisi sebagai vokalis merangkap sebagai gitarisnya itu pasti sedang sibuk, Liontin pun tidak mengulangi panggilan teleponnya.
Tapi…
Baru saja dia meletakkan kepalanya ke bantal, ponselnya berbunyi dengan suara nyaring.
Panggilan dari kekasihnya, Sandrian.
“Halo San.”
(Iya my sweetheart. Ada apa ya? Tadi kamu menelepon ya? Maaf, tadi aku sedang sibuk latihan bersama anak -anak. Seminggu lagi kami akan tampil di peresmian mall baru di jalan X. I am so sorry Bebz.)
“Iya, nggak apa -apa. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah menganggu waktu latihan kamu.”
(Oh nggak apa -apa Sweetheart. Kamu nggak mengganggu. Sama sekali nggak. Oya, ada apa? Apa ada yang mau kamu bicarakan sama aku?)
“Iya. Tapi aku takut waktu latihan kamu terganggu lagi.”
(Tidak sayang. Aku sudah selesai latihan ko. Cerita saja. Hmmm apa tentang ibumu? Soal suara aneh itu lagi?)
“Iya. Tapi apa benar tidak mengganggu kamu?”
(Tidak Sweetheart. Ok. Kamu siap -siap ya? Setengah jam lagi aku jemput kamu. Kita ke danau Rafflesia. Nanti kamu cerita di sana saja. Ok?)
“Iya Sayang. Aku tunggu.”
(Iya Sweetheart. I love you.)
“Love you too, my Man.”
Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Liontin melangkah keluar menuju dapur.
Bi Siti tersenyum melihat kedatangan nona mudanya.
“Eh Non Liontin. Mau makan sekarang?”
Anggun yang sedang makan pun terkejut melihat kedatangan sang kakak yang sudah berpakaian rumahan.
“Kak Liontin? Sudah dari tadi datang ya? Kok Anggun nggak lihat kakak?”
“Tidak kok. Kakak sudah dari tadi. Hanya saja kakak sedikit pusing jadi kakak tidur sebentar.”
“Oh begitu ya Kak.”
Bi Siti meletakkan makan siang untuk Liontin lalu katanya.
“Oya Non. Tadi Nyonya Santy dan Non Wulan ada keluar. Katanya mau ke lokasi syuting. Mungkin malam baru pulang.”
“Hah? Ke lokasi syuting? Emang kak Wulan mau syuting apa?” tanya Anggun sambil menatap wajah Bi Siti berganti -gantian.
“Kak Wulan sedang syuting film Seksi Girl. Dia dapat peran utama. Sama Bobby Lesmana.”
“Hah? Bobby Lesmana yang dulu main di film Cintaku Bodyguardku itu kak. Yang jadi Boy itu kan?”
“Iya Nggun. Yang itu. Sekarang dia akan dipasang kan dengan Kak Wulan.”
“Wow! Non Wulan memang hebat. Tapi ngomong -ngomong tayangnya di mana Non? Bi Siti juga mau ikutan nonton.”
“Paling juga di bioskop. Iya kan kak Lion?”
“Iya Nggun. Filmnya tayang di bioskop.”
“Ya… berarti bibi nggak bisa nonton deh kalau begitu.”
“Tenang saja Bi. Nanti Anggun akan download filmnya biar bibi bisa nonton.”
“Iya bibi. Anggun janji.”
Bi Siti lalu menyiapkan makanan untuk Liontin.
“Non Anggun masih mau nambah?”
“Oh nggak kok Bi. Ini saja sudah dua kali. Nanti bisa meledak deh perut Anggun. Oya,kalau…”
“Permisi Non Liontin. Non Anggun.”
Terdengar suara pak Karto di depan pintu dapur.
“Iya Pak Karto. Ada apa?” tanya Liontin menghentikan suapan nasi ke mulutnya.
“Ada Den Sandrian di depan Non.”
“Oh iya ya. Bilang tunggu sebentar ya. Aku cuci tangan dulu.”
“Baik Non.”
Liontin buru -buru menghabiskan makanannya.
Sebenarnya dia ingin segera menemui kekasihnya,tapi makannya masih tersisa beberapa sendok.
Tapi sejak kecil dia sudah terbiasa untuk tidak membuang -buang makanan.
“Pelan -pelan Non. Bisa keselak nanti.”
“Iya Bi.”
“Kak Liontin mau ke mana?”
“Kakak mau keluar sebentar sama kak Sandrian. Apa kamu mau kakak bawakan kamu apa nanti sebentar?”
“Martabak aja kak kalau boleh.”
“Siap Tuan Putri.”
Liontin mencubit gemas hidung Anggun dan keduanya tertawa bersama -sama.
“Ya sudah. Anggun temani kakak sampai di depan. Sekalian Anggun mau say helo sebentar sama kak Sandrian.”
“Ok.”
Setelah mencuci tangan, keduanya lalu bergegas menemui Sandrian.
“Halo calon kakak ipar? Apa kabar hari ini?”
Anggun menyapa Sandrian dengan ramah dan Sandrian pun membalasnya dengan tak kalah ramahnya.
“Hai Anggun. Kabar kakak baik. Bagaimana dengan dirimu?”
“Hmmm aku baik -baik juga. Oya, kakak berdua mau ke mana?”
“Kak Sandrian hanya mau mengajak kak Liontin keluar sebentar. Hmmm ada latihan band, dan kak Sandrian ingin ditemani oleh Kak Liontin.”
“Oh… begitu ya? Kalau begitu sebelum aku izinkan kak Sandrian membawa kak Liontin keluar aku ada dua permintaan.”
“Hmmm apa itu?”
“Yang pertama pulang nanti bawakan aku martabak.”
“Oh itu soal gampang. Lalu yang keduanya apa?”
“Yang keduanya ini sebenarnya yang paling penting kak.”
“Apa itu?”
“Pulangkan kakakku tepat pada waktunya dan tanpa kekurangan sedikitpun.”
“Wow seorang adik yang luar biasa.”
Liontin hanya tertawa mendengar percakapan Anggun dan Sandrian.
“Iya dong kak. Ini yang namanya saudara Kak. Sanggup.”
“Iya sanggup. Asal…”
“Asal apa Kak.”
“Nggak khilaf. Hahaha…”
“Tidak. Tidak ada yang namanya khilaf -khilaf.”
“Iya. Iya. Kakak cuma bercanda kok adik manis.”
Liontin dan Sandrian lalu berpamitan pada Anggun, Bi Siti dan Pak Karto dan segera meninggalkan rumah berlantai dua itu.
Walaupun Bi Siti dan Pak Karto hanya ART dan tukang kebun tapi Liontin dan Anggun sangat menghargai mereka. Tidak seperti Wulan dan Bu Santy.
*** *** ***
Sesampainya di tempat tujuan, Sandrian lalu menyewa sebuah perahu karet berbentuk angsa dan langsung mengajak Liontin naik ke atas perahu.
Tak lupa pula mereka membeli beberapa cemilan.
“Sekarang kamu cerita padaku, apa kamu mendengar lagi suara aneh itu? Kapan?”
“Iya San. Aku mendengarnya sepulang kuliah tadi.”
“What? Sepulang kuliah tadi? Berarti siang hari dong.”
“Iya San. Ini sudah keterlaluan. Biasanya aku mendengarnya saat malam, dan itupun tengah malam. Tapi kali ini siang hari San.”
“Oh my God. Iya. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Tapi apa kamu pernah melihat ada laki -laki datang bertamu untuk ibumu?”
“Tidak pernah San. Hanya siang tadi ada sih tapi sepertinya itu tamunya Kak Wulan. Karena mereka memang sedang dalam satu projek film.”
“Siapa orangnya?”
“Bobby. Bobby artis.”
“Hah? Bobby Lesmana maksudmu?”
“Iya San.”
Liontin melihat ada perubahan pada wajah kekasihnya itu.
Tapi sebelum dia bertanya kenapa, hujan turun dengan derasnya membuat mereka harus segera turun dari perahu karet berbentuk angsa itu.
Terpaksa Liontin harus memendam rasa penasaran dalam hatinya tentang perubahan raut wajah Sandrian itu.
Setelah hujan berhenti, mereka langsung pulang.
Sebelumnya mereka membeli martabak dan beberapa cemilan untuk Anggun.
Liontin tahu kalau adiknya itu suka menonton di ponsel sambil makan cemilan.
Makanya dia membeli beberapa cemilan kesukaan adiknya itu.
Dia yakin Anggun pasti sangat senang.
Bersambung…
"Yes!!! Makasih ya kakakku yang tercinta. Yang paling cantik. Terima kasih untuk semuanya.” ucap Anggun sambil menerima dua buah paper bag yang diberikan Liontin padanya.
“Kok cepat banget pulangnya kak.” lanjutnya pada Sandrian setelah mencium pipi sang kakak.
“Ya… bagaimana mau lama -lama. Baru selangkah keluar dari pintu sudah diberi ultimatum. Dipulangkan tepat pada waktunya.”
Ketiga lalu tertawa bersama -sama.
“Hmmm… by the way, kenapa paper bag nya ada dua kak?” tanya sambil memandang wajah Sandrian dan Liontin berganti-gantian.
“Hmmm jadi begini loh Nggun. Satunya itu Martabak bdari kakak, yang paper bag warna biru. Sedangkan paper bag yang warna merah,itu adalah humberger dari kak Sandrian.” jawab Liontin sambil tersenyum.
Anggun menatap wajah Sandrian.
“Benarkah itu Kak. Dalam rangka apa ini?”
“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah diizinkan untuk jalan sama kakaknya.”
“Hmmmm… nyogok nih ceritanya.”
“Nggak kok. Ini tulus.”
Anggun langsung memeluk Sandrian sambil tertawa.
“Terima kasih calon kakak ipar.”
Sandrian pun ikut tertawa sambil mengacak -ngacak rambut Anggun.
Dia jadi teringat pada adik perempuan satu -satunya yang sedang berada di kota E.
Setiap kali bertemu pasti selalu suka manja -manja padanya seperti itu.
“Ehhh maaf ya Kak Sandrian. Entar malah kak Liontin jadi nervous lagi.”
Anggun lalu melepaskan pelukannya.
“Ah nggak kok. Masa sama adik sendiri nervous. Oya, kamu mau masuk dulu San.”
“Hmmm next time aja Sweetheart. Sepertinya akan turun hujan lagi, jadi aku pulang dulu.”
“Iya. Tapi janji ya, lain kali singgah sebentar dulu. Ok.”
“Iya aku janji Sayang. Hmmm aku pulang dulu ya. I love you.”
Setelah mengecup kening Liontin, Sandrian melambaikan tangannya pada Anggun.
“Bye… bye adik ipar.”
“Ok see you kakak ipar.”
Baru saja Sandrian pergi, sebuah Audi hitam pekat memasuki halaman rumah bertingkat dua itu.
Lalu terlihat Wulan dan Mama Santy turun dengan wajah ceriah, disusul oleh Bobby.
“Ehhh baru dari mana kamu?” tanya mama Santy sambil menatap Liontin penuh selidik.
“Aku baru dari danau Ma. Ak…”
“Oh begitu ya. Saat kakakmu kerja kamu malah seenaknya pergi luntang lantung. Cepat masuk. Buatkan minuman untuk Wulan dan Nak Bobby. Mama juga pengen kopi hitam.”
Menatap wajah Bobby dengan ramah lalu katanya lagi, “Nak Bobby mau minum apa?”
“Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Aku juga mau kopi hitam. Panas.”
“Tuh kamu dengar sendiri. Nak Bobby juga mau kopi hitam. Jadi siapkan kopi hitam dua gelas. Sama susu hangat untuk Wulan. Bawa juga dengan kacang goreng di toples.”
“Ma. Kan ada bi Siti, kenapa harus kak Liontin. Ka…”
“Jangan membantah Anggun. Kalau sudah gadis itu jangan terlalu manja. Harus kerja. Jadi terbiasa. Tidak bakal malu -maluin kalau sudah kawin nanti.”
“Kalau begitu kak Wulan juga harus kerja. Bukannya dia juga sudah gadis? Mama jangan pilih kasih dong. Seolah-olah ka…”
“Cukup Anggun. Wulan itu sekarang sudah jadi artis jadi cantiknya harus maksimal. Tapi kalau kamu mau, sana, bantu Liontin. Jangan membantah lagi. Malu dong sama Nak Bobby nya. Dia kan tamu di sini.”
Liontin masuk langsung ke dapur,disusul oleh Anggun.
Sementara itu Wulan bersama mama Santy ke ruang tamu,menemani Bobby.
“Kak. Seharusnya kak Liontin jangan menurut saja. Kak Li…”
“Sttt… sudahlah Nggun. Apa yang dikatakan oleh mama itu benar. Kita harus belajar kerja dari sekarang. Jadi saat kita sudah menikah nanti, kita sudah bisa mengurus keluarga kita dengan baik. Mengurus suami dan anak -anak kita dengan baik.”
Anggun akhirnya diam saja. Tidak banyak komentar lagi.
Hujan pun mulai menetes membasahi bumi.
Tidak hanya gerimis saja tapi langsung lebat.
“Apa itu?” tanya Wulan yang baru saja masuk sambil menunjuk ke arah kedua paper bag yang diletakkan oleh Anggun di atas lemari, berdampingan dengan toples gula dan kopi.
“Itu punyaku Kak. Martabak dan Humberger pemberian kak Liontin dan kak Sandrian. Kakak jangan mengambilnya.”
“Halah… makanan murahan. Aku alergi makanan murahan seperti itu. Aku ini kan artis. Entar bisa rusak tubuhku.”
Wulan melenggang keluar sambil mencibir.
*** *** ***
Pukul 00.16 menit…
Liontin terbangun dari tidurnya.
Dia merasa sangat haus.
Ketika dia mengambil botol air yang ada di atas meja kecilnya, ternyata botol itu kosong.
Dia lupa mengisinya.
Airnya dia memutuskan untuk ke dapur untuk minum air di sana sekalian mengisi air minum ke botolnya.
Di luar masih hujan walaupun tak segera sore tadi.
Dengan langkah cepat dia langsung menuju dapur setelah menyalakan lampunya dulu lampu tengah.
Tak lupa pula dia menyalakan lampu dapur.
Menuangkan air dari dalam ceret ke dalam gelas hingga setengah gelas lalu meneguknya hingga habis.
Setelah itu dia mengisi air ke dalam botol hingga penuh.
“Ssshhhh awww…”
Liontin meringis saat merasa sesuatu yang terdesak di bawah sana. Dia kebelet pipis.
Ingin ke kamar dan masuk ke kamar mandi miliknya di sana tapi ini sudah emergency.
Akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar mandi untuk tamu saja.
Meletakkan air botol air minumnya di atas meja lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Telinganya menangkap suara dari ruang tamu.
Kriet… kriet… kriet…
Seperti suara ranjang bergoyang.
Keningnya berkerut sesaat tapi… dia lalu menepuk keningnya sendiri.
Dia lalu teringat kalau Bobby Lesmana tadi tidak pulang karena hujan sangat lebat dan tadinya sempat mati lampu.
Meneruskan langkah ke kamar mandi dan menuntaskan hajatnya.
Ah lega rasanya.
Setelah membersihkan diri dan toilet, Liontin kembali ke kamarnya.
Tapi langkhnya terhenti di depan kamar tamu.
“Ahhh… ahhhh… teruskan sayang. Ak… ak.. Oh… sayang. In… ini enak sekali. Nik.. Nimatnya.”
Suara itu yang menghentikan langkah Liontin.
“Suara itu lagi?” gumamnya sambil menempelkan telinganya ke daun pintu tapi tidak suara terdengar lagi.
Liontin menghela nafas dan menggeleng --gelengkan kepalanya.
“Oh my God Liontin. Ada apa dengan dirimu. Gara -gara suara itu kamu jadi seperti ini? Kemana mana telinga kamu seperti mendengar suara itu.”
Liontin lalu membalikkan badannya dan hendak kembali ke kamarnya tapi…
“Ouhhhh… hentak lebih dalam lagi Sa… yang. Begitu. Be.. Begitu. Ak… Aku suka. Ouhhhh…*
Suara itu lagi. Dan suara itu seperti… suara mama Santy.
Lalu terdengar suara laki-laki.
“Yes. Yes.. You fucking bitch. Legitnya. Nikmatnya….”
Dan…
Kriet… kriet… kriet… dug… dug…
Kriet… kriet.. Kriet… dug… dug…
Itu suar ranjang. Dan sepertinya ranjang itu terlalu keras bergoyang hingga membentur tembok.
Posisi ranjang memang sedikit mepet ke tembok.
Dug… dug… dug…
Nafas Liontin ikut tersengal - mendengar suara itu.
Bukan karena apa -apa. Tapi dia penasaran siapa-siapa yang ada di dalam?
Bukannya Bobby tidur di ruang tamu? Artinya suara laki -laki itu pasti suara Bobby. Lalu siapa perempuannya?
Ingin merekam suara itu tapi dia tidak membawa ponselnya.
“Liontin!!!”
Suara Wulan memanggilnya dari arah belakang membuat Liontin terkejut.
Lalu perlahan mendekati sang kakak.
“Kamu ngapain di situ? Kamu mau ngintipin Bobby tidur ya?”
“Oh nggak begitu kak. Tadi aku mau ambil air minum di dapur karena aku lupa bawa air. Dan aku mendengar suara di kamar tamu. Suara ranjang berderit dan s…”
“Ya tentu saja Lion. Kan ada Bobby di dalam.”
“Tapi kak. S…”
“Sudahlah Liontin. Kakak mau kembali ke kamar. Kamu juga. Ayo. Sana masuk.”
“Kakak? Lagi ngapain?”
“Kakak juga baru habis minum air di dapur. Lupa bawa air minum. Cepat masuk.”
Liontin akhirnya masuk kembali ke kamarnya dengan seribu pertanyaan di benaknya.
Bersambung…