Bab 1

Mobil pengantin yang dihias dengan cantik melaju ke sebuah vila yang sunyi sendirian. Seharusnya ini adalah hari yang membahagiakan, penuh dengan suka cita dan tawa. Akan tetapi, suasananya menyedihkan layaknya pemakaman.

Lana Rahayu memandang ke depan dengan dagu yang terangkat tinggi dan punggung tegak, berusaha terlihat tegar dan percaya diri. Dia ingat apa yang dikatakan ibunya, Arini Guritno, sebelum dia masuk ke mobil pengantin ini. "Jika kamu mempermalukan nama Keluarga Rahayu, aku akan menendang wanita tua itu dari rumah sakit."

Yang dimaksud Arini adalah nenek Lana. Meski Lana tahu dia dan neneknya tidak memiliki hubungan darah, dia tetap mencintai wanita itu dengan sepenuh hati.

Sebulan yang lalu, Lana hanyalah seorang gadis desa biasa.

Suatu hari, sekelompok pria berbaju hitam membawa polisi ke rumah Lana, mengatakan bahwa dia adalah putri dari Keluarga Rahayu yang telah hilang selama dua puluh tahun. Seseorang keliru membawa Lana pergi dari rumah sakit setelah dia lahir. Kini, orang tuanya mengetahui kebenaran itu dan ingin mengambil kembali Lana.

Lana memang selalu ingin bertemu kedua orang tuanya dan mendapatkan cinta serta perhatian mereka. Berpikir bahwa Tuhan akhirnya mendengar doanya, Lana memutuskan untuk ikut bersama para pria itu ke vila Keluarga Rahayu. Namun, hatinya tenggelam dalam kekecewaan ketika bertemu orang tua kandungnya, Arini dan Yudi Rahayu.

"Ini anak itu?" Arini memandangnya dari atas ke bawah, mengerutkan hidungnya dengan jijik. "Astaga, lihat kulitnya. Mengerikan. Beri dia perawatan tubuh terlebih dahulu."

Para pelayan segera membawa Lana ke sebuah kamar untuk melakukan perawatan kecantikan. Tempat tidur nyaman dan pijatan yang menenangkan membuatnya mengantuk. Saat matanya terpejam dan dia hampir tertidur, dia mendengar para pelayan saling berbisik.

"Apa ini gadis desa yang akan menggantikan Nona Saras menikah?"

"Ya. Kasihan sekali. Aku mendengar bahwa putra tertua dari Keluarga Sahid adalah pria lumpuh dan memiliki temperamen yang buruk. Sekarang, Keluarga Sahid berada di ambang kebangkrutan. Mereka meminjam uang di mana-mana. Nyonya Arini tidak ingin Nona Saras menderita, jadi dia membawa gadis desa ini kembali untuk menikah dengannya. Dia adalah pengantin pengganti."

"Yang kudengar, Nona Saras jatuh cinta dengan putra sulung dari Keluarga Lingga. Apa itu benar? Kalau begitu ceritanya, mengapa Tuan Yudi tidak membatalkan pertunangan dengan Keluarga Sahid saja?" tanya salah satu pelayan.

"Apa kamu bodoh? Tuan Yudi sangat peduli tentang citra dirinya di mata orang-orang. Bagaimana dia bisa membatalkan pertunangan dan mempermalukan dirinya sendiri?"

Mata Lana tiba-tiba terbuka. Perasaan ditipu merayap dari dasar perutnya dan amarah mengalir lewat nadi-nadinya. Saat itu juga, dia bangkit dan berjalan menuju pintu.

Dia ingin kembali ke desanya. Tempat ini bukanlah rumahnya. Mereka bukan orang tuanya! Mereka hanya menganggapnya sebagai seorang pengganti. Tidak lebih!

Tak disangka, ketika dia keluar dari kamar tersebut, dia melihat Arini sedang berdiri di depan pintu. Seolah-olah sudah mengantisipasi reaksi seperti itu dari Lana, Arini melemparkan sebuah hasil diagnosis padanya.

"Baca itu."

Lana mengerutkan kening dan mengambilnya. Hatinya langsung bergetar hebat ketika melihat nama yang tertera di sana.

Itu adalah neneknya. Dia didiagnosis menderita kardiomiopati primer stadium lanjut. Perkiraan biaya operasinya adalah satu miliar rupiah. Lana tertegun. Di mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

"Jika kamu menggantikan Saras menikah dengan Keluarga Sahid, aku akan membayar biaya pengobatan wanita tua itu."

Wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Lana ini bahkan tidak mau repot-repot berpura-pura baik padanya. Dia langsung mengusulkan sebuah kesepakatan, sangat yakin bahwa Lana akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa neneknya.

"Nyonya, kita sudah sampai."

Mobil pengantin berhenti, dan suara sang pengemudi menyentak Lana dari lamunannya.

"Oke."

Dia buru-buru meraih ujung gaun pengantinnya dan merunduk keluar dari mobil. Sayangnya, kepalanya menabrak atap mobil. Dia mendongak dan melihat para pelayan menatapnya dengan ejekan. Melonggarkan cengkeramannya pada ujung gaun, dia memelototi mereka, lalu menarik napas dalam-dalam dan melangkah maju.

"Srek ...." Tumit sepatu hak tingginya yang tajam tidak sengaja menginjak ujung gaunnya, merobeknya.

Lana kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.

Dia memejamkan mata, menunggu punggungnya membentur tanah dengan keras. Namun, dia tidak kunjung merasakan sakit apa pun.

Lana membuka matanya dengan perlahan. Kerutan membentuk di dahinya ketika dia mendapati dirinya berada di pelukan pria yang tidak dikenalnya. Dia mengangkat wajah kecilnya dan menemukan mata dalam sang pria tertuju padanya.

Pria itu tampak muram. Dia duduk di kursi roda, mengenakan jas pernikahan. Saputangan sutra putih terlihat mengintip dari saku dadanya.

Apa pria ini adalah Jehan Sahid, calon suaminya?

Bab 2

Lana mendengar rumor bahwa dulu Jehan merupakan seorang playboy dan bahkan pernah membuat seorang wanita meninggal saat tidur dengannya. Kemudian, dia menjadi lumpuh karena kecelakaan lalu lintas. Setelah itu, dia berhenti bermain-main dengan wanita, tetapi sifatnya menjadi lebih pemarah.

Dia mengira Jehan adalah seorang pria yang garang, tetapi tidak menyangka pria ini benar-benar berbeda dari apa yang dibayangkannya.

"Maafkan aku."

Lana buru-buru berdiri karena dia takut akan menyinggung pria itu. Namun, pergelangan kakinya terkilir. Begitu dia bangkit, pergelangan kakinya amat sakit dan dia kembali terjatuh. Dia tanpa sadar meraih sesuatu untuk menyeimbangkan diri.

'Ng? Apa ini?' tanya Lana di dalam hatinya, lalu dia mencengkeramnya dan menoleh untuk melihat tangan kanannya dengan ragu. Akan tetapi, saat berikutnya, dia terlempar ke tanah.

Matanya melebar dan dia menatap Jehan dengan tak percaya. Pria ini benar-benar melemparnya ke tanah.

'Tamatlah riwayatku,' pikir Lana di dalam hatinya. Dia membenci dirinya sendiri karena sudah menyinggung pria itu ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Jehan menatapnya dengan muram. Merasakan perubahan di antara kakinya, telinganya berubah merah karena marah sekaligus malu.

Jehan keluar untuk menyambutnya, tetapi tidak menyangka wanita ini cukup tidak tahu malu untuk menyentuh bagian pribadinya di depan umum. Sepertinya dia lebih buruk daripada rumor yang didengarnya. Sangat sulit untuk mengatakan apa yang mungkin dia lakukan di balik pintu tertutup.

Para pelayan di samping Lana menutup mulut mereka dan mengintip ke arahnya, berusaha keras untuk tidak tertawa. Terdengar jeritan dari bibirnya karena punggungnya sakit. Dia terbaring di lantai dan gaunnya robek. Ketika dia melihat para pelayan yang sedang menatapnya, wajahnya memerah karena malu. Lana menggigit bibirnya dan mencoba bangkit, tetapi dia gagal total.

Tepat pada saat ini, sebuah kursi roda perlahan berhenti di depannya, dan sebuah tangan yang ramping terulur padanya.

Lana sangat ketakutan. Dia merintih dan tanpa sadar menghindari tangan tersebut. Namun, ketika dia berusaha bergerak lebih jauh, punggungnya terasa sakit. Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras agar dia tidak menangis karena rasa sakit itu.

Saat ini dia terlihat sangat menyedihkan.

Jehan tidak bermaksud untuk menakut-nakutinya. Perlahan dia mundur dan memelototi para pelayan. "Apa kalian tidak bisa melihat Nyonya Saras perlu bantuan?"

Mendengar itu, para pelayan bergegas membantunya.

Lana merasa panik. Dia berdoa agar tidak ada seorang pun di Keluarga Sahid yang mengeluh tentang dirinya di depan Keluarga Rahayu. Jika Arini tahu bahwa Lana sudah mempermalukan Keluarga Rahayu, dia akan berhenti membayar biaya pengobatan neneknya.

Tidak ada yang tidak akan dilakukan Lana untuk neneknya.

Dia terus mengingatkan dirinya sendiri, 'Jangan takut, jangan takut Lana, mulai sekarang dia adalah suamimu.' Sambil menarik napas dalam-dalam, Lana akhirnya memberanikan diri untuk menatapnya. Akan tetapi, Jehan sudah pergi dengan kepala pelayan.

Baru pada saat itulah dia menyadari bahwa Jehan hanya berusaha membantunya.

Apa pria itu orang yang perhatian?

Kemudian, seorang pelayan mengantar Lana ke kamar tidur utama.

Lana duduk di tempat tidur yang sangat besar, dia berusaha untuk tidak melihat sekelilingnya seperti orang udik. Saat itu, suara air yang mengalir di kamar mandi menarik perhatiannya. Di dalam perutnya seakan ada suatu gumpalan kecemasan. Sarafnya yang rileks menjadi tegang lagi.

Kursi roda diletakkan di sudut kamar mandi. Air dingin mengalir dari pancuran dan meluncur ke bawah kepala dan punggung Jehan yang berotot dan terus mengalir ke saluran pembuangan.

Setelah mandi, Jehan menarik handuk mandi dan menyeka tubuhnya. Lalu dia menyalakan keran wastafel dan mengangkat ponselnya yang tak henti-hentinya berdering. "Ada apa?"

"Ayah Anda sudah mencabut hukuman adik Anda," ucap pria di ujung telepon. "Dia mengizinkannya untuk kembali ke posisi semula di perusahaan."

"Baiklah. Karena dia sudah mengucapkannya, biarkan saja. Apa Susi Cendana merencanakan sesuatu?" tanya Jehan.

Ibu tirinya baru-baru ini memperoleh saham sebesar 4% dari ayahnya. Jehan tahu wanita itu tidak akan menunggu untuk bertindak.

"Dia pasti akan mengambil langkah besar. Apa kita harus melakukan sesuatu?"

"Tidak perlu." Jehan tersenyum dingin.

Jika wanita itu mencoba berkomplot melawannya, tentu dia harus menghadapi amarahnya.

"Oke."

"Omong-omong, tolong pergi dan selidiki Saras Rahayu." Jehan merasa bahwa Saras yang ditemuinya hari ini begitu berbeda dengan apa yang dikatakan oleh rumor. "Selidiki dia sepenuhnya."

Perlahan dia mengenakan jubah mandinya dan duduk kembali di kursi roda sementara suatu senyum jahil muncul di wajahnya.

"Saras Rahayu, apa yang kamu rahasiakan?" gumamnya.

Bab 3

Tak lama setelah Lana duduk, pergelangan kakinya membengkak. Dia duduk di tempat tidur untuk sekian lama, tetapi Jehan belum juga keluar dari kamar mandi. Dia ingin memijat kakinya, jadi dia menggoyangkan kakinya untuk melepas sepatu.

Tanpa diduga, dia menggunakan terlalu banyak kekuatan dan secara tidak sengaja membuat sepatunya terlempar. Tepat pada saat ini, pintu kamar mandi terbuka, dan sepatu itu mendarat di hadapan Jehan.

Lana dan Jehan saling memandang.

Jehan melirik sepatu di hadapannya dan wanita yang sedang duduk di tempat tidur itu.

Gaun pengantinnya yang putih bersih terlihat kusut, dan rambutnya berantakan. Meskipun demikian, matanya tampak menyilaukan seperti sinar matahari.

Begitu tatapan Jehan mendarat di leher mulus wanita itu, dia mengerutkan kening. "Di mana kalung itu?"

Lana, yang sedang memikirkan cara untuk mendapatkan sepatunya kembali tanpa merasa canggung, tertegun ketika mendengar pertanyaan pria itu. "Kalung apa?"

Wajah Jehan berubah muram. Dia tidak tahu apakah Lana berpura-pura bodoh atau tidak. "Hadiah pernikahan yang dijanjikan ayahmu untuk diberikan padaku. Itu adalah kalung ibuku. Beliau meninggalkan kalung itu untukku."

Lana berpikir sejenak, tetapi dia tidak ingat Yudi pernah mengatakan apa pun tentang kalung itu.

Wajah Jehan memerah karena marah. Lana khawatir mungkin pria ini akan mencekiknya sampai mati karena dorongan hati. Jika Keluarga Rahayu yang tak berperasaan mengetahui bahwa dia telah menyinggung Jehan, mereka akan berhenti membiayai pengobatan neneknya.

Lana memikirkan ini dan mendecak, seolah-olah dia mengingat sesuatu. "Oh, maksudmu kalung itu? Aku lupa membawanya. Aku akan segera pulang dan mengambilnya untukmu."

Jehan mengangguk sementara wajahnya melembut.

Meskipun dari luar Lana tampak tenang, di dalam hatinya dia sungguh panik. Bagaimana dia bisa menemukan kalung itu? Dia bahkan tidak tahu seperti apa bentuknya. Dia melirik Jehan dan melihat cincin unik di jarinya. Meski terlihat sederhana, cincin emas merah itu bertahtakan permata serta ukiran kata-kata misterius.

'Tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat,' pikirnya.

Tiba-tiba, di benak Lana terlintas bahwa dia pernah melihat Saras, yang dianggap sebagai putri Yudi dan Arini selama 20 tahun terakhir ini, mengenakan kalung seperti itu.

Perasaan yang tak bisa dijelaskan muncul di hati Jehan ketika dia melihat raut wajah Lana yang berubah-ubah. "Sana mandi," desaknya sambil memalingkan muka.

"Apa?" Lana tercengang.

Jehan berbalik dan menatap matanya, "Kamu kotor, cepat mandi."

Baru setelah Lana menunduk dan melihat dirinya sendiri, dia menyadari bahwa gaunnya kotor dengan tanah karena dia jatuh sebelumnya. Akan tetapi, dia lupa dan duduk di tempat tidur yang sudah dihias dengan indah. Lana segera bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam, dia tidak lupa mengambil sepatu yang menghalangi jalannya dan meletakkannya di pinggir.

Senyum tersungging di sudut bibir Jehan.

Duduk di bak mandi, Lana menekan dadanya dan merasakan jantungnya yang berdebar kencang di jari-jarinya. Dia ketakutan setengah mati.

Jehan sepertinya bukan seseorang yang bisa dihadapi dengan mudah. Lana takut pria itu akan melemparnya ke laut untuk santapan hiu jika dia menyinggung perasaannya. Pikiran bahwa dia akan menghabiskan malam pernikahannya dengan seorang pria yang begitu mengintimidasi membuatnya ketakutan.

Dengan rasa takut yang menghantuinya, Lana duduk di bak mandi untuk waktu yang lama. Akhirnya, dia keluar dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, tetapi tiba-tiba menyadari bahwa dia lupa membawa piamanya.

Itu semua salah Jehan yang membuatnya terburu-buru.

Dia mengutuk Jehan di dalam hati, lalu dia menempelkan telinganya ke pintu untuk mencoba apakah dia bisa mendengar sesuatu di kamar.

Apa Jehan akan menunggunya di kamar?

Setelah beberapa saat berlalu dan memastikan tidak ada suara di luar pintu, Lana membungkus dirinya dengan handuk mandi lalu membuka pintu.

"Ah!"

Dia mencengkeram handuk dengan satu tangan dan memelototi Jehan, yang sedang duduk di kamar. "Kenapa kamu masih berada di sini?"

"Ini kamar kita, kenapa aku tidak boleh berada di sini?" Jehan tampak sama terkejutnya. Dia tidak tahu harus melihat ke arah mana. "Kenapa kamu tidak mengenakan piama?"

"Aku lupa membawanya."

Lana bergegas jalan untuk mencari piamanya. Yudi sudah membeli beberapa pakaian mahal untuk membuat Jehan terkesan, tetapi semuanya tidak nyaman untuk dikenakan, jadi dia mengeluarkan piama lamanya.

Dahi Jehan berkerut. Dia tidak mengerti kenapa putri dari Keluarga Rahayu mengenakan piama lusuh seperti itu.

"Pelayan sudah menyiapkan gaun tidur baru untukmu. Ada di sana." Dia menunjuk ke arah pintu.

Lana meletakkan piamanya, berjalan tertatih-tatih ke pintu, meraih dinding untuk menopang tubuhnya, dan mengambil gaun tidur sutra berenda. Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari gaun tidur itu.

Dia mengambilnya dan melihat bahwa itu adalah salep.

"Apa ini untukku?"

Lana menatap Jehan dengan heran. Matanya berbinar seperti berlian yang membuat Jehan kembali memalingkan wajahnya.

"Apa lagi yang kamu tunggu?" tanya Jehan sebelum berdeham. "Apa kamu mengharapkanku untuk mengoleskan salep itu padamu?"

Setelah itu, dia memutar kursi rodanya dan pergi.

Lana baru menyadari setelah beberapa lama bahwa salep itu untuk pergelangan kakinya. Dia sangat terkejut dengan tindakan tersebut sehingga dia hampir membuangnya.

Apa Jehan peduli padanya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED